disclaimer. Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

warnings. OOC, gak jelas, spoilers from episode 13


Kelabu

Teriknya matahari sore memanah jaket kulit Annie, membuatnya gerah. Belum lagi dengan menyengatnya anyir darah menusuk indera olfaktori, sedikit membuatnya pusing. Biarpun sudah tiga tahun ditempa untuk semua ini—bahkan jauh-jauh hari sebelumnya—tetap saja Annie terkejut melihat kenyataan yang tertera di depannya.

Aftermath misi heroik 'Eren Jaeger Menutup Lubang di Dinding Distrik Trost' menyisakan korban yang tak sedikit. Setelah duet maut Scouting Legion dan Garrison menyisir bersih jalanan dari Titan, ia dan beberapa anggota angkatan 104 mulai mengerjakan tugas berikutnya; mendata identitas para korban jiwa.

"Prajurit Leonhart."

Annie tak dapat mengingat nama perawat yang menjadi koordinator tim identifikasi. Biarlah. Dengan patuh gadis bersurai pirang pucat itu menghampiri wanita perawat itu.

"Bisakah kau mengecek daerah di sebelah sana?" perawat berambut kelabu dengan kucir kuda itu menunjuk ke jalan di selatannya, "Ajaklah Braun dan Hoover. Mungkin kau akan butuh bantuan."

Kematian terlihat begitu nyata di mata biru Annie. Benar adanya; bagai bayangan yang selalu hadir bila matahari menerpa, ajal selalu berada lebih dekat dari yang dibayangkan.

Hujan abu masih turun tatkala telinga tajam Annie menangkap suara protes teman seangkatannya, Jean Kirschtein. Dan gadis itu, biarpun ia berdiri jauh dari pemuda itu, ia bisa mendengar nada getir dari intonasi dalam Jean.

Sahabatnya, Marco Bodt, gugur tanpa ada yang menyadarinya. Tidak ada saksi yang melihat bagaimana pemuda baik hati itu meregang nyawa.

Boleh saja Annie memiliki mental baja karena sudah lama digodok untuk menghadapi neraka hidup ini. Namun ia tetaplah manusia biasa, kakinya kini begitu gatal rasanya untuk berlari meninggalkan jalan itu. Inikah jalan yang Ayah tunjukkan padanya? Annie hanya bisa melihat sungai darah mengalir di depan; imajinasinya berkonspirasi dengan hatinya yang pesimis.

Manusia biasa—dalam hati Annie terkekeh miris. Bualan belaka. Dia bukan manusia. Dia adalah objek percobaan yang dimasukkan ke dalam lingkaran militer demi melaksanakan misi rahasia.

Tak lama lagi, tangan putih Annie takkan suci lagi. Tangan itu nantinya akan bergelimang merah, merah, dan merah. Darah adalah kawannya; yang nantinya menciptakan noda dosa di kalbunya.

Benar kata perawat itu. Ada mayat tergeletak di jalan yang ditunjuk. Ia tak tahu siapa, hanya lambang pedang ganda bersilanglah pertanda tubuh itu pernah satu angkatan dengannya. Gadis itu tak dapat mengenali wajahnya; sudah hancur lapuk.

"Maaf."

Untuk apa kata itu lepas dari bibirnya?

"Maaf."

Apa Annie sedang memohon ampun untuk kedzaliman yang akan dia kerjakan nanti? Dosa tetaplah dosa. Retorika abadi.

Barangkali. Bukankah tak ada yang hitam atau putih? Yang ada hanya kelabu. Seperti langit yang menggantung di atas sana.

Tamat


author's note. HAH? Kok malah ini yang jadi? Hadeh /lari meringkuk ke pojok/ Ehem. Halo, penghuni fandom SnK. Ini fic pertama saya di sini. Di luar dugaan sih jadinya, mohom dimaklumi. Berkenan untuk meninggalkan review? Saya tidak akan keberatan, hehehe.