Afraid

By:Hikary_cresenti

Bleach © Tite Kubo

Rated T

Mistypo(s)

Chapter I: Say it with Phone

Hidupku seperti seekor kura-kura yang selalu bersembunyi di balik tempurung. Terlalu takut pada dunia luar. Terlalu takut pada kenyataan. Takut pada penolakan yang akan ku terima seandainya aku mengungkapkan hal ini. Aku memang seorang yang pengecut. Bahkan aku tak mampu untuk bertemu langsung dengan gadis yang ku taksir selama ini. Meski sering berpapasan, sedikitpun tak ada inisiatifku untuk menyapanya, hanya sekedar mengatakan "Hai", "Selamat pagi," , "Apa kabar?" dan sebagainya. Layaknya seekor kucing kampung yang terdampar di pulau yang dihuni oleh kucing Persia yang cantik dan anggun. Dan inilah yang saat ini sedang ku alami. Namaku Ichigo, Kurosaki Ichigo, aku hanyalah murid biasa yang tak lebih dan tak kurang dengan tampang pas-pasan dan jauh dari kata-kata tampan, rupawan apalagi ganteng. Dan saat ini aku jatuh cinta pada seorang gadis bertubuh mungil, dengan rambut bob pendek, dan mata beriris violet yang kecantikannya melebihi Putri salju, Cinderella bahkan Aurora(Putri tidur) itu adalah Kuchiki Rukia. Mungkin jika dibandingkan, aku dan dia seperti seekor kodok yang ingin menjadi kerbau, karena menyukai gadis yang kecantikannya seperti malaikat itu.

"Ichigo… " panggil seorang pria dengan rambut berwarna merah nanas yang telah berada di sampingku.

"Eh, apa Renji?" tanyaku masih asik memperhatikan sosok seorang gadis dari kejauhan. Seorang gadis bertubuh mungil dan mata beriris violet dan mempunyai kulit berwarna putih seperti Putri salju, atau dia memang reinkarnasinya, Kuchiki Rukia.

"Bagaimana?" tanya pria itu, Abarai Renji.

"Hah… " aku hanya menghela nafas pelan seraya menggelengkan kepala.

"Bagaimana kalau kau coba telepon?" tawar seorang pria dengan rambut jabrik hitam dan mata beriris aqua green, yang kemungkinan memang kembaranku yang terpisah atau tertinggal, Shiba Kaien.

"T-telepon?" tanyaku gugup.

"Yep, itupun kalau kau berani. Bagaimana?" tawar Kaien dengan senyum begonia yang khas itu.

"Baiklah, akan ku coba. " jawabku singkat.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Renji pada Kaien yang hanya dibalas dengan wajah acuh dari sang pemuda berambut hitam itu. Dan aku sudah bisa menebak, pasti dia juga masih belum mengungkapkan hal itu pada gadis yang disukainya, dan begitu juga dengan Renji.

Mungkin hal ini yang mengikat kami bertiga sebagai sahabat. Kami sama-sama takut untuk mengungkapkan perasaan pada seseorang yang kami sukai. Meski tampang kami sebenarnya lumayan, dibanding Kenpachi Zaraki yang merupakan guru olahraga yang benar-benar seperti preman nyasar. Dan kadang cinta kami ini bertepuk sebelah tangan, karena kami tidak tau bagaimana persaaan mereka pada kami.

Kadang kalau diingat-ingat cinta dan hidup ini benar-benar lucu, bayangkan, saat seseorang yang kau suka berlalu di hadapanmu, kau hanya bisa membatu layaknya sebuah patung tanpa bisa mengatakan apapun. Dan hal ini benar-benar sangatlah ironis. Meskipun kau tau, berbagai hal tentang orang yang kau taksir.

Seperti aku, aku tau Rukia suka pada kelinci, dan selalu menggambar kelinci meski kadang wujudnya tak karuan dan terkesan abstract. Lalu dia mempunyai seorang kakak yang menjadi guru matematika di sekolahku dan terkenal tegas.

Renji juga begitu, dia tau kalau Tatsuki jago karate. Dan gadis tomboy itu selalu bercita-cita menjadi pemain karate wanita terhebat se-Jepang. Dan ia juga tau, kalau gadis itu dekat dengan seorang gadis berambut jingga bernama Orihime yang manja dan kekanakan berlebihan. Gadis itu juga tak segan-segan untuk membela temannya dan membantunya.

Begitu juga dengan Kaien, Kaien tau kalau Miyako itu seorang gadis yang dewasa dan lemah lembut. Seorang gadis yang merupakan ketua dari ekstrakulikuler PMR, dan merupakan seorang gadis yang anggun dan cepat tanggap. Seorang gadis yang rajin dan pintar.

Meskipun tau banyak, namun kami tidak punya nyali untuk berhadapan langsung. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah mengamati dari kejauhan. Terkadang, kami serasa menjadi seorang stalker amatiran yang disuruh menguntit seorang artis terkenal.

Dan malam ini kami sepakat untuk berkumpul di rumahku dan menelepon gadis yang kami sukai. Dan kami juga sepakat untuk mengungkapkan perasaan kami melalui telepon.

Renji yang mulai pertama, ia menelepon Tatsuki dan nomornya di dapat dari teman sekelas Tatsuki. Setelah menekan nomor tersebut, ia pun menunggu telepon diangkat oleh Tatsuki.

"Halo… " ujar Tatsuki yang berada di telepon tersebut

Renji hanya diam membisu. Tak mampu mengatakan apapun dan memilih untuk mengheningkan cipta.

"Halo... "

Renji langsung menutup telepon tersebut.

"Kok ditutup?" tanyaku.

"Aku tidak tau harus bilang apa. " ujar Renji seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dan juga rasanya dekat… " sambungnya yang kembali membuat Aku dan Kaien hanya bisa sweatdrop.

"Dasar payah," ujar Kaien lalu meraih gagang telepon dan segera menelepon nomor Miyako. Dengan gaya sok tenang dia menunggu telepon, meski bisa ku tebak saat ini jantungnya hampir copot atau mungkin sudah lepas dari tempatnya.

"Halo… "

"u-um… H-halo… "

"Halo, ini siapa ya?" tanya Miyako dari telepon.

"I-ini... K-Ka-Kaien… "ujar Kaien terbata-bata(?)

"Kaien? Yang mana ya?" tanya Miyako.

Saat itu Renji hanya cekikan menahan tawa atas jawaban tidak elit tersebut.

"Um.. ini Kaien dari kelas 8A," jawabnya berusaha tenang.

"Oh, Kaien yang banci?"

Kaien langsung kaget dan shock. Lalu ia segera menutup telepon di iringi tawa dari Renji.

"Masa gue dibilang banci? Yang banci itu Yumichika oi! "protes Kaien yang ingin terjun dari kamarku yang berada di lantai 2 namun berhasil kucegah karena aku tidak mau menjadi saksi ataupun tersangka atas matinya sahabat begoku yang satu ini. Bayangkan, Kurosaki klinik menjadi tempat bunuh diri oleh seorang pria, yang menurut kesaksian teman-temannya putus cinta dan dibilang banci. Nggak elit banget!

"Ya udah, giliranmu Chi… " ujar Renji.

Aku segera meraih gagang telepon dan memencet nomor telepon Rukia. Dengan gugup dan was-was aku menunggu Rukia mengangkat telepon tersebut.

"Halo,"

"H-Halo Rukia… i-ini.. "

"Oh, ibu teman kerjanya nii-sama ya? Sebentar," ujar Rukia di seberang sana. Dan bisa ku dengar Rukia memanggil kakaknya. Dan aku segera memutuskan telepon tersebut dan kembali pundung dengan ketiga sahabatku.

"Nasib kita apes banget men… " ujar Renji.

"Kau benar… " ujar Kaien.

"Nasib ini kejam ya?" gumamku.

Kini kami hanya bisa berbaring menatap langit yang takkan mendengar keluh kesah kami, sebagai pria yang terkenal dengan tidak popular.

TBC

Minna! O genki desuka?

Lama tidak kembali lagi ke situs ini.

Kali ini saya membuat fanfic singkat multichap tentang

para tokoh-tokoh di atas.

Kegajean, dan typo mohon dimaklumi dari author gaje ini.

So Mind To RnR?