Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.

Pairing: Jakotsu/Kagome. Slight Hiten/Kagome only at the beginning.

Rate: M.

Summary: Semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai siapapun. Berawal dari persahabatan, Jakotsu dan Kagome menemukan bintang untuk diikuti, mimpi untuk diraih, dan kasih sayang untuk dibagi.

Genre: Drama/Hurt/Comfort/Friendship/Angst/Romance.

Warnings: Slice of life: BL (maybe), M/F lime (maybe).


Iris biru kelabu itu melirik ke jam dinding untuk yang kelima kalinya dalam satu menit terakhir. Ia mengamati bagaimana jarum panjang yang merangkak naik ke dua baris angka paling atas membawa serta jarum pendek ke satu-satunya angka kembar yang ada. Kagome merubah posisinya, kedua kaki ia lipat ke samping, tangan kirinya bertopang di lengan sofa, lalu ia bersandar. Matanya menatap ke layar televisi, tapi fokusnya tak benar-benar tertuju pada acara malam yang saat itu ditayangkan.

Walau samar, ia dapat mendengar langkah kaki, dengan sigap ia mengambil remote dan mematikan TV. Dengan jelas ia dapat mendengar kunci yang di masukan ke lubangnya, di detik yang sama, keberaniannya menciut, tekadnya luntur. Secepat kilat Kagome lari ke kamarnya, dan berbaring dengan punggung membelakangi pintu.

Derit halus muncul saat pintu depan terbuka, Kagome menutup wajah dengan lengan kirinya dan memejamkan matanya erat-erat. Sekeras mungkin ia berusaha untuk menenangkan gemuruh di dadanya dan bernapas sealami seperti seharusnya orang yang sedang tidur. Setelah beberapa saat, ia mendengar langkah halus masuk ke kamarnya tepat seperti yang ia duga, persis seperti yang ia harapkan, juga seperti yang ia takutkan.

Dalam kepura-puraannya, ia dapat mendengar helaan napas ringan yang disusul tawa lembut pria itu. Tak lama, ia mendengar suara kain bergesekan, selimut yang berada di ujung kasur ditarik, dan kemudian ia sudah terselimuti. Untuk beberapa detik, sebuah tangan membelai lengan kirinya secara perlahan sebelum lampu kamarnya redup dan pintu tertutup.

Kagome membuka mata, di menit-menit berikutnya, ia mendengarkan dengan seksama bunyi denting microwave yang terdengar dari dapur dan sayup-sayup suara tv di ruang tamu. Ia tahu, Jakotsu pasti sedang menghangatkan makanan sebelum memakannya sambil menonton di ruang tamu yang berada di depan kamarnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, namun rasa sakit yang ia timbulkan tak dapat membendung tetes keputusasaan jatuh ke pipinya.

Pikirannya tercekik oleh ribuan pikiran buruk yang menyerbu masuk, dadanya penuh sesak oleh luapan kasih sayang yang serupa dengan dua bilah mata pisau tajam. Dilema yang membebaninya seakan lebih berat dari dunia dan seisinya.

Ia mengenal bagaimana menyakitkannya cinta bertepuk sebelah tangan.

Pun ia mengerti perih hati kala cinta dikhianati.

Namun, tidak seperti ini.

Kagome teramat yakin, apa yang telah ia kecap dahulu sama sekali tak dapat dibandingkan dengan yang kini ia hadapi.

~To be continued~

Taisho no Miko's note: Lebih-kurang, cerita ini terinspirasi dari potongan-potongan kisah nyata yang terjadi di sekitar penulis. Catatan penting, fic ini sama sekali bukan untuk menghakimi atau apapun, pesan yang ingin disampaikan adalah (seperti yang dikatakan di summary) semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai oleh siapapun.