Kedua tangan dia masukkan ke dalam saku jas almamater berwarna coklat miliknya. Memasang earphone di kedua telinga masing-masing. Rambut pirangnya yang sepanjang pinggang ikut bergoyang seirama dengan hentakan kaki setiap melangkah.
"Oh!" langkahnya terhenti, berbelok ke samping. Di sana ada toko bunga dengan berbagai macam jenis. Bukan, dia tidak ingin membeli bunga hanya saja seekor hewan yang hinggap diantara bunga tersebut dengan sepasang sayap mengepak yang menarik perhatiannya. Kedua bibirnya melengkung membentuk senyuman. "Kupu-kupu…."
Dia sangat menyukainya. Menyukai mereka yang bersayap indah terbang kemanapun, dan disukai banyak orang. Sayapnya begitu halus jika disentuh dan begitu mudah untuk rapuh. Menurutnya mereka adalah binatang yang hebat, dengan perjalanan panjang yang tidak mudah. Dari berbentuk telur larva hingga menjadi ulat yang dipandang jijik oleh orang lain merayap dengan tubuh mereka sendiri, bertahan hidup diantara besarnya makhluk lain. Dan ketika waktunya tiba maka mereka akan membuat kepompong dengan benang air liur mereka. Berdiam diri di dalam kepompong yang mereka buat tujuh sampai dua puluh hari untuk mendapatkan sepasang sayap yang cantik.
Mereka mempunyai sayap, tapi mereka tidak bisa langsung terbang. Sayap mereka masih lemah dan mereka harus menunggu lagi agar sayap mereka kering. Mengepak dan membuka menutup secara secara perlahan. Sayap dengan beraneka warna dan motif, mereka tidak butuh di bantu karena mereka tahu jika ada campur tangan maka mereka akan menjadi cacat. Mereka begitu indah dan sempurna. Namun semua keindahan pasti akan berakhir semua makhluk memiliki akhir kehidupan mereka. Dan hanya beberapa periode mereka akan mati.
Bukankah metamorphosis mereka mengagumkan. Mata birunya berbinar seperti warna sayap yang terpantul di matanya. Dari makhluk yang dipandang menjijikkan menjadi makhluk yang mengagumkan. Naruto ingin seperti mereka, seperti kupu-kupu yang bisa terbang bebas setelah melalui perjalanan yang menyakitkan.
"Don't let your happiness depend on something you may lose" – C. S. Lewis –
:: ::
:: ::
1st BUTTERFLY
Uchiha Sasuke || Uzumaki Naruto || Namikaze Menma || Haruno Sakura
Romance || Drama || Family || Angst
Naruto©
Butterfly©ChrysantimumBluesky
M
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
"Cih.. hujan sialan" mendecih dan mengumpat kecil dengan kedua tangan mengusap lengannya yang tertupi jaket kulit berwarna hitam serta menepuk-nepuk celana jeans yang sedikit basah karena rintikan hujan yang tadinya gerimis menjadi deras seperti ini. kembali mendecih kesal. Berada di tempat yang baru dia ketahui sekarang, hujan mengakibatkan dirinya begitu tergesa untuk mencari tempat berteduh hingga terdampar di sebuah komplek perumahan sederhana dengan dirinya berada di pinggiran toko yang sudah tutup.
Mengusap kasar rambutnya yang hitam. Iri kelam miliknya beralih ke sekitar, siapa tahu setidaknya dia pernah ke sini dengan mengenali beberapa hal yang bisa dia lihat. Sayangnya tidak. Ini pertama kalinya dia ke sini. Menma berdecak kesal, berada di tempat yang tidak dia ketahui sama sekali dengan hujan yang bertambah lebat dan sebagai bonus ponselnya mati karena kehabisan baterai.
Beberapa orang yang berlalu lalang tidak bisa dia andalkan. Bukan karena mereka terlihat tidak perduli dengan keadaannya bahkan beberapa gadis baik remaja ataupun dewasa meliriknya terus menerus mencuri-curi pandang berharap Menma melihat mereka. Tapi sayangnya Menma tidak perduli dengan sekitarnya dia hanya bicara pada orang yang di kenalnya sisanya Menma tidak pernah ingin tahu tentang kehidupan orang lain. cukup dirinya dan dunianya yang damai.
"TOLONG!" teriakan seseorang membuat Menma menoleh untuk melihat. Seorang gadis dengan seragam SMA miliknya yang masih melekat kecuali sepatu yang mungkin sudah dia lepas tengah berdiri di bawah guyuran hujan deras tanpa perduli jika dirinya nanti akan basah kuyup. Berteriak meminta tolong, kening Menma bertaut di saat orang-orang mengacuhkan gadis tersebut.
"BIBI TOLONG IBUKU BIBI! PAMAN TOLONG IBUKU! KU MOHON TOLONG IBUKU!" mereka yang berjalan hanya menoleh sesaat lalu pergi begitu saja meski gadis itu berteriak tepat di telinga mereka. Rambut pirangnya lepek karena basah air hujan, Menma tertegun dilihatnya sebelah kakinya yang sudah maju ke depan. Dia tidak suka mencampuria kehidupan orang lain, kembali Menma menarik kakinya untuk berada di tempat semula.
"TOLONG IBUKU! KU MOHON….Ku mohon tolong ibuku" kembali Menma melihat gadis itu yang kini tengah terduduk, suaranya mulai melemah. Menangis dengan keras memohon kepada orang-orang yang ada disana untuk menolong ibunya. Kembali Menma menekankan pada dirinya sendiri. gadis itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Tapi Menma tidak segera pergi masih melihatnya. Melihat bagaimana mata yang baru dia ketahui berwarna biru secerah langit itu berubah menjadi mendung kelam seperti langit diatasnya.
"Ck…!" Menma berdecak kesal, prinsip entah bagaimana runtuh begitu saja. meninggalkan Ducatinya yang masih terparkir manis di tempat dia akan menelfon orang untuk mengambilnya nanti –jika ponselnya bisa menyala- menerobos hujan menyingkirkan niat mengapa dia berteduh tadi jika akhirnya tubuhnya basah kuyup seperti ini. Menma berlari kearah gadis yang masih meminta tolong dengan suara lemahnya. Berjongkok di depan gadis tersebut. "Hei ada apa dengan ibumu?"
Mengangkat kepala secepat yang dia bisa, seorang pria asing yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Pria dengan tatapan matanya yang kelam dan begitu gelap. Secara spontan bibirnya menyunggingkan senyum lebar, ibunya akan tertolong. Ada yang perduli padanya diantara mereka semua yang tidak perduli. Dan saat itulah Menma berasa dunianya berhenti. Jantungnya berhenti berdetak, tubuhnya memanas. Darah mengalir begitu cepat ke jantung sehingga yang dia tahu kemudian jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Mata birunya yang berbinar cerah ketika menatapnya dan senyuman lebar yang baru saja di terima membuat Menma lupa kenapa dia bisa berada di sini. "Tuan! Ku mohon Tolong Ibuku!"
Cengkrama erat di lengannya membuat Menma kembali ke dunianya. Mengambil nafas perlahan menenangkan detak jantung mencoba untuk terlihat normal. "Ibumu kenapa? Berhentilah panik! Jika kau seperti ini aku tidak tahu harus berbuat apa?!"
"Ah maaf!" melepaskan tangan dari kedua bahu Menma, berdiri dengan cepat diikuti Menma lalu menarik pria itu untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah kecilnya. "Silahkan masuk. Ibuku dia ada disana"
Tidak perduli jika tubuh keduanya membuat lantai basah dia tetap menarik Menma, sehingga laki-laki itu bisa melihat seorang wanita paruh baya dengan nafas tersengal-tersengal menahan sakit memegang dadanya. Berkerut bingung lalu menatap gadis yang berada di sebelah kemudian berlari melihat kondisi wanita tersebut dengan mengecek denyut nadinya yang melemah. Dia bukan mahasiswa kedokteran tapi setidaknya dia pernah membaca ini. "Apa yang terjadi pada ibumu?"
"Aku tidak tahu kenapa tapi tadi sepulang sekolah aku melihatnya sesak nafas dan memegangi dadanya terus menerus menahan sakit" dengan kedua tangan gemetar dan saling menggenggam satu sama lain menatap Menma berharap ibunya baik-baik saja.
"Apa dia kesulitan bernafas saat tidur?" Menma bertanya dengan menempelkan telinganya pada dada, mendengarkan bagaimana detak jantung tersebut berbunyi.
Menggigit ujung bibir mengingat-ngingat sembari mencari jawaban pada Menma. "Aku tidak tahu.. tapi akhir-akhir ini dia selalu terbangun pada tengah malam. Dia berkata jika itu hanya insomnia"
Tangan Menma beralih pada pergelangan kaki mencoba untuk memeriksanya. "Kapan pergelangan kakinya mulia bengkak?"
"Tiga bulan yang lalu, aku mengompresnya setiap hari tapi dia selalu berkata jika itu hanya kelelahan" menangkup kedua tangan di depan dada. Berharap jika ibunya tidak sakit parah.
"Apa dia kesulitan masuk kamar mandi?"
"Dia jarang menggunakan kamar mandi" menjawab dengan suara bergetar setiap pertanyaan Menma. Kembali melihat bagaimana pria itu mengecek detak jantungnya ibunya.
"Kenapa kau tidak membawa ibumu ke rumah sakit?!" Menma bertanya dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Melakukan MRC dengan menekan-nekan dada menggunakan kedua tangan berharap setidaknya jantung itu masih berdetak.
Sedikit terkejut dengan tubuh yang mundur badannya masih bergetar. "Ibu… dia bilang tidak suka ke rumah sakit… dia bilang ini hanya sakit biasa dan hanya meminum obat yang dia beli di toko"
"Hubungi ambulans" Menma berkata dengan tangan yang terus menekan dengan tempo cepat yang teratur
"Ta-tapi… ibuku-"
"KU BILANG HUBUNGI AMBULANS! KAU MAU IBUMU MATI?!"
Suara Menma meninggi membentak tanpa sadar, dengan gemetar meraih ponsel yang masih berada di dalam saku celana. Menelpon nomor darurat dengan tangan yang terus bergetar. Bukan karena Menma yang membentaknya tapi kata-kata Menma yang membuat dirinya bergetar karena takut. Tidak, dia tidak ingin ditinggal sendiri. ibunya tidak akan mati meninggalkannya.
.
.
Butterfly
.
.
Dentuman suara music mengalun keras dalam satu ruangan. Orang-orang sibuk dengan dunia mereka sendiri, menari dengan bebas di lantai dansa atau sekedar minum dan berkumpul bersama teman atau gadis-gadis cantik yang ada. Uchiha Sasuke salah satunya. Duduk di sofa panjang berwarna merah marun dengan whisky ditangan kirinya. Meneguknya perlahan lalu menaruhnya di meja besar berisi berbagai macam minuman alcohol. Mengganti whisky dengan rokok di tangan kanan. Menyesap dan menghembuskan asap dengan pelan, tenang, dan manly.
Uchiha Sasuke dengan segala tittle kesempurnaan yang selalu melekat pada dirinya. Tampan, kaya, jenius, tipe pria yang dicari seluruh wanita di berbagai pelosok negeri dan jangan lupakan dia pria yang brengsek –begitu Sai memanggilnya- dingin, tidak berperasaan, dan kejam. Orang dengan kepribadian keras kepala dan tidak bisa dibantah, begitu menyebalkan dan juga bossy. Bahkan Sai berfikir jika Sasuke adalah iblis bukan manusia.
Dan hari ini Sai hanya bisa mengernyit dahi ketika Sasuke datang dengan mood yang benar-benar jelek. Bisa dilihat bagaimana dia yang dingin kini bisa menyamai kutub utara tapi Sai tidak ingin bertanya lebih jauh, mencari aman dengan berbincang bersama beberapa teman mereka yang datang hari ini seperti Suigetsu, Kimimaro dan Utakata. Juugo dia tidak ikut bergabung hari ini dia bekerja sebagai bartender disana. Tidak hanya Sai mereka semua juga bisa merasakan Sasuke sedang tidak ingin diganggu maka lebih baik mereka diam dan menyingkir dengan tenang.
Memang benar hari ini adalah hari paling sial bagi Sasuke. Hari ini dia kembali bertengkar dengan ibunya serta sang ayah 'tercinta' hingga berakhir dengan mobil miliknya yang disita. Dia bahkan naik taksi datang kemari, tidak hanya itu beberapa orang juga datang menganggunya. Tadi pagi sebelum mobilnya disita ketika akan pulang kuliah dia mendapati mobilnya dicoret-coret oleh orang-orang tak berotak dan juga harus berurusan dengan teman 'tersayangnya' pagi tadi.
Mematikan puntung rokok pada asbak di atas meja memutarnya hingga padam. Berjalan keluar meninggalkan teman-temannya yang menatapnya bingung. Dia hanya butuh udara segar berjalan-jalan sepertinya bukan ide yang buruk daripada harus kembali menghabiskan malamnya di suit room besama salah satu wanita-wanita tersebut.
..
..
Butterfly
..
..
"Apa?"
"Iya.. Ibumu harus dioperasi"
Naruto mengusap kening lalu menyibakkan rambutnya yang ke depan dengan jari-jari ke belakang. Bahkan tangisannya belum reda sejak dia membawa ibunya ke dalam ambulance hingga masuk rumah sakit hingga mengetahui jika ibunya menderita gagal jantung. Menggigit ujung bibirnya. "Lalu kenapa lagi? Bukankah dia harus diopreasi?"
"Maaf tapi anda belum melakukan pembayaran administrasi?" mencengkram erat ujung jas sekolah yang belum dia lepas hingga sekarang bahkan sudah hampir kering terkena AC rumah sakit.
Memejamkan mata, tubuhnya benar-benar lemas sekarang. "Be-berapa?" bertanya dengan suara yang bergetar.
"Dua puluh juta yen" mata birunya membola, pupilnya mengecil. Dua puluh juta yen? Dimana dia bisa menemukan uanga sebanyak itu dalam satu malam. Dia bahkan masih anak SMA yang sebentar lagi lulus. Dia bahkan bergantung pada beasiswa untuk sekolahnya. Ibunya hanya bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Bahkan jika digabungkan dengan gaji kerja part timenya tidak akan mencapai sebesar itu.
Meraih salah satu tangan suster yang bebas tidak memegang sebuah catatan. Menggenggamnya memohon sebuah bantuan. "Tidak bisakah kalian mengoperasinya sekarang? aku berjanji akan melunasinya nanti jika aku mendapatkan uang!"
Menggeleng menolak ucapan Naruto. "Maaf kami tidak bisa ini sudah kebijakan rumah sakit"
"Kebijakan apanya jika membiarkan seorang pasien mati?!" tanpa sadar Naruto mulai meninggikan suara membuat suster di depannya mundur satu langkah karena kaget. "Ku mohon.. tolong ibuku aku pasti akan membayarnya.. ku mohon"
Sungguh Naruto tidak tahu harus bagaimana lagi yang bisa dia lakukan adalah memohon dengan tangisan yang serak, seperti anak kecil yang kehilangan benda berharga miliknya. Naruto bahkan tidak perduli dengan orang-orang yang berlalu lalang menatapnya yang kini tengah terduduk lemas menggenggam erat sebelah tangan suster meminta pertolongan.
Ada perasaan kasihan tapi dia juga butuh uang untuk hidup dan tidak mungkin melanggar peraturan karena seorang anak di depannya. "Maaf kami-"
"Lakukan saja operasinya! Aku sudah melunasi biaya administrasi"
Naruto mendongak menoleh ke belakang. Mengabaikan suster yang membungkuk dan pergi meninggalkan mereka setelah mencatat di buku medisnya. Tubuhnya masih terduduk di lantai yang dingin dengan bajunya yang belum kering sempurna dan mungkin saja dia bisa sakit nantinya tapi Naruto tidak memperhatikan dirinya.
Hari ini mungkin Tuhan mengirimkan salah satu malaikat miliknya. Disaat orang-orang mengabaikan jeritan minta tolong yang dia suarakan di tengah-tengah hujan pria ini yang sama sekali tidak dia kenal menawarkan dirinya secara langsung, memberikan pertolongan pertama dan membawa ibunya kerumah sakit. Dan sekarang pria itu kembali menolongnya untuk membiayai operasi ibunya. Naruto tidak tahu bagaimana membalasnya, dia bahkan belum sadar dari rasa terkejut saat bagaimana ucapan pria tadi mau menghamburkan jutaan yen di sakunya untuk orang yang tidak dia kenal.
Laki-laki itu mendekat berjongkok dengan sebelah lututnya menyentuh lantai dengan tangan kanannya berada diatas lutut di kaki kanannya. Kini Naruto benar-benar bisa melihatnya, benar-benar memperhatikan wajah malaikat penolongnya. Seorang pria tampan dengan rambut hitamnya dan juga rahang yang tegas. Tubuhnya tinggi tegap dengan bahu yang lebar. Matanya yang hitam menyorot tepat pada mata miliknya. Lidahnya kelu, lupa bagaimana cara mengatakan terima kasih.
Mata birunya melebar, sebuah telapak tangan yang besar menyentuh keningnya. Terasa begitu hangat, reflek kepalanya mundur karena begitu tiba-tiba. Pipinya bersemu saat melihat senyum tipis di depannya. "Wah.. tubuhmu kuat juga" matanya mengerjap beberapa kali lalu menunduk saat pria di depannya menarik ujung bibirnya keatas. Menyeringai geli kearahnya sebelum berdiri dan berjalan pelan meninggalkannya. "Bangunlah kau akan demam jika terus disana.
Naruto mulai berdiri dari duduknya di lantai, mengikuti pria di depannya meski dia tidak meminta. Setidaknya Naruto akan berterima kasih dan membalas budi tanpa meninggalkan hutang. Karena itulah bagaimana ibunya mengajarkan dia hidup.
..
..
Butterfly
..
..
Berjalan perlahan dengan salah satu tangan berada di saku hoodie dan sebelahnya lagi dengan minuman kaleng yang sesekali dia teguk. Sasuke berjalan pelan, jarang dia bisa berjalan sendirian dengan tenang seperti ini meski tetap menarik perhatian setiap orang. Sasuke bukan berjalan tanpa tujuan hanya saja mala mini entah kenapa dia ingin terbebas dari pengapnya udara di club malam atau bisingnya suara di sekitarnya. Sasuke hanya ingin waktu untuk dirinya sendiri.
Sebuah toko bunga berada di depannya, berjarak sepuluh langkah dari kakinya berdiri. Sasuke masih ingat apa yang dilihatnya tadi siang. Bosan menunggu lampu merah di traffic light membuat Sasuke mencari-cari sesuatu untuk mengalihkan rasa bosan miliknya. Mungkin saat itulah dia bisa melihat bagaimana seorang gadis SMA dengan wajah idiot –menurut Sasuke- menghabiskan waktu dengan mengamati seekor kupu-kupu yang dengan anehnya hingga diantara bunga yang di jajakan oleh penjual di depan tokonya.
Masih ingat dan terekam dengan jelas bagaimana gadis itu. berambut pirang dengan senyuman lebar di wajahnya. Bermata biru seperti langit cerah, Sasuke tidak mengerti hanya saja dia tidak bisa menoleh kearah lain mengamati selama lampu masih menyala merah gadis itu berdiri disana dengan tubuh sedikit membungkuk demi bisa melihat kupu-kupu lebih dekat. Matanya berbinar seperti melihat sebuah harapan yang terang. Juga Sasuke tidak akan lupa bagaimana senyuman itu bertambah lebar dengan memperlihat sederet gigi, hanya satu yang Sasuke tidak mengerti bagaimana hal sederhana itu bisa begitu membahagiakan untuk sekedar dilihat.
Memutuskan perhatiannya saat suara klakson mobil lain mengembalikannya pada jalanan di depannya. Meninggalkan gadis yang menjadi perhatian pada jalanan di sekitarnya tapi Sasuke masih bisa melihatnya melalui spion mobil, dan saat itu Sasuke menyadari jika itu adalah pertama kali baginya untuk memperhatikan sekitarnya.
Melemparkan minuman kaleng miliknya yang sudah kosong pada tempat sampah di dekatnya. Menutup kepalanya dengan tudung hoodie dan memasukkan kedua tangan di saku hoodie biru gelap yang dia kenakan. Berjalan melewati toko bunga disana, dengan kupu-kupu yang sama kembali hinggap di bunga yang sama selepas dia melewatinya.
..
..
The past is the choice that we've been through. The future is a choice that we have planned
..
..
To Be Continued
Hai….. lagi aku bawa fic baru di sini, genre yang lebih berat dari Janus bisa di lihat dari ratenya yang tertera kekekeke..
Maaf kalo awalnya agak bikin bosen atau masih kurang ngeh sama jalan cerita emang sengaja aku bikin pendek, fic ini terinspirasi dari beberapa drama korea yang aku tonton sama ide yang tiba-tiba melintas gitu aja waktu baca FF SasuNaru. Oke mungkin fic ini akan terasa begitu drama dan melankolis nantinya (mungkin) jadi aku harap kalian nggak bosen bacanya hohoho..
Sekali lagi terima kasih untuk yang berminat reviews, fav, dan follow.. mungkin kali akun ini makin rame makin banyak FF yang bakal aku publish.. arigato
See you next fict
Chrysanthimum Bluesky
