Hari ini hari yang baru. Hari sekolah yang baru. Dan ada Lee Taemin yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Masih mengutuk dirinya sendiri karena menyetujui perjanjian ini. Memang sih dia dapat nilai yang bagus yang memberikan padanya hak untuk memasuki sekolah bergengsi ini dan orang tuanya memang punya uang dan dia memang punya lebih dari beberapa alasan yang sangat bagus untuk memasuki sekolah ini. Tapi dia tetap merasa kangen dengan teman-temannya. Jelas mereka masih tetap akan saling bertemu, tapi tetap saja nggak sama kan. Mereka nggak akan lagi memandang dunia dengan cara yang sama. Mereka nggak akan mengalami keberisikan kelas yang seperti biasanya. Hal-hal random yang terjadi di sekolah untuk dibicarakan. Karena orang cenderung lupa bagaimana bersikap di sekeliling orang lain jika sudah lama tidak bertemu.

Dengan hembusan napas terkeras dan kaki yang berat dan malas, belum lagi raut muka tidak menyenangkan yang nggak ingin dia sembunyikan, Taemin berjalan memasuki gerbang menuju sekolah yang luar biasa besarnya itu. Dengan tas yang berayun di bahu kiri dan denah sekolah di tangan kanan, dia melangkah. Bel sudah berdering, atau lebih tepatnya, sudah berdering sepuluh menit yang lalu waktu Taemin masih berdebat di dalam hati apakah dia akan memasuki rumah horror itu atau tidak. Bangunannya terlalu besar dan coklat dan biru.

Saat sedang berjalan, mencari kantor, dia berpapasan dengan tiga murid laki-laki yang sangat ganteng yang sedang berjalan-jalan.

"Permisi," dan ketiganya memandanginya seolah dia baru saja merampok bank.

"Ya," Si rambut blonde dan garis-garis ungu menjawab.

"Apakah kalian tau dimana letak kantor sekolah ini?"

"Jalan lurus saja nanti kamu pasti lihat," si rambut hitam spiky menjawab.

"Makasih, tapi bukannya tadi sudah bel?" atau cuma salah dengar.

"Memang sudah."

"Lalu kenapa kalian masih disini? Kalian anak baru juga?" tanya anak laki-laki yang kelihatannya rapuh itu.

"Bukan. Kami bukan anak baru. Kami cuma sedikit istimewa," mereka tertawa kecil.

"Kamu imut," kata si rambut blonde dengan garis-garis ungu sambil mencubit pipi tembem Taemin.

"Dan sangat empuk dan halus," lanjutnya.

"Kalian aneh," Taemin memutar bola matanya dan berlalu menuju ke kantor. Orang-orang disini aneh banget.

"Dia baru saja memutar bola matanya ke kita dan memanggil kita aneh?" Jonghyun kaget.

"Memang iya," jawab Onew.

"Aku suka dia," kata Key.

"Dia punyaku," Jonghyun menandai anak laki-laki itu.

"Memang siapa yang mengangkat kamu jadi leader?" Onew menggeram pada Jonghyun.

"Lah dia disini saja nggak, kan mending ada seseorang yang mengambil alih tahta buat sementara," Jonghyun membela diri.

"Ah, ayolah. Murid-murid disini semakin membosankan dan barangkali hal yang paling menarik baru saja memasuki gerbang sekolah kita," kata Key.

"Bener bener. Cantik pula," Onew setuju.

"Lebih cantik dari cewek-cewek disini." Yang jelas sih.

"Orang-orang disini nyali saja nggak punya buat ngomong dengan kita tanpa melompat-lompat girang, ketawa genit, dan pingsan." Memang nasib jadi orang yang terlalu diinginkan.

"Aku menginginkan dia," kata Key.

"Kita lihat saja nantinya gimana. Dia harusnya suka paling nggak salah satu dari kita."

Dan seperti itulah, Lee Taemin membuat grand entrancenya.