.
Bab I
The Beginning
.
.
Suatu hari, aku berkaca pada air berlumpur. Memandangi keruhnya refleksi yang terpantul dari riak-riak tak jernih di bawah sana. Mencoba mengenali diri, meski kepala tergelantung beban sebesar bukit.
Aku tak melihat apapun.
Wajahku tak nampak. Cahayaku tak berbekas. Dan sisa-sisa kebaikanku lenyap sudah.
Sepasang kaki meloncat di atas kubangan air itu, membuat lumpur tercoreng ke aku bangun.
Dalam kepeningan kepala yang nyaris tak berujung, tak kurasakan seorangpun di sini.
Aku ada di dalam kamar yang asing. Langit-langit dan lantai bagai ruang klaustrofobia yang mencekik, sekalipun ini luas. Jendela di ujung terbuka lebar dengan angin yang berhembus mengusir udara stagnan. Korden mengibas dan mengombak, membuat ilusi kasat mata.
Tak ada apapun di sini. Hanya aku. Di dalam ruangan luas yang hanya berisi satu ranjang sempit. Jendela berkorden dan pintu yang tertutup rapat menjadi satu-satu-satunya hal yang bisa kulihat selain lampu terang-benderang yang menggantung di tengah-tengah ruangan.
Dan meskipun jendelanya terbuka lebar, tak ada pemandangan menarik yang nampak kecuali langit sore yang temaram. Jelek sekali. Bahkan sehelai daun pun tak kelihatan.
Suara kenop pintu diputar masuk ke gendang telingaku. Bersamaan dengan bunyi deritan nyaring pintu terbuka yang berisik.
Sosok di balik pintu melangkah masuk.
"Kau sudah bangun ya, Mika."
.
o-o-O-o-o
.
Yuu-chan melangkah lalu duduk di kanan ranjang sempitku. Tanganku digenggamnya. Senyum Yuu-chan kelihatan bahagia sekali.
"Yuu-chan..."
"Syukurlah kau sudah bangun, Mika. Aku sempat mengira kau tidak akan bangun lagi-"
Senyumnya goyah sebentar, lalu ia tertawa yang biasanya penuh optimistis kini agak berkabut.
"Apa yang terjadi?" Mungkin itu yang seharusnya kutanyakan.
Genggaman di tanganku mengerat. Kupandangi dia.
"Aku akan memanggil yang lain."
Yuu-chan bangkit, kemudian melangkah menjauh.
"Yang lain?"
Sebelum lenyap di balik pintu, Yuu-chan tersenyum, berusaha meyakinkan.
Aku tidak suka senyum itu.
"Tunggulah di situ. Aku akan segera kembali."
"Yuu-cha-"
Tapi Yuu-chan sudah berlalu. Pintu ditutup dengan suara bedebam yang sengaja dibuat sepelan mungkin.
Aku sendirian lagi.
Yuu-chan tadi menyuruhku menunggu, jadi aku akan menunggu. Tak peduli seberapapun lamanya itu.
Tapi dia lama sekali. Apa yang terjadi?
Aku agak cemas.
Pelan-pelan aku mencoba menghitung detik. Berusaha mengalihkan perhatianku ke hal-hal yang lebih kecil.
Satu, dua, tiga, empat...
... Tujuh enam, tujuh tujuh, tujuh delapan...
... Duaratus tujuhbelas, duaratus delapan belas...
Dan tiga ratus hitungan berikutnya sudah berlalu. Yuu-chan masih belum kembali.
Kecemasan membuncah dalam dadaku, mencurah keluar
Haruskah kucari dia?
Tapi, sebelum pikiranku melayang semakin jauh, lagi-lagi pintu itu berderit terbuka.
Yuu-chan berada paling depan, melangkah duluan.
Di belakangnya, ada sosok-sosok yang tak kukenali, berjalan berbaris seperti layaknya prajurit. Wajah-wajah mereka datar tanpa ekspresi. Empat laki-laki dan dua perempuan.
"Mika," Yuu-chan memulai.
Aku berjengit, mataku membelalak lebar.
"Yuu-ch-"
"Perkenalkan, ini semua teman-temanku."
.
Mereka semua adalah manusia.
.
.
o-o-O-o-o
.
A/N:
FF iseng-iseng karena gua lagi baper gara-gara episode terakhir T_T
review yah ;D
