Hallo gw kembali bawa ff baru yang sebenernya ini adalah milik orang lain tapi saya udah minta izin, walaupun belum dibales dan kebetulan pen namenya sama-sama Laven cuman itu nulisnya Lavenz, ini ff dari fandom eyeshield cuman aku bikin versi YunJaenya, sebenernya sih pengen KyuMin soalnya lebih cocok KyuMin kan Kyunya evil v karena hati saya bilang YunJae ya udah Yun Jae aja hehe (digetok), di cerita ini ada beberapa yang dirubah dari fic aslinya ^^ jadi gaya penulisanya masih lumayan sama kaya gw oceh? oh ya... ff ini kebetulan adalah kesukaan atau fav gw jadi janagn ada flame oceh? dan FF aslinya sih cuman sampe chap 4 dan gak di terusin makanya gw terusin hehe moga suka ^^.
Judul : Slave
Author asli : Lavenz Aru
Pair : YunJae
Chap 1 (slave)
Kim Jaejoong, seorang namja cantik dan lemah selalu diganggu oleh teman – temannya sejak kecil. Namun Ia selalu berusaha kuat karena Ia masih memiliki keluarga yang memperhatikannya, juga Ahra-noona-nya.
Dulu, Jaejoong kecil masih belum mengerti pentingnya dicintai. Ia hanya bisa tersenyum polos dengan apa yang Ia dapat dan menjalaninya tanpa berpikir lebih dalam. Karena mungkin Ia belum mengerti apa itu cinta yang sebenarnya.
Namun setelah Jaejoong beranjak dewasa, Ia baru menyadari, bahwa cinta itu penting dan dapat meluluhkan hati yang terluka.
Mungkin Jaejoong harus bersakit – sakit terlebih dahulu, baru mendapatkan cinta yang Ia harapkan. Dari orang yang sama sekali tak terduga. Karena awalnya Ia kira orang itu hanya dapat mempermainkan perasaannya saja.
O o O o O
"Jae! Cepat bawakan tas kami!"
"Jae! Cepat belikan sesuatu di kantin! Kalau tidak, Kami akan menghajarmu!"
"Hahahaha! Tubuh lemah gini pasti tidak akan bisa berontak. Ayo semuanya, buka semua pakaian Jaejoong! kita bermain – main dengannya"
TIDAAAKKK!
Jaejoong terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi itu lagi. Ia selalu bermimpi yang sama jika hari masuk sekolah telah tiba. Ketakutan akan masa lalunya belum hilang, hingga Ia selalu mendapat mimpi buruk itu terus menerus.
Dan pagi ini, adalah hari pertama Ia masuk Sekolah setelah berusaha keras untuk lulus SMP. Akhirnya Ia diterima di Sekolah Dong bang high school, tempat Ahra bersekolah.
"Pagi, joongie!"
Ayah Jaejoong, menyapanya di ruang makan pagi itu. Ia tersenyum sambil membaca Koran pagi di tangannya. Melihat anak semata wayangnya terlihat lesu, tentu Ia khawatir. Namun Ia tahu betul Jaejoong. Jaejoong pasti hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Tidak. Tidak apa – apa, Ayah"
menyadari, bahwa Ia sebenarnya gagal sebagai seorang Ayah. Ia tahu, Jaejoong selalu dipermainkan teman – temannya. Tapi Ia tidak dapat melakukan apa – apa.
"Joongie"
"Ya Ayah?"
Jaejoong sarapan dengan pelan. Entah apa yang sedang Ia pikirkan, sampai – sampai supnya mulai dingin karena belum Ia sentuh sama sekali. tersenyum tipis dan mengelus kepala anak semata wayangnya itu.
"Berjuanglah"
Hanya kata – kata itu yang dapat Ia keluarkan. Namun itu sudah cukup bagi Jaejoong. ia tersenyum dan mulai memakan sarapannya lahap. Ia tahu, cinta dari Ayah dan Ibunya tiada tara, hingga Ia tidak mau menodainya dan membuat mereka khawatir.
"Aku berangkat, Ayah, Ibu"
Hari pertama Jaejoong masuk Sekolah Dongbang. Ia berharap tidak terjadi sesuatu yang aneh – aneh. Dan Ia berharap agar kebiasaan sejak kecilnya, (baca : dikerjain), itu sudah hilang. Tapi mungkin itu hanya mimpi belaka.
"Jaejoong! pokonya kau harus ikut dalam klub music kami!"
Jung Yunho, senpai sekaligus ketua club bernama TVQX terus memaksa Jaejoong untuk masuk ke dalam clubnya karena Suara Jaejoong yang merdu dan bagus. Dan mulailah bully ala Prince ice Yunho.
Pertama, Yunho mengirim banyak telegram berupa ajakan masuk TVXQ. Itu biasa. Kedua, Yunho sering mencegatnya di depan gerbang sekolah dengan anak buahnya yang bernama Park Yoochun di sampingnya, itu masih dapat dihindari dengan pulang lewat pintu belakang.
Namun lama – lama Jaejoong jengah juga. Yunho mulai sering datang tiba – tiba entah darimana dengan menatapnya tajam sambil memaksanya untuk masuk ke clubnya. Sama seperti hari ini…
Jaejoong sedang berjalan kearah kelasnya. Di tengah jalan, Jaejoong bertemu dengan Yunho yang sedang mengobrol bersama Yoochun. Tidak mau mencari gara – gara, Jaejoong berbalik dan jalan cepat – cepat menghindari Yunho.
Namun tujuan Yunho memang hanya satu, yaitu Jaejoong. Ia mengejar Jaejoong yang tidak sadar bahwa Yunho membututinya. Sesampainya Jaejoong di lorong yang sangat sepi, Yunho membekap mulut Jaejoong dari belakang.
Kaget, Jaejoong reflex berontak. Namun usahanya sia – sia karena Yunho lebih besar dan kuat daripada dirinya. Yunho kemudian memepetkan tubuh Jaejoong ke tembok. Jaejoong hanya diam saja tanpa bisa berbuat apa – apa.
"Y-Yunho sshi?"
Suara dengan nada ketakutan dari Jaejoong hanya membuat Yunho tambah senang.
Keringat dingin membasahi baju Jaejoong. ia ketakutan. ia tak tahu apa yang ingin dilakukan Yunho padanya
"Yun..Yunho..sshi.. Apa yang kau.."
Kata – kata Jaejoong terhenti lantaran Ia merasakan nafas Yunhi berhembus di telinganya, sangat dekat. Takut – takut, Ia membuka matanya dan mendapati wajah Yunho sudah ada tepat di belakangnya. Dan Ia juga merasakan tubuh Yunho begitu dekat dengan dirinya.
"Jae-ah, kenapa kamu tidak mau bergabung?"
Kenapa? Jaejoong pun bingung kenapa Ia tidak mau. Mungkin Ia merasa tidak memiliki kepercayan diri seperti itu. Ia takut hanya akan menjadi penghambat untuk teman – teman di klubnya itu.
Mendapati pertanyaannya tidak dijawab, Yunho kesal juga. Karena Ia melihat Jaejoong malah bengong sambil menatap tembok. Entah apa yang dipikirkannya. Yunho juga sedikit heran, mengapa dirinya begitu ingin Jaejoong masuk ke dalam klubnya. Ia merasa bahwa bukan hanya suara indah Jaejoong yang menarik perhatiannya, tapi juga mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki Jaejoong begitu menarik perhatiannya.
Jaejoong menatap tembok dengan tatapan kosong. Namun lamunannya buyar karena merasakan tangan Yunho menggenggam tangannya erat dan menempelkannya di tembok. Kaget bercampur aneh, Jaejoong sedikit berontak. Namun Yunho kemudian menjilati telinga Jaejoong, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih.
"Ngg.. Yun.. ..sshi… Ja.. Jangan…"
Jaejoong baru pertama kali diperlakukan seperti ini. Ia bingung harus berbuat apa dan akhirnya hanya bisa pasrah. Ia merasa geli bercampur perasaan aneh.
Yunho kemudian memepetkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Jaejoong yang memunggunginya lantas kaget karena mendadak Yunho mulai memasukkan tangannya ke dalam baju Jaejoong dan meraba dadanya.
Tiba – tiba saja Jaejoong berontak seperti orang kerasukan. Ia menjerit keras, membalikkan tubuhnya menghadap Yunho, dan memukul – mukul dada Yunho. Yunho yang kaget hanya dapat menahan kedua tangan Jaejoong agar berhenti memukulnya. Ada apa dengan Jaejoong?
"TIDAAAKKK! JANGAAANN!"
"Hey, Jae-ah! Tenang!"
Kata – kata Yunho tak dihiraukan. Jaejoong tetap menjerit, dan kini Ia menangis. Airmata yang mengalir dari bola mata besar Jaejoong mengalir deras, sederas pertanyaan Yunho mengapa Jaejoong tiba – tiba seperti itu.
Jaejoong masih menangis. Ia mulai sesengukan dan kehabisan tenaga serta kehabisan nafas. Tampak dari wajahnya, Jaejoong menahan suatu tekanan di pikirannya. Sebuah penderitaan. Sebuah ketakutan.
"Boo-Joonggie?, katakan, ada apa denganmu?"
Yunho yang mulai tak tahan melihat wajah menderita Jaejoong, menyenderkan kepala Jaejoong di dadanya. Terasa tubuh mungil itu bergetar.
Jaejoong masih berusaha mengatur nafasnya yang sesak. Melihat Jaejoong seperti itu, perlahan Yunho mendekatkan wajahnya sambil memegang dagu Jaejoong hingga mulutnya terbuka sedikit.
"Jangan berhenti bernafas, Boo"
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Jaejoong, Ia merasakan sebuah ciuman. Yunho menempelkan bibirnya pada bibir tipis Jaejoong yang bergetar dengan lembut. Meski kaget, tubuh Jaejoong sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berontak. Ia hanya bisa pasrah saat lidah Yunho mulai memasuki mulutnya dan memagut lidahnya.
"Ngg.. Mmm.."
Jaejoong mendorong tubuh Yunho sekuat tenaga dan berlari dengan sisa kekuatan yang ada, meninggalkan Jaejoong yang menyeringai senang. Tidak. Semua ini hanya mimpi kan? Ciuman pertamaku... dengan... Yunho-sshi?
O o O o O
"Mimpi buruk itu lagi.. Kenapa aku harus terus dilanda mimpi buruk yang tiada akhirnya? Aku lelah.. sangat lelah.."
"Aku ingin sesekali tersenyum dengan tulus. Tapi kenapa itu tidak pernah terjadi? Aku hanya terus memakai topeng kebohongan dan kepalsuan"
"Apakah Tuhan membenciku? Sebesar apa kesalahanku sehingga aku tidak pernah merasakan kebahagiaan di luar sana"
Jaejoong menutup bukunya. Ia hanya bisa bercerita pada buku itu, sebuah benda mati dan bisu. Hingga Ia tidak pernah mendapat solusi apa – apa tentang masalahnya.
Jaejoong memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Ia melamun. Alam pikirannya melayang ke masa lalu. Pertama kali masuk SMU Ddongbang, Ia sudah disambut dengan sorak sorai dari Yoochun dan Yunho. Yunho?
Sambil menopang dagu, tanpa sadar telunjuk Jaejoong menelusuri setiap inchi bibirnya. Ingat dengan kejadian aneh dan tidak mengenakan itu, Ia menggeleng – geleng keras mencoba melupakan kejadian itu.
Tapi semakin Jaejoong berusaha melupakannya, semakin kuat bayangan Yunho di otaknya. Dengan wajah memerah seperti tomat, Jaejoong beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya yang mulai ngawur. Ia mulai membuka bajunya. Diperhatikannya tubuh kecil miliknya di cermin.
"Cantik dan lemah. Pantas saja sering dikerjai. Parahnya, tidak ada satupun perempuan yang mau padaku"
Jaejoong tersenyum kecut. Ia kembali memandangi tubuhnya. Dari atas kepala, wajah, kemudian dadanya. Kembali wajah Jaejoong memerah mengingat perlakuan sunbaenya itu. Tak mau berkelanjutan, Jaejoong bergegas untuk mandi. Tanpa Ia tahu, ada seseorang yang terus memperhatikannya dari jauh.
O o O o O
Di suatu malam yang – siap untuk tidur. Ia sudah memakai piyama biru garis – garisnya dan ingin mematikan lampu. Namun Ia kaget saat mendengar teriakan Ibunya di kamar samping. Secepat kilat, Jaejoong berlari ke kamar orangtuanya dan membuka pintu dengan keras.
"Joongie! Cepat panggil ambulance!"
Ibunya tercinta tampak panik sambil menangis. Di sampingnya, terbaring pucat dan di sekelilingnya banyak berceceran darah segar. Sekilas Jaejoong mual melihat pemandangan itu. Tapi Ia berusaha untuk kuat dan segera menelepon ambulance.
Beberapa menit kemudian, ambulance tiba dan mengangkut dan membawanya ke rumah sakit. Dengan panik dan menduga – duga, Jaejoong menunggu di ruang tunggu. Ia menangis setelah mendengar cerita dari Ibunya bahwa Ayahnya sebenarnya sering sakit – sakitan. Namun Ia tidak pernah menceritakannya pada Jaejoong karena tidak mau Jaejoong khawatir.
"Alasan apa itu? Tak ingin membuat Aku khawatir? Justru sekarang Aku sangat khawatir karena tidak tahu kondisi Ayah yang sebenarnya. Setidaknya aku bisa membantu Ayah atau sekedar memijitnya. Kalau sudah begini, bagaimana?"
berusaha menenangkannya. Tapi Jaejoong tetap histeris dengan airmata mengalir terus menerus. Hatinya sakit. Sangat sakit. Kenapa hanya dia yang tidak tahu hal yang sesungguhnya?
"Apa aku ini salah satu anggota keluarga dari Kim? Kenapa tidak pernah dianggap?"
Teriakan Jaejoong menarik perhatian semua orang. Semua mata tertuju padanya. Ada sepasang mata yang menatapnya tajam sekaligus kaget. Kenapa Jaejoong ada di tempat seperti itu?
Hampir 2 jam Jaejoong menunggu dengan cemas. Kenapa selama itu pemeriksaannya? Apa yang sebenarnya Ayah idap? Semua pertanyaan, Jaejoong pendam dalam hati dengan sabar. Diliriknya jam di dinding. Pukul 23.00.
Tiba – tiba pintu tempat Ayahnya diperiksa terbuka. Dan keluar seorang dokter dengan wajah serius. Perasaan Jaejoong sudah tidak menentu. Apa yang terjadi pada Ayah?
"Siapa keluarga dari ?"
Jaejoong segera mendekati dokter itu sambil menunju dirinya dan berusaha meyakinkan dokternya bahwa Ia adalah salah satu keluarganya. Dokter itu mengangguk dan mengajak Jaejoong serta Ibunya keruangannya.
"Begini..."
"Apa yang terjadi pada Ayah, Dokter?"
Dokter itu menatap enggan, seolah ragu. Namun, sedikit demi sedikit Ia akhirnya membuka mulutnya dan berkata, "Bapak , menderita penyakit…."
TBC
Ada yang mau protes? silahkan... tapi nggak bashing cara oceh?
Silahkan ripiu! ^^
