Stubborn Kid's Daily Life:

Aku Mau Bilang…

by Maureen Kim

© 2015

All rights reserved

Adapted from one of Ono Eriko's manga series, Kocchi Muite! Miiko!

Published in Bandung, a torn-up town in Indonesia


"God gave you a gift of 86.400 seconds today. Have you used one of them to say thank you?"
–William Arthur Ward


Apa yang ada di dalam pikiran kalian ketika mendengar kata Sekolah Dasar? Anak-anak kecil yang lucu? Tidak pernah merasa lelah? Tidak ada beban? Mempunyai banyak teman? Seru? Menyenangkan? Mungkin itu hanya dilihat dari perspektif kalian karena sebenarnya masa Sekolah Dasar tidak sepenuhnya seperti itu. Maksudku, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan hal-hal yang disebutkan tadi. Mungkin kalian akan tahu betapa sulitnya menjadi murid SD setelah mendengar kisah seru tentang seorang anak kelas empat SD bernama Luhan.

Setiap hari, anak-anak bergantian melakukan piket kelas sesuai jadwal masing-masing dan Luhan mendapat jadwal piket di hari Rabu. Pada suatu hari Rabu, dia berangkat pagi sekali untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai murid teladan. Ketika sampai di kelasnya, dia mengernyit. Adalah hal yang tidak biasa ketika mendapati Zitao, Baekhyun, dan Sehun berangkat lebih awal darinya. Dia merasa agak kesal karena selama ini dia selalu datang paling awal. Tapi kemudian anak laki-laki itu mengangkat bahunya tidak peduli. Dia senang bertemu teman-temannya dan berbagi keceriaan seperti biasanya.

"Selamat pagi, teman-teman!" sapanya.

"Selamat pagi, Luhan!"

Dia tersenyum riang kepada Zitao dan Baekhyun yang baru saja menyapa Luhan secara serempak dan—

"Pagi."

Eh―tunggu! Suara siapa tadi? Kedengaran begitu dingin dan ketus.

Senyum di kedua sudut bibir kecilnya luntur seketika. Sudut matanya melirik Sehun yang sedang giat membersihkan kaca jendela kelas. Anak itu menjawab sapaan Luhan dengan nada yang amat datar. Bahkan tidak mau melihat lawan bicaranya. Tidak sopan sekali!

Luhan cemberut. "Kalo nggak ikhlas nggak usah dijawab!" cibirnya sambil menatap punggung Sehun dengan tatapan sinis.

Dengan langkah dihentak dan tangan yang dilipat di depan dada–khas anak kecil yang sedang marah, dia berjalan menuju bangkunya dan meletakkan tasnya disana.

"Luhan, kamu bersihin papan tulis, ya! Biar aku sama Zitao yang nyapu kelas." kata Baekhyun. "Penghapusnya ada di dalam laci meja Bu Guru."

Luhan mengangguk. Dia segera mengambil penghapus papan tulis dari dalam laci meja guru lalu mulai menghapus bekas-bekas tulisan di papan tulis. Namun dia kesulitan membersihkan papan tulis bagian atas karena tubuhnya terlalu kecil. Luhan berjinjit supaya dapat mencapainya. Luhan kecil tidak kenal pantang menyerah. Dia berusaha keras membersihkan papan tulis itu sendirian. Sampai akhirnya dia merasa kakinya pegal karena terlalu lama berjinjit. Dia menghela napas saat tubuhnya mulai berkeringat.

"Sini aku bantu." kata seseorang.

Menoleh ke kanan ketika seseorang merebut penghapusnya, Luhan mendapati Sehun dengan mudahnya membersihkan papan tulis itu. Dia tersenyum malu dan pipinya bersemu merah, manis sekali.

"Sehun—"

Luhan ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Sehun ketika Sehun menoleh dan menyerahkan kembali penghapusnya kepada Luhan. Tersenyum mengejek, anak itu membandingkan tinggi badannya dengan tinggi badan Luhan. "Kamu terlalu pendek sih, makanya nggak nyampe."

Luhan mematung bersama rasa kesalnya, dia menahan diri untuk tidak melempar Sehun menggunakan penghapus kayu di tangannya.


"Anak itu nyebelin! Suka ngebandingin tinggi badan. Dia kan raksasa, jelas aku pasti kalah. Masih lebih pendek Kyungsoo. Padahal aku pengen bilang makasih. Dasar nggak sopan!"

Bu Guru Song sedang menjelaskan tentang perubahan kenampakan bumi ketika suara gerutuan bocah cilik sayup-sayup menggelitik telinganya. Membetulkan letak kacamatanya, matanya yang cantik menelusuri setiap sudut kelas 4B, mencari sumber suara. Tapi dia yakin seluruh murid di kelas memperhatikannya dengan seksama.

Oh! Namun tidak dengan murid yang duduk di bangku kedua dari belakang. Dia melihat Luhan menundukkan kepalanya sambil menggerutu tidak jelas, anak itu mengerucutkan bibirnya. Sepertinya dia sedang kesal.

"Luhan!" panggilnya tiba-tiba. Anak yang dipanggil spontan mengangkat wajah. "Berapa kilometer jarak bumi ke matahari?"

Luhan yang jelas-jelas tidak memperhatikan pelajaran tersentak, dia menegakkan kepalanya ragu-ragu. Dia bingung harus menjawab apa. Seluruh atensi murid tertuju padanya dan itu membuatnya gugup sekaligus malu setengah mati. Kalau saja dia memperhatikan, dia pasti tahu jawabannya. Semua ini gara-gara Sehun.

"Itu sekitar―"

Tiba-tiba Sehun yang duduk tepat di depan bangkunya menengok ke belakang, hanya untuk menatap Luhan dengan tatapan datar dan berbisik, "Seratus lima puluh juta kilometer." dengan isyarat bibir.

"Se-seratus lima puluh juta kilometer, Bu Guru!" jawab Luhan refleks.

"Betul sekali." Bu Guru Song membenarkan jawaban Luhan, dia tersenyum lembut pada anak itu. "Tolong perhatikan, ya, Luhan!"

Luhan tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya. "I-iya, Bu Guru."

Sekali lagi Luhan ingin mengucapkan terima kasih kepada Sehun. Tapi Sehun kembali mengejeknya. Sehun menjulurkan lidahnya dan membuat ekspresi konyol yang sangat menyebalkan. "Luhan payah!"


"Oh Sehun bener-bener bikin aku kesel!" keluh Luhan pada kedua temannya.

Luhan sadar jika Sehun tidak pernah membiarkannya mengucapkan terima kasih. Setiap Luhan hendak mengatakannya, anak itu selalu mengejeknya. Sehun selalu sukses membuatnya kesal setengah mati.

Bocah-bocah kecil itu sedang menikmati santapan siangnya di kantin setelah pelajaran Bu Guru Song selesai. Pada jam makan siang begini, kantin penuh. Maka dari itu, mereka mendapat tempat duduk paling pojok dekat lapangan sepak bola. Sudah paling pojok, mejanyapun kecil. Betul-betul tidak nyaman.

"Tapi dia kan udah bantuin kamu, Luhan. Gitu-gitu juga dia temen kamu." Baekhyun mengingatkan.

"Kalian juga akrab meskipun lebih sering bertengkar." ujar Minseok, bicaranya kurang jelas karena mulutnya penuh bakpao. Anak itu jadi mirip hamster.

"Iya sih. Tapi terserah apa kata kalian. Pokoknya aku nggak mau dekat-dekat dia lagi!" Luhan bertambah kesal. Dia menggembungkan pipinya sebelum meneguk lagi susu kotaknya.

Kedua temannya hanya bisa mengangkat bahu menanggapi Luhan yang kepalanya sekeras batu.

"Oi!" teriak seseorang.

Serempak mereka menoleh dan mendapati Jongdae berlari kearah mereka. Napas Jongdae pendek-pendek, tanpa tahu malu dia merebut susu stroberi milik Baekhyun. Kemudian anak yang jago trolling itu mengaduh ketika bagian belakang kepalanya dipukul dan meringis ngeri ketika dipelototi oleh Baekhyun.

"Kelas 4A sama kelas 4B lagi main sepak bola. Kenapa kalian nggak ikut?"

"Kamu nggak lihat kita lagi makan?!" kata Baekhyun ketus. Sepertinya dia betul-betul merasa terganggu.

"Aku kan cuma nanya. Nggak usah marah-marah gitu!" jawab Jongdae sambil mencebikkan bibir. "Kalian mau ikut nggak?"

"Aku enggak―"

"Kita mau!" jawab Luhan dan Minseok serempak.


Keesokan harinya, Bu Guru Song membawa sebuah vas bunga cantik yang dibuatnya sendiri di kursus keramik. Warnanya ungu muda dengan lukisan rumit yang menambah estetika vas itu. Dia meletakkannya di atas meja guru. Seketika anak-anak mengerubunginya dan menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Vas ini boleh kalian pakai, asal dijaga baik-baik!" ujar Bu Guru Song.

Anak-anak didiknya terlihat sangat penasaran akan benda itu, tak terkecuali Luhan. Hari itu dia tidak memperhatikan Bu Guru Song yang sedang menjelaskan materi pelajaran. Selama pelajaran, Luhan terus memperhatikan vas bunga itu. Ketika bel tanda pulang berdering dan murid yang lain sudah berebutan keluar kelas untuk pulang, Luhan masih harus mengantarkan buku absen ke ruang guru. Setelah ke ruang guru, Luhan sengaja melewati ruang kelasnya. Dari pintu kelasnya dia melihat vas bunga cantik yang tadi pagi dibawa oleh Bu Guru Song. Dia pun melangkahkan kaki kecilnya memasuki ruangan kelas.

Mata bulatnya memperhatikan bunga rhododendron di dalam vas itu. Nampak sekali ketertarikan terpancar dari mata anak mungil itu. "Wah! Kayaknya bunga ini kekurangan air. Daunnya udah mulai layu." Dia bermonolog. Sifat ingin tahu dan hiperaktif khas anak kecil yang ada dalam diri Luhan mulai muncul. "Aku rendam bunganya aja."

Tangannya meraih vas bunga tersebut. Tapi keringat membuat tangannya menjadi licin, dia tidak siap ketika vas itu tergelincir dan jatuh ke lantai. Suara pecahan beling membuat Luhan merasa dibayang-bayangi mimpi buruk. Luhan membelalakkan mata bulatnya, rahangnya membuka saking terkejutnya.

Vas ini boleh kalian pakai, asal dijaga baik-baik!

Tiba-tiba pesan gurunya tadi pagi berkeliaran di pikirannya. Dia panik setengah mati. "Gimana ini?" ujarnya lirih.

Luhan memaki dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin menetes di pelipisnya. Anak laki-laki itu sudah mau menangis saja. "Ayolah! Gimana caranya supaya Bu Guru nggak marah?"

Panik melanda dirinya. Luhan menggigit bibirnya.

Terbesit ide di benaknya. Dia berlari ke arah lemari peralatan kebersihan di bagian belakang ruangan kelas untuk mendapatkan sebuah ember. Benda itu dia isi dengan air dari kran khusus mencuci tangan. Anak itu melirik ke kanan dan ke kiri, takut jika ada orang lain yang memergoki. Dia merendam bunga-bunga itu di dalam ember. Kemudian dia sibuk merogoh tasnya demi mencari lem perekat super dan selotip. Vas itu dia lem dengan susah payah. "Ini harus berhasil. Kalau nggak, mati aku!"

Luhan tidak sadar jika Sehun memperhatikan setiap gerak geriknya dari balik pintu kelas. Mendengus, Sehun pun lari dari kelas.


Keeesokan harinya, Minseok melihat bunga milik Bu Guru Song ada di dalam ember. Dia menyuruh Sehun untuk mengambil vas bunga di meja sang guru. Ketika Sehun hendak mengambil vas bunga itu, tidak sengaja vas bunganya jatuh. Lagi.

"Aduh!" teriak Sehun terkejut.

"Ya ampun!"

"Sehun mecahin vas bunga punya Bu Guru."

"Bu Guru Song bisa marah, nih."

"Gimana, nih? Sehun, sih!"

"Ayo, tanggung jawab, Sehun!"

"Habis vasnya meleset dari tanganku." Sehun membela diri.

"Selamat pagi, anak-anak!"

Itu suara Bu Guru Song!

Gawat! Gawat! Gawat!

Bu Guru Song melangkahkan kakinya ke dalam ruang kelas dengan membawa senyum hangat di wajahnya. Kemudian dia terheran-heran dengan keributan di kelasnya. "Ada apa ini?"

Semua murid terdiam, tak ada satupun yang berani bersuara sampai Bu Guru Song menyadari bahwa vas bunga kesayangannya pecah. Sedih bercampur emosi, dia menatapi vas bunga kesayangannya dengan tatapan terkejut. "Baru sehari sudah pecah?" Guru muda itu beralih memandang anak-anak didiknya. "Ini ulah siapa?" tanyanya.

Sehun menggaruk pipinya sekali lalu mengangkat tangan kanannya. "Aku, Bu Guru. Maaf ya." Sehun mengaku. "Lain kali, kalo bikin vas bunga yang anti pecah, Bu Guru!" lanjutnya sambil tertawa garing.

Bu Guru Song menggelengkan kepalanya menanggapi candaan Sehun yang sama sekali tidak lucu itu. Dia memang tipe guru yang penyabar, tapi ini menyangkut vas bunga kesayangannya, hasil kerja kerasnya.

"Aduh!" Sehun meringis kesakitan ketika keningnya disentil pelan oleh gurunya.

"Ya sudah. Pecahan belingnya biar Bu Guru yang bersihkan. Tahu seperti ini, Bu Guru beli vas bunga plastik saja." katanya.

Sementara itu di mejanya, Luhan tertunduk. Anak itu merasa amat bersalah. Dia tidak tega melihat Sehun dimarahi oleh Bu Guru Song. Luhan memberanikan diri untuk berbicara. "Bu Guru, bukan—"

Sehun menoleh. "Apa?!" tanya Sehun dengan nada tinggi.

"Sehun suara kamu keras banget."

"Udah mecahin barang, masih aja sok galak."

"Jangan marahin Luhan terus, dong!"

Nyali Luhan kembali menciut, dia menunduk. "Itu—Enggak jadi deh." lirihnya.


Sepulang sekolah, seperti biasa Luhan harus mengembalikan buku absen. Anak-anak yang lain pasti sedang bermain sepak bola. Sengaja dia melewati lapangan sekolah, sekedar ingin melihat teman-temannya. Namun dia tidak melihat keberadaan Oh Sehun.

Eh? Kenapa dia harus pedulikan anak itu? Tidak ada untungnya.

"Luhan! Ayo ikutan!" Jongdae berteriak, anak itu memamerkan deretan giginya yang sehat terawat.

"Enggak ah, aku lagi nggak bersemangat." jawab Luhan sekenanya.

"Oh, begitu."

Baekhyun menyipitkan matanya. Anak itu adalah teman dekat Luhan selain Minseok, dia selalu mengetahui setiap ketidak biasaan Luhan. Tiba-tiba Baekhyun datang dan mencegahnya untuk melangkah. Anak itu menghadang Luhan, merentangkan kedua lengan kecilnya. "Luhan, kamu kenapa? Biasanya kamu yang paling semangat kalo diajak main sepak bola."

"Aku nggak apa-apa. Kalian main aja, aku mau pulang duluan." ucap Luhan.

"Beneran nggak apa-apa?"

"Iya. Lagipula udaranya panas banget." katanya sambil mengibaskan tangannya.

"Kamu biasanya juga panas-panasan."

"Aku—"

Baekhyun menaikkan alisnya, menunggu jawaban dari temannya yang ceroboh itu.

"Aku harus bantu Mama beresin buku-buku lama. Iya! Begitu!" Luhan tersenyum kikuk, berharap Baekhyun percaya dan melepaskannya.

Baekhyun menyipitkan matanya sekali lagi lalu tersenyum lebar. "Ya udah. Hati-hati, Luhan!"

Luhan mengangguk dan tanpa sadar mengangguk lega. Dia segera pergi ke ruang guru untuk mengembalikan buku absen. Sesudah mengembalikan buku absen, Luhan melihat Sehun sedang beristirahat sesudah bermain sepak bola. Sehun sedang mencuci muka. Ketika melihat kedatangan Luhan, dia langsung menghentikan kegiatannya dan melirik anak itu dengan tatapan datar andalannya.

"Apa lihat-lihat?"

"Sehun." Luhan memanggil namanya dengan amat pelan. "A–aku yang mecahin vasnya kan?"

"Apanya?"

Luhan mulai kesal, dia berdecak. "Vas bunganya."

"Aku yang mecahin. Bukan kamu." jawab Sehun enteng.

"Kamu ini!" Dengan susah payah, Luhan naik ke atas wastafel.

Kedua tangan mungilnya memegang pipi Sehun yang agak berisi sampai bibir Sehun mengerucut seperti ikan koi.

"Sehun, makasih ya." ucap Luhan. Dia tersenyum, merasa lega karena telah mengucapkan terima kasih yang tertundasejak beberapa hari yang lalu.

"Iya, aku ngerti. Sekarang lepasin tangan kamu!" katanya sambil melepaskan tangan mungil Luhan yang masih memengangi pipinya.

Ngomong-ngomong, tangan Luhan lembut sekali ya, Sehun? Kamu jadi memegangi pipimu terus.

"Akhirnya!" Luhan tersenyum semakin lebar.

Sehun tersenyum tipis menanggapi ucapan teman kecilnya itu. Dia mengacak rambut Luhan yang halus dan Luhan benar-benar merasa senang. Pipi berisinya merona seperti buah ceri matang yang manis. Sehun jadi ingin mencubit pipi Luhan.

Dirasa pembicaraannya telah selesai, Sehun pergi begitu saja, meninggalkan Luhan yang masih berada di atas wastafel yang ternyata lebih tinggi dari yang Luhan pikir. Sehun sama sekali tidak mempedulikan anak laki-laki mungil yang kebingungan dan kesulitan untuk turun.

"Sehun, bantuin aku! Aku nggak bisa turun!"


Tamat