Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Yaoi, Alur kecepetan, gaje, typo
Rating : T for now
Pair : NaruSasu
Happy reading
.
.
"Jangan berpikir terlalu banyak, cukup pusatkan bidikanmu." Itachi Uchiha berkata kepada adik semata wayangnya. Ia berdiri sedikit ke belakang membiarkan adik kecilnya membidikkan panahnya ke arah seekor kelinci putih yang berjarak beberapa meter dari mereka.
"Dia terlalu kecil." Sasuke berbisik seakan-akan takut kelinci itu bisa mendengarnya. Tangan kecilnya sedikit bergetar ketika menarik anak panahnya.
"Lemaskan tanganmu, kau terlalu kaku." Itachi menasehati.
Sasuke, bocah berusia 6 tahun itu, memicingkan matanya berusaha memusatkan ujung anak panahnya pada sang kelinci yang kini berdiri dengan kedua kakinya, memandang ke lain arah dari tempat Sasuke dan Itachi berpijak.
Bocah itu berdecak sebal ketika tiba-tiba sang kelinci berpindah dan menghilang dari pandangannya.
"Berhenti!" Sasuke berteriak, ia membawa kakinya menuju ke arah pepohonan rindang tempat kelinci tadi berdiri.
"Jangan mengejar terlalu jauh." Itachi memperingati, ia mengikat kudanya ke tiang dengan pandangan masih terarah pada Sasuke.
Sasuke berlari masuk ke dalam pepohonan. Busurnya telah turun dan Onyxnya berusaha menemukan jejak sang kelinci putih. Salju masih belum sepenuhnya mencair. Tanah masih tertutupi butiran salju yang kini mengotori sepatu boot Sasuke.
Bocah cilik itu masuk semakin dalam, terkadang kaki kecilnya berlari ketika melihat sekelebat makhluk berbulu putih yang tadinya merupakan target buruannya.
"Ouch!" ia tersentak kaget ketika ranting pohon menahan belakang jubahnya. Sasuke menarik jubahnya dengan kasar lalu memperbaiki kembali pakaiannya. Ia bisa mendengar suara Itachi yang terdengar samar-samar dari kejauhan, memanggilnya untuk kembali.
"Padahal tadi aku hampir mendapatkannya." Ia bersungut sambil menghantamkan kakinya ke tanah dengan berang. Bocah berambut raven itu berputar bermaksud untuk kembali ke tempat Itachi. Namun kemudian sebuah suara menghentikan langkahnya.
Dengan segera Ia berbalik, panahnya kembali terangkat waspada. Suara ranting kayu yang terinjak terdengar dari sisi hutan yang gelap. Sasuke tidak bisa melihatnya, tidak ada sinar matahari yang berhasil menyelinap, pepohonan terlalu rindang. Dengan perlahan dia mundur, Onyxnya memicing waspada.
Hening beberapa saat, lalu tiba-tiba suara geraman entah dari mana kembali terdengar, membuat bulu kuduk Sasuke berdiri. Binatang buas? Ia menebak sambil meneguk ludah. Sepatu bootnya terasa begitu berat dari biasanya. Jantungnya mulai berdetak cepat ketika suara geraman semakin kentara seakan-akan binatang itu tengah bergerak mendekatinya.
Panah Sasuke masih teracung, tapi tangannya luar biasa gemetar. Ia bisa mendengar suara langkah kaki dari arah kegelapan.
Sasuke menahan nafas ketika sesosok berbulu muncul dari balik pohon, memandangnya tajam dengan gigi runcing yang bisa mencabiknya dalam satu gigitan.
.
"Sasuke?" Itachi berteriak keras. ia berlari masuk ke dalam hutan. Memandang sekelilingnya dengan khawatir.
Pemuda berusia 13 tahun itu menunduk sambil memicingkan mata, berusaha mengikuti jejak sang adik. Seharusnya ia mendengarkan peringatan ibunya untuk tidak membawa Sasuke ke tempat ini. Hutan terlarang bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan latihan memanah. Ada banyak hal-hal mistis di tempat itu. Ayahnya bahkan belum pernah memasuki hutan itu dalam jarak 500 meter. Orang-orangnya yang masuk ke dalam hutan tidak pernah kembali sebelumnya.
Jantung Itachi berdetak cepat. Pohon begitu rindang, hanya secercah cahaya yang bisa masuk dari selip dedaunan.
Itachi menemukan jejak kaki sang adik. Dengan was-was ia mengeluarkan pedangnya, apapun akan ia lakukan untuk melindungi adiknya.
"Sasuke?" Ia berteriak seraya menyusuri jejak kaki kecil tersebut.
"Niisan!"
Suara Sasuke terdengar dari kejauhan. Tanpa menunda lagi, ia berlari ke asal suara. Hatinya mencelos, takut sesuatu yang buruk menimpa bocah 6 tahun itu. Ia berhenti mendadak ketika melihat sang adik sedang berlutut di tanah. Tubuhnya membelakangi Itachi, seakan-akan ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Sasuke?"
Bocah itu menoleh. Ia berdiri lalu melambai agar kakaknya mendekat.
"Kau tidak apa-apa?" Itachi memeriksa tubuh sang adik, mencari luka kecil yang ternyata tidak ditemukannya.
"Niisan, aku menemukan sesuatu." Sasuke berbisik, lalu menunjuk ke sesuatu.
Seekor rubah tengah terbaring di tanah. Sepasang matanya terbuka memandang Itachi, tajam. Geraman terdengar dari moncongnya yang terbuka ketika Itachi menggendong Sasuke membawanya menjauh.
"Niisan, ia terluka." Sasuke berkata dalam gendongan Itachi. Ia menunjuk sang rubah yang terlihat lemah dan tak berdaya.
Itachi memerhatikan makhluk itu dengan lebih detil, memastikan bahwa ia tidak berbahaya. Binatang itu benar-benar terlihat sakit. Walau matanya melemparkan tatapan menusuk ke Itachi, tapi tubuhnya terlihat begitu rapuh. Ia terbaring dengan moncong menyentuh tanah. Nafasnya menderu begitu keras seakan-akan makhluk itu sedang kesulitan untuk bernafas.
"Kita harus menolongnya." Sahut Sasuke.
Itachi tidak menjawab, tapi ia meletakkan Sasuke kembali ke tanah, lalu berjalan mendekati sang rubah setelah berbisik, "tunggu disini." Kepada Sasuke.
Anak tertua dari Clan Uchiha itu menunduk, lalu menjulurkan tangannya untuk menyentuh sang Rubah. Hewan buas itu hanya menggeram lemah, seakan-akan tidak suka Itachi menyentuhnya.
"Apa dia sakit parah?" Sasuke ternyata tidak mendengarkan sang kakak. Ia sudah ikut bersujud di samping Itachi. Tangan kecilnya mengelus kepala sang Rubah, yang anehnya tidak mendapatkan geraman mengancam seperti apa yang diterima Itachi tadi. Malah sebaliknya makhluk itu memejamkan mata seakan-akan menikmati setiap belaian Sasuke.
"Bulunya keras." Terang Sasuke.
"Bulunya membeku." Itachi membenarkan. Ia meyakini bahwa makhluk itu telah berada disini selama musim dingin.
"Kalau begitu kita harus menghangatkannya." Sasuke menyahut. "Bawa dia ke istana."
Itachi terdiam sebentar, berpikir. Ia memandang Sasuke yang tengah melemparkan pandangan penuh permohonan padanya. "Dia makhluk buas." Tolaknya.
"Tapi dia terluka. Dia tidak bisa melukai siapapun." Sasuke menjamin. "Lihat dia baik-baik!" tambahnya.
Itachi menghela nafas, lalu dengan perlahan ia mengangguk. "Jika Ayah mengizinkanmu." Katanya sambil menunduk untuk menggendong Rubah itu ke dalam dekapannya.
"Kau akan membantukukan?" Tanya Sasuke seraya mengikuti langkah Sang kakak yang berjalan membimbingnya keluar hutan.
Tidak ada balasan, tapi bocah kecil itu tahu, bahwa kakaknya akan menolongnya. Ia selalu melakukannya.
.
The Beast in the Forest
.
By Midori Spring
.
.
(Part one)
.
(Sebelas Tahun kemudian)
.
DUAR!
Suara letusan keras menggegerkan seisi istana. Sasuke terbangun dengan jantung bertalu, menatap kesegala penjuru kamarnya yang masih pada pancahayaan redup.
DUAR!
Suara ledakan berikutnya kembali terdengar. Tidak kalah keras dari sebelumnya. Sasuke cepat-cepat beranjak dari kasurnya. Jantungnya berdetak cepat, khawatir. Ia tahu bahwa sedang terjadi keributan besar di luar sana.
Berusaha menguasai dirinya, Sasuke bergerak mengambil busurnya, menyambarnya dengan cepat, lalu berlari ke pintu.
Di luar dari atas balkon, Sasuke bisa melihat lidah api berkobar melahap lumbung istana. Beberapa pengawal berlarian membawa air berusaha memadamkan api. Tapi berikutnya bola api besar jatuh begitu saja dari atas langit langsung menghantam menara kiri istana, menghancurkan sebagian besar bagian menara dengan bunyi yang memekakan telinga.
Sasuke berlari cepat di koridor. Situasi semakin terlihat tak terkontrol ketika dayang-dayang berlarian tidak tentu arah, mencari tempat perlindungan. Begitu pula dengan para pengawal yang terlihat berlarian turun dari istana dengan pakaian lengkap, siap berperang.
Sasuke masih memakai pakaian tidurnya, ia tidak punya waktu untuk mengenakan baju besinya. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain keselamatan istana dan keluarganya.
"Kita diserang! Kita diserang!"
Suara teriakan terdengar dari berbagai penjuru, mempertegang suasana yang sudah kacau.
Sasuke melesat turun dari tangga. Dari sini terlihat jelas, bahwa beberapa musuh telah berhasil masuk ke dalam halaman istana. Sasuke berdecak sambil mengambil anak panahnya memasangkannya ke busurnya.
Ia tidak bisa percaya gerbang istananya bisa ditembus secepat itu.
Panahnya melesat dengan cepat di udara malam -yang kini berbau dengan darah dan peperangan- langsung menembus leher salah satu lawannya yang tengah menghunuskan pedang siap menghabisi pengawal kerajaannya .
Tanpa membuang-buang waktu, Sasuke kembali melancarkan serangan kedua, ketiga, keempatnya ke lawan yang bisa dicapainya. Semua panahnya sukses menembus titik yang ditargetkan oleh mata elangnya.
DUAR!
Bola api terus berjatuhan dari atas langit, menghancurkan beberapa bagian istananya. Api semakin membara, dan Sasuke mulai takut istananya tidak akan mampu bertahan. Ia tidak bisa melihat Ayahnya, sang pemimpin klan Uchiha, Ibunya dan juga kakaknya. Para ksatria bahkan berperang tanpa komando.
"Sasuke-sama!" Seorang pengawal tiba-tiba datang menghampiri Sasuke.
"Juugo, apa yang terjadi?" Tanya Sasuke, lega ia bisa menemukan seseorang.
Juugo, lelaki bertubuh besar yang menjabat sebagai pengawal pribadinya, menggelengkan kepala dan menarik Sasuke menjauh dari pertempuran.
"Kerajaan diserang, ada penyusup!" Jelasnya sambil terus menarik Sasuke masuk ke dalam istana. "Aku diperintahkan untuk mengeluarkan anda dari sini."
Sasuke terlihat kehilangan kata-kata selama beberapa saat. Mata Onyxnya terlempar ke arah ksatrianya yang masih bertempur dengan gagah berani. "Kita harus bertempur!" Katanya.
Juugo kembali menggeleng. "Tidak, Raja memerintahkanku untuk membawa anda keluar dari istana." Katanya. "Keselamatan anda adalah yang terpenting."
"Tidak!" Sasuke tiba-tiba membentak. Ia berhenti melangkah. "Aku salah satu ksatria dari kerajaan ini. Aku tidak akan ragu untuk mengorbankan nyawaku demi clanku."
"Sasuke-sama," Kini Juugo terlihat seperti memohon. "Ini perintah langsung dari raja."
"Ayahku membutuhkan bantuanku!" Bentak Sasuke keras, kedua Onyxnya berkilat marah. Ia berputar bermaksud kembali ke medan pertempuran. Tapi kata-kata Juugo berikutnya membuat langkahnya berhenti, tidak bukan hanya langkahnya tetapi hampir sebagian jiwanya.
"Uchiha Fugaku sudah mati." Kata Juugo setengah berteriak. "Uchiha Itachi telah menggantikannya menjadi raja yang baru. Sekarang ia tengah bertempur memimpin prajuritnya di barisan paling depan." Ia berhenti, menunggu reaksi Sasuke.
Pemuda raven itu membisu selama beberapa saat. Dengan sangat perlahan ia berbalik, kedua onyxnya menatap Juugo tepat di matanya. Tatapan yang begitu mengiris hati, hingga membuat Juugo tak sanggup dan ingin berpaling.
"Bagaimana denga ibuku?"
Juugo menghela nafa berat sebelum menjawab. "Ia terluka. Mikoto-sama mencoba melindungi Fugaku-sama saat si penyusup menyerang. Penyusup itu mencoba membunuh raja ketika mereka sedang terlelap."
Sasuke memejamkan matanya, rasanya ia tidak sanggup mendengar semua ini. Ia masih belum bisa menerima bahwa kerajaannya yang berhasil dipertahankan secara turun temurun, kini berada di ambang kehancuran. Ia masih bisa mengingat bau udara segar tadi pagi, tapi sekarang semuanya kini berbau amis.
"Yang mulia apapun yang terjadi anda harus selamat." Juugo berkata, terlihat tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Ini demi klan Uchiha."
Sasuke membuka kembali Onyxnya, berusaha menetapkan hati. "Apa yang harus kita lakukan?" Tanyanya.
"Pertama, aku harus mengeluarkan anda dari sini." Jawab Juugo cepat, "Kedua kita harus mencari bantuan."
"Bantuan?"
"Mikoto-sama mengatakan bahwa terdapat kawanan kuat diseberang hutan terlarang. Mereka adalah sekutu kita, aku harus mengantar anda kesana."
"Sekutu? Aku baru mendengar tentang itu… Dari clan mana mereka?"
"Mikoto-sama terlalu lemah untuk menjelaskan semuanya, aku tidak mendapatkan informasi yang lebih dari itu." Balas Juugo, "tapi kita tidak punya pilihan lain. Itachi-sama akan melindungi kerajaan Uchiha sampai kita kembali."
Berikutnya mereka bergerak masuk semakin dalam ke istana. Juugo mengarahkannya ke tempat asing yang belum pernah Sasuke lewati sebelumnya. Mereka merangkak masuk ke dalam sebuah lubang yang selama ini tersembunyi dibalik air terjun winterfall. Air terjun buatan ini berada di taman istana, terletak dibagian belakang kastil.
Suara air bergema di dalam terowongan, tapi dibalik itu semua ia bisa merasakan tanah sedikit bergetar ketika serangan terus dilancarkan. Jika ia memejamkan mata, ia bisa membayangkan bagaimana kondisi istana saat ini. Sasuke menggelengkan kepalanya, ketika pemikiran-pemikiran mengerikan mulai bermunculan.
Jika sampai terjadi sesuatu dengan Itachi, dia akan menjadi satu-satunya harapan terakhir bagi clannya.
Setelah merangkak dengan susah payah selama tiga puluh menit, Juugo berhenti. Ia mengangkat tangannya meraba atap terowongan. Sasuke hanya memerhatikan dalam diam, ketika Juugo menarik pedangnya keluar lalu menusukkan bagian tumpulnya ke atas. Di luar dugaan ada tanah yang langsung berhamburan turun ke bawah. Juugo kembali memasukkan pedangnya ke sabuk, kemudian berputar, berbaring menghadap ke atas. ia menempelkan kedua tangannya ke atas atap terowongan dan dengan gigi bergemeletuk ia menggeser bagian atap atau yang terlihat seperti batu berbentuk segi empat bagi Sasuke, ke sisi yang lain.
Udara malam langsung masuk menerpa kulit Sasuke, membuat poninya sedikit melambai mengikuti angin.
"Dimana kita?" Tanya Sasuke ketika mereka berdua telah berhasil keluar.
"Hutan." Kata Juugo, memandang sekelilingnya dengan waspada, "kita masih belum selamat. Ada kemungkinan musuh berada –"
Zruuuut
Busur panah lewat tepat disisi kiri kepala Juugo, langsung menancap kuat ke pohon. Dalam hitungan detik, Sasuke dan Juugo melompat bersamaan, bersembunyi di balik pohon besar. Sasuke kembali memasangkan anak panahnya. Ia melirik ke Juugo yang bersembunyi di balik pohon yang lain, mengangguk padanya. Sasuke melepaskan panahnya ke arah musuh. Suara teriakan memberi tanda padanya bahwa panahnya telah berhasil mengenai targetnya.
"Aku akan menangani mereka." Sasuke mendengar Juugo berteriak. "Sasuke-sama, anda lebih baik segera pergi dari sini."
"Kita bisa menghadapi mereka bersama-sama." Sasuke balas berteriak, Onyxnya mencoba menghitung siluet musuh yang juga dalam posisi perlindungan.
"Mereka akan semakin banyak." Kata Juugo, "tidak ada cara lain. Pergilah!"
Sasuke berdecak kesal. sebenarnya ia benci harus bergantung pada orang lain, tapi apa yang dikatakan Juugo benar. Mati disini hanya akan membuat segalanya semakin buruk, ada tugas yang harus ia selesaikan.
Maka akhirnya Sasuke berlari secepat kilat, dengan gesit menghindari hujan panah yang diarahkan ke padanya. Ia masuk ke hutan semakin dalam. Ia bisa merasakan derap langkah berat orang-orang yang berada beberapa meter di belakangnya. Sepertinya Juugo tidak berhasil menghadang mereka semua. Dengan hanya melihat sekilas, ia lepaskan anak panahnya ke segala arah. Ia tidak tahu apa dia mengenai sasaran atau tidak, ia terlalu sibuk menghindari terjangan panah balik dari mereka.
Hutan semakin gelap, pepohonan semakin rindang. Cahaya bulan terhalang oleh rindangnya pepohonan. Sasuke kesulitan melihat langkahnya, ia hanya terus berlari tanpa tahu arah tujuannya. Ia tidak pernah masuk ke dalam hutan ini sebelumnya, karena hutan ini merupakan hutan yang terlarang.
Banyak kejadian-kejadian mistis yang terjadi di hutan ini. Orang-orang yang masuk ke dalam hutan tidak pernah kembali sebelumnya. Ada yang bilang hutan ini telah dipenuhi dengan sihir. Para penyihir tinggal entah dibagian mana dari hutan ini, karena itulah kerajaannya melarang siapapun untuk masuk ke sana.
Walau begitu, Sasuke tidak punya waktu untuk mengikuti aturan tersebut. Kakinya terus bergerak masuk semakin dalam. Onyxnya berusaha mencari secercah cahaya. Ia berbelok ke kiri, sedikit menunduk menghindari panah yang hampir mengenai kepalanya.
Bagaimanapun juga ia tidak tahu dimana ia bisa menemukan kawanan yang dimaksud Juugo, ia hanya memilih jalan secara serampangan. Berharap pada keberuntungan.
Udara dingin langsung mengenai wajah Sasuke ketika pepohonan mulai berkurang. Cahaya bulan kembali muncul, menyinari rerumputan panjang. Dada Sasuke terasa sesak karena terus berlari tanpa henti. Suara air terdengar jelas dalam pendengarannya. Dan kemudian Sasuke sadar, tidak ada jalan lagi di depannya. Ia menghentikan langkahnya dengan susah payah. Onyxnya membesar ketika menyadari posisinya yang berada di ujung tebing. Sambil menelan ludah, ia berjalan perlahan ke ujung, memandang ke bawah.
Beratus-ratus meter dibawahnya, ombak menghantam tebing dengan kekuatan besar, Sasuke tidak yakin ia bisa selamat jika melompat.
Tapi tidak ada pilihan lain, jika ia tetap bertahan disini orang-orang itu akan langsung membunuhnya. Sementara Sasuke masih berpikir, sebuah anak panah melesat langsung mengenai paha kirinya. Sasuke menjerit tertahan ketika merasakan rasa sakit yang luar biasa. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya. Ia terhuyung mundur, sementara anak panah lainnya kembali muncul hampir mengenai dadanya.
"Sial!" Umpat Sasuke keras. ia menoleh ke belakang menatap ombak besar dibawahnya. Ia benar-benar sudah terpojok.
"Bunuh dia!" Seseorang dari dalam kegelapan berteriak.
Sasuke menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Tidak ada pilihan lain, pikirnya dalam hati.
Sambil memejamkan mata Sasuke berputar dan melompat.
Selama beberapa detik ia merasakan tubuhnya seperti terbang di udara. Sampai tarikan gravitasi menariknya turun ke bawah. Sebuah ombak besar langsung menerjangnya membuatnya tak bisa mengendalikan tubuhnya. Dirinya hanyut mengikuti arus deras air, jatuh semakin dalam ke dasar laut.
…
"Hei, apa benar dia manusia?" Sebuah suara menyahut, terdengar begitu antusias.
"Dia tidak memiliki perbedaan dengan orang dewasa kita." Suara lain berkata.
"Tapi kulitnya halus sekali. Apa semua manusia seperti ini?"
"Hei jangan menyentuhnya, nanti kau dimarahi!" suara baru ikut meramaikan.
"Ngggh" Sasuke mengerang diantara semua keributan itu. Tubuhnya terasa sakit, terutama kakinya. Ada sengatan perih setiap Sasuke mencoba untuk menggerakannya. Dengan susah payah ia membuka kedua onyxnya, bersamaan dengan itu suara-suara lain terdengar semakin ribut.
"Di-dia bangun!"
"Panggil sesepuh sekarang juga!"
Sasuke akhirnya berhasil membuka matanya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya.
Terdapat sekitar tiga pasang mata yang menatap balik kearahnya. Tiga pasang mata milik tiga bocah kecil berusia sekitar 5 tahunan. Dua diantaranya terlihat ketakutan, mereka bersembunyi dibalik tubuh sang bocah ditengah yang sebaliknya memandang Sasuke dengan penasaran.
"Hei manusia, apa kau tidak apa-apa?" Tanya si bocah di tengah. Kedua iris kuningnya bersinar seperti mata singa. Dan kedua telinganya yang panjang dan berujung runcing menyembur dibalik rambut pendeknya yang coklat sebahu. Kedua telinga yang sewarna matanya itu bergoyang-goyang naik dan turun, mengikuti gerakan alisnya yang tebal.
Sasuke mengerutkan dahi melihat keanehan itu. ia mengerjapkan matanya beberapa kali merasa bahwa ia salah lihat. Tapi berapa kalipun ia melakukannya, telinga panjang itu masih muncul. Bahkan jika diperhatikan ia bisa melihat telinga aneh lainnya dari kedua anak yang mengintip di balik punggung sang bocah di tengah.
Oh Tuhan apa aku sudah mati? Pikirnya panik berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia bisa mengingat hutan, jurang, air, batu karang…
Sementara itu sang ketiga bocah memiringkan kepalanya bingung.
"Sepertinya dia tidak bisa bicara." Bocah yang paling pendek berbisik ke bocah yang lainnya.
Sasuke langsung menatap bocah itu dengan pandangan tajam. Seakan-akan bocah itu telah mengganggu konsentrasinya.
"Dimana ini?" Tanya Sasuke.
Ketiga bocah saling menatap satu sama lain. Sebelum menyatukan tatapannya ke Sasuke. Tepat ketika salah satu bocah bertelinga seperti kera akan menjawab, sebuah suara tiba-tiba menyahut mengagetkan keempat penghuni lainnya.
"Bukankah sudah kukatakan kalian tidak boleh masuk!"
Seorang pemuda berambut blonde memasuki ruangan bertembok kayu itu. kedua iris birunya menyipit jengkel kepada ketiga bocah yang langsung berlarian berhamburan keluar ruangan. Salah satu diantaranya sedikit nyengir ke arah Sasuke sebelum menghilang. Sasuke sempat melihat sebuah ekor coklat berbulu menyembul dari pantat bocah itu saat berbalik.
"Uhm, maaf untuk yang tadi." Kata sang pemuda blonde sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sasuke dilain pihak menghembuskan nafas lega. Ia senang melihat seseorang yang normal. Tidak ada telinga dan ekor. Pemuda blonde itu terlihat seperti manusia, kecuali pakaiannya terlihat seperti mantel bepergian yang biasa digunakan Sasuke hanya saja lebih tipis dan berwarna hitam. Dia tidak menggunakan Yukata atau Kimono yang biasa digunakan Sasuke sehari-hari.
"Namaku Uzumaki Naruto." Kata Pria blonde itu, yang anehnya terlihat gugup dan salah tingkah.
"Tadi itu apa?" Tanya Sasuke dengan wajah yang masih pucat.
Naruto terlihat bingung selama beberapa saat, "Maksudmu ketiga bocah itu? Apa mereka mengganggumu?" Tanyanya yang langsung melirik ke arah tempat bocah itu menghilang dengan kesal.
Sasuke menggeleng cepat, "Maksudku telinganya dan mereka… punya ekor…"
"Ah!" Sahut Naruto keras. "Tentu saja itu terlihat aneh untukmu." Tambahnya sambil mengangguk mengerti. "Mereka –maksudku kami adalah jinchuuriki."
"Jinchuuriki?" Kedua alis Sasuke bertaut. Ia pernah mendengar nama itu sebelumnya, mungkin disalah satu buku bacaannya atau pernah disebut lalu oleh ayahnya. Tapi sayangnya ia tidak bisa ingat apa tepatnya Jinchuuriki itu.
"Kami berbeda darimu." Kata Naruto menjawab pertanyaan Sasuke. "Kami bisa berubah wujud menjadi binatang."
Sasuke sedikit tertegun, sebenarnya tidak begitu mengerti. Penjelasan Naruto agak sulit diterima nalarnya. "Maksudmu siluman?"
Naruto terdiam selama beberapa saat, keramahan yang terpancar diwajahnya sedikit berkurang. "Kami Jinchuuriki. Siluman terlalu rendah untuk menggambarkan kami."
Keheningan sempat melanda selama beberapa saat. Suasana tidak enak terasa begitu mengganggu. Sasuke sadar dia telah menyinggung perasaan dari sang pemuda blonde.
"Ini dimana?" Tanya Sasuke berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia menatap sekelilingnya, meneliti setiap sudut ruangan. Semuanya terbuat dari kayu, tembok, lantai bahkan ranjang Sasuke yang merupakan satu-satunya benda yang ada diruangan itu juga terbuat dari kayu.
"Ini kediaman Jinchuuriki." Kata Naruto. "Aku menemukanmu dipesisir pantai, tergeletak tak sadarkan diri dan terluka."
Ia berjalan mendekati Sasuke, iris birunya menatap kaki Sasuke yang terluka. "Lukamu bagaimana?" Tanyanya.
Sasuke bangun dan mendudukkan dirinya di ranjang, sedikit mendesis menahan sakit ketika pergerakannya itu menimbulkan rasa nyeri yang menusuk didaerah pahanya , tempat dimana luka itu berada. Walau begitu ia tetap mengatakan "Kurasa, tidak apa-apa." pada Naruto yang jelas merupakan kebohongan besar.
Naruto sendiri tidak menggubris perkataan Sasuke. Ia telah berdiri didekat ranjang dan tanpa mengatakan apapun langsung menyingsikan belahan yukata Sasuke dari pahanya, hampir mengekspos benda intim Sasuke.
"A-apa yang –" Sasuke tecekat dengan wajah memerah, berusaha menurunkan kain Yukatanya.
Tapi Naruto dengan gesit menepisnya, "Lukamu semakin parah." Potongnya sambil meraba luka dipaha Sasuke.
Sasuke kembali mendesis tertahan ketika jemari Naruto menyentuh lukanya. Onyxnya menatap dengan ngeri ke pahanya yang kini terlihat membiru, kecuali bagian luka tusukannya, warnanya merah dan sedikit kehitaman.
"Panahnya beracun." Jelas Naruto. ia menundukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya pada luka Sasuke.
Sasuke bergerak gelisah dengan tidak nyaman. Posisi mereka terkesan begitu mencurigakan. Dan lagipula kenapa si pemuda blonde yang aneh itu harus menatapi luka Sasuke begitu lekat. Apa dia seorang tabib?
Tapi belum sempat Sasuke menanyakannya, Naruto menoleh kepada Sasuke. Iris birunya menatap Onyx Sasuke dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku, harusnya kulakukan dari awal." Katanya.
Kedua alis Sasuke bertaut tidak mengerti, tapi beberapa detik kemudian tubuh Sasuke berjengit keras ketika sang pemuda blonde menjilat lukanya secara tiba-tiba.
"Argh!" Sasuke mengerang tertahan.
Naruto menjilat lukanya secara berulang-ulang, tangan tannya mencengkram kaki Sasuke menahannya untuk bergerak. Dan tubuh Sasuke kembali jatuh ke kasur ketika sebuah isapan dipahanya memberikan sensasi yang membuatnya ngilu. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang ditarik keluar dari sana. Rasa hangat menjalari pahanya, menggantikan rasa sakit yang sedari tadi terus menusuk. Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendesah, ia akan terdengar begitu aneh jika sampai mengeluarkan suara sekecil apapun.
Entah apa yang dilakukan Naruto dibawah sana ia seperti sedang mengangkat rasa sakit yang mengaliri lukanya.
Sasuke menutup mulutnya rapat-rapat ketika sensasi aneh itu semakin terasa nyata. Dan berikutnya ia hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali ketika rasa itu menghilang begitu saja, beberapa detik kemudian wajah Naruto muncul dalam pandangannya.
"Kau tidak apa-apa, yang tadi tidak sakitkan?" Tanyanya dengan wajah khawatir.
Sasuke cepat-cepat menggeleng. Ia menelan ludah lalu kembali mendudukkan dirinya di ranjang. "Apa yang kau lakukan?"
"Menyembuhkan lukamu." Jawab Naruto santai.
Sasuke sedikit kaget ketika melihat warna putih pahanya telah kembali, sekarang lukanya mengecil dan hanya sebesar luka goresan. "Ba-bagaimana kau melakukannya?" Sasuke benar-benar tidak percaya, lukanya hampir sembuh dalam sekejap.
"Hanya menghisap racunnya lalu menutup lukamu."
"Tapi bagaimana?"
"Aku Jinchuuriki yang spesial, Sasuke." kata Naruto sambil tersenyum, "Aku bisa menyembuhkan luka."
Sasuke masih terlihat tidak mengerti. Ia malah menjadi penasaran dengan Jinchuuriki yang disebutkan Naruto. Ia meraba lukanya, sudah tidak ada rasa sakit. Ia bisa menggerakkan kakinya tanpa harus merasakan perih yang menusuk-nusuk seperti tadi.
"Terima kasih." Kata Sasuke yang masih takjub. "Begitu aku kembali ke kerajaanku, aku akan membayarmu."
Naruto tidak langsung membalas, ia diam selama beberapa saat. Suaranya terdengar sangat pelan ketika ia berkata, "aku tidak butuh bayaran."
Sayangnya, ucapannya ini terlewat dari pendengaran Sasuke. Sang pemuda raven telah beranjak, berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya. "Aku harus pergi." Katanya.
"Pergi?"
"Ada yang harus kulakukan." Semoga ia belum terlambat.
Dengan perlahan Sasuke berdiri, merasa benar-benar tertolong dengan kesembuhan lukanya.
"Kau benar-benar berniat akan pergi?" Naruto mengekori Sasuke keluar dari ruangan.
"Aku harus." Balas Sasuke tegas, tapi kemudian ia langsung berhenti ketika melihat keadaan diluar. "Dimana aku?" Tanyanya. Onyxnya menyapu setiap sisi tempat itu. rumah-rumah kayu dibangun berjejer saling menempel dan berhadapan, dengan sebuah jalan setapak yang berada ditengahnya. Beberapa bocah lelaki terlihat berlarian, tertawa-tawa sambil mengejar satu sama lain, ekor panjangnya bergoyang mengikuti gerakan mereka. Pria-pria yang tampak normal berjalan berseliweran beberapa diantaranya terlihat saling berbincang.
"Kau bisa menyebutnya sebagai perkampungan Jinchuuriki." Jawab Naruto melambai kepada sekumpulan pria yang tengah menatap Sasuke dengan wajah curiga.
"Bagaimana caraku keluar?" Sasuke sedikit kebingungan menentukan arah.
Naruto disisi lain masih menatap sekelompok pria yang kini telah berdiri, terlihat akan mendatangi dirinya dan Sasuke. Menyadari hal itu raut wajah Naruto berubah menjadi waspada, dan secara tiba-tiba ia menarik tangan Sasuke, mendorongnya ke belakang tubuhnya.
"Hai guys." Sapa Naruto kalem.
Keempat pemuda itu berdiri berjajar didepan Naruto. Penampilan keempat pemuda sama seperti manusia normal lainnya, tidak ada telinga yang mencuat dan ekor berbulu yang melambai dibelakangnya. Walau begitu Sasuke yakin mereka semua merupakan Jinchuuriki, seperti Naruto mereka juga menggunakan pakaian yang aneh-aneh. Pakaian yang baru pertama kali dilihat oleh Sasuke.
"Sepertinya kau lupa dengan perjanjian kita, eh Naruto?" tegur pemuda bertatto segitiga terbalik dengan dua buah gigi runcing.
"Aku bisa menjelaskannya." Balas Naruto.
"Mari bicara kalau begitu." Pemuda paling pendek –yang berambut silver dengan bekas luka berbentuk garis panjang dibawah matanya, berkata.
Naruto melirik Sasuke yang wajahnya dipenuhi dengan ekspresi bingung. "Tunggu sebentar, ok?"
Sasuke mengangguk, tidak ingin membuat keributan. Ia telah menyadari bahwa ada aura tidak suka yang terpancar dari kawanan tersebut.
Naruto melepaskan genggaman tangannya dari Sasuke. Ia berjalan diikuti oleh 4 orang lainnya. Setelah berada pada jarak yang cukup jauh dari Sasuke ia akhirnya berbalik menghadap mereka semua.
"Bicaralah." Perintahnya.
"Kau menyembuhkannya!" Sang pria bernama Kiba memulai.
"Karena aku yakin dia tidak berbahaya." Jawab Naruto.
"Apa yang membuatmu begitu yakin?" Pria bernama Shino meragukan Naruto.
"Coba kalian lihat dia baik-baik!" Sahut Naruto sambil menunjuk Sasuke di kejauhan. Pemuda raven itu telah memilih sebuah batang pohon besar sebagai tempat untuk didudukinya.
"Dia hanyalah seorang pemuda rapuh yang sedang tersesat."
"Kita masih belum tahu!" desis Kiba jengkel, "Kita punya peraturan Naruto, dan kau baru saja melanggarnya. Pertama kau membawanya ke mari, dengan alasan bahwa pria yang sedang terluka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tapi sekarang kau malah menyembuhkan lukanya, lalu mengambil alasan baru bahwa dia hanyalah pria rapuh yang sedang tersesat?"
"Omong kosong! Dia adalah manusia! Sekumpulan orang bar-bar yang hanya suka berperang dan membunuh satu sama lain!"
"Dia tidak bisa membunuh kita!" Sergah Naruto cepat. "Kenapa kau begitu takut padanya? Apa kau takut mati?"
"Kau-"
"Cukup!" Pemuda berambut merah akhirnya memutuskan angkat bicara, ia memandang Naruto dan Kiba secara bergantian. "Naruto benar, pemuda itu sama sekali tidak terlihat berbahaya bagiku." Katanya, "Tapi tetap saja kita punya peraturan." Dia cepat-cepat menambahkan ketika Kiba terlihat ingin protes. "Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan Naruto, tapi peraturan tetaplah peraturan."
"Aku mengerti!" Sergah Naruto, merasa semakin tersudut. "Aku tahu aku tidak punya hak untuk memutuskan tapi kalian juga tidak!"
"Oleh karena itu kami disini." Celetuk Shino, "Sesepuh ingin bertemu dengannya. Bawa dia ke Hageromo."
"Aku akan membawanya," Balas Naruto. "beri aku waktu untuk bicara padanya." Tambahnya.
Tidak ada satupun yang bicara. Naruto mendengus puas lalu pergi meninggalkan kawanannya dan kembali menemui Sasuke.
Sasuke langsung berdiri ketika Naruto tiba, "Apa kau dalam masalah?" Tanyanya.
Naruto menggeleng, "Tidak apa-apa. Jangan khawatir." Katanya. "Dengar Sasuke, ada yang ingin…"
"Katakan padaku, Naruto." Potong Sasuke tiba-tiba, kedua onyxnya menatap pepohonan rindang di luar perkampungan. "apa tempat tinggalmu ini terletak diseberang hutan terlarang?"
"Ya kau bisa bilang begitu." Jawab Naruto sedikit penasaran. "Memangnya kenapa?"
Sasuke langsung menatap Naruto dengan wajah luar biasa kaget.
Bagaimana mungkin dia baru menyadarinya!
Dengan penuh penekanan Sasuke berkata, "Antarkan aku ke pemimpin kalian."
.
.
.
Ruangan itu dalam cahaya redup, satu-satunya penerangan hanyalah obor-obor yang ditempel di dekat tembok. Di ujung ruangan terletak sebuah kursi batu yang besar, seorang pria tua dengan kedua tanduk di kepalanya tengah duduk diatasnya. Irisnya yang berwarna ungu menatap Sasuke dengan ingin tahu saat pemuda itu memasuki ruangan.
"Uchiha muda." Sahut pria itu dengan suaranya yang serak. Ujung bibirnya melengkung membuat sebuah seringai. "Aku sungguh tidak menyangka akan mendapatkan tamu terhormat."
Sasuke menganggukkan kepalanya sebagai sebuah sapaan. Ia melirik sekitarnya dengan sedikit waspada, terdapat banyak sekali orang disana. Semuanya adalah pria. Mereka duduk di kursi -kursi panjang yang disusun saling berjejer. Keempat pemuda yang tadi mendatangi Sasuke juga ada disana, berdiri menatap balik padanya, seakan-akan Sasuke adalah tontonan yang sangat menarik.
Di sudut ruangan dekat pintu berdiri Naruto, juga mengawasinya.
"Ibuku, Uchiha Mikoto mengirimku kemari." Sasuke memulai, "ia berkata bahwa kalian adalah sekutu kami, clan Uchiha."
"Ya, aku mengingat pernah menyepakati hal itu, Uchiha adalah satu-satunya clan yang bersedia membagi tanahnya untuk kami, para Jinchuuriki." Jawab Hageromo.
Sasuke menghela nafas lega."kami membutuhkan bantuanmu. Clanku diserang dan sedang dalam posisi bertahan sekarang. Tolong pinjamkan kekuatanmu pada clan Uchiha."
Sasuke mengakhiri kalimatnya sambil meneguk ludah, ia berusaha untuk menenangkan diri. Ruangan yang begitu sunyi terasa begitu menekannya. Rasa khawatir menjalarinya mengingat ia satu-satunya harapan bagi clannya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya mengacaukan segalanya.
"Kalian dalam perang?" Pria tua itu berdiri, turun dari kursi batunya lalu berjalan mendekati Sasuke. "Dan kelihatannya kalian dalam kekalahan hingga mengirim langsung seorang pangeran Uchiha ke tempat kami, para Jinchuuriki."
Sasuke menengadahkan kepalanya, menatap langsung ke mata sang pemimpin Jinchuuriki. "Kami benar-benar membutuhkan-"
"Kami akan selalu membuka pintu gerbang kami untuk Uchiha, tapi hal itu tidak menjamin kami akan memberikan apapun yang kalian inginkan."
Sasuke terlihat ingin memprotes, tapi sang pria tua kembali berkata membuatnya terdiam. "Kami punya aturan disini: Siapapun yang bukan kami (Jinchuuriki) adalah musuh." Jelasnya. "Bisa saja suatu saat nanti kalian tiba-tiba datang menyerang kami."
"Kita bisa melakukan perjanjian baru," kata Sasuke cepat-cepat, benar-benar takut ditolak."kami berjanji tidak akan mengusikmu, dan memberikan apapun yang kalian inginkan sebagai ganti dari jasa kalian."
"Ide bagus," sahut Hageromo senang, ia berputar menatap jinchuuriki lain dengan bersemangat."Kita bisa memperdalam hubungan kita." lalu kembali menatap Sasuke, "Aku selalu ingin melakukan ini. Darah jinchuuriki bergabung dengan darah bangsawan."
Kedua alis Sasuke bertaut tidak mengerti.
"Pernikahan." Hageromo menjawab rasa kebingungan Sasuke, "kami bisa membantumu jika kau adalah bagian dari kami, untuk itu kau harus memilih salah satu diantara mereka untuk dinikahi."
Sasuke tertegun, shock. ia menatap para jinchuuriki lain dengan wajah tidak mengerti, "aku laki-laki."
"Disini itu tidak menjadi masalah. Semua para Jinchuuriki adalah laki-laki, kau hanya perlu memilih yang kau inginkan."
Sasuke masih belum bisa menyembunyikan keguncangannya.
Dia? menikah?
Ibunya selalu mengatakan padanya, bahwa suatu saat nanti ia akan menikahi seorang putri lalu memimpin kerajaannya sendiri. Sekarang cerita itu terdengar begitu lama dan tabu.
Bagaimana mungkin ia bisa menikahi seorang lelaki? Mereka bahkan bukan manusia! Tapi ia benar-benar membutuhkan kekuatan para jinchuuriki untuk mempertahankan kerajaannya.
Ruangan kembali sunyi, Hageromo telah duduk kembali ke singgasananya, terlihat luar biasa senang, sedangkan Sasuke seperti sedang terkena tekanan batin.
"Beri dia waktu." Seseorang dibelakang Sasuke tiba-tiba berkata. Ia berjalan mendekati Sasuke dan berdiri disisinya.
"Aku tidak punya waktu." Sasuke adalah orang yang membalasnya.
Benar tidak ada waktu lagi, ia tidak bisa membuang waktu lebih dari ini.
"Aku akan menikah," Putus Sasuke akhirnya dan tanpa berpikir panjang ia menarik tangan pemuda disebelahnya, menggenggamnya erat. "Dengannya, Uzumaki Naruto."
-TBC-
.
.
Hai Midory kembali *lambai-lambai
Gara-gara nonton Game of Thrones, jadi pengen bikin story yang kayak gini… Walau sebenarnya agak kurang yakin dengan kemampuan menulis Midory yang pas-pasan *haaaa
Chapter pertama biasanya selalu bikin was-was, jadi mohon di review ya...
