ROCKS

Naruto©Masashi Kishimoto

Story©Aulia Auriz

Wanita cantik itu meneguk setetes terakhir minuman berwarna coklat dari sebuah mug putih yang ia pegang dengan kedua tangannya dan kemudian diletakkannya di atas meja makan berbahan kayu mahoni. Segelas susu bernutrisi rasa coklat khusus untuk ibu hamil kali ini telah ia habiskan. Tunggu dulu ... Apa? Ibu hamil?

Ya, wanita bersurai merah jambu itu telah menyandang status sebagai seorang ibu hamil sejak waktu tiga bulan lalu. Dan ini adalah kehamilan pertamanya setelah ia menikah satu setengah tahun yang lalu dengan pria yang dicintainya.

Mata hijau emeraldnya yang indah melihat kearah jam dinding berbingkai biru muda yang terus berdetik yang terpasang di sisi dinding bagian kanan dapur. Wanita bernama Sakura itu menautkan alis dan mengernyitkan dahinya.

"Eeh? Baru jam sepuluh?"

Entah mengapa, baginya hari ini terasa begitu lambat dari biasanya. Dan ... ia tidak suka itu. Ia ingin waktu berlalu dengan cepat. Ia ingin sekali suaminya cepat pulang. Ia ingin cepat-cepat menyambut suaminya yang pulang dari tempat kerja dan menghabiskan waktu berdua bersamanya, bertiga dengan bayinya.

"Huh, menyebalkan!" omelnya dengan bibir indahnya yang sengaja ia buat mengerucut, mengingat suaminya yang baru akan pulang lima jam lagi dari sekarang.

Sakura berdiri dan mengambil mug yang tadi telah ia gunakan lalu beranjak ke tempat cuci piring dan menyucinya. Sebenarnya, suaminya yang ia panggil Sasuke-kun itu melarangnya yang sedang hamil ini melakukan semua pekerjaan rumah dan Sakura cukup beristirahat saja. Sasuke bilang biar dirinya yang akan mengurus segalanya. Tapi, tetap saja Sakura tak ingin jika sampai Sasuke begitu kelelahan. Untuk itu, dengan seluruh tenaganya, Sakura bertekad akan melakukan segala pekerjaan rumah yang ia mampu kerjakan.

Setelah Sasuke tahu bahwa Sakura sedang hamil, Sasuke memang selalu memanjakannya. Bahkan sekarang Sasuke terlalu memanjakannya. Harusnya Sasuke tahu bahwa Sakura kan bukan anak kecil lagi. Umurnya sudah mencapai seperempat abad. Tapi Sakura juga harus mengakui kalau ia senang juga Sasuke memanjakannya karena biasanya ia yang selalu memanjakan suaminya tersebut.

Usai mencuci mug tersebut,wanita berambut merah muda itu berjalan menuju kamarnya sekaligus juga kamar Sasuke di lantai atas. Ia berjalan melalui beberapa anak tangga sebelum sampai di lantai atas lalu meraih gagang pintu dan membuka akses menuju kamarnya.

Ia melangkah menuju ranjang berukuran queen size yang berada di ujung kamarnya. Pemilik marga Haruno yang sekarang berubah menjadi Uchiha itu mendudukkan pantatnya ke kasur empuk yang berada disana. Ia mengeluskan telapak tangannya pada seprei putih polos tersebut. Baru saja ia berniat akan tiduran di kasur kesukaannya itu, sebuah nada pesan terdengar dari ponselnya yang tergeletak rapi di atas meja.

Dari: Sasuke-kun

10:03:51 AM

Hari ini aku ada lembur.

Mungkin baru pulang sekitar jam 5 nanti.

Istirahatlah dan tunggu dirumah.

Sampaikan juga salam kangenku padanya.

'Dasar Sasuke-kun!' gumamnya.

Membaca pesan dari suaminya, membuat Uchiha Sakura menjadi tertawa. Sasuke memang terlihat agak ketus, bukan hanya dalam kehidupan nyata bahkan juga di sms. Namun ada kalanya Sasuke berlaku manis, sangat manis bahkan pada Sakura. Dan kata terakhir, lebih tepatnya suku kata "nya" itu, Sakura tahu ditujukan untuk siapa.

Wanita itu pun menyiapkan jari-jari mungil nan lentiknya untuk membalas pesan dari suami tercintanya.

Untuk: Sasuke-kun

10:04:11 AM

Lembur lagi? Ya, aku mengerti.

Aku baru ingin istirahat dan aku akan menunggumu.

Salammu pasti akan kusampaikan.

Wanita yang berpakaian terusan daster berwarna merah itu mengelus perutnya yang masih tidak terlalu besar dan berkata sambil tersenyum, "Hei, sayangku. Kau dapat salam dari ayahmu yang manja itu!"

.

Rocks®Aulia Auriz

.

"Sakura..."

"Sakura..."

" Sakura-chan..."

Sakura tersentak. Ia terbangun dari mimpi anehnya yang membuatnya harus memastikan seluruh alat indranya. Ia mengucek lembut mata emeraldnya yang indah. Selain ruangan gelap itu, ia tak dapat melihat apapun dalam mimpinya, yang jelas ada seseorang yang memanggilnya. Seakan seseorang itu memanggil namanya dengan lirih, seperti ada sesuatu yang harus ia ucapkan. Suara yang memanggilnya itu ... ia tahu. Ia tahu siapa pemilik suara itu.

Ia pun melihat ke arah kalender bertuliskan tanggal 'Sabtu, 10 Oktober' yang tertera di layar ponselnya. Tunggu? 10 Oktober? Bukanlah hari yang spesial. Bukanlah tanggal yang sangat spesial, kecuali tanggal ulang tahun seseorang. Ulang tahun seorang mantan pacarnya yang sangat...

Ia cintai.

Tanpa ia sadari, bibir mungilnya bergumam mengucapkan "Selamat ulang tahun... Naruto."

Ia menampar dirinya sendiri. Harusnya adalah seorang yang sangat ia benci, bukannya yang sangat ia cintai. Dalam hati ia merutuki dirinya yang mengucapkan ucapan manis seperti itu pada orang yang telah melukai hatinya, meremukkan perasaannya, dan mengkhianatinya dengan temannya sendiri.

Laki-laki seperti Naruto itu tak patut ia ingat lagi.

Laki-laki seperti Naruto tak patut ada dalam hidupnya lagi.

DRRRT!

Ponsel Sakura bergetar kencang, ia bertanya siapa yang tiba-tiba menelponnya seperti ini? Takkan mungkin bila Sasuke, suaminya itu pasti tengah sibukdengan pekerjaannya yang terus menumpuk itu sekarang. Lalu siapakah orang yang menghubunginya?

Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Sakura meraih ponsel berwarna hitamnya. Sedetik setelah melihat nama pemanggilnya, ia pun segera menerima panggilan itu dan mendekatkan ponselnya ke daun telinganya.

"Ya, Ino. Ada apa? Tumben, jarang sekali kau menelpon."

Rupanya yang menelponnya adalah seorang sahabat karibnya yang sudah selama satu bulan ini belum sempat bertemu dengannya. Ia tahu Ino tengah sibuk atas kelahiran anak keduanya dua bulan yang lalu. Dan ia juga bukan dalam keadaan yang leluasa untuk mengunjungi Ino.

"Hinata. Ini tentang Hinata," kata Ino di seberang sana dengan antusias yang justru membuat Sakura memutar matanya mendengar nama itu.

Sakura tidak suka topik pembicaraan ini. Sebenarnya bukan soal topiknya, melainkan tokoh pembicaraannya. Namun, untuk menghargai Ino, ia berusaha untuk terdengar tertarik dengan pembicaraan ini.

"Ya, ada apa dengannya?"

Ino mengerti dan ia tahu Sakura tidak suka mendengar nama itu. Ia tahu betapa sakitnya Sakura beberapa tahun lalu, tapi ada hal yang menurutnya penting yang harus ia kabarkan.

"Tadi ia berkunjung ke rumahku. Ia bilang ia akan menikah minggu depan."

Sakura paham atas mimpinya. Jadi Naruto memanggilnya lewat mimpi untuk mengabarkan ini? Huh, Sakura hanya bisa tersenyum miris.

"Ooh, jadi dia dan si pirang bodoh itu akhirnya menikah juga yaa?", komentar Sakura dengan nada yang diucapkan secara sarkastik.

"Eh, bukan begitu! Kau ingat pria sekelas kita yang suka membawa anjing ke sekolah?"

Sakura mengernyitkan dahi lebarnya, bingung dengan maksud dan arah pembicaraan sahabatnya ini. Pria? Membawa anjing? Ah! Apa hubungannya dengan pria penggila anjing itu?

"Maksudmu, Kiba? Lalu apa hubungannya semua ini dengan Kiba?"

Ino terdengar menghela nafas lalu dengan kalimat yang ditekankan ia berkata, "Hinata. Gadis itu. Ia akan menikah dengan Kiba. Kiba, Sakura! Bukan Naruto! Bukan dengan Naruto, Sakura!"

Mata hijau Sakura membulat penuh mendengar kata-kata yang diluncurkan sahabatnya.

"EEEEH, JADI BAGAIMANA DENGAN NARUTO?!"

.

To be continued.

.

Fanfic kedua Aau, NaruSakuSasu sekarang :D Pendek yaaw? Hoho, baru chapter 1 kok. Aau tahu fanfic ini banyak kekurangannya, maka dari itu bisakah reader sekalian memberikan komentar, kritik dan sarannya atau apapun? Terima kasih bagi yang sudah baca terutama yang bersedia me-ripiu.

Dear regards,

Aulia Auriz.