Fanfiction
Cast : Jongin, Sehun
Genre : Romance, Drama
Summary : Jongin tidak pernah menyangka suatu hari ia terbangun dengan status baru yaitu sebagai tunangan seorang anak milioner bernama Oh Sehun. Seharusnya dia bisa saja kan membeberkan kebenaran dan kembali pada hidup tenangnya? Tapi…Jongin memilih berperan menjadi tunangan Sehun. Hanya peran, tidak sungguhan. Benarkah hanya peran? HunKai/SeKai/SeJong. Yaoi.
Chapter One
"Jongin?"
"Ya?"
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak terlalu." Suara pemuda tujuh belas tahun yang sudah berpakaian lengkap—meskipun bukan pakaiannya sendiri—terdengar lirih.
"Duduklah disampingku. Aku rasa kita perlu bicara panjang."
Memang, kita perlu bicara panjang kali lebar.
"Pertama-tama aku ingin minta maaf." Kepala pemuda belia itu mengangguk-angguk. "Kedua, aku ingin mengenalkan diriku dulu. Aku Oh Sehun, anak bungsu dari pemilik Oh Company."
"Oh Company?" Dahi pemuda belia itu mengernyit. Bukankah Oh Company itu perusahaan yang memproduksi smartphone terbesar nomor dua di dunia?
"Iya, Oh Company."
Kim Jongin, pemuda yang masih begitu muda itu menegak air liurnya dengan gugup. Jadi dia sekarang duduk bersebelahan dengan seorang anak milioner? Dan…dan…semalam berarti ia ditiduri oleh anak seorang milioner? Jadi selama ini ia menyukai anak seorang milioner?
"Kau pernah dengar tentang Oh Company bukan?"
Jongin mengangguk.
"Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini semua. Aku sendiri masih bingung." Pria yang lebih dewasa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak punya banyak pilihan dan harus mengatakan jika kau adalah tunanganku."
Jongin diam, dia masih belum bisa mencerna situasi yang menjebaknya.
"Sebelumnya, boleh aku tahu berapa umurmu?"
"Tujuh belas."
"TUJUH BELAS TAHUN?!" Jongin terlonjak dari duduknya. "Kau masih tujuh belas tahun?! Fuck! Fuck! Fuck!"
Pria yang tadi terlihat tenang itu kini bangkit dari duduknya dan mengacak rambutnya. Tangannya mengusap wajahnya yang terlihat frustasi. Sial, jadi semalam aku meniduri anak dibawah umur? Dan kini aku menyeretnya dalam masalah keluargaku? Fuck!
"Kenapa kau mau kubawa kesini? Kenapa kau tidak menolak waktu…waktu…aku melakukan hal itu?!" Oh Sehun, si pria yang sedang frustasi, berkacak pinggang dan menatap Jongin galak.
"Karena aku mau." Jongin menjawab pendek.
Mendengar jawaban Jongin yang menyebalkan, Oh Sehun mengacak rambutnya lagi. Bocah ini tidak apa-apa kan? Kenapa suka rela sekali ia tiduri? Bahkan sore ini Jongin sama sekali tidak terlihat menyesal.
"Aku ingin merasakan seks jadi aku melakukannya." Jongin menjawab dengan wajah jutek.
"Tapi sekarang kau harus jadi tunanganku!"
"Itu salahmu Hyung! Harusnya kau bisa memberi jawaban yang lebih cerdas!" Jongin jadi ikut kesal karena Sehun malah membentak-bentaknya. Tadi pagi kan mereka berdua melakukannya dengan suka rela, kenapa sekarang Sehun malah marah-marah padanya? Jongin tidak menuntut apa-apa kan dari Sehun? Tidak minta tanggung jawab, tidak minta bayaran bahkan Jongin tidak marah-marah saat Sehun mengaku-aku jika ia adalah tunangan pria itu.
"Aku baru saja bangun tidur!" Sehun membela diri.
"Waktu aku bangun tidur otakku bisa langsung bekerja!" Jongin membalas dengan sengit.
"Fine, fine." Sehun menghela nafas panjang. Mengakui jika ia kalah dalam perdebatan ini. "Aku minta maaf, oke? Aku tidak tahu harus berkata apa karena terlalu gugup."
"Lalu sekarang bagaimana?"
Sehun diam saja. Raut wajahnya terlihat sangat serius, keningnya berkerut dan tangan ia lipat didepan dadanya. Jongin yang sedang kesal dengan Sehun terpaksa mengakui jika Sehun memang terlalu keren. Berpose serius seperti itu saja terlihat keren.
"Jika kau sudah cukup umur semuanya akan baik-baik saja. Kita bisa menikah beberapa bulan lagi lalu—akh! Kenapa kau masih tujuh belas tahun? Kupikir kau paling tidak sudah dua puluh atau—"
"Jadi kau mengatai wajahku telihat tua? Begitu?" Jongin makin kesal.
"Bukan wajahmu Jongin! Tubuhmu terlalu seksi untuk ukuran anak tujuh belas tahun! Pantatmu, pahamu, dadamu lalu…" Sehun menyadari jika saat ini bukan saatnya memuji kesempurnaan fisik Jongin yang semalaman sudah ia rasakan. "Pokoknya ku pikir kau dewasa!" Sehun memalingkan wajah dari Jongin.
Pemuda manis berkulit kecoklatan itu menunduk malu.
Seseksi itu kah tubuhnya?
"Uhm, kalau aku sudah dewasa aku juga tidak mau menikah denganmu." Jongin berkata pelan dengan bibir mengerucut.
"Kita tidak akan menikah sungguhan. Hanya—"
"Jadi pernikahan pura-pura seperti cerita pada drama-drama konyol?"
"Well, mungkin bukan pernikahan tapi pertunangan. Kita bisa bertunangan lalu putus dan…dan…" Sehun berhenti bicara setelah melihat wajah Jongin yang manis jadi luar biasa galak.
"Kenapa aku harus pura-pura bertunangan denganmu? Hidupku yang damai bisa hilang kalau aku memiliki hubungan dengan orang sepertimu."
"Jongin, sopanlah sedikit." Sehun menatap Jongin dengan pandangan tajam.
"Maaf. Aku hanya…kesal. Hyung marah-marah padaku padahal Hyung sendiri yang bilang aku tunangan Hyung. Pokoknya aku tidak mau ikut-ikutan dan tidak mau jadi tunangan Hyung!" Jongin mencoba bicara lebih sopan sambil mengutarakan isi pikirannya. Memang menurutnya Sehun itu tampan, keren dan hebat diranjang. Tapi Jongin ingin memiliki kekasih yang ia sukai bukan karena fisiknya tapi karena ia memang mencintainya dan ia juga dicintai. Jelas Jongin menolak keras pertunangan bohong-bohongan seperti ini.
"Kau akan ku gaji." Sehun berkata pelan.
"Apa?"
"Kau akan ku gaji sehari 100.000 won. Bagaimana?"
Jongin menelan ludahnya. 100.000 won itu uang jajannya selama tiga bulan dan kini Sehun akan memberinya uang sejumlah sekian dalam sehari? Andaikan mereka 'bertunangan' selama sebulan saja berarti…woah…woah…
"Kau pikir aku orang miskin?" Jongin berkata kesal, ia sedikit tersinggung dengan penawaran yang diberikan Sehun walaupun ia sempat tercengang dengan jumlah uang yang ditawarkan Sehun.
"Uh, bu-bukankah kau bekerja part time untuk mencari uang?" Sehun menaikkan alisnya sebelah. Jongin memang tidak seperti orang miskin, tubuhnya sehat dan pakaiannya juga layak tapi bekerja sebagai customer service pada gym 24 jam pasti seseorang yang membutuhkan uang kan? Apalagi Jongin mengambil shift malam.
"Aku bekerja untuk mengisi waktu luang." Jongin menjawab dengan wajah kalem. "Ini musim panas jadi aku tidak punya banyak kegiatan jadinya aku bekerja paruh waktu."
"Tapi kenapa ambil shift malam? Banyak pekerjaan yang—"
"Hyung, itu urusanku." Jongin menjawab kesal. Kenapa orang ini jadi cerewet sekali tentang pekerjaan paruh waktunya? Ibunya saja tidak ambil pusing.
"Baiklah, kau tidak butuh uang." Sehun berkata dengan wajah serius, terlihat berpikir keras. "Bagaimana kalau kau anggap menjadi tunanganku sebagai pekerjaan paruh waktu? Kau bisa keluar dari pekerjaanmu yang sekarang dan bekerja sebagai tunanganku."
"Hyung, aku tidak mau menjadi tunangan Hyung karena aku tahu hidupku akan rumit. Aku pasti akan masuk berita lalu nanti teman-temanku akan berisik dan yang jelas bagaimana orang tuaku? Mana mungkin tiba-tiba aku pulang dan memperkenalkan Hyung sebagai tunanganku?"
"Oke, kalau begitu bagaimana kalau kau akan kuberikan sebuah tempat diperusahaanku ketika lulus kuliah nanti. Kau ingin kuliah jurusan apa? Apa cita-citamu?" Sehun memandang Jongin dengan wajah putus asa.
"Aku ingin, uhm, menjadi guru."
"Great. Perusahaanku sedang mengembangkan institusi pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Lalu…lalu…sebuah apartemen di Gangnam. Bagaimana?" Sehun memandang Jongin penuh harap.
Jongin kini terlihat berpikir.
Tawaran Sehun benar-benar menggiurkan. Sebuah pekerjaan dan sebuah apartemen untuknya dimasa depan. Keluarga Jongin kan bukan keluarga yang terlalu kaya, bahkan bisa dibilang keluarganya pas-pasan sekali meskipun tidak pernah merasa kekurangan.
Jongin juga sadar jika jaman sekarang mencari pekerjaan adalah hal yang sangat sulit. Banyak tetangga-tetangganya yang sudah lulus kuliah belum juga mendapatkan pekerjaan, jadi…tidak ada salahnya kan ia menerima tawaran Sehun? Toh, ia juga harus mengorbankan hidup tenangnya jika ia menerima tawaran itu.
"Uh, biar aku pertimbangkan." Jongin berkata lirih.
Sehun sepertinya ingin merayu Jongin lagi tapi ia menghormati keputusan Jongin. Menjadi tunangan palsu memang sedikit gila dan sebenarnya Sehun juga sedikit takut dengan langkah yang ia ambil. Bagaimana kalau ketahuan? Bagaimana reaksi ibu, ayah dan keluarga besarnya? Bagaimana reaksi keluarga Jongin?
Sehun mengutuk dirinya yang lupa sama sekali dengan janji wawancara pada sebuah majalah hari ini. Semua gara-gara tubuh seksi Jongin yang membuat penisnya kembali tegang meskipun sudah berkali-kali orgasme.
"Baiklah." Sehun menjawab pelan.
Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masih-masing.
"Jongin, tadi aku belum membocorkan identitasmu. Aku baru mengatakan jika aku sudah bertunangan dan akan segera go-public dengan hubunganku." Sehun berkata, memecah keheningan.
"Hyung, bagaimana kalau aku menolak?" Jongin bertanya pada Sehun yang duduk disebelahnya.
"Kau menolak tawaranku?" Sehun terlihat begitu terkejut mendengar pertanyaan Jongin.
"Eh, belum tahu. Aku hanya bertanya saja."
"Aku…tidak tahu." Sehun berkata dengan wajah murung. Jika Jongin tidak menyetujui tawarannya, ia bisa menghancurkan reputasi keluarganya yang sempurna. Anak bungsu keluarga Oh memalsukan pertunangan untuk menyembunyikan pesta seks dengan pria dibawah umur. Sehun bisa membayangkan bagaimana headline di berita-berita, mengingat kadang media bisa sangat kejam. Menyampaikan berita untuk mendapatkan uang bukan untuk menyebarkan kebenaran.
Jongin tahu kalau nasib Sehun ada ditangannya dan itu membuat perutnya terasa berat. Dia bisa meminta uang atau apapun pada Sehun tapi itu bukan dirinya. Jongin tidak pernah tergila-gila dengan harta. Yang Jongin pikirkan hanyalah bagaimana menolong Sehun tanpa merugikan dirinya.
Jongin tidak mau jika kehidupannya yang tenang dan damai harus hilang tapi disisi lain ia juga tidak ingin melihat Sehun terkena skandal. Ah, kenapa Jongin bisa begitu memikirkan keadaan Sehun? Uh…tidak mungkin kan Jongin sudah jatuh cinta pada Sehun hanya dalam semalam?
Well, siapa tahu?
—
"Sayang, apakah kau bisa datang hari Minggu nanti?"
"Bisa. Jam berapa acaranya?"
"Jam sebelas siang."
"Baiklah. Aku akan pulang cepat dari memancing."
"Acara apa Bu?" Jongin bertanya penasaran karena mendengar percakapan ayah dan ibunya.
"Ji Hoon menikah." Sang ibu menjawab.
"A-apa?" Jongin tersedak oleh makan malamnya. "Ji Hoon Hyung sudah akan menikah?"
"Iya. Ibu juga kaget, Ibu pikir dia akan melanjutkan sekolahnya ke Amerika atau Eropa. Tapi sepertinya dia cinta mati dengan calon suaminya jadi kuliahnya ditunda sampai tahun depan." Ibu Jongin bercerita sambil menyuapkan makanan.
Ji Hoon adalah tetangga Jongin yang dua tahun lebih tua darinya. Baru tahun ini Ji Hoon akhirnya mencapai umur dewasa sesuai standar Korea Selatan dan sudah akan menikah saja.
"Kau kapan mau punya pacar Jongin?" Ayah Jongin bertanya dengan suara santai. Tapi Jongin tahu jika ayahnya sedang serius karena pria setengah baya itu jarang membicarakan kehidupan cinta anak bungsunya itu.
"Eh, mungkin nanti kalau sudah lulus SMU." Jongin menjawab gugup. Entah bagaimana pertanyaan ayahnya membuat ia teringat akan Sehun.
"Ibu ingin kau menikah muda." Ibu Jongin berkata dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"H-huh?" Jongin terkejut dengan ucapan ibunya.
"Aku dan ibumu tidak masalah apakah kau menyukai pria atau wanita. Kami ingin kau cepat menikah." Ayah Jongin kembali bicara. Perut Jongin rasanya bergolak, kenapa pembicaraan mereka pada makan malam ini jadi tentang pernikahan?
"Kenapa tiba-tiba kalian menyuruhku menikah? Lulus SMU saja belum.." Jongin sedikit merengek. "Kenapa bukan Hyorin Noona dulu yang disuruh menikah?"
"Noona-mu juga ingin segera menikah tapi bagaimana lagi Minho masih sekolah diluar negeri." Ibunya menjawab dengan tatapan mengintimidasi. "Makanya cepat cari pacar dari sekarang supaya lulus SMU bisa langsung menikah."
Jongin merasa perutnya semakin bergolak.
Tadi ia sempat memikirkan jika ia menerima tawaran Sehun, orang tuanya akan keberatan karena ia masih terlalu muda untuk menjalin hubungan yang serius, apalagi terikat pertunangan. Tapi sepertinya dugaan Jongin salah, orang tuanya malah kini sudah mengungkit pernikahan ketika ia masih tujuh belas tahun.
Seusai makan malam, biasanya Jongin akan keluar berjalan-jalan sebelum mulai bekerja nanti jam sepuluh malam. Hanya saja kali ini ia malah mengunci dirinya didalam kamar. Bukannya ia ingin membolos bekerja, tapi Sehun yang menyuruhnya keluar dari pekerjaan itu. Alasannya? Sehun tidak suka Jongin bekerja disana. Kenapa? Disana banyak prianya.
Jongin sempat berpikiran macam-macam dan besar kepala.
Apakah Sehun menyukainya?
Tapi Jongin menahan dirinya berpikir terlalu jauh. Tentu saja Sehun tidak ingin 'tunangannya' tertangkap media bekerja sebagai pekerja shift malam pada gym dua puluh empat jam. Bukannya bekerja di gym itu hal yang illegal atau buruk hanya saja…sebagai tunangan anak pemilik perusahaan smartphone terbesar nomor dua didunia, pekerjaan itu kurang pantas.
Jongin memandangi langit-langit kamarnya.
Memang sih ia menyukai Sehun. Pria itu tampan, tubuhnya sempurna, memiliki banyak uang dan hebat diranjang. Tapi itu semua bukanlah hal-hal yang membuat Jongin mau menjalin hubungan dengan seseorang. Mereka tidak saling mengenal dan Jongin hanya menginginkan Sehun sebagai teman tidur semalam saja.
Selain itu, Jongin benar-benar takut jika hidupnya akan berubah karena ia masuk kedalam lingkaran sosial yang baru. Lingkaran sosial dimana setiap gerak-geriknya akan diamati oleh banyak mata.
Tapi…
Menolak tawaran Sehun sepertinya juga bukan hal yang benar.
Ini bukan tentang penawaran yang diberikan padanya—yang jika Jongin akui sangat menggiurkan. Jongin yakin masa depannya akan baik-baik saja, biarpun dia bukan jejeran siswa berprestasi tapi bukan berarti ia bodoh.
Yang Jongin resahkan adalah nasib Sehun. Bagaimana kalau nanti Sehun terkena skandal? Lalu diusir oleh keluarganya? Lalu menjadi miskin dan hidup dijalanan? Dan itu semua karenanya? Bagaimana mungkin Jongin sanggup melanjutkan hidupnya setelah menghancurkan hidup orang lain?
Hm, sebaik itu lah pribadi Kim Jongin.
Berkilo-kilo jauhnya, dalam sebuah rumah besar dalam kawasan elit Kota Seoul, Sehun duduk dengan berpasang-pasang mata menatap dirinya. Ibu, ayah, kakak perempuannya, kakak lelakinya, dua pamannya serta neneknya. Sehun duduk diruang tengah rumah keluarga besarnya. Untuk apa lagi jika bukan untuk diinterogasi?
"Dia sungguhan tunanganmu?" Salah satu pamannya bertanya dengan dahi berkerut.
"Iya Paman. Aku baru melamarnya beberapa hari yang lalu." Sehun menjawab lancar.
"Kenapa kau tidak pernah bilang kau punya kekasih?" Giliran ibunya yang bertanya.
"Memangnya kapan aku pernah mengatakan pada Mommy kalau aku punya pacar?" Sehun menjawab datar.
"Sehun!" Ibunya berdecak kesal.
"Mom, aku kan pernah bilang. Aku akan mengenalkan seseorang jika aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku tidak mungkin membawa setiap pacarku kerumah."
"Makanya kurangi hobi berganti-ganti pasangan." Kakak lelakinya menjawab.
"Hyung, semua pacarku bersih. Jika itu yang Hyung khawatirkan."
"Sudahlah, kalau Sehun sudah memiliki seorang tunangan, berarti dia sudah punya seseorang yang ia yakini kan? Hanya saja kenapa kau tunangan diam-diam? Seharusnya kalau kau sudah akan mengikat hubungan dengan seseorang, katakan pada keluargamu." Kakak perempuan Sehun yang memang berkepala dingin menengahi dengan suara lembut.
"Sebenarnya aku masih belum ingin membicarakan masalah ini dengan kalian karena kekasihku, uh.." Sehun sedikit ragu-ragu dalam berkata, tidak tahu bagaimana reaksi keluarga nanti jika… "masih tujuh belas tahun."
"APA?!"
Sehun benar.
Reaksi keluarganya akan berisik.
"Aku benar-benar menyukainya maka dari itu aku memilih bertunangan. Dia masih kecil dan labil jadi aku takut kehilangan dia. Aku baru akan mengatakan pada kalian nanti jika dia sudah sembilan belas tahun." Sehun menjawab dengan kebohongan yang paling masuk akal.
"Astaga. Tujuh belas tahun." Neneknya yang sedari tadi diam bergumam pelan sambil memijat kepalanya. Ayahnya yang berwibawa terlihat duduk tidak nyaman diatas sofa mahal ruang tengah mewah itu.
"Maaf aku bertunangan tanpa memberitahu kalian. Aku hanya tidak ingin kalian bereaksi seperti ini. Apalagi menentang hubunganku dengan Jongin, jadi aku berpikir untuk menyembunyikan semuanya dulu." Sehun memasang wajahnya yang paling bersalah, kepalanya menunduk agar aktingnya semakin meyakinkan.
"Lalu setelah ketahuan media begini bagaimana?" Ibu Sehun bertanya dengan wajah cemas.
"Bagaimana lagi, kami akan go-public." Semua orang didalam ruangan itu saling bertukar pandang selain Sehun.
"Aku rasa, kita coba dulu. Aku dan Mommy sudah bertemu langsung dengan Jongin. Walaupun aku belum bicara banyak dengannya, aku merasa dia adalah anak yang baik. Mungkin masih terlalu muda, tapi dia anak yang baik." Kakak perempuan Sehun lagi-lagi memberi solusi, menenangkan para orang tua sekaligus melindungi adiknya dari amukan.
"Baiklah. Bawa dia besok malam untuk makan bersama kita."
"Baik Ayah." Sehun menjawab tenang. Padahal dalam hatinya, ia kebingungan setengah mati. Bagaimana jika Jongin menolak tawarannya? Perut Sehun rasanya melilit membayangkan hal itu.
—
"Jongin."
Pemuda manis berkulit eksotis itu merasakan tubuhnya diguncang-guncang, mengganggu tidurnya.
"Jongin bangun. Ada yang mencarimu."
"Hm.." Jongin hanya bergumam pelan tanpa membuka matanya. Paling hanya salah satu teman sekolahnya.
"Jongin cepat bangun."
"Kalau itu Chanyeol suruh dia masuk Bu, aku masih ngantuk."
"Bukan Chanyeol anak bodoh. Kalau Chanyeol Ibu juga tidak mau repot-repot membangunkanmu. Dia bawa mobil mewah dan berpenampilan mahal. Kau buat masalah apa huh?"
Jongin membuka matanya perlahan.
Mobil mewah dan berpenampilan mahal?
Uhm, sepertinya temannya belum ada yang punya mobil.
Shit.
Sesuatu dalam kepalanya seolah berdenting, seperti lampu yang menyala. Sekejap Jongin ingat jika yang mencarinya pasti Oh Sehun. Bagaimana ia bisa lupa kalau ia sedang mempunyai urusan dengan seorang anak calon pewaris?
Jongin nyaris berlari dari kamarnya menuju lantai bawah dimana ruang tamu berada. Disana ada Oh Sehun duduk ditemani secangkir teh hangat yang pasti dibuatkan ibunya.
"Jongin cuci mukamu dulu!" Jongin bisa mendengar ibunya berteriak dari lantai atas.
"Jadi ini bukan mimpi." Jongin bergumam pelan melihat Sehun duduk di sofa ruang tamunya dengan senyum kecil.
"Aku juga berharap ini mimpi Kim Jongin." Sehun berujar sambil masih tersenyum. Jongin manis sekali pagi ini, bahkan ketika rambut cokelatnya masih berantakan, wajahnya masih mengantuk dan piyama bermotif robot-robotan? Jongin is just too cute.
"Mandilah dulu. Aku bisa menunggu." Sehun berkata tenang.
"Baiklah, tunggu sebentar." Jongin menyadari tatapan Sehun yang mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki dan ia berusaha merapikan rambutnya yang seperti baru tersengat listrik.
"Siapa dia Jong?" Jongin baru saja mau masuk kamar mandi ketika sebuah tangan menarik lengannya.
"Te-teman Bu." Jongin menjawab gugup, tidak mau menatap mata ibunya.
"Sungguh teman? Ibu tidak pernah tau kau bergaul dengan anak-anak orang kaya?" Ibu Jongin mengerutkan dahinya, tidak percaya dengan jawaban Jongin.
"Dia temanku da-dari Eropa." Jongin menjawab cepat dan langsung masuk kamar mandi, takut ibunya bertanya lebih jauh.
"Eropa? Kapan Jongin ke Eropa?" Ibu Jongin berdiri dengan wajah kebingungan.
Satu jam kemudian Sehun dan Jongin sudah berada dalam perjalanan menuju sebuah kawasan pertokoan besar ditengah Kota Seoul. Jongin memperhatikan mobil mewah yang ia naiki, memang ada harga ada rupa.
Sehun juga tidak bicara banyak, ia menyetir dengan tenang dan sesekali bergumam pelan mengenai parahnya kemacetan Seoul yang semakin hari semakin menjadi. Hanya suara radio yang mengurangi suasana awkward didalam mobil mewah itu.
"Jongin, pakai ini." Sehun menyodorkan sebuah topi untuk Jongin ketika keduanya sudah berada didalam basement area parkir.
"Untuk apa Hyung? A-apa akan ada wa-wartawan?" Jongin langsung paranoid.
"Tidak, hanya untuk jaga-jaga saja." Sehun tersenyum seraya memakaikan topi pada kepalanya. "Ayo, kita sarapan dulu."
Jongin dengan gugup keluar dari mobil, mengikuti langkah Sehun menuju dalam mall. Mata Jongin mencari-cari kehadiran wartawan yang akan mengambil fotonya dan Sehun.
"Hahahaha, kau setakut itu dengan wartawan?" Sehun tertawa melihat wajah tegang Jongin.
"A-aku..uh..begitulah.." Jongin malu ketahuan.
"Tenang, aku akan berusaha sebisaku agar kau tidak banyak muncul dipemberitaan. Aku berencana akan melindungi identitasmu agar kehidupanmu tidak terganggu." Sehun berkata menenangkan.
Sehun menarik lengan Jongin agar mereka segera menuju area makanan. Bukan hanya Jongin disini yang belum sarapan, Sehun pun belum. Jongin menurut saja dengan Sehun karena ia juga sudah lapar.
"Masih jam sebelas kenapa sudah ramai sekali." Jongin bergumam pelan, gugup dengan keramaian disekitarnya.
"Liburan musim panas." Sehun menjawab sambil membawa nampan besar berisi sarapan mereka berdua yaitu sup daging. "Ayo makan."
"Eh, i-iya." Jongin duduk didepan Sehun dan meraih sumpitnya. Kepalanya yang sedari tadi menunduk tiba-tiba mendongak saat merasa topi yang ia kenakan dilepas oleh Sehun. "To-topi.."
"Tidak usah dipakai, biar aku bisa melihat matamu." Sehun menjawab dan juga melepas topinya. Pipi Jongin memerah mendengar ucapan Sehun. Padahal memang sudah sewajarnya ia harus melepas topi, mereka kan akan bicara panjang. Menatap mata lawan bicara adalah hal yang harus dilakukan. Hanya saja pemuda tujuh belas tahun ini sedikit tidak waras jika bersangkutan dengan Sehun. Masa belakangan ini dia gampang sekali berdebar gara-gara Sehun? Aneh!
Keduanya diam dan sibuk makan.
Sehun beberapa kali menatap Jongin dengan tatapan yang sulit diartikan dan Jongin tidak sadar sama sekali. Pemuda itu terlalu sibuk menikmati sup dagingnya sampai-sampai ia tidak sadar jika Sehun nyaris tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Kau mau tambah?" Sehun bertanya.
"Eh, ti-tidak Hyung. Terima kasih." Pipi Jongin memerah lagi. Tuh kan, kenapa sih dia jadi gampang malu begini?! Jongin merutuki dirinya sendiri yang begitu gampang terlonjak dan berdegup hanya karena suara Sehun yang well, berwibawa.
"Hyung, untuk tawaran yang kemarin.." Jongin meletakkan sumpitnya dan menatap Sehun gugup. "..aku rasa aku menerimanya.."
"Sungguh? Sungguh? Kau menerimanya?" Sehun tidak bisa menutupi kelegaannya.
"I-iya." Jongin mengangguk kecil.
"Kenapa kau akhirnya menerima tawaranku?" Sehun bertanya dengan senyum lebar diwajahnya.
"Aku, uh, hanya ingin membantu." Jongin menjawab jujur. "Tapi.."
"Tapi?" Sehun mengangkat satu alisnya.
"Tawaran pekerjaan itu masih berlaku kan?" Jongin bertanya dengan suara pelan. Biarpun ia memang pada dasarnya hanya ingin membantu Sehun, tapi menerima tawaran Sehun tidak ada salahnya kan? "Aku hanya ingin menjadikan tawaran Hyung sebagai rencana B-ku saja jika aku kesulitan nanti."
"Hanya rencana B? Memangnya rencana A-mu apa?" Sehun bertanya penasaran. Tidak banyak anak SMU yang sudah merancang masa depannya, kebanyakan mereka hanya bermain-main bersama teman sebaya mereka.
"Aku ingin jadi guru dikota-kota kecil." Jongin bercerita dengan senyum cerah diwajahnya. Jongin sudah memiliki cita-cita sejak kecil, yaitu menjadi guru. Dia jarang bahkan tidak pernah mengatakan rencananya pada siapapun kecuali ibunya. "Kota tempat nenekku tinggal masih kekurangan guru jadi aku ingin menjadi guru ditempat-tempat terpencil seperti itu!"
Sehun tanpa sadar tersenyum.
Pantas saja Jongin mau membantunya, hati pemuda ini ternyata mulia sekali.
"Kalau ditempat kecil, alamnya masih asri dan udaranya segar. Disana aku akan mengajak murid-muridku belajar di alam, belajar berkebun, berenang. Ah, pasti menyenangkan sekali!" Jongin tidak bisa berhenti bercerita. Sungguh aneh sebenarnya, kenapa Jongin bisa dengan santainya menceritakan masa depannya pada Sehun yang baru sebentar ia temui.
"Aku juga ingin pindah ke kota kecil, di Seoul rasanya sumpek sekali." Sehun berkata sambil tersenyum.
"Di desa nenekku tempatnya sangat bagus Hyung! Coba Hyung tinggal disana beberapa hari pasti Hyung senang!"
"Tentu saja, nanti kita kunjungi desa nenekmu."
"Kita?" Jongin tertegun mendengar ucapan Sehun.
"Uh, ma-maksudku, karena kita akan bertunangan jadi…jadi…mungkin keluargamu ingin bertemu dan well, aku rasa aku tidak masalah berkunjung kesana untuk…untuk…uhm, berganti suasana sejenak."
"Ah, i-iya tentu saja." Jongin merasakan telinganya memanas karena gugup. Kenapa pula Jongin harus gugup? Sehun dan dia kan hanya pura-pura bertunangan? Belum juga akting mereka dimulai, Jongin sudah kesulitan menahan debaran jantungnya setiap kali ia berinteraksi dengan Sehun.
"Jongin, uh.." Sehun bicara sambil merogoh kantong pada jaket yang ia kenakan. "I-ini.."
Jongin terkesiap.
Didepannya ada sebuah kotak beludru.
Calm down Jongin, itu pasti cuma cincin. Cincin pertunangan pura-puramu. PURA-PURA. Ingat itu.
"Aku tidak, uh..tidak tahu apakah kau suka modelnya.." Sehun bicara terbata-bata, bukan Oh Sehun yang biasanya. "Aku ju-juga tidak tahu apakah ukurannya pas.." Sehun membuka kotak beludru itu dan sebuah cincin berlian yang begitu cantik terlihat.
"I-itu cantik sekali Hyung.." Jongin berkata pelan, mengakui keindahan cincin yang akan menjadi 'miliknya'.
"Bi-biar aku pakaikan." Sehun melepas cincin itu dari tempatnya dan mengulurkan tangannya agar Jongin memberikan jarinya.
Jongin gugup setengah mati.
Kenapa rasanya seperti sedang sungguhan dilamar?
Sehun juga gugup, kenapa rasanya seperti sedang melamar?
Jongin dengan sedikit gemetar meletakkan tangannya pada tangan Sehun. Sentuhan kulit Sehun benar-benar hangat, membuat gugupnya mulai terkikis. Sialan, kenapa Jongin bisa segugup ini hanya karena Sehun menggenggam tangannya? Bukannya beberapa malam yang lalu mereka bercinta sampai Jongin tidak bisa merasakan area bawahnya?
Sehun sesekali memandang wajah manis Jongin yang memerah.
Manis sekali.
Membuat debaran jantungnya lebih cepat dan lebih cepat hingga ia takut jika tulang rusuknya akan retak. Tangan besar Sehun mulai memasukkan cincin berlian itu pada jari manis langsing milik Jongin.
"Pas." Sehun berkata dengan senyum lebar diwajahnya.
"Ah iya. Hyung pintar sekali memilih." Jongin menarik tangannya dengan wajah merah padam. Matanya menatap jarinya yang kini berhiaskan sebuah cincin berlian yang ia yakini harganya selangit.
"Jadi.." Jongin berkata sambil menatap Sehun gugup.
"Jadi kita bertemu orang tuamu lalu nanti malam makan bersama keluarga besarku."
"A-apa?"
To Be Continue/End?
Karena banyaknya permintaan buat seri kelanjutan Midnight Customer…jadi here you go!
Gimana pendapat kalian tentang seri kelanjutan ini?
Worth it? Atau biasa aja?
Author gatau apa ini harus dilanjut apa engga karena menurut Author ceritanya biasa aja.
Siapa tau teman-teman sekalian bisa kasih masukan dan saran buat cerita ini hehehe.
Author mungkin bakal bikin sequel ini dengan Rated M tapi engga explicit, cuma rated untuk bahasa terus mungkin juga buat beberapa adegan yang agak panas wkwkwk
Kasih tau ya mau lanjut apa engga ^^
Jangan lupa reviewnya juga hihi.
