"Selamat ulang tahun… Selamat ulang tahun… Selamat ulang tahun, Kookie… Happy birthday to you~"

Malam itu harusnya menjadi malam yang terbaik untukku. Malam di hari ulang tahunku yang kedelapan. Malam itu, Hoseok eomma mengejutkanku dengan membawakanku sebuah kue ulang tahun berbentuk kepala Iron Man, karakter kesukaanku. Ada sebuah lilin berbentuk angka delapan disana.

"Selamat ulang tahun, Kookie-ku sayang~" eomma langsung memelukku setelah meletakkan kue ulang tahunku di meja belajar. Eomma mengecupku penuh sayang dan aku pun tak bisa berhenti tertawa. Aku bahagia.

"Kukira eomma lupa hari ulang tahunku. Eomma bahkan tidak mengucapkannya sejak tadi dan membuatku menunggu." Aku pura-pura merajuk. Jujur, aku kesal karena eomma seakan sengaja melupakan hari ulang tahunku.

Eomma tertawa. Beliau menunjukkan senyum hangat yang selalu aku suka.

"Mana mungkin Eomma melupakan hari ulang tahunmu? Eomma sengaja mengulurnya untuk mengejutkanmu."

"Eomma nakal!"

Aku pura-pura memukul lengan eomma. Eomma membalasnya dengan tawa.

"Oh ya, Eomma punya hadiah yang sudah lama kau inginkan."

Eomma memberikanku sebuah kotak yang dibungkus kertas kado berwarna merah. "Bukalah."

Aku mengangguk lalu membuka kotak tersebut. Betapa senangnya aku saat melihat isinya. Sebuah robot Iron Man yang sejak lama kuinginkan akhirnya terwujud.

"Kau menyukainya?"

Aku mengangguk. "Tentu saja aku suka!"

"Baguslah. Itu adalah hadiah karena Kookie sudah jadi anak yang baik, penurut, dan selalu menjadi juara kelas. Eomma harap, Kookie terus melakukan kebaikan dan selalu menjadi juara di hati eomma dan appa."

Aku mengangguk. "Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan eomma dan appa!"

Sekali lagi, eomma memelukku saking gemasnya. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu.

"Eomma, apa appa belum pulang?"

Raut wajah Eomma sedikit berubah. Namun setelah itu, beliau kembali tersenyum.

"Eomma rasa, appa sedang bingung mencarikan hadiah yang bagus untuk Kookie," jawab eomma.

"Benarkah?" Entah mengapa, aku merasa ragu. Seakan ada hal buruk yang akan terjadi.

"Gimana sambil menunggu appa, kita makan kuenya dulu?" usul eomma.

Aku menurut saja. Baru saja eomma akan memotong kue, suara bel rumah tanda seseorang datang mengalihkan perhatianku.

"Itu pasti appa!"

Aku berseru senang. Segera saja aku melompat dari kasur dan berlari keluar kamar. Aku mengabaikan panggilan eomma.

Aku membuka pintu. Kulihat appa berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

"Appa!"

Aku segera memeluk appa erat. Appa membalas pelukanku sambil menggendongku. Aku baru sadar appa tidak datang sendirian. Ada seorang wanita yang tidak kukenal dan seorang anak laki-laki yang tampak lebih tua dariku berdiri di belakang appa. Mereka tersenyum padaku.

"Appa, mereka siapa?"

Appa segera menurunkanku begitu aku bertanya. Tak lama kemudian, eomma datang dan menyuruhku untuk mendekat padanya.

Appa tersenyum padaku. "Kookie, perkenalkan. Ini Seokjin. Mulai besok, ia akan menjadi eomma barumu." Appa menunjuk wanita itu.

"Dan yang ini Taehyung. Dia akan menjadi kakakmu." Appa menunjuk anak laki-laki itu yang semakin melebarkan senyumnya.

Apa? Eomma baru? Kakak? Apa maksud appa? Yang aku inginkan di hari ulang tahunku hanyalah berkumpul bersama eomma dan appa. Bukan eomma baru apalagi kakak baru.

"Aku tidak butuh eomma baru. Eommaku hanya Hoseok eomma. Dan aku juga… tidak butuh kakak."

Senyum di wajah wanita dan anak laki-laki itu luntur. Begitu juga dengan appa. Harusnya, aku menyadarinya. Harusnya aku mengerti arti raut wajah eomma yang aneh saat berada di kamarku tadi.

Kalau saja aku lebih peka, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Keluargaku tidak akan pernah hancur.

Malam yang seharusnya menjadi malam bahagia untukku berubah menjadi petaka. Mereka-lah yang menghancurkan semuanya.


For You

Noora Felisha present

Member BTS hanyalah milik Tuhan, orang tua, dan Big Hit

Warning : GS! Seokjin, Jimin, Yoongi.

Brothers!VKook slight Parent!NamJin, Parent!NamSeok, TaeGi, KookMin, KookYoon, Bestfriend!VMin

Selamat membaca~


Episode 1

"Selamat kepada Kim Jungkook, peraih medali emas Olimpiade Matematika SMP tingkat nasional!"

Gemuruh suara tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan tersebut. Seorang remaja bergigi kelinci yang duduk di kelas 3 SMP Bighit itu menaiki panggung. Berdiri di tengah-tengah peserta pemenang olimpiade yang menerima medali perak dan perunggu. Ia sendiri meraih medali emas atas hasil belajar kerasnya selama ini.

Setelah medali emas disematkan pada lehernya, tepuk tangan kembali menggema. Gadis bersurai pendek yang duduk di kursi penontonlah yang bertepuk tangan paling meriah.

"Wuaahhh! Jungkookie, kau hebat!" gadis itu—Park Jimin—berteriak heboh. "Aku harus segera memberitau Yoongi eonnie."

Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Mencari sebuah kontak dan menghubunginya.

"Halo? Yoongi eonnie!" Jimin langsung berseru begitu panggilannya tersambungkan.

"Kau tau? Jungkook dapat medali emas! Dia bisa lolos ke tingkat internasional!" Jimin tampak sangat antusias menyampaikan berita kemenangan Jungkook.

"Oh ya? Sayang sekali ya, aku tidak bisa datang. Sampaikan ucapan selamat sekaligus permohonan maafku. Kalau saja tugas kuliahku tidak menumpuk sebanyak ini, aku pasti datang," suara seorang wanita di seberang menyahut. Jimin mengangguk menyanggupi permintaan si wanita.

"Baiklah, akan aku sampaikan. Semangat terus ya, Yoongi eonnie. Kalau kau sudah tidak sibuk, kita buat pesta kemenangan Jungkook."

"Tentu saja, Jimin. Terima kasih atas supportnya. Sampai jumpa~"

"Sampai jumpa~"

Jimin segera menutup ponselnya setelah panggilannya terputus. Ia beranjak dari kursinya saat melihat satu-persatu peserta pemenang olimpiade turun dari panggung. Ia menghampiri Jungkook.

"Jungkookie~ Selamat atas kemenanganmu ya!" Jimin langsung menubruk Jungkook dan memeluknya erat, membuat mereka jadi perhatian sesaat.

"Yaish! Jimin noona! Jangan peluk-peluk! Malu tau, dilihat banyak orang!" Jungkook berseru sambil berusaha melepaskan diri. Jimin sendiri masih belum mau melepaskan Jungkook.

"Mana Yoongi noona? Kenapa kau datang sendiri?" tanya Jungkook.

"Yoongi noona sibuk dengan tugas laporannya. Kau tau kan seberapa sibuknya mahasiswa pendidikan itu?"

Jungkook mendengus kecewa. "Padahal aku ingin sekali dia datang." Ia cemberut. "Lalu, dimana orang tuaku?"

Jimin tampak ragu untuk menjawabnya. "Kau tau kan kalau hari ini jadwal Taehyung check-up ke rumah sakit. Jadi—"

"Oh, lagi-lagi mereka melupakanku dan memilih mengurusi si cacat itu. Sialan!"

Jungkook berbalik dan meninggalkan Jimin sambil terus mengumpat. Jimin berusaha mengejar langkahnya.

"Tunggu, Jungkook! Kau salah paham!"

"Salah paham apalagi?!" Jungkook menatap Jimin sambil sedikit berteriak. Tampak jelas sekali ia emosi.

"Mereka tidak pernah peduli padaku. Mereka hanya menganggap si cacat itu sebagai anaknya. Mereka tidak pernah menganggapku ada!"

"Jungkook-ah…" Jimin kehilangan kata-kata. Ia ingin membantah perkataan Jungkook karena anak itu hanya salah paham. Sayangnya, Jimin tidak punya kalimat yang pas untuk mengungkapkannya. Jungkook tidak akan mendengarkannya jika ia hanya menasihati Jungkook dengan kata-kata yang tidak berguna.

"Tapi—"

"Sudahlah, Jimin noona. Jika kau hanya ingin membelanya, jangan datang kesini. Aku tau kalau kalian semua sama saja."

Jungkook kembali berbalik. Ia marah. Namun, sebelum Jungkook menjauh, Jimin dengan cepat menarik tangannya.

"Mianhae, Jungkook. Aku hanya tidak ingin kau semakin membenci keluargamu."

Jungkook hanya diam sambil membuang muka.

"Beneran kok, aku datang kesini untuk menyambut kemenanganmu. Bahkan aku sudah menyiapkan hadiah untukmu."

Jimin memberikan sebuah kotak kecil yang dihiasi pita warna merah kesukaan Jungkook. Jungkook membuka kotak tersebut dan melihat isinya.

"Hanya coklat?" Jungkook mengernyit saat mengetahui isi kotak itu adalah sekotak coklat homemade.

Jimin menunduk. Merasa sedih sekaligus takut melihat reaksi Jungkook.

"Iya. Maaf ya, aku tidak punya banyak uang untuk membelikanmu hadiah mahal. Tapi, aku janji. Jika aku punya banyak uang nanti, aku akan membelikanmu hadiah yang bagus!"

Jungkook tersenyum kecil. "Tidak perlu. Kau sudah repot-repot menyiapkanku hadiah begini, mana mungkin kutolak kan?"

Jungkook memakan satu potong coklat. "Rasanya manis. Aku suka. Kau ini memang pintar membuat apapun ya, Jimin noona."

Jimin tampak merona karena Jungkook memujinya. "Terima kasih. Aku senang kalau kau menyukainya."

"Bagaimana jika aku tidak memenangkan olimpiadenya?" tanya Jungkook.

"Aku akan tetap menyiapkan hadiah sebagai bentuk penghargaan atas semua kerja kerasmu selama ini."

Jimin mengatakannya dengan senyum tulus. Jungkook merasa tersentuh. Ia merasa hanya Jimin yang mengingatnya dan menghargainya, saat keluarganya lebih sibuk mengurusi anak kesayangan mereka dibandingkan dirinya.

Jungkook tersenyum lebar tanpa sadar. Ia bersyukur memilki teman sebaik Jimin. Meski Jimin merupakan sahabat baik dari sosok yang sangat dibencinya.

"Jungkook? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Jimin heran melihat tingkah Jungkook yang mendadak aneh.

Jungkook menggeleng cepat. "Tidak. Kita makan siang sekarang yuk, noona. Tenang saja, aku yang traktir," ajak Jungkook.

Jimin tersenyum lebar. Ia berseru senang. "Kajja! Kita makan di restoran daging yang enak!"

"Dasar. Kalau soal makanan saja kau semangat. Nanti kau tambah gendut lho."

"Berisik kau, anak nakal!"

"Hahaha, aku bercanda kok."


Taehyung tersenyum kecil menatap jam tangan mahal di dalam sebuah kotak kecil berwarna biru. Jam tangan yang ia beli dengan uang tabungannya yang ia kumpulkan sejak lama. Hadiah yang sengaja ia siapkan untuk sang adik tercinta.

Jungkook memang bukan adik kandungnya. Namun, Taehyung sangat menyayangi Jungkook seperti adik kandungnya sendiri. Sekalipun Jungkook sangat membencinya dan selalu bersikap buruk padanya.

Taehyung memang belum tau kalau Jungkook akan memenangkan olimpiadenya. Namun, Taehyung sangat yakin adiknya yang jenius itu akan berhasil. Jungkook sudah berusaha keras. Ia bahkan belajar hingga hampir tengah malam. Taehyung sering diam-diam memperhatikannya dari pintu kamar.

Taehyung memutar roda kursi rodanya, menggerakkannya agar ia bisa menghampiri sang ibu yang sedang sibuk menyiapkan makanan di meja ruang tamu. Mereka akan mengadakan pesta kejutan untuk merayakan kemenangan Jungkook.

"Eomma, apa semuanya sudah siap?"

Seokjin—ibu Taehyung—tersenyum saat putra tampannya menghampirinya.

"Yups! Semua makanan kesukaan Jungkook sudah tersaji di meja makan," ujar Seokjin.

"Kau yakin Jungkook akan menyukai ini?" Namjoon yang baru datang dari luar langsung bertanya.

"Aku yakin Jungkook menyukainya. Dia itu suka pesta kan?"

Namjoon dan Seokjin mengangguk. Taehyung tersenyum.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Itu dari Jimin.

"Appa, eomma, mereka sebentar lagi tiba," ujar Taehyung. Mereka segera mengambil posisi untuk mengejutkan Jungkook.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Jungkook masuk bersama Jimin tanpa menyadari keadaan. Hingga—

"Selamat atas kemenanganmu, Jungkookie!"

Namjoon, Seokjin, dan Taehyung berseru kompak. Jungkook terkejut. Ia diam, berusaha mencerna keadaan.

Jungkook memperhatikan sekeliling ruang tamu. Dinding yang dihias dengan tulisan Congratulations Jungkook!, meja yang dipenuhi makanan, dan ketiga anggota keluarganya yang tersenyum lebar padanya. Jungkook mengernyit.

Apa-apaan ini?

Namjoonlah yang pertama menghampiri Jungkook. Seokjin menyusul sambil mendorong kursi roda Taehyung.

"Jungkook-ah, selamat atas kemenanganmu. Kau benar-benar membuatku bangga. Aku bersyukur sekali memiliki anak sejenius dirimu," ujar Namjoon sambil menepuk bahu Jungkook.

"Kau memang hebat, Jungkook. Selamat ya," sambung Seokjin.

"Selamat, Jungkook! Aku sudah sangat yakin kau pasti menang!"

Jungkook hanya diam saat semua keluarganya mengucapkan selamat padanya. Jungkook hanya menunduk. Kedua tangannya dikepal erat.

Jimin yang menyadarinya duluan merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi.

"…tidak perlu…"

"Eh?" Namjoon mengernyit saat tak sengaja menangkap gumaman tak jelas Jungkook.

"AKU TIDAK PERLU!"

Jungkook tiba-tiba berteriak, membuat empat orang disana terkejut. Wajahnya memerah menahan kesal.

"Aku tidak butuh semua ini. Kalau kalian memang menghargai dan menganggapku ada, kalian harusnya datang saat penyerahan medali tadi. Apa kalian tau? Semua peserta yang menjadi pemenang ditemani oleh orang tua mereka di atas panggung. Hanya aku yang sendirian disana. Apa kalian bisa bayangkan bagaimana kesepian dan menyedihkannya aku?"

Namjoon, Seokjin, dan Taehyung terdiam. Mereka menunduk, merasa bersalah.

"Lihat? Kalian tidak bisa menjawab kan? Sudah pasti! Kalian kan tidak pernah peduli padaku. Kalian hanya peduli pada si cacat ini!"

"Jungkook! Jaga bicaramu!" Namjoon membentak Jungkook. "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Taehyung itu kakakmu!"

"DIA BUKAN KAKAKKU! AKU TIDAK PERNAH PUNYA KAKAK CACAT SEPERTI DIA!"

PLAK!

"Namjoon-ah!"

Seokjin memekik. Namjoon tanpa sadar menampar pipi Jungkook. Cukup keras hingga pipi anak itu memerah. Namjoon terlanjur emosi. Ia marah jika putranya dihina oleh putranya yang lain.

Jungkook menatap Namjoon tak percaya. Ia menyentuh pipinya yang memerah. Ia kecewa. Ia sangat kecewa pada sang ayah yang lebih memilih saudaranya yang cacat dibandingkan dirinya.

"Aku sudah tau. Kau tidak pernah menyayangiku, appa." Jungkook berujar dengan suaranya yang dalam dan dingin.

"Kau membenciku. Aku hanya beban bagimu."

"Aniya… Jungkook-ah, bukan maksudku seperti itu—"

"AKU TIDAK MAU DENGAR APAPUN LAGI DARIMU!"

Jungkook berbalik, hendak pergi meninggalkan rumah. Namun, tangannya terlanjur dihentikan Taehyung.

"JANGAN MENYENTUHKU!" Jungkook menepis tangan Taehyung kasar.

"Jungkook jangan pergi…" lirih Taehyung. "Maaf, karena aku—"

"YA! INI SEMUA SALAHMU!" bentak Jungkook. Ia menatap kotak biru di tangan Taehyung. Tiba-tiba, ia merebutnya.

"Apa ini hadiah untukku?" Jungkook membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah jam tangan disana. Ia tersenyum meremehkan.

"Aku tidak butuh hadiah murahan seperti ini!"

Jungkook melempar jam tersebut dengan kasar hingga layar jam tersebut pecah. Jungkook menatap Taehyung tajam.

"Aku benci sekali padamu, Kim Taehyung."

Jungkook menendang Taehyung kasar hingga Taehyung terjatuh dari kursi rodanya. Seokjin dan Jimin terkejut. Terlebih lagi Namjoon.

"KIM JUNGKOOK APA KAU SADAR APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?!"

Namjoon benar-benar marah sekarang. Namun, Jungkook tampak tak mempedulikannya. Setelah puas melihat wajah Taehyung yang kesakitan, Jungkook pergi meninggalkan rumah, mengabaikan Namjoon, Seokjin dan Jimin yang terus memanggilnya.


"Eomma, kenapa kau meninggalkanku?"

Jungkook duduk di depan makam ibunya sambil memeluk kedua lututnya. Ia membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya.

"Eomma… aku kesepian."

Jungkook memang selalu datang kesini setiap kali ia merasa frustasi. Sejak empat tahun Hoseok—ibunya—meninggal, Jungkook merasa hidupnya tak ada harapan lagi. Terlebih, ia harus hidup bersama ibu dan kakak tiri yang menyebabkan kematian ibunya. Sang ayah pun tampak tidak lagi peduli padanya semenjak mereka ada disana. Apalagi, semenjak Taehyung kecelakaan dan lumpuh, semua perhatian hanya ditujukan padanya.

Jungkook merasa dirinya sudah tidak dianggap lagi. Apapun yang diinginkannya kini tidak pernah dituruti. Gaji ayahnya selalu habis untuk biaya pengobatan Taehyung. Bahkan, uang jajannya pun semakin berkurang. Jungkook merasa tidak adil. Ayahnya lebih peduli pada orang-orang penghancur keluarganya dibandingkan dirinya.

Jungkook menatap secarik foto lusuh. Foto saat dirinya masih kecil bersama Hoseok dan Namjoon. Itu foto yang diambil saat Jungkook masih berusia enam tahun. Saat mereka bertiga masih hidup bahagia. Hingga dua orang penghancur datang menghancurkan keluarganya.

Jungkook menatap sedih foto itu sambil bergumam lirih.

"Eomma, sampai kapan aku akan hidup seperti ini? Aku tidak kuat lagi. Tolong bawa aku pergi bersamamu saja, eomma…"


Hari semakin larut. Jungkook tak kunjung pulang. Seokjin merasa khawatir. Akhir-akhir ini banyak preman yang suka menyerang orang sembarangan berkeliaran di sekitar tempat tinggal mereka. Seokjin takut Jungkook menjadi korban mereka.

Namjoon sudah pergi mencari Jungkook sejak setengah jam yang lalu. Namun, ia juga belum kembali. Seokjin semakin khawatir. Ia tak henti-hentinya mentap cemas pada jam dinding.

"Aku… akan mencarinya."

Seokjin dan Jimin sontak menatap Taehyung yang baru saja bicara.

"Aku akan mencari Jungkook." Taehyung menegaskan.

"Kau pikir aku akan mengizinkanmu? Dengan kondisimu yang seperti ini?" ujar Seokjin.

"Aku akan tetap mencarinya. Dia pergi karena salahku. Aku harus bertanggung jawab." Taehyung itu memang sangat keras kepala.

"Eomma, tolong izinkan aku."

Seokjin memijat pangkal hidungnya. Taehyung akan terus merengek berapa kalipun ia menolaknya.

"Baiklah. Jimin, kau tolong temani Taehyung ya."

Jimin mengangguk. "Baik, ahjumma."


Jungkook berjalan tak tentu arah. Tatapan matanya kosong. Hari semakin larut, tapi ia belum mau pulang. Ia benar-benar tak ingin di rumah. Semua keluarganya sama saja. Tak ada satupun yang peduli padanya.

Ia berjalan di sebuah gang sempit dan gelap. Karena tidak memperhatikan jalan, Jungkook tak sengaja menabrak seseorang. Seorang pria berhoodie dengan badan besar. Pria itu merasa tersinggung pada Jungkook yang melewatinya begitu saja tanpa meminta maaf setelah menabraknya.

"Hei bocah! Mau kemana kau? Kau pikir kau bisa pergi dengan mudah setelah seenaknya menabrakku begitu?" pria itu menarik kerah baju Jungkook. Jungkook hanya diam sambil menatapnya dingin.

"Kau mau apa, Pak Tua?" ujarnya dengan nada meremehkan.

Pria itu naik pitam. "Apa kau sedang merendahkanku?! Cih, dasar bocah zaman sekarang. Tak ada sopan santunnya. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun?"

Jungkook tersenyum miring. "Aku tidak memiliki mereka."

"Apa?"

"Sudahlah, ahjussi. Jangan banyak bacot. Kau mau menghajarku? Kalau begitu, langsung saja. Sekalian saja kau bunuh aku!"

Pria itu semakin marah mendengar perkataan Jungkook. Ia pun menghajar Jungkook habis-habisan.


"Kita mau mencari Jungkook kemana lagi, Tae?"

Sudah hampir lima belas menit Jimin dan Taehyung berkeliling mendatangi tempat-tempat yang sering Jungkook kunjungi setiap kali ia kesal. Mereka bahkan sudah dua kali datang ke pemakaman, namun tak kunjung menemukan Jungkook juga.

Jimin berhenti mendorong kursi roda Taehyung. Matanya menatap sekelompok anak yang sedang bermain basket di taman.

"Tae, kita coba cari Jungkook di taman yuk," ajak Jimin.

"Kau saja yang kesana."

"Eh? Tapi—"

"Jungkook tidak akan mau pulang jika ada aku. Kalau kau sendiri, kau pasti bisa membujuknya. Tolong ya, aku mengandalkanmu." Taehyung tersenyum.

"Lalu, bagaimana denganmu?"

"Aku tunggu disini. Tenanglah, aku akan baik-baik saja."

Meskipun ragu, Jimin tetap menuruti permintaan Taehyung. Ia menepikan kursi roda Taehyung di trotar, lalu segera berlari menuju taman.

Taehyung menunggu dengan sabar di trotoar. Sesekali ia mengecek ponselnya.

BRAK!

Telinganya menangkap sebuah suara. Suara seperti benda yang dilemparkan dengan keras. Taehyung memutar roda kursinya, mencari asal suara tersebut. Betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap seorang pria bertubuh besar melempar Jungkook ke sebuah pintu besi di gang kecil yang sempat dilewatkan Taehyung.

"Jungkook-ah…"

Taehyung geram. Andai saja kedua kakinya normal, ia pasti sudah menghajar pria itu tanpa ampun karena sudah menyakiti adiknya.


"Argh…"

Jungkook mengerang kesakitan. Ia memegangi perutnya yang barusan ditendang pria di hadapannya. Belum lagi rasa sakit dipunggungnya akibat menabrak pintu besi. Wajahnya penuh luka lebam. Darah mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya yang terluka.

"Kau benar-benar bosan hidup ya, bocah?"

Jungkook diam saja sejak ia menantang si pria dengan soknya. Ia tidak peduli pada semua rasa sakit di tubuhnya. Ia biarkan saja pria di hadapannya ini menghabisinya.

"Mungkin, lebih baik seperti ini. Dengan begini, aku akan lebih cepat bertemu dengan ibu."

Itulah yang Jungkook pikirkan sejak tadi. Ia sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya. Sudah lama ia ingin mati, menyerah pada hidupnya yang menyedihkan, dan pergi menyusul sang ibu. Sudah berkali-kali ia berusaha bunuh diri, namun selalu saja digagalkan.

Namun kali ini, tidak akan gagal lagi. Karena ia akan mati terbunuh, bukan bunuh diri.

Pria di hadapannya ini hendak melancarkan tendangan terakhirnya. Jungkook pasrah sambil memejamkan matanya. Namun—

PLETAK!

"Argh!"

Seseorang melempar sebuah batu besar dan tepat mengenai kepala pria itu. Pria itu mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya yang berdarah.

"JUNGKOOK, CEPAT PERGI DARI SANA!"

Pria itu terkejut melihat kehadiran seorang bocah dengan kursi roda. Jungkook bahkan lebih terkejut. Taehyunglah pelaku pelemparan batu itu.

"Bodoh! Ngapain si cacat itu datang kesini? Cari matikah dia?" Jungkook mengumpat dalam hatinya.

Pria itu mengubah sasarannya. Ia mengabaikan Jungkook yang bahkan sudah kesulitan berdiri dan hendak menyerang Taehyung. Taehyung sendiri sudah bersiap untuk kabur. Sayangnya, ia tidak sempat kabur. Pria itu sudah terlanjur menangkapnya.

"Gawat! Orang itu akan membunuhnya!"

Jungkook berusaha berdiri untuk menghentikan pria itu. Namun, ia kembali terjatuh. Rasanya sulit sekali menggerakkan kedua kakinya.

Taehyung sendiri sudah ketakutan. Namun, ia memilih pasrah. Toh, ia memang tidak bisa melakukan apapun.

"Apa kau mencoba menjadi pahlawan itu bocah sialan itu?" pria itu mendecih. "Dasar orang cacat tidak berguna!"

Pria itu menendang Taehyung hingga ia tersungkur ke lantai. Taehyung terus menahan sakitnya saat pria itu menendang perutnya berkali-kali. Setelah memuntahkan darah, Taehyung kehilangan kesadaran.

"Hen…ti…kan…"

Bahkan untuk bersuarapun Jungkook kesulitan.

"Kalau si cacat itu mati, eomma dan appa akan semakin membenciku."

BRAK!

Tiba-tiba, Jimin datang dengan sebuah balok kayu besar dan langsung memukul kepala pria itu hingga pingsan.

"Jungkook-ah!"

Jungkook menoleh saat suara yang dikenalnya memanggil namanya. Itu Yoongi. Ia datang bersama Jimin, namun dari arah yang berbeda.

"Kau bisa berdiri?"

Jungkook mengangguk. Yoongi mengulurkan tangannya, hendak membantu Jungkook. Jungkook ikut mengulurkan tangan untuk menerima bantuan Yoongi, namun—

"Tae! Tae, sadarlah! Taehyung!"

Mendengar pekikan Jimin, Yoongi langsung menoleh. Yoongi sangat terkejut melihat Taehyung yang pingsan dengan keadaan yang sangat tidak baik. Jimin terus mengguncangkan tubuhnya, namun Taehyung sama sekali tak merespon.

Yoongi menarik kembali tangannya, membuat Jungkook membeku. Daripada menolong Jungkook, Yoongi lebih memilih menyelamatkan Taehyung.

Jungkook kecewa. Ia merasa hampa. Bahkan sosok yang dipercaya dan diam-diam dicintainya selama ini malah mencampakkannya. Sosok itu lebih memilih Taehyung yang cacat dibandingkan dirinya yang sempurna.

Ah, benar juga. Mengapa ia melupakannya? Taehyung-lah yang merebut segala miliknya. Taehyung merebut ayahnya dan menyebabkan ibunya meninggal. Taehyung merebut kasih sayang ayahnya. Bahkan, Taehyung juga merebut sosok yang dicintainya.

Jungkook semakin membenci Taehyung. Ia menyesal sempat mengkhawatirkan anak itu.

"Ah… menyebalkan."

Jungkook mengepalkan tangannya sambil tersenyum miring. Hingga pandangannya menggelap dan ia pun jatuh pingsan.

BRAK!

"Kuharap dia mati saja."

Bersambung…


Yeorobun, hallo! Saat sedang melanjutkan episode 3 dari Unravel, aku malah dapet ide bikin fic ini. Udah lama pengen bikin TaeKook brother dan jadilah begini! Gimana menurut kalian? Terlalu dramatiskah?

Buat yang nunggu Unravel, episode 3 sedang dalam proses ya! Oh ya, aku juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fithri untuk kalian yang merayakan!

Untuk dua minggu ke depan aku akan lama update karena UAS. Mohon doa dari kalian semua agar UAS-ku dilancarkan.

Terima kasih banyak semuanya! Sampai jumpa di episode selanjutnya!