Angel

T

Krisho Fic

BL. DLDR yow.


Full Yifan's Pov

Aku tahu dan meyakini bahwa malaikat itu ada. Bahkan sekarang ini, aku yakin ada banyak malaikatㅡyang tak nampak oleh matakuㅡsedang berkeliaran di sekitarku, menjalankan tugas dari Tuhan.

Tapi yang ku tahu, malaikat itu makhluk gaib. Tak dapat di lihat oleh manusia. Tapi aku merasa baru saja berjumpa dengan seorang malaikat. Senyumnya menentramkan hati, tawanya terdengar manis mengalun di telingaku.

Semua itu berawal dari hari itu. Hari dimana aku bertemu dengannya dan membuatku berharap bisa terus bertemu dengannya. Atau lebih dari sekedar bertemuㅡberteman misalnya? Yeah, semoga. Atau mungkin lebih dari teman juga boleh, hehehe.

Jadi, waktu itu akuㅡ

.

.

7:00 AM KST

Tuesday, 22 December 20xx

Sinar mentari hanya menyinari sedikit daerah ini. Di pinggir-pinggir jalan terdapat tumpukan salju. Hari ini pun salju mengguyur kota Seoul walau tak sederas hari-hari sebelumnya.

Pagi ini, aku menjalankan ferrari-ku menuju tempat kuliah-ku. Jalanan terlihat lengang;tumben sekali. Jadi aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang.

Tiba di perempatan jalan. Aku bersiap membelokkan mobilku ke kiri. Namun secara tiba-tiba, ada seseorang yang tengah mengendarai sepedanya yang berlawanan arah denganku. Aku yang terkejut pun refleks menginjak pedal rem hingga tubuhku terhempas ke depan. Dan dahiku membentur klakson mobilku.

Tiiin!

Mobilku bercicit ribut. Ini memalukan. Aku tersadar dan menatap ke depan, pemuda yang mengenakan pakaian tebal dengan syal yang melilit lehernya itu jatuh dengan sepeda yang menindih tubuhnya. Aku bergegas keluar dan menghampirinya.

"Maafkan aku! Kau tidak apa-apa?" Tanyaku lalu mengangkat sepedanya itu dan membantunya berdiri.

"Kurasa kakiku sedikit sakit. Tapi tak apa. Aku masih bisa berdiri."

Ia tersenyum kecil padaku, tampak ingin meyakinkan kalau ia baik-baik saja.

"Kau bisa berjalan dengan baik? Apa mungkin kakimu terkilir?"

Pemuda itu nampak berjalan menghampiri sepedanya.

"Lihat, aku baik!"

Bohong. Aku tahu dia merintih pelan tadi ketika berjalan menuju sepedanya.

"Sudah, tak perlu berbohong. Ayo ku antar kau ke tempat tujuanmu. Kau mau ke mana?"

Ia menggeleng,"Aku tidak mau merepotkanmu."

"Kau tidak akan merepotkanku. Sudah cepat katakan kau ingin ke mana?" Ucapku memaksa.

"Sebenarnya aku ingin ke rumahku, ada barang yang tertinggal. Lalu aku akan kembali ke Hanyang University."

Aku tercengang, itu artinya kami satu universitas! Tapi aku hanya diam lalu beralih membuka bagasi mobilku dan menaruh sepedanya di dalam bagasi.

"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke rumahmu dan kemudian ke Hanyang University."

Ia memelas,"Apa tidak merepotkan?"

"Tidak. Ayo masuk."

"Tapi"

"Aku memaksa."

Cemberut manis, "Oh, baiklah."

.

.

Kami sudah menuju Hanyang University setelah pemuda itu mengambil barangnya yang tertinggal di rumah. Perjalanan kami terasa canggung. Aku sedang fokus mengemudi sambil memikirkan beberapa topik yang pas untuk di bicarakan. Sedangkan pemuda itu nampak mengamati pemandangan di luar sana melalui jendela.

Oh iya. Aku belum tahu nama anak ini.

"Sejauh ini, aku belum tahu namamu."

Ia tersentak, lalu langsung menatap ke arahku dan memberiku senyuman manisnya.

"Aku Kim Junmyeon. Kau?"

Aku blank sesaat setelah melihat senyumannya. Tapi aku segera sadar bahwa aku sekarang ini tengah mengemudi. Aku menggelengkan kepalaku pelan.

"Namaku Wu Yifan."

"Oh, kau dari China ya?" Tanyanya dengan mata bersinar. Dia terlihat lucu.

"Ya."

Kami kembali ke situasi hening. Sisa jarak menuju ke Hanyang University kira-kira sepanjang 2 meter lagi.

"Nah, sudah sampai." Gumam Junmyeon.

Aku mengendarai mobilku masuk ke dalam bangunan itu.

"Eh, kenapa masuk?"

"Tidak boleh ya? Aku kan juga kuliah disini."

Matanya membulat pun juga mulutnya membentuk huruf o.

"Benarkah? Oh iya, kau berada di fakultas mana?"

Aku memarkirkan mobilku, lalu menatapnya sembari menjawab.

"Fakultas hukum. Kau?"

"Aku mengambil sosiologi."

Benar-benar kebetulan yang sangat menyenangkan.

"Gedung fakultas kita berdampingan, bukan?"

Ia tertawa kecil, entah apa yang lucu.

"Kau benar."

Ia membuka pintu mobilku dan keluar dari dalam mobil.

"Ah iya, sepedaku!" Serunya sembari menepuk keningnya pelan.

Kenapa ia harus mengingat sepedanya itu? Kalau tidak kan, aku bisa menawarinya pulang bersama nanti.

"Yifan-ssi, tolong bukakan bagasimu?"

Dengan berat hati aku membuka bagasi mobilku. Dia pun mengeluarkan sepeda birunya.

"Terima kasih, Yifan-ssi."

Senyumannya terukir dan ditujukan kepadaku. Aku pun balas tersenyum padanya.

"Hati-hati," malaikatku.

Senyumanku masih melekat. Tatapanku pun masih mengikuti langkahnya yang kian menjauh dari parkiran. Tiba-tiba aku teringat satu hal. Aku segera meneriaki namanya sebelum terlambat.

"Kim Junmyeon!"

Lalu aku berlari menghampirinya.

"Ya, Yifan-ssi?"

"Boleh minta idline?"

TBC/FIN?


Cerita lama yang dirombak kembali. Bagaimana?

.

15.52 WITA