Him
TaeHyung Kim; JungKook Jeon
(TaeKook; Vkook)
Park Jimin
Min Yoongi
Kim Seokjin
Jung Hoseok
Kim Namjoon
Bangtan Senyondan; Bangtan Boys; BTS
Proudly present a fanfic which is dedicated to our beloved bias
kaisooexo
.
.
...
Poto- poto itu berhamburan, memenuhi ruangan. Gelap, tampak tak membaur dengan sang surya, lelaki itu berjongkok sembari kembali mengutip lembar demi lembar poto yang berhamburan, mata cantiknya menilik mengamati satu persatu lembar ditangannya. Entah mengapa, sudut bibirnya tak tertahan untuk terangkat—tersenyum miris. Namun langsung tergantikan dengan sebuah tatapan sendu dari dalam dirinya.
"Aku menemukanmu.." Bisiknya tertahan.
.
.
Him
.
.
" Pembunuhan yang dilakukan terdakwa sepertinya bukan berlandaskan atas balas dendam seperti yang dituduhkan." Dia, Park Jimin salah seorang polisi yang ikut bertugas dalam kasus pembunuhan yang terjadi beberapa hari lalu. Wajahnya mengerut menatap beberapa poto ditangannya. "Tapi, kalau bukan karena dendam untuk apa ia melakukannya. Ini tidak sinkron dengan beberapa pernyataan yang diberikan saksi. Bagaimana menurutmu tuan Jeon."
Lelaki yang dipanggil Jeon itu sepertinya hanya diam. Mungkin tak cukup memperhatikan apa yang lawannya bicarakan. Hingga tepukan dipundaknya cukup membuatnya terkejut. "Ah, maaf. Aku tidak mendengarnya. Bisa kau ulangi?" pintanya, sedangkan yang dipinta hanya menghela napas mungkin sedikit kesal dengannya.
"Baiklah, aku ulangi Tuan Jeon Jungkook. Aku rasa pembunuhan yang dilakukan terdakwa bukan dikarenakan topik balas dendam seperti yang dituduhkan— Jimin diam, menanti reaksi Jungkook, namun setelah tak mendapatkannya ia melanjutkan — dan ini tidak sinkron dengan beberapa pernyataan yang diberikan oleh saksi beberapa hari lalu. Apa pendapatmu Jungkook-ah?"
"Jadi apa menurutmu? Ini pembunuhan murni yang direncanakan. Kita sudah mendapatkan cukup bukti. Dan lagipula ini hanya kasus biasa, tidak lebih." Tuturnya acuh, wajahnya menerawang keatas tak memperdulikan bagaimana Jimin yang terus menggeleng tak setuju.
"No. It's more than that. Bukti tidak cukup Jungkook-ah, pisau ini belum bisa menggambarkan jika dia adalah pembunuhnya."
"Apa kau lupa dengan jejak jarinya yang berada dileher korban. Belum lagi dengan jejak jari yang berada dipisau itu juga sama persis. Tak perlu disangkal, dia adalah pembunuhnya."
Lagi-lagi Jimin menggeleng, alisnya berkerut saling menaut. "Kita belum bisa memastikan begitu saja, memang benar sidik jarinya berada dilengan korban. Tapi hubungan yang terjalin antara korban dan terdakwa sangat tidak memungkinkan jika ia adalah pembunuhnya. Aku menebak, ia hanya terkejut melihat korban dan akhirnya menyentuh leher korban."
Langkah Jungkook terhenti seketika, kedua tangannya saling melipat membentuk tanda tak terima. Tidak biasanya Jimin bersikukuh seperti ini. "Kau tidak bisa berspekulasi dalam suatu tebakan Jimin. Hipotesismu akan ditolak jika seperti itu. Dan kau sepertinya cukup bersikeras untuk membelanya, omong-omong." Pernyataan itu lebih terkesan suatu ejekan ketimbang pernyataan biasa. Jimin hanya mengangkat bahu acuh, ia juga tak mengerti mengapa. Tapi ia rasa kasus ini bukan murni pembunuhan berencana yang ditujukan kepada terdakwa.
"Entahlah Jungkook-ah, aku sangat yakin bukan dia pembunuhnya. Aku tahu Taehyung Hyung tidak mungkin melakukan hal sekejam itu."
.
.
o0o
Jeon Jungkook itu murid yang bodoh, tidak pernah berpikir rasional dan hanya mengandalkan instingnya yang bar-bar. Kedua tangannya mengepal, memperhatikan kakak sepupu menjijikannya itu, dia Min Yoongi.
Yoongi menatap jengah manusia dihadapannya sekarang, entahlah ia benar-benar lelah untuk terus mengadu protes atas sikap adik sepupunya yang menyebalkan, dan sialnya satu sekolah bersamanya. Kedua matanya menajam, pandangannya tak luput berpindah dari Jungkook. "Sekarang, kau tidak bisa ditoleri lagi."
Jungkook yang menunduk, akhirnya menengadah menatap sang Hyung. Bibirnya terasa perih akibat perkelahiannya tadi bersama murid sekolah lain. Sudut bibirnya terasa koyak secara bersamaan. "Kau tahu apa jabatan yang aku pegang disini? — tanpa peduli dengan Jungkook yang terus bersungut-sungut— Aku adalah seorang ketua OSIS disekolah ini, dan cukup mengesalkan jika separuh tugasku hanya untuk mengomelimu seperti ini. Lihatlah dirimu Jeon Jungkook, sudah berapa banyak kekacauan yang kau buat, huh? Dan kau tahu apa sekarang? Semua guru memintaku untuk menaikkan nilai-nilai sialanmu, kau harus diberi pelajaran fuck." Dan Jungkook tahu, setiap kata yang terucap dari Min Yoongi adalah sebuah kemutlakan tanpa sanggahan.
"Jadi apa yang kau inginkan Hyung? Menyuruhku membersihkan kamar mandi lagi, baiklah." Ia mengambil beberapa peralatan bersih-bersih yang tergeletak disampingnya, mengambilnya dengan kasar tanpa peduli bagaimana kedua mata Yoongi yang semakin melebar; kesal.
Yoongi menarik tangan Jungkook kasar, dan memukul kepalanya. "Dasar anak bodoh, kali ini aku tidak akan membiarkanmu bekerja sendiri tanpa pengawasan. Cih, bodohnya aku sudah termakan bualanmu. Kau harus diawasi."
Ingin rasanya Jungkook berlari, menerjang dan menghajar habis seorang Min Yoongi. Ia mendecih, meludahkan darah segar yang menumpuk disudut bibirnya. "Terserahmu, Aku tidak butuh omelanmu, Hyung."
Yoongi tersenyum, ia benar-benar sudah memaklumi sifat adik sepupunya itu. Sejujurnya, Yoongi sangat menyayangi Jungkook namun terlalu banyak hal menyebalkan yang membuat Yoongi kesal setengah mati terhadap makhluk dihadapannya. Kakinya melangkah menjauh, Jungkook dapat melihat bagaimana Yoongi yang berbincang-bincang bersama; entah siapa. Ia tidak mengenal siapa saja teman Yoongi, toh untuk apa mengenal orang-orang yang membosankan seperti mereka; yang hanya mengutamakan buku ensiklopedia.
Yoongi semakin melebarkan senyumannya, sembari menarik salah satu teman yang ia ajak bicara tadi menuju Jungkook. Semakin membuat Jungkook kesal saja, dengan senyuman itu. Jungkook dapat mendengar dengan jelas helaan napas Yoongi, setelah itu ia kembali berbicara. " Bersihkan semua toilet itu, tanpa terkecuali. Taehyung, akan mengawasimu. Dan omong-omong, ia ketua kedisplinan, jadi jangan macam-macam." Penuh penekanan, dan ancaman. Jungkook tak peduli, yang ia harus lakukan adalah membersihkan seluruh penjuru toilet dan pergi dari sini.
"Baiklah, Taehyung. Aku mohon awasi Jungkook, Jangan sampai ia meninggalkan tugasnya dan bertindak kurang ajar. Ah, dan kau Jeon Jungkook, setelah selesai dengan tugasmu, temui aku secepatnya. Dan selamat bersenang-senang." Jungkook hanya bisa menggelutukkan giginya dengan kesal, sembari membawa peralatan bodoh toilet ini. Membiarkan Yoongi yang berlenggak pergi dengan bahagia.
"Fuck, aku akan membunuhmu Min Yoongi. Lihat saja nanti. Ahh," Dan bodohnya, ia menendang alat pel dengan kakinya yang bodoh itu, alhasil segala peralatan mengenai dirinya kembali. Ia meringis seperti orang tolol, tanpa mempedulikan orang disebelahnya. Jungkook tak cukup ingat siapa orang ini, yang ia ingat jika dia bernama Kim Taehyung; kakak kelasnya; dan salah satu makhluk membosankan peraih peringkat pertama berturut-turut.
Dengan susah payah ia berjongkok, meraih sikat menjijikkan itu. Cukup sudah, semua badannya terasa remuk belum lagi dengan wajahnya yang sedikit melebam dan bibirnya yang robek. "Aku lebih memilih berlari sepuluh putaran dilapangan." Desisnya, wajahnya mengerut ketika noda lantai yang ia gosok tak kunjung bersih.
"Setidaknya, kau harus menyelesaikan ini semua. Daripada merutuki kebodohanmu ini," Jungkook menghentikan kegiatannya, ini kali pertama ia mendengar suara Kim Taehyung. Entahlah, Jungkook tak habis pikir sebenarnya. Kalau dilihat-lihat Taehyung ini lebih cocok menjadi teman brandalnya ketimbang menjadi salah satu makhluk membosankan seperti kakak sepupunya itu.
Dan jangan salahkan Jungkook jika ia tersulut akan perkataan Taehyung, sudah cukup ia hampir remuk karena tauran tadi; dimarahi Hyung berengseknya; membersihkan toilet bodoh ini dan yang terakhir mendengar cacian orang yang tidak ia kenal. Dengan emosi menggebu ia bangkit, mengabaikan bagaimana remuknya sekujur tubuhnya. Ia mencampakkan sikat itu entah kemana. Kedua matanya menyalang menatap Taehyung.
"Tarik perkataanmu, Taehyung!" Ia menarik leher Taehyung, mencengkram kerah Taehyung kuat. Jungkook membawa tubuh Taehyung tepat dibelakang cermin besar, Jungkook dapat dengan jelas melihat betapa lebamnya wajahnya, tapi ia tak peduli— makhluk dihadapannya harus diberi pelajaran.
"Kubilang tarik perkataan bitch mu, Taehyung!" Ulangnya lagi, kedua tangannya semakin menekan tubuh Taehyung.
Taehyung hanya diam, tanpa memberi perlawanan. Kedua matanya terulur kebawah, memperhatikan wajah Jungkook yang melebam. Seperkian detik, mereka diam dengan Jungkook yang masih mencengkram tubuh Taehyung. Tiba-tiba Jungkook dapat merasakan salah satu tangan Taehyung yang menyentuh pipinya, bukan menampar— melainkan hanya menyentuh. Dan rasanya, Jungkook seperti membeku saat itu juga. Bagaimana tangan dingin itu yang mengelus pipinya perlahan, membiarkan Jungkook jatuh kedalam afeksi Taehyung.
"Kau terluka," kalimat itu hanya bagai pengantar dalam khayal Jungkook yang menguar mengelilingi pikiran Jungkook, ia tidak tahu jika suara itu begitu berat dan dingin seperti tangan yang tersampir dipipinya. Jungkook dapat melihat bagaimana ekspresi Taehyung yang tak kian berubah, hanya rata namun penuh tanda tanya.
Hingga ia dapat merasakan, bagaimana sudut bibirnya yang robek serasa dingin tersentuh dengan benda kenyal lainnya, tak cukup lama, hingga akhirnya ia tersadar. Dunianya seakan dikembalikan. Refleks, dengan kedua mata yang kembali menyalang ia memberikan satu tinjuan tepat diperut Taehyung, mendorongnya sekuat tenaga hingga sosok Taehyung itu terjatuh.
Wajahnya memerah, menatap manusia didepannya. Kedua tangannya masih saja terkepal begitupula dengan giginya yang semakin bergemeletuk kasar. Ia membuang ludah, menatap nanar Taehyung. "Dasar menjijikkan," setelah itu beranjak pergi, membiarkan Taehyung dengan kekosongannya; ditemani dengan suara bantingan pintu yang dibanting.
.
.
o0o
Kedua matanya menerawang, mengamati gerak-gerik seseorang dihadapannya. Ruangan delapan kali tujuh inipun sepertinya tampak lebih sempit dari biasanya. Kedua matanya menajam, seakan dengan tatapannya dapat menelanjangi sosok dihadapannya tersebut.
"Baik mari kita mulai," Jimin memulai, menyiapkan beberapa kertas yang akan ia tulis dari pernyataan yang akan diberikan Taehyung, selaku terdakwa. Pensil yang ia pegang tampaknya suatu sinyal untuk Jungkook memulai.
Jungkook menghela napas, mencoba mengambil asupan oksigen sedalam-dalamnya. "Baiklah, Taehyung-shi, tidak perlu basa-basi lagi. Pada tanggal dua puluh lima desember yang lalu, tepat pada pukul delapan malam kau bersama dengan Irene, benar?" Tanyanya, Jimin yang mendengarpun sibuk untuk sesegera mencatat segala jawaban dari bibir Taehyung.
Taehyung mengangguk, cukup singkat. "Kau benar."
Entah mengapa, kedua mata Jungkook semakin menajam. "Ada hal apa kau berada diapartement Irene? Menurut informasi, kau dengan Irene tidak tinggal bersama." Jungkook dapat melihat bagaimana penampilan seorang Taehyung sekarang. Walau hanya berbalutkan kaos biasa, wibawanya tak kunjung meluntur.
Taehyung diam, tampak agak berpikir namun kembali ia mengangguk. "Benar, aku tidak tinggal bersama Irene. Saat itu, — Taehyung diam, — aku hanya ingin merayakan natal bersamanya." Akunya pelan namun tenang.
Jungkook terdiam, cukup lama hingga sentuhan lengan Jimin terhadapnya kembali menyadarkannya. " Pada saat itu kalian hanya berada didalam rumah sekitar dua jam saja, yang berarti sekitar pukul sepuluh malam kalian pergi keluar, jika benar apa yang kalian lakukan saat itu?"
Taehyung yang menunduk, kembali mendongak. Sontak tatapan mereka berdua bertemu, namun Jungkook langsung membuang muka. Kali ini tampak jelas, Taehyunglah yang menghela. "Benar, Aku sempat melihat jam tanganku. Saat itu sekitar pukul sepuluh kurang lima belas menit malam. Aku berencana ingin mengajaknya pergi kerestoran dekat perempatan jalan."
"Setelah pergi kerestoran apa kalian pulang bersama? Menurut saksi, Irene pulang sendirian. Dan dalam keadaan mabuk." Potong Jimin cepat tanpa mau tahu bagaimana raut wajah Jungkook yang kian berubah.
"Kau benar Jimin-shi, pada saat itu ia sedikit mabuk karena terlalu banyak minum soju. Namun, aku pastikan ia tidak benar-benar mabuk saat itu. Ia hanya minum sekitar tiga botol soju, dan kadar tahan nya terhadap alkohol itu tinggi."
Jimin mengangguk, membenarkan. " Benar Jungkook-ah, aku sudah mendapatkan data dari Hoseok jika Irene saat itu hanya memiliki kadar alkohol tak sampai dua puluh persen. Dan itu tandanya ia masih sangat sadar jika hanya ingin kembali pulang dari restoran menuju apartementnya."
"Mengapa kalian memutuskan untuk berpisah. Apa kau ada keperluan lain saat itu?" Lanjut Jungkook, kedua tangannya terlipat semakin memberikan perhatian terhadap Taehyung.
"Pada saat itu aku ingin mengambil pesanan kue yang aku pesan didekat restoran itu. Karena, pada saat itu Irene juga berulang tahun."
Kembali, Jimin membenarkan. Ia mengambil kertas dihadapannya dan kembali mencocokkan data forensik yang ia dapat dari rumah sakit sebelumnya. "Dan, sama sekali tidak ada racun atau substansi berbahaya didalam tubuh Irene, dan juga irene belum sempat memakan kuenya." Tutur Jimin menjelaskan.
Jungkook mendecih, memutar bola matanya bosan. "Tentu saja, Ia mati bukan karena racun. Melainkan pisau." Dari sudut matanya Jungkook dapat melihat bagaimana 'tenangnya' seorang Taehyung. Bahkan tampak gelisahpun tidak.
Berakhir dengan keadaan hening yang hanya dibarengi dengan suara goretan Jimin diatas kertas tak beralas itu. Mungkin ini sudah kesekian kalinya Jungkook menghela napas dalam-dalam. Kedua matanya ia beranikan menatap Taehyung.
Masih sama seperti dulu, delapan tahu silam yang lalu—
"Sejak kapan, sejak kapan kalian berhubungan." Tanyanya, ia cukup tercekat ketika melihat pergerakan tangan Jimin yang sepertinya ikut terhenti akibat pertanyaannya.
Jungkook dapat melihat sekilas dari ekor matanya, bagaimana air muka Taehyung yang berubah muram. "Sejak Tiga tahun yang lalu. Aku lupa dimana."
"Jimin-ah,bisa kau keluar sebentar ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya. Yakinlah, aku akan memberi tahumu nanti. Atau jika kau tak percaya kau bisa mengawasiku melalui kaca."
Akhirnya tanpa banyak pertanyaan lagi, Jimin langsung beranjak dan menyusun kertasnya. Sejujurnya, ia benar-benar merasakan bahwa athmosphere antara Jungkook dan Taehyung saat ini benar-benar berbeda.
Sunyi,
Jungkook mengedarkan pandangannya terhadap Taehyung. Entah mengapa terbesit dalam hati ingin menatap Taehyung lebih lama, namun tak bisa disangkal rasa bencinya yang membuncah kepada Taehyung tak bisa ia tampik. Giginya bergemeletuk menahan emosi. Tidak tahu, mengapa hanya karena seseorang dihadapannya ini emosinya selalu saja tak dapat ia kontrol. Ia tidak cukup lemah, hanya untuk saat-saat seperti ini.
"Taehyung-Shi ap—"
"Kookie-ah, aku merindukanmu."
Tubuhnya membeku. Perkataanya terpotong dan ikut membaur bersama hilangnya udara. Ia benci, ia benci panggilan itu. Panggilan itu semakin membuatnya lemah dihadapan Taehyung. Panggilan itu, panggilan kesayangannya dari Taehyung.
"Berhenti memanggilku seperti itu, Taehyung-shi," desisnya. Semua tak sama lagi seperti dulu, ia meyakinkan dirinya. Sosok dihadapannya ini bukanlah Taehyungnya yang dulu, ia sosok yang berbeda yang Jungkook tak kenali.
"Aku merindukan sosok kelinciku, sudah lama tak memelukmu. Aku ingin menciummu, seperti dulu." Jungkook yang mendengarnya tak bisa lagi menahan, emosinya tersulut tanpa habis pikir ia langsung beranjak dan menggebrak meja. Tatapannya memerah, lantas mengabur. Jimin yang melihat dari batas kaca hanya diam, menunggu apa yang akan terjadi.
Kali ini tatapan Taehyung sama tak terbacanya, tatapan itu masih sama seperti dulu.
Ia kembali menggebrak meja, Air matanya tak mampu ia tahan lagi. Bodoh untuk peduli mengenai harga dirinya sekarang. "Apa kau cukup bahagia bersamanya?" Tanyanya diselah tangisan yang coba ia tahan. Hatinya mendadak sakit ketika melihat wajah Taehyung yang tak sesegar dulu. Banyak pertanyaan yang hinggap dikepalanya, namun mau tak mau ia harus mengesampingkannya.
Taehyung terdiam, tatapannya masih sama, masih tetap tertuju kepada Jungkook. Ia mengigit bibirnya pelan, tampak lemah dihadapan Jungkook. "Apa menurutmu aku bahagia?— ia terkekeh, pelan.—Ah, aku rasa aku memang terlihat bahagia, bukan?" Kali ini Jungkook tak bisa menahan lagi, Air matanya lantas jatuh begitu saja.
Hal pertama kali yang diingat Jungkook mengenai Taehyung hingga sekarang adalah; seorang Kim Taehyung tidak pernah sebrengsek ini. Dan Jungkook tak henti-hentinya untuk menyalahkan kebodohannya, ia merasa tertarik ulur dengan keadaannya selama ini. "Aku membencimu, Taehyung-shi" Kalimat itu seakan ikut berterbangan dengan kekehan kecil Taehyung yang menggema diudara. Kedua matanya lamat-lamat menatap Jungkook, begitu dalam tanpa celah. Taehyung tau, benar-benar sangat tahu bahwa keadaan tidak lagi sama seperti dulu. Ia tahu, lambat laun semua akan berubah dan menunjukkan identitasnya. Jungkook dihadapannya bukanlah Jungkook yang ia kenal selama ini, demikian pula dengan dirinya bukanlah seorang Taehyung yang pernah Jungkook kenal.
Jelas, Taehyung saat ini bisa melihat bagaimana bulir air mata Jungkook yang terus berjatuhan dan merembes. Wajahnya yang muram bahkan tak mampu menggerakkan hatinya itu. Bagai duri, Taehyung ada hanya untuk menyakiti Jungkook tanpa memberi tawar.
"Aku menyesal, telah kembali mengenalmu." Kalimat itu bagai suatu telak yang terlontar dari belah bibir seorang Jeon Jungkook. Kedua tangannya yang mengepal begitu tampak bergetar, hatinya benar-benar merasa mencelos tak tersembuhkan. Delapan tahun perpisahan tanpa kepastian akhirnya harus Jungkook terima dengan sebuah rasa sakit yang tak terelakkan.
Dan kembali, Taehyung hanya diam.
"Terimakasih atas waktunya Taehyung-shi, aku akan kembali mengintrogasimu lagi nanti." Elahan napas Jungkook; Jungkook yang berbalik begitupula dengan sosoknya yang menghilang menandakan bahwa semuanya mungkin telah berakhir.
...
Sudah satu hari sejak pertemuannya bersama Taehyung namun hal-hal yang terjadi saat itu masih saja terngiang dipikirannya. Beberapa file yang menumpuk saat inipun tak mampu ia selesaikan sekejab. Wajahnya kembali mengerut, mengabaikan bagaimana retina matanya yang mulai lelah akibat radiasi komputernya. Dengan hati-hati akhirnya ia menutup semua aplikasi yang berjalan— termasuk menyusun kembali file yang berserakan diatas meja. Kedua matanya memutar diselingi dengan peregangan kecil yang ia lakukan terhadap segala otot maupun sendi ditubuhnya.
Jungkook menyipitkan kedua matanya, mencari letak jam terdekat didinding kantor. Hampir pukul dua malam, dan ia masih terus terjebak dalam gunungan tugas. Wajahnya mengedar menatap sekeliling menyadarkan dirinya bahwa ia sekarang tidak berada diapartementnya melainkan berada dikantor. Akhirnya ia beranjak, mungkin saja membuat coffe latte instan dapat membantu menenangkan pikirannya.
Tapi tidak,
Jika sekarang ia melihat sosok Taehyung yang meringkuk dalam jeruji sementara. Lampu yang meredup beserta dengan sepotong kasur tipis yang menemaninya. Tertidur tampak tak begitu pulas. Jungkook tertegun saat ini, langkahnya terhenti bahkan tak berkedip ketika melihat Taehyung yang bergerak entah karena apa. Cukup lama, hingga igauan Taehyung menyentak sisi sadarnya.
Taehyung semakin mengeratkan kedua tangannya, begitupula dengan kedua kakinya yang ikut menekuk. Bibirnya bergetar, mungkin tampak kedinginan tanpa peduli bagaimana dirinya yang semakin bergerak tak nyaman saat potongan kasur tipis itu ikut bergerak tak teratur dan menyisahkan dirinya bersama separuh lantai dingin yang menyentuh tubuhnya.
"Jungkook-ah, dengarkan aku, a-aku benar-benar menyesal. A-aku, kookie-ah, aku benar-benar merindukanmu. Kembalilah." Igauan itu semakin menggema bersama angin malam yang berhembus melalui ventilasi.
"Kookie, kembalilah kumohon.. kembalilah—hiks." Entah apa yang mendorong Jungkook, kedua tangannya dengan sigap mencari kunci yang ia kuasai selama ini—kunci jeruji. Dengan kedua tangan yang terburu-buru ia lekas membuka jeruji tersebut.
"Kookie-ah, jebal kumohon kembalilah, kumoho—" racauan itu semakin kuat, memburu dalam kesunyian. Taehyung yang ia lihat sekarang, benar-benar berbeda. Betapa ia terlihat begitu lemah nan rapuh.
Pelan-pelan Jungkook menggamit Taehyung, tangan lembutnya terus saja mengelus pelan rambut Taehyung. Basah, karena keringat itu semakin membuat Jungkook hilang kendali. Tanpa dikendalikan, ia dapat merasakan bagaimana pelupuk matanya yang mulai memanas akibat cairan yang menggenang.
"Taehyung-ah, berhenti aku mohon, berhentilah menangis. Aku disini, Aku—Kookie berada disini sekarang." Racaunya semakin mengeratkan pelukannnya. Tangannya menghapus keringat yang sejak tadi muncul didahi Taehyung, mengabaikan bagaimana kacaunya seorang Taehyung sekarang. Dimatanya, Taehyung adalah tempat dimana awal ia bermuara, walaupun ia tetap meregang egois. Tak bisa dipungkiri, delapan tahun tanpa kepastian tidak akan pernah merubah perasaannya. Jungkook tau, Ia memang tampak atau bahkan sangat lemah jika harus berurusan dengan Taehyung. Hatinya terlalu mendalam— sudah memuja sosok pria dipelukannya ini; bahkan tak peduli bagaimana rasa sakit yang telah ditorehkan. Tapi, bolehkah untuk kali ini Jungkook melakoni diri sebagai sosok antagonis?
.
.
o0o
Perasaannya bercampur aduk saat ini, sepertinya ini benar-benar hari tersialnya dalam seumur hidup sebagai seorang Jeon Jungkook, tangan kanannya terus saja mengusap sudut bibirnya yang robek itu dengan kasar. Walaupun sambil mengaduh perih, Jungkook lebih baik melakukannya; berharap bekas ciuman itu dapat hilang dari wajahnya. Langkah cepatnya tiba-tiba terhenti, entahlah ia merasa pusing saja hari ini. Benar-benar menyebalkan, semakin menyebalkan ketika hanya kejadian dan wajah orang itu yang terus saja berputar dikepalanya. Jungkook mendesah kasar, "Awas saja, aku akan membalasnya." Rapalnya berulang kali.
Tak sadar ia sudah menghentikan dirinya tepat diruangan yang paling ia benci, ruangan konseling dimana keberadaan Yoongi selalu berada. Dengan malas ia melangkahkan kakinya dan masuk, memanggil-manggil nama Yoongi tanpa embel-embel Hyung. Sontak, untuk kedua kalinya ia mendapatkan pukulan telak dikepalanya. Yoongi tampak tak peduli, dan menyuruh duduk Jungkook dihadapannya setelah melemparkan beberapa kertas yang dijepit dengan rapi.
Jungkook memandang Yoongi heran, apalagi sekarang? Begitu sialnya dirinya hari ini. Ditambah lagi, dengan dirinya tiba-tiba melemas begitupula dengan jantungnya yang berdetak tak terkontrol setelah kejadian tadi, sepertinya Jungkook mulai mengidap sakit jantung; namun ia menepisnya jauh-jauh. Lamat-lamat ia menatapi kertas yang dilempar kakak sepupunya itu, sampai-sampai ia kembali dikejutkan dengan omelan kakaknya yang semakin lebar. Akhirnya dengan malas ia membuka kertas-kertas itu, wajahnya mengerinyit.
"Huh, kau lihat itu? Kepala sekolah baru saja memberikanku rangkapan nilaimu. Dan peek-a-boo, nilaimu bahkan jauh lebih tak berharga dari sampah." Dan sejujurnya, Jungkook ingin mengiyakan perkataan kakaknya namun terlalu gengsi sepertinya. Kedua matanya saja sakit melihat nilai-nilai yang ia raih selama ini. Hanya mata pelajaran Olahraga dan Seni rupa yang dapat dikatakan baik; kalau tidak mau dibilang pas-pasan.
"Aku bahkan hampir serangan jantung melihat nilaimu. Jungkook-ah." Jungkook hanya bersungut-sungut, yang dimana akhirnya dihadiahi dengan suara meja yang dipukul oleh Yoongi. Tatapannya kesal; sangat marah. Yoongi kembali menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralisirkan udara yang masuk didalam paru-parunya. Kalau begini ia bisa tua sebelum umur.
"Kau beruntung aku sangat sibuk saat ini, jadi kau tidak perlu mendapatiku yang menghadiahimu pukulan untuk belajar keras setiap hari. Tapi jangan senang dulu, aku tidak akan membiarkanmu tersenyum bahkan sampai dineraka sekalipun." Ucapnya penuh penekanan disetiap kata dan ancaman yang tak kunjung surut. Itulah Min Yoongi, sosok menyebalkannya mulai kambuh. Jungkook memutar kepalanya bosan, dari luar ia bisa melihat bagaimana para gadis yang memakai baju sempit saat olahraga dan itu lebih menyenangkan.
"Tatap aku lagi Jeon Jungkook, atau kau akan mati ditanganku." Dan lekas buru-buru Jungkook membalikkan wajahnya, kembali menatap Yoongi; masih dengan kesal— bercampur aduk.
"Maka dari itu, aku meminta bantuan Taehyung untuk menjadi guru privatmu sampai kenaikan kelas. Ia merupakan kandidat yang pantas untuk mengajarimu. Dan suatu berkat bagimu, karena ia menyanggupinya." Dan rasanya dunia Jeon Jungkook benar-benar digoncangkan begitu kuat, ini bukan hanya hari kesialan baginya melainkan ini adalah sebuah kutukan bagi dirinya. Entah harus pada siapa ia berterimakasih saat ini, tubuhnya terasa semakin lemas saat Yoongi menambahkan, "Dan kau harus datang kerumah Taehyung, selama pembelajaran."
...
Dan berdirilah Jungkook disini, memandang pintu mahoni mahal yang ingin saja ia tendang. Tangannya tak henti menekan bel berkali-kali sambil mengucap kata serapah kepada Min Yoongi beserta yang lainnya, terutama terhadap pemuda pemilik rumah. Langit yang memendung tak lagi ia pedulikan, mau hujan atau tidak itu bukan urusannya. Dan sialnya, sudah hampir sepuluh menit berdiri disini, Jungkook sama sekali tidak menemui kehidupan disini. Ah, syukurlah itu berarti ia bisa pulang dan kembali bergelut dengan selimutnya. Namun ternyata, Tuhan tak mengijinkannya sampai ia melihat kepala Tae-bitch-hyung, yang menyembul tepat tak jauh dari kepalanya.
Ia mengerjab, menatap Jungkook bingung, namun sesaat kemudian kembali merasa teringat sesuatu dan membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Jungkook untuk masuk dengan cara dinginnya. Tanpa malu Jungkook langsung duduk dan melempar tasnya kesofa, mengabaikan bagaimana sang tuan rumah.
"Baiklah, cepat akhiri semua ini. Aku mau pulang." Tanpa menjawab Taehyung langsung melangkah dan duduk tepat disamping Jungkook, sangat dekat. Lantas membuat Jungkook terkejut dan menjauhkan dirinya.
Taehyung menatap datar Jungkook, "Kita tidak belajar disini, dikamarku." Dan entah mengapa rasanya segala hal yang berbau Taehyung membuat kepala Jungkook pusing, tau-tau ia sudah merasakan tangan kirinya yang ditarik Taehyung berjalan menuju kamarnya. Seperti paranaoid, Jungkook langsung mengarahkan pandangannya was-was, sepertinya ia kebanyakan menonton drama sial ibunya. "Duduklah, disini."
Perintah itu bagai suatu hal absolute yang wajib dilaksanakan. Sekali lagi iamerutuk dirinya dan membuka asal apapun yang ada ditasnya, matanya mengedar mengeliling memandang segala properti yang ada didalam kamar Taehyung. Benar-benar jauh dari pikirannya, Jungkook sudah sangat yakin sebelumnya jika kamar Taehyung akan sama membosankannya dengan dirinya; penuh buku ensiklopedia dan komputer. Namun ternyata tidak, memang benar sih masih ada kumpulan beberapa buku ensiklopedia, tapi tidak banyak. Yang ia temukan sangat berbanding terbalik dengan pikirannya; dimana kumpulan alat musik yang berjejer rapi disetiap sudut setelah itu diisi dengan lemari yang Jungkook yakini sangat mahal, bentuk tempat tidurnya yang ditutupi dengan tirai-tirai layaknya seperti singgasana raja; bitch sih Taehyung ini benar-benar manusia kuno, sepertinya. Dan jangan lupa dengan aroma dan suasana kamarnya yang sangat... err, Jungkook benci mengakui tapi ini benar-benar maskulin.
Kedua mata Jungkook membulat, saat melihat Taehyung yang melepas fabriknya. Kembali, pikiran bodohnya mulai menghantui, entahlah ketika Taehyung berbalik saat itu juga Jungkook merasakan dirinya kembali merasakan tubuhnya yang mulai melemas dan jantungnya yang seakan berdetak lebih kencang; bodoh, apa ia sedang terkena anemia dan sakit jantung. Ditambah lagi dengan Taehyung yang seakan memperlambat pergerakannya, Jungkook dapat melihat jelas bagaimana kulit tubuh Taehyung yang tan eksotis membentuk dada yang tak terlalu bidang serta lekukan tubuh yang memang tidak terlalu terbentuk; bahkan tampak ramping namun tetap kelihatan sexy dan semakin membuat Jungkook seakan mau mati saat itu juga adalah tato yang tertulis — entah apa— disudut bawah pinggang kanannya.
Kedua matanya kembali mengerjab, saat tahu-tahu sosok Kim Taehyung sudah duduk didepannya, dengan balutan fabrik putih polos longgar yang sangat tipis. Jungkook kembali menepis pikiran idiotnya, dan kembali bertuju pada buku dihadapannya.
Taehyung berdehem, ia meraih buku dihadapan Jungkook. Buku mate-matika, yang masih sangat rapi; jelas Jungkook tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Ia membolak-balikkan lembarannya. Setelah itu kembali menutupnya, ia menatap Jungkook. "Beritahu aku, dimana kelemahanmu."
Kelemahan? Apa ia meragukan kemampuan bela diri Jungkook? Namun ia kembali menggeleng, dan kembali memberikan atensinya terhadap buku mate-matika yang dipegang Taehyung, akhirnya dengan malas ia menjawab "Semuanya," sekenanya,
Ia merutuki sih brengsek Taehyung yang entah mengapa tak henti-hentinya terus menatap Jungkook, sebenarnya tampak risih namun Jungkook ogah mengakuinya. "Apa itu termasuk penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian? Ah, aku harap kau bisa menjawab pertanyaanku ini; berapa dua puluh tiga dikurang dua?"
Dan kalimat merendahkan itu malah membuat Jungkook tersulut akan emosinya. Ia menggebrak meja kosen dihadapannya. "Kau gila, kau pikir aku sebodoh itu."
Seperti tak peduli, Taehyung hanya menaikkan bahunya acuh, kemudian kembali menatap Jungkook. "Aku tidak tahu, jadi beritahu aku dimana kelemahanmu." Dan ingin saja Jungkook menerjang Taehyung dan menghajarnya habis-habisan. "Aku tidak tahu bagian sub-bab mana saja, dan aku tidak peduli. Terserahmu; apapun yang kau ajarkan kepadaku aku akan menerimanya." Kepala Jungkook mau pecah rasanya, makhluk ini benar-benar menyebalkan. Serius,
"Baiklah," Taehyung membuka-buka buku yang ia pegang, setelah itu meletakkannya dihadapan Jungkook. Keningnya berkerut, benar-benar kesal. "Kerjakan dari halaman dua puluh tiga sampai tiga puluh. Waktumu satu jam dari sekarang." Kalimat itu jelas sebagai kalimat mutlak yang dikeluarkan oleh bibir Taehyung, mau tak mau Jungkook mengerjakannya; dan sial sekali, dari sepuluh soal itu tak ada satupun yang dapat ia mengerti. Salahkan perhitungan geometri yang menggunakan sistem limit, menjijikkan.
"Sepuluh menit lagi," dan ingin saja Jungkook mencampakkan meja dihadapannya, kalau dia tidak ingat jika hanya satu-satunya meja inilah sebagai tumpuannya dalam menulis. "Berisik, aku bahkan tidak mengerti dengan ini semua." Ucapnya frustasi. Rambutnya bahkan sudah seperti terbakar, ia bakal botak sebentar lagi.
Dan Taehyung bangkit dari tidurannya, "The time is over," kemudian ia merebut kertas Jungkook, belum lagi dalam hitungan satu menit, kertas Jungkook sudah berakhir dengan rematan Taehyung dan berakhir ditong sampah.
Taehyung memandang Jungkook yang sudah mendidih, ia menambahkan. "Lagian soal yang aku beri tadi, bukan soal untuk tingkatanmu. Seharusnya itu soal untukku." Dengan cepat Jungkook langsung menghempaskan dirinya ketubuh Taehyung, habis sudah kesabarannya. Wajahnya memerah karena marah yang tak tertahankan. Ia dapat merasakan bagaimana buku-buku tangannya yang menegang mencengkram lengan kurus-kokoh Taehyung. Ia semakin menekan dudukkannya di perut Taehyung, membiarkan sih manusia brengsek itu menyadari kesalahannya. "Kau harus menyesali segala perbuatanmu, Kim Taehyung." Tau-tau Jungkook sudah melayangkan tinjuannya tepat dipipi Taehyung. Tidak terlalu kuat, tapi cukup terasa.
Setelah itu hanya ada kesunyian, Taehyung tidak membalas bahkan bergerakpun tidak. Begitupula dengan keadaan Jungkook yang kembali diam, membiarkan keringat membasahi wajahnya. Ia dapat mendengar bagaimana tarikan napasnya yang begitu kentara ditambah lagi dengan keadaan wajah mereka yang sengat dekat.
Taehyung menggit bibirnya perlahan, bahkan rasa perih dan pegah dipipinya masih sangat tercetak tapi rasanya sangat tidak berarti karena pandangannya terus saja tertuju dibenda kenyal itu; ia dapat melihat dengan jelas bagaimana bibir merah Jungkook yang masih memiliki luka, sedikit bergaris-garis dibelah bibirnya. Ia, ingin menyicipi itu kembali.
Kepalanya terangkat sedikit, dan sepersekon selanjutnya Taehyung dapat merasakan bibirnya yang tertempel tepat dibibir merah Jungkook, rasanya benar-benar terasa manis, bahkan dari ciuman sebelumnya. Taehyung dapat melihat bagaimana raut wajah Jungkook yang hanya diam, tak berniat membalas. Mungkin ini satu kesempatan bagi Taehyung untuk melakukan lebih, perlahan ia membuka bibirnya danmulai melumat belah bibir pemuda dihadapannya. Membiarkan kedua mata Jungkook yang memejam dan merenggangnya cengkraman kedua tangan Jungkook terhadap lengannya.
Dari sini Taehyung tau, jika Jungkook juga mungkin menginginkannya. Dengan cepat ia membalik posisi, sebelum memegang kepala Jungkook agar tak terbentur dengan lantai tanpa melepaskan ciuman mereka. Posisi mereka kali ini adalah dengan Taehyung yang menindih Jeon Jungkook. Membiarkan ciuman mereka, menjadi lebih dalam dengan gigitan diakhir.
.
.
o0o
Jungkook meminum kopinya dalam sekali tenggak, setelah itu membuangnya asal. Ia benar-benar merasa frustasi setelah meninggalkan Taehyung dalam tidurnya. Tepat, satu harian ini dia tidak tidur. Bajunya kelihatan lusuh, tak terurus. Jungkook memandang Jimin sayu, seakan menginginkan suatu alasan mengapa Jimin memanggilnya dan menjemputnya sampai disini.
Jimin memandang sahabatnya ibah, ia khawatir, benar-benar sangat mencemasi keadaan Jungkook. Ia hanya diam, sembari mendorong makanan ringan yang dipesan kearah Jungkook. "Makanlah, aku tahu kau sangat lapar Jungkook."
Jungkook mengangguk dan menerimanya, ia memakan kumpulan ayam goreng itu dengan cepat. "Ayo katakan padaku, ada hal apa yang ingin kau bicarakan, Jimin-ah??" terdengar menuntut,
Jimin meneguk kopinya, setelah itu menarik napas dalam-dalam dan hendak bercerita. Namun belum sempat ia memulai, suara bunyi ponselnya mengintrupsi. Akhirnya dengan malas ia membuka, tapi setelah itu kembali mengerinyit saat membaca siapa yang menelpon. Itu Jung Hoseok, teman satu kepolisian mereka. Akhirnya dengan hati-hati ia mengangkat.
"Hallo, Hoseok Hyung ada apa?"
Telpon sudah ditutup, namun Jimin tak bisa menghentikan keningnya yang berkerut. Ia memandang Jungkook ragu, "Jungkook, Taehyung Hyung, kabur..."
...
Yuhuy, finally i must stop this here, and ta-da it's the first chapter. Sebenarnya banyak kendala saat membuat ini; seperti lupa dengan plot, ragunya aku dengan karakter Jungkook; bahkan aku kembali merombak keseluruhan bagian bertemunya Jungkook dengan Taehyung xD sungguh kerja keras, but i like it. Berharap bakal ada beberapa reader yang mungkin merasa excited dengan fanfic ini, dan yah ini adalah chaptered.
Cerita ini didasari dari suatu fanfic yang pernah aku baca (bukan TaeKook) jadi jika menemukan kesamaan, mohon maaf. Memang iya sih, tapi mungkin hanya dichapter satu ajah kelihatan sama; nanti dichapter selanjutnya gak kok. Dan memang seneng bikin Kukies itu gak menye-menye, alias strong and manly but it doesnt mean if he will be top here *gak.
Jadi, bagi teman-teman sekalian dukungan dan support sangat diperlukan bagi aku yang merupakan author baru untuk Taekook/BTS. Aku harap kalian berkenan memberikan feedback/ komentar-komentar kalian, segalanya diterima asal berkaitan dengan cerita. Dan yah, aku bakal buat setiap chapter semakin panjang; mudah-mudahan.
Eh, btw aku juga masih bingung nentuin judulnya, hahaha.
Okay,
Salam fanboy.
Kalau mau kenalan boleh, Ig: nueljyp
