Eau de Cologne

.

.

.

Summary : Berawal dari obrolan santai dengan Hara dan Furuhashi tentang parfum, Takao dan Midorima berusaha mengungkap kebenaran isu peredaran stimulant drugs yang sedang marak di kalangan pelajar sekolah menengah serta keterkaitan teman mereka dalam kasus tersebut. Bad at summary. Enjoy reading :)

Disclaimer : I own nothing except the plot :)

Warning : Alur cepet, datar, gaje, abal, ngasal, OOC, plotless maybe, membosankan dan masih banyak kekurangan di sana-sini. Enjoy reading aja minna-san :)

A/N : Terinspirasi dari manga Hosutan E Youkoso (Welcome to Host Detective Agency) karangan Makoto Tateno-sensei.

Ceritanya lumayan seru, lucu dan ala-ala detektif gitu deh. Lumayan buat penghilang stress dan nambah 'pengetahuan' tentang dunia host (sebelum baca manga ini, saya cuma bisa ngebayangin Ouran Host Club. hehehe)


.

.

.

Sudah hampir sepuluh menit, Takao Kazunari mencoba berkonsentrasi pada buku catatan Biologi – yang halamannya terbuka pada bab tentang reproduksi – di tangannya.

Berusaha mengabaikan sekelompok siswi yang duduk tak jauh darinya, yang sejak tadi malah asyik menggunjingkan teman mereka – bukannya belajar untuk menghadapi ulangan Biologi yang akan berlangsung beberapa menit lagi.

Takao mulai kehilangan kesabaran. Apalagi saat beberapa murid lain ikut membicarakan Anjou Yukina – teman sekelasnya yang menghilang hampir dua minggu yang lalu – yang kabarnya terlibat dengan seorang host.

Bukannya pemuda yang dijuluki hawk-eye itu memendam perasaan romantis atau kelewat perhatian pada gadis berkacamata tebal tersebut. Takao hanya gerah mendengarkan orang-orang yang membicarakan sesuatu yang belum dapat dibuktikan kebenarannya dengan begitu heboh.

Membuang waktu saja. Bukankah akan lebih baik kalau mereka menggunakan waktu senggang ini untuk membaca buku catatan Biologi agar bisa mendapatkan hasil memuaskan pada ulangan nanti? Sayangnya hanya segelintir murid kelas 1-B yang berpikiran seperti Takao.

Salah seorang dari segelintir tersebut adalah siswa bersurai lumut yang duduk di belakang Takao – yang rupanya mulai tak tahan mendengar bisik-bisik tetangga – membuat sedikit kebisingan dengan mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara decitan yang cukup mengganggu pendengaran.

"Bisakah kalian diam? Aku sedang belajar." Meski gak membentak, tapi suara baritone khas komandan pasukan angkatan darat milik Midorima Shintarou, ternyata cukup berpengaruh di kelas tersebut.

Seketika suasana di ruang kelas 1-B menjadi sehening area pemakaman. Tak ada lagi yang berani bersuara ketika sang ketua kelas menggertak mereka seperti tadi.

Bel pergantian jam pelajaran akhirnya berdering. Murid-murid kelas 1-B pun bersiap-siap menyongsong ulangan Biologi yang akan berlangsung sebentar lagi. Di luar dugaan, bukan Bu Mizutani yang memasuki ruang kelas, melainkan Pak Tanabe – yang hari itu bertugas sebagai guru piket.

Guru itu mengabarkan bahwa Bu Mizutani tidak bisa hadir lantaran ada urusan mendadak. Ulangan Biologi pun ditunda dan sebagai gantinya, Pak Tanabe memberi tugas kepada para murid untuk mengerjakan soal latihan seperti yang diamanahkan Bu Mizutani.

Hampir semua murid terlihat gembira. Hanya Takao yang tampak lesu karena ia telah belajar sungguh-sungguh dan Midorima yang keningnya berkerut karena kecewa.

Biologi merupakan pelajaran favorit pemuda bongsor yang sangat mempercayai ramalan Oha Asa tersebut karena Midorima bercita-cita menjadi seorang dokter.

Sekelompok siswi yang tadi menggosipkan Anjou Yukina kembali meneruskan kegiatan mereka. Tampak beberapa siswa ikut nimbrung dan perbincangan mengenai Anjou dan hostnya pun kian memanas.

Jenuh meliat pemandangan itu, Takao kemudian memutar badan ke belakang – menghadap Midorima yang kala itu sudah mengerjakan soal latihan hingga nomor lima. Dia meletakkan buku latihannya di meja Midorima – tak memedulikan temannya yang protes karena mejanya menjadi sempit.

"Ne, Shin-chan… Apakah kau tahu sesuatu tentang Anjou Yukina? Kabarnya ia minggat dari rumah karena terlibat dengan seorang host loh!" Takao bukannya ingin ikut-ikutan bergunjing tentang gadis itu.

Dia hanya ingin melihat reaksi Midorima karena beberapa waktu sebelum Anjou menghilang, gadis itu pernah menyatakan cintanya pada Midorima. walaupun hasilnya sudah dapat diduga oleh Takao – tentu saja Midorima menolak gadis itu dengan terang-terangan mengatakan bahwa Anjou bukan tipenya.

"Itu bukan urusanku, nanodayo." Fokus Midorima masih tertambat pada buku latihannya, tak menghiraukan Takao yang nyengir nakal minta diperhatikan.

Kabar tentang Anjou yang berhubungan dengan seorang host sudah berhembus sejak seminggu setelah gadis itu menghilang. Ada seseorang yang mengaku melihat Anjou menemui seorang pria muda berpenampilan metroseksual di sebuah café – tak jauh dari sekolah.

Keluarga dan teman dekatnya tak bisa memastikan hal tersebut karena sifat Anjou yang pendiam dan tak suka menceritakan masalahnya kepada orang lain.

Hingga kini Takao pun masih sulit mempercayai penglihatannya kendati telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Anjou Yukina yang sangat pemalu, berhasil mengumpulkan segenap keberanian untuk mengutarakan isi hatinya pada Midorima.

"Anjou-san menghilang setelah ia mengungkapkan perasaannya padamu. Kalau sewaktu-waktu mayat gadis itu ditemukan di suatu tempat, kau bisa dicurigai polisi loh, Shin-chan," ujar Takao seraya menuliskan beberapa kalimat di bukunya.

Deg! Midorima tersentak mendengar perkataan Takao barusan. Dia pun memandang pemuda di hadapannya dengan tatapan penuh selidik. Tak habis pikir, kenapa Takao bisa begitu enteng mengatakan hal buruk yang mungkin saja menimpa Anjou – yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

"Jangan bicara sembarangan, Takao!"

"Kenapa kau marah, Shin-chan? Aku kan hanya berspekulasi. Kita tidak tahu kan apakah Anjou masih hidup atau sudah meninggal. Yah… Aku sih berharap dia baik-baik saja. Akan repot kalau ternyata dia beneran meninggal kan?!"

Midorima membetulkan letak kacamatanya. Sungguh ia tak pernah mengira Takao akan berkata demikian. Membicarakan kasus raibnya Anjou Yukina dengan begitu santai seolah tengah berspekulasi setelah mengamati kekuatan lawan dalam pertandingan basket.

"Anjou belum mati, nanodayo. Setidaknya sampai ada yang memastikan kematiannya."

"Eehh? Bagaimana kau tahu, Shin-chan? Apa kau tahu dimana Anjou saat ini?"

"Aku tidak tahu dimana gadis itu!"

"Ma… Tak perlu sewot begitu dong, Shin-chan. Aku kan hanya bertanya. Ternyata Shin-chan diam-diam memikirkan tentang Anjou-san yaa. Hahaha."

Seharusnya Midorima sudah bisa menduga kalau Takao hanya ingin meledeknya seperti yang biasa ia lakukan. Tapi… Meskipun sudah berteman akrab dengan pemuda berjidat lebar itu cukup lama, seringkali Midorima tak mampu menghindar dari keisengan Takao yang hobi membuatnya kesal setengah mati.

"Ne, Shin-chan…" Takao sedikit mencodongkan tubuhnya ke depan, lalu berbisik pada Midorima. "Bagaimana kalau kita ikut mencari tahu keberadaan Anjou?"

"Serahkan saja pada polisi, nanodayo. Kita tidak perlu ikut campur." Midorima menjawab dengan tatapan dan nada bicara sedingin es, yang biasanya selalu ampuh untuk membungkam siapa pun kecuali – tentu saja – Takao.

"Waah! Rupanya ketua kelas kita ini tega sekali yaa. Padahal Anjou-san pernah berbaik hati memberikan pembal…Hmmph-hmmpph," belum sempat Takao menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Midorima menutup mulut pemuda itu dengan tangannya.

"Jangan berani-berani mengungkapkan hal itu, Takao!"

"Hahaha. Lihat wajahmu, Shin-chan! Kau sampai ketakutan seperti itu! Hahaha!" Takao tak bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah Midorima yang panik karena dirty little secretnya hampir saja dibongkar Takao.

Tentu saja sang ace andalan klub basket Shutoku tersebut tak ingin orang tahu bahwa Anjou Yukina pernah memberikan sebungkus pembalut siap pakai kepada Midorima sebagai lucky item.

Entah darimana Takao mengetahui rahasia memalukan itu, yang jelas… Midorima tak ingin ada lagi yang mengetahuinya.

"Apa rencanamu, Takao?" Midorima sudah bisa menebak jalan pikiran pemuda di depannya. Hampir dapat dipastikan Takao akan membongkar rahasianya jika ia tak menuruti keinginan pemuda itu.

Di waktu-waktu tertentu – seperti saat ini misalnya – Takao tampak lebih membahayakan dibanding Akashi maupun Hanamiya.

Seringai kemenangan merekah indah di wajah sang point guard. Dia sudah menduga Midorima akan membantunya mencari keberadaan Anjou. Dalam hati ia mengamini slogan salah satu senpai favoritnya ; when you control informations, you control people.

Kendati tak bisa dikatakan sebagai wujud kepeduliannya terhadap nasib teman sekelasnya – namun Takao memang mencemaskan Anjou dan tak ingin sesuatu yang buruk menimpa gadis itu.

Apalagi sedang beredar isu hangat di media sosial tentang penjualan stimulant drugs secara ilegal di kalangan murid SMU – khususnya di Tokyo.

Belum ada yang tertangkap tangan memiliki obat-obatan tersebut. Tapi menurut kabar, polisi sudah memperketat pengawasan terhadap beberapa SMU yang muridnya pernah memiliki catatan kriminal dalam beberapa tahun terakhir.

Memang sih itu baru desas-desus. Namun virus keingintahuan sudah terlanjur menjangkiti pemuda Shutoku yang terkenal paling gak bisa diam di kelas.

Rasa penasaran Takao semakin memuncak ketika sang ayah – yang merupakan seorang inspektur di kepolisian Tokyo Metropolitan – mendadak jadi sangat perhatian padanya dengan menanyakan berbagai hal tentang sekolah dan teman-temannya.

Firasatnya mengatakan bahwa Anjou Yukina terlibat dengan hal ini.

.

.

.

Sabtu sore menjelang malam, Takao dan Midorima segera bertolak menuju kawasan Kabukichou untuk menghabiskan malam minggu mereka di kawasan yang berjuluk Sleepless Town - mengunjungi beberapa host club dan love hotel yang menjamur di kawasan tersebut.

Ups! Mereka bukannya mau bermesraan di hotel atau melamar pekerjaan sebagai seorang host. Tapi kedua remaja itu hendak mencari informasi mengenai keberadaan teman mereka yang hilang beberapa waktu lalu.

Berpedoman pada kabar burung yang mengatakan bahwa Anjou terlibat dengan seorang host, Takao dan Midorima sepakat untuk mampir ke beberapa host club di Kabukichou dan menanyakan kepada mereka tentang Anjou dengan memperlihatkan foto gadis itu.

Sudah lebih dari sepuluh host clubs mereka datangi, tapi tak satu pun dari para host tersebut yang pernah melihat Anjou.

"Klub kami tidak melayani pelanggan murid-murid SMU!" Salah satu host veteran membentak Takao ketika pemuda itu bertanya tentang Anjou.

"Dia tidak pernah datang ke sini. Aku tak akan tertipu walau gadis ini mengubah penampilannya," terang host lainnya. Pencarian yang memakan waktu hampir tiga jam tersebut akhirnya tak membuahkan hasil apa pun.

"Kita makan dulu yuk, Shin-chan! Aku lapar!" Takao tak mampu lagi meredam aksi demo di perutnya yang menuntut asupan makanan. Suasana hatinya yang memburuk lantaran dibentak sana-sini, memberi efek bagai kartu domino pada otak dan saluran pencernaannya.

Beruntung Takao tak menjadi sasaran pelecehan oleh para host yang mulai berang karena kalah ganteng dengannya. Ada gunanya juga ia mengajak Midorima yang bisa dijadikan perisai dadakan seandainya situasi berubah tak kondusif.

Midorima celingak-celinguk sesaat – mengamati keadaan di sekitarnya. Kawasan Kabukichou sangat ramai malam itu. Entah karena malam minggu, atau memang setiap harinya seperti ini.

Jejeran hotel dan klub-klub malam mendominasi sisi kiri dan kanan jalan utama tempat mereka berada. Lampu-lampu neon beraneka warna dari papan reklame menambah gemerlap kawasan yang terkenal dengan hiburan malamnya.

Restoran dan café bertebaran di semua sisi, namun Midorima bisa memastikan bahwa tak satu pun dari tempat makan tersebut yang harga menunya cocok dengan uang saku murid SMU yang pas-pasan seperti dirinya dan Takao. "Mau makan dimana, nanodayo?"

Takao cuma nyengir polos. Dia sangat paham pertanyaan Midorima yang terdengar sangsi akan kesesuaian harga menu dengan isi dompet mereka. Dimana mereka bisa makan kenyang tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam?

Takao pun menggunakan jurus andalannya untuk mencari kedai makan murah-meriah-makan-sepuasnya yang mungkin tersembunyi di antara berjubel-jubel rumah makan elit di jalanan utama Kabukichou.

"Ah! Di sana!" Takao tiba-tiba berbalik arah sambil berlari kecil menyusuri beberapa blok dan berhenti di sebuah kedai ramen sederhana yang letaknya agak menjorok ke dalam – terhimpit di antara dua bangunan bertingkat.

Ada sebuah lorong sempit – yang cukup dimasuki dua sampai tiga orang sekaligus – di antara kedai itu dengan karaoke bar yang terletak di sebelah kanan. Kalau saja Takao tidak mengendus bau ramen ketika melewati gang itu, mungkin ia tak akan menyadari keberadaan kedai ramen tersebut.

Salah seorang pelayan kedai yang tengah membawakan pesanan ke meja di dekat pintu, menyapa Takao dan Midorima yang baru saja masuk. "Waaaah... Lumayan ramai yaa. Apa masih ada tempat untuk dua orang?" Takao bertanya pada gadis pelayan itu.

"Masih kok. Silakan ke sebelah sana," jawabnya sembari menunjuk ke arah kursi panjang di sudut ruangan yang berhadapan langsung dengan seorang pria gemuk paruh baya – yang mengenakan 'seragam' ala chef – yang tampak sibuk mempersiapkan hidangan untuk para pelanggan.

Tanpa membuang waktu lagi, Takao dan Midorima bergegas menuju meja mereka dan langsung memesan dua porsi ramen super jumbo dan ocha dingin kepada sang koki.

Midorima pun tak sungkan menanyakan harga menu makanan dan minuman yang ia pesan sebelum sang koki menghidangkannya.

"Tenang saja, Nak. Kedai ramen ini melarang keras praktek bottakuri. Makanya selalu ramai," ujar sang koki yang memaklumi kekhawatiran Midorima. Praktek bottakuri semakin marak belakangan ini, khususnya di kawasan hiburan malam seperti Kabukichou.

Salah satu alasan Midorima tak ingin makan di restoran atau café yang lebih mentereng adalah takut terjebak strategi bisnis semacam bottakuri yang telah dilarang pemerintah Jepang sejak bertahun-tahun yang lalu.

"Kalau ramai terus seperti ini, mungkin suatu saat nanti Paman bisa membuka kedai ramen yang lebih besar yaa," sahut Takao seraya mengambil sumpit dan sendok stainless steel dari tempat yang telah disediakan di atas meja.

"Haha… Belum terpikir sih. Harga sewa tempat di Kabukichou itu selangit. Bisa membayar uang sewa kavling sempit ini dan mikajimeryou saja, itu sudah cukup bagiku."

Midorima melahap ramennya tanpa banyak bicara, sementara Takao asyik mengobrol dengan sang koki dan beberapa pelanggan lainnya mengenai topik seputar dunia sepak bola yang sama sekali tak pernah terlintas di kehidupan pemuda berzodiak Cancer tersebut.

Kendati demikian, Midorima diam-diam mengamati seorang pria yang duduk di sampingnya. Dilihat dari penampilannya yang mengenakan setelan jas hitam polos dengan kemeja biru terang seperti rambutnya Kuroko, Midorima hampir yakin kalau pria yang wajahnya mirip kapten tim basket Touou itu merupakan seorang pegawai kantoran.

Pria itu datang beberapa menit setelah Midorima dan Takao. Kemudian memesan makanan dan minuman yang persis sama dengan mereka.

Memang tak ada yang aneh, kecuali ia menghabiskan ramennya dengan cepat walau dengan gerakan yang tak terkesan terburu-buru dan menyebutkan kata air saat petugas kasir menanyakan menu yang telah dipesannya ketika pria itu hendak membayar.

Midorima sama sekali tak melihat segelas atau sebotol air di dekatnya atau di dekat pria itu. Sang koki maupun waitress juga tak terlihat memberikan air pesanan pria itu. Lantas… Kenapa pria itu menyebutkan 'air'?

Midorima mengangkat bahu. Segera saja ia mengenyahkan hal aneh itu dari pikirannya. Tak ada untungnya memikirkan sesuatu yang sama sekali bukan urusannya. Sekarang ia hanya ingin menghabiskan makanannya dan kembali melanjutkan pencarian agar bisa pulang ke rumah secepatnya.

.

.

.

Keesokan harinya… Takao dan Midorima kembali melanjutkan pencarian setelah kemarin malam berkeliaran di Kabukichou selama berjam-jam dan tak mendapatkan petunjuk apa pun perihal keberadaan Anjou Yukina.

Kedua sahabat karib itu pun berinisiatif untuk mencari di tempat makan dan klub-klub hiburan lainnya – seperti karaoke bar dan sebagainya.

Takao masih terlihat sangat bersemangat dan optimis, walaupun Midorima meragukan kalau hasil pencarian mereka hari ini akan berbeda dari kemarin.

Matahari hampir terbenam di ufuk barat. Rona jingga menyeruak di cakrawala – namun distrik Kabukichou sudah terang benderang dengan kerlap-kerlip cahaya lampu beraneka warna yang menghiasi hampir seluruh sudut Sleepless Town.

Meski hari sudah menjelang malam, udara masih terasa menyengat di pori-pori. Peluh tampak berlelehan dari kening sang ace tim basket Shutoku dan rekannya.

Seharian berkeliling ke berbagai tempat di Kabukichou – yang sebagian besar buka selama dua puluh empat jam – sama lelahnya dengan menjalani latihan layaknya romusha ala Miyaji Kiyoshi.

"Kita ngadem dulu yuk, Shin-chan." Tanpa menunggu jawaban temannya, Takao segera mengayunkan langkahnya menuju toko retail 24 hours di seberang jalan.

Pemuda itu sedikit berharap mereka bisa menemukan tempat kosong di dalam toko begitu ia menyadari kalau seluruh meja di smoking area sudah terisi.

"Choco banana milkshake please." Takao langsung memesan minuman begitu antrian di depan kasir telah kosong.

"Kau pesan apa, Shin-chan?" Beralih pada teman jangkungnya yang masih menatap berbagai pilihan menu yang terpampang di neon box. Tak sampai semenit, Midorima akhirnya memutuskan hanya memesan ice coffee.

"Whoa! Coba lihat ini… Si megane shooter dan teman kecilnya. Apa yang merasuki kalian sampai kepikiran datang ke Kabukichou?" Suara bernada meremehkan itu datang dari seorang pemuda berambut lavender yang baru saja masuk bersama temannya yang memiliki tatapan dead fish.

Midorima membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. Raut wajahnya menyiratkan kalau dia tersinggung dengan pertanyaan Hara yang dilontarkan dengan nada tak menyenangkan bagi telinganya.

Takao sebaliknya. Ia malah menyapa kedua murid SMU Kirisaki Daiichi tersebut dengan riang, tak ragu menyematkan suffix senpai dan menanyakan kabar mereka.

Hara dan Furuhashi tampak santai menanggapi Takao, seperti teman dekat. Kecurigaan Midorima pun muncul seketika.

Sejak kapan Takao berteman akrab dengan murid-murid Kirisaki Daiichi? Ah tidak. Lebih tepatnya begini ; sejak kapan Takao berteman akrab dengan antek-anteknya Hanamiya?

.

.

.

to be continued…


Glosarium :

Bottakuri adalah praktek penipuan dimana customer membayar makanan/minuman/jasa tidak sesuai dengan daftar harga yang tertera. Biasanya terjadi di kawasan hiburan malam seperti Kabukichou.

Mikajimeryou biasa disebut iuran keamanan (kalo disini semacem uang preman kali yaa. hehehe) Biasanya diatur oleh anggota gang/yakuza yang menguasai wilayah tertentu.

Yap! Segitu aja penjelasannya. Feel free to critic and review. Thanks anyway :)