"Yatogami Kuroh desu. Yoroshiku."

.

.

.

.

.

K punya yang punya#kplak

.

.

.

.

.

Ini cerita punya Hananami Hanajima.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yah, silahkan duduk." seru Pak Guru yang sedang mengajar fisika kepada murid baru.

"Baik." jawabnya sambil melempar pandangan ke segala penjuru arah, mencari kursi kosong.

Terlihat kursi tak bertuan di sebelah pemuda berambut putih yang sekarang sedang tersenyum.

Akhirnya ia menuju satu satunya kursi kosong di kelas itu.

"Ah, apa kau sudah dapat PDA dan e-pen?" tanya Guru.

"Baru PDA."

"Nanti kau minta di ruang administrasi. Satu siswa jatahnya 2. Jika mau beli ada di koprasi sekolah." kata Guru menginformasikan.

"Baik." jawab Kuroh patuh.

"Tadi sampai mana kita? Ah, ya! Jadi, jika tekanan ini dipengaruhi sebab sebab lain seperti bla bla bla..." Sang guru tak henti hentinya menerangkan pelajaran Fisika yang lumayan rumit tersebut.

Pemuda berambut putih terlihat curi curi pandang, menatap wajah Kuroh yang diterpa cahaya matahari karena kebetulan ia duduk di sebelah jendela.

Merasa risih diperhatikan, Kuroh membuka mulutnya, "Jika ingin berbicara, katakan saja." katanya tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis.

"Ah!" kaget Pemuda itu. "Ano..." katanya bimbang antara mengutarakan pikirannya atau diam. "Kau... muridnya Miwa Ichigen bukan?" tanyanya pelan.

"APA?!"

.

.

.

Hening.

Seluruh pasang mata memperhatikan siswa baru yang berisik tersebut.

Kuroh yang terkaget hingga berdiri dari kursinya malah malu sendiri.

"Ah, maaf." katanya kembali duduk.

Pemuda berambut putih tadi merasa bersalah dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan percakapan.

.

.

.

"Jadi, jika kalian menemukan soal seperti ini, pakai rumus ini-"

.

.

.

KRIIIING KRIIIING

.

.

.

"Ah, baik. Nanti kita lanjutkan dipertemuan selanjutnya." sahut guru membereskan bukunya dengan tergesa gesa lalu keluar dari kelas.

Sebagian murid keluar kelas, sebagian tetap tinggal di kelas, mengeluarkan bekal mereka masing masing.

Yatogami membereskan bukunya dan mengeluarkan bekal makan siangnya. Yang dibereskan tentu bukan e-booknya. Jika e-booknya sih, nempel di meja. Saat ia mulai berdo'a, matanya menangkap teman sebangkunya tengah merayu teman lainnya untuk memberikan sebagian lauknya.

"Ayolah... aku hanya bawa nasi..."

"Bohong! Kau memang tak pernah menyiapkannya 'kan?" sebal teman lelakinya.

"Aku sungguh lupa..."

"Shiro! Kemari. Apa kau suka Sukiyaki?" tanya salah seorang siswi di mejanya.

"Oh, aku suka!" ia langsung melesat ke arah siswi tersebut.

"Ini, apa kau mau?" tawar yang lainnya.

"Terima kasih. Terima kasih." ia menghampiri setiap meja di kelas tersebut.

Kuroh memperhatikan teman sebangkunya yang menyedihkan tersebut dengan mata menyipit.

Akhirnya ia menghampiri teman barunya tersebut lalu menepuk bahunya pelan. "Hoi."

"Ugya!" kagetnya.

"Kemari." gumam Kuroh.

Ia bisa mendengar suara "glek" dari tenggorokan teman barunya tersebut.

Ia menggeretnya ke tempat duduknya semula lalu menarik bekal makannya.

"Eh?" kaget pemuda berambut putih.

Kuroh menukarnya dengan tepak bekalnya yang belum ia sentuh sama sekali.

"Makanlah." suruhnya datar.

"Eh? Eh? Tapi..."

Belum selesai teman barunya berbicara, Kuroh telah memotongnya, "Selamat makan." lalu dengan watadosnya melahap bekal makannya.

Pemuda berambut putih tadi terheran heran dan akhirnya mencoba mengintip bekal makan yang tersedia di depan mejanya.

"Waaah!" serunya dengan mata berbinar.

Menunya benar benar sesuai dengan penyuka daging seperti dirinya. Ada sosis ayam, daging sapi teriyaki dan beberapa sayuran pelengkap.

Berbanding terbalik dengan apa yang dimakan Kuroh, lauk seadanya dengan pebandingan spertiga lauk sisanya nasi.

Sungguh tabah orang yang mau melakukan hal itu pada orang yang baru dikenalnya.

"Selamat makan!" seru pemuda itu girang.

Hening beberapa saat sampai akhirnya Kuroh membuka mulutnya. "Siapa namamu?"

Yang bersangkutan langsung menengadahkan kepalanya. "Shiro. Isana Yashiro." jawabnya bersemangat.

"Isana... Yashiro." gumam Kuroh. Ia mengeluarkan sapu tangan biru dari saku celananya. "Dari mana kau tau tentang Ichigen sama?" tanya Kuroh sambil mengelap mulut Shiro yang belepotan.

Pipi Shiro merona malu. Ia alihkan pandangannya tak nyaman melihat tatapan Kuroh. "Yah... dari mana, ya?" katanya mencari alasan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Tatapan mata Kuroh yang semakin tajam mengancamnya.

"Oke, oke. Aku dapat surat darinya, katanya kau akan masuk ke sini." jawab Shiro asal.

"Bagaimana bisa? Ia meninggal saat aku berumur 12 tahun." sahut Kuroh cepat.

"Mungkin... dia bisa memprediksi masa depan?"

Kuroh tampak berpikir. Tak disangka sangka ia percaya begitu saja.

"SHIRONYA~"

Terdengar suara cempreng mendekat. Pemiliknya menyambar Shiro dari belakang.

"Halo, Shiro." sapa perempuan di belakang orang yang menyambar Shiro tadi. Rambutnya coklat pendek sedangkan yang menyambar Shiro rambutnya panjang bewarna putih agak pink.

"Ah, Neko, Kukuri, perkenalkan ini teman baruku, Yatogami Kuroh. Kuroh, ini Neko dan yang ini Kukuri."

"Yukizome Kukuri, salam kenal." yang berambut coklat alias Kukuri menyapa sambil melambaikan tangannya.

Sementara Neko melempar tatapan tidak senang.

Kuroh sendiri membelalakkan matanya tak percaya.

"Teman?" gumamnya. "Katamu aku ini temanmu?" sekali lagi Kuroh meyakinkan.

"Tentu saja, kenapa tidak?" seru Shiro cerah. "Kita teman." katanya mengulurkan tangan.

Kuroh menatap tangan Shiro yang diterpa sinar matahari, setia menunggu untuk dibalas. Perlahan tapi pasti, Kuroh mengangkat tangannya. Ketika hendak menyambut tangan Shiro...

PLAK!

.

.

.

Hening...

.

.

.

"SHIRONYA NEKO ADALAH TEMAN SATU SATUNYA NEKO." teriak Neko penuh amarah.

.

.

.

Hening lagi...

.

.

.

Setelah semua pasang mata menusuk Kuroh, mulut mereka mulai beraksi. Bisik disana sini membuat Kuroh semakin frustasi. Kukuri shock hingga tak bisa berucap apapun.

"Neko, tidak boleh begitu!" marah Shiro berkacak pinggang.

"Habisnya..."

"Gak ada habisnya. Minta maaf."

Neko ogah ogahan minta maaf. "Maaf."

"Ah, gak apa apa." jawab Kuroh.

.

.

.

Ting tong teng teng...

"Untuk murid baru, silahkan ke ruang administrasi untuk menyelesaikan hal tentang pendaftaran.

"Diulang sekali lagi. Untuk murid baru, silahkan ke ruang administrasi untuk menyelesaikan hal tentang pendaftaran. Terima kasih."

Teng ting tong teng...

.

.

.

"Ah, permisi." saat Kuroh akan melewati Neko, kaki Neko telah siap untuk menjegal Kuroh. Ia masih belum terima tentang kejadian barusan, yang membuatnya dimarahi Shiro.

Kuroh yang menyadarinya melangkahi kaki Neko.

Belum habis akal, ia menggeser kakinya untuk menyapu kaki Kuroh dari belakang. Terima kasih untuk refleks Kuroh yang bagus, dengan sigap ia salto ke depan.

"NYAA!" marah Neko menyambar Kuroh. Sekali lagi, refleks Kuroh menyelamatkannya. Ia memutar badannya dengan dibantu dorongan tangannya di punggung Neko, mengakibatkan Neko berhasil meratakan wajahnya dengan lantai.

"Maaf karena telah melukai 'satu satunya temannya Shiro'" gumam Kuroh datar mengangkat telapak tangan kanannya.

Kuroh langsung keluar kelas diiringi tatapan orang orang.

"Ah, dia marah." gumam Shiro garing.

.

.

.

Kuroh berjalan melewati beberapa koridor hingga melihat papan pintu "Administrasi".

"Permisi..." gumamnya seraya masuk ke dalam.

Ia menyelesaikan segala urusannya dan menerima dua buah e-pen. Ia diminta kembali lagi ke ruang administrasi saat pulang untuk mengambil kunci kamarnya. Satu orang satu kamar.

Tepat ketika Kuroh menutup pintu ruang administrasi, bel masuk berbunyi. Ia mengikuti kelas seperti murid lainnya.

Ketika bel pulang berbunyi, ia masih ada urusan di ruang administrasi. Ia kembali ke sana setelah pamit dengan Shiro.

Setelah dapat apa yang diminta, ia berjalan seorang diri menuju gedung asrama laki laki.

"Ruang 104?" tanya Kuroh pada guru penjaga asrama.

"Ah, maaf. Baru saja kami mendapat info, pemilik kamar itu sedang dalam perjalanan pulang." jawab sang guru.

"Eh? Kenapa masih menerima murid kalau tak ada kamar tersisa?" heran Kuroh.

"Sebenarnya penghuni kamar 104 telah pergi tanpa kontak selama dua bulan. Kami sudah menyerah dan memberi kesempatan pada murid lain. Baru tadi kami mendapat info dia sedang perjalanan menuju kemari." kata guru menjelaskan.

"Terus, aku gimana?" melas Kuroh.

"Sementara sekamar sama teman lain." katanya sambil mengecek data kamar siswa di komputer.

Kuroh teringat pemuda berambut silver.

"Ah! Isana Yashiro. Bisa aku sekamar dengannya?" tanya Kuroh.

"Tergantung ia mau atau tidak." katanya sambil memencet huruf "Isa" dan melihat kolom dengan awalan "Isana Yashiro". "133. Mari kuantar." katanya.

Mereka berjalan dengan Kuroh agak ke belakang, membiarkan sang guru menjadi pemandu perjalanan. Deret kamar bernomor memenuhi tiap dinding.

Sang guru berhenti di depan kamar 133 dan mengetuknya pelan.

"Ya?" jawab sang pemilik sambil membuka pintu sedikit.

"Karena kesalahan teknis, maukah kau sekamar dengannya?" tunjuk guru ke Kuroh yang berada di belakangnya.

Kuroh menatap Shiro penuh harap karena ia satu satunya siswa yang ia kenal.

Shiro tersenyum nakal dengan mata yang berbinar dan dengan watadosnya menjawab...

.

.

.

"Tidak."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Awal dari uplod marathon. Enjoy 2 chap berikutnya. See ya in next chapter.

My first fic in K fandom. Please review it. Ribiu wo choudai...