Genre: romance
Pairing: Yunjae (genderswitch Jae)
Rating: M
Disclaimer:
Cerita ini fiktif belaka, tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Saya hanya meminjam nama pemeran.
Summary:
Selera Jaejoong perlu dipertanyakan. Ia lebih menyukai Yunhonya yang berlemak daripada yang berotot.
Muscles or Fat?
"Sayang, resleting celanaku rusak." Yunho memberikan celana panjangnya kepada istrinya, Jaejoong.
Jaejoong memandangi resleting celana suaminya yang rusak. "Bagaimana bisa rusak?"
"Celananya terlalu sempit." Yunho sudah mengganti celananya dengan celana pendek berkaret pinggang.
Jaejoong mengerutkan keningnya. "Baru tiga bulan yang lalu kau membelinya. Saat itu celana ini pas-pas saja kau kenakan."
Yunho mengangkat bahunya. "Entahlah, mungkin bahannya mengkerut." Ia tidak ambil pusing dengan hal itu.
Tidak seperti Yunho yang tak peduli, Jaejoong masih bertanya-tanya mengapa celana itu sampai sempit dikenakan oleh suaminya. Ia memandang perut suaminya. Suaminya itu hanya mengenakan kaus singlet. "Yunho, perutmu buncit."
Pandangan Yunho tertuju pada layar televisi. Ia sedang menonton TV sambil makan keripik kentang.
Jaejoong segera merebut bungkus keripik kentang dari tangan Yunho. "Cemilan ini tidak sehat, apalagi kau mengonsumsinya pada malam hari."
"Hey, mengapa kau mengambil semuanya?" Yunho protes.
"Yunnie, sebaiknya kau berhenti memakan cemilan pada malam hari. Lihatlah perutmu sekarang! Kau gendut." Jaejoong menceramahi suaminya.
Yunho memutar bola matanya. "Meskipun gendut, kau tetap cinta, bukan?"
Jaejoong benar-benar marah. "Pokoknya kau tidak boleh memakan apa pun setelah makan malam!"
.
.
.
Jaejoong tidak mengerti bagaimana tubuh suaminya itu bisa sampai membengkak. Saat mereka menikah satu tahun yang lalu, Yunhonya itu masih langsing dan kekar dengan perut kotak-kotak. Bagaimana bisa suaminya itu berubah drastis dalam jangka waktu hanya satu tahun? Setiap hari mereka bertemu, sehingga ia tidak pernah menyadari perubahan itu.
Jaejoong pernah mendengar bahwa pria biasanya akan menggemuk setelah menikah karena hidupnya lebih nyaman, ada istri yang mengurus dan memperhatikan kesejahteraannya setiap hari. "Mungkin selama ini aku terlalu banyak memberinya makanan berlemak."
.
.
.
"Hanya ini? Apa kau serius?" Yunho terkejut melihat menu sarapan yang tersaji di meja makan. Ia hanya menemukan sayuran rebus di piringnya.
"Kau harus diet mulai sekarang. Kau harus mengembalikan bentuk tubuhmu seperti semula," jawab Jaejoong.
"Untuk apa aku diet? Memangnya kenapa jika perutku buncit? Selama ini kau tidak pernah mempermasalahkannya." Yunho meminta penjelasan.
"Ini demi kesehatanmu, Yunho. Kau juga harus lebih rajin berolahraga." Jaejoong sangat cerewet.
Yunho tidak bisa protes. Ia tak ingin membuat nyonya besar marah. Ia tidak ingin mereka bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini.
.
.
.
Yunho masih lapar. Sarapan yang disajikan Jaejoong tidak bisa membuatnya kenyang. Sebelum pergi ke kantor, ia mampir di toko swalayan untuk membeli banyak sekali cemilan untuk di kantor. Jika ia tidak bisa makan cemilan di rumah, ia masih bisa makan cemilan di kantor. Istrinya itu terlalu berlebihan. Hanya karena resleting celananya rusak, ia harus menderita seperti ini.
.
.
.
Jaejoong adalah seorang mantan model. Ia pensiun dari dunia modeling setelah menikah dengan Yunho. Ia pensiun saat ia sedang berada di puncak karirnya. Ia sama sekali tidak menyesal meninggalkan masa kejayaannya itu demi lelaki yang ia cintai. Setelah ia pensiun, para juniornya sering meminta saran darinya. Ia adalah model senior yang sangat dihormati.
Malam ini Jaejoong menghadiri pesta pernikahan temannya sesama model. Tentu saja ia datang bersama suaminya, Yunho. Sudah lama ia tidak muncul di depan publik. Tentu saja kemunculannya malam ini di pesta pernikahan seorang model terkenal yang masih aktif menjadi sorotan media dan juga para tamu yang hadir. Sebagian banyak tamu yang hadir berasal dari kalangan selebriti.
"Lihat, itu Kim Jaejoong! Sudah lama ia tidak terlihat. Ia terlihat semakin cantik saja."
"Ia tampak bahagia dengan pernikahannya. Sepertinya ia sangat menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga."
"Ia pasti datang dengan suaminya yang tampan. Di mana suaminya itu? Aku ingin melihatnya."
"Apa pria di sebelahnya itu suaminya?"
"Sepertinya memang benar. Mereka bergandengan tangan. Suaminya itu memang tampan dan bertubuh tinggi."
"Pria itu memang tampan dan tinggi, tetapi lihat perutnya, buncit."
"Apa benar itu Jung Yunho? Ia terlihat berbeda dari setahun lalu, saat ia menikahi Jaejoong, kontras sekali dengan Jaejoong yang semakin langsing. Ia terlihat seperti om-om dengan perut buncitnya itu, padahal usianya masih tiga puluh tahun."
Jaejoong sempat mendengar bisik-bisik dan komentar negatif mengenai suaminya. Tentu saja hatinya panas, apalagi teman-temannya juga menyindirnya dengan jelas. Mereka membandingkan Yunho dengan pasangan mereka yang bertubuh kekar.
.
.
.
Jaejoong pulang ke rumah dengan mood yang buruk. Orang-orang di pesta itu benar-benar keterlaluan. Tidak sepantasnya mereka menjelek-jelekkan suaminya. Hal itu tidak sopan, apalagi sampai didengar oleh dirinya dan Yunho.
"Kau kenapa, Sayang?" Yunho duduk di samping istrinya yang cemberut.
Ia juga merasa kesal kepada Yunho. Bagaimana bisa suaminya itu tenang-tenang saja mendengar gunjingan orang-orang? Ia memalingkan wajahnya.
"Apa kau marah karena perkataan orang-orang di pesta tadi?" Yunho sudah bisa menduganya.
Jaejoong tidak merespon. Hatinya terasa panas. Ingin sekali ia mencakar orang-orang itu.
Yunho menghela nafas. Istrinya itu benar-benar marah. "Kau tak usah pedulikan kata-kata mereka. Anggap saja itu angin lalu. Perkataan mereka juga tidak membuat kita rugi."
Jaejoong menatap tajam suaminya. "Bagaimana bisa kita mengabaikan hal itu begitu saja? Kata-kata mereka sangat pedas. Tak tahukah mereka bahwa perkataan mereka bisa melukai perasaan orang lain?"
Yunho mengusap-usap punggung istrinya. "Sudahlah, tidak usah diambil hati. Nanti kau sendiri yang rugi."
Perkataan suaminya tak bisa mengobati kekesalan Jaejoong. "Kau juga Yunho, seharusnya kau memperhatikan makanan yang kau makan. Masih saja aku menemukan remah-remah tertinggal di kemejamu. Bukankah aku sudah melarangmu untuk memakan cemilan? Kau tidak menghargai usahaku yang sudah bersusah payah menyusun menu makananmu, menghitung kandungan nutrisinya dengan cermat. Semua usahaku sia-sia jika kau tetap saja memakan makanan yang tidak sehat tanpa sepengetahuanku. Kau pikir aku tidak akan tahu, hah?"
Yunho terdiam. Ia tidak mengira bahwa Jaejoong mengetahui apa yang ia lakukan di belakang istrinya itu. Ia seperti seorang suami yang tertangkap basah sedang berselingkuh oleh istrinya.
"Apa kau tidak kasihan kepadaku yang diolok-olok oleh teman-temanku karena suamiku gendut?" Jaejoong terus saja mengoceh. "Mereka berpikir bahwa aku tak bisa mengurus suamiku dengan baik. Aku merasa sakit hati." Ia menitikkan air matanya.
"Apa kau malu mempunyai suami seperti diriku?" tanya Yunho. Ia merasa bersalah karena ia menjadi penyebab Jaejoong diolok-olok oleh teman-temannya.
Jaejoong terdiam. Ia memandang wajah suaminya dengan matanya yang basah. Suaminya itu tampak terluka. Ia menjadi semakin sedih.
"Maafkan aku! Aku telah membuatmu malu di hadapan teman-temanmu." Suara Yunho melembut.
"Tidak, Yunho. Jangan katakan itu!" Jaejoong menaruh jari telunjuknya di bibir Yunho. Ia merasa bersalah. Kata-katanya yang justru menyakiti hati suaminya. "Maafkan aku! Seharusnya aku tidak mengatakan semua itu kepadamu."
Yunho tersenyum tipis. Ia tidak peduli perkataan orang lain. Ia tidak akan merasa sakit hati saat orang lain menghinanya, tetapi hatinya akan sakit jika melihat istrinya bersedih, terlebih lagi yang menyebabkan kesedihan Jaejoong adalah dirinya. Ia bertekad bahwa ia akan berdiet dan berolahraga dengan disiplin agar ia bisa mendapatkan tubuh idealnya lagi seperti dulu dan istrinya itu akan merasa bangga kepadanya. Jaejoong tidak perlu merasa malu lagi di hadapan teman-temannya.
.
.
.
Ternyata tidak mudah bagi Yunho untuk berdiet. Ia sulit untuk meninggalkan kebiasaannya makan cemilan. Rasanya berat sekali menahan godaan keripik kentang, burger, es krim, dan makanan lainnya. Meskipun Jaejoong mengawasinya dengan sangat ketat, tetap saja ia mencuri-curi kesempatan saat Jaejoong lengah.
Sejak kemunculannya di pesta pernikahan temannya, banyak yang menghubungi Jaejoong untuk menawarinya kembali ke dunia model sebagai pengisi acara atau bintang tamu dalam acara yang berhubungan dengan fesyen. Beberapa tawaran tersebut terdengar sangat menggiurkan, apalagi ia meninggalkan dunia modeling secara tiba-tiba saat ia berada di puncak karirnya. Terkadang ia merindukan dunia itu. Namun, ia harus konsisten untuk lebih memilih mengurusi rumah tangganya. Ia terpaksa harus menolak semua tawaran tersebut.
"Jika kau ingin menerima tawaran itu, aku tak akan melarangmu. Kau boleh melakukan apa yang kau sukai." Yunho adalah suami yang pengertian. Ia tidak pernah melarang Jaejoong untuk kembali berkarir di dunia modeling. Jaejoong sendiri yang memilih untuk pensiun. "Mumpung kita belum punya anak."
"Bolehkah?" Jaejoong menatap suaminya dengan tatapan memelas.
Yunho mengangguk. Ia tidak tahan melihat tatapan itu. "Tentu saja, asalkan kau tidak melalaikan kewajibanmu sebagai istri dan ibu rumah tangga."
"Ah, tidak. Sebaiknya tidak usah." Jaejoong merasa ragu. Ia takut dirinya akan terbuai dan melupakan perannya sebagai istri Jung Yunho.
"Mengapa? Silakan saja, aku sama sekali tidak melarangmu," kata Yunho. "Apa kau masih malu karena aku? Apa kau takut mereka mengejekku lagi?"
"Tidak, sama sekali tidak," balas Jaejoong cepat. Ia tak ingin Yunho salah paham.
"Lalu apa?" tanya Yunho lagi. "Kau tidak perlu menahan dirimu untuk kembali beraktivitas. Aku tahu kau sangat mencintai dunia itu."
"Uhm, baiklah," ujar Jaejoong takut-takut. "Aku ditawari untuk melatih para calon model. Kegiatannya akan berlangsung selama dua minggu di Pulau Jeju."
Sebenarnya Yunho tak rela ditinggalkan oleh sang istri selama dua minggu. Akan tetapi, ia sudah terlanjur berkata bahwa ia mengizinkan istrinya itu. Ia tidak ingin mengekang Jaejoong. "Pergilah!" Ia tampak tak rela.
"Akan tetapi, bagaimana dengan dirimu? Siapa yang akan mengurusmu selama dua minggu." Jaejoong ternyata mengkhawatirkan suaminya.
Yunho tersenyum. Ia bahagia karena Jaejoong adalah istri yang perhatian dan senantiasa memikirkannya. "Aku akan baik-baik saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jika aku kelaparan, aku akan pergi ke rumah ibuku dan minta dibuatkan makanan."
"Justru aku khawatir kau tak bisa berhenti makan. Jika aku pergi, siapa yang akan mengawasimu?" ujar Jaejoong.
Yunho tercengang mendengar ucapan istrinya. Perkiraannya salah.
.
.
.
Jaejoong pergi ke Pulau Jeju setelah ia menitipkan suaminya kepada ibu mertuanya. Ia meminta tolong kepada ibu mertuanya untuk sering-sering mengawasi Yunho. Jangan sampai suaminya itu menjadi semakin gendut. Ia juga mendaftar semua hal yang harus dilakukan oleh suaminya itu saat ia tidak ada.
Yunho memandangi catatan yang ditinggalkan oleh istrinya. Banyak sekali yang harus ia lakukan. Jaejoong merancang menu makanan yang harus ia makan selama dua minggu, juga menjadwalkan olahraganya.
Hari pertama dan kedua berjalan dengan baik. Ia melakukan semua instruksi dari Jaejoong. Istrinya itu juga menelepon pada malam hari untuk mengecek apakah ia sudah mengikuti semua instruksinya. "Kukira kau meneleponku untuk mengajakku phone sex."
"Kau lupa meminum jus sayuran hari ini. Aku tak mau melakukan phone sex denganmu. Jika kau melakukan semua instruksiku untuk sehari, malam harinya aku akan menghadiahimu phone sex." Jaejoong mengiming-imingi Yunho agar suaminya itu semangat menjalani program dietnya. "Awas saja jika kau semakin gendut saat aku pulang, aku tidak akan memberimu jatah selama sebulan."
Yunho takut akan ancaman Jaejoong. Ia harus bersemangat menjalani program dietnya dan berolahraga untuk mengembalikan perut kotak-kotaknya, apalagi Jaejoong akan pulang tepat sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Ia tidak boleh mengecewakan istrinya itu. Ia ingin menghadiahi istrinya itu dengan tubuhnya yang kembali langsing.
.
.
.
Jaejoong pulang dari Pulau Jeju tepat sehari sebelum hari ulang tahun pernikahannya dengan Yunho. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Ia sangat merindukan pria itu.
Jaejoong berlari ke pelukan suaminya saat Yunho menjemputnya di bandara. "Yunho, aku sangat merindukanmu." Ia memeluk suaminya itu dengan erat. Rasanya ia tak ingin melepaskannya. Namun, pelukan suaminya itu terasa berbeda. Ah, mungkin itu hanya perasaannya karena selama dua minggu mereka berpisah. Pelukan Yunho tak senyaman biasanya.
"Apa kau bersenang-senang di sana?" tanya Yunho. Ia senang bisa bertemu kembali dengan istrinya. Ia merasa menderita saat Jaejoong tidak ada karena ia harus mengurus dirinya sendiri.
"Aku tak merasa senang di sana karena kau tidak ada." Jaejoong merengut manja. Sudah dua minggu ia tidak bersikap manja kepada suaminya.
Yunho tersenyum lebar. Perasaannya melayang di udara. "Sekarang kau tak perlu khawatir. Ada aku sekarang. Hahaha!"
.
.
.
Jaejoong ingin memanjakan suaminya. Ia memasak berbagai makanan. Suaminya itu pasti sangat merindukan masakannya. "Yunnie, makanan sudah siap!"
Yunho hanya melongo melihat makanan yang tersaji di meja makan. "Mengapa kau memasak semua ini?"
"Kita akan merayakan ulang tahun pernikahan kita malam ini." Jaejoong terlihat gembira.
"Akan tetapi, aku tak bisa memakan semua ini," kata Yunho. Ia harus menjaga makanannya.
Jaejoong merasa sedih. Senyumnya tiba-tiba hilang. "Ya sudah, aku akan membuatkanmu salad buah."
Jaejoong memakan masakannya sendirian, sedangkan suaminya hanya makan salad buah. Moodnya berubah menjadi buruk, padahal sebelumnya ia merasa sangat senang karena bisa bertemu kembali dengan suaminya.
Jaejoong merasa tidak nafsu makan, tetapi sayang jika masakan buatannya tidak dimakan.
"Memangnya tidak apa-apa jika kau makan semua itu sendirian?" Yunho menatap istrinya yang berusaha untuk menghabiskan makanan untuk dua orang.
Jaejoong merasa perutnya sudah penuh. "Tidak apa-apa. Aku tak mudah gemuk seperti kau."
Bukan itu yang Yunho khawatirkan. Ia khawatir istrinya itu akan muntah karena memaksa untuk makan semua itu. "Tidak apa-apa kan jika sekali-sekali aku melanggar dietku?" Ia mencomot makanan yang dibuat oleh Jaejoong. Rasanya enak sekali. Ia merindukan makanan enak, gurih, dan berlemak, apalagi makanan ini dibuat oleh istrinya dengan penuh cinta.
Jaejoong menatap suaminya yang makan dengan lahap. Ia merasa sedih. Sebelum ia merancang program diet untuk Yunho, ia selalu bahagia jika Yunho menghabiskan masakan buatannya. Ia akan menyuapi suaminya itu. Ia senang sekali karena Yunho sangat menyukai masakannya. Namun, kini ia tidak bisa memasak makanan kesukaan suaminya.
.
.
.
Jaejoong ingin bermanja-manja kepada suaminya. Ia bergelayut manja di lengan suaminya. Lengan suaminya sekarang tampak kekar. Otot-ototnya keras. Ia merasa kurang nyaman memeluk lengan suaminya.
Mereka sudah dua minggu tidak bertemu. Tentu saja mereka ingin mencurahkan hasrat terpendam mereka selama dua minggu, apalagi tengah malam nanti mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
"Sayang, aku punya kejutan untukmu." Yunho sudah tidak sabar untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya selama dua minggu kepada sang istri tercinta. Ia membuka kaus yang dikenakannya. "Bagaimana? Apa kau suka?"
Jaejoong tercengang melihat tubuh suaminya. Perut suaminya sudah kembali kotak-kotak. Otot-ototnya terlihat kencang. Ia tidak menyangka Yunho bisa melakukan hal ini hanya selama dua minggu.
Di tengah keterkejutannya itu Jaejoong merasa ada sesuatu yang hilang. Ia kehilangan beruang gembulnya yang lucu, yang bisa ia cubit sesuka hatinya. Dengan tubuh yang kencang seperti itu ia tidak bisa mencubit suaminya lagi.
"Mengapa kau tidak bereaksi? Apa otot-ototku ini kurang membentuk?" tanya Yunho. Ia tak mau membuat istrinya itu kecewa.
"Aku tercengang. Aku tak menyangka kau bisa mendapatkan tubuh seperti itu hanya dalam waktu dua minggu." Jaejoong menyentuh otot perut Yunho. Itu asli.
"Ini semua berkat kau yang selalu menyemangatiku. Jika bukan demi kau, aku tak akan mau bersusah payah untuk berolahraga dan menahan diri dari godaan makanan lezat," ujar Yunho berapi-api. Ia merasa bangga kepada dirinya sendiri.
.
.
.
Jaejoong merasa aneh saat Yunho menindih tubuhnya. Tubuh suaminya itu tidak seempuk dan sehangat sebelumnya. Tidak ada lagi lapisan lemak berlebih yang empuk dan hangat.
Jaejoong juga merasa tidak nyaman tidur sambil memeluk suaminya. Biasanya ia senang menjadikan lengan atau tubuh suaminya itu sebagai bantal atau guling. Ia tidak bisa lagi melakukan hal itu. Tubuh Yunho sekarang terasa keras, tidak empuk.
.
.
.
Jaejoong merasa tidak tenang, kedamaiannya terusik. Ia merindukan suaminya yang dulu, yang selalu menghabiskan makanan apa pun yang ia buat, yang terlihat menggemaskan dan bisa ia cubit sesuka hati, yang sangat nyaman ia peluk. Ia merindukan Yunho yang seperti itu.
Jaejoong menyajikan makanan gurih dan lezat untuk sarapan. Persetan dengan program diet yang sudah ia rancang untuk Yunho. Pokoknya suaminya harus menghabiskan semua itu.
"Sayang, mana sarapan untukku?" Yunho tidak melihat menu dietnya pagi ini di meja makan.
"Semuanya sudah tersaji di atas meja makan," jawab Jaejoong. Ia menuangkan susu ke dalam dua buah gelas.
"Mana? Aku tak melihatnya," balas Yunho.
"Yang kau lihat itu adalah sarapanmu," ujar Jaejoong.
"Kau tidak lupa kan?" Yunho menatap istrinya heran.
"Memangnya apa yang kulupakan?" Jaejoong meneguk susu dari gelasnya.
"Kau tidak lupa kan bahwa aku sedang menjalani program diet?" Yunho mengingatkan istrinya.
"Mulai hari ini kau tidak perlu berdiet lagi. Kau boleh makan apa pun yang kau inginkan. Pokoknya sekarang kau harus menghabiskan makanan yang kubuat," tegas Jaejoong.
"Akan tetapi, kau tahu sendiri bahwa aku mudah menjadi gemuk." Yunho mengira Jaejoong melupakan hal itu.
Jaejoong menatap tajam suaminya. "Aku tak peduli kau menjadi gemuk. Perubahanmu itu mengerikan. Dalam dua minggu kau berubah sangat drastis. Pokoknya kau harus menghabiskan semua makanan ini."
"Bukankah kau yang menginginkan aku seperti ini?" balas Yunho.
"Aku menginginkan dirimu yang dulu. Aku merindukan beruang gendutku yang empuk dan hangat, yang bisa kupeluk sepanjang malam." Jaejoong mencurahkan isi hatinya.
"Kau akan diolok-olok oleh teman-temanmu karena suamimu gemuk," kata Yunho lagi.
"Aku tak peduli lagi dengan apa yang mereka katakan. Mereka tidak bisa merasakan apa yang sesungguhnya kurasakan. Mereka tidak tahu betapa menggemaskannya dirimu. Kau begitu seksi dengan perut buncitmu, sehingga membuatku bergairah. Mereka tidak akan pernah tahu hal itu." Jaejoong berbicara dengan cepat.
Yunho tersenyum kikuk. "Seleramu aneh. Setiap wanita pasti menginginkan pria berotot kekar, bukan?"
Jaejoong minum sejenak. "Ya, itu wajar. Pria bertubuh kekar terkesan kuat. Wanita ingin pria yang bisa melindungi dirinya. Namun, kau tak perlu bertubuh kekar untuk bisa melindungiku. Kau tetap lincah, meskipun kau berlemak. Kau masih bisa menguasai ilmu bela diri dengan tubuhmu yang berisi. Aku merasa aman dalam pelukanmu."
Yunho menghela nafas. Sesungguhnya ia merasa lega karena Jaejoong berubah pikiran. Ia tidak perlu lagi menahan keinginannya untuk makan. Ia tidak mengendap-endap ke dapur pada malam hari untuk memakan sesuatu. Ia tidak perlu kelaparan lagi. "Aku sudah sangat lapar. Sebaiknya aku segera makan." Ia memasukkan potongan besar daging ke dalam mulutnya.
Jaejoong selalu merasa bahagia setiap kali ia melihat Yunho memakan masakannya dengan lahap, termasuk saat ini. Ia merasa terharu sampai ia ingin menitikkan air mata.
"Kau juga harus makan." Yunho menyuapi Jaejoong dengan sepotong daging.
Jaejoong tersipu malu. Ia merasa sangat bahagia. Ia merasa bagaikan pengantin baru dengan Yunho. "Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang!"
"Selamat ulang tahun pernikahan untukmu juga, Sayang!" balas Yunho. Mereka berdua saling menyuapi. Rasanya romantis sekali.
