Main character: Kuroko Tetsuya
Genre: Family/Mystery
Rated: Bimbingan Orang Tua (?)
Warning: OOC, typos, bad EYD and don't like, don't read~ ;)
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Merah Muda yang Hilang by creau
Hope you like it! ;)
.
#0 – Prolog
Hari ini liburan musim panas. Keluarga Kuroko memutuskan untuk pindah ke sebuah desa yang tenang dan sejuk. Letaknya memang agak pelosok dan amat jauh dari pusat kota tapi, desa ini adalah desa yang cocok untuk perkembangan anak perempuannya yang baru menginjak usia tujuh tahun, Kuroko Satsuki namanya. Ayahnya, Kuroko Tetsuya adalah seorang guru TK. Di desa itu, ia akan mengajar di TK Seirin.
"Ayah, ayah! Apakah aku akan dapat seorang teman di sana?"
"Kau tidak akan mendapat seorang teman, Satsuki."
Satsuki mengerucutkan bibirnya, membuat wajahnya yang cantik menjadi imut. Kuroko dewasa itu tertawa melihat anak semata wayangnya ini. Di tengah kesibukannya menyetir mobil, ia masih sempat mengusap-usap kepala Satsuki dan tertawa kecil. Ia pun mengatakan, "Kau tidak hanya mendapat seorang teman tapi, mendapat banyak teman, sayang."
Hal yang dilakukan ayahnya membuatnya tertawa. Ayahnya itu kadang suka menjahilinya.
Setelah beberapa jam Kuroko menyetir mobil, akhirnya ia sampai di desa yang ditujunya. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumahnya. Barang-barangnya belum sampai semua. Besok mobil pengangkut barang akan datang membawa barang-barangnya yang lain. Kuroko membantu Satsuki untuk keluar dari mobil dengan cara menggendongnya.
Dari ufuk barat, matahari mulai terbenam. Warna oranye terlukis di langit, dilukis oleh Sang Pencipta. Mereka berdua diam sebentar dan mengamati indahnya matahari terbenam.
"Ayah, mengapa langit itu berwarna oranye? Kan tadinya biru muda, seperti rambut ayah."
"Hmm… mungki peri-peri yang ada di langit hanya mempunyai bubuk oranye."
"Aku punya krayon merah muda, apa itu bisa menggantikan bubuk oranye yang dimiliki peri-peri itu?"
"Bukankah Satsuki punya warna lain selain merah muda? Kenapa harus merah muda?"
"Supaya ayah bisa selalu mengingatku jika melihat langit! Rambutku kan warnanya merah muda~"
Kuroko tersenyum mendengar kata-kata Satsuki. 'Masih kecil saja sudah pintar gombal, bagaimana dewasa?' Pikir Kuroko. Tiba-tiba ada suara diantara semak-semak yang letaknya tak jauh dari mereka. Satsuki juga sepertinya mendengarnya karena ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan.
"Ayah, lihat ke semak-semak itu!" Satsuki menunjuk dan Kuroko menengokan kepalanya. Seorang anak kecil—kira-kira tingginya sepantar dengan Satsuki—berdiri dan memegang bola kasti. Surai kuningnya diterpa cahaya sore sang mentari. Ia menggigigit bibirnya yang kemerahan itu.
"He-hey!"
Tiba-tiba saja anak itu kabur, meninggalkan keluarga kecil itu sendiri. Satsuki berceloteh, "Anak yang aneh, disapa saja langsung kabur. Memang aku setan apa?"
"Tidak boleh begitu, Satsuki. Mungkin, sebenarnya ia takut pada orang asing."
Mereka pun memasuki rumah. Di dekat rumah itu masih terdapat banyak pohon, sangat berkebalikan dengan kota yang pernah mereka tinggali. Udara di sini masih sejuk dan alami. Rumah mereka terletak di sudut desa jadi, di sekitar rumah mereka hanya ada beberapa tetangga. Jaraknya pun berjauhan.
Rumah yang mereka tinggali agak berdebu dan kotor. Mungkin karena pemilik sebelumnya memang sudah lama tidak tinggal di sini sehingga beberapa sudut ruangannya telah dijamah oleh laba-laba. Kuroko memutuskan untuk membersihkan kamar yang akan ditampatinya bersama dengan Satsuki terlebih dahulu kemudian ruang makan.
Satsuki merengek untuk makan malam dengan kue stroberi yang mereka beli saat menuju ke desa ini. Namun sayang, kue itu Kuroko simpan di lemari pendingin dengan alasan, "Tidak boleh makan makanan manis pada jam malam, sayang. Nanti gigimu rusak."
"Setidaknya biarkan aku memakan stroberinyaaa~"
"Tidak boleh, sayang. Bagaimana kalau kue itu disimpan untuk piknik besok?"
"Benarkah? Kita akan pergi piknik? Yey!"
.
.
Pagi harinya, Kuroko pergi ke alun-alun desa. Ia ingin membeli bahan-bahan makanan. Suasana di sini sungguh ramai. Kuroko jadi bingung dimana letak swalayannya. Dari tadi ia hanya berputar-putar di lokasi yang sama.
Orang berkulit tan menghampirinya dan berkata, "Hey, Tuan! Sepertinya Anda tersesat," orang itu memakai seragam polisi. Pada name tag-nya tercantum nama 'Aomine Daiki'. "apa Anda orang baru?" tanya sang polisi.
Kuroko mengangguk. "Hai. Saya baru pindah kemarin. Bisakah Anda menunjukan swalayannya?"
"Wah, swalayan?! Justru letaknya jauh dari sini. Mari kuantar!" polisi berkulit tan itu menghampiri mobil polisinya. Ia menyuruh Kuroko untuk pergi bersamanya. Kuroko memang tidak membawa mobil karena ia ingin lebih mengenali tempat ini dengan menaiki transportasi yang ada.
"Arigatou."
Di tengah perjalanan, mereka berbincang. Baru-baru ini Kuroko tahu nama polisi itu Aomine Daiki. Saat di sekolah dulu, ia merupakan ace dari tim basket sekolahnya. Kuroko juga menyukai basket. Tak ayal hal yang mereka perbincangkan adalah olahraga itu.
"Nah, kita sudah sampai. Aku akan menunggu di sini hingga kau selesai berbelanja."
"Tidak usah repot-repot, Aomine-kun. Saya bisa pulang sendiri."
"Memang kau tahu daerah sini?"
"E-eh… itu…"
"Sudahlah, cepatlah belanja!"
Kuroko keluar dari mobil dan segera membeli bahan-bahan yang diperlukan. Saat ia berjalan mendekati kasir, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang. Kuroko segera meminta maaf. Jika diperhatikan, sepertinya Kuroko mengenal orang itu. Loading sebentar…
"Hey, masa' kau tidak mengenaliku? Aku kan tetanggamu. Aku bahkan memberimu pai apel sebagai ucapan selamat datang saat pagi tadi."
Oh, sekarang Kuroko ingat! Pagi tadi seorang pria berambut kecoklatan datang ke rumahnya dan memberinya pai apel. Tubuhnya mengingatkan Kuroko pada tiang listrik.
"Sumimasen, Kiyoshi-san. Ingatanku memang lemah."
"Tidak apa-apa. Makanan yang kau beli banyak sekali, Kuroko-san!"
Kuroko tersenyum tipis. Ia menjawab, "Hari ini kami berencana untuk piknik, Kiyoshi-san. Ah, aku akan membayar ini dulu. Sampai jumpa, Kiyoshi-san." Kuroko meleggang pergi ke kasir, meninggalkan Kiyoshi sendiri dengan belanjaannya.
'…Kami?' tanya Kiyoshi dalam hati.
.
.
Sesampainya di rumah, Kuroko mempersiapkan segala hal yang akan ia bawa untuk pikniknya dengan Satsuki. Saat berjalan-jalan pagi tadi, ia melihat sebuah tempat yang indah. Lokasinya dekat dengan sungai dan di sana ia melihat sebuah rumah penduduk. Rumah itu memiliki arsitektur tradisional Jepang. Kata Kiyoshi, rumah itu milik seorang pemain shogi yang hebat tapi sayang, Kuroko tidak melihat batang hidung dari sang empunya rumah.
"Ayah! Ayah! Boleh aku membawa Mr. bean?" tanya Satsuki sambil mengangkat sebuah boneka manusia berukuran mini yang mirip seorang artis dari luar negeri. Kuroko tersenyum dan megangguk untuk menyetujuinya. Satsuki tertawa riang sambil melompat-lompat.
Tiba-tiba Satsuki berhenti melompat. Ia melipat tangannya di dada dan menelengkan kepalanya ke samping. "Ayah tidak lupa untuk memasukan selai stroberi dan kue stroberinya, kan?"
Hal itu pun membuat sang ayah sontak tertawa. Ia menghampiri putri kecilnya dan memeluknya. "Tentu saja ingat, sayang."
Kuroko melirik jam dinding. Oh, rupanya sudah pukul setengah tiga. "Ayo, kita berangkat, Satsuki!" Kuroko pun menggandeng Satsuki keluar.
.
.
"Ayah, apa kita sudah sampai?"
"Belum."
"Sudah?"
"Belum."
"Sudah?"
"Belum."
"Suuudah?"
"Beeelum."
Satsuki mengerucutkan bibirnya. Dia bosan. Padahal mereka baru berjalan sebentar. "Tapi… kok sepi ya? Memang tetangga yang lain kemana?"
"Mungkin mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, sayang. Ah, lihat! Itu sungainya!" Kuroko menunjuk pada sebuah sungai. Satsuki segera berlari menuju sungai itu dan membuat Kuroko berteriak untuk berhati-hati.
Satsuki melepas sepatunya dan memasukan kaki mungilnya ke dalam air. Kuroko menggelar tikar dan mengeluarkan kue stroberi yang Satsuki pinta sejak semalam serta roti dan selai stroberi untuk dirinya. Kuroko membuka tutup botol selai stroberi itu. Ia mengambil pisau untuk mengoleskan selai itu di atas rotinya. Kemudian, Satsuki menghampiri ayahnya. Ia merebut pisau yang digunakan ayahnya untuk mengoles roti. Ia ingin ia sendiri yang mengoles roti itu untuk ayahnya.
"Ayah, mengapa stroberi itu berwarna merah?"
"Mengapa, ya? Hmm…"
"Padahal stroberi itu enak tapi, sangat disayangkan…" ada jeda sebentar pada kata-kata Satsuki. Kuroko dewasa dibuat penasaran olehnya. Anak kecil itu masih polos dan selalu berkata apa adanya. Mereka juga memiliki imajinasi yang tinggi. Hal inilah yang membuat Kuroko menyukai anak-anak dan memilih profesi sebagai guru di taman kanak-kanak.
"Apanya yang patut disayangkan, Satsuki?"
"warnanya seperti darah." Satsuki selesai mengolesi roti itu dan memberikannya pada ayahnya. Ia mengambil kue stroberinya dan menggigitnya. "Darah itu kan menjijikan, menakutkan. Menurut ayah bagaimana?"
"Menurut ayah, kita tidak boleh makan sambil berbicara."
"Baiklah~"
.
.
Keesokan harinya, Kuroko bangun seperti biasa. Kamarnya disambut oleh cahaya mentari yang menyelinap memasuki tirai. Ia bangun dari kasurnya dan membuka tirai. Matanya menyipit untuk menyesuaikan dengan cahaya yang diterima oleh matanya. "Satsuki, ini sudah pagi. Ayo, bangun!"
Hening. Tak ada yang menggubrisnya sama sekali. Satsuki itu memang susah dibangunkan. Kuroko mendekati tempat tidur dan menggoyang-goyangkan gundukan selimut yang ada di ranjangnya. Namun ada yang aneh. Gundukan itu teramat empuk… seperti bantal. Kuroko segera menyingkap selimut itu dan benar dugaannya! Yang berada di balik selimut itu hanya bantal.
"Satsuki! Dimana kamu?" Kuroko mencari-cari anak perempuannya. Ia mencari ke kolong tempat tidur. Tidak ada. Kemudian ia mencari ke kamar mandi. Tetap saja tidak ada. Kuroko yang panik segera turun ke lantai dasar dan mencarinya ke segala ruangan. Mulai dari dapur, ruang makan, ruang tamu, halaman belakang dan hasil yang ia dapat tetaplah sama, tidak ada.
Oh, tunggu! Ia belum melihat ke lemari yang ada di ruang tamu! Kuroko segera mengeceknya. Dipegangnya kenop lemari itu. Kemudian… tidak ada apa-apa di sana.
'Ah, benar! Lemari di kamar!' kata Kuroko dalam hati.
Kuroko kembali ke lantai dua dan menghampiri kamarnya. Ia segera membuka lemarinya.
Dan…
.
.
.
"BAA!"
"Satsuki! Kau membuat ayah khawatir!"
"Hahaha…"
Kuroko mencubit pipi anaknya yang seperti mochi itu sementara, Satsuki hanya tertawa-tawa karena ia berhasil mengerjai ayahnya. "Satsuki, jangan diulangi lagi, sayang! Kau membuat ayah mencari ke semua ruangan."
"Itu kan salah ayah sendiri, karena tidak mencariku di lemari ini—aww sudah, Ayah! Maaaf~"
Kuroko berhenti mencubit pipi putrinya. Ia menggendong Satsuki. "Tadi kan ayah panik, Satsuki."
"Maaf~ aku ingin sarapan dengan pencake!"
"Baiklah. Mau dikasih maple syrup atau coklat?"
"Stroberi!"
"Tidak ada di pilihan."
"Hihihi terserah ayah saja deh~"
.
.
Siangnya mereka kembali piknik, di waktu yang sama, di tempat yang sama. Satsuki memeluk Mr. Bean sambil mengunyah kuenya. Ia bertanya pada ayahnya, "Ayah, desa ini sepi. Sejak kita keluar rumah hingga sampai di sini, aku tak melihat tetangga yang lain. Padahal aku ingin bertemu dengan Paman Kiyoshi yang ayah ceritakan itu."
Kuroko menoleh pada Satsuki. Ia memangku Satsuki dan membelai lembut rambut merah mudanya. "Karena di sini hanya sedikit orang yang tinggal, lagipula yang tinggal hanyalah orang lanjut usia, sayang. Tentunya mereka lebih memilih beristirahat di rumah pada jam seperti ini. Kalau mau, ayah akan mengajakmu ke alun-alun. Di sana ramai—"
"—Nanti kita akan naik mobil polisi! Yey!"
"Aomine-kun tidak akan memperbolehkan anak nakal menaiki mobilnya."
"Tapi ayah bilang Paman Aomine itu baik jadi, aku akan tetap diperbolehkan menaiki mobilnya—lagipula aku bukan anak yang nakal!"
Satsuki menjilati jari-jarinya yang dilumuri krim strawberi. Begitu lembut di kulit dan tentunya terasa manis di lidah. Tiba-tiba ia berkata, "Kadang aku suka jijik deh, Yah."
Kuroko menaikan sebelah alisnya, tidak mengerti apa yang dimaksud Satsuki. Ia pun bertanya, "Jijik kenapa?"
"Kalau aku menjilati krim ini… seperti menjilati darah." krim yang melumuri jarinya sudah habis, disapu oleh lidah Satsuki tanpa ada sisa sedikit pun. "Untung rasanya manis. Apa ayah tahu rasa darah itu bagaimana?"
"Hmm… asin, mungkin."
"Seperti garam?"
"Bukan," Kuroko membenarkan posisi pangkuannya terhadap Satsuki. Ia melanjutkan, "rasanya tidak seperti asinnya garam. Tidak manis atau pun pahit. Rasanya menyedihkan."
Satsuki menelengkan kepalanya dan bertanya, "Menyedihkan?"
Kuroko mengangguk. "Tentu kita akan merasa bersedih jika melihat seseorang terluka atau berdarah."
"Kalau diri sendiri yang terluka bagaimana?"
"Entahlah, mungkin menangis..."
.
.
Keesokan paginya, Kuroko bangun dan membuka tirai. Ia kembali melihat gundukan selimut. Ia berkata, "Satsuki, bangun, sayang." tapi Satsuki tidak menggubrisnya. Ia langsung menyingkap selimut itu dan Satsuki tidak ada di sana…
"Satsuki, jangan menjahili ayah lagi. Ayah tahu kau sembunyi dimana, sayang." Kuroko berjalan ke lemari. Dibukanya lemari itu.
.
.
.
"SATSUKI, KAMU DIMANA, SAYANG?!" Kuroko panik karena ia tidak menemukan Satsuki di dalam lemari. Ia mencari ke kolong tempat tidur. Tidak ada. Kemudian kamar mandi. Tidak ada juga. Di lantai dua itu ia mencari namun, Satsuki tidak ditemukan.
Kuroko turun ke lantai dasar. Ia mencari ke segala ruangan, setiap lemari juga ia buka. Tapi tetap saja, Satsuki tidak ada dimanapun. "Satsuki, keluarlah, sayang. Ini sudah tidak lucu lagi! SATSUKI!" teriakan Kuroko tidak membuahkan hasil. Percuma, buang-buang tenaga.
Ia segera mengambil jaketnya dan keluar dari rumah. Pintu garasi ia buka, ia segera memasuki mobil dan mengendarainya dengan cepat. Ya… ia sedang menuju kantor polisi. Ia ingat saat itu Aomine menunjukan tempat dimana ia bekerja. Untung di desa ini jarang yang mengemudikan mobilnya apalagi ini masih terlalu pagi, tidak ada kata macet di desa ini.
Ia segera menghentikan mobilnya di depan kantor polisi itu. Ia masih mengenakan pakaian dan sandal tidur. Jaket tidak disleting, membuat udara dingin merasuki pakaian tidurnya yang tipis itu—dan ia tidak peduli pada hal seperti itu.
Kuroko berlari memasuki kantor. Ia membuka—mendorong pintu dengan kasar, menimbulkan beberapa polisi yang sedang berada di sana menolehkan kepala mereka pada pria bersurai biru terang itu. Kuroko menghampiri polisi yang duduk di belakang meja itu. Polisi bersurai coklat itu bertanya dengan hati-hati, "Maaf, ada per—"
Kuroko menggebrak meja dan berteriak, "ANAKKU! ANAKKU HILANG!"
Seorang polisi bersurai putih datang dengan segelas kopi di tangannya. Ia bertanya, "Oi, Sakurai! Ada apa ribut-ribut begini?"
Kuroko menolehkan kepalanya pada polisi yang memegang gelas itu. Ia berlari ke arahnya dan mencengkram kerah polisi itu. "ANAKKU! ANAKKU HILANG!"
"Maafkan aku, Wakamatsu-san! Aku juga tidak tahu. Maaf, tiba-tiba saja ia datang mengatakan bahwa anaknya hilang. Maafkan aku! Maafkan aku!"
"Tenanglah, Tuan." Wakamatsu, polisi yang memegang gelas kopi itu menaruh gelasnya. Ia melepaskan cengkraman Kuroko dan berkata, "Sebaiknya Anda duduk dulu dan mengatakan apa yang terja—"
"—ANAKKU HILANG! NAMANYA KUROKO SATSUKI, RAMBUTNYA MERAH MUDA, TINGGINYA HANYA SEPINGGANGKU!"
"Oi, Wakamatsu! Kenapa—oh, hai, Kuroko!" Aomine datang dan menghampiri Kuroko. Aomine heran dengan wajah Kuroko yang agak memerah, seperti menahan amarah mungkin? Ia pun bertanya, "Ada apa, Kuroko? Kau nampak kes—"
"—ANAKKU HILANG, AOMINE-KUN!"
"Aomine, kau mengenalnya?" tanya Wakamatsu.
"Ya, aku mengenalnya. Dia orang baru di sini—tunggu! Anakmu hilang?"
"A-aku sudah mencarinya kemana-mana! Tapi aku tak menemukannya!" cairan hangat meluncur di pipi Kuroko. Ia menangis. Satsukinya yang malang hilang, anak semata wayangnya hilang.
"Baiklah, apa kau punya fotonya supaya mempermudah pencarian?"
Kuroko mengepalkan tangannya dan menundukan kepalanya, membuat helaian biru muda itu menutupi penglihatannya. "Tidak ada…" hening sejenak kemudian, ia melanjutkan dengan suara bergetar, "Ba-barang-barang Satsuki be-belum... datang."
"Baiklah, sebutkan saja nama dan ciri-ciri fisiknya." Kata Imayoshi yang tiba-tiba muncul. Ia adalah ketua di kantor itu. Dengar-dengar, ia bisa membaca pikiran dari ekspresi wajah. Itu juga kata polwan-polwan penggosip yang sering membicarakan keatletisan tubuh Aomine.
Kuroko menatap Imayoshi sejenak. "Namanya Kuroko Satsuki, umurnya tujuh tahun. Ia memiliki rambut merah muda yang panjang, kulitnya putih dan tingginya hanya sepinggangku. Apa itu cukup?"
Imayoshi menatap Kuroko. Dari balik kacamatanya, ia menerawang mata safir Kuroko. Kuroko segera mengalihkan pandangannya karena tidak suka diperhatikan seperti itu. Imayoshi berpikir sejenak... dan berkata, "Baiklah… mari kita cari anak perempuan itu."
.
.
Ignite continue!
.
.
Fic kedua multichap di fandom ini~ semoga kalian suka dan menikmatinya~ di sini Touou ane jadiin polisi kabeh. Oh ya, terima kasih juga bagi yang telah membaca dan mereview fic-fic saya yang lainnya! I love yuuh~ :*** #emotnyaa
TERIMA KASIH TELAH MEMBACA! ;)
Q & A
Q: kok Aomine kagak manggil Kuroko 'Tetsu'?
A: mereka baru bertemu satu sama lain jadi, manggilnya pakai nama keluarga. Mereka juga sudah menjadi dewasa jadi, keduanya menghargai kata 'formalitas' lagipula, Aomine itu polisi, perilakunya juga harus sopan pada orang-orang tidak bersalah (?) #terdengaraneh
Q: kok Satsuki manggilnya 'ayah'? kenapa bukan 'tou-san'? kan mereka orang Jepang, tinggal di Jepang pula…
A: oh itu, soalnya selain karena ini fic bahasa Indonesia, panggilan 'ayah' lebih berkesan gitu. Err, mungkin ini terdengar seperti pendapat pribadi... #orz jadi, kalau pakai kata 'ayah' biar lebih kerasa gitu.
Oke, kalau ada yang tidak mengerti, silahkan bertanya lewat kotak ripiu. Saran dan kritik sudah pasti diterima! XD
