Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto


.

.

Klan : Ketika Hati Saling Bersilangan


.

.


1


Enjoy~


[Sakura]

"Sempurna!"

Kurasa penampilanku tidak cukup buruk hari ini. Dua puluh menit lagi ada rapat para penyembuh dan tidak ada alasan untuk tidak menghadirnya. Lingkar hitam di area mataku berhasil aku samarkan dengan bedak, bayangkan saja semalam aku baru kembali dari tiga hari menjalankan misi tanpa tidur dan sekarang aku dipaksa untuk ikut rapat. Aku benar-benar mencintai hidupku!

Jubah hitam terpasang erat di punggungku, membungkus seluruh tubuh dan hanya menyisakan kepalaku, aku mengambil topeng kucing sebelum meninggalkan rumah. Kali ini aku tidak menggunakan tenaga lebih untuk sampai dengan cepat di gedung pertemuan, aku lebih memilih jalan kaki menikmati cuaca segar pagi hari dan aku masih memiliki waktu dua puluh menit. Setelah melewati gerbang kawasan klan penyembuh mataku disuguhkan pemandangan pagi hari desaku, jalanan masih agak lenggang, beberapa jam dari sekarang jalanan ini akan dipadati kerumunan orang yang melakukan aktivitasnya masing-masing.

'BRUK!'

"Maaf kakak, aku tidak sengaja..." Anak laki-laki menabrakku, sepertinya dia sedang tergesa-gesa, aku memberinya senyum dan dibalas dengan memberiku senyuman lebar kemudian dia melanjutkan larinya.

Bagaimanapun menyebalkannya desaku tapi aku tetap menyukainya. Aku tinggal di desa Konoha, desa lindungan dan desa tersembunyi. Karena kemakmuran dan kesuburan tanahnya banyak desa lain yang ingin mengambil alih desaku bahkan peperanganpun kadang terjadi namun karena pertahanan dan daya tempur yang tak bisa dipandang sebelah mata, Konoha tetap terindungi dari berbagai ancaman luar. Para klan mengambil peranan penting untuk menjaga keamanan desa diluar para rakyat biasa. Keamanan Konoha dijaga oleh empat klan.

Klan penyerang, kawasan klan mereka berada di sebelah utara Konoha, mereka selalu berada di garis depan tiap desa menerima ancaman, tiap penyelesaian misipun harus diikut sertakan seorang dari klan penyerang, klan mereka sangat penting tapi menurutku karena kehebatan mereka dalam pertempuran menjadikan kebanyakan dari mereka memiliki sifat angkuh dan sombong dan jika kau mencari pria tampan maka klan penyerang lah jawabannya!

Kemudian klan strategi, berada di timur Konoha, aku menyukai mereka, mereka cerdas dan misterius, tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang mereka ya karena mereka misterius, selain itu wilayah mereka jauh dari wilayah klanku jadi aku hanya mengetahui sedikit tentang mereka.

Kemudian klan penembak, kawasan klan mereka berada di selatan Konoha. Yang aku ingat mereka memiliki gudang persenjataan yang jauh lebih besar dari klan yang lain, jika kau menginginkan kelengkapan persenjataan mintalah pada mereka, tapi sediakan uangmu karena mereka tidak murah dan itu menyebalkan.

Terakhir adalah klanku, klan penyembuh. Kami tinggal di kawasan barat Konoha. Klan kami adalah klan yang tak kalah penting, kami menyembuhkan mereka yang sakit, menolong mereka yang berada di ujung kematian, dan klan penyembuh Konohan adalah panutan bagi klan penyembuh desa lain, banyak penyembuh datang dari berbagai desa sekutu untuk belajar dari kami, dan kamipun tidak pelit akan ilmu. Itulah yang selalu di ajarkan oleh ketua klan penyembuh bahwa kehidupan adalah sesuatu yang misterius, sepanjang kita bisa memperpanjang perjalannya maka lakukanlah dengan tidak memandang golongan mereka. Aku menyukai ketua klan, dia adalah satu-satunya pria favoritku.

Desa kami memiliki satu klan lagi, tetapi penyebaran mereka tidak banyak, setahuku hanya tersisa dua orang yang berdarah klan penyihir di desa. Salah satunya adalah nenekku Tsunade dan yang kedua adalah aku sendiri.

Aku hampir lupa, Konoha juga memiliki tim pelindung dan informan rahasia. Anbu, mereka tersebar di seluruh pelosok negara untuk mencari informasi dan mengetahui perkembangan dunia, diantara empat klan yang berperang penting bagi desa, tim Anbu memiliki tugas yang jauh lebih penting, mereka mencari jejak secara rahasia, memberi peringatan akan adanya ancaman, dan menjadi pengawal tetap bagi pemimpin desa, Hokage. Perekrutan Anbu tidaklah main-main, mereka adalah orang-orang terpilih dari berbagai klan, dan aku mendapat keberuntungan atau kesialan karena menjadi salah satu yang lolos dari ujian Anbu. Aku ingat kenangan itu, aku hampir mati jika aku bukan seorang penyembuh. Satu temanku tidak bisa bertahan dalam ujian itu. Miris!

Sepertinya aku terlalu banyak mengenang dan bercerita mengenai desa, aku tidak menyadari telah sampai di gedung pertemuan. Gedung ini tidaklah luas, tetapi memiliki dua lantai, lambang daun Konoha di pintunya menjadi penyambut setiap orang yang datang. Gedung ini seharusnya berfungsi sebagai gedung pertemuan ke empat klan, tapi karena ruang pertemuan klan penyembuh sedang direnovasi maka rapat klan kami di alihkan ke gedung ini.

Ketika memasuki gedung sama sekali tidak ada seorangpun di dalam, tetapi suara sayup seseorang dari lantai atas mendorong tubuhku untuk segera naik ke ruang rapat klan.

Aroma kayu musim gugur tercium olehku, aku menduduki kursi kosong yang tak jauh dari pintu. Setelah menghela nafas dan meletakkan topeng kucingku di atas meja aku meneliti sekitar dan orang-orang yang duduk melingkari sebuah meja besar ditengah ruangan. Kursi ketua klan telah terisi, disana duduk lelaki paruh baya favoritku, ada cangkir kopi di depannya, aku tahu isinya adalah kopi hitam pekat tanpa gula, aku sarankan untuk jangan mencobanya, itu adalah kopi terburuk sepanjang masa!

Di sisi kanan meja, jelas sekali aku melihat Ino sabahat kecilku tengah melampaikan tangan padaku dengan cengiran khasnya, oh dia benar-benar wanita tidak tahu malu, aku meresponnya dengan anggukan kepala. Di sebelah Ino, ada wanita menyebalkan lainnya, Shiho, dengan kaca mata minus dan raut sombongnya dia sedang membaca lembaran kertas di depannya, hanya sekilas aku melihat Shiho karena aku benar-benar tidak menyukainya!

Kembali aku melihat lelaki favoritku, pandangannya tengah menyapu seluruh ruangan dan aku tahu rapat akan segera di mulai.


"Baiklah! Pertama aku ingin meminta maaf karena mengadakan rapat mendadak, aku harap tidak ada yang terganggu akan hal ini." Aku harap ketua klan yang merupakan lelaki favoritku tahu kalau aku sangat terganggu, semua orang terdiam menanti apa yang akan di sampaikan ketua klan selanjutnya.

"Subuh tadi aku menerima perintah langsung dari Hokage-Sama," Dia mengeluarkan lembaran dokumen, aku sedikit penasaran apa perintah Hokage. "Ada beberapa misi tingkat A dan B, kalian yang aku kumpulkan disini adalah para penyembuh yang bebas dari misi jadi aku harap tidak ada penolakan!" Ketua Klan memberikan semua dokumen kepada Shizune-san, sang wakil ketua. Kemudian menyebarkan dokumen itu kepada setiap orang.

Bagus sekali! Waktu hibernasiku pupus sudah, lembar di tanganku ini mengacaukan semua rancangan liburanku. Tatapan horror kuberikan pada kertas di tanganku kemudian melihat ketua klan dengan tatapan yang sama, oh dia menatapku dengan seringai liciknya, aku akan menghapusnya dari daftar lelaki favoritku!

Aku menatap Ino kemudian, sepertinya dia tidak jauh beda denganku, malah lebih buruk kepalanya sudah tertunduk lesu dan Shiho, jangan menanyakannya karena aku sama sekali tidak meliriknya.


Rapat yang mengacaukan rancangan liburanku telah selesai setengah jam yang lalu, sekarang aku tengah meratapi nasib dengan semangkuk ramen di kedai Ichiraku, ada Ino di sampingku, duduk dengan kepala yang masih tertunduk lesu.

"Apa ayahmu itu gila?" Ino membuka suara setelah sekian lama bungkam, ramen di depannya pun tak tersentuh. Ya, lelaki favoritku satu-satunya adalah ayahku, Haruno Jiraya sang kepala klan penyembuh.

"Aku rasa begitu!" Aku mengangkat bahu, kembali melihat lembar misi tingkat A di tanganku. Ini pertama kalinya aku menerima misi yang tidak bekerja sama dengan tim Anbu melainkan dengan klan penyerang.

"Aku merasa, Ayahmu baru saja menendang bokongku! Dia melemparku jauh ke Suna! Oh Tuhan ini pertama kalinya aku ke sana!" Ino akhirnya mengangkat kepalanya.

"Sepertinya kita butuh sake Ino!" Ino merespon perkataanku dengan mata menyala, dan ramen dinginnya pun benar-benar terlupakan sekarang.

"Satu gelas saja! Kau tahu akibatnya kalau kita terlalu banyak minum!"

"Ya.. yaa.. Aku tahu..aku tahu.." Ino terlihat senang, baguslah jika hatinya bisa teralihkan. Sake kami datang tidak lama setelah aku memesan.

"Katanya mereka menemukan tanaman obat baru." Setelah meminum sake, Ino memberi tahuku misi yang diterimanya.

"Itu bagus! Ayahku tidak salah memilihmu." Aku mengabaikan Ino yang memberiku tatapan tidak sukanya.

"Kau sekarang membela Ayahmu!"

"Ino... jika bisa aku akan menukar misiku dengamu, lihat!" Aku menyodorkan lembar misiku di depan wajah Ino. "Tapi karena pengetahuan tentang tanaman obatmu lebih dari kemampuanku, aku tidak bisa menukar misi kita!" Mata Ino kembali menyala melihat lembar misiku, tidak heran karena selama ini selalu Ino yang menerima misi dengan para klan penyerang, dan kekasihnya juga ada di sana.

"Oh Tuhan Sakura! Berikan misi itu padaku!" Ino berteriak seperti orang gila di telingaku. Aku cepat-cepat mengambil lembaran misi itu dan menyembunyikannya dari Ino, sebelum dia merebutnya kemudian mendatangi ayahku untuk memohon-mohon padanya.

"Aku bilang jika aku bisa menukarnya maka akan kuberikan padamu! Tapi ini tingkat A, mereka tidak bisa menjamin keselamatan penyembuh seperti misi tingkat B lainnya. Mungkin ini sebabnya ayah memilihku." Aku memegang bahu Ino, berharap dia mengerti. Ino tidak akan bisa menjalankan misi tingkat A mengingat dia tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri.

"Baiklah, tapi aku belum mencabut ucapanku bahwa ayahmu itu gila Sakura!"

"Dia memang ayah yang gila Ino, dia tidak memberi anaknya liburan!" Kini aku yang merasa kecewa, aku benar-benar lelah dan sekarang kelelahanku bertambah dengan menerima misi ini. Ino memegang tanganku di bahunya dan membawa tangaku pada genggamannya.

"Kau tahu Sakura, bagiku kau adalah wanita yang luar biasa." Ino memberiku senyuman tulusnya.

"Apa kau akan membuatku menangis dan membuat drama sekarang?" Aku terkekeh membalas senyumnya. Aku benar-benar mencintai gadis ini!


Malam semakin turun, aku melangkahkan kaki menuju wilayah klan penyerang, pertama kalinya aku akan menginjakkan kakiku di wilayah mereka dan membuatku sedikit gugup. Tidak ada jubah dan topeng Anbu yang ku kenakan karena Anbu tidak diwajibkan memakai seragamnya selain berada di luar wilayah Konoha, dan juga malam ini sedikit panas makanya aku hanya memakai pakaian biasa, kaos merah dengan lambang klan penyembuh di bahu dengan rok merah pendek di atas lurut, jariku terbungkus sarung tangan coklat, sepatu boots coklat setumit, dan rambut panjangku yang terikat, Ino yang mengajariku cara mengikat rambut poni seperti ini.

Aku melihat kembali lembaran misi untuk mengetahui dimana tempat pertemuan untuk misi ini. Ketika memasuki wilayah klan penyerang aku di sambut oleh dua orang pria, mereka sedikit mengagetkanku, setelah melihat lambang klan penyerang pada tubuh mereka aku langsung paham dan memberikan lembar misiku kepada mereka.

"Mari!" Seorang diantara mereka menunjukkanku jalan, otomatis aku mengikutinya. Tempat ini walaupun diterangin oleh lampu jalan tetapi sedikit menyeramkan, benar-benar berbeda dengan wilayah klan ku, di wilayahku walau malah hari akan tetap ramai karena kesibukan yang tak behenti, tetapi di seni benar-benar lenggang, hanya ada kicauan burung yang kembali kesarangnya dan sesekali terdengar gonggongan anjing. Di setiap pintu rumah yang kulewati selalu terpampang jelas lambang klan penyerang.

Lelaki yang mengantarku berhenti di depan rumah yang cukup besar untuk dinamakan rumah, dindingnya masih terbuat dari kayu sangat tradisional, oh iya semua rumah yang kulewati masih bergaya tradisional, aku memuji konsistenan mereka, tidak seperti klan kami yang tergerus arus moderenitas.

Lelaki tinggi itu membuka pintu dan menyuruhku masuk. Suasana yang kulihat setelah masuk ke rumah ini benar-benar berbeda dengan suasana di luar. Disini terang dan riuh, aku mencium bau sake yang menyengat, ini tidak baik! Di pinggir ruangan aku melihat banyak sofa yang tertata rapih, di tengah banyak meja bundar dengan kursi yang mengeliinginya, tidak ada ruang kosong semuanya dipenuhi oleh orang yang asing di mataku. Aku masih berdiri kaku, tak tahu harus melakukan apa, dan tiba-tiba seseorang lelaki datang menegurku.

"Hey! Kau..." Bau sake menyeruak dari mulutnya, refleks aku menutup hidungku dengan punggung tangan. Mata lelaki itu menelitiku dari rambut hingga kekaki, ada kunai di balik rok ku, akan ku tusukkan kunai itu ke kepalanya kalau dia tidak berhenti melihatku seperti itu!

"Akhirnya penyembuh kita datang!" Oh sial! Dia berteriak menyadarkan orang-orang di ruangan ini akan keberadaanku. Mereka semua memandangku lama dan itu membuat perutku bergemuruh, aku ingin muntah!

"Kemari, biar kutunjukkan di mana kau duduk!" Lelaki ini dengan lancang, menarik tanganku untuk ikut bersamanya, pandangan sema orang mengikuti pergerakanku. Apa ada yang aneh dengan pakaianku? Oh benar! Setelah melihat mereka semua berpakaian gelap aku meruntuki diriku, kenapa aku tidak memakai jubah Anbu, ruangan ini juga tidak panas!

Aku mendapatkan tempat dudukku, pria yang bermulut bau itu ikut duduk di sebelahku diikuti dengan beberapa orang yang ikut duduk di depanku! Oh Tuhan, aku hanya ingin menyelesaikan rapat ini dengan cepat, bukannya meladeni semburan mulut bau mereka!

"Jadi, apa semua penyembuh itu berambut terang?" Aku melipat tangan di depan dada, pertanyaannya membuat darahku memanas, jika mereka bisa melihat empat siku di kepalaku mereka pasti akan tahu bagaimana kesalnya aku. Memang apa salahnya memiliki rambut terang, kami juga memiliki seseorang dengan rambut gelap! Shizune-san contohnya.

"Oh iya, aku dengar kepala klan mereka berambut putih.." Sudah cukup! Seseorang dari mereka mengolok-olok ayahku!

Aku sudah berdiri dari meja, aku tidak ingin membuat masalah dengan mereka, tapi seseorang menghentikan langkahku. "Hey Sakura!" Itu Shimura Sai, kekasih Ino.

"Sai?" Aku mengerutkan alisku, Aku sama sekali tidak mengenal Sai, hanya sekali aku pernah melihanya itu pun karena dia mengantar Ino ke rumah sakit umum Konoha, dan aku tidak pernah bicara dengannya dan dia tahu namaku? Ino sialan!

"Sebaiknya kau jangan duduk diantara orang-orang mabuk ini! Di sana ada kursi yang bagus." Sai mengarahkan kepalanya kesebuah sofa di pinggir ruangan, dia tidak menyentuhku tapi refleks aku mengikutinya.

"Mau kau bawa kemana penyembuh kami Sai!" Oh tidak! Para mulut bau itu berkicau lagi, aku lihat Sai menghampiri mereka, dan cuma kalimat 'sudah cukup' yang kudengar sebelum dia kembali mengantarku ke sofa.

"Terima kasih" Aku berterima kasih kepada Sai, dia tersenyum sebelum duduk di sampingku, di depanku ada meja yang penuh dengan botol sake. Sai memergokiku menatap botol-botol sake itu, tanpa mengatakan apapun dia mengambil semua botol di depanku dan kembali berdiri, aku rasa dia tahu dari Ino kalau kami tidak berhubungan baik dengan alkohol. Sepertinya Sai akan jadi kandidat lelaki favoritku berikutnya.

Sai benar-benar datang tepat waktu, jika tidak aku sudah mengamuk, aku menghela nafas lega sebelum menyandarkan punggungku ke sofa, aku melihat meja di depanku, ada genangan tumpahan sake di sana, meja itu pasti lengket, aku bersumpah tidak akan menyentuh meja lengket menjijikkan itu.

.

.


[Sasuke]

"Sasuke" Tangan hangat menyentuh kepalaku, ini nyaman sekali, aku tidak ingin membuka mataku, tapi suara lembutnya kembali memanggilku dan juga aroma sup kesukaanku memancingku untuk membuka mata.

"Mau sampai kapan kau tidur Sasuke?" Aku mengerjapkan mata, tidak ada usapan di kepalaku lagi, aku melihat seorang wanita yang sangat kucintai tengah menuangkan teh.

"Ibu, bisakah_" Sebelum menyelesaikan kalimatku Ibuku terlebih dahulu memotong ucapanku.

"Tidak Sasuke! Kakakmu meninggalkan lembar misimu! Sekarang makan dan bersiap!" Ibu meletakkan selembar kertas di atas perutku, aku baru ingat tadi pagi Itachi memberikan misi baru padaku sebelum dia meninggalkan rumah, dan bagus aku lupa memeriksanya.

Ibu memastikan aku benar-benar telah bangun, kemudian ibu keluar dari kamarku dengan senyum hangatnya. Aku memeriksa kembali lembar misi itu, dua jam dari sekarang rapat rencana akan dilakukan di tempat biasa, aku masih memiliki waktu untuk mandi, makan dan bersiap-siap.


"Ibu, aku berangkat!" Setelah mendengar jawaban dari ibuku, aku melompat melesat keluar rumah dan dengan cepat sampai ke tempat rapat, aku memuji kecepatanku dan aku berterima kasih kepada Itachi telah mengajarkanku teknik ini. Itachi adalah kakakku, dia menjadi salah satu kebanggaan klan karena kekuatan tempurnya, dia juga anggota Anbu, dan hal itulah yang sangat menguras tenaga serta waktu Itachi untuk keluarga.

Itachi pernah mengajakku untuk mengikuti ujian Anbu karena menurutnya dengan kemampuanku aku akan mudah diterima, tentu saja aku menolaknya mentah-mentah! Aku tidak bisa terlalu lama membiarkan Ibu sendiri, sepeninggal Ayah ada sesuatu yang hilang dari ibu, dan aku tidak ingin memperparah kehilangannya.

Ruangan rapat ini seperti biasa, lebih terlihat seperti tempat pesta dari pada rapat, entah apa yang dipikirkan Danzo hingga membiarkan tempat ini seperti tempat sampah.

Aku melihat sofa yang biasa kududuki, di sana sudah ada Sai dengan botol sake di tangannya, aku tidak yakin dia benar-benar minum.

"Aku tidak yakin kau meminum itu!" Aku menghempaskan tubuhku ke sofa, rasanya benar-benar nyaman.

"Ck, kau lihat para bajingan sake itu! Mereka akan membuat masalah kalau aku tidak memegang botol ini!" Mata Sai tidak lepas dari para gerombolan yang setengah mabuk di ujung ruangan, mereka tidak akan berani mabuk di depan Danzo!

"Ternyata kau lebih takut pada gadis ponimu dari pada para pemabuk itu!" Aku melihat Sai yang tersenyum miring dengan botol sake yang digerak-gerakkan.

"Kau akan tahu, kalau kau memiliki gadis sendiri Sasuke!" Kepala Sai mendongak mengarahkanku untuk mengikuti pengelihatannya. Hinata tengah berdiri di sampingku, aku tidak menyadari keberadaannya, dan itu sedikit mengagetkanku.

"Hai Sasuke, boleh aku duduk?" Aku mengangkat alisku, membiarkannya duduk di sampingku, untung saja sofa ini panjang, jadi akan muat hingga lima orang.

Aku sebenarnya enggan berbicara dengan seorang wanita, menurutku mereka merepotkan, manja dan lemah, banyak juga diantara mereka yang murahan. Tetapi Hinata berbeda, sudah tiga kali Hinata berada dalam satu tim denganku dan aku cukup mengenalnya, dia gadis pemberani, cerdas dan juga err cantik. Banyak orang menganggap kami memiliki hubungan khusus karena memang cuma Hinata gadis yang lumayan sering ku ajak bicara, tapi itu hanya ketika kami berada dalam satu tim, diluar dari itu aku tidak pernah bertemu dengannya.

"Lama aku tidak melihatmu Sasuke, apa kau tidak merindukanku?" Hinata mengambil botol sake di meja, tetapi aku merebut botol itu sebelum menuangkannya di gelas dan memberikannya pada Hinata.

"Hn, jangan bercanda." Aku kembali menyandarkan bahuku ke sofa.

"Padahal aku merindukanmu.. oh hai Sai!" Hinata meneguk sake dengan sekali tegukan sebelum menyapa Sai.

"Yo!" Sai hanya melambaikan tangannya bosan.

Sebenarnya apa yang dilakukan Danzo, sudah lebih dari sepuluh menit dari waktu yang di tentukan dan rapat masih belum di mulai, batang hidung lelaki tua itupun belum kelihatan.

"Akhirnya penyembuh kita datang!"

Seorang berteriak dan mengalihkan pikiranku pada lelaki tua Danzo, aku melihat ke arah pintu masuk, di sana berdiri seorang gadis yang berwarna. Maksudku baru kali ini aku melihat seseorang dengan pakaian cerah karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang berpakaian gelap, dan lagi gadis itu memiliki rambut pink panjang yang diikat, sekilas dia mengingatkanku dengan kekasih Sai, langsung saja aku melirik Sai, dia tersenyum.

"Aku kira kekasih ponimu yang ada di tim kita?"

"Ino menerima misi ke Suna, dan Ino tidak cocok dengan misi ini." Mata Sai melihat tajam ke arah gadis itu, dan aku tahu pandangan Sai bukan pada gadis itu, tapi pada Hidan yang tengah menarik tangan gadis pink itu.

"Maksudmu dia cocok dengan misi kita? Dia terlihat seperti penyembuh lainnya." Gadis itu duduk di tengan para pemabuk, ada sesuatu di dadaku melihatnya terpenjara oleh para bajingan penyuka sake seperti itu, tanganku tiba-tiba terkepal.

"Jaga ucapanmu Saske! Dia berbeda dari klan penyembuh yang lain, kau akan tahu nanti." Sai tiba-tiba berdiri dan berjalan santai menghampiri tempat gadis itu, tak lama aku melihat aku melihat Sai kembali dengan gadis pink berjalan di belakangnya. Gadis itu duduk di sebelaku, aroma bunga tiba-tiba tercium olehku, ini aroma bunga musim semi. Aku melirik gadis itu dari ujung mataku, aku tidak bisa menatapnya langsung karena Hinata sibuk mengajakku bicara walau tak satupun perkataannya yang kudengarkan, gadis di sampingku berhasil membelah pikiranku.

Aku heran melihat Sai menyingkirkan botol-botol sake di meja, apa gadis ini tidak menyukai sake? Sai pergi membawa botol-botol sake bersamanya, kudengar Hinata mengendus tak suka melihat Sai membawa botol sake itu.

"Apa Sai sedang mencari perhatian, kudengar dia sudah memiliki kekasih?" Hinata berbisik di telingaku, merapatkan jarak antara kami.

"Entahlah.." Aku memutar mata, tak lama Sai datang dan duduk di sebelah gadis itu, botol sakenya telah lenyap entah kemana.

"Aku minta maaf atas ketidak nyamananmu." Sai berbicara pada gadis itu, helaan nafas berat gadis itu terdengar jelas di telingaku.

"Ino tidak banyak menceritakan tentang klan kalian"

'DEG'

Ada masalah dengan jantungku ketika mendengar suaranya, suaranya lembut, dan aku ingin mendengar suaranya lagi, apa yang terjadi padaku?