ohayou minna-san! Mei kembali lagi dengan FFn terbarunya Mei... semoga kalian suka ya...
oh ya... untuk kelanjutan FFn pertamanya Mei, Mei bingung sama alurnya hehe... Mei butuh saran -_-
langsung aja ya...
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : Luka yang kau goreskan mengenai tepat di dasar hatiku. membuatku merasa sakit yang tak terkira. Rasa sakit itu semakin kuat menghujam di antara helaan nafas. Apakah takdir tengah mempermainkan kita? Kalaupun iya, dapatkah kita melewatinya?. Disaat hatimu telah berbalik arah, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan.
Author by: Mei tomatcherry23
Happy Reading
Surai indahnya berterbangan melawan angin. Langkah kakinya bergema memecah kesunyian. Deruh nafasnya terdengar bersaut-sautan. Senyum indah tak lepas dari bibir kecilnya. Mata seteduh permadani hijau itu berbinar senang. Ia semakin mempercepat langkah kakinya hingga…
BRUUKK
Kedua lengan mungilnya berhasil mendekap pemuda tampan yang tengahberdiri di pinggir lapangan basket sambil mengelap tetesan-tetesan asin di atas dahinya. Pemuda yang didekapnya itu, sesaat merasa terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu. Namun, keterkejutan itu menghilang ketika mengetahui sang pelaku ternyata adalah bidadari hatinya. Pemuda itupun membalas pelukan sang kekasih dengan erat, hingga tak ada jarak sedikitpun diantara mereka.
"Sasuke-kun bau~"
Pemuda yang di ketahui bernama Sasuke itu, sedikit memisahkan jarak diantara mereka. Menatap sang kekasih hati yang tengah menahan tawanya. Ck~ kekasihnya ini benar-benar berani dengannya. Seringai tipis terlihat jelas menghiasi bibir tegasnya. Dengan cepat iapun kembali memeluk sang gadis yang kali ini lebih erat dari sebelumnya. Membuat sang gadis melengguh karena tak bisa bernapas.
"Sasu-kun sesak~. Aku tak bisa bernapas!"
Sasukepun kembali melepaskan pelukannya, namun tak benar-benar melepaskan, ia hanya memisahkan sedikit jarak diantara mereka. Tatapan matanya tertuju pada bibir mungil sang kekasih yang tengah mengerucut lucu, merajuk eh~.
"Kau kenapa hmm~?" dengan lembut Sasuke mengelus pipi chubby milik sang gadis.
"Sasu-kun membuatku sesak dengan pelukan eratmu itu."
Gadis yang biasa dipanggil Sakura itu semakin mengerucutkan bibirnya, membuat Sasuke semakin gemas melihatnya.
Sasukepun menjawil hidung mungil milik Sakura dengan gemas, "Itu sebagai hukuman untukmu Saki~, karena kau telah berani mengejekku."
"Itu kenyataan Sasu-kun!" balas sang gadis musim semi itu dengan seringai jahil di bibirnya.
Sasuke mendelik mendengar perkataan sang gadis, "Kalau aku bau, kenapa kau masih betah memelukku eh?" seringai tipis terukir di bibir Sasuke membalas perkataan sang kekasih.
"Karena aku ingin. Karena aku merindukan Sasu-kun~"
Sakura kembali memeluk Sasuke, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher dan bahu pemuda itu. Menghirup aroma meneduhkan yang begitu dirindukannya. Mendapat perlakuan manja seperti itu dari sang kekasih membuat Sasuke tersenyum tipis. Lengan kekar miliknyapun membalas pelukan sang kekasih, merengkuh gadis yang telah lama menjeratnya itu ke dalam pelukan posesif miliknya.
"Aku juga merindukanmu Saki. Sangat!" jawab Sasuke sedikit mengendurkan pelukannya.
"Sasuke-kun sudah selesai latihan basket?" Tanya Sakura sambil membelai dahi yang di penuhi keringat milik Sasuke, sedikit menyingkirkan rambut yang menutupi wajah tampan itu.
"Hn." Gumam Sasuke menikmati belaian Sakura.
"Aku sudah membuatkan Sasuke-kun bento, ingin makan bersama?"
Sasuke tersenyum mendengar pertanyaan Sakura. Ah~ Betapa beruntungnya ia memiliki Sakura, gadis yang begitu perhatian dan mengerti akan dirinya. Satu anggukan dari Sasuke menjawab pertanyaan Sakura. Merekapun berjalan beriringan meninggalkan lapangan basket dengan Sasuke yang merangkul erat pinggang ramping Sakura.
. . .
"Bagaimana Sasuke-kun? Apa rasa makanannya enak?" Tanya Sakura sambil menatap penuh harap kearah Sasuke.
Saat ini, mereka tengah berada di taman belakang sekolah mereka. Duduk di salah satu bangku taman dengan Sakura yang tengah menyuapi Sasuke. Meletakan salah satu jari di ujung dagunya -pose berfikir- Sasuke memikirkan jawaban untuk pertanyaan Sakura. Melihat sikap Sasuke membuat gadis musim semi ini geram.
"Ayolah Sasuke-kun! Apakah rasanya enak?" sekali lagi pertanyaan itu meluncur melalui bibir Sakura.
Senyuman tipis terukir dari bibir tegas milik Sasuke, "Masakanmu selalu enak Honey~"
Senyuman lembut sarat akan kelegaan turut menghiasi bibir Sakura. Entah mengapa setelah mendengar jawaban dari pemuda yang amat di cintainya itu, membuat sesuatu serasa mengelitik perutnya, membuat dirinya serasa terbang ke langit teratas, membuat dirinya merasa berada di atmosfer berbeda, atmosfer yang hanya ada dirinya dengan pemuda yang selalu membuat bahagianya itu. Hanya jawaban sederhana dari pemuda itu saja sudah membuatnya merasa sangat bahagia.
"Malam ini kau ada acara sayang?" tanya Sasuke sambil memainkan ujung rambut Sakura.
"Tidak ada Sasu-kun, ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sayang!"
Sakura sedikit memiringkan kepalanya, menatap Sasuke dengan pandangan bertanya, "Kemana Sasu-kun?"
"Rahasia." Jawab Sasuke sedikit menyentil dahi Sakura, membuat gadis di hadapannya itu mengaduh kesakitan.
"Aww! Sasuke-kun sakit~" keluh Sakura sambil mengelus dahinya yang terasa sakit akibat sentilan Sasuke. Namun rasa sakit itu tak berlangsung lama, karena bibir lembut Sasuke telah mendarat di atas dahi Sakura menciumnya tepat di pusat rasa sakit gadis bersuai merah muda itu.
"Eh?" rona merah menjalar di kedua pipi Sakura. Mendapat perlakuan lembut dari Sasuke membuat jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat.
"Masih sakit hime?" tanya Sasuke sambil mengelus dahi Sakura dengan lembut. Berusaha menghilangkan rasa sakit gadis pujaannya itu. Senyum tipis terukir di bibirnya mendapati rona merah di kedua pipi Sakura. Rasanya hari ini kau terlalu banyak tersenyum eh Sasuke?
Anggukan kecil dari Sakura menjawab pertanyaan Sasuke. Gadis itupun sedikit menundukkan kepala guna menyembunyikan wajah memerahnya dari sang kekasih hati yang saat ini tengah menatapnya intens. Dirinya terlalu malu, jika harus di tatap seintens itu oleh Sasuke.
Pelan namun pasti, Sasuke mengangkat wajah Sakura dengan kedua tangan yang berada di kedua sisi pipi gadis yang tengah menunduk itu. Membuat emerland indah itu menatap ke arah onyx sehitam jelaga miliknya.
"Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Jadi, kau masih punya waktu untuk berdandan yang cantik, Mengerti?"
"Ha'i Sasuke-kun!" jawab Sakura disertai senyum manis yang terukir di bibirnya. Tak berlangsung lama, senyum itu memudar kala menginggat sesuatu, "Sasuke-kun, sekarang jam berapa?"
Melirik ke arah arloji yang melingkari pergelangang tangannya Sasuke menjawab, "10.45"
"Assstaaggaaaa! Sasuke-kun kita terlambat! Sekarang pelajaran Orchimaru sensei, kita pasti di hukum."
Tanpa meminta persetujuan dari Sasuke, Sakura menarik salah satu lengan Sasuke membawanya untuk ikut berlari bersamanya. Mereka terus berlari menyusuri koridor yang telah sepi dengan Sakura yang masih setia menarik pemuda di belakangnya, hingga...
BRRUKK
Tanpa sengaja mereka menabrak seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengan mereka. Membuat orang yang mereka tabrak yang ternyata adalah seorang gadis itu terjatuh.
"Astaga! Aku minta maaf, aku tidak sengaja! Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura sambil membungkukkan tubuhnya.
"Tak apa, aku baik-baik sa..." ucapan gadis itu terhenti ketika ia mengangkat wajahnya, indra pengelihatannya tak sengaja menangkap sosok tampan yang tengah berdiri menjulang di hadapannya. Jantungnya berdetak sangat cepat, kala pemuda itu juga tengah menatap ke arahnya. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna, tidak ada satu celahpun dari pemuda itu menurutnya.
Tak jauh berbeda dari sang gadis, Sasukepun saat ini tengah merasakan perasaan aneh saat menatap tepat ke arah iris gadis yang tengah terduduk di bawahnya itu. Ia sendiri tak mengerti perasaan apa ini, yang pasti ada sesuatu yang berbeda dari iris seindah lautan biru itu, sesuatu yang seolah menjeratnya untuk mendalami lebih dalam lautan biru itu.
"Hey! Hey!" guncangan pada tubuhnya dari Sakura menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
Dengan segera gadis itupun mengalihkan perhatiannya ke arah Sakura. "Ah ya! Ada apa?"
"Tadi, aku bertanya apakah kau tidak apa-apa?" jawab Sakura sambil membantu gadis itu bangkit.
"Iya. Aku tidak apa-apa..."
Mengerti akan kebingungan gadis di hadapannya itu, Sakura memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, "Sakura. Haruno Sakura, kau bisa memanggilku Sakura, Kau?" iapun mengulurkan tangannya ke arah gadis di depannya.
Gadis itupun menerima uluran tangan Sakura, "Ino. Yamanaka Ino" jawabnya di sertai dengan senyuman di bibirnya.
Senyuman lembut terukir di bibir Sakura membalas senyuman Ino, "Syukurlah, kau tidak apa-apa Ino-san! Salam kenal ne~"
"Ya. Itu siapa?" tanya Ino sambil melirik ke arah Sasuke yang sedari tadi hanya diam.
Sakurapun mengikuti arah pandang Ino, "Ah! Dia Uchiha Sasuke."
"Salam kenal Uchiha-san! Aku Yamanaka Ino." Ino mengulurkan tangannya ke arah Sasuke di sertai dengan senyum termanis miliknya.
"Hn'. Uchiha Sasuke." Sasukepun membalas uluran tangan Ino. Entah mengapa ia membalas uluran tangan gadis di hadapannya itu, biasanya ia tak akan pernah mau membalas uluran tangan seorang gadis yang ingin berkenalan dengannya. Tapi, dengan gadis ini semua itu tidak berlaku sama sekali. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak terhadap gadis itu. Mata berlainan warna itu saling menatap satu sama lain, terus bertatapan tanpa memperdulikan sosok lain yang juga ada bersama mereka. Sosok yang tengah menatap mereka dengan pandangan yang tak terbaca.
Dan tampa mereka sadari, benang takdir tak kasat mata telah membelenggu mereka kedalam rumitnya permainan takdir. Memporak porandakan hati mereka. Menghancurkan potongan puzzle yang telah tersusun rapi. Memutar balikkannya menjadi potongan puzzle yang terpisah antara satu dengan yang lain. Membuat benang yang awalnya lurus terarah menjadi benang kusut yang akan sangat susah untuk di luruskan kembali.
Tawa bahagia telah berubah menjadi Tawa duka...
Senyum tulus telah berubah menjadi Senyum pupus...
Air matapun tumpah tanpa bisa di hindari...
Luka menyayat hati, tak akan mungkin bisa untuk di obati...
Racun kepedihan telah mengaliri aliran darah...
Bagaikan setruman listrik yang mematikan saraf...
Takdir telah memulai aksinya..
Adakah yang dapat menghentikannya?
TBC
RnR please... ^^
Arigatou minna-san sudah sempetin baca ffn baru aku..
jangan lupa tinggalin review yaaa... ^^
Sign
Mei23
