Min Yoongi x Park Jimin


Deringan bising ponsel di atas nakas yang menelusup paksa indra pendengaran membuat atensi semanis cokelat bergulir spontan. Kegiatan merapikan tatanan rambut ia urungkan sejenak, lebih memilih menenangkan benda mungil nan canggih tersebut.

Manik cokelatnya berbinar, senyum bibir penuhnya mengembang, aliran darah nampak berpusat di daerah pipi gembilnya tatkala sebuah nama terpancang jelas pada layar ponsel.

Min Yoongi.

Ia mendekatkan ponsel menyentuh daun telinga. "Halo?" kata pertama yang terucap saat panggilan itu tersambung.

"Jiminie? Apa kau sudah bersiap?"

Mata Park Jimin melirik ke pantulan refleksinya. Menilik ringan. "Hampir siap."

"Jangan terlalu lama bersiap atau kencan kita akan batal,"

Jimin mendengus pelan. Ia membimbing diri lebih dekat dengan cermin di hadapan kemudian mengapit ponsel di antara bahu kiri dan telinga kirinya. Ia kembali membenahi tatanan rambut yang memang belum bisa dikatakan selesai.

Walau memang Park Jimin di kehidupan sehari-hari sudah oke, tapi tetap saja, tak ada salahnya seseorang ingin terlihat sedikit lebih oke saat melakukan kencan pertama mereka, 'kan?

Ya, kau tak salah lihat, membaca atau mendengar. Kencan pertama!

Park Jimin ingat bagaimana sulitnya ia berjuang untuk meluluhkan hati sedingin kutub itu selama empat tahun. Namun, baru mendapatkan respon delapan bulan lalu, dan mendapat status resmi sebagai pasangan satu bulan yang lalu.

Menyedihkan, bukan?

Tapi biarlah, yang jelas Park Jimin telah menuai kemanisan sekarang.

Omong-omong soal kencan, Yoongi dan Jimin sudah berapa kali berjanji, dan ternyata sibuknya Min Yoongi tak dapat ditolerir sehingga berakhir pada pembatalan kesepakatan tersebut.

Namun, Jimin sangat berharap kencannya kali ini benar-benar terlaksana.

"Tak apa, 'kan? Memangnya kau sudah sampai?"

"Belum, tapi sebentar lagi aku sampai. Tunggu aku di depan rumahmu,"

Senyum penuh Jimin kembali terlukis. "Kalau begitu aku matik—"

"Tu-tunggu," Jimin batal memutus panggilan mendengar penahanan Yoongi. "Se-sepertinya kencan kita memang harus dibatalkan lagi,"

Dahi Jimin berkerut dalam, kesal. Ia baru akan memprotes sebelum—

"Aku mencintaimu,"

Detik lanjut, mata sipit Jimin melebar, air mukanya tegang, tubuh bergetar dan lututnya langsung melemas ketika mendengar bunyi rusuh memekakkan telinga akibat perpaduan benda keras yang saling terhantam dan decitan rem serta lolongan klakson yang bersautan.

Tut... tut... tut...

Park Jimin melumpuh bersama jatuhnya ponsel dari pegangan. Bibirnya bergetar, "... a-apa ini?"


FIN