OH... My Little Kitsune

by

uzumakinamikazehaki

.

.

.

Disclaimer:

Naruto cuma punya Mashashi Kishimoto

Pairing:

SasuNaru

Raiting: T

Warning:

AU, GE-je, OOC,BoyXBoy, Typos, dll.

.

Summary: Naruto adalah hasil percobaan gagal Orochimaru dan Kabuto / setelah sadar "Ku sudah sadar" ucap laki-laki itu / "Aku dimana? tanya naruto / Oh... My Little Kitsune / siapa kau?jangan mendekat.

.

.

.

No like, Don't Read...!

.


Chapter : 1

'Lari aku harus lari'

Batin seorang anak berkulit tan, memiliki luka di kedua pipi melintang seperti kumis, berambut pirang jabrik. Tubuhnya yang kecil tak sepadan dengan tubuh kedua orang yang mengejarnya. Mata hari hampir mengecil itu berarti hutan akan gelap.

'Kami-sama tolong aku'

Batin pemuda berkulit tan itu lagi sambil terus berlari melewati hutan karena dia tak mau tertangkap kedua orang itu. BUlir-bulir keringat tampak di mukanya.

"Berhenti…Ku bilang berhenti…." Teriak orang berkaca mata.

Berlari, terus berlari kedepan tanpa tujuan.

'Aku tak ingin tertangkap lagi'

Namun tiba-tiba kakinya terasa oleng akibat batu yang terinjak.

Buk...! anak itu terjatuh.

Kedua orang itu tersenyum karena Kami-sama berpihak pada mereka. Tanpa banyak tingkah mereka menghampiri tubuh anak itu. Si pirang tak dapat menghindar karena tangan si kaca mata sudah memegangi tubuhnya. Membrontak pun percuma karena tenaganya sudah habis untuk berlari.

"Haa... kau menyusahkan." Kata pemuda berkaca mata. Si pirang digendong oleh si kaca mata. Nafas si pirang masih memburu.

"Ha...ha...Per...ha...gi...ha...lepas." Ucap si pirang yang masih kesulitan mengatur nafas.

"Uh... Kau menyusahkan, Kabuto bawa dia." Kata seorang berambut hitam panjang.

"Tentu...Orochimaru-sama." Kata si kacamata sambil terus memper erat dekapannya.

Si pirang tak dapat melawan, badan kecilnya tak dapat mengalahkan kekuatan si kacamata, hanya satu yang ia miliki kecepatan lari, dia lebih unggul dari kedua orang itu. Namun sekarang kelihatanya berbeda karena kecerobohannya dia dapat tertanggkap.

.


.

Lagi-lagi si pirang dibawah keruangan itu. Ruang yang penuh dengan peralatan aneh. Rasanya kemarin dia baru selesai makan ramen ichiraku yang dicintainya, namun diperjalanan pulang si pirang merasa dibuntuti sehingga ia berlari ketempat sepi. Ia sungguh bodoh memilih tempat yang sepi karena tempat itu malah orang-orang itu berhasil menanggkapnya dan membawahnya kesebuah tempat yang tak ia tahu lokasinya. Tempat itu mungkin di tengah hutan karena yang ia tahu setiap kali ia kabur selalu ada banyak pohon besar.

Hari ini aku sudah kabur untuk yang ketiga kalinya dalam sehari. Seminggu berada ditempat itu bagaikan di penjara orang gila. Setiap pagi ketika ia bangun pastilah orang berkaca mata itu menisukinya sesuatu yang tajam. Ia ingin membrontak tapi apa daya tubuhnya selalu di ikat diatas papan tanpa mengunakan pakaian. Sedangkan pria berambut panjang itu hanya menyengir dan memeriksa kertas yang dibawahnya.

Aku tak tahu apa yang dilakukan mereka padaku, namun hari demi hari mereka semakin menyiksaku dengan beberapa cairan yang membuatku muak. Cairan-cairan itu terus dimasukkan pada tubuhku dengan taraf insensitas yang berbeda dengan warna-warna yang berbeda membuat tubuh ku mengejang bahkan terasa di tusuk bagai seribu jarum. Setiap kali cairan itu di masukkan aku selalu menggeliat itu membuat pria berambuthitam panjang tak senang. Aku tak sakit apa pun aku juga tak nakal tapi mengapa mereka selalu menyiksa ku. Aku tak mengenal mereka, aku juga takpunya urusan dengan mereka tapi kenapa mereka melakukan ini padaku.

.


Setelah si pirang tertangkap si kaca mata membaringkan lagi si pirang diatas papan tanpa ada perlawanan dari si pirang. Si pirang yang terus memberontak di jalan tadi sudah dilumpuhkan dengan obat pelumpuh sehingga tubuhnya tak lagi memberontak, namun kesadara si pirang masih ada. Dibaringkan tubuh tan itu di atas meja, si kacamata kembali mengikat pergelangan kaki si pirang dengan tali yang sudah terhubung dengan meja kemidian mengikat tali pada paha si pirang. Pergelanga tangan tannya juga di ikat, dada dan lengannya juga di ikat. Namun si pirang merasa lega dia tak ditelanjangi jika tubuhnya di ikat.

"Orochimaru-sama ini sudah malam apa kita akan melakukannya sekarang." Tanya pria berkacamata. Pria yang ditanya tadi hanya tersenyum lebar sambil menjilat bbirnya membuat tubuh si pirang bergetar.

"Hm... Kita lanjutkan besok saja. Lagi pula buah akan semakin enak jika langsung dipetik dari pohonnya." Kata si orang berambut panjang, namun tiba-tiba pria berkacamata itu menyeringai.

"Ha... baiklah kalau itu kemauna anda." Kata si pria berkacamata.

"Aku yakin besok dia akan semakin matang dan semakin enak pula rasanya." Ucap si rambut panjang dan berjalan keluar meninggalkan si kacamata. Si pirang yang mendengarkan pembicaraan itu hanya bisa membelakkan mata saja dan terdiam.

Pria berkaca mata itu berjalan mendekati ku dan mengusap surai pirang ku dengan lembut. Aku heran orang ini baik atau jahat ya. Namun mereka berdua sama saja aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan. Namun aku jamin besok aku akan semakin di siksa oleh mereka.

"Kau harus menurut jangan melawan." Ucap si kacamata. Namun semua itu benar aku hanya anak kecik berusia tujuh tahun dan apa yang aku bisa, melawan mereka saja tak bisa.

"Aku akan mematikan lampunya kau harus tidur dan mempersiapkan tenaga mu agar semuanya lancar, mengerti..." Katanya dan ia berjalan meninggalkan ku, mematikan lampu. Aku memang selalu sendirian dan kesepian jadi ruang gelap seperti ini sudah terbiasa.

.


.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"

Teriak pemuda berkulit tan itu dengan kencang membuat ruangan itu bergetar.

Orang-orang itu hanya tersenyum lebar dan tertawa diatas penderitaan si pirang. Cairan-cairan itu memasuki tubuh tannya dengan cepat. Setiap kali cairan itu bertemu dengan sel darah merahnya rasanya seperti di tusuk beribu jarum. Efek dari cairan itu membuat kulitnya yang mulus terasa terbakar dan terkelupas. Bercak darah berceceran disekitarnya akibat pengelupasan kulit. Kini tubuhnya terlihat seperti mayat yang sudah membusuk berhari hari. Mata si pirang tak lagi dapat menahan kesadarannya sehingga ia mencoba memejamkan matanya.

.

.

.

-TBC-