It's Okay (No, It's Not) by takoyakai

Main!Kyungsoo

Summary : Hidupku sebagai gadis berumur lima belas tahun (atau enam belas untuk sekarang) seharusnya tidak seperti ini. Ini lebih berat dari yang kubayangkan. Bahkan lebih dari drama siaran ulang yang sering Ibuku tonton di sore hari.

Warning! Genderswitch, Alur Maju-Mundur (Harus pintar-pintar menebak, tidak dicantumkan latar waktu), Slice of Life, Kyungsoo's POV, (Maybe) Typo, Plotless (Maaf).

Happy Reading, Kawan!


BAB 1 / ?


Sore itu, aku baru saja pulang ke rumah.

Aku meneraktir temanku, karena aku berulang tahun; seminggu lalu. Sehubungan hanya memiliki dua teman dekat; Baekhyun dan Luhan, aku hanya meneraktir mereka berdua.

Kami pergi ke sebuah mal ternama, diawali dengan menonton bioskop dan bermain di game center, berakhir dengan membeli buku tentang idola kami lalu makan siang-menuju-sore yang mengenyangkan.

Aku melihat mobil Ayahku sudah terparkir tepat pada tempatnya. Ah, Ayah sudah pulang rupanya. Aku melepas sepatu lalu menaruhnya di atas rak sepatu. Membenarkan letak tas selempangku, aku melanjutkan perjalananku ke ruang menonton.

Ibuku tampaknya baru selesai keramas. Beliau menggosokkan rambutnya dengan handuk. Beliau duduk di atas sofa sembari menonton drama yang kemarin sudah ditayangkan–siaran ulang, tepatnya.

"Ibu, aku pulang." Aku menorehkan senyuman di wajahku.

Ibu menolehkan kepalanya, "Anak gadis pulang jam segini? Bagus…"

Sudah jam enam, tidak terlalu sore–kupikir.

Aku hanya menampilkan cengiranku lalu tertawa canggung.

"Ibu, aku membeli buku tentang BTS! Baekhyun juga membelinya." Kupakai embel-embel Baekhyun agar Ibuku tidak marah; berhubung aku sangat dekat dengan Baekhyun. Aku mengeluarkan buku tersebut lalu menggoyangkannya di depan Ibuku.

"Berapa harganya?" tanya Ibuku seraya mengambil buku tersebut dari tanganku lalu membolak-balikannya.

Mengurang-kurangi harganya kurasa tidak apa-apa, "Tiga ribu lima ratus won, Bu." Sebenarnya harganya tiga ribu delapan ratus empat puluh won.

"Oh, iya. Ada bonus poster juga, Bu. Lumayan, bisa kupajang di dekat kasurku."

Bohong. Aku tidak suka memajang poster. Paling-paling, aku memajang dua poster Avengers di sisi kiri dan kanan jam dinding di kamarku–itu pun milik adik lelakiku yang pertama. Oh, ya. Aku memajang satu poster lagi kurang lebih sebesar meja belajar di sekolahku, poster SNSD. Ya, sebagai motivasiku untuk diet sebenarnya.

"Hmm… terserahmu, lah. Selama memakai uangmu sendiri. Kamu punya uang, kan?" Aku menganggukkan kepalaku. Aku mengambil buku tentang BTS dari tangan Ibuku.

"Tadi makan apa? Uang yang Ibu kasih cukup, tidak? Kamu pasti bawa uang tabunganmu sebagai tambahannya kan?" tanya Ibu berturut-turut.

Aku menyebutkan sebuah nama restoran Jepang favorit kami sebagai jawabannya. Aku mengangguk untuk pertanyaan selanjutnya, lalu hanya tersenyum lebar untuk pernyataan yang selanjutnya lagi.

"Ibu sudah memasak ayam semur. Kalau tidak suka, tidak usah makan!"

"Aku masih kenyang. Lebih baik aku mandi dulu ya, Bu. Tubuhku sudah lengket."

Aku mengambil handuk yang dijemur di luar rumah, lalu menaruh semua barang-barang yang kubawa saat meneraktir temanku tadi di kamar.

Keluar dari kamar, aku melempar pandanganku pada sekitarku.

Dimana Ayah?

Biasanya sehabis pergi dinas ke luar kota, Ayah akan bercerita tentang perjalanan dan kegiatannya di luar kota dengan Ibu sambil memakan oleh-oleh yang dibawa olehnya. Namun, di mana beliau?

"Ibu, Ayah di mana?"

Raut wajah Ibu berubah kencang, "Di kamar. Sedang tidur."

Tidak biasanya.

Aku menggidikan bahuku, seolah tak peduli. Aku langsung pergi ke kamar mandi.

Aku tahu…

Ini pasti ada yang tidak beres.


Rasanya seperti melayang.

Seorang suster senior baru saja memasangkan infus di tanganku, lalu seorang suster pria mengangkatku ke atas sebuah kursi roda.

Suster pria itu langsung mendorongku ke dalam sebuah lift, menuju dua lantai di atas lantai ini–entah, aku tak tahu aku sedang berada di lantai berapa. Yang pasti, menuju sebuah ruang inap kelas satu. Berisi tiga pasien yang memiliki penyakit yang sama.

Ibu dan Ayahku berada di sekelilingku. Bahagia rasanya, bisa diperhatikan kedua orang tuaku–meski harus dalam kondisi sakit seperti ini dulu.

Sudah lima hari belakangan ini, aku mengalami demam tinggi.

Berawal dari hari Selasa. Aku menerima pelajaran tambahan di sekolah, dan lagi pelajaran tersebut adalah matematika.

Jujur, aku tidak terlalu membencinya seperti anak-anak kebanyakan. Aku lebih benci pada teori konyol beberapa fisikawan yang menurutku tidak ada gunanya dalam kehidupanku ini, namun sialnya ternyata masih harus kupelajari sampai aku kuliah nanti karena jurusan yang aku ingini terdapat pelajaran tersebut.

Aku merasa ada pasir setiap aku menelan ludah–atau apapun yang aku telan. Kepalaku pening, rasanya untuk menapakan kaki saja adalah sebuah usaha yang rumit. Namun aku menyepelekannya.

Sore itu, aku masih bermain dengan Baekhyun–bermain tebak kata dengan menuliskannya memakai spidol di papan tulis.

Keesokan harinya, aku tidak masuk. Untuk membuka mata saat dipanggil Ibuku saja, aku tidak bisa. Badanku panas, namun kaki dan tanganku terasa dingin.

Mataku terus mengeluarkan air. Setiap membuka mata, rasanya bola mataku ingin keluar dari kerangkanya.

Kepalaku terasa berat, pandanganku juga tidak fokus. Aku merasa mual, bahkan semangkuk bubur yang berisi hanya setengah porsi aku tak sanggup menghabiskannya–bahkan berakhir kukeluarkan lagi dari lambungku yang tidak mau menerimanya itu.

Dua hari setelahnya, Ibu khawatir kalau aku terkena tipus–karena sialnya demam itu tak kunjung turun, bahkan semakin meningkat. Aku diperiksa di unit gawat darurat. Dokternya tampan sekali, kalau saja aku tidak sakit mungkin aku akan memotret wajahnya layaknya seorang paparazzi lalu mengirimnya pada Baekhyun. Namun sayangnya, memegang ponselku saja aku tak sanggup mencengkramnya.

Kata dokter tampan itu, panasku sekitar tiga puluh sembilan derajat celcius–setelah dilihat melalui termometer. Setelah cek darah pun, jumlah trombositku masih normal.

Karena Ibu takut aku terkena kejang saat menerima obat melalui suntikan, Ibu menyuruh dokter tersebut memerintahkan suster senior itu memberi obat yang dimasukan melalui lubang dubur saja. Membayangkannya saja aku sedikit geli.

Dokter tersebut memberi beberapa obat–yang sialnya berbentuk kapsul dan tablet semua, karena beratku yang di atas normal untuk anak berumur lima belas tahun sehingga diberi obat yang memiliki dosis yang sama besarnya dengan orang dewasa.

Namun, bukannya tambah pulih, yang ada aku seperti ingin melayang bersama malaikat saja. Untuk mandi saja, aku menyalakan shower dengan air hangat lalu duduk di lantai–saking tidak sanggupnya untuk berdiri.

Klimaksnya, di Hari Minggu, setelah pulang gereja.

Ayah mengajak untuk makan di sebuah restoran yang berada di mal ternama. Boro-boro memakan satu porsi, baru sekitar empat suap saja, aku sudah meminum teh panas–berharap tidak muntah di mal, itu hal yang memalukan. Aku memberi makananku pada adikku, akhirnya.

Setelah makan, rencananya kami ingin ke rumah sakit lagi, untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi padaku. Namun, di mana adanya suatu rencana, selalu saja ada penghalangnya. Kami bertemu dengan teman satu komunitas dengan Ibuku dari gereja, lalu Ibu dan temannya itu mengobrol.

"Ini Kyungsoo, sedang sakit sejak lima hari lalu, ya Tuhan. Sampai tidak bisa berdiri dengan benar, ini saja kalau tidak saya pegang tangannya, mungkin dia bisa jatuh. Hahaha," ujar Ibuku pada Tante Saeba–setahuku, nama teman Ibuku itu.

"Ya ampun, semoga cepat sembuh, ya, Kyungie. Hati-hati terkena demam berdarah, lagi musim, loh." Tante Saeba berkata dengan aksen Busan-nya yang kental sambil mengelus-elus pundakku. Aku hanya mengangguk.

"Ya sudah, kami mau ke rumah sakit dulu, ya. Kasian bocah ini, wajahnya saja seperti ingin pingsan. Hahaha, kami duluan ya, Saeba."

Akhirnya, penderitaanku hampir selesai.

Dan di sini berada. Di malam yang suntuk dan aku tidak bisa mendeskripsikannya lagi karena aku tak tahu apa yang terjadi ini nyata atau tidak.

Dinyatakan positif terkena demam berdarah. Dengan jumlah trombosit enam puluh ribu. Wow.

Awalnya aku sempat berpikir. Mungkin ini karma. Sebulan sebelumnya, aku membuka web dewasa, Hahahaha. Bukannya aku mesum atau bagaimana, hal itu tiba-tiba lewat di beranda Twitter-ku lalu aku penasaran. Dan aku kelepasan melihat-lihat. Oke, cukup.

Di sebuah ruang inap berisi tiga orang yang memiliki penyakit yang sama denganku, rasanya mengesalkan. Mengapa? Karena aku seorang anak 'kecil' sendiri.

Aku tidak sadar kalau sudah di atas kasur inap. Ibuku bahkan sudah menggantikan bajuku, dan bahkan menyuapiku makanan rumah sakit yang terasa hambar dan penampilan visual makanan tersebut pun membuatku jijik.

Ibu memberi nampan kepada seorang suster yang berisi makanan yang sepertinya baru dua suap kumakan, dan juga semua obat yang sudah kukonsumsi–yang untungnya tidak kumuntahkan.

Seorang suster datang, menyalurkan sebuah obat dari suntikan ke dalam saluran infusku. Rasanya seperti ada yang menggigit di tanganku.

Ibu mengurut tanganku saat melihat wajahku yang meringis, "Dirasakan saja sakitnya, ya…"

Sebenarnya tidak membantu sama sekali, tapi aku mengangguk.

Aku menolehkan kepalaku ke Ayah. Ayah sibuk memainkan ponselnya–mengetik sesuatu, tampak serius sekali. Kedua adikku bermain sebuah tablet yang Ayahku belikan khusus untuk bermain game.

"Sudah, ya. Kita pulang dulu. Kalau ada apa-apa, tekan saja alarm untuk memanggil susternya. Dah…"

Ibu melambaikan tangannya padaku. Ayah melengos pergi ke luar kamar. Adik-adikku mengikuti Ayah tanpa memerdulikanku.

Melihat Ayah seperti itu,

Aku tahu…

Ini pasti ada yang tidak beres.


"Nilai tertinggi untuk Ujian Nasional Matematika adalah sembilan koma tujuh puluh lima…"

"WAH, ORANG ITU PINTAR SEKALI!" pekikku saat guruku membacakan hasil nilai Ujian Nasional yang sudah kami lakukan sekitar sebulan lalu.

Teman-temanku juga ikut berteriak, "Hey, Kyungsoo. Kau juga pintar, lebih baik diam saja, deh."

Aku hanya menunjukkan cengiranku. Selama ini aku tidak pernah menganggap diriku pintar atau julukan-julukan untuk orang yang ahli dalam segala bidang kata mereka itu.

"Dipegang oleh…"

DEG DEG DEG

Biasanya kalau jantungku seperti ini. Ada firasat bahwa–

"Do Kyungsoo! Silakan berdiri dan lebih baik dipotret untuk momen sekolah kami!"

–aku yang akan menerimanya. Dan benar saja.

Aku berdiri agak malu, karena aku berteriak seperti tadi. Tidak enak pada temanku yang lain–dan juga pada pujaan hatiku, ups.

Namanya Oh Sehun. Aku menyukainya karena dia yang artistik.

Aku melirik pada Baekhyun. Baekhyun tersenyum padaku.

Aku tahu, Baek. Kau pasti iri padaku. Terima kasih sudah mencampakiku tiga bulan terakhir ini.

Keringat dan airmataku yang aku tumpahkan dan perjuangkan tiga bulan ini menghasilkan hasil yang bombastis dan tidak bisa kau miliki, bukan?

Melihat aku yang tidak membalas senyumannya, ia kembali berbicara pada Minseok, Luhan, dan Yixing.

Di belakang mereka, ada Junmyeon yang terus-terusan menggoda Yixing. Padahal si Tua Bangka itu sudah memiliki kekasih–seorang adik kelas yang sangat kubenci, namanya Soojung. Atau entah, aku tak peduli.

Aku melangkah maju dan dipotret sebagai siswa yang menerima nilai terbaik di sekolahku. Atau peringkat satu–istilah lainnya.

Dan untuk pelajaran yang lainnya seperti Ilmu Pengetahuan Alam dan Bahasa Inggris, juga aku yang memegang peringkat siswa yang terbaik.

Aku buruk dalam Bahasa dan Sastra Korea. Bisa dibilang bahkan buta dalam bidang itu.

Aku mungkin suka membacanya, namun aku tidak suka menjawab pertanyaannya.

Namun, akhirnya aku berhasil membuktikannya pada teman-temanku. Aku tak bisa disingkirkan.

Bahkan disingkirkan lagi dengan seorang yang bernama Luhan.

Luhan bersama seorang lelaki yang tidak memiliki kelebihan yang disebut kepekaan.

Temanku itu.

Temanku yang bagai bunga mawar merah itu.

Indah, menarik perhatian, mudah digapai.

Namun, menyakitkan.


Sebuah notifikasi LINE muncul di layar ponselku. Acara menontonku lagi-lagi terganggu.

Aku membuka notifikasi itu, dari Luhan ternyata.

Untuk apa dia masih berani memunculkan dirinya–meskipun melalui media sosial seperti ini?

Lu Han Kyung

Lu Han Kau sedang di sekolahmu, tidak?

Lu Han Aku sedang di sekolahmu, loh

Lu Han Lu Han sent you a picture

Jangan tanya itu gambar apa. Itu gambar lapangan sekolahku yang sekarang. Sekolah Menengah Atas yang kujadikan tempat untuk belajar dan transportasiku menuju gerbang yang bernama universitas.

Hari itu, sekolahku sedang mengadakan sebuah ajang olahraga seperti futsal; laki-laki maupun perempuan, basket ; sama halnya dengan futsal, dan tari modern.

Harusnya aku ada di sekolahku sekarang, karena aku mendapat tugas sebagai tim medis.

Namun, aku malas. Hari ini hari Minggu. Mana boleh aku keluar rumah selain ke tempat yang Ayahku ajak.

Me Tidaaak

Me Aku sudah melihat lapangan itu sekitar empat bulan belakangan ini, tidak perlu mengirim gambar seperti itu. Aku juga tahu itu lapangan di sekolahku.

Me Pasti menemani Kris Wu, ya? Cieee (laugh)

Mungkin jawabanku agak sarkartis. Lagipula aku malas berhubungan lagi dengan orang yang bernama Luhan itu.

Aku melanjutkan acara menontonku lagi. Tidak peduli kalau Luhan akan menjawab chat LINE dariku.

Yang aku inginkan hanya menyelesaikan tontonan mengerikan ini lalu mengarsipkan chat dari Luhan–tak peduli kalau ia akan membalasnya.

Lu Han Iyaaa, kau tahu saja

Lu Han Lu Han sent you a sticker

Lu Han Kau jadi dekat dengan Jongin lagi, ya?

Lu Han Senang bukan, aku sudah putus dengan mantan pujaan hatimu? Ups.


Dua hari setelah dirawat. Trombosit yang kukira akan bertambah jumlahnya, namun yang terjadi malah sebaliknya.

Terakhir yang aku tahu jumlah trombositku sekitar enam puluh ribu. Sekarang hanya tersisa tiga puluh ribu.

Wow. Tak kusangka akan seperti itu.

Yang kutahu, aku mengikuti anjuran dokter untuk melakukan ini-itu.

Untuk makan makanan yang disediakan rumah sakit, contohnya.

'Nona Do, habiskan makanannya, ya. Nanti saya larang, tidak boleh ke kamar mandi! Pipisnya pakai selang saja di sini, mau?'

Kurang lebih seperti itu. Gila. Dia pikir anak sepertiku bisa dibodohi seperti itu saja.

Dan lebih gilanya, aku menuruti saja. Agar cepat-cepat pergi dari sini.

Karena jujur, aku belum pernah dirawat di rumah sakit. Separah-parahnya aku sakit, tidak pernah sampai dirawat, palingan hanya diberi suntik vitamin. Lalu masalah selesai.

Dan sekarang, aku bosan sekali. Teman sekelasku, apa tidak ada motivasi untuk menjengukku?

"Nona Do ingin sarapan apa? Roti atau telur gulung?" tanya suster yang bertugas untuk mengurusku itu. Ia mengganti kantung infus yang sudah habis dengan yang baru.

"Telur gulung saja. Garamnya dipisah, ya." Suster menunjukan jempolnya, lalu pergi setelah berkata 'tunggu, ya'.

Tak sampai lima menit, ada yang membuka pintu.

Bukan, bukan suster yang tadi. Melainkan Ibuku.

Senyumku merekah. Jam delapan pagi yang dingin karena hujan. Ibu datang dengan sebuah jaket yang dulunya milikku namun sekarang menjadi milik Ibuku. Alasannya karena sudah tidak muat, Ibuku memiliki postur tubuh yang lebih kecil dariku. Terkadang aku kasihan, Ibu pasti menerima beban berat sekali. Melihat tubuh Ibu yang seperti terkikis termakan usia dan masalah-masalah.

"Hei, Ibu nya Soojung mengucapkan semoga lekas sembuh."

Yang ada dibenakku adalah : 'lalu?'

"Oooh…" namun yang keluar dari mulutku hanya itu.

Ibu membuka tas yang dibawanya. Ada sebotol minuman isotonik, dua kotak jus jambu biji–yang sangat aku benci namun sialnya harus kuhabiskan, katanya baik untuk meningkatkan trombositku.

Enek sekali. Obatku sudah ada yang memakai perisa jambu biji dan sekarang aku harus menghabiskan dua kotak berukuran sedang rasa jambu biji. Terima kasih, Tuhan.

"Kok, makan paginya belum datang?" tanya Ibu.

Aku menjawab, "Tadi pagi ruangan ini baru dibersihkan pelayan kebersihannya, jadi suster yang menanyakan makan pagi baru datang setelah ini dibersihkan."

Ibu mengangguk paham sambil mengaungkan 'oh' yang agak panjang.

Ibu kembali mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Yang mengejutkannya adalah ponselku yang ada di tangan Ibuku.

Aku berteriak girang–meski tidak kencang. Mengambil ponsel dari tangan Ibuku, tanpa mengucapkan terima kasih. Aku tidak terbiasa.

Aku membuka media sosialku. Banyak sekali notifikasinya.

Teman-temanku, wali kelasku, saudara-saudaraku, semua mengkhawatirkanku.

'Kyungsoo, tanpamu aku sendiri… Iyaks, menjijikan! Semoga lekas sembuh, gembul! Aku merindukanmu~ Hateu'

Itu dari temanku, Jaehwan. Sekitar lima hari lalu. Berarti satu hari setelah aku merasa pening luar biasa di pelajaran tambahan sekolahku.

Ew, dia yang terburuk. Berlebihan, bahkan baru satu hari aku tidak masuk sekolah, saat itu.

Meskipun tidak terlalu dekat dengannya karena aku sering sekali mengata-ngatainya, namun dia adalah teman yang cukup loyal. Meskipun agak alay dan kacamatanya yang seperti bokong botol sirup itu membuatku meringis, dia begitu menyayangiku.

'Hey, kau masih belum mau masuk sekolah? Apa doaku kurang manjur? Aku benar-benar merindukanku, sayang~ Hateu 9302369218x'

Dan itu benar-benar dari Jaehwan, lagi. Dikirim sekitar hari dua hari lalu, tepat di hari aku dikurung di ruang yang agak nyaman namun mengerikan bagiku ini.

Suster yang mengantarkan makanan tiba-tiba datang. Dengan sepiring telur gulung dan garam yang dipisah, sesuai pesanan. Dan segelas teh pahit panas.

Aku menaruh ponselku. Ibu menyadari kehadiran suster itu, lalu agak menegakkan senderan kasurku.

Aku menegakkan tubuhku dan membenarkan posisi selimutku yang agak berantakan–uh, maksudku sangat berantakan.

Lalu aku melihat sebuah noda merah yang mengering. Sial, pembalutku bocor.

Menstruasi di saat tertimpa penyakit demam berdarah memang menyebalkan. Ibuku bahkan sempat khawatir kalau nanti aku pendarahan. Sial.

Tapi aku mengacuhkannya. Pasti perutku lebih penting daripada noda menjijikan ini. Aku menaikkan selimutku, agar tidak terlihat Ibuku.

"Terima kasih, ya, Sus…" Suster tersebut langsung membungkukkan badannya lalu pergi.

"Sudah makan dulu saja…" Ibu langsung menyodorkan telur gulung itu padaku.

Aku langsung makan saja telurnya. Kusuruh pisahkan garamnya, agar kumakan setelah telurnya selesai.

Padahal sama saja. Sama tidak terasa apa-apa. Lidahku seperti tidak memiliki sensor rasa lagi.

Makanan yang aku makan seperti hanya menumpang lewat saja, tanpa tahu apa rasanya.

Tiba-tiba aku ingin nasi goreng buatan Ibuku.

"Ayahmu itu, aneh-aneh saja. Sudah tahu anak lagi sakit, dirawat malahan. Tapi minta cuti dari kantornya saja tidak mau. Padahal, kan, bisa!"

Tiba-tiba Ibu mencak-mencak marah di depanku. Aku memakan garam yang tersisa.

Ayah aneh bukan sekali-dua kali akhir-akhir ini.

Aku yang ingin meminta dibuatkan nasi goreng tertunda untuk mengutarakannya, karena curahan hati Ibuku tadi itu.

Sebenarnya, Ayah kenapa?


ini bukanlah sebuah akhir; bahkan untuk disebut sebuah permulaan, ini masih disebut sebuah huruf kapital di awal kalimat.


a/n : Haiiii. Masih ada yang tau saya? Pasti udah nggak ada ya, hihi. Nggak peduli kalian kenal aku atau enggak, yang pasti dibanding cerita yang sebelumnya, aku menampilkan cara tulisan yang berbeda. Dan nggak peduli a) banyak yang gangerti, b) banyak yang gak ngereview, c) bakal dibash nantinya. Tujuanku disini cuman mau menumpahkan emosi lewat tulisan kok. Sebenarnya ini hasil galauan setelah mendengar It's Okay, That's Love nya Davichi yang kalian pasti tahu itu ost drama apa, dan lagu baru EXO yang Sing For You. Jiwa-jiwa galau saya muncul seketika. Lalu jadilah cerita ini. Terimakasih yang sudah mau baca, review, favorite, follow White Balloon, ff saya yang oneshoot Krisoo itu. Sekian dari saya. Selamat membaca. Review tak saya paksa namun hargai saya dengan kritik kalian pun saya rela hehehe:)

Bagi yang bingung, setiap ada horizontal line, pasti alurnya berubah. Kalian bisa tebak sendiri itu alurnya lagi maju, mundur, atau sedang berada di masa sekarang. Hohoho.