Panggil Aku Kakak!
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Panggil Aku Kakak! © Cha2luvGaGa
Summary:
Suasana di rumah Hinata yang awalnya sepi akhirnya kedatangan tiga orang tamu yang ternyata merupakan ayahnya dan dua orang kakak lelaki kandungnya! Lalu, bagaimana tanggapan Hinata tentang semua perkembangan keluarga yang begitu cepat itu?
Warning:
OOC, AU, dan seperti Author-author yang lain, abal *digampar author-author seluruh Nusantara*
Halooo! Aku kembali membawa sebuah fict lagi! Aku akan merasa sangat tersanjung kalau ada yang mau dan membaca karyaku ini, apalagi yang baiiik banget mau ngasih review! Tapi, aku gak akan memaksa kok. Yang gak suka, gapapa sih... *senyum gak ikhlas*
Oke, silahkan baca!
Chapter 1: Awal dari Pertemuan Mereka
"Hinata, tolong ke sini sebentar!" panggil Mama dari depan rumah. Sedangkan aku, aku sedang mengepel lantai dapur yang letaknya di belakang rumah bergaya minimalist ini.
"Ada apa, Ma?" balasku sambil berjalan tergesa-gesa ke arah ruang tamu.
"Mmm... Bisa kamu bersihkan ruang tamu ini? Tenang saja, Mama akan membersihkan bagian dapur." perintahnya. Yah, sebagai anak, salah satu kewajibanku adalah membantu orang tua.
"Baik, Ma." jawabku dan langsung mengambil sapu ijuk yang ditaruh dekat dapur dan mulai menyapu ruang tamu.
Oh iya, aku nyaris lupa mengenalkan diri. Namaku Hinata Uzumaki, panggilanku Hinata. Sekarang aku duduk di bangku pertama SMA Miyagami. Aku anak tunggal, dan aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Papa kandungku, sehingga aku pernah menyangka bahwa aku anak yatim. Tetapi, Mama selalu bilang kalau Papaku masih hidup. Lantas, kalau Papa kandungku masih hidup, mengapa tidak berkunjung ke sini?
Pernah kutanya pada Mama saat aku masih SD kelas VI, apakah mereka pernah atau berniat bercerai. Dan jawaban dari Mama, "Hei, sebegitu kejamkah Mama sampai akhirnya kami cerai? Ingatlah Hinata, pernikahan itu sekali seumur hidup. Jadi, di manapun Papamu berada, hubungan kami tetap suami-istri. Karena itu sudah hukum Agama, Hinata.".
Kalau mengingat jawaban itu, aku jadi semakin sayang pada Mama. Karena seumur hidupku, Mama-lah yang kujadikan motivasi dan inspirasiku, sehingga aku tumbuh seperti ini.
Banyak orang berkata bahwa berdasar hasil penelitian beberapa persen anak memiliki mental yang buruk karena belum—bahkan tidak pernah merasakan atau memiliki seorang ayah. Tetapi, meskipun fakta berkata demikian, aku tetap menepisnya jauh-jauh, karena meskipun tidak punya ayah, aku masih bisa bertahan pada hawa nafsu dan meningkatkan imanku. Dan lagi-lagi, semua itu juga karena Mama. Karena selama ini aku beranggap Mama sudah menjadi orang tua ganda -maksudku menjadi Papa dan Mama sekaligus.
Sudah ah, kalau membahas itu terus rasanya aku malah jadi pusing. Lebih baik aku menyelesaikan ritual rutin 'bersih-bersih' pada hari Minggu pagi ini.
"Ma, sudah semuanya kukerjakan!" teriakku dari ruang tamu.
Lalu Mama datang dari dapur dan mengecek semua yang telah kubersihkan.
"Hm, not bad. Sekarang, kau mandi dulu. Masa' kau mau bertemu tamu sambil memakai baju piyama?" perintah Mama lalu memegang ujung baju piyamaku.
"E-Eh? Tamu? Siapa tamunya, Ma?" tanyaku. Kenapa Mama tidak memberitahuku lebih dulu bahwa akan ada tamu? 'Kan aku masih bisa siap-siap kalau Mama bilang dari awal.
"Maaf, Mama sebenarnya merahasiakan tamunya. Kalau mau tahu, kau harus mandi dulu." kata Mama.
"Baiklah..." ujarku menyerah dan berlari menuju ke kamarku di lantai dua.
Sekarang aku sudah selesai mandi. Kini aku sedang menuju ke arah ruang tamu, tetapi...
"Hahaha, sudah lama kita tidak bertemu ya, Mikoto."
"Ahahaha, tidak kusangka kau betul-betul datang."
Suara siapa itu?
Terdengar seperti suara Mama dengan seorang pria, tetapi siapa ya?
Aku mencoba untuk maju ke depan, lalu mengintip sedikit ke ruang tamu.
Lalu... tampaklah Mama sedang berbincang dengan seorang pria dengan dua lelaki yang berada di samping pria. Mungkinkah mereka... seorang ayah dan dua anak?
Lalu, apa hubungannya dengan keluarga kami?
Tanpa sadar, Mama memanggilku dari ruang tamu.
"Hinata! Sedang apa kau di sana? Cepat kesini!"
Sontak aku menuju ke sana.
"A-Ada apa, Ma?" tanyaku gugup, karena tiga orang itu memandangku penuh tanya.
"Hinata, kenalkan. Ini Papa kandungmu, Minato Namikaze. Maaf kalau Mama telat mengenalkanmu padanya. Tapi, pada saat Mama melahirkan, Papamu menunggumu lahir, lho. Tetapi... Yah, kau tahu, Papamu ini sok sibuk, makanya setelah melihatmu lahir Papamu langsung pergi ke luar kota untuk kerja dan menetap di sana. Dasar...!" sindir Mama. Aku langsung menuju ke arah seorang pria yang berambut pirang itu dan menyalaminya.
"Ah, ternyata putriku sudah besar, ya..." serunya sambil tersenyum bahagia, lalu memelukku.
Aku meringis. Yah, wajar saja. Aku 'kan baru saja bertemu dengan Papa kandungku setelah lima belas tahun tidak bertemu. Kata lainnya, mungkin risih.
"Hinata, kenalkan. Mereka berdua kakakmu. Yang berambut blonde itu namanya Uzumaki Naruto," Papa lalu menunjuk pada seorang lelaki yang sedang duduk dan tersenyum lebar.
"Salam kenal!" sahutnya girang. Wah, sepertinya asyik juga punya kakak seperti dia. Dari pertama kali melihatnya, aku sudah menilainya sebagai orang yang outgoing, periang, dan pandai bergaul.
"Sa-Salam kenal," tuturku halus dan menyunggingkan senyum.
Lalu, tangan Papa menunjuk pada orang yang di samping pemuda tadi. "Nah, yang ini namanya Uzumaki Sasuke."
Uzumaki Sasuke? Ehm... Kok kedengarannya tidak pas, ya?
"Salam kenal," kataku lagi.
Pemuda itu tidak merespon.
"Aih, Sasuke dari dulu memang pendiam ya," canda Mama.
Lagi-lagi, ia hanya diam. Apakah dia bisu?
"Oh iya, kau mau minum apa Pa?" tanya Mama. Wah, Mama romantis juga, ya. Memanggil Papa dengan sebutan 'papa'.
"Nggg... Mungkin kopi saja. Naruto, Sasuke, kalian mau apa?" pintanya lalu bertanya kepada dua remaja itu.
"Teh!" seru pemud—maksudku Kak Naruto riang.
"..." lagi-lagi, ia—maksudku Kak Sasuke diam. Mungkin memang betul-betul bisu.
"Sasuke, kenapa diam?" tanya Papa.
"Hn, aku tidak usah." katanya.
"Hinata, cepat buat." perintah Mama.
"Ya, Ma..." ujarku lalu berlari ke arah dapur.
Wah, sepertinya ini terlalu cepat bagiku untuk menerima kehadiran tiga orang ini. Duh, semoga aku cepat beradaptasi, ya.
"Naruto dan Sasuke, kamar kalian ada di samping kamar Hinata, ya. Maaf ya, kalian harus sekamar di sini," kata Mama -masih berada di ruang tamu.
"Ah, tidak apa-apa Ma. Kami juga sekamar kok waktu di Osaka," kata Kak Naruto.
"Bagus Mikoto. Memang, kalau dua anak ini harus selalu disatukan, karena kalau tidak mereka selalu seperti anak kecil. Bertengkar, hahaha..." canda Papa.
"Apa sih?" maki Kak Sasuke pada Papa.
"Oke Hinata, kau bisa tunjukkan pada mereka, bukan?" tanya Mama.
"Bisa, Ma." jawabku. Lalu, Kak Naruto berdiri lebih dulu.
"Hinata! Cepat tunjukkan di mana kamarnya! Aku sudah tidak sabar!" serunya gembira.
"Ba-Baiklah," balasku kaku sambil berjalan ke arah tangga. Mereka berdua mengikutiku dari belakang sambil membawa tas-tas bawaan mereka yang terbilang besar itu.
"I-Ini kamarnya," kataku lalu membuka pintu itu.
Ya, kamar itu masih polos. Wallpaper kamar itu diberi warna cream, lalu terdapat dua ranjang ukuran single lengkap dengan bedside furniture-nya. Di sana juga disediakan kamar mandi, dua meja rias dan dua meja belajar, sama seperti kamarku. Tetapi, luas kamar ini lebih luas dibanding kamarku. Mama yang membeli semua perlengkapan furnitur ini dua minggu yang lalu. Aku sempat bingung, sebenarnya kamar ini untuk siapa? Tetapi, ketika kutanya Mama malah menjawab, "Rahasia.".
"Makasih Hinata-chan..." ucap Kak Naruto.
"Iya, a-aku permisi dulu," pamitku lalu berjalan pelan menuju kamarku yang letaknya hanya empat jengkal tanganku.
"Haaah... Hari ini banyak sekali perkembangan di rumah ini..." kataku sambil tiduran di ranjang.
Yah, aku memang kurang bisa mempercayai keadaan yang sekarang ini, mulai dari Papa kandungku yang datang kemari serta dua laki-laki yang ternyata kakak laki-laki.
Jujur, hampir saja kepalaku rasanya mau pecah kalau mengingat kejadian tadi. Mustahil! Ini pasti hanya mimpi!
"Uuuh, kali ini aku mimpi apa lagi..." ucapku.
Lalu, aku mencubit pipiku untuk menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Karena belum 'sadar' juga, aku mencoba mencubit pipiku lebih keras.
"Auuuw!" seruku. "Ah, ternyata ini bukan mimpi..." rutukku.
Sempat terlintas di pikiranku untuk beradaptasi dengan mereka semua. Tapi, bagaimana?
Lalu, di pikiranku terlintaslah sebuah gambar yang menyerupai kakakku. Sasuke Uzumaki, entah kenapa namanya kurang cocok menurutku. Dan, satu pikiran ini membuatku benar-benar kaget: 'aku-ingin-tahu-lebih-banyak-tentang-dia.'.
Eeeh? Ingin tahu lebih banyak?
Mungkin karena banyak yang 'ganjal' dalam dirinya, makanya aku mau mengetahuinya lebih banyak.
Lalu, aku menyunggingkan senyum.
Ya, aku harus mencari tahu lebih banyak tentang dia!
Sempat aku bertanya, apakah aku bisa melakukannya? Dan... Apakah aku berhasil mencari tahu tentang dia?
Aku tidak tahu.
-To Be Continue-
Bacotan Gajelas Author:
Haaah... ide apalagi ini... -_-
Gak tahu kenapa ya, suka banget deh ada ide ngaco bin asal kayak gini. Apalagi Uzumaki mengubah marga-marga di sini! Maaf ya kalau ada yang ngerasa kurang enak atau gak suka dengan nama-nama yang kuubah. Nanti di chapter 2 ada rahasia di balik kejanggalan itu. Mau tahu kayak gimana ceritanya? Nanti dulu... hehehe... *watados mode on.
Oh iya, mari dukung Indonesia sebagai pemenang SEA GAMES 2011! Semoga atlet-atlet kita menang, ya... *muter lagu SEA GAMES XXVI, 'Kita Bisa'.
Oke, mau nge-review?
Salam Lil' Monsters,
Cha2luvGaGa
