disclaimer: aph © hidekaz himaruya; saya tak mengambil keuntungan dari fanfiksi ini.
catatan: agak malas pakai tanda kutip. burn.


Ambillah.

Jari-jarinya yang langsing menaruh cincin emas di atas telapak tangannya. Austria membisikkan penolakan dengan suara lirih, menggeleng terlalu pelan. Hungary hanya mengusap tangan Austria dengan lembut, menghaluskan kekasaran hati sang pianis dengan jari-jari bagai jari milik tentara.

Tak apa-apa. Aku yakin kau akan melewati semua ini. Kita semua akan melewati semua masalah ini. Hungary mulai menutup tangan Austria menjadi kepalan, menghilangkan siluet cincin dari kedua matanya. Tapi tak bersama.

Austria hanya menenggelamkan kuku-kukunya ke telapak tangan; ia tak merasakan sakit, hanya hampa. Pandangannya mulai kosong, jadi ia hanya menganggukkan kepala, memberikan izin atas keputusan wanitanya yang tersayang.

Hungary tak mengubah ekspresinya. Ia hanya mendekati Austria, membisikkan terima kasih dan aku minta maaf ke pipinya. Austria sudah lupa betapa hangat napas Hungary ketika wanita itu menanamkan ciuman singkat ke ujung bibirnya.

Pria berkacamata itu memandang mata Hungary. Irisnya berwarna hijau seperti rumput yang mereka tiduri saat mereka kecil dulu, yang ia ingat sempat mengeruh di tengah asap dan ledakan dan darah.

Pada detik itu, ia mengangguk pelan dan berkata dengan puitis, Pergilah, kau gadis berhati singa.

Mungkin ia mulai merasa lega saat Hungary mengacak-acak rambutnya dan melangkah ke arah dunia dengan langkah pelan, tapi di telinganya, suara pintu tertutup benar-benar terdengar seperti suara peluru menembus jantung rakyatnya yang tak berdosa.


(np: king and lionheart by of monsters and men; makassar, 16/01/13)