Hati Sang Bunga
By: Cherry Philein
Naruto © Masashi Kishimoto
Special fanfiction for Kirei Apple's Birthday!
.
.
.
Negara Fuusa itu sangat indah, apalagi yang sedang berlibur di sana adalah pengantin yang sedang berbulan madu, maka semakin sempurnalah kenikmatan yang disugukan dari hal mempesona ciptaan Tuhan. Langit yang cerah, dan suasana pantai yang tenang, membuat banyak wisatawan yang memutuskan untuk bersantai di bibir pantai putih. Melihat ombak yang menari-nari dan menggoda jari kaki adalah hal yang dirasakan oleh Sakura dan suaminya; Gaara.
Satu minggu mereka memutuskan untuk berbulan madu di negera kaya akan tempat memukau ini, bahkan Fuusa sudah sangat dikenal sebagai surganya orang-orang yang ingin menenangkan pikiran. Berbeda dengan Negara Konoha yang memiliki banyak gedung pencakar langit, Negara Fuusa lebih didominasi oleh area wisata dan perkebunan.
Pasangan itu memadu kasih, membagi cinta dan gejolak jiwa. Seperti para pasangan pengantin pada umumnya, mereka adalah dua sejoli yang sedang dimabuk cinta, sehingga selalu menganggap bahwa dunia ini adalah milik berdua.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Sakura tentu saja sudah tertidur lelap setelah aktivitas membagi cinta yang telah mereka lakukan. Tapi, tidak dengan Gaara, lelaki itu masih terjaga. Membuka matanya yang seindah jade dan sedang asik menerawang sambil memandang ke arah langit-langit rumah.
Ingatannya kembali berputar pada saat ia dan istrinya berbicara empat mata mengenai salah seorang lelaki beberapa waktu lalu sebelum mereka menikah. Ya, memang Gaara dan Sakura memiliki prinsip agar membicarakan apa saja yang menjadi beban di hati mereka, seperti masalah istrinya ini.
Waktu itu, ia bisa dengan jelas melihat wajah yang benar-benar berbeda dari raut yang sering ditampilkan Sakura sehari-harinya, inilah sisi yang jarang dilihat oleh Gaara. Sisi di mana hati sang Bunga yang terlihat lemah sekaligus kebencian yang membara.
Ia lalu mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi seseorang yang entah berada di mana sekarang ini.
Bunyi sambungan masuk pun terdengar. Beberapa saat setelahnya, Gaara pun berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Naruto!"
Setelah mendengar jawaban dari panggilannya, ia kembali berbicara.
"Ya, aku akan kembali beberapa hari lagi, pokoknya kau harus bisa membawanya, kalau perlu memaksanya. Masalah ini tidak akan selesai jika dibiarkan, ini sudah dua tahun."
Beberapa saat ia terdiam karena mendengarkan Naruto yang tengah bersuara, dahinya terkadang mengerut karena keseriusan dalam membicarakan masalah ini.
"Aku mengerti, tenanglah! Kuyakin Sakura sudah memaafkannya, walaupun itu hanya di hatinya. Kautahu sendiri bagaimana Sakura, dia itu seorang yang pemaaf dan berhati lembut. Hanya saja, kelembutan itu tertutupi dengan sifatnya yang terlalu ekspresif, begitulah."
Helaan napas kini terdengar, ia kembali melanjutkan ucapannya setelah mendengar kekhawatiran dalam suara sahabatnya.
"Tidak, Naruto, aku tidak marah. Apalagi kejadian itu terjadi sebelum Sakura menikah denganku, ya walau kami berpacaran saat itu. Jadi, tolong kaubawa dia, karena aku tidak terlalu mengenalnya. Hn, sampai jumpa di Konoha."
Sambungan dimatikan, dan Gaara langsung meletakkan ponselnya di meja nakas. Ia kemudian menghela napas dengan lega karena sahabat kuningnya itu mau membantu menyelesaikan masalah ini. Gaara yang sedang tiduran sambil menatap ke atas, kini memiringkan tubuhnya, ditatapnya wajah seorang wanita berambut merah muda yang sedang tidur sambil memeluknya. Bibirnya membentuk bengkokan kecil ketika melihat wajah polos itu, dan ia sekarang mencium dahi sang wanita, lalu membalas dekapan sang Bunga.
.
.
.
"Narutooooo!"
Sakura berlari dan langsung melompat ke pelukan sahabat maniak ramen-nya itu, dengan cengiran lebarnya, lelaki berusia sama dengan Sakura yaitu 23 tahun, langsung menggedong sang Bunga dan memutar-mutar wanita itu di dalam pelukkannya.
Mereka sudah lama tidak berjumpa, sekitar dua bulan setelah menghadiri resepsi pernikahan Sakura dan Gaara.
"Jahat sekali meninggalkanku tanpa pamit, ke mana kau selama hampir dua bulan ini?"
Senyum lebar itu berubah menjadi ringisan saat ia merasakan tarikan keras di telinganya ini. Wajah kesal Sakura bahkan tidak lagi bisa ditutupinya, terlalu ketara. Tentu saja ia marah, sama sekali tidak mengira kalau sahabat karibnya ini pergi meninggalkannya dan tidak memberi kabar sedikit pun. Bukan hanya itu, yang paling menjengkelkan lagi, karena Naruto pergi tanpa berpamitan dengan dirinya. Jadi, pantaslah sekarang wanita berambut merah muda itu sangat kesal.
"Au, ia maafkan aku, Sakura-chan. Aku hanya sedang mencari seorang untuk mempertemukannya denganmu. Benarkan, Gaara!" seruan itu pun dibenarkan oleh lelaki berambut merah yang memandang Sakura dengan senyuman hangat.
Langkahan kakinya mengarahkan Gaara kepada wanita musim seminya, dengan perlahan ia menggenggam tangan Sakura dan menyuruh istrinya itu agar duduk di ruang tamu rumah mereka ini. Sebenarnya ia sangat merasa bingung dengan kelakukan dari orang-orang yang dicintainya, mereka agak aneh dan yang paling membuatnya bertanya-tanya, siapa lelaki yang akan dipertemukan dengannya? Memangnya Sakura sekarang akan dicomblangkan dengan seseorang. Astaga naga! Ia bahkan sudah memiliki suami, yaitu Rei Gaara, lelaki yang masih mengbelenggu tangannya ini dan duduk di sebelahnya.
Celangak-celinguk masih Sakura tampilkan di wajahnya, ia benar-benar merasa aneh dengan sikap kedua orang terkasihnya.
"Jangan bercanda, memangnya sekarang aku sedang berada di ajang perjodohan, hm? Dasar menyebalkan!" Sakura merengut, ia jadi kesal sendiri diperlakukan seperti ini.
Kini Gaara menghadap Sakura dan menyentuhkan tangannya di dagu sang Bunga, ia manarik dagu itu dan membawanya agar dapat berhadapan langsung dengan wajahnya. Lelaki itu kembali membuat bibirnya tersenyum dengan tatapan mata yang hangat.
"Sakura, berjanjilah untuk selalu di sini dan jangan tinggalkan aku."
Alis matanya langsung naik satu, kembali ia berpikir ada apa sampai-sampai suaminya berbicara seperti it? Dan lagi, memangnya ia mau ke mana dan kenapa pula harus berjanji?
"Hm, baiklah," jawabnya agak ragu, walau begitu ia tersenyum saja untuk mempermudah semuanya, "tapi, sebenarnya ada apa sih?"
Mata jade itu sekarang menggerling ke arah Naruto dan ia langsung menganggukkan kepalanya.
"Masuklah!" Hanya itu yang diucapkan Naruto, Sakura yang mendengar teriakan lelaki berambut kuning, pun membalikkan kepalanya ke belakang. Ia terlihat kebingungan dan juga penasaran. Jangan-jangan yang disuruh masuk adalah aktor favoritnya, tapi ini bukan hari ulang tahunnya dan sama sekali bukan hari spesial?
Zamrud itu terbelalak, napasnya ia tahan untuk beberapa saat. Entah karena memang cuaca yang panas atau apa? Tiba-tiba saja Sakura merasakan kalau keringatnya menetes dari dahi ke pipi. Setiap langkah yang dilewati lelaki yang sekarang masuk semakin dalam ke ruang tamu ini, membuat Sakura semakin bergetar, pikirannya pun langsung buntu dan yang ada hanya keinginannya untuk bersegera pergi dari sini. Tidak ingin mengingat hal apapun dengan lelaki yang sekarang berdiri di samping Naruto.
Sakura langsung berdiri tanpa sadar, jemarinya masih di dalam tangan besar suaminya. Jade Gaara pun dengan jelas mencerminkan kekhawatiran di sana, ketika menyaksikan sendiri keadaan istrinya yang terlihat tidak stabil karena Uchiha Sasuke masuk ke ruang tamu rumah mereka ini. Sementara itu, Naruto masih terus memperhatikan antara Sasuke dan Sakura, ia tahu pasti akan seperti ini jadinya jika kedua orang ini dipertemukan. Ternyata, hal ini masih menjadi momok terberat untuk mereka.
Sakura memberontak dan ingin melepaskan diri, air matanya sudah menggenang dan siap tumpah kapan saja. Tapi, tindakannya tidak dibiarakan oleh Gaara, lelaki itu masih menggenggam tangan istrinya ini, dan lagi ia ingin Sakura membicarakan masalahnya ini baik-baik kepada Sasuke. Bahkan, sekarang lelaki bertatto cinta di dahinya itu bisa dengan jelas membaca perasaan sang Uchiha dari bola matanya, tertulis jelas rasa bersalah di onyx itu.
"Lepaskan aku, Bajingan!" Sakura memekik dan mengagetkan mereka semua.
Bugh.
Tidak disangka kalau Sakura sampai melakukan hal sejauh ini, gadis itu masih memaki mereka tanpa henti dan langsung berlari menuju kamarnya setelah berhasil memukul wajah Gaara dan tangannya terlepas dari belenggu sang lelaki.
Ketiga pria itu menghela napas frustrasi, Naruto langsung menjatuhkan dirinya di sofa, sedangkan Sasuke kini tengah meremas rambutnya sendiri.
Ia masih belum termaafkan.
Dengan kasar, Gaara mengusap wajahnya. Ia seperti langsung merasakan pening karena berpikir adalah hal mustahil untuk mendamaikan kedua orang ini. Tatapannya tanpa sadar langsung menuju ke arah Sasuke yang jelas terlihat sangat menderita dengan rasa bersalahnya.
"Naruto, coba kaulihat Sakura di kamar."
Dengan setengah berlari, Naruto langsung mengarah ke dapur dan menaiki tangga. Tentu laki-laki berambut bolt itu mengerti kalau Gaara sekarang ingin berbicara empat mata dengan Sasuke.
Ternyara, Sasuke pun paham dengan apa yang dipikirkan Gaara, lelaki yang sekarang memakai kaus hitam berlengan panjang itu berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
Sejenak, lelaki bermarga Uchiha itu meletakkan kepalanya di sandaran sofa, itu karena dia juga merasakan denyutan hebat di kepalanya.
"Aku tidak menyangka kalau imbas kehadiranmu sampai seburuk ini." Lelaki tanpa alis itu menyentuh luka memar di rahangnya akibat pukulan dari istrinya tercinta. Ia hanya menyeringai saat jade-nya menatap onyx Sasuke.
Kembali Sasuke menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa, ia merasa semakin tenggelam jauh ke dasar hitam bernama rasa bersalah.
"Permasalahan kami tidak sesederhana yang kaupikirkan, aku sudah bisa menebak kalau dia tidak akan memaafkanku." Tatapan matanya mengawang sejenak pada masalalu yang begitu buruk.
Mereka kemudian terdiam selama beberapa saat, cuaca yang cerah sama sekali tidak membuat kedua lelaki ini merasa beban mereka terangkat. Diteguknya segelas jus semangka segar yang tadi disajikan Sakura untuknya, lelaki itu kemudian kembali menatap Sasuke dengan seringainya.
"Dia sudah memafkanmu, di hatinya,"
Onyx Sasuke menatap Gaara dengan penuh minat. Ia cukup terkejut dengan pengakuan Gaara.
"Sakura memaafkanku?" Sasuke akhirnya kembali bebicara setelah menyadari hal itu adalah keajaiban jika terjadi, entah kenapa ia ingin menertawakan lelaki yang kini bersetatus sebagai suami Sakura itu.
"Hah! Kau masih belum bisa memahami hati Sakura. Walau terkesan keras kepala, Sakura itu sangat pemaaf. Ya, hanya saja, sekarang hatinya sedang didominasi oleh rasa benci yang menutupi relungnya itu."
Pejaman mata Sasuke tidak membuat pikiran negatifnya pergi, bahkan setelah penjelasan Gaara pun perasaan menyesakkan itu tetap mengerogoti hatinya. Walau sudah dua tahun, ternyata waktu tidak bisa menyembuhkan mereka bedua.
"Aku memperkosanya, Gaara!" ucapnya dengan mimik kosong penuh kesedihan.
"Tidak, dia masih 'utuh', mungkin kau belum sampai menyentuh ke sana." Ia memang tidak marah lagi dengan Sasuke, dan sekarang lebih bisa membicarakan hal ini dengan kepala yang dingin.
Sasuke terhenyak, dalam hati ia bersyukur karena masih belum merusak sesuatu yang paling berharga itu.
"Mungkin penetrasinya belum mencapainya, Naruto datang dan menghajarku saat itu. Untung saja ia memukul kepalaku dengan vas, kalau tidak ... entahlah. Aku benar-benar keji." Ia menundukkan kepalanya, menggigit bibir dalamnya sampai merasakan karat dipengecapnya.
Ingatan tentang hal keji itu kembali terbayang, Naruto yang nyaris kalah darinya dan Sakura yang sudah seperti orang gila, meraung. Dan saat itu, ia langsung kalah dengan hantaman keras di kepalanya yang dilakukan oleh Naruto. Kepalanya berdarah, dan ia langsung kehilangan kesadarannya. Begitu membuka mata, Sasuke langsung menyadari dirinya berada di rumah sakit dan mengalami amnesia selama beberapa bulan. Ya, sebabnya adalah karena hantaman vas itu mengenai otak belakang Sasuke.
Saat kembali mendapatkan ingatannya, ia benar-benar nyaris kehilangan kewarasannya. Saat itu ia menemui Naruto dan Sakura, dan pandangan matanya tidak bisa lepas dari Sakura yang benar-benar membencinya, tidak pernah ia melihat tatapan semengerikan itu ada dalam bola mata sejernih emerald milik sang Bunga. Dan saat itu ia sadar, kalau mustahil akan mendapatkan maaf dari Sakura, bahkan sampai sekarang setelah dua tahun kekejian yang dilakukannya berlalu.
Istilah waktu adalah penyembuh, baginya itu adalah palsu. Nyatanya, sampai saat ini ia masih merasa bersalah, mungkin bahkan ketika ia dimaafkan oleh Sakura pun, rasa bersalah itu tetap membatu di hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N:
Terimakasih untuk pembaca semuanya. Semoga suka dengan fic ini ya. Hehe dan Erza kembali, walau masih susah login dari lepi dan hp. Erza login pake lepi temen nih huhuhu. Syedihhh.
BTW, fic ini khusus untuk hadiah ULANG TAHUN-nya YAYUK WIDWID. Yeee ... selamat ya untukmu, Yukkkkk ... muah muah.
Semoga panjang umur dan sehat selalu dan dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Dan juga dapat mencapai segala keinginan dan cita-citamu, ya. Semoga cepat dapat jodoh, biar gak ngaku-ngakuin Gaara sebagai lakik elu.
Ahhh ... pokoknya makasih sekali lagi.
Salam sayang dari istri Itachikoi,
zhaErza.
