Under The Rain
Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, typo mungkin bertebaran, dan berbagai macam kesalahan lainnya. Jika tidak tertarik, silakan tekan tombol kembali ^^
.
Selamat membaca!
.
Musim ini rasanya hujan turun agak sering dan mengguyur hampir sepanjang hari. Seperti hari ini, jam menunjukkan pukul tujuh pagi di mana sang surya seharusnya sudah memancarkan sinar hangatnya, namun hujan sudah turun tanpa peringatan.
Pemuda berkulit pucat yang baru saja bangun dari tidurnya duduk di tepi ranjang dan melihat ke luar jendela kamarnya. Dia lalu tersenyum kala matanya melihat jutaan tetes air yang jatuh dari langit. Lelaki berumur enam belas tahun itu selalu terlihat senang saat hujan turun karena dia sangat menyukainya. Bau yang menguar dari tanah saat hujan mengguyur, dia menyukainya. Suara yang ditimbulkan oleh tetesan air hujan, dia menyukainya juga.
Si pemuda beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia memakai seragam sekolahnya, memasukkan buku dan peralatan yang diperlukan ke dalam tas lalu menentengnya sambil berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya.
"Ohayou, tou-san, kaa-san," sapanya melihat ayah dan ibunya yang sudah duduk berhadapan di meja makan, sedang menunggunya.
"Ohayou, Sai. Duduklah, kita sarapan bersama," suara lembut Shimura Atsuko membalas sapaan putra semata wayangnya. Sedangkan suaminya, Shimura Seiji, hanya membalas dengan anggukan dan senyum.
Sepiring omurice menjadi santapan pagi keluarga kecil itu pagi ini. Mereka menyantap sarapannya dengan tenang, sesekali terdengar suara peralatan makan yang beradu dengan piring. Setelah itu Sai dan sang ayah bersiap untuk berangkat bersama.
"Ittekimasu!" ujar Sai, sementara sang ayah mencium sekilas dahi sang ibu. Keduanya lalu tersenyum penuh arti.
"Itterashai!" balas sang ibu dengan tangan kanan yang dilambai-lambai. Sai dan ayahnya lalu masuk ke dalam mobil yang perlahan keluar dari garasi dan semakin menjauh.
Dalam perjalanan, Sai hanya terdiam memandangi hujan yang turun. Shimura Seiji tersenyum pada anaknya yang menyukai hujan di saat kebanyakan orang tidak menyukainya. Alasan yang Sai berikan padanya bermacam-macam. Kadang dia menjawab 'merasa tenang saat hujan turun', 'pemandangan saat hujan bagus untuk digambar', atau kadang menjawab 'aku hanya menyukainya'.
.
Tanpa terasa, akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah di mana Sai belajar. Pemuda itu lalu turun dari mobilnya setelah mengucapkan 'ittekimasu' pada ayahnya. Dia berjalan menerobos hujan melewati gerbang masuk sekolahnya, namun tujuan pertamanya bukanlah kelasnya, melainkan sebuah taman kecil yang terletak di belakang sekolah, di dekat laboratorium. Ini bukan yang pertama kalinya. Sai sering mengunjungi tempat itu sejak dia duduk di kelas satu. Dia pergi ke sana untuk menggambar atau hanya sekedar berdiam diri sambil mendengarkan musik. Baginya, itu adalah tempat yang sangat pas ketika sedang ingin menyendiri.
Lelaki berambut hitam itu langsung menempati sebuah gazebo kecil yang sedikit sempit yang di depannya terdapat sebuah kolam. Gazebo itu yang selalu dia tempati jika datang ke sini. Sai duduk di tempat yang tersedia, lalu mengeluarkan buku sketsa serta pensil dari dalam tasnya, menyamankan posisi duduk dan mulai menggambar. Dia melanjutkan gambarnya yang kemarin tertunda. Gambar sebuah kota dengan bangunan-bangunan tinggi, namun dikelilingi banyak pohon yang rimbun.
Tangannya yang memegang pensil menari-nari di atas buku itu dengan mahir. Di wajahnya yang tenang terbentuk sebuah senyuman. Hujan masih turun sedikit deras. Suara tetesan air yang jatuh ke tanah mengiringi kesibukan pemuda itu.
Tak lama kemudian, indra pendengaran Sai menangkap suara langkah kaki yang mendekatinya. Tapi dia tidak menghiraukan apa itu, dan masih serius menggambar. Lalu langkah kaki itu terhenti di dekat gazebo yang ditempatinya. Sai yang terus menunduk tidak menyadari seorang gadis dengan rambut pirang duduk di hadapannya.
Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan dia sepertinya masih asing dengan lingkungan itu. Manik birunya bergulir dari kiri ke kanan. Dia lalu melihat dari sudut matanya seorang pemuda tengah berkutat dengan buku dan pensil. Merasa tertarik, dia membalikkan badannya menghadap si pemuda. Gambar separuh jadi yang tengah Sai buat terlihat olehnya. Kepala gadis itu sedikit maju ke depan untuk melihat lebih jelas. Dalam hati dia memuji indahnya gambaran pemuda itu.
Sementara itu, Sai menyadari ada seseorang yang duduk di depannya dan merasa diperhatikan. Kepalanya lalu menengadah dan saat itu juga wajahnya berhadapan dengan wajah penasaran dan alis yang sedikit berkerut dari seorang gadis asing dalam jarak yang cukup dekat. Sontak wajah gadis di depan Sai itu langsung merona, lalu dia menjauhkan kepalanya sambil memekik kaget dan memegang erat tas sekolahnya. Sai memasang ekspresi kebingungan. Dia lalu duduk tegak dan menghentikan aktifitas menggambarnya.
"Ah, maaf. Aku mengagetkanmu, ya?" Sai meminta maaf kepada gadis di depannya karena dia pikir dia telah mengagetkannya. Walaupun itu bukan salahnya sepenuhnya.
"Daijoubu. Salahku juga melihat terlalu dekat. Ngomong-ngomong, kenalkan, aku Yamanaka Ino. Aku baru pindah hari ini ke sekolah ini. Yoroshiku." Yamanaka Ino memperkenalkan dirinya sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Shimura Sai, dari kelas 2-1. Salam kenal." Sai memperkenalkan diri secara singkat.
"Gambarmu bagus sekali, Sai-kun. Boleh aku melihat bukumu?" pertanyaan yang bisa dibilang lantang untuk orang yang baru pertama kali berkenalan keluar dari mulut Ino.
"Uh... boleh. Ngomong-ngomong, panggil aku Sai saja, ya," ujar lelaki berambut jelaga sambil memberikan bukunya pada Ino.
"Baiklah, Sai," balas gadis itu dengan seulas senyum.
Buku itu diterima Ino, dan dia langsung membuka halaman pertama.
Sebuah gambar taman yang dipenuhi bunga dengan bubuhan tanda tangan pembuatnya di pojok kertas terpampang begitu si gadis membuka sampul hitam buku itu yang sukses membuat manik aquamarine-nya berbinar. Berbagai macam pujian pun Ino lontarkan pada Sai saat melihatnya. Sementara pemuda itu hanya tersenyum.
Halaman demi halaman pun dibuka. Terdapat berbagai macam gambar lain yang tak kalah mengundang decak kagum gadis itu. Mulai dari taman, bangunan-bangunan, dan yang lainnya. Tapi, tetap saja yang membuat seorang Yamanaka Ino tertarik hanya gambar taman bunga di halaman pertama tadi. Kembali dia berdecak kagum melihat gambar itu.
"Kau menyukai bunga, ya?" tanya Sai melihat betapa senangnya Ino melihat lukisan bunga karyanya. Kepala yang dihiasi helaian pirang itu mengangguk semangat. Dia juga bercerita bahwa keluarganya memiliki sebuah toko bunga. Sai pun paham mengapa dia begitu tertarik pada bunga.
"Kau boleh memilikinya jika kau suka," tawar lelaki itu.
"B-benarkah?" Ino memastikan tawaran Sai dengan mata berbinar. Dia akhirnya memekik senang saat kepala lelaki itu bergerak mengangguk.
Kedua orang itu masih asyik membuka lembar demi lembar buku gambar dan bertukar cerita sampai tak terasa jam di pergelangan tangan Sai telah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit.
"Sebentar lagi bel berbunyi. Aku akan kembali ke kelas," Sai memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Oh iya, kau ditempatkan di kelas apa? Perlu kuantar?" Sai bertanya pada Ino. Tapi gadis itu mengerutkan alisnya dan terlihat sedang berpikir.
"Apa kau tadi bilang kau dari kelas 2-1?" Ino malah bertanya balik. Dijawab anggukan kepala oleh orang yang dia tanya. Ino lalu terdiam beberapa saat.
"W-wah... kita sekelas." Gadis berambut pirang itu tertawa canggung sambil menggaruk pelan pipinya.
"O-oh... kalau begitu, mau ke kelas bersama?"
"Ah, aku harus pergi ke ruang guru dulu untuk menemui wali kelas. Kau duluan saja, Sai. Jaa nee." Ino melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Sai. Setelah berjalan agak jauh, perlahan Ino memegang dadanya yang bergemuruh.
'P-perasaan apa ini?' batin gadis itu.
.
TBC
.
.
Omake
"Baiklah anak-anak, kalian kedatangan murid baru hari ini. Silakan perkenalkan dirimu." Kurenai Yuuhi mempersilakan seorang gadis yang berdiri di sampingnya untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, aku Yamanaka Ino. Yoroshiku onegaishimasu." Setelah itu pandangannya menyebar. Mencari seseorang.
'Ketemu!' batinnya sambil tersenyum pada Sai yang duduk di bangku terakhir di dekat jendela, yang kebetulan juga tengah melihatnya. Pemuda itu pun ikut tersenyum.
"Nah, Ino, silakan tempati bangku yang kosong di belakang sana." Kurenai menunjuk sebuah tempat duduk yang masih kosong di belakang. Tepat di samping meja Sai.
Yamanaka Ino membungkuk sejenak pada sang wali kelas, lalu berjalan menuju tempat duduk yang akan ditempatinya selama setahun itu. Entah kenapa dia sedikit tersipu menyadari dia ternyata berada dalam satu kelas yang sama dan duduk di sebelah orang yang baru ditemuinya tadi.
"Wah, ternyata tempat duduk di sampingku itu akan diisi olehmu, ya, Yamanaka." Sai menopang dagunya dan menatap gadis itu.
"Ya. Mohon bantuannya untuk setahun ke depan."
Keduanya saling melempar senyum. Lalu pelajaran pun dimulai dengan hujan yang masih mengguyur di luar.
.
.
.
A/N:
Fanfic kedua dengan pair SaiIno, yeay! (/'o')/
Mohon maaf kalau banyak kesalahan, ya. Pembuatan fic ini bisa dibilang mendadak soalnya, hoho. Fic ini juga dibuat untuk sedikti meramaikan #Yam2FamAnniv!
Selamat ulang tahun yang kedua untuk grup tersayang! Semoga semakin ramai dan tidak ada hambatan apapun! /tebar confetti
Tapi sepertinya fic ini tidak akan selesai pada tenggat waktu yang ditentukan, aku rasa. Tapi aku bakal usahain ;D
Dan kalau tidak, mungkin akan di-update sesempatnya ya~
Akhir kata, terima kasih sudah mau membaca fic abal-abal ini!
Naru
