Tok. Tok. Tok.
Author : Assalamu'alaikum! (masuk ke ruang tamu)
Pembaca : Wa'alaikumsalam! Siapa, ya?
Author : Saya Author. Saya kembali lagi, loh.
Pembaca : Oh.. Author, toh? (bangun dari kursi) DUAAAGH! *nendang Author*
Author : SYUUUUUUNG.. BLAAARR! DUUAAAR! *mental, mendarat di pangkalan militer Amerika*
Pembukaan yang gak penting. Gak usah di baca, yee. Heeei!~ Saya kembali lagi! Kembali lagi!~ Kembali lagi!~ Kembali lag.. BUUM! *diinjek Godzilla* Di 'Naik Bajaj' Diesty Sutcliff nanya karakter-karakter Kuroshitsuji pake baju apaan pas narik bajaj. Di imajinasi saya mah mereka pake baju pelayan kayak biasanya. Tapi kalo emang gitu, kok si AM gak heran ya? Mestinya kan dia mikir 'Eeett dah nih tukang bajaj elit amat pake jas segala?' Jadi enaknya gimana doong? Pake baju apaan doong? Terserah aja deh. Imajinasi pembaca kaya gimana, ya turutin aja. Okeh? Ryuu Arasa juga nanyain kenapa Ciel gak jadi tukang bajaj. Saya udah minta tolong dia, tapi pas lagi tes drive, Ciel-nya malah kecebur got tuh. Lagian dia gak punya SIM. Nanti kalo ditilang gimana? Jadi gak jadi.
Err.. saya abis UTS loh. Rasanya mau nangis pas ngerjain PKN. Zuzah banged, men! *curcol klik : ON* Tapi berkat PKN juga sih, saya jadi punya banyaaaaak ide baru buat fanfic. Salah satunya ini. Enjooy~
Disclamier : Kuroshitsuji punya saya...BOHOOONG! iya iya Kuroshitsuji punya Frau Yana Toboso.
Warning : Latar waktu yang err.. ancur? Ciel yang OOC, Author yang OON, delelel.
Selamatkan Indonesia!
Pagi yang cerah. Cerah sekali. Sekali cerah. Dua kali cerah. Tiga kali cerah. Pokoknya cerah *digampar pembaca* Ciel lagi nyantap morning breakfast top markotopnya : Zhemo'er Jen~Quol (semur jengkol), Phe T'e Reb-bous (pete rebus), Oureque Themphe (orek tempe), dan gak ketinggalan, secangkir Est Te Maniezt (es teh manis). "Sebastian emang top, dah! Tau aja makanan kesukaan gw!"Begitu pikir Ciel sambil makan dengan lahap a la table manner warung tegal.
Ciel nyuap Semur Jengkol-nya, "WOW! Fantastis!"
Nyomot Pete Rebus-nya, "UUUMM! Bombastis!"
Ngunyah orek tempe-nya, "ZOOO.. Delicious!"
Neguk es the manis-nya, "AAAHH! Mantab, Gan!"
Begitu terus kurang lebih reaksi Ciel pas nyicipin makanan buatan Butler multifungsi-nya, siapa lagi kalo bukan Sebastian?
"Anjriit.. seumur-umur baru kali ini gw makan makanan nikmat bin lezat kaya gini. Si Sebastian nemu resep darimana, sih? Enak buangets! Cintaaaaa deh!"
Sementara Ciel masih terpesona sama menu sarapan pagi yang katanya 'fantastis' itu, Sebastian lagi jalan di lorong sambil dorong-dorong gerobak eh bukan maksud saya, kereta makan. Ada cake-cake sama seperangkat tea set lengkap di sana. Dengan motif yang elegan : Loreng-loreng macan a la trio macan (yaiyalah masa trio kwek-kwek?).
BAG! BUG! DUAK! Sebastian ngetok pintu. (ganti mode, bro. bosen ah masa suara ngetok pintu toktok melulu?)
"Tuan muda..," Sebastian ngebuka pintu.
"Saya bawakan dessert-nya.." DREGREDEGREDEGDREG (ini bunyi kereta makan yang di dorong Sebastian. Bukan bunyi bajaj, yee)
"Ya. Taruh saja di situ," kata Ciel sok jaim. Padahal 0,000001 detik sebelom Sebastian buka pintu, dia masih 'menggila' sama sarapannya.
"Bagaimana menu sarapan buatan saya hari ini? Apakah cocok dengan lidah anda?" Sebastian nuangin teh buat Ciel.
"Yah, lumayan. Tidak terlalu buruk." Masih sok jaim. 'Tidak terlalu buruk', lo bilang? Yang tadi histeris sendiri siapa?
"Syukurlah kalau begitu. Sebenarnya akhir-akhir ini saya sedang mempelajari resep-resep makanan dari wilayah Timur. Dan katanya, menu sarapan yang saya sajikan itu baik untuk kesehatan." Sebastian ngasih teh yang baru dia tuangin itu ke Ciel.
"Ooh.." Ciel minum teh. Masih jaim-lah pokoknya.
"Oh iya, tadi ada sepucuk surat yang datang.." Sebastian ngerogoh-rogoh kantong bajunya. "Silakan."
Ciel ngambil surat yang di kasih Sebastian. Amplop yang udah gak asing. Segel surat yang juga udah gak asing. Pasti deh.. tagihan listrik dari PLN! *mata Author dicolok garpu*
"Surat dari Ratu," kata Ciel sambil ngebuka kertas di dalem amplop yang dilipet seratus itu.
Halo, Ciel-ku yang manis. Apa kabar?
Akhir-akhir ini udara mulai panas, ya. Setiap malam aku harus memasang kipas angin agar bisa tidur. Nyamuk juga sudah mulai banyak. Makanya, aku beli satu pak Au*an anti nyamuk di warung rokok.Kau mau satu?
Sebenarnya, aku punya seorang teman lama dari negeri nan jauh di Timur sana. Namanya SBY. Singkatan dari Si Bapak Yankee. Dia adalah seorang presiden dari sebuah negeri subur nan makmur bernama Indonesia. Katanya, Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang sangat indah. Lautnya luas, dengan sumber daya yang melimpah ruah. Tanahnya subur, hampir semua jenis tumbuhan dapat tumbuh di sana. Penduduknya juga ramah-ramah. Semua warga negara Indonesia adalah manusia berbudi pekerti baik yang memiliki tingkat tata krama yang tinggi.
Tapi ada masalah, Ciel. Akhir-akhir ini Indonesia mulai dilanda bencana. Pencurian, pembunuhan, penculikan, dan korupsi terjadi dimana-mana. Kedamaian Indonesia terancam. Kupikir, karena aku juga senang liburan ke Indonesia (aku sering pergi ke Bojong Kenyot, kau tahu?), aku tidak bisa membiarkan teman lamaku dan negeri yang dipimpinnya itu mengalami kesulitan lebih dalam lagi. Kau mau membantuku, Ciel?
Kusertakan tiket pesawat Perkutut Indonesia kelas ekonomi untukmu pergi ke sana dengan Butler-mu. Kau juga boleh mengajak para pelayanmu yang unik-unik itu (terutama Tanaka). Jangan anggap aku pelit karena memberi tiket kelas ekonomi, Ciel. Itu kulakukan agar kau bisa memahami bagaimana rasanya menjadi rakyat biasa. Agar ketika sampai di Indonesia nanti, kau tidak kaget.
Selamatkan Indonesia ya, Ciel.
Salam manis,
Victoria
"..Indonesia itu di mana, Sebastian?" tanya Ciel agak dropsweat abis baca surat dari Ratu.
"Anda tidak memahami pelajaran Geografi yang sudah saya ajarkan? Indonesia terletak di sebelah timur Inggris. Berbatasan dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik," jawab Sebastian ngeremehin.
"Ck.. jauh. Malas, ah."
Sebastian ngelirik Ciel.
"..inginnya sih bilang begitu. Tapi apa boleh buat. Ini tugas dari Ratu," Ciel sadar diliatin Sebastian. Dia gak jadi males.
"Sekedar info saja, Tuan Muda. Menu sarapan yang saya buat hari ini berasal dari Indonesia. Tidakkah ini cukup menarik?"
Ciel kesentak. "Heh? Dari Indonesia? Berarti gw bisa makan makanan kaya gitu tiap hari, dong?"
"Sebastian.." Ciel bangun dari kursinya.
"Ya?"
"Ayo kita ke Indonesia!"
Haaahh.. gimana? Menarik gak kalo seandainya Ciel pergi ke Indonesia dan berdua sama Sebastian, nyelesain kasus-kasus kriminal di Indonesia yang err.. semerawut? Ada sumbangan ide kasus apa yang baiknya ditanganin Ciel dkk duluan? Ada caci makian? Ada kritik saran? Ayo ayo tumpahin semuanya di review. Okeh? Makasih udah baca ya!
