Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Love story
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Love story by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 1
.
.
.
"Kyaaaaaahhh! Kyaaaahhh!"
"Haaaaa!"
"Kyaaaaaahhh!" entah sudah berapa kali mata aquarium itu melebar begitu juga dengan suara nyaringnya tapi sepertinya teriakan itu masih belum cukup baginya.
"Kyaaaaaahhh! Kau sudah kembali!" akhirnya ada kalimat lain selain teriakan.
Manusia-manusia berseragam Sekolahan Sma pun berhamburan menuju asal suara yang cukup membuat mereka penasaran.
Jam baru menujuk pukul 07.23 dimana gedung besar nan elit bernama Sma Konoha mulai dipenuhi para siswa-siswi tentunya.
"Kau bising sekali, Ino." ucap sang gadis bersurai indigo itu frustasi akan suara nyaring teman bersurai pirang ponytailnya.
Dimana ia baru saja memasuki gerbang dan keluar dari mobil dan hendak melewati pintu masuk malah dipertemukan dengan sahabat gilanya ini.
"Hinataa! Aku merindukan mu." pelukan dihadiahi untuk gadis bersurai indigo bermata bulan itu.
...
Semua orang disekitar mulai berbisik-bisik. Wajah mulus putih, rambut panjang indigo, mata bulan dan bibir merahnya karena lipstik. Dia masih saja cantik bagi yang sudah mengenalnya dan dia sangat cantik bagi yang tak mengenalnya. Dia memang cantik jika bertingkah dingin seperti itu tapi jika senyuman mulai menghiasi bibirnya, hanya kata 'gila' yang cocok untuknya.
"Apa kau suka rambutku? Aku merawat nya terus hingga sepanjang ini." senyuman bangga menghiasi bibir Hinata ketika ia memamerkan rambut panjangnya pada temannya ini.
Ino tersenyum lebar dan menaik-turunkan alisnya sebagai jawaban.
Sett sett..
Kedua tangan mungil itu mengibas krdua sisi rambutnya guna memamerkannya. "Syantik syantik."
"Ulalala. Hahaha" Ino menyambung kalimat temannya ini yang kemudian diakhiri oleh tawa lucu.
"Hahaha.. Kau sungguh temanku."
Mereka gila.
Kerumunan perlahan bubar begitu juga dengan tawa kedua sahabat itu.
"Ayo. Aku harus melapor ke kepala sekolah." begitu lah yang gadis cantik itu katakan tapi belum sedetik berlalu perhatiannya langsung teralih pada seorang lelaki tampan bersurai kuning dengan gentlenya meraih sebuah tangan dari dalam mobil dan membantunya keluar.
Detik itu juga.
.
.
.
.
Dunia berhenti berputar, begitu juga dengan nafasnya. Senyuman lembut itu menusuk hingga ke lapisan terdalam hatinya. Apapun disekelilingnya seketika menghilang, memutih yang ada hanyalah dirinya dan lelaki bermata biru langit di seberang nya.
Jujur dikatakan. Perasaan ini tak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan dimana dadanya berdebar-debar. Perutnya berbunga-bunga. Dunia terasa milik sendiri. Senyum menghiasi bibir merahnya.
.
.
"Terima kasih Naruto." ucap sang gadis bersurai pink bahagia sambil meraih tangan kekar itu. Perlahan ia turun dari mobil dan kekasihnya yang bernama Naruto tadi menutup pintu mobil itu untuknya. Lelaki yang sungguh sempurna dan gentle. Senyumannya mampu meluluhkan semua perempuan. Entah keberuntungan apa yang membuatnya bisa mendapatkan lelaki ini. Ia sangat senang, Percayalah.
"Ayo Sakura." lelaki bersurai kuning bernama Naruto itu mengandeng tangan kekasihnya dan menuntunnya masuk melewati pintu yang terbelah lebar dan melewati dua manusia yang membeku di jalan yang ia lewati.
"Aku rasa aku jatuh cinta." mata itu masih tak berkedip apalagi sadar.
Ino menatap aneh temannya. "Hei. Kau melamun! Hei!"
"Ha?! Apa?!" Tanya Hinata yang baru saja tersadar tapi kembali melamun. Ia bahkan tak sadar lelaki yang berhasil menarik perhatian nya tadi entah sudah hilang kemana.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi? Aku menemukan cintaku pada hari pertamaku kembali kesini." mata Hinata berbinar ketika ia mengengam erat kedua tangan Ino.
"Perutku berbunga-bunga." senyum tak kunjung hilang dari bibirnya ketika ia memutar badannya dan kembali memamerkan mata berbinarnya.
"Lelaki itu? Dia sudah punya pacar. Mereka sudah pacaran lebih dari satu tahun dan mereka tak akan bisa dipisahkan."
Kretak..
Sepertinya Ino mendengar ada sesuatu yang retak?
Langit tiba-tiba terasa suram.
Pacar..
Pacar..
Pacar..?
Belum satu menit berlalu, langit terasa kembali cerah.
"Aku akan mendapatkannya. Lelaki tampan itu." perasaan berbunga kembali menghiasi perut Hinata. Ia merasa berbeda. Ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Bagaimana bisa ada manusia begitu tampan dan mempesona? Sungguh cinta pandangan pertamanya.
"Oh... Lelaki eh pangeran berkudaku." punggung tangannya menempel dikeningnya dengan gaya ala-ala lebay.
Sekarang Ino jadi bertanya-tanya. Bagaimana bisa temannya seperti ini?
Ah.. Tak penting karena menjadi gila adalah hal yang menyenangkan.
"Ayo kawanku. Kita harus mendapatkan manusia tampan itu." satu tangan Hinata melingkar ke lengan Ino layaknya kesatria.
Dadanya terbungsung. Senyum tak kunjung pudar. Matanya terlihat sangat menggoda. Sudah sangat banyak hal baik yang terjadi di hidupnya selama ini dan Kami-sama masih dengan baiknya menyempurnakan hidupnya. Terima kasih banyak.
"Ayukkkk." jawab Ino bersemangat. Temannya ini selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dalam satu jentikan jari. Akan cukup menyenangkan jika ia dapat tiket VIP untuk melihat kedinginan diwajah lelaki itu menghilang. Hei.. Dia sangat populer di sekolah ini tahu?
Seeet..
Rambut layaknya sutra itu kembali berkibar layaknya iklan shampoo sebelum sepasang kaki itu melangkah.
.
.
Tuk.
"Aku mengerti. Aku akan mengatur semuanya untukmu, Hinata-sama." ucap sang wanita bersurai pirang itu setelah meletakkan secangkir teh ke meja kaca dihadapan seorang gadis bersurai indigo itu.
"Baiklah Tsunade sang kepsek dan cukup panggil aku Hinata." Hinata terduduk di atas sofa meraih cangkir teh hangatnya. Memikirkan bagaimana lelaki tampan itu akan meraih tangannya membuatnya sangat bahagia. Ohhh.. Mengapa hidup ini sangat indah?
Ino terduduk disebelah Hinata turut tersenyum sangat bahagia. Tiket VIP untuk melihat lelaki populer nan dingin itu terpukau pada temannya ini. Ya.. Mungkin. Ia sungguh tak sabar.
"Beberapa bulan tak melihatmu. Kau menjadi semakin cantik saja." pujian dan senyum terlontar dari bibir tipis itu.
"Ha?! Anda baru tahu? Dari lahir pun aku sudah cantik. Hahaha." dahi wanita awet muda itu sedikit mengkerut tapi untung saja senyum masih berhasil ia pasang di bibirnya. Ya semakin cantik si cantik tapi narsis dan kepercayaan dirinya sungguh semakin bertambah parah.
.
.
.
Teng
Tong.
Bel berbunyi, semua murid disetiap kelas langsung meloncat kebangku masing-masing karena pelajaran akan dimulai sebentar lagi.
2-A
Begitulah tulisan dipintu ini tercetak.
"Selamat pagi Kakashi-sensei.." semua murid didalam kelas 2-A berdiri, diikuti oleh sapaan mereka.
"Silahkan duduk. Kalian kedatangan siswi baru." lelaki bermasker dan bermata malas itu meletakkan beberapa tumpukan bukunya ke atas meja guru yang terletak didepan kelas.
"Perkenalkan dirimu." pinta Kakashi pada sang gadis bersurai indigo, berdiri disebelah mejanya. Sejak kapan sekolah mengizinkan murid model begini? Lipstick merah, rambut panjang terurai, seragam yang mencetak badannya dan jangan lupakan kuku-kukunya yang astaga cetarnya. Mengapa Sang kepsek mengatakan tidak masalah? Kakashi memang baru bekerja disini selama lima bulan tapi ia tak bodoh hingga tak tahu ini adalah penampilan yang sungguh jauh dari kata sopan dan diijinkan.
"Namaku...-
.
-namaku..?" Hinata memiringkan kepalanya yang cukup membuat Kakashi keheranan. Apakah dia lupa namanya sendiri?
"Namaku..?" Hinata masih berpikir keras. Ia tak begitu menyukai namanya jadi nama apa yang cocok untuknya? Hmm.. Cinta? Sayang? Baby? Happy?
Itu sesuai!
Hinata memamerkan senyum terbaiknya hingga menampilkan berderet gigi putih nan rapinya ketika ia meluruskan kepalanya dan menatap ke arah para murid.
"Happy. Namaku Happy."
?
Kakashi terdiam dan berpikir keras. Perasaan sang kepsek mengatakan namanya Hinata? Apakah pendengaran nya bermasalah?
"Ooo.."
"Dia cantik."
"Lihatlah senyum bahagianya itu."
Semua murid menganggukkan kecil kepala mereka. Sebagian yang mengenal gadis ini hanya bisa terdiam. Sudah mereka katakan. Dia gila. Namanya bahkan bisa berubah setiap jam, sesuai yang dia mau sedangkan para manusia yang tak mengenalnya mengganguk mengerti kepala mereka. Namanya sangat cocok untuknya. Lihat saja wajah bahagianya yang sangat bahagia itu, seolah ia orang yang selalu bahagia tanpa masalah sedikitpun.
"Baiklah aa.." mengabaikan nama manusia ini, Kakashi mengamati sejenak kelasnya. Matanya berhenti ketika tertuju pada seorang gadis bersurai pink yang terduduk di bangku disebelah bangku di pojokan depan kanan. Mengapa juga sang kepsek meminta gadis ini harus terduduk di sebelah siswa itu?
"Sakura, bisakah kau pindah kebelakang dan membiarkan si.. Eerr..Happy? Ini duduk ditempat mu." Hinata mengulum senyumnya. Matanya tertuju sempurna pada seorang lelaki dipojokan sana yang tengah sibuk menulis entah apa itu.
"Aa.. Saya mengerti." sejujurnya Sakura berat hati untuk pindah tapi apaboleh buat?
Mau tak mau Sakura membereskan buku-bukunya, ia menatap sejenak kekasihnya yang terduduk disebelahnya dan melangkah ke bangku belakang.
Secepat kilat, bahkan lebih cepat lagi Hinata beserta tas punggungnya telah berada di bangku yang Sakura duduki tadi. Senyumnya mengembang ketika wajah tampan yang masih berfokus pada buku itu terasa dekat dengannya.
Hinata mengigit pelan bibir bawahnya guna menyembunyikan senyum yang terus saja ingin mengembang.
.
.
...
Naruto masih saja sibuk pada pena dan buku diatas mejanya. Menghiraukan gadis yang terus saja menatapnya dan tersenyum bahagia. Naruto tak perduli. Dia sungguh terlihat seperti gadis yang aneh.
.
.
"Hallo, namaku.. Mm..namaku?" alis Hinata kembali berkerut. Nama apa yang cocok untuknya?
Naruto melirik ke arah gadis yang mengaku bernama Happy beberapa menit lalu dengan ujung matanya. Aneh sekali? Mengapa dia bisa melupakan namanya sendiri?
"Aa.. Kau bisa memanggilku Baby." Hinata mengulurkan tangannya ke arah Naruto sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hm.." guman Naruto dengan singkatnya ketika matanya kembali berfokus pada buku didekatnya.
"Baiklah siapa yang bisa menjawab soal didepan?" tangan Hinata terangkat tanpa sadar. Eh? Emang saat ini tengah pelajaran apa?
"Bangunlah Happy." Hinata menurunkan tangannya ketika merasa terpanggil. Mengapa tangannya tiba-tiba terangkat?
"Eh. Tidak sensei. Saya ingin bertanya mengapa lelaki ini mengabaikan aku yang ingin berkenalan dengannya?" tanya Hinata dengan pol-gilanya yang cukup membuat semua murid hampir memuncratkan tawa mereka. Dia itu berpura-pura bodoh atau memang bodoh?
"Happy." Kakashi memberi jeda. Menyebutkan nama itu membuatnya terasa aneh sekali.
"Dia adalah ketua kelas. Tugasnya sangat banyak." sambung Kakashi singkat.
"Jika dia sibuk dengan tugas ketua kelasnya, bagaimana dengan pelajarannya?" tanya Hinata lagi.
"Err.. Yang jelas dia adalah murid yang paling pandai disekolah ini jadi tak masalah dia sesekali tak mengikuti pelajarannya." jawab Kakashi.
"Jika benar begitu mengapa dia masih terduduk dikelas dua? Tidakkah seharusnya dia sudah lulus jika dia sungguh paling pandai?" Kakashi terdiam. Sejujurnya ada benarnya hal itu tapi sang kepala sekolah tak pernah memintanya untuk meloncat ke kelas tiga jadi apa yang bisa ia katakan?
"Ee.. Yang jelas dia lebih pandai dari semua orang disini termaksud kamu. Jadi ya kau mengerti lah."
"Lebih pandai dari sensei juga?" Hinata tak kuasa menyembunyikan rasa penasaran nya dan lagi-lagi kembali membungkam Kakashi. Mimpi apa Kakashi semalam hingga ketemu siswi seperti ini?
"Dan juga aku tak yakin dia lebih pandai dariku." ucap Hinata apa adanya.
"Sejak aku kecil aku selalu mendapatkan peringkat pertama dengan nilai sempurna." tambah Hinata apa adanya.
"Lalu mengapa kau disini?" Kakashi berusaha membungkam siswi cerewet ini.
"Karena aku tak ingin lulus lebih awal." jawab Hinata apa adanya.
"Menilai dari penampilan mu. Nilai sempurna sepertinya tak layak kau sandang." semua mata tertuju pada asal suara dingin itu. Sekali dia membuka mulutnya, suasana langsung terasa sangat dingin dan mengcengkam. Sungguh keren.
"Tapi aku rasa pangkat ketua kelas juga tak sesuai untuk orang yang menilai seseorang hanya dari luarnya." jawab Hinata dengan polosnya. Tanpa dendam tanpa balas dendam. Sungguh dengan polosnya.
"Ha'i ha'i. Hentikan ini." Kakashi meleraikan aduan mulut itu.
"Sebaiknya kita melanjutkan pelajaran kita. Jadi siapa yang bisa menjawab soal ini?"
Hinata kembali mengangkat tinggi tangannya. Tunggu? Mengapa ia mengangkat tangannya lagi?
.
.
.
Teng
Tong.
Bel istirahat berbunyi, dimana Hinata sudah terbang layaknya angin ke kelas sebelah.
"Ne, bagaimana Hinata?" tanya Ino penasaran ketika ia dan temannya melangkah turun menyusuri tangga.
"Dia sangat keren. Aku sungguh tak pernah menemukan orang sekeren itu. Aku semakin jatuh cinta padanya." jawab Hinata berbunga-bunga. Suara yang keluar dari bibir eksotis itu sungguh membuat hawa seketika terasa menyeramkan dan dingin. Sungguh mempesona.
"Sudah kuputuskan. Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya sepulang sekolah nanti." tambah Hinata semangat.
"Kau harus menungguku." ucap Ino semangat. Ia tak boleh melewatkan pertunjukan ini. Oh, biar Ino sedikit memperjelas. disaat Hinata mengatakan ia tak pernah menyukai lelaki manapun. Bitch please! Dia hampir menyukai semua lelaki tampan yang dia lihat. Alasannya mengatakan tak pernah karena dia melupakan hal itu dalam sekejap mata dan maksudnya cinta ataupun suka disini bukanlah cinta layaknya ke suami masa depan tapi cinta sebagai sesama teman atau manusia atau ya apapun itu.
Seettt
"Huh! Akqu sangat bersemangat." ucap Hinata senang ketika ia mengibaskan rambut indigonya ke arah wajah temannya.
"Hei! Jangan mengibaskan rambut busukmu itu!" Ino langsung mengejar temannya yang berlari pergi melewati lapangan.
"Huh! Rambutqu ini sangat wangi bahkan nyawamu tak cukup membelinya." Hinata kembali mengibaskan rambutnya ke wajah Ino dan menyambung larinya.
"Hei! Kembali kau brengsek!" kejadian berlari dan mengejar dilapangan lumayan cukup merebut perhatian beberapa murid yang tengah berlalu-lalang. Mereka lucu, ya begitulah kira-kira.
.
.
Sementara di kantin.
"Dia lucu sekali. Aku rasa dia berhasil membungkam mu tadi." ucap sang gadis bersurai pink sebahu itu lucu. Mengingat bagaimana cara siswi baru itu membungkam Naruto dan Kakashi sensei sekaligus dengan polosnya sungguh membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Aku hanya malas meladeninya." jawab Naruto yang terduduk diseberang Sakura datar. Ia tak punya waktu untuk meladeni gadis bodoh seperti itu.
"Naruto, kau tak boleh begini cuek. Lihatlah kau tak ada teman." ucap Sakura cemberut.
"Aku punya kau." jawab Naruto dengan entengnya sambil menikmati sesuap demi sesuap ramennya.
Sakura memalingkan wajahnya yang memerah. "Paan sih."
.
.
.
Teng
Tong
Tak terasa jam telah menunjuk pukul 12.43
Dimana biasanya para murid telah berhamburan keluar tapi murid disini malah membentuk sebuah barisan lurus menuju ke pintu kelas yang terbuka lebar.
"Tunggu aku dimobil." kecupan dihadiahi untuk jidat lebar itu.
"Baiklah." Sakura melangkah pergi, meninggalkan kekasihnya yang tengah bertugas, alias piket.
Seperti biasa setiap hari senin. Pemeriksaan rutin di lakukan. Dari rambut, pakaian, tangan, sepatu dan yang lainnya.
Dan seperti biasa juga, semua murid berhasil lolos dari pintu itu dengan cepat kecuali seorang siswi baru.
"Rambut terurai, lipstik merah, tak ada dasi, pakaian ketat, rok kependekan, kaos kaki pendek, sepatu pink dan yang terkahir kukumu itu. 90 poin dikurang. Kau mau bersekolah atau bergaya disini?" ucapnya dingin. Hari pertama masuk sekolah dan banyak sekali peraturan yang dilanggar nya. Hanya wow yang bisa Naruto katakan.
"Sekolah pun harus cantik emm handsome." jawab Hinata jujur. Bagi perempuan penampilan adalah segalanya.
Naruto menghampiri meja guru tak jauh darinya dan meraih setongkat bambu lumayan panjang di atas meja itu.
"Hari ini jadwalku piket. Aku tak ingin dipotong poin karena murid sepertimu. Hapus kuku jelekmu itu atau ulurkan kedua tanganmu." ucap Naruto datar sambil kembali menghampiri Hinata, tak lupa memamerkan bambu panjang ditangan nya yang siap melayang itu.
Dengan santai nya Hinata mengulurkan kedua telapak tangannya kearah Naruto.
"Ayolah. Kau tak akan berani memuk"
Plak! Plak!
Mata Hinata terbuka lebar begitu juga dengan mulutnya yang terasa hampir sobek.
!
Hinata mengibaskan kedua tangan nya yang terasa pedih dan terbakar. Gila! Lelaki ini sungguh memukulnya dengan sangat kuat. Lihat saja matanya yang langsung berair.
"Kau gila!" marah Hinata syok sambil menyentuh pelan telapak tangan cantiknya yang langsung memerah dan mencetak bekas pukulan.
"Ulurkan tanganmu lagi atau hapus." mengabaikan rasa sakit ditangan Hinata, Naruto kembali berucap dengan dingin.
"Jangan menantangku tampan. Kau membuatku jengkel." Hinata mengembungkan pipinya. "Sebaiknya kau pakai rok saja. Mana ada lelaki yang memukul seorang perempuan apalagi perempuan itu cantik dan manis sepertiku." tambah Hinata kesal.
...
Naruto hampir berdigik ngeri atas pujian yang keluar dari mulut itu sendiri. Gadis ini percaya diri sekali.
"Ulurkan tanganmu atau hapus benda menjijikan itu sekarang juga." Naruto kembali pada permasalahan awal.
Tap!
Hinata menghentakkan kakinya dan kembali mengembungkan pipinya.
"Tak mauk!" jawabnya ketika ia menekuk alisnya dan memanyunkan bibirnya.
"Dengar. Aku tak punya waktu meladeni manusia sepertimu. Cepat lakukan apa yang aku perintahkan agar aku bisa pulang." ucap Naruto dengan datarnya.
"Atau apa perlu aku sendiri yang menghapusnya?" delikan tajam Naruto berikan untuk gadis itu guna mengancamnya.
"Huh!" Hinata membuang wajahnya dan melangkah mendekati Naruto.
Seeettt..
"Hei!" Naruto tersentak kaget ketika rambut panjang itu menyapu wajahnya. Dasar gila!
"Ulala..Byeee! Muach." Hinata berlari pergi dengan senyum lebarnya ketika rambut cantiknya selesai menyapu wajah tampan itu tak lupa memberikan kecupan udara untuknya.
Grepp!
"Hei! Lepaskan atau aku akan berteriak kau ingin menculik gadis cantik ini!" rontak Hinata ketika lelaki tampan tadi berhasil menahan pergelangan tangannya.
"Silahkan saja." Naruto menyeret gadis mungil itu kembali ke kelas. Sakura pasti sudah menunggu lama. Gadis ini menyusahkan sekali.
"Hei! Apa yang kau lakukan tampan?" Hinata terus memberontak ketika satu tangan Naruto menahan kedua tangannya di atas meja guru sedangkan satu tangannya mengobrak tas di punggung Hinata.
Tap.
Naruto meletakkan sebotol penghapus kutek dan kapas ke atas meja guru. Sudah ia duga, isi tas manusia seperti ini pastilah benda-benda seperti ini.
"Haaaaaaaa!"
"Kyaaaaaahhhh!" Mata Hinata melebar. Mulutnya memekik syok ketika manusia tampan ini dengan teganya menghapus kuku kuning cantiknya.
"Diamlah." perintah Naruto datar pada suara nyaring itu.
"Hentikan! Kyaaaaaaaahhh!" Hinata semakin syok ketika lelaki itu mengunting satu persatu kuku panjangnya yang sangat indah itu.
"Hentikan! Hiksss! Kuku cantikku!"
"Kyaaaaaahhh! Hentikan! Hinata terus menarik tangannya tapi lengan Naruto menjepit kedua lengannya yang membuatnya tak bisa lepas.
"Kyaaaaaaaahhh! Lepaskan!" Hinata semakin histeris ketika suara kukunya terpotong terdengar jelas olehnya.
"Hiks! Lepaskan!" inilah apa yang dimaksud dengan sakit tak berdarah dan menangis tanpa air mata.
"Hmmppp!" wajah Hinata memberontak ketika Naruto mengelap bibir merahnya dengan kapas.
"Kau boleh pulang dan jangan lupa ganti pakaian dan sepatumu besok." dengan sangat tak bersalahnya, Naruto melepaskan tangan Hinata dan melangkah pergi.
"Kyaaaahhh!" Hinata melototi punggung Naruto yang menjauh darinya.
Botol penghapus kukunya, ia lemparkan ke punggung Naruto yang berhasil membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Makan itu si*lan!" pemotong kuku mendarat ke kening Naruto tapi diabaikan.
"Kau manusia Hin*! K*nt*l! *njing!" umpatan keluar dari bibir pink alami Hinata tanpa lipstick.
"Dasar k*cing! K*nt*l kem*luan *njing!"
...
Naruto hanya bisa menggeleng kepalanya antara syok atau terkejut dan kemudian melangkah pergi.
Untuk ukuran gadis narsis, dia cukup galak.
"Kau k*nt*l si*lan! Aku tak sudi lagi mencintaimu!"
.
.
.
"Hiks..hiks.. Ino. Dia memotong kukuku yang aku panjangkan dan rawat selama beberapa bulan dengan susah payah." Ino hanya bisa menahan tawanya karena tak tega tertawa sambil terus mengelus lembut rambut temannnya yang kini memeluk perutnya dengan posisi menindih ranjang king sizenya.
Ino juga pernah merasakan hal ini. Rasanya sangat menyakitkan. Ia mengerti perasaan temannya ini.
"Aku tak lagi mencintainya. Dia sungguh jahat. Dadaku terasa sakit sekali." Tambah Hinata kecewa, terdengar lebay sebenarnya.
"Kalau begitu bagaimana jika kau membalasnya?" Saran Ino penuh dengan rencana jahat di otaknya.
"Dia mengatakan poinnya berkurang jika kau berpenampilan seperti itu kan?" seringai menghiasi bibir Ino.
...
Hinata membalas tersenyum penuh dengan makna. Oh, ia tahu sekali apa maksud ucapan temannya tadi.
.
.
.
Besok paginya.
Naruto entah harus ber ekspresi seperti apa hanya bisa memasang wajah datarnya.
Perlukah ia katakan jika penampilan manusia ini lebih parah dari semalam?
Bulu mata sangking tebalnya hingga matanya hampir tak terlihat, rambut nya dikeriting, makeup, lipstik merah darah, aksesoris besar ditelinga, leher, tangan dan kaki seolah takut tak ada yang melihatnya. Tak ada dasi. Baju nya hanya mengancing satu dibagian dada, memamerkan bagian perut langsingnya. rok pendek hingga hampir menampakkan bokongnya dan terakhir tak ada kaos kaki dan hak hijau 6cm bukannya sepatu hitam. Oh dan jangan lupakan kuku-kuku 10cmnya yang berwanara merah darah dan bunga-bunga.
Pagi-pagi, dimana Naruto baru saja memakirkan mobil dan keluar dari dalam mobil malah dihadiahi penampilan bodoh itu.
Dia sungguh gila. Bagaimana bisa dia berpenampilan begitu disekolah? Apa dia tak punya malu? Dan bukan hanya itu. Apakah dia sungguh berniat membuat Naruto diceramahi kepsek karena penampilan sialannya itu? Dan bukan hanya itu. Karena penampilan bodohnya itu, poin Naruto juga akan berkurang dan tentunya kepercayaan kepsek padanya..? Dimana dirinya selalu bisa mengatur murid dengan mudahnya tapi gadis ini?
Hei! Hinata tegaskan ya. Sebagaimana pun dirinya berdandan. Dia tetap saja cantik. Huh!
"Hah! Ternyata aku tetap cantik meskipun berdandan begini." senyum lebar menghiasi bibir Hinata. Wajah datar Naruto di hadapannya terlihat lucu sekali. Ia sungguh merasa jatuh cinta lagi.
"Hapus." perintah Naruto tak ingin penolakan. Akan terjadi masalah besar jika murid lain atau sensei lain melihatnya. Ia tak mau di cap gagal sebagai ketua kelas karena manusia ini.
"Never. Huh!" rambut gelombang Hinata menyapu udara ketika dirinya membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Perlukah aku yang memperbaiki ujung rambut hingga ujung kakimu itu?" ucap Naruto memperingati yang membuat Hinata menghentikan langkahnya. Mengapa gadis ini suka sekali membuat Naruto melakukan cara kasar?
Hinata membalikkan wajahnya, menatap Naruto.
...
Senyum meremehkan menghiasi bibir merahnya.
"Kau berani?" seolah mengancam dan menantang.
.
.
.
.
To be continue.
.
.
.
.
Hmhm..
Moga kalian suka ya. Silahkan tinggalkan
Bye.
