Hallo Minna-san. Perkenalkan saya author baru (Baru buat akun yang baru maksudnya) di sini. Nama saya Hime Hoshina.

Mohon bantuannya.

Di FF debut saya ini, saya langsung menggunakan rated M alias Mature~~ (Dikeroyok warga FFn) tapi bukan FF lemon kok(setidaknya bukan di chapter pertama, kalau kelanjutannya nggak tahu ya.)! FF ini berated M karena ada (banyak) adegan bunuh-bunuhannya. Hahaha. Sadistic adalah nama tengah saya ^_^ . tolong dimaklumi ya, soalnya saya mantan pengikutnya Hidan(?). #PLAK

OK daripada denger saya cuap-cuap, mending langsung disclaimer saja ya…

Disclaimer: Kalau Naruto punya saya, judulnya nggak akan 'Naruto' tapi 'Neji' hehehe. Dan saya masih mengutuk Mas Masashi yang sudah dengan teganya membunuh Neji.

Warning: banyak kesalahan dan kacau. All chara in DARK mode. Kurang sadis dan kurang kejam pembunuhannya (masih harus beguru ke Hidan lagi, deh) dan butuh banyak koreksi dari minna-san.

Pair: belum ditentukan… mau NejiHina, GaaHina atau NaruHina? Siapapun asal jangan SasuHina, soalnya kalau nulis soal SasuHina kebayangnya adegan romantis, bukannya sadis.

Rated: M untuk Gore bukan untuk lemon.

.

.

.

Normal POV

Hyuuga Neji, dia mengenali sang kakak sepupunya, Hyuuga Hinata, sebagai sosok gadis idaman yang lembut dan memiliki intelegensi tinggi. Dengan wajah lembut bak malaikat dan senyum yang menawan hati, gadis sulung keluarga utama Hyuuga itu telah banyak menjerat hati pemuda mulai dari yang biasa saja hingga yang memiliki title sempurna.

"Hinata, masih berkutat dengan buku flora fauna itu?" sapa pemuda berambut panjang itu ramah ketika mendapati eksistensi sang sepupu yang sedang membaca di ruang tamu ditemani segelas jus jambu kesukaannya.

Hinata tersenyum lembut sinambi menutup buku yang tengah dibacanya. "Tidak, aku sudah menuntaskannya minggu lalu. Hanya sekedar membukanya untuk membunuh waktu sementara menunggu Nii-san pulang saja."

Jangan terkejut mendengar Hinata memanggil Neji menggunakan istilah 'Nii-san'. Meskipun menurut strata keluarga Hinata adalah kakak sepupu dari Neji, gadis bersurai indigo indah itu tetap berkeras memanggilnya dengan sebutan kakak karena menurutnya memanggil seseorang yang setahun lebih tua darinya dengan panggilan nama sangatlah tidak sopan.

"Tak biasanya kau menungguku pulang, Hinata. Apa sesuatu telah terjadi?" tanya pemuda itu lagi sambil berdiri di hadapan gadis yang memiliki warna mata senada dengannya.

Hinata menggeleng. "Tak ada. Hanya saja Tou-san dan Jii-san sedang pergi meneliti kasus di perfektur sebelah, sedangkan Hanabi-chan masih belum pulang. Tak ada yang bisa kuajak bicara. Para pekerjapun tampaknya sungkan jika aku berusaha memulai pembicaraan dengan mereka."

"Benarkah?" tanya Neji sinambi mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata berdiri. "Mengapa kau tak menelpon salah satu temanmu ke mari untuk menemanimu?"

Hinata hanya tertawa miris mendengar pertanyaan Neji. "Terkadang aku merasa terkucil karena status yang kusandang sebagai seorang heiress Hyuuga. Setiap orang yang mendekatiku hanya berminat pada kekuasaan dan kekayaan keluarga kita semata. Kalaupun aku berusaha mendekati seseorang yang tak memiliki nafsu pada kemewahan, hanya rasa minder dan canggung saja yang kuperoleh darinya," gadis itu menyatakan pikirannya.

"Jangan sedih, Hinata. Bukankah kau masih memiliki aku dan Hanabi sebagai orang yang terdekat untukmu?" Neji bertanya sinambi meraih tangan kanan Hinata yang tetap diam tak bergeming dan menariknya dengan lembut.

"Aku tahu…"

"Kau harus semangat, Hinata. Bukankah setengah jam lagi kau harus meminpin latihan karate di dojo menggantikan Hiashi-jiisan? Bagaimana mungkin para murid dapat bersemangat jika gurunya lesu seperti ini?"

Hinata mengangguk kecil. "Ya, terima kasih, Nii-san atas semangatnya."

.

.

.

Neji duduk di meja makan. Di hadapannya, Hinata terlihat tengah menikmati sup miso buatannya sendiri yang dipadu dengan beberapa potong telur goreng. Sementara di samping Hinata, seorang gadis bersurai coklat yang terlihat lebih cocok dikatakan sebagai adik kandung Neji dibandingkan Hinata tampak memakan makanannya dengan malas sinambi membaca sebuah buku bertemakan ekonomi politik yang seharusnya belum pantas dibaca oleh gadis yang masih berusia sepuluh tahun.

"Hanabi, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Hinata pada gadis mungil di sampingnya.

"Membosankan. Seperti biasa."

Neji mendesah pelan meliha tingkah sepupunya yang paling muda. "Hanabi, jangan berkata seperti itu. Hormatilah Nee-sanmu yang sudah menanyakannya," tegur pemuda itu dingin.

"Tapi sekolah memang membosankan. Semua hal yang dipelajari adalah hal-hal yang sudah kukuasai sejak usiaku tujuh tahun!"

Neji mengangguk kecil. "Aku mengerti, Hanabi. Namun kita tetap harus menjalaninya."

"Mengapa sistem pendidikan Jepang melarang siswanya untuk loncat kelas ke kelas yang lebih tinggi?! Dan membiarkanku duduk di bangku kelas empat SD sementara kemampuanku telah jauh diatasnya bagiku merupakan sebuah penghinaan!" kata gadis itu sinambi membanting buku yang tegah dibacanya ke lantai. Dia menatap kesal pada Neji sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi.

"Kau mau kemana, Hanabi?" Neji ikut bangkit dari tempat duduknya berniat mencekal lengan gadis muda itu dan menyeretnya kembali ke tempat duduk. "Selesaikan makanmu lebih dahulu!"

"Aku sudah kenyang!" teriak gadis itu sinambi berlari ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

"Tunggu! Hanabi!" Neji sudah siap menyusul adik sepupunya itu andai saja sebuah tangan tak menghentikannya. Pemuda itu menoleh pada satu-satunya entitas yang mungkin melakukan itu.

Hinata tersenyum sedih sambil menahan tangan Neji supaya pemuda itu tak pergi ke manapun. "Sudahlah, Nii-san. Hanabi hanya sedang sedikit kesal karena Tou-san mengingkari janjinya untuk mengajak Hanabi ke taman bermain minggu ini."

Neji mendesah pelan mendengar perkataan Hinata. "Kau benar. Namun tak sepantasnya dia melampiaskannya pada orang lain seperti ini."

"Dia masih kecil, Nii-san. Meskipun itelegensinya dapat disetarakan dengan seorang mahasiswa, dia tetaplah gadis berusia sepuluh tahun yang masih labil terhadap emosinya," Hinata berkata dengan nada lembut. "Setelah selesai makan, aku akan memberi pengertian padanya. Nii-san selesaikan makan saja terlebih dahulu."

"Baiklah," Neji memutuskan mengalah dan duduk kembali di kursinya. Ditatapnya sang sepupu yang melanjutkan makan dengan tenang di hadapannya. "Hinata, kau benar-benar seperti seorang Yamato Nadhesiko, ya?"

Hinata hanya tertawa pelan mendengar kata-kata kakaknya. "Aku bukanlah seseorang yang sesempurna itu, Nii-san. Aku memiliki banyak sekali lubang dan kegelapan dalam hatiku. Tak sepantasnya aku menyandang predikat sebagai gadis seindah itu."

"Namun Hinata, aku tak pernah sekalipun melihat kegelapan dalam hatimu. Bagiku, nama Hinata sangat tepat untukmu karena yang kulihat hanyalah kebaikan darimu."

"Itu karena aku menyembunyikannya dengan rapat, Nii-san," gadis itu menyangkal sinambi tetap melanjutkan makannya. "Status, title, label dan segala hal lainnya memaksaku untuk tetap menyembunyikan sisi gelapku. Aku tak pernah sekalipun menunjukkannya, karena tiap kali aku menunjukannya, seseorang yang berarti bagiku pasti akan langsung bereaksi dengan menjauhiku."

"Apa namaku ada dalam daftar orang-orang itu, Hinata?"

Hinata terdiam sinambi menunduk. "Mungkin iya."

"Kau salah, Hinata. Seperti apapun dirimu, aku akan tetap menerimamu dan menemanimu."

"Kita tak akan tahu hal itu hingga sebuah kejadian terjadi, Nii-san. Dan jika Nii-san telah melihat sisi gelapku, maka saat itulah aku dapat mengambil kesimpulan."

Saat itu Neji hanya mampu diam menyesapi tiap kata yang dilontarkan Hinata. Dia tak menyadari bahwa kata-kata itu adalah sebuah kunci yang akan membawanya melihat sisi lain dari seorang Hinata Hyuuga. Sisi yang selama ini selalu disembunyikan gadis itu dibalik senyum dan tawa lembutnya. Sebuah sisi gelap yang akan membuatnya sadar bahwa manusia adalah makhluk yang sangat busuk.

.

.

.

Neji menggosok wajahnya dengan telapak tangannya. Andai saja Hyuuga bukanlah marga keluarganya, saat ini dia pasti sudah memaki setiap tugas yang diberikan oleh gurunya.

Dia menatap sekilas jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul sebelas malam. Sudah lewat dua jam sejak jam malam yang telah ditentukan ayah dan pamannya berlalu. Namun siapa peduli pada yang namanya peraturan jika nilai dan rankingnya di sekolah sedang dipertaruhkan sekarang. Toh, saat ini pria kembar yang biasa mengawasi sedang pergi mengemban tugas sebagai bukti dedikasi pada negeri sehingga tak akan ada yang memarahinya nanti.

Dengan langkah malas, dia memutuskan untuk meminum segelas kopi yang akan membantunya tetap terjaga malam ini. Peduli setan bagaimana efek kafein pada tubuhnya sepuluh tahun nanti! Dia hanya peduli pada masa kini. Pada tugas-tugas sekolahnya yang sama tebalnya dengan alis adik kelasnya, Rock Lee, yang tak kunjung mencapai akhirnya.

Dia sudah hampir sampai pada dapur saat matanya menangkap sesosok kegelapan berjalan cepat melintasi sisi lain lorong.

"Pencuri?" gumamnya pada diri sendiri sambil mengikuti sosok kabur itu menuju ruang utama yang dipenuhi oleh barang-barang berharga yang telah dimiliki oleh keluarga Hyuuga entah sejak zaman apa.

Anehnya, sang bayang-bayang gelap itu meninggalkan begitu saja ruang yang dapat dikatakan sebagai tambang emas bagi kriminil. Dia melanjutkan perjalanannya hingga ruang tamu.

Sosok itu berhenti sebelum mencapai pintu. Dia duduk dan mengambil sesuatu di dalam rak sepatu. Dari tempatnya mengintip, Neji melihat jika bayang-bayang itu bukannya mengambil sepatu atau semacamnya malah menggeser sebuah celah yang ada di dalamnya.

Demi seluruh Dewa yang pernah disembah oleh masyarakat Jepang, seumur hidup Neji tinggal di rumah itu dan menggunakan rak sepatunya, tak pernah sekalipun dia menyadari adanya ruang rahasia di dalamnya.

Sosok itu mengambil sebuah sepatu berhak tinggi berwarna hitam gelap dan mengenakannya. Kini Neji sudah dapat menduga jika sosok itu adalah seorang wanita. Karena tak ada satupun lelaki yang sudi mengenakan sepatu dengan hak setebal dosa yang mampu mencederai kaki cukup parah kecuali dia mengalami kelainan pada syaraf otaknya.

Andai saja Neji mampu melihat wajah di balik jaket berponco hijau gelap itu, maka tanpa ragu dia akan melaporkan sang wanita kepada aparat yang berwenang dengan tuduhan telah memasuki rumah orang tanpa izin atau semacamnya.

Sosok itu bangkit berdiri dan membuka pintu geser rumah keluarga Hyuuga yang memang bergaya Jepang tradisional. Sebuah angin kencang dengan sukses menerbangkan ponco yang menutupi rambutnya sehingga menampilkan surai-surai indigo panjang yang indah.

Neji menelan ludah terpaksa. Tampaknya dia mengenal sosok berponco ini.

Cahaya bulan purnama yang menerpa wajah wanita itu memperlihatkan seulet sosok gadis rupawan dengan mata bulan yang sedang menampilkan ekspresi dingin.

Wanita, ah bukan, maksudku gadis itu berbalik lalu ia menutup pintu geser itu sehingga menghilangkan sosoknya dari mata Neji yang memiliki warna mata senada dengan gadis menawan itu.

Neji menatap pintu yang telah menutup dengan wajah tak percaya. "Hinata?"

.

.

.

Hinata POV

Aku berjalan dengan pelan di sepanjang lantai keramik yang telah retak di banyak sisi, berusaha agar hak tinggi yang kukenakan tak menimbulkan gema yang akan memantul di sepanjang lorong gedung tua bekas sekolah ini.

Kuraba sebilah belati perak yang terselip di dalam celana hitam ketat yang kukenakan dengan posesif. Benda inilah yang akan menjadi penentu hidup matiku malam ini. Jujur saja, aku malas menggunakan Glock yang tersarang rapi di balik jaket hijau gelap dengan simbol Clubs atau yang lebih senang kusebut dengan Clover di bagian dada.

Lagipula menyayat seseorang dengan pisau terasa seribu kali lebih menyenangkan dibandingkan menembak matinya dari jarak jauh. Mendengar mereka menjerit kesakitan saat kulitnya terkoyak adalah nada indah yang mampu menyaingi nyanyian para Muse.

Aku menajamkan telingaku dan menyipitkan mataku membiarkan orang-orang bodoh itu mengirimkan sinyal tempat keberadaan mereka.

Seperti yang sudah disampaikan padaku sebelumnya. Targetku kali ini bukanlah seorang kriminal kacangan melainkan seorang remaja jenius yang telah menggawangi sederetan penjualan opium internasional yang tengah diburu polisi.

Tampaknya malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan.

Kudengar sebuah hembusan nafas pelan dari ruangan di sampingku. Sebuah seringai mengerikan kurasakan muncul di wajahku saat membayangkan bahwa beberapa menit lagi sang pemilik nafas pelan itu tak akan pernah bisa mengeluarkan karbon dioksida lagi dari paru-parunya.

Langsung saja kutendang pintu itu hingga lepas dari engselnya membuat suara derakan yang mengerikan.

Di baliknya kulihat tiga orang pria dewasa sedang meringkuk ketakutan sambil mengacungkan pistolnya padaku. Dengan perlahan kuambil sebuah belati panjang yang terselip di celana ketatku. Aku mengangkatnya ke wajahku dan menjilatnya.

"Cih, cuma ada tiga ekor tikus menjijikkan. Seharusnya kalian menyiapkan sambutan yang lebih mewah lagi untuk seorang Clover Queen yang berkunjung," kataku dengan nada meremehkan yang tak sanggup kututupi.

Mereka tak bicara. Namun kulihat jari-jari mereka sudah siap menekan pelatuk untuk memuntahkan sederetan timah panas dari dalamnya.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Sepuluh tembakan langsung mengarah kepadaku. Memang mengecewakan, namun tampaknya ini akan menjadi pemanasan yang lumayan juga.

Aku bermanuver dengan meloncat ke atas melentingkan tubuhku dengan sempurna sekaligus bersalto masih dengan tetap berada di udara. Kugerakkan tanganku yang dipersenjatai dengan belati untuk menangkis peluru yang tersisa.

DOR!

Sebuah tembakan susulan dengan suksesnya diarahkan ke wajahku. Aku tersenyum puas. Ternyata mereka tak sebodoh yang kukira. Namun mereka juga bukan tipe jenius yang mengagumkan. Maksudku, mereka tak mengira aku akan kalah dan mati hanya dengan taktik sesederhana itu bukan? Mereka kira aku akan kehilangan stamina hanya dengan menangkis dan menghindar dari sepuluh peluru sehingga saat peluru ke sebelas ditembakkan aku tak akan siap.

Betapa naifnya mereka.

Aku dapat mengira-ngira kecepatan peluru itu dan waktu yang dibutuhkannya untuk sampai kepadaku.

0.5 sekon lagi… 0.4 sekon… 0.3…

Aku mengangkat belatiku secara horisontal tepat di hadapan mataku sehingga peluru itu menabraknya dan terjatuh dengan sempurna di bawah sepatu berhak 8 cm milikku.

Kulirik pistol mereka. Tipe yang memiliki peluru sejumlah 9 buah. Berarti mereka masih memiliki enam belas sisa peluru.

Bukan masalah besar. Orang-orang pengecut seperti mereka hanya berani menjalankan senjata jarak jauh. Membosankan.

Jadi, bagaimana mereka akan menerima serangan jarak dekatku ya?

Dengan gesit aku langsung berlari ke arah mereka sambil sesekali meliuk menghindari timah panas yang mereka lontarkan padaku sebagai upaya untuk membunuhku agar hidup mereka tetap terjamin. Sayangnya takdir mereka sudah ditetapkan sejak mereka bertemu denganku, yaitu…

KEMATIAN.

Aku menyunggingkan senyum sadisku. "Nikmatilah perjalanan kalian ke Tartarus, katakan pada Hades jika Clover Queen menitipkan salam untuknya," desisku sambil meraih sebuah pisau yang lebih tipis dibandingkan belati yang sedang kugenggam.

Pisau setipis kertas itu kusembunyikan di ikat pinggangku di daerah panggul, namun entah mengapa sekarang telah berpindah ke daerah pinggang. Setelah itu berpindah ke leher pria botak yang ada ditengah diiringi suara teriakan tertahan.

"AKH!"

Setelah ini kupastikan dia tak akan bisa berteriak lagi. Bahkan di neraka sekalipun.

Dengan tanganku yang tak bersenjata kupukul pangkal leher salah seorang dari dua pria yang tersisa sementara seorang yang lain harus menerima tendanganku tepat di rusuknya. Aku memasang seringai sadisku, mungkin bagi orang lain titik itu hanyalah sebuah titik pada tubuh manusia yang tak istimewa. Namun mereka salah, aku harus berterimakasih pada Red Joker yang telah mengajariku titik-titik mematikan dalam tubuh manusia.

Untuk si gondrong menjijikkan, kurasa mati karena sesak nafas adalah yang terbaik. Titik pernapasan yang tersambung dengan paru-parunya telah kulumpuhkan. Dengan begini udara segar tak akan bisa lagi masuk ke dalam paru-parunya sehingga dalam waktu kurang dari lima menit dia akan membujur kaku.

Semetara seorang pria berambut klimis itu mungkin cukup beruntung. Aku sedikit meleset saat membidik saraf yang terhubung dengan jantungnya. Namun aku dapat memastikan kalau setidaknya ada dua rusuk yang patah di sana. Yah, rusuk yang patah memang tak akan membunuhnya, sih. Jadi dengan sekali tebas, aku memotong lehernya.

Tubuhnya ambruk seketika bersamaan dengan lautan darah yang mengalir di sekitarku menimbulkan bau anyir yang tak sedap. Namun di hidungku yang aku yakin sarafnya telah rusak, aku hanya mencium aroma memabukkan yang lebih harum dibandingkan mawar.

Dengan dinginnya aku berjongkok di samping kepala yang telah terpisah dari tubuhnya. Tanganku yang terbalut sarung tangan hitam menyentuh titik diantara perpotongan leher dan kepala tempat seseorang biasanya mengecek denyut nadi. Tak terasa apapun di sana, denyut kehidupannya telah menghilang. Tentu saja itu karena aku telah memisahkan tempat otaknya bersarang dari tempat jantungnya berada.

"Mati," dengusku geli. "Payah sekali." Kupusatkan atensiku pada lingkungan sekitarku. Aku yakin setidaknya ada dua puluh orang yang sedang bersembunyi siap mengepungku. "Siapa yang ingin mendapatkan tiket ke Tartarus berikutnya, silahkan maju dan hadapi aku, The Clover Queen. Berapapun jumlahnya, akan kukirim kalian semua agar jiwa kalian menjadi santapan Carberus."

Aku menatap mereka dengan pandangan meremehkan yang keluar dari sepasang mata bulanku.

"Permainan baru dimulai."

.

.

.

Normal POV

Seorang pemuda berbadan besar tampak duduk di sebuah sofa nyaman sinambi menonton anak buahnya mengepung seorang gadis yang mengatakan bahwa dirinya adalah The Clover Queen. Di tangan kirinya, sekantong besar kripik kentang tergenggam erat sementara kanan tangannya terus menguras isinya. Dia bergumam kecil sambil melihat gadis bersurai indigo itu membunuh anak buahnya secara brutal dalam waktu yang singkat.

"Hm, ternyata pergerakanku telah dicium oleh The Emperor. Tampaknya aku harus menghabisi gadis itu. Sayang sekali, padahal dia cukup cantik," remaja tambun itu bergumam pelan sinambi meraih sekantong lagi kripik kentang dari meja pendek di sampingnya.

Diamatinya lagi gadis yang dengan sekali sabetan langsung memenggal empat orang anak buahnya itu. Darah pekat muncrat dan sedikit menutupi bagian depan kamera tersembunyi yang ada di ruangan itu.

Akimichi Chouji, nama pemuda itu, Dia bangkit sambil meraih senapan laras panjangnya. Sebuah seringai kejam yang sama dengan seringai gadis di layar monitornya terkembang sempurna di wajahnya.

"Saatnya berburu."

.

.

.

Hinata menendang kepala yang menggelinding ke arahnya dengan wajah jijik. "Bagaimana mungkin para tentara saat perang dunia kedua sanggup bermain sepak bola menggunakan penggalan kepala mengerikan seperti ini? Benda ini menggelinding sama baiknya dengan sebuah kubus," dengusnya.

Gadis itu keluar dari ruangan yang telah dibanjiri dengan darah hingga setinggi setengah centi itu sambil menendang beberapa tubuh tak bernyawa yang beberapa bagian tubuhnya telah tak lengkap.

Sebuah senandung kecil terdengar menyebar di udara bagaikan nyanyian yang mengantarkan kematian untuk makhluk-makhluk bodoh yang tak sadar jika mereka telah dikorbankan oleh bosnya sendiri.

Nada-nada mengerikan yang merambat di udara mampu membuat tiap orang yang mendengarkannya merinding ketakutan, padahal suara yang menyanyikannya sangat lembut dan gadis yang menyanyikannyapun sangat cantik. Namun di balik senyum lembut bak bunga daisy itu tersembunyi sebuah kesadisan yang tergambar melalui lagu itu.

"Datanglah, datanglah, dalam hutan yang gelap tempat di mana kuberada. Sembunyi, sembunyi, sembunyikan dirimu dari mata rembulan ini. Kemari, kemari, senandungkan lagu kematian tempat kau abadi… mainkanlah sebuah permainan, darah yang tercecer di antara dedaunan yang hijau. Hey, lihatlah, Tuhan sedang mengawasimu. Dan katakanlah lalalala~~ senandungkanlah lagu ini di dalam mimpi. Dalam sebuah lullabi yang tak berakhir…"

Hinata menjilat belatinya yang telah berlumuran darah, entah darah milik siapa saja itu, yang pasti itu bukanlah darahnya. Lalu dia bergumam pelan, "Seekor babi datang ke tempat penjagalan rupanya."

Di hadapannya berdiri seorang remaja yang tampak tak terlalu jauh usianya dengannya. Dengan santainya pemuda itu makan keripik kentang tanpa memedulikan aroma anyir memuakkan di sekitarnya. Tampaknya Hinata harus memberikan aplause atas ketahanan pemuda itu atau mungkin pada kerakusannya yang membuat pemuda itu tak menyadari situasi dan kondisi di sekitarnya.

Hinata tersenyum puas saat dilihatnya empat orang berbadan besar berjalan mengiringi pemuda tambun itu. Tampaknya orang-orang ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan tikus-tikus payah yang baru saja dibasminya.

"Menyenangkan sekali. Malam ini aku mendapatkan seorang tamu yang sangat cantik," kata pemuda itu sinambi menimang senapan laras panjang yang dibawanya. "Tampaknya aku cukup beruntung bisa bertemu denganmu, Your Majesty. Suatu kehormatan tersendiri dapat bertemu dengan The Clover Queen sehebat anda."

Hinata tertawa lirih mendengarnya. "Suatu kehormatan pula untukku, dapat mengirim buronan internasional ke neraka."

"Wah, wah, wah. Anda benar-benar percaya diri rupanya. Sebaiknya anda hentikan saja tawa anda itu, Your Majesty. Karena andalah yang akan saya kirim ke neraka. Andaikan anda berhasil membunuh saya, anda tak akan selamat karena saya…"

"Sudah memasang bom di seluruh bagian gedung ini," potong Hinata bosan sinambi membersihkan belati menggunakan lidahnya. "Cara klasik untuk bunuh diri."

Chouji tertawa sadis mendengar kata-kata Hinata. "Tampaknya sudah tahu. Jujur saja, saya sangat kagum atas kemampuan mengamati anda."

"Dan biar kutebak, kau sudah memasang pemicu peledaknya di dalam tubuhmu bukan. Mungkin disinkronkan dengan jantung atau semacamnya. Dan akan aktif saat jantung anda berhenti berdetak dalam hitungan waktu tertentu." Hinata memutar matanya dengaan bosan sambil memainkan belati peraknya.

Tawa Chouji semakin meledak. "Aku memang pernah mendengar mengenai mata khusus yang dapat melihat dengan cara yang unik. Mata terkutuk yang diwarisi dari bangsa Jerman. Namun aku tak pernah menduga akan bertemu dengan salah satu penggunanya, Hinata Hyuuga. Salah seorang keturunan dari Otto Kohler, seorang prajurit yang dibakar karena diduga telah menjual matanya pada iblis untuk mendapatkan mata yang dapat membunuh hanya dengan sekali lihat.

"Siapa sangka, keluarga Hyuuga yang terkenal akan kekayaan dan kejeniusan para keturunannya memiliki nenek moyang mantan kekasih seorang Otto Kohler, Alice Bommenwick. Mungkin bersamaan dengan berlalunya waktu, kekuatan pada mata itu semakin memudar dengan bertambahnya darah manusia biasa yang muncul pada setiap keturunannya, sehingga sekarang para keturunannya hanya mampu melihat secara detail dan bisa menembus benda, tepat?"

"Awalnya aku mengira kau hanya seorang babi bodoh kelebihan selulit saja. Namun ternyata aku harus mempercayai kata-kata Red Joker yang memberimu julukan jenius," geram Hinata dingin.

Chouji mendesis mendengar kata-kata Hinata yang merendahkannya. Diangkatnya senapan laras panjangnya sinambi berkata, "Sampai jumpa, Clover Queen."

Bersamaan dengan terdengarnya suara rentetan senjata, Hinata menerjang maju. Sambil bermanuver di udara menghindari peluru, Hinata menyabetkan belatinya hingga mengenai dua orang bodyguard yang memiliki tubuh nyaris tiga kali lipat lebih besar darinya. Dan mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada pergelangan tangan atau bahkan lengannya yang terjatuh di lantai dengan berlumuran darah.

"AAAAAAAARRRRGHHH!"

Sebuah teriakan miris terdengar memeriahkan simfoni neraka yang tercipta akibat deru senapan laras panjang dan sabetan belati saat menghadang tulang.

Dengan sebuah gerakan akrobat, Hinata sukses membelah tubuh Akimichi muda itu.

Dan yang dimaksud membelah itu adalah membelah secara vertikal. Mulai dari kepala hingga selangkanan Chouji terbelah secara sempurna. Setelah bergetar beberapa kali, tubuh tambun itu ambruk ke dua arah yang berbeda, mempertontonkan seluruh organ yang terpotong dan terburai dengan begitu rapinya.

Otak abu-abu pemuda itu kini terlihat dengan jelas pembagian-pembagiannya meski telah teracuni oleh darah merah kental, paru-paru kanan dan kiri kini tak lagi terhubung karena bronkus yang merupakan jembatan pengambung antara keduanya telah hancur terbelah. Usus-usus putih panjang terburai ke mana-mana dan mengeluarkan cairan kekuningan yang menjijikkan.

"Ukh, ternyata yang dikatakan As ada benarnya juga. Selulit memang tak baik untuk tubuh dan menjijikkan."

Hinata hampir saja muntah melihatnya. Namun dia harus menahannya karena dia harus keluar dari gedung ini secepat mungkin.

Namun tampaknya hari ini dewi Fortuna tengah tak menemaninya. Salah seorang bodyguard Akimichi yang tersisa sedang berusaha menusuk punggungnya dengan sebuah pisau tentara. Melihat sebuah kilauan yang terasa familier, Hinata menoleh. Namun rasa mual dan keterkejutannya membuat refles menangkisnya terlalu lambat.

'Gawat! Aku akan mati!' jerit gadis bermata bulan itu dalam hati. Dia sudah memejamkan matanya berserah pada sang maut saat sebuah suara terdengar.

PRAK!

Tak merasakan sakit pada tubuhnya, Hinata menoleh. Rasa lega dan kaget dirasakannya saat melihat seorang pemuda tengah menangkis pisau tentara itu dengan sebuah pipa besi yang sudah berkarat. Di belakangnya, mayat tiga bodyguard lain yang belum dihabisi Hinata tampak bergelimpangan dengan berbagai macam kondisi mengerikan. Mulai dari kepala yang hancur hingga perut yang tertembus bagian runcing pipa besi itu.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Hinata," pemuda yang menangkis serangan itu menoleh menampilkan sepasang mata bulan yang identik dengan mata Hinata.

"Nii-san?!"

Neji menyentakkan tangkisannya hingga membuat sang bodyguard itu mundur beberapa langkah ke belakang. Dengan beberapa gerakan bela diri yang dipelajarinya di Dojo keluarga, Neji menangkis serangan dari sang pria besar yang kini diarahkan padanya. Sebuah tendangan dan beberapa pukulan kuat di bagian mematikan tubuh mampu membuat pria raksasa itu lumpuh dan jatuh terduduk bersandar pada dinding.

Pemuda Hyuuga itu menatap sinis pada korbannya yang kini tak berdaya. Diangkatnya pipa besi itu tinggi-tinggi lalu…

KRAK!

Pipa itu menghancurkan tengkorak sang pria dan langsung menembus otaknya membuat matanya melotot akibat kesakitan dan terdesak hingga nyaris keluar.

Kali ini Hinata terpaku menatap pemandangan gila itu, tak pernah dibayangkannya sepupunya yang selalu terlihat tegas dan bijak itu mampu melakukan hal semengerikan itu. Namun sekali lagi Hinata harus menerima jika penampilan dapat menipu. Dia adalah salah satu bukti hidupnya.

"Nii-san…" Hinata memanggil sepupu yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri itu dengan suara bergetar.

"Kita masih memiliki banyak waktu untuk mengobrol nanti. Yang harus kita pikirkan adalah keluar dari bangunan ini sesegera mungkin," suara Neji terdengar tenang dan terkendali seperti biasanya. "Kita hanya memiliki waktu dua menit sebelum bom yang telah diaktifkan si babi tambun itu meledak."

Hinata mengangguk mengerti. Kini mereka berada di sebuah bangunan tua bekas sekolah yang seharusnya telah dihancurkan lima tahun lalu. Namun karena suatu alasan yang tak jelas, proyek penghancuran bangunan ini terpaksa dihentikan. Sekarang sudah jelas siapa yang menghentikan dan alasan dibaliknya. Namun tampaknya penghancuran bangunan itu akan dilakukan saat ini juga. Dengan mereka berdua sebagai tumbalnya.

Gadis itu menggeleng. Mereka memang berada di lantai empat. Dan tidak mungkin mereka bisa turun dengan tangga dalam waktu yang tak sampai satu setengah menit. 'Pasti ada jalan! Pasti ada jalan!' teriak Hinata dalam hati sambil melihat sekelilingnya. Dari jendela, dia dapat melihat bangunan gedung sekolah yang baru hanya berjarak sekitar lima meter dari bangunan ini.

Otaknya bekerja cepat. Langsung saja dia menyambar tangan Neji dan menariknya menuju ke salah satu jendela terdekat.

Tanpa basa basi, dia langsung memecahkan kaca jendela itu dengan bahunya dan menarik Neji agar mengikutinya.

Setelah menghirup nafas beberapa kali, Hinata menetapkan hati. Matanya yang berwarna bulan tanpa pupil kini menampilkan sebuah pupil unik tersembunyi di dalamnya. Bersamaan dengan itu beberapa otot di sekitar matanya menegang.

'Ini harus berhasil,' pikirnya sambil melompat dari jendela itu sambil mendekap tubuh Neji agar tak terpisah jauh darinya.

"AAAAAAAAA!"

Sebuah teriakan kaget dari pemuda itu membahana bersamaan dengan terdengarnya ledakan beruntun dari gedung sekolah tua itu.

Sepasang Hyuuga itu jatuh dengan kemiringan sudut sekitar tiga puluh hingga empat puluh derajat. Dengan segala perhitungan yang dikuasainya, Hinata mengarahkan tubuh mereka berdua ke jendela gedung sekolah baru dan…

PRANG!

Kaca gedung itu hancur berantakan sementara Hinata dan Neji jatuh tersungkur di ruang kelas menabrak beberapa bangku yang menyebabkan luka dan memar ringan di tubuh mereka.

Neji bangkit lebih dulu dan menghampiri Hinata yang terluka lebih parah karena harus dua kali memecahkan kaca dengan bahunya.

"Hinata! Kau baik-baik saja?!" tanyanya panik sambil membantu sepupunya bangkit dan duduk.

Hinata hanya mengangguk kecil lalu menatap mata Neji dengan matanya yang kini telah kembali ke bentuk semula. "Kenapa Nii-san bisa ada di sini?" tanyanya sambil membelai luka yang membuka di leher Neji.

"Aku mengikutimu, aku khawatir karena kau keluar pada tengah malam dengan kondisi yang tak seperti biasanya," Neji menjelaskan. "Aku akan panggil ambulance untuk kita, kau tenang saja di sini dulu, Hinata," tambahnya sambil bangkit berdiri.

Namun Hinata mencekal tangannya. "Jangan! Jangan lakukan itu Nii-san…" katanya sambil menyerang tiga titik di leher Neji dengan jarinya.

Neji yang merasakan rasa sakit di lehernya langsung ambruk di lantai kelas sambil memegang titik yang dipukul Hinata dengan cukup keras. "Hinata, kau…" dia berkata lirih sebelum kegelapan memanggilnya. Dia pingsan.

Dengan tatapan mata dingin Hinata berdiri dan menatap kakak sepupunya dari atas. "Maaf, Nii-san. Tapi aku terpaksa memperlakukanmu seperti ini."

.

.

.

Di sebuah ruangan yang terang dengan ornamen bergaya gothic klasik, seorang gadis bersurai indigo panjang yang mengenakan pakaian berlumuran darah berlutut di hadapan enam singgasana mewah yang hanya terisi oleh lima orang saja karena pemiliki singgasana keenamlah yang kini sedang berlutut di hadapan mereka.

"Maaf, aku gagal menjalankan misi dengan sempurna," katanya sambil menunduk dalam-dalam.

"Jangan begitu, Clover Queen. Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, iya kan?" kata pemuda yang duduk di singgasana nomor dua dari kiri sambil menoleh rekan-rekannya yang lain.

Pemuda lain yang duduk di sudut kanan hanya mengangguk dengan wajah bosan. "Diamond King benar, namun sayangnya kesalahan yang dilakukan Clover Queen saat ini termasuk berat. Bukan hanya meninggalkan saksi mata, dia bahkan melibatkan orang luar cukup jauh."

Gadis yang duduk di singgasana sudut kanan langsung bangkit. "Kata-katamu tajam sekali, Spade Jack! Sebagai seorang Heart As, aku tak setuju denganmu. Kesalahan yang dilakukan Queen bukan semata-mata kesalahannya! Ini hanya kecelakaan. Kita masih bisa memanipulasinya dengan merekayasa kejadian sebenarnya atau menghapus ingatan dari Neji Hyuuga."

"Yang tahu cara penghapusan pikiran hanyalah para Joker. Dan mereka tak diizinkan melakukannya tanpa persetujuan dari Dewan Besar."

"As, Jack, berhentilah berspekulasi! Yang berhak memberi hukuman dan keputusan pada masalah kali ini hanyalah dua Joker saja," lerai pemuda yang dipanggil Diamond King tadi. "Jadi bagaimana keputusan kalian, Black Joker? Red Joker?"

Pemuda yang duduk di singgasana tengah kini menatap Hinata dengan pandangan dingin yang menusuk. Lalu dia kembali memusatkan atensinya pada pekerjaan sebelumnya yaitu mengasah katana kebanggaannya. "Jack benar, kesalahan Queen memang terlalu berat. Mau tak mau dia harus diberi hukuman yang sesuai dengan aturan, kau setuju bukan, Red?"

Gadis yang dipanggil Red yang duduk di sampingnya hanya memutar mata bosan. "Terserah. Kuserahkan masalah ini padamu saja, Black."

Black Joker menghentikan kegiatannya lalu menatap gadis di sampingnya. "Ada apa denganmu? Tak biasanya kau begini."

"Tak ada apapun sesungguhnya. Hanya saja aku sedang ingin mengeksekusi seseorang."

Hinata menelan ludah tegang.

"Tenang saja, Queen. Bukan kau yang akan kueksekusi, kok. Kesalahanmu masih termasuk ringan jika dibandingkan dengan dia," kata Red Joker sambil tersenyum semanis mungkin menenangkan gadis yang masih berlutut di hadapannya. "Yang kumaksud adalah, number six. Kurasa organisasi kita tak membutuhkan seorang pecandu narkoba di dalamnya."

Diamond King mengernyitkan alis tak mengerti. "Number six? Houzuki Suigetsu maksudmu?"

"Apa kau sudah mendapatkan bukti nyata jika Six memang melakukan hal seperti itu?" tanya Black dengan nada menyelidik.

Red mengangguk membenarkan. "Ya. Dari hasil tes urine yang dilakukannya di rumah sakit kemarin sebagai salah satu bagian pemeriksaan medis, dia terbukti positif sebagai pengguna narkoba."

"Dan kau telah mendapatkan izin dari Dewan Besar?" tanya Black lagi.

"Aku tak akan menyampaikannya pada kalian jika aku belum mendapatkan izin," kata gadis itu dengan tajam. Lalu dia menatap pemuda di sampingnya dengan pandangan menantang. "Jangan kau pikir karena Houzuki masuk ke sini atas idemu, dia lantas dapat bebas dari segala aturan yang ada."

Black hanya mendengus pelan. "Terserah kau saja, Red. Masalah Suigetsu kuserahkan sepenuhnya padamu."

"Kalau begitu cepat disingkirkan saja! Lagipula aku juga benci pada si gigi runcing itu! Senyumnya benar-benar mengerikan! Seluruh kamera yang biasa memotretku pasti akan pecah jika mengambil gambarnya," timbrung As dengan semangat karena dia memang telah membenci Number six, atau yang dikenal sebagai Suigetsu Houzuki itu sejak lama.

Red mengangguk mengerti. "Aku akan melakukan prosesinya besok."

"Tampaknya kau sudah memikirkan siapa penggantinya, Red?" pancing Black dengan senyum misterius.

"Begitulah," jawab gadis bergelar The Red Joker itu dengan senyum yang sama ambigunya. "Akan kuberitahukan pada kalian esok, setelah penghapusan ingatan pada Number Six selesai. Kau setuju kan, Jack?" tanyanya meminta persetujuan dari Spade Jack yang sudah nyaris tertidur si singgasananya.

"Terserah. Ini benar-benar merepotkan. Aku tak peduli."

Hinata menelan ludah terpaksa. Otaknya menyalakan alarm tanda bahaya berkali-kali. Namun dia tak berani membantah The Red Joker. Apalagi mengingat jika dia baru saja membuat kesalahan hari ini.

.

.

.

TBC

A/N :

Kalau nggak ada yang review nanti saya nggak lanjutin, lho. (Ngancem ceritanya)

Ada yang mau nebak siapa sajakah:

1 Black Joker

2 Red Joker

3 Diamond King

4 Spade Jack

5 Heart As

Yang benar 4 dari 5 akan saya buatkan FF dari fandom apa saja, pair apa saja dan rated apa saja lho ^^ sekalian melatih kemampuan tulis menulis.

Ada yang minat review, komen, kritik atau mengoreksi?