"Forget me not"
By : Amanda Lactis
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Friendship
Pairing : SasuFem!Naru, slight SasuSaku, SasoNaru
Desclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, typo, bash chara, dll
Summary : Naruto harus menelan kenyataan pahit saat kekasihnya, Uchiha Sasuke, dinyatakan amnesia dan kehilangan seluruh ingatan tentangnya, mirisnya, menganggap Sakura sebagai kekasihnya. "Aku menangis darah pun ia takkan mengingatku." "Uzumaki Naruto? Siapa dia?" SasuFem!Naru slight SasuSaku.
Chapter 1 : Ambisi sang pendosa
Naruto tidak suka Rumah Sakit, tidak, dia membencinya. Karena bangunan serba putih itu mengingatkannya akan kenangan buruk di masa lalu. Dan sekarang, ia harus dengan terpaksa menyaksikan dua sejoli saling bercengkrama tanpa mengindahkan eksistensinya? Naruto muak, karena ia juga harus menahan laju air matanya agar tidak mengalir saat melihat kekasihnya sendiri tersenyum untuk gadis lain, dan itu bukan dirinya. Melainkan sahabat karibnya sendiri.
"Bisakah aku pulang? Maksudku, aku tidak mau menganggu kalian." Naruto bangkit dan meraih sling-bag oranye miliknya yang tergeletak di sisi kiri sofa. Sakura terlihat sedikit kecewa, tapi binar bahagia tak luput di mata emeraldnya. Sedangkan Sasuke acuh, dia memalingkan wajahnya, seolah enggan menatap balik manik biru Naruto.
"Hati-hati, Naru-chan. Tenang saja, aku akan menjaga Sasuke-kun." sahut Sakura kembali menyuapi Sasuke, mengusap pelan bibir tipis lelaki itu dengan penuh kelembutan. Naruto sakit, namun ia mencoba tegar.
'Menjaga, huh? Kau terlihat sangat bahagia, bukan? Sakura?' batin Naruto tersenyum kecut. Ia berjalan menjauhi ruangan tempat Sasuke dirawat, plang nama 'Edelweis 1' ia lirik sedetik. Namun suara Sasuke masih menyinggung telinganya.
"Siapa dia, Sakura? Kenapa dia selalu datang kemari?"
"Ah itu, dia teman mu juga Sasuke-kun, namanya Uzumaki Naruto."
"Dia teman ku?"
"Ya! Dia sahabat baikmu, dia juga yang mengenalkanmu padaku loh~"
"Hn."
"Oh iya Sasuke-kun, besok kita kencan ya saat kau sudah boleh pulang!"
"Hn, terserah."
Naruto menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tungkai kakinya lemas seketika, mendengar kebohongan apik yang dilontarkan Sakura. Hatinya kembali berdenyut nyeri, setelah apa yang terjadi padanya, Sakura justru menikamnya dari belakang? Sebenarnya siapa yang tersakiti di sini?
'Kau memang aktrist yang hebat, Sakura-chan' tambah Naruto dalam hati, kembali melangkahkan kakinya dengan sekuat tenaga, ia ikhlas bila itu yang diinginkan Sasuke, ia rela. Tapi kenapa setiap mata nya melihat kedekatan keduanya, seperti ada yang menusuk hati nya? Kenapa air mata yang sudah ia tahan kembali mengalir dengan deras? Kenapa? Bukankah dengan begini Sasuke jauh lebih bahagia? Lantas, mengapa Tuhan masih mengijinkan Naruto untuk terus mencintai pria itu? Apa mencintai kekasihmu sendiri adalah perbuatan dosa? Naruto tidak tahu, dia terlalu lelah menerima kenyataan pahit ini seorang diri.
.
.
.
"Kau juga harus makan, lihat kondisimu, Naru."
"Aku baik."
Sasori mendengus. "Yeah, saking baiknya sampai bobotmu turun lima kilo dalam seminggu." Naruto mengerjap, dia kehilangan kata-kata untuk melawan pernyataan sarkas yang dilontarkan Sasori. Senpainya itu terlalu pandai dalam berkelit.
"Percayalah, Tuhan tidak akan diam tanpa alasan. Semua akan indah pada waktunya."
"Kau sudah mengatakannya tiga kali, senpai. Aku bosan." sahut Naruto polos, melahap roti tawar di depannya, hasil debat tak berujung dengan pria di sampingnya. Sasori menghela nafas, ia juga tak sampai hati melihat Naruto terus menerus bersikap kuat di balik topeng cerianya.
"Mau ke taman? Aku bisa mengantarmu, aku sedang 'tidak sibuk'" Naruto balas tersenyum, ia tidak menolak ajakan Sasori, karena ia pun tahu usaha keras Sasori untuk menghiburnya, termasuk usaha pria itu dalam menggantikan posisi Sasuke di hatinya. Sasori menyukainya, dia mencintai Naruto melewati batas normal.
" Kau yakin, senpai? Tapi traktir aku ramen ya!"
Sasori kembali menepuk keningnya. "Ramen itu tidak baik! Kau harus makan sayuran! Titik!" tandasnya kejam. Naruto pura-pura merengut kesal, dalam hati tersenyum tak lupa berterima kasih. Entah apa jadinya ia tanpa sosok Sasori, mungkin ia sudah bergelantungan dengan tali terikat di lehernya? Entahlah.
Naruto bergeming. Sasori mengambil kunci mobil dan berganti pakaian di kamarnya.
'Tuhan, tidak bisakah cinta ini berpindah ke orang lain? Aku tidak mau Sasori-senpai tersakiti karenaku…..'
.
.
.
Konoha Gakuen, SMA elit dengan taraf pendidikan tertinggi di Jepang, menampung ratusan murid berbakat dengan otak seencer air sungai yang mengalir. Tidak ada istilah menyogok di sana, semua harus di selesaikan dengan kepintaran bukan dengan uang atau latar belakang keluarga. Anak presiden sekalipun bila tidak memenuhi syarat takkan diterima di sekolah milik Tsunade Senju yang terkenal kebijaksanaan nya.
"Hee? Sakura dan Sasuke berpacaran, begitu?"
"Tentu saja, Sasuke-kun sudah lama menyukaiku~" Sakura mengibaskan surai peach sebahunya, memainkan ujung rambutnya dengan senyum yang menurut Naruto sangat memuakkan. Seisi kelas sempat dihebohkan dengan kabar putusnya Sasuke dan Naruto lalu sekarang ada lagi kabar di mana Sakura resmi menjadi kekasih pria emo tersebut. Kiba bahkan menggebrak meja penuh emosi mendengar kabar tersebut dari mulut sang gadis langsung. Sebagai sahabat kecil Naruto, Kiba terlampau hafal tabiat gadis yang sering dijuluki gadis mentari tersebut. Naruto jelas merasa dikhianati.
"Cih sial, lihat wajah sombongnya itu, andai aku bisa membawa Akamaru ke sekolah, pasti gadis norak itu sudah jadi santapan Akamaru!" dumel Kiba melonggarkan dasi sekolahnya, ia melepas blazer hitamnya dan memandang sekumpulan gadis yang asik membahas Sakura penuh kebencian. Naruto tersenyum. Dia menepuk bahu Kiba pelan.
"Sudahlah, Tuhan memiliki rencana lain di balik musibah ini" bisik Naruto mencoba meyakinkan Kiba. Pria itu mengangguk lesu, setengah menuruti perkataan Naruto dan menelungkupkan kepalanya. Kebetulan pelajaran yang biasa diisi Asuma-sensei sedang kosong lantaran guru itu sedang menghadiri rapat penting.
Shikamaru menyahuti dengan pelan,"Mendokusai, kalau aku jadi kau Naruto, sudah ku jambak rambut Sakura. Percayalah, dia menyebalkan." dia menguap bosan. Naruto terkikik lirih, sedikit memaksakan diri untuk menertawakan guyonan garing dari teman merepotkannya. Tapi Shikamaru tidak protes, mata sipitnya menangkap gerak-gerik Naruto kelewat detil, sampai tahu bila gadis itu hanya mencoba untuk terlihat ceria. Dalam hati manusia siapa yang tahu, iya kan?
Karena jarak yang memungkinkan, Shikamaru memutuskan untuk mengacak rambut pirang Naruto pelan. "Kau kuat, benar kan? Namikaze Naruto tidak akan goyah semudah ini."
Naruto tertawa mendengar ucapan Shikamaru, sekuat apa ia sampai bisa terus tersenyum? Sekuat apa ia ketika Sasuke dengan dingin menolak kedatangannya?
"Tell me Shika, sekuat apa diriku di matamu?" Naruto balik memandang Shikamaru intens, mengundang hawa membunuh di sisi kanan lelaki nanas itu.
"Na-ru-to! Jangan goda Shikamaru! Dasar genit! Seharusnya kau mencontoh Sakura! Move on sana! Putus dari Sasuke sih boleh, tapi jangan menggoda lelaki lain!"
DEG!
Shikamaru jelas tersinggung, padahal bukan dia yang di hina, tapi entah kenapa hatinya ikut terluka. "Oey Ino, bisakah jaga omonganmu? Naruto hanya meminta pendapatku, lagipula ada hak apa kau cemburu? Dasar merepotkan."
Ino melotot emosi, ia menghentakkan kakinya dan melenggang pergi tak lupa menjewer Shikamaru. Naruto menggeleng maklum. "Jangan begitu Shika, gadis yang dibutakan cemburu itu sangat mengerikan." ujarnya kalem. Sementara Shikamaru meringis lirih.
"Mengerikan dari mananya? Buktinya kau sendiri tetap tenang kan?"
Naruto terdiam. Netra birunya langsung terlihat sedih.
Shikamaru mendesah panjang. "Lupakan."
.
.
.
"Kau sudah dengar kabarnya?"
"Yeah, Sasuke mudah sekali tumbang, padahal hanya kecelakaan kecil."
"Dia juga manusia, kau tusukpun ia akan mengeluarkan darah."
"Tou-san, bukankah ini sudah berlebihan?"
"Tidak. Ini satu-satunya cara untuk menguji cinta mereka berdua."
"Ayah dan anak sama saja. Sama-sama gila dan sinting."
"Kitsune, jaga omonganmu."
"Oups, gomen ne Oji-sama~"
"Ki-chan…."
"Okay, maafkan aku Oba-chan."
.
.
.
"Sasuke-kun, aku kembali. Lihat siapa yang datang?" Sakura menarik pergelangan tangan Naruto yang ditanggapi dengusan kecil, Sasuke hanya melirik keberadaan Naruto sekilas, tanpa ada niatan berterimakasih karena mau menjenguknya.
"Kenapa dia harus datang? Aku bosan melihat wajah bodohnya itu."
Hening.
"Sudah kubilang lebih baik aku pulang saja Sakura-chan, Sasuke-kun mu sangat sombong sampai menolak orang yang ingin menjenguknya." sindir Naruto tersenyum pongah. Ia menepuk rok lipit hitamnya dan bersiap untuk membuka pintu kalau saja tangan Sakura tidak bergelayut manja. Jujur saja ia risih!
"Temani Sasuke-kun dulu, aku mau mengambil makanan untuk nya, tolong ya Naru-chan!"
Naruto memutar kedua bola matanya malas, terpaksa mengiyakan permintaan Sakura. Hitung-hitung modus pendekatan, siapa tahu Sasuke tiba-tiba mengingatnya dan memeluk erat dirinya. Kau terlalu banyak menonton dorama Naru, batinnya dongkol. Sasuke diam-diam mencuri pandang ke arah Naruto, menilik lebih dekat penampilan gadis itu.
"Kenapa rambutmu harus memiliki model yang sama dengan Sakura? Kau mau menarik perhatian ku?"
Mendengar kalimat dingin dari Sasuke sudah biasa bagi Naruto, tapi yang membuat hatinya sakit ialah pernyataan yang diucapkan lelaki itu. Menarik perhatian dia bilang? Justru Sakura yang meniru gaya rambutnya semasa SMP, hanya karena Sasuke pernah memuji potongan rambutnya.
"Untuk apa menarik perhatian kekasih sahabatku sendiri? Kau pikir aku perusak hubungan orang?" sahut Naruto kelewat santai, dia bersedekap dada sembari memainkan ponsel oranye dengan gantungan kunci berbentuk tomat. Yang sukses membuat tatapan Sasuke tertuju pada phone-strap itu.
Hening.
"Kau mau? Seseorang memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunku." ucap Naruto menekan sesak di dadanya. Jelas-jelas Sasuke yang memberikan gantungan ponsel itu tepat di hari ulang tahun nya yang ke enam belas, beberapa bulan sebelum insiden menyakitkan yang merenggut ingatan Sasuke tentang dirinya. Miris bukan?
Sasuke masih diam, setengah hati ingin menerima tawaran Naruto, setengah hati gengsi untuk mengatakannya.
"Tidak perlu, Sakura pasti membelikan nya untukku."
Naruto tersenyum, lebih cenderung sinis, kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Yeah, Sakura akan membelikannya untukmu. Lucu sekali."
"Apa kau selalu bersikap menyebalkan?" suara Sasuke datar, seperti biasanya.
Naruto balas tersenyum, beribu makna tersirat dibalik senyuman manisnya.
Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan, Naruto merasa ini semua percuma, Sasuke tidak akan mengingatnya, Sasuke sudah melupakan eksistensinya dan berbalik menyukai Sakura.
CEKLEK
Sakura masuk dengan sebuah nampan berisi makanan khas Rumah Sakit, ia meminta pertolongan lewat isyarat mata pada Naruto untuk menutupkan pintu.
"Ck, kau memang senang sekali membuatku repot, Sakura." keluh Naruto dengan wajah kesal. Sakura mengendikkan bahu, pura-pura tersinggung padahal dalam hati bahagia. Sasuke membisu. Dia tidak berhenti menatap Naruto yang balik memandangnya tajam.
"Ini Sasuke-kun, makanlah." Sakura menaruh nampan di atas kedua lutut Sasuke yang terbalut selimut, namun Sasuke seakan tidak bergairah untuk memasukkan semua makanan itu ke dalam kerongkongannya,
"Ada apa, Sasuke-kun? Kau mau menu lain?" tanya Sakura khawatir, sedikit kesal karena jarak yang ia tempuh dari kantin ke kamar Sasuke cukup jauh dan melelahkan. Sementara Naruto mendengus kecil, dia bangkit dan mendekati pasangan sejoli tersebut.
"Sasuke benci selada, dia suka irisan tomat yang di beri perasaan limun, jangan mencampur nasi dengan ikan makarel, dia tidak suka cita rasa nya, sebaiknya kau pisahkan saja. Oke, Sakura-chan?" Naruto memainkan nada bicaranya, menyulut emosi Sakura yang hampir saja tersembur keluar, gadis pirang itu melirik Sasuke yang kini terlihat kaget, Naruto kembali memasang senyum dan berlalu pergi, meninggalkan aura canggung di antara Sasuke dan Sakura.
Sepeninggal Naruto, Sakura merapal doa dalam hati, berharap Sasuke tidak curiga atas apa yang dikatakan Naruto, dia takut Sasuke akan mengingat semua tentang Naruto, dia takut kehilangan Sasuke. Bila perlu, Sakura ingin menyingkirkan Naruto dari hidupnya, agar dia bisa terus bersama dengan pria yang ia cintai.
"Dari mana dia tahu itu Sakura? Bukankah kau kekasihku? Atau kau berbohong padaku?" suara Sasuke berat, berkesan dingin dan penuh hawa membunuh diikuti tatapan setajam pisau daging yang baru diasah. Sakura tergugu ketakutan.
"Bukankah sudah kukatakan, Sasuke-kun? Kan dia sahabatmu, jelas dia tahu."
Sasuke tidak percaya, jelas dari matanya yang belum menurun kadar ketajaman nya.
"Lalu? Kau tidak tahu begitu?"
Sakura mengutuk siapapun yang memasang pendingin ruangan di kamar Sasuke, tangannya mendadak gemetar dan ia tak tahu harus bagaimana. Opsi pertama, jujur dan katakan bila ia tidak tahu maka Sasuke bisa dipastikan menjauhinya karena sudah berbohong. Atau opsi kedua, mengaku lupa dan merayu Sasuke maka lelaki itu akan percaya. Oke, Sakura memilih opsi kedua.
"Y-ya, aku lupa, kau tahu banyak yang harus ku pikirkan.." Sakura meremat rok nya, menyalurkan perasaan cemas dan gelisah yang tiba-tiba merasuki hatinya. Sasuke menyipit tajam, mengalihkan pandangannya dan menunjuk nampan besi itu dengan raut wajah tidak suka. "Buang ini, aku tidak sudi memakannya." Sakura jelas merasa tersinggung atas penolakan kejam dari Sasuke.
Namun menentang perintah lelaki itu hanya menambah masalah. Dengan lesu Sakura meraih nampan tersebut dan berjalan kearah tong sampah di pojok kamar, membuang makanan itu. Sasuke mendengus kecil. "Kau kekasihku, tapi kau tidak tahu apa-apa tentangku. Menyedihkan. Kekasih macam apa kau ini?" sindirnya sinis. Sakura menahan tangisnya. Bukan ini yang dia inginkan, bukan juga kalimat sinis yang ditujukan Sasuke padanya. Dia hanya ingin kasih sayang dari pria itu, sebagaimana yang Naruto dapatkan dulu.
"Maafkan aku..hiks..maaf…maafkan aku Sasuke-kun…." suara lirih Sakura tak sedikitpun mengganggu aktivitas Sasuke, hanya didengar namun enggan di lihat, itulah kondisinya saat ini.
.
.
.
Senju Kyuubi, public figure terkenal dengan paras tampan tiada dua, cucu dari Tsunade Senju, sekaligus kekasih dari actor popular Itachi Uchiha yang masih menyembunyikan sosok Kyuubi untuk menghindari kejaran paparazzi. Kyuubi memiliki sepasang netra ruby, merah menyala dengan garis wajah tegas, hidung mancung tak lupa kulit nya yang putih bak porselen. Tinggi nya mencapai 180 cm, dengan perawakan atletis, tidak akan ada yang percaya jika ia menganut kelainan seksual.
"Tachi, antarkan aku ke café seberang, itu yang bercat merah bata, ya di sana." Kyuubi menunjuk sebuah café sederhana yang dipenuhi nuansa vintage. Itachi menggeleng maklum mendengar nada bossy dari sang kekasih, dia sudah terbiasa, dan Itachi sendiri lebih suka dengan sifat garang Kyuubi. Menantang, katanya sembari tertawa renyah. Mobil Porsche hitam membelok di tikungan tajam, menepi dengan pelan, dan terhenti sempurna. Kyuubi mendongak angkuh, dia menepuk bagian kemeja maroon yang ia kenakan, tak lupa melambaikan tangan pada Itachi. Lelaki itu sangat menghindari untuk menampakkan diri mengingat fans nya sangat brutal dan mengerikan.
Bunyi lonceng terdengar kala Kyuubi membuka pintu bening ala café, memandang sekitar untuk mencari suasana yang pas untuk menikmati secangkir expresso. Mata merahnya menangkap sosok gadis tengah melamun di sebuah meja yang didesain untuk dua orang, namun gadis itu hanya sendirian, cangkir porselen di depannya masih terlihat baru di antar, karena mata tajam Kyuubi melihat ada kepulan asap yang berasal dari sana. Kaki jenjangnya melangkah perlahan, agaknya merasa tertarik dengan gadis blonde itu.
"Hei, keberatan aku duduk di sini?" suaranya sedikit dilembutkan, sayangnya nada ketus masih mengikuti. Kyuubi sedikit menyesal, karena gadis yang berhasil merebut atensinya ternyata tidak merespon panggilan nya.
"Kau tuli ya?"
"….."
"Wah tuli dan buta ya?"
"…."
"Kasihan sekali, sudah buta, tuli, bisu pula."
"Maaf, kau bicara dengan siapa?"
Gadis ber name tag Uzumaki Naruto itu mendongak polos, bertanya seakan Kyuubi berbicara dengan angin yang berhembus.
"Tentu saja denganmu, hanya ada kau di sini!" suaranya meninggi, sukses membuat kerutan pada dahi Naruto kian banyak. Karena faktanya, ia sendiri tidak menganggap Kyuubi berbicara dengannya.
"Ya sudah duduk saja, tidak perlu emosi juga kan?" sahut Naruto sebal. Kyuubi mendengus, mendudukkan diri dengan nyaman tak lupa memanggil pelayan untuk segera menulis pesanan nya. Dia benci menunggu.
Hening.
Kyuubi gemas. Biasanya banyak orang yang ingin sekadar mengobrol dengannya, tapi Naruto tidak terlihat ingin mencecarnya dengan berbagai topic obrolan, seakan dia hanya ingin menikmati waktu seorang diri.
'Tapi aku ini model terkenal! Masa dia tak tahu tentangku? Minimal melihat wajah ku yang tampan ini' batin Kyuubi sewot. Dia juga benci di abaikan, apalagi Naruto ini seorang gadis remaja, harusnya dia kagum melihat ketampanan Kyuubi yang luar biasa menyilaukan.
"Kau tidak mengenalku?" tanya Kyuubi dengan hati-hati. Naruto menatapnya heran, gerakan tangan pada ponsel nya terhenti. "Dan siapakah dirimu, Tuan?" balasnya dengan nada sedikit sinis. Kyuubi melotot.
"Kau punya TV tidak sih? Masa kau tidak tahu siapa aku?" sahut Kyuubi masih emosi, harga dirinya jatuh mendengar ucapan Naruto. Namun Naruto hanya diam. Mulutnya seolah terkunci, tangannya kembali memencet beberapa tombol di ponselnya. Entah kenapa Kyuubi sedikit merasa bersalah, dia sudah dengan lancang menyinggung kehidupan gadis di depannya.
"Tidak. Aku tidak punya. Aku ini manusia miskin." Naruto mengusap noda kecokelatan pada sudut bibirnya, menelan sisa kopi pesanan nya beberapa menit lalu. Kyuubi mendadak bungkam. Tidak pernah terbersit rasa menyesal akan mampir dalam hati bekunya. Naruto tidak terlihat tersiunggung, justru tertawa kecil melihat gelagat Kyuubi yang terlihat jelas mengasihaninya.
"Tak perlu mengasihaniku, Tuan Tampan. Nah, nikmatilah pesananmu, aku harus pergi."
Tangan Kyuubi menahan pergelangan tangannya. "Bisakah kau menunggu sampai pesananku datang? Err.. siapa namamu?"
Naruto tak kuasa menahan senyum. "Uzumaki Naruto! Yoroshiku ne~" ujarnya sopan, kembali mendudukkan diri. "Jadi siapakah namamu, tuan tampan?" sambungnya geli, saat Kyuubi kembali melotot padanya. Dia tidak takut matanya keluar dari tempatnya ya, batin Naruto takjub.
"Kyuubi."
Naruto mengernyitkan alisnya. "Tanpa embel-embel? Marga mungkin?"
Kyuubi terlihat ragu, kebanyakan, bahkan hampir semua orang yang berbicara dengannya selalu terlihat sumringah ketika ia menyebutkan marga besarnya. Senju. Siapa yang tidak mengenal Clan tersebut? Ada Tsunade sang dokter legendaris pemilik Konoha Gakuen, ada Jiraiya CEO dari Senju Corp sekaligus mertua Namikaze Minato, pemilik Rumah Sakit Konoha yang dirahasiakan identitasnya. Yang public tahu, seorang Minato hanyalah pekerja kantoran di perusahaan Senju. Hashirama Senju, selaku kakek dari Tsunade menebar banyak cabang usaha layaknya menebar benih tumbuhan, terlalu banyak dan membludak. Itulah kenapa Kyuubi seringkali menyamar. Ada banyak musuh dalam selimut.
"Jika aku menyebutkan nama lengkapku, apakah kau janji tidak akan terkejut?"
Naruto mengangguk enteng. Memangnya Kyuubi ini siapa? Anak Presiden ya sampai takut ia akan terjungkal kaget?
"Namaku-"
Kyuubi menghela nafas panjang.
"-Kyuubi. Senju…Kyuubi." bagian 'Senju' dipelankan seminimal mungkin, agar tidak ada sepasang telinga mendengarnya barang satu huruf. Naruto masih stay calm. Tidak ada perubahan dari ekspresinya, dia mengangguk acuh. Justru Kyuubi yang menganga kaget, untuk pertama kalinya, selama dua puluh tahun ia hidup sebagai Senju Kyuubi, baru kali ini ada orang yang bahkan tidak terlihat tertarik dengan marga nya! Hebat!
"Kau, tidak terkejut?" tanya Kyuubi hati-hati, takut menyinggung Naruto.
"Nope. Tidak sama sekali. Memangnya kenapa? Ada apa dengan Sen-mphh!" mulut Naruto berhasil di tutup, tangan Kyuubi dengan gesit memotong ucapan Naruto yang hampir saja terlontar tanpa di filter. Beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Ada yang menatap aneh, geli bahkan kesal?
"Psst! Jangan menyebut nama depanku keras-keras." bisiknya berhasil membuat Naruto tenang.
"Okay, memangnya ada apa dengan..err.. nama depanmu? Kurasa itu normal."
Kyuubi menghela nafas pelan. "Kalau kau tahu Konoha Gakuen kau pasti tahu siapa pemilik sekolah elit tersebut." sahutnya malas. Dan ia yakin, Naruto yang hanya seorang bocah SMP takkan tahu-
"Loh, aku kan bersekolah di sana."
-apapun….
Hening beberapa saat.
Kyuubi memasang wajah seolah Naruto adalah titisan iblis pemakan jiwa manusia yang menyamar menjadi butler dari fandom sebelah. Bahkan saat pesanan nya datang sekalipun, Kyuubi tetap memperhatikan lekuk wajah Naruto, sampai membuat gadis itu kelewat risih. "Ada apa?"
"Kau, sudah SMA? Dengan tubuh sekecil itu?" Kyuubi tak kuasa menahan tawa nya. Naruto merengut kesal. Bukan salahnya memiliki perawakan mungil dan manis. Dia juga ingin memiliki tubuh atletis seperti kekasih-mantan- nya, Uciha Sasuke yang tersohor namanya di bidang Basket. Lagipula dibandingkan dengan Kyuubi, pria itu jelas jauh lebih tampan dan berkarisma.
"Ini sudah bawaan lahir! Yang penting aku masih berstatus hidup." Naruto menyahuti sewot. Sesaat rasa sedih akan Sasuke menguap, tergantikan oleh perasaan tenang dan hangat, seolah keberadaan Kyuubi membawa dampak besar bagi kesembuhan psikisnya.
Kyuubi yang peka, menatap balik Naruto, dengan kunyahan penuh pada mulutnya.
"Adwa apwha?" mungkin maksudnya "Ada apa?"
Naruto terkikik geli. Dia bangkit, meraih tas nya. "Aku duluan. Semoga harimu menyengankan, Kyuu-nii!" suara nyaringnya membuat Kyuubi membeku. Pria itu berhenti menyuapkan Rainbow Cake yang baru saja ingin ia makan. Saat Naruto memanggil namanya, ada yang berbeda. Ada yang menggelitik hatinya untuk lebih dekat dengan gadis itu.
"Uzumaki Naruto, huh? Nama yang indah, imouto."
To Be Continued
Note : Maaf, belum bisa update Library is Love, otak mendadak buntu pas mau nglanjutin *jduak* jadi sebagai gantinya saya buat fic baru dengan genre yang sedikit mirip. Karena Sasori udah pernah saya jadiin ilusi, nah di fic ini dia real :)) terinspirasi dari dua lagu yaitu :
1. Ali - Hurt (Soundtrack Rooftop Prince)
2. Ichiban no Takaramono Yui Ver. (Angel Beats Ost)
LibraryIsLove tetap jalan kok, tapi agak lama ^^ saya akan usahakan nyicil kalau sedang senggang.
Regards,
Amanda Lactis.
.
.
Mind to Review?
