FANFICTION
BY : KABEL DATA
GENRE : FANTASY , SCI FI, ACTION, HURT COMFORT.
RATING : MATURE (M to Safe) Ada konten dewasa.
Owner Fiction : Me
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Anime : Naruto
If u don't like don't read. I don't want to hit flamer but, u can leave's ur positive comment. Better than silent reader.
Sebelumnya,perkenalkan saya Kabel Data, ntah itu apa tapi aku suka dengan sebutan itu. Terimakasih sudah mengunjungi ceritaku, disini aku akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Ada crack pair, karena aku bosan dengan pair yang itu-itu saja, dan selalu tokoh jahat dalam Anime dibawa-bawa menjadi jahat juga dalam fiction. Aku ingin sedikit berbeda. Tokoh utama tidak semuanya muncul diawal dan selalu yang dipuja *center. Cerita ini mengalir, satu dari satu peristiwa akan memunculkan orang yang baru itu menghubungkan cerita aslinya dan membawa pada poin yang intinya. Aku tidak suka dengan emosi berlebihan dan menggambaran tokoh terlalu lebay, aku ceritakan dengan se-enteng mungkin. Saya terinspirasi dengan mutan. Semoga menghibur.
.
.
.
Cosmic era'31, Umat manusia kini sudah tidak asing lagi dengan robot-robot dan bayi-bayi hasil pengkloningan yang kini difungsikan sebagai tentara militer dan pelayan manusia. Semua bermula dari inovasi dari pemilik Mural Corp. Sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang militer sebagai pendonor senjata dan robot-robot semi militer. Pemilik perusahaan tersebut bernama Jiraya.
Alasan mengapa robot-robot dan cloning sudah mulai dilaksanakan secara berkesinambungan, karena adanya serangan para mutan yang berasal dari Planet Venus. Pada mulanya, Astronom bernama Kisame Hoshigaki dan beberapa rekannya yang mendarat di Planet Venus menemukan sebuah koloni, mirip dengan perkotaan seperti replika bumi. Selama misi meneliti Planet Venus tersebut, Kisame menemukan tambang Uranium dan bebatuan yang tersembunyi di goa-goa yang ternyata itu adalah Kristal merah delima. Uranium sebagai bahan baku dalam persenjataan pegganti nuklir, batu Kristal sebagai aset kekayaan bagi siapa saja yang memilikinya.
Tidak lama mereka memasuki daerah larangan di Planet Venus, Kisame dan rekan-rekannya ditangkap, dipenjara selama kurun waktu dua tahun. Kisame dan rekan seastronomnya diperkenalkan dengan banyak mutan yang ditahan maupun sipir penjaranya. Mereka heran, karena mutan disini persis seperti manusia pada umumnya. Tetapi keanehan terasa, ketika para mutan tersebut beraktivitas, mereka seperti dianugerahi kekuatan alam yang menjadikan mereka sangat kuat, seperti yang dituturkan Kisame, 'beberapa manusia memiliki kekuatan yang menyilaukan seperti kilat, beberapa lagi bisa terbang dan banyak macamnya.'
Itulah alasan mengapa para petinggi Negara terutama Suna , Amegakure dan Konoha sedang gencar-gencarnya membuat persenjataan dan manusia cloning yang akan dikirim ke Planet Venus untuk membuat sebuah Genosida besar pada ras-ras mutan, Genosida adalah menghapusan atau pembunuhan masal pada suatu ras tertentu. Itulah yang akan dilakukan umat manusia kepada para mutan. Bangsa Mutan akan di hapus dan manusia akan menggunakan Planet Venus sebagai bumi kedua bagi mereka, serta mengambil kekayaan alamnya yang berlimpah ruah. Begitu tamak dan serakahnya manusia, bukan ?
Namun, tidak begitu saja para aliansi mutan membiarkan pertiwi mereka di habisi begitu saja. Koloni para bangsa mutan sudah sama-sama canggih seperti manusia natural pada umumnya. Para petinggi mutan membuat perlawanan dengan tanpa menggunakan senjata uranium mereka. Ya, karena para mutan sadar betul akan dampak uranium yang bisa menghancurkan Planet mereka apabila digunakan untuk tujuan merusak. Para mutan menggunakan kekuatan mereka yang bermacam-macam untuk membalas apa yang sudah dilakukan manusia terhadapnya. Tetapi, bagaimanapun hebatnya kekuatan tersebut, mutan mengalami kekalahan, banyak mutan yang mati sia-sia, beberapa ada yang dibawa ke bumi, ada yang dipenjara, dijadikan alat percobaan, diperdagangkan, sebagaian lagi menyusup kedalam bumi dan akan menyingkirkan manusia-manusia dan mengembalikan rasnya. 'Sebuah misi pembalasan'
Seorang pria berambut raven terlihat sedang mematikan televisi yang ada di depannya, ia kembali duduk di bangku yang terbuat dari pohon elm. Decitan suara ketika bangku tersebut dimajukan, pria itu menengadah dan memposisikan badannya senyaman mungkin, sesekali ia memperhatikan ponselnya. Pandangannya tenang dan raut wajahnya yang berbalut bulu-bulu halus menghiasi sekitar bibir dan dagunya.
Ia Nampak terjaga. Parasnya sudah bukan lagi remaja, postur tubuhnya yang berpesona maskulin tertutup rapi dengan balutan seragam kerja sebagai pustakawan. Sasuke namanya, ia lahir dari keluarga menengah bermarga Uchiha. Hanya sekedar marga biasa. Pria dengan pencitraan wibawa dan kesederhanaan pada wajahnya -Lumayan manis. Tidak berlebihan kan ? *saya bosan dengan pencitraan berlebihan yang seakan membuat orang iri. Tampan sekali , cantik sekali, puteri , hime, pangeran ,budak seks, pet, hidup disiksa, nangis-nangisan, ending bahagia. ahhh bosan!
"Melihat tingkah petinggi Negara kita yang serakah, aku lama-lama makin sebal" Naruto dengan wajah sedikit lusuh sedang mengembalikan buku yang ia pegang ke rak yang cukup tinggi, itu membuatnya kesusahan. "Bagaimana denganmu, Sasuke ? apakah kamu berpikiran sama seperti aku? Naruto Nampak uring-uringan.
"Hn."
"Yosh! Aku bisa naruh buku di rak atas tanpa ada yang jatuh. Hahahaha." Naruto nunjuk-nunjuk etalase
"Tumben." Sasuke masih sibuk berfikir sambil menulis presentase pengunjung di perpustakaan yang makin menurun.
"Harusnya kau turut bahagia dong, kali ini aku sukses. Nggak kayak biasanya.. Hahahah.."
"Bahagianya…. Udah kayak orang yang baru diwisuda. Payah" Pria berambut raven menepok-nepok jidatnya.
"Lho, emang ! kan tinggal nunggu beberapa bulan lagi, week!" Naruto dengan nada sarkasmenya yang cempreng.
Gelak tawa membuat pria paruh baya tersebut sedikit mengguratkan senyum pada bibir kawannya yang kini sedang duduk manis. Namanya adalah Sasuke, salah satu penjaga perpustakaan di Ibu Kota Negara Konohagakure. Parasnya Nampak terlihat maskulin, hidungnya mancung, kulitnya sedkit pucat. Pesonanya ? hampir tidak ada sama sekali. Berbeda dengan Naruto, seorang mahasiswa Fakultas Tekhnik yang terlihat sedikit lebih cerewet dan menyenangkan dari pada Sasuke.
"Hei.. mengapa kau hanya duduk saja sih, Suke ? sini kek, ikut bantuin aku menata buku. Aku capek!" Naruto berhenti bergerak dan sejenak mengerutkan dahi, ia Nampak sedang melarutkan perkataannya tadi di dalam otaknya.
" BINGO ! "Sasukeee! Kau kan yang kerja disini, kenapa jadi aku yang harus menata buku sih." Naruto beringsut tidak terima dengan inisiatifnya sendiri. Kacau.
"Siapa juga yang nyuruh…" Sasuke jengah, ia menurunkan volume suaranya "Ini di perpustakaan Naruto, jangan berisik!"
"Nyahhhh-, kau benar juga Suke. Eh, bagaimana nanti sepulang dari shift-mu ini aku traktir kau mie ramen?"
"Hn" Ekspresi datar Sasuke mendominasi.
"Ahhh… Sasuke, kamu seperti gak ada girangnya sama sekali sih . Senang kek, kalo aku traktir!"
"Bukannya seperti biasanya begini, ya?" Sasuke menginterupsi Naruto.
"Eh? Ahh.. i-iya deh. Seperti biasanya gitu, jadi orang yang pelit bin kikir ngomong. Yohhhh- baiklah baiklah, aku malas berdebat denganmu, oh iya Suke… nanti sepulang tugasmu ini, jangan lupa sms aku ya? Kita bertemu di Kay-ramen, aku harus pulang dulu." Naruto menaruh kembali kartu pengunjung ke rak-nya.
"Hn"
"Lho kok terburu-buru sih, Naruto-san ?" tiba-tiba Tenten datang sembari menggandeng bocah kecil yang bernama Ino ikut join.
Sontak Naruto berbalik dan mencubit pipi gembul Ino "Iya, karena kakak keren ini mau ada a-" perkataan Naruto terpotong oleh si kecil Ino yang masih bergelayut bersama Tenten. "Pacaran.. mau pacaran ya kakak?" bocah dengan pipi gembul dan rambut pendek umur enam tahun ini menggoda Naruto.
"Hus.. dasar Ino chan gembul, siapa juga mau pacaran. Hahahha"
"Hmmm.. bener juga kata Ino chan, kapan kamu punya pacar, Naruto ? masa sih mahasiswa tingkat akhir kayak kamu mau jomblo terus." Tenten memandang Naruto inten. Sasuke sweatdrop.
"Mustahil, dia homo." Sasuke nyeletuk dengan penuh kemenangan. Dibalas dengan tatapan nyalang Naruto. Yap dia mendeath glare Sasuke dengan tatapannya.
"Ntahlah, Tenten-san, mungkin menunggu ada bidadari jatuh didepanku. Hahahahha"
"Prett." Sasuke berbalik sambil mengutak-atik bolpoinnya.
"Bidadarinya gak doyan sama kakak." Ino mengemut pensil yang entah ia dapatkan dari mana.
"Heh, beraninya kau anak kecil.. Hahahaha"
Suasana konvrontasi dingin yang dipengaruhi Sasuke pada Naruto-pun pecah gara-gara kelakuan manis Ino kecil. Tenten dan Naruto tertawa, sedangkan Sasuke hanya tersenyum senang melihat teman-temannya. Ino kecilpun langsung di gendong oleh Naruto sembari ia memberi salam perpisahan.
"Adik kecil, kakak harus pu-" Naruto terpotong oleh suara halus yang terdengar cukup dekat.
"Permisi, bisakah kalian mengecilkan suara? ini perpustakaan." Sahutan dari balik bilik rak besar sebelah kiri. Suara itu halus dan tegas.
"Oh, maafkan kami nona." Tenten menyahuti perempuan yang berada dibalik bilik buku. Tiba-tiba Ino merosot dari gendongan Kakak kerennya, berlari menuju ke arah bilik rak buku besar. Lalu ia berhenti sambil melihat sekitarnya, matanya terlihat tercengang.
"Ada ka-kak can -tik." Ino mengeja-eja, ia berjalan mendekati seorang wanita yang sedang meletakkan kaca matanya kedalam saku.
"Hai, bocah kecil, siapa namamu?" Tanya wanita tersebut dengan penuh kehangatan.
"Na-ma aku I-" Naruto memotong kata-kata si-kecil. "Ino nakal dimana ka- hah!" Naruto terkejut melihat seorang wanita dengan penampilan anggun didepannya, tampak wanita tersebut menggunakan pakaian bluse pendek berwarna ungu, dengan rambut tergerai sepundak.
"Namaku, Sakura Haruno." Sakura tersenyum kepada anak kecil yang ada disebelahnya lalu memandang Naruto yang gugup dan kikuk.
"Na-namaku Naruto ehhh hahahah- maksudku nama bocah ini Ino, maaf ya atas keributan tadi, pasti mengganggumu ya?" Naruto memelankan suaranya.
"Tidak, kok. Hanya saja, sedikit mengganggu." Sakura melihat ke bocah kecil yang setia berdiri disebelahnya, ia langsung menggendongnya tanpa basa basi. Sakura berjalan menuju meja staff perpustakaan.
"Hahahaha sedikit" Naruto cengok dengan tawaannya yang kaku.
"Dan kamu, bocah manis, jangan keluyuran sendirian, nanti dimakan sama warewolf loh hihihi."
Sakura menurunkan Ino ke lantai, sontak Tenten dan Naruto tersenyum melihat Sakura yang seperti telah kenal lama dengan mereka. Tapi, tidak dengan Sasuke. Yeah, Ia merasa sedikit tersinggung sambil melihat kearah wanita berrambut pink itu. Ah, sial, Sasuke sedikit merasa bergetar melihat pesona keibuan Sakura. Alis matanya naik, ia berusaha melihat dan mengamati Sakura yang riang dengan ekor matanya. Naruto mengajak Sakura untuk menyantap ramen bersamanya. Sakura meng-iyakan. Sasuke makin penasaran.
Ketika semuanya bubar jalan. Sasuke membuka kembali buku hitamnya. Kembali mengamati dan mempelajari ras manusia yang penuh dengan keunikan, hal ini sungguh-sungguh merepotkan. Melihat manusia yang tidak seperti perkiraannya. Manusia itu baik budinya, Nampak seperti Naruto, manja seperti Tenten dan Anko, mengerikan seperti Jiraya, Kisame, Tsunade dan banyak lainnya. Sasuke kembali membuka-buka buku tentang anatomi manusia dan mempelajarinya satu persatu. Untuk sebuah , suatu rencana yang sangat mulia dimatanya.
Mata Sasuke mengikuti kemana arah sebuah bacaan yang bermuara pada kata 'alat reproduksi.' Ah, akhirnya aku temukan suatu hal yang berharga dari buku ini, tidak salah aku memilih tempat ini sebagai bagian dari kemulian dari rencanaku ini. Batin Sasuke, ia tampak tersenyum sambil menggerinyitkan gigi-giginya yang tersusun rapih. Tangannya meraih ponsel flip-top dan menuliskan sebuah pesan singkat.
To : Karin
...
Datanglah ke apartemenku bersama Lee jam 20.00, jangan telat. Aku sudah dapatkan kuncinya. Sasuke.
Sebuah deringan bel berbunyi menyeruak telinga, Sasuke beranjak ke mikrofon lalu mengumumkan bahwa waktu kunjungan perpustakaan sudah habis, perpustakaan akan segera tutup. Beberapa menit kemudian, banyak mahasiswa dan kalangan remaja keluar dari perpustakaan Nasional besar tersebut. Kemudian ia menghadiri acara kecil Naruto. Dan pertemuannya kepada seorang manusia baru bernama Sakura.
20.00 pm
KNOK .. KNOK .. KNOK
Terdengar beberapa kali pintu apartemen Sasuke yang diketok oleh seorang pemudi tomboy bernama Karin, diikuti pula oleh Lee. Mereka berdua mengetok-ketok pintu apartemen Sasuke. Lee mengamati lorong apartemen Sasuke yang Nampak lenggang. "Aduh, payah sekali apartemen Sasuke ini, sama sekali gak ada belnya." Lee menggerutu sambil menggaruk-garuk pipinya dengan kesal.
"Sabarlah sedikit, Lee. Mungkin Sasuke sungguh kelelahan hari ini, jadi dia tidak mendengar kita disini." Karin mencopot topinya dan menggeraikan rambut panjangnya. "Alah, ketiduran apa kitanya yang kurang tepat waktu." Lee kesal dan diam.
"Atau mungkin kau harus melakukan yang seperti biasa kau lakukan." Karin mencelos dengan wajah agak angkuh.
"Kalo itu maumu."
"Dari pada menunggu kelamaan."
"Oke … hap hap melelehlah tubuhku sayang…"
Lee langsung menerobos celah-celah pintu bagian bawah. Badan Lee mulai berubah elastis terlihat seperti karet, badannya mampu menyusup ke celah-celah sempit. Klok, terdengar kenop pintu kamar Sasuke yang sudah terbuka. Karin masuk dan membangunkan Sasuke yang sedang tidur kekenyangan. Sejenak Sasuke bangun dari tidurnya, sambil mengucek-ngucek matanya yang masih Nampak mengantuk.
"Apa yang kau dapat dari perpustakaan itu Sasuke?" Lee to the poin. Karin langsung menarik Lee yang Nampak sangat antusias dengan bayangan kebahagiaan masa depannya. "Ssst..sshh sabar dulu dong, Lee. Biarkan Sasuke bernyawa dulu."
"Sakura." Sasuke enteng.
"Sa-saku-ra? Hah ? sakura itu apa ? makanan?" Lee cengok dan sedikit kebingungan dengan apa yang Sasuke katakan, begitu pula dengan Karin yang langsung berhenti dari aktifitas ngedumelnya.
"Oh, jadi Sasuke mengundang kami kesini karena mau pamer pacarnya baru." Karin ikut-ikutan bt.
"Terus habis itu pasti ada makan-makannya kan?" alis Lee naik turun kegirangan sambil badannya mepet ke Karin.
"Bukan itu." Sasuke menghembuskan nafasnya yang berat, ia mengambil minuman kaleng. Lalu meminumnya hingga tetesan minuman itu merembes hingga ke kaos dalamnya yang terawang.
"Yalahh.. yalahh, ambilkan aku mie cup dong, Karin." Lee merasakan perutnya minta diisi ulang.
"Ih.. ambil saja sendiri, week!" Karin mulai ribut.
"Lho, lalu apa maksudnya Sakura itu, Sas ? apa itu merk cat tembok,, ngaahhh kayak di toko-toko material."
"Bukan. Dia itu seorang wanita dan-" lagi-lagi perkataan SAsuke terpotong oleh Karin yang Nampak panas.
"Dan wanita itu adalah pacar baru Sasuke, terus habis punya pacar lupa sama semuanya. Hallooo! Sasuke, kamu masih di alam mimpi yah!" Karin geram , pelipisnya berkedut-kedut Nampak emosinya sedikit berkobar, yeah bisa dibilang sedikit cemburu kepada rekan se-mutannya.
Sasuke mulai risih dengan perkelahian si karet dan si centil yang bisa terbang ini. "Yah, aku sudah bangun kok. Tenang saja dia bukan pacarku. Dia hanya alat perantara kita." Sasuke duduk selonjoran kakinya. Ia mengeluarkan buku anatomi dan biologinya, Lee langsung sigap membuka halaman per halamannya. Terlihat banyak informasi khususnya tentang reproduksi manusia.
" Sakura, wanita, buku reproduksi, jumlah mutan makin sedikit dan hampir punah. Ya tuhan, apa kau benar-benar mau melakukan itu, Sas?"
"Bukan Cuma aku, tapi kita semua. Termasuk mutan wanita."
Mata Lee membulat sempurna, karena ia tidak percaya dengan apa yang akan Sasuke lakukan, mengingat populasi mutan sepertinya diambang kehancuran. Lee mengada-ngada. Akankah ia akan melanjutkan keturunannya bersama manusia? Oh tuhan itu sangat diluar batasku, Lee bergumam dalam hati.
"Hmmm… apakah itu rencanamu Sasuke? Yang tadi kamu bicarakan itu gak benar kan?" Karin mulai resah, jantungnya berdebar-debar menunggu jawaban dari Sasuke yang ia suka itu. Tidak, pasti tidak ini tidak mungkin, Karin berharap dengan sungguh-sungguh dalam hati.
"Begini rencananya, setelah lama aku memahami dan membaca banyak buku mengenai manusia, mereka sama seperti kita, tapi- cara reproduksinya saja yang berbeda." Sasuke meletakkan minuman sodanya sambil duduk disebelah Karin.
"Sini, biar aku pijitin kamu, Sasuke." Karin mengambil ancang-ancang dibelakang Sasuke lalu mulai memijiti pundaknya dengan ikhlas. Sasuke hanya diam dan berusaha menikmati pijitan dari temannya yang tomboy ini.
"Well, selama tiga bulan bekerja di ruangan sumber informasi itu, aku kira kau tidak mendapatkan apa-apa." Lee menyeletuk sambil mengelus permukaan perutnya.
"Aku kira pun begitu." Sasuke menggaruk jemari kakinya yang terasa gatal. Hening lagi.
"Aduh Sasuke, lalu ngapain kamu sms aku dong, kalo enggak ada modal awal buat rencana ini." Karin meruntuk.
"Tenang saja, aku undang kalian kesini karena aku dapatkan sebuah rencana mengenai reproduksi tersebut." Sasuke yang terkenal diam dan pemurung Nampak sedikit berbeda. Ia mencrocos sambil memperlihatkan buku anatomi tubuh manusia. Karin membuka satu-persatu halamannya dan membacanya sampai pada bagian yang sengaja Sasuke stabilo.
"Sebisa mungkin, kita menjalani hidup seperti manusia biasa, kita tidak boleh terlihat mencolok didepan manusia, sehingga dengan mudah kita bisa mengecoh mereka." Sasuke menuturkan.
"Aku dengar, manusia memiliki satu kelemahan, yaitu perasaan." Karin mendudukan dagunya dikepala Sasuke.
"Memang itu yang akan kita pakai, para mutan laki-laki harus bisa mendapatkan wanita, memanfaatkan apa yang dinamakan perasaan itu, lalu mereka bereproduksi. Hmmm, satu wanita saja sudah cukup."
"Bagaimana kalo dua, tiga, empat ahahahha lima dan ena-" BRUKKK sebuah buku Anatomi terpempar dan mengenai kepala Lee dengan sempurna"Aduh! Sakit tau Karinn, aku kan Cuma bercandes ajaes."
"Brisikkk kau Lee, ayo Sas, lanjutkan." Karin tidak mempedulikan Lee yang kesakitan.
"Setelah itu, kita buat mereka menyukai kita, disitu kesempatan kita untuk melakukan reproduksinya, sebisa mungkin kita lembut terhadap mereka. Wanita tidak akan bisa lari jauh terhadap Pria, begitupula sebaliknya. Yeah, apabila sudah cinta. Setelah kita dapatkan keturunannya, kita ambil dan tinggalkan dia. Tidak repot bukan?" Sasuke menerangkan sambil menikmati pijatan Karin.
"Apa kau enggak kasian sama mereka ya, Sas? Si badan karet garuk-garuk pipinya yang terasa kusut tidak gatal.
"Kasian ? dari mana kita diajari rasa kasihan sedangkan mereka berusaha menghabisi semua mutan yang tertangkap."
Hening. Lima menit –sepuluhmenit.
"Dan selanjutnya, akan aku selidiki bagaimana cara reproduksi manusia, aku banyak mendengar hal yang aneh dari salah satu temanku bernama Naruto. Dan mungkin aku harus banyak mengorek info darinya."
"Yeah…. Itu sih gampang. Masa yang itu saja gak tau sih Sas? hahahah" Lee untuk urusan ini Nampak lebih cerdas dari kedua mutan itu.
"Aku memang tidak tau, Lee" Ia menekan suaranya yang sedikit frustasi karena ejekan nakal Lee.
"Polos sekali apa pura-pura nih?"
"Polos atau tidak itu tidak penting, karena memang aku tidak tau caranya. Diberitahu-pun aku juga sedikit ragu."
"Hmmmm…. Sebenarnya mudah bila kita mengakali para manusia keji itu, dibalik mengerikannya topeng mereka. Mereka pun seperti anak anjing yang setia pada majikannya, yep seperti itulah korelasi antara manusia dan perasaan." Papar si makhluk karet.
"Tidak semuanya setia. K- A." Sasuke menginterupsi. "Tapi sebagian."
"Begitu lemahnya kau, para manusia." Ritme pijatan Karin makin menggebu.
"Apa kau sudah siap dengan semua ini, Sasuke ? apa kau yakin ? kita- eummm… maksudku, kita hanya segelintir mutan, dan kita masih muda." Lee mengotak-atik ponselnya sambil menulis sebuah pesan.
Karin menghembuskan nafas panjang "Ini seperti mimpi di siang bolong."
"Kita bisa mengalahkan koloni manusia, mereka yang membuat ulah dan mereka harus merasakan deritanya" Sasuke memperhatikan langit yang sudah mendung sedari tadi, mencium aroma akan turun hujan. Perasaannya sedikit kacau, rambutnya berkobal terhembus angin sepoi-sepoi.
Beberapa jam setelah Karin dan Lee datang, dua orang baru masuk kedalam apartemen Sasuke, Sai dan Shikamaru. Mereka turut merencanakan beberapa hal mengenai misi balas dendam terhadap manusia, terutama Mural Corps dan para pejabat tinggi Negara yang menjadi otak dari ini semua. Tidak lupa, Shikamaru langsung mengabari semua mutan yang melarikan diri ke bumi akan misi tersebut. Semua mutan bahkan tidak percaya akan melakukan hal yang tidak lazim seperti itu, tetapi, apa daya mereka, populasi mereka tinggal sedikit dan mereka tidak akan diam begitu saja.
"Sudah delapan tahun kita menahan Ini." Karin melepaskan tangannya dari pundak Sasuke, suaanya mulai sera.
Karin terduduk dibelakang Sasuke, ia menunduk dan berusaha menegarkan diri. Suasana menjadi hening, hujan tiba-tiba mengguyur kota Konohagakure, hawa segar bercampur dengan bau aspal jalanan menyeruak ke hidung para mutan-mutan itu.
"A-yah, ibu, kakak.. " Karin mengepalkan kedua tangannya yang bertumpu diatas pahanya. "M-mereka ..dipaksa mati, oleh manusia-manusia laknat itu." Karin merasakan dadanya seperti terganjal oleh batu besar. "Mengapa harus mereka yang mati, dan meninggalkan aku. .. mengapa mereka harus menyembunyikanku dan membiarkan aku hidup, ini tidak adil." Mata Karin memerah, namun ia menahannya. "Manusia bumi semuanya iblis. Apa salah kita pada mereka ? kita tidak pernah mengusik mereka.. tapi, me-mereka merenggut kebahagiaan kita. Dan sekarang kita yang tersisa akan dibinasakan secara keji."
"Tenanglah Karin, pasti ada jalan keluarnya." Sai sambil berdiri di dekat jendela, ia Nampak menikmati guyuran hujan yang menerpa tangannya.
"Kau bilang tenang ? apa yang ada di dalam otakmu, Sai? mutan seperti kita akan habis, tidak ada yang tersisa!" Karin mengeraskan nada suaranya. "Kita akan habis, oleh manusia brengsek itu, apa kau masih berpikir santai dan bersantai, hah?"
"Karin tenanglah." Sasuke berusaha mengontrol amarah dan membujuk Karin untuk diam.
"Kau tau.. imipanku sedari dulu tidaklah muluk-muluk, aku ingin hidup bahagia, bersama suami dan anak-anakku kelak, tapi apa! untuk bernafas saja sekarang sulit!"
Perkataan Karin membuat Telinga Shimaru panas, begitupula dengan Lee. Perasaan mereka begitu luka dan malang. Seperti hidup tidak berpihak pada mereka. Sasuke melirik Karin yang menahan aura menangisnya, ia sangat terenyuh melihat kawannya yang ceria berubah menjadi seperti ini. Dalam hati Sasuke, ia bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada semua umat manusia ini. Apapun caranya.
Sasuke meredupkan mata onyxnya. Ia mendengarkan derita Karin yang sama sepertinya. Fugaku Uchiha ayah Sasuke, Mikoto Uchiha ibu dan Itachi Uchiha-kakak kandung Sasuke, mati sangat mengenaskan dikarenakan melawan para teroris dari bumi dengan bergabung ke dalam militer, menyisakan Sasuke sebagai satu-satunya pewaris kekuatan api.
"Sabar ya Karin, sebentar lagi kan tahun baru." Lee nyeletuk tanpa berpikir.
.
.
.
Terimakasih banyak, teman-teman. Lanjut atau Hapus? Mohon di review. Maaf apabila masih banyak kesalahan pada penggunaan kata dan penulisan.
