Seconds
===OO===
Seconds project
Story © Giselle Gionne
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Fic berjudul sama yang diadaptasi dari FMA Archive dengan perubahan untuk menyesuaikan fandom.
Genre: Angst / Hurt/Comfort
Rate: T
===OO===
Setiap detik. Detik berarapun. Pasti akan selalu terbayang dirimu.
Dirimu?
Sakura terbangun dari tidurnya. Detik berikutnya ia segera menuju kamar mandi. Dengan gesit dibasuh tubuhnya dan menyiapkan sarapan pagi.
Detik selanjutnya, dirinya telah siap menuju lembaga tempat ia bekerja. Ketika kaki mulai melangkah, jantung berdegup semakin keras. Ia akan segera bertemu dengan lelaki yang dikaguminya.
Orang yang setiap detik menyusun intensitas perasaan di pikirannya.
Ketika membuka pintu, keadaan kantor begitu lengang. Khususnya, tanpa kehadiran yang terkasih. Sakura terduduk di tempatnya, mulai menulis dan sesekali melirik jam.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik lewat. Tidak tampak juga lelaki yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya. Tak mungkin ia terlambat. Sudah pasti sang pria adalah lelaki yang handal mengatur waktu.
Lantas, mengapa?
Lagi. Detik yang terbuang. Benar, bukan?
Hatinya gelisah. Pria itu tidak kunjung datang.
Satu, dua, tiga, empat detik. Kemana dirinya?
Jam terus mendelik, detik terus bergulir. Waktunya pulang. Lelaki itu tidak datang juga.
Sekali lagi, sungguh sia-sia.
Sakura menjejakkan kakinya di setapak bebatuan menuju pintu rumahnya, berniat untuk mengakhiri hari dengan beristirahat.
Lalu?
Imajinasinya kembali berputar, meninggalkan secercah imitasi wajah putih dari pria yang ia kagumi dalam diam.
Sungguh, terbuang sia-sia detik demi detik.
Hingga akhirnya, sepucuk surat singgah di dalam kota suratnya, meninggalkan sebersit tanda tanya di pelupuk sayu milik Sakura.
Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga.
Detik jam menjadi pengiring air matanya. Seratus ribu, ah tidak, tiga ratus ribu detik telah terbuang? Entahlah. Gadis bermahkota merah muda ini tidak yakin. Yang pasti, ia merasa menyesal telah menghabiskan detik-detik kehidupannya dengan tenggelam dalam kemunafikan cinta. Ingin rasanya ia mengulang waktu kehidupannya, menggunakan setiap detik kehidupannya dengan sebaik mungkin, agar hal semacam ini tidak terulang lagi. Penyesalan yang amat sangat semakin tumbuh di dalam hatinya. Dada sudah sesak, mata sudah panas, namun apa daya ia harus berbahagia.
"Selamat menempuh hidup baru, Sasuke!" ujar wanita itu lirih, dan segera pergi ke toilet, menghapus air matanya dan kembali mengenyam pekerjaannya walau dengan hati yang perih.
Sepuluh detik.
"Kemari, Sasuke. Aku hendak merapikan dasimu."
"Terimakasih, Sakura," senyum lelaki itu, sedikit dingin, dan berdiri bersisian di sisi Sakura dengan penuh kebahagiaan menyebut sumpah janji setia bersama seorang wanita bersurai kemerahan dan…
Sakura telah pergi dari tempatnya.
Detik jam terus bergulir. Ingin rasanya waktu diulang kembali. Menangis, menerima fakta.
Fakta kalau itu hanyalah mimpi Sakura semata.
