Hai…hai…hai…
Saya datang...*pose Miss Universe*dilempar aqua gelasan*
Udah baca Fict baru saya FOREVER? Kalau belum, baca deh! Kalau gak mau baca, ehem-ehem…..*pasang wajah horror* ya gak apa-apa deng :P *GUBRAK*
Oke lupakan sambutan Gaje bin Abal diatas. Now, enjoy this PARTY…..
.
Disclaimer:
NARUTO by Masashi Kishimoto
Fiction Rated: M
With Character:
Sasuke U. & Naruto U.
(NaruSasu)
Pairing(s):
NaruSasu, xxxSasu, OroSasu, NejiGaa, SuiSai
Genre: Hurt&Comfort/Mystery
Warning:
AU, SLASH, Yaoi, Rape, Lemon, NC-21, Little Violence, No Flame!
DON'T LIKE DON'T READ!
.
PARTY
a Naruto FanFiction by Sasukiss
Chapter 1: The Day
.
.
.
.
"Sasuke tunggu aku!"
Pemuda blonde berlari mengejar pemuda raven yang terus berjalan. Tangan cokelatnya akhirnya berhasil menghentikan pemuda super dingin di depannya itu.
Kekesalan jelas terpancar dari Si raven. Mata onyxnya mendelik tidak suka menatap seraut wajah yang sejak beberapa bulan lalu menghuni mimpi-mimpi gadis seantero sekolah.
"Apa maumu Dobe?" sinisnya, jengah memandang cengiran mirip rubah sangat dekat di depan matanya.
"Namaku Naruto, Sasuke!" tandas si Blonde sedikit mendengus.
Sasuke mengangkat sudut bibir, "Jadi kau mengejarku untuk berkenalan? Aku masih ingat perkenalanmu yang menghebohkan dulu. Tapi bagiku, baik dulu maupun sekarang kau tetaplah 'Dobe'!"
Si 'Dobe' yang sebenarnya bernama Naruto itu menyengir. Mengingat sedikit kenangan saat pertama kali datang di Konoha High School sebagai murid baru enam bulan lalu. Kedatangannya benar-benar menghebohkan. Mengalihkan perhatian siswa KHS baik para gadis maupun laki-laki. Yeah, apalagi kalau bukan karena penampilannya yang keren, dari sudut pandang para gadis dan tunggangannya yang tak kalah keren, dari sudut pandang para lelaki. Jadilah Namikaze Naruto, makhluk super duper keren dari sudut pandang manapun dan membuat siapapun melongo memandangnya.
"Baiklah, terserah kau saja Teme, mau memanggilku apa!" Naruto akhirnya mengalah. Ia tahu beradu argument dengan si Teme Sasuke hanya akan membuatnya benar-benar menjadi 'Dobe'. Lagipula bukan itu tujuannya mengejar pemuda yang diincarnya sejak pelajaran tadi sehingga menghasilkan tiga benjolan di kepalanya hasil karya Asuma sensei. "Aku mau mengajakmu ke Pajamas Party yang diadakan Kiba nanti malam. Kau mau kan?"
Party?
Mendengar kata itu mendadak darah Sasuke naik ke ubun-ubun. Mata onyxnya berkilat menatap wajah penuh harap didepannya. "Aku tidak akan pergi ke pesta itu!" lantangnya menghempaskan tangan Naruto. Ia segera berlalu meninggalkan Naruto yang terperangah.
"Tentu saja dia tidak akan pergi ke Pajamas Party itu!" sahut sebuah suara menghentikan langkah Sasuke. Ia tak perlu memutar badan untuk mengenali pemilik suara lembut namun bernada sinis itu.
"Dia kan sudah punya jadwal Private Party bersama tante tante girang!" celetuk suara lain di ikuti gelak tawa. Sasuke menghela nafas lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Kalau tidak pasti One Night bersama om om…."
"ia pasti sedang mempersiapkan tenaganya untuk long time service…."
"Apa kau ingin menyewanya juga Naruto? Kusarankan jangan buang-buang uangmu untuk tidur dengannya! bisa kena AIDS kau nanti…."
Bla…bla…bla…
Sayup-sayup suara itu terus mengiringi Sasuke meninggalkan halaman KHS. Tak dihiraukan teriakan lantang yang memanggil namanya berkali-kali. Ia segera masuk mobil mewah untuk menghindari derap langkah yang mengejarnya.
.
.
"Seharusnya kalian tidak mengatakan itu!" Naruto berujar emosi, sambil menarik Ninja Hijau 250nya. Sedikit kesulitan karena terhimpit Ninja lain. Keempat pemuda di sampingnya bukannya mengurus tunggangannya itu malah berdiri mematung.
"Kenapa? Itu kan kenyataannya?" pemuda berambut hitam pendek menyeletuk.
"Sai benar, siapapun tahu dia itu pelacur kelas kakap!" si perak menimpali.
"Naruto, apa telingamu sedang mengalami gangguan untuk mencerna gossip yang beredar selama ini?" tambah Si rambut merah bermata emerald.
"Kurasa Naruto tidak tuli, tapi buta! Dibutakan oleh cinta!" pemuda berambut cokelat panjang menandas dan langsung membuat yang lainnya terperangah.
"Maksudmu Naruto jatuh cinta pada Sasuke?" seru mereka hampir bersamaan.
"Heh Neji, yang benar saja masak Naruto jatuh cinta pada cowok 'bispak' itu?" ulang pemuda bernama Sai. Yang ditanya hanya mengangkat sudut bibir, membalas tatapan tajam Naruto.
"Cih, memalukan Mars saja!" si perak mendecak. Iris violetnya ikut menatap tajam Naruto. Sejurus kemudian kedua pasang mata lain melakukan hal sama.
Naruto menghela nafas, menatap satu persatu, keempat pemuda yang sejak pertama kedatangannya telah mencantumkan namanya sebagai anggota Mars, sebuah gank berisi cowok cowok tersohor di sekolah.
"Aku memang menyukai Sasuke! Dan Aku tidak peduli siapa dia. Kalaupun ia memang terjerumus dalam kegelapan. Aku yang akan menyelamatkannya. Aku akan membawanya kembali padaku. Itu janjiku seumur Hidup!"
"Naruto kau—" si rambut merah menukas tapi segera diinterupsi Naruto.
"Kau yang paling mengerti aku Gaara. Aku harap kau bisa mengerti perasaanku ini!" tegas Naruto berhasil mengeluarkan Ninjanya. "Dan kalian juga! Jangan pernah menghalangiku, karena AKU TIDAK AKAN MENARIK KATA-KATAKU!" bersamaan dengan itu Naruto melesak, meninggalkan keempat pemuda yang hanya bisa menganga menatap kepergiannya.
"Ini tidak boleh terjadi!" Gaara menggumam.
"Tentu saja Gaara-koi, kita tidak akan membiarkan Sasuke menjerumuskan sepupumu!" celetuk Neji sambil merangkul Gaara.
"Jadi kita harus memisahkan Naruto dan Sasuke?" Sai menambahkan.
"Tentu saja," sahut pemuda berambut perak bernama Suigetsu.
"UNTUK MENYELAMATKAN NARUTO DAN MARS!"
Keempat pemuda tersohor di sekolah itu menyeringai, menatap siluet berjemper orange yang menghilang bersama kepulan asap Ninjanya
.
.
.
.
Lelaki itu terpejam. Menyembunyikan mata kuning keemasan dengan garis vertikal ditengah. Bintang-bintang menari dalam dunianya yang memutih. Hanya sebentar saja, karena getaran di saku celana mengacaukan semuanya.
"Sasuke…" suara lelaki itu mendesis. Membangunkan pemuda yang bersandar di bahunya. Ia tersenyum, menatap lekat sepasang onyx si pemuda, "keluarkan dirimu…" katanya mengelus punggung pemuda diatas pangkuannya itu. Ia melenguh kecil saat pemuda tanpa sehelai pakaian itu beranjak, melepaskan persatuan tubuh antara keduanya.
Lelaki berambut hitam panjang itu merapikan tuxedo hitamnya sambil meraih ponsel canggih di saku celana.
"Halo Orocimaru-sama…." Suara di seberang terdengar terburu-buru.
"Ya, ada apa Kabuto?" jawab lelaki itu
"Rapat dengan dewan direksi ditunda setengah jam lagi, jadi an—"
"Terima kasih Kabuto…" lelaki itu menutup ponselnya sambil bernafas lega. Ia menyeringai, melirik pemuda yang tergolek lemah di samping. Persis seperti ular mengincar anak ayam. "Sasuke..." desisnya lagi-lagi membangunkan pemuda yang tak lain adalah Sasuke. "ternyata aku masih punya 30 menit untuk menyiapkan Rapat. Kurasa kau bisa membantuku membersihkan 'itu'!" ia mengerlingkan mata pada sesuatu yang berdiri menegang dipertengahan pinggang.
Sasuke menghela nafas, ia kemudian merendahkan badan untuk meraih kesejatian lelaki bernama Orocimaru itu. Di jilatnya cairan putih kental yang berceceran di kepala kesejatian itu.
"Aghhh...Sashh…uke…" Orocimaru memejamkan mata, merasa keenakan 'miliknya' dimanja Sasuke.
"Hmphh…" Sasuke menjilati batang kemaluan itu. "Masukan Baby….!" perintah Orocimaru mendesah. Sasuke segera melahap benda keras berwarna merah kecokelatan itu kedalam mulutnya. Memaju mundurkan kepala untuk memperdalam kuluman.
Orocimaru berkedap-kedip keenakan. Tangannya mengelus punggung Sasuke, turun kebawah meremas-remas pantat pemuda berkulit putih itu. Di selipkan jari tengahnya di belahan pantat itu, mencari lubang yang sudah 'dimasukinya' berkali-kali. Sasuke berjengit, merasakan lubangnya terkoyak tiga jari kurus dan berkuku tajam milik Orocimaru. Tanpa sengaja ia menggigit kejantanan pemilik Pabrik Formalin terbesar di Konoha itu.
"Jangan gigit baby…." erang Orocimaru mengeluh. Sasuke mengangguk sebagai permintaan maaf. Ia kembali melanjutkan 'pekerjaannya' yang terhenti sejenak. Sedikit kurang nyaman karena ulah tangan nakal Orocimaru.
Derit ponsel kembali bergetar. Orocimaru mendengus, meraih benda yang menggangu kesenangannya itu dengan tangan sebelah. "Ada apa lagi Kabuto?" katanya setengah mendesah.
"A-ano Orocimaru sama apa perlu saya kerumah anda untuk membantu menyiapkan data sa—"
"Rapat Pemegang Saham kan masih dua bulan lagi."
"Karena itulah Rapat kali ini ditunda. Seluruh dewan direksi memajukan—"
"Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Orocimaru terperanjat kaget, Dimatikan ponselnya setelah puas mengomeli asistennya. "Baby lakukan cepat…" Ia menyusupkan tangannya di helaian hitam kebiruan Sasuke. Menekan kepala pemuda tampan itu untuk mempercepat kuluman. Jarinya juga semakin cepat menusuk rectum pemuda yang berusia setengah dari usianya.
"Ugh..." ronta Sasuke saat kejantanan Orocimaru menyentuh ujung tenggorokan sehingga membuatnya tersedak. Tapi Orocimaru tak peduli, ia terus menekan kepala Sasuke, jarinya berhasil menemukan titik yang dicarinya. Sasuke menggeliat liar namun ia tak punya pilihan selain menuruti Orocimaru.
Ia semakin mempercepat kuluman saat kejantanan Orocimaru semakin menegang. Orocimaru mengeluarkan jarinya. Lalu merogoh sesuatu di dalam celana yang ternyata beberapa lembar uang. Digulungnya uang itu lalu dimasukkan dalam lubang Sasuke.
"Aghhh..." Orocimaru melenguh panjang, menyemburkan hasratnya dalam mulut Sasuke. "Bersihkan Baby!" ujarnya memerintah.
Sasuke menjulurkan lidah untuk mengelap kepala kejantanan yang bergumpal cairan sperma Orocimaru. Di telannya cairan putih kental itu tanpa rasa jijik. Selesai!
Sasuke memburu nafas sambil menghempaskan tubuhnya di jok sebelah. "Honormu kutransfer ke rekeningmu. Itu untuk naik taksi. Aku ada Rapat jadi tidak bisa mengantarmu!" kata Orocimaru sambil menutup rasleting celana dan merapikan diri.
Sasuke membuka mata, melirik sesuatu yang tidak menyamankan duduknya. Ia mencabut gulungan uang dalam lubang anusnya itu. Diraihnya seragam dan tas sekolah yang berserakan. Mengenakan seadanya dan segera turun dari mobil mewah 'serba guna' itu.
"I miss you Baby…" kata Orocimaru sebelum menutup pintu mobil dan melesak meninggalkan Sasuke di pinggir jalan.
Sasuke menghela nafas. Ia berjalan tertatih-tatih akibat 'aktivitas' yang dilakukannya bersama Orocimaru di mobil. Hanya sebentar saja, karena sebuah taksi melintas dan membawanya pergi dari jalan sepi itu. Tak menyadari sepasang mata menangkap sosoknya dari kejauhan…
.
.
.
.
"Tadaima…" ucap Sasuke membuka pintu. Tak ada jawaban dari lelaki bermata sepertinya yang biasa menyambutnya dengan senyum lembut. Sasuke berjalan ke ruang tengah. Ia mengurungkan niatnya mengobati dahaga ketika melihat seseorang terjungkal kursi rpda.
"Aniiki!" seru Sasuke berlari menolong orang itu. Didudukannya lelaki berambut hitam panjang yang diikat di tengkuk itu di kursi roda.
"Aniiki, aku kan sudah bilang! Tidak usah melakukan pekerjaan ini. Biar aku yang melakukannya…" Sasuke berujar lembut, memasukan baju-baju yang berserakan ke dalam keranjang baju kotor.
"Tidak apa-apa Sasuke, hanya mencuci. Aku bisa kok," lelaki itu berusaha meraih keranjang baju tapi ia kembali terjungkal. Ia akhirnya menghela nafas, menatap sepasang onyx si adik yang mendudukan dirinya lagi di kursi roda yang jadi singgasananya sejak setengah tahun lalu.
"Maafkan aku Sasuke…"
Sasuke tersenyum lembut, menatap Sang kakak yang sangat di sayanginya. "Aku tidak akan memaafkan, kalau aniiki tidak mau istirahat!" Sang kakak akhirnya mengangguk. Sasuke tersenyum dan segera mendorong kursi roda Sang kakak untuk membawanya ke tempat peristirahatan.
.
Sasuke menghela nafas berat, memandang tumpukan baju-baju kotor yang menggunung. Ia kemudian meraih ponselnya di saku celana. Jemari lentiknya mencari beberapa nomor di buku telepon.
"Selamat siang, Faster Shop dengan Anko Mitarashi ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara lembut saat Sasuke mendial nomor yang ia temukan di buku telepon.
"Aku beli mesin cuci. Bisa diproses sekarang?" kata Sasuke to the point. Terdengar seruan kegembiraan dari seberang, "Tentu saja tuan, bisa sebutkan nama dan alamat rumah anda?"
"Uchiha Sasuke, jalan—"
"Apa? Uchiha Sasuke?" tanya suara di seberang tak percaya. Sasuke mengerutkan kening. "Maaf kami tidak menerima pesanan untuk 'Rumah Bordir'. Bisa ikut terkena kenistaan nanti!"
KLEK
Sambungan terputus. Sasuke mengepalkan tangan. Siapa yang terima, di perlakukan seperti itu. Padahal ia hanya pembeli. Dan bukankah pembeli adalah raja? Tapi kenapa pelayan itu memperlakukannya seolah-olah ia adalah pencuri yang akan mengambil barang dagangan di tokonya?
Sungguh terhina rasanya! Kembali Sasuke menghel a nafas berat. Tak ada niat menelpon Manager Toko untuk sekedar mengkomplain pelayan yang menyinggung perasaanya itu. Yeah, karena sesungguhnya pekerjaannya lebih 'hina' dari seorang pencuri dan tentu saja tidak lebih tinggi dari pelayan itu.
Sasuke lalu mendial kontak yang ia cari di ponselnya sendiri. Agak lama mendengar nada sambung di seberang.
"Tante Tsunade, aku mau beli mesin cuci. Tapi tidak ada yang mau melayaniku. Aku butuh sekarang, kau bisa membelikan untukku?"
"Kau Sasuke?"
Suara berat laki-laki diseberang membuat Sasuke menjauhkan ponsel dari telinganya, "Brondong yang menggoda isteriku itu kan? Dasar bocah! Tidak tahu malu…bla….bla…"
Sasuke segera mematikan ponselnya. Tak ingin mendengar cercaan yang sebenarnya tak sekali dua kali ia dengar. Meski demikian ia tak menyerah, dicarinya lagi kontak nomor di ponselnya. Agak lama menunggu nada sambung kereta api.
"Halo om—" belum sempat Sasuke berbicara suara di seberang sudah menginterupsi, "Baby, aku masih Rapat. Nanti saja ku telepon. I miss you…"
KLEK
Sasuke menggelengkan kepala. Kali ini Ia menyerah. Ditaruhnya ponsel mahal itu dan segera mengerjakan cuciannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia meraihnya dan tersenyum melihat nama Jiraiya berkedap-kedip di layar ponsel.
"Halo sweety…." suara laki-laki diseberang terdengar menggoda. Sasuke memutar bola mata, "Halo om…" balasnya dengan suara di buat selembut mungkin.
"Sweety kau tadi kemana pulang sekolah? I always waiting for you. I miss your body to fucking…"
Sasuke tersenyum miris mendengar ucapan seseorang yang tak lain adalah Kepala Sekolahnya. Yeah, memang tak ada lagi yang dirindukan darinya selain Your Body to fucking.
"Aku ada urusan om…"
Tawa renyah menggelegar di seberang, "Karirmu semakin menanjak saja ya! Aku harap kau tidak lupa Private Service untukku. Kau tahu kan, tidak mudah menyimpan 'Sampah dalam Rumah'?"
Sasuke menggigit bibir. Ucapan itu sungguh menyakitkan. Meski demikian tak ada air mata. Air matanya telah habis saat memohon orang-orang diatasnya agar lebih lembut memperlakukannya.
Tapi sekali lagi tak ada orang yang peduli pada 'Sampah'. Dan tak ada yang bisa dilakukan Sasuke selain pasrah. Demikian juga dengan perkataan. Ah, Sasuke sudah biasa mendengar kata-kata kasar ditujukan padanya. Lagipula, memang benar. Tak mudah menyimpan Sampah dalam Rumah. Tak mudah mempertahankan dirinya di sekolah, di antara orang-orang terhormat.
"Maaf..." Kata Sasuke menanggapi. Kembali suara tawa menggelegar, "Tidak apa-apa, besok malam isteriku keluar kota, kau tidur dirumahku ya?"
Sasuke mengangkat sudut bibir, "Baiklah. Ne, boleh aku minta sesuatu?"
Suara tawa di seberang terhenti, "Tentu saja sweety. Kau mau minta apa?"
Sasuke menyeringai. "Aku ingin mesin cuci sekarang…" katanya manja. Ia tahu, cukup dengan bersuara menggoda, bisa membangunkan 'adik kecil' Jiraiya yang hobi jingkrak-jingkrak. Kalau sudah begitu, Taj Mahal pun akan dibuatkan kalau Sasuke menginginkan.
"Tidak usah khawatir sweety, sekarang juga kuantarkan ke rumahmu!"
Sasuke tersenyum tipis. Yeah begitulah pekerjaannya, merogoh segala 'sesuatu dibalik celana orang-orang'. Sesuatu yang saling memuaskan satu sama lain.
"Kudengar, temanmu Kiba mengadakan Pesta ya? "
GLEK
Sasuke tercekat mendengar pertanyaan itu. PESTA? Darahnya selalu naik setiap kali mendengar kata itu.
"Sebaiknya kau tidak usah ikut Sweety. Ayah Kiba si Inuzuka itu genit sekali, bla….bla…" cerocos jiraiya masuk telinga kanan Sasuke keluar telinga kirinya.
"Aku tidak akan pergi ke pesta itu. Aku benci PESTA!" lantang Sasuke menandas. Dimatikannya ponselnya seketika. Dan selanjutnya ponsel itu siap di cuci.
BLAAM
Sasuke menutup pintu kamarnya keras. Di hempaskan tubuhnya di ranjang sempit, tempat tidurnya. Matanya memandang langit-langit, tangannya menggenggam gelegak emosi yang tertahan, "AKU BENCI PESTA!"
FLASHBACK ON…
"Hey kau pasti Itachi kan? Vampire prince maukah kau berdansa denganku?" tawar perempuan bertopeng kepada seseorang di samping Sasuke.
Sasuke mendengus, melirik kakaknya di balik topengnya. Saat ini ia memang sedang kesal lantaran dipaksa ikut menghadiri pesta kostum bertopeng yang diadakan Geng kakaknya, Akatsuki. Sasuke memang benci keramaian. Apalagi Sang kakak tadi dengan sengaja mendandaninya ala Drakula yang mengerikan. Sedangkan dirinya sendiri menjadi Pangeran Vampire yang tampan.
Tak perlu melepas topeng, Sasuke tahu perempuan yang menawari kakaknya berdansa itu. Yeah, siapa lagi kalau bukan Konan yang selalu mengejar-ngejar Sang kakak.
"Maaf Marry Jane, aku sedang menjaga Drakula yang mengamuk," ujar Itachi menolak tawaran perempuan yang berkostum ala Kekasih Spiderman itu. Tentu saja bibir Sasuke langsung maju beberapa senti.
"Aku mau pulang…." tukasnya, melepas gigi Drakulanya dan tak sengaja lemparannya ditangkap mulut Marry Jane.
Itachi terkikik pelan, "Tuh kan, dia kalau mengamuk mengerikan sekali," tandasnya sambil menahan tawa agar tidak mengobarkan api hitam yang sudah menyala-nyala di belakang Marry Jane alias Konan. "Eh, pangeranmu datang Marry Jane…" ujar Itachi, menunjuk Spiderman berpiercing alias Pein, Sang leader Akatsuki.
"Oh, Marry Jane, I'm coming. Let's get the dance floor, My Hunny Bunny Sweety…" kata Sang Spiderman berlutut di bawah Marry Jane.
Dalam kegemerlapan suasana pesta, dapat dibayangkan bagaimana ekspresi kejengahan Konan. Tapi tak ada pilihan selain menerima ajakan romantis plus dramatis itu. Yeah daripada digigit Drakula.
"Otouto-chan, kau mau kemana?" Itachi meraih tangan Sasuke yang beranjak pergi
"Jangan panggil aku seperti itu!"
"Baiklah Tuan Drakula…"
"Aniiki!" seru Sasuke geram. Itachi tersenyum kecil, memandang sang adik yang sungguh menggemaskan di matanya.
"Sasuke, kumohon mengertilah aku. Aku tidak tega meninggalkanmu sendiri di rumah. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan Anniversary Party Akatsuki ini. Aku menyayangimu dan aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu," kata Itachi menatap Sang adik lembut. Sejak kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Ia memang menjadi kakak sekaligus orang tua bagi Sasuke.
Sasuke mengangkat bahu, ia akhirnya menganggukkan kepala.
"Itachi…?" sapa seseorang sedikit ragu-ragu menghampiri Itachi dan Sasuke. Seperti halnya Konan, Sasuke pun dapat menebak siapa orang itu. Dilihatnya Sang kakak yang senyum-senyum tidak jelas memandang orang yang berkostum Cleopatra itu. Yeah, siapa lagi kalau bukan Deidara, lelaki berparas cantik yang di gilai Sang kakak. Dan rupanya malam ini ia cukup menikmati perannya sebagai isteri Julius Caesar. Akankah Sang Pangeran Vampire mampu merebut Cleodara dari Sang Julius CaeSasori yang belum kelihatan batang hidungnya malam ini?
"Sudah pergi sana…" Sasuke mendorong punggung Itachi.
"Tapi kau—"
"Aku tidak apa-apa!"
"Tapi kau—"
"Aku tidak akan pergi!"
Itachi tersenyum cerah. Ditepuknya punggung Sang adik lalu berbisik di telinganya, "Terima kasih tuan Drakula, semoga kau menemukan pasanganmu malam ini…" katanya terkikik namun segera terdiam oleh deathglare Sasuke.
Sasuke meninggalkan bangku bar untuk menghindari kemungkinan sakit perut saat Sang Pangeran Vampire melancarkan rayuan pada Cleopatra.
Sasuke berjalan ke beranda untuk menghindari gemuruh pesta. Ia menopangkan kedua tangannya di besi pemagar. Matanya memandang kelip-kelip lampu dibawah. Pesta itu memang berada di lantai dua markas Akatsuki tepatnya di ruang tengah.
Angin berhembus, mengibarkan jubah Drakula Sasuke. Dinginnya meresap hingga ke tulang sumsum. Sasuke menengadah, membandingkan kelip lampu di bawah dengan kelip bintang dilangit.
"Pesta ini seperti neraka bagimu?"
Sasuke tercekat, mendengar suara lelaki yang berdesis di telinga. Sepasang onyxnya memicing, menangkap kedua tangan yang mendekap perutnya. Ia memutar leher kesamping, tampak seraut wajah bertopeng begitu dekat di depan mata, "Bagaimana kalau aku membawamu ke surga?"
"Akh…." Sasuke menggernyit, baru saja ia terhempas di lantai keramik yang dingin. Jantungnya berdegup kencang, butiran bening menyembul dari pori-pori kulit.
Sasuke menyeret tubuhnya kebelakang, menghindari seseorang berjubah hitam yang merundukkan badan untuk merayapinya, "Si-siapa kau?" tanya Sasuke terbata-bata.
"Blackjack!" jawab lelaki misterius itu, "Blackjack yang memburu Drakula…" bersamaan dengan itu ia menubruk Sasuke. Menidurkan Sasuke dengan dirinya menindih diatas.
"Le-lepaskan! Apa yang kau lakukan?" ucap Sasuke panik. Ia memiringkan wajahnya kekiri dan kekanan untuk menghindar Blackjack yang memburu bibirnya. "Membawamu ke surga…"
"Tida…mmphh..." Sasuke tak bisa lagi mengelak. Blackjack menangkap bibirnya dan melumatnya dengan ganas. Kedua bagian bibir Sasuke terbelah lidah Blackjack. Lelaki misterius itu menghisap bibir bawah Sasuke sambil menggesek-gesek tubuhnya.
Sasuke berusaha meronta, namun tubuhnya bertolak belakang. Ia seakan menginginkan sentuhan ini. Perlahan sesuatu yang bergesekan di bawah sana mulai mengeras. Sasuke memejamkan mata erat, menolak memandang seseorang yang memperlakukannya rendah seperti ini.
"Enghhh..." hisapan bibir itu semakin dalam dan menuntut. Jika saja cahaya di beranda itu terang, pasti dapat terlihat bibir mungil Sasuke semakin memerah seperti buah tomat kesukaannya. Blackjack menjulurkan lidahnya, meminta Sasuke untuk membuka mulut. Sasuke tidak punya pilihan,ia membuka mulut perlahan dan langsung diterobos lidah Blackjack. Benda kenyal dan basah itu menyapu rongga mulut Sasuke.
Sasuke menangis tertahan. Sungguh terhina rasanya diperlakukan seperti ini oleh orang tak dikenal. Tapi apa daya, kekuatan lelaki diatasnya memang lebih besar. Lagipula tubuhnya seolah menikmati perlakuan tak senonoh ini.
"Ughhh…" tubuh Sasuke melemas karena kehabisan nafas. Blackjack akhirnya melepaskan kuncian mulutnya. Sasuke terengah-engah sambil memandang lemah si Blackjack yang menyeringai puas.
"Ti-tidak..." Lirih Sasuke saat Blackjack menarik jubah drakulanya. Tapi sia-sia karena Blackjack telah berhasil mengenyahkan jubah itu. Kini terpampanglah tubuh bagian atas Sasuke yang nampak putih halus diterpa cahaya Dewi malam. Blackjack memandang lapar, ia segera menarik celana Sasuke untuk melihat kejutan apa lagi yang akan dilihat.
Sasuke menggigit bibir, merasakan dirinya telah polos. Tanpa buang-buang waktu Blackjack merendahkan badan untuk menyerang Sasuke. ia menjilati bulatan merah di dada Sasuke penuh nafsu, "Emphh..." Blackjack menjulurkan lidahnya keluar masuk untuk menumbuk tonjolan kecil ditengah bulatan merah itu.
"Aghhh…" desah Sasuke menggeliat. Tanpa disadari tangannya mendorong kepala Blackjack yang tertutup jubah untuk memperdalam hisapan. Tangan sebelah Blackjack meremas-remas dua bola kembar Sasuke di bawah sana.
"Ahhh…" Sasuke semakin larut dalam permainan panas itu. Blackjack mengalihkan serangannya di nipple sebelah. Menghisap-hisapnya seperti binatang menyusu induknya. "Hmphh…"
Blackjack menghujani tubuh Sasuke dengan ciuman, jilatan, hisapan, kuluman. Meninggalkan kissmark sebanyak-banyaknya di tubuh sehalus porselen itu. Serangan Blacjack sampai di perut. Tangannya terentang, satu memilin nipple Sasuke. Dan satu lagi mengocok kesejatian pemuda itu.
"Aghhh…ahhh..." Sasuke mendesah hebat menerima sentuhan di beberapa titik sensitifnya. Permainan Blacjack benar-benar memabukkan. Menjauhkannya sejenak dari rasionalitas.
Blackjack menyeringai puas, "Sebentar lagi kita akan terbang ke surga…" Diciumnya kepala kesejatian yang ia pegang. Tanpa ragu-ragu ia kemudian melahap kebanggaan Sasuke itu. Tubuh Sasuke menggelinjang, merasa keenakan 'miliknya' tersembunyi di dalam 'lorong' Blackjack yang lembab dan hangat.
Desahan-desahan lembut mengalir dari bibir Sasuke yang meneteskan saliva. Dinginnya malam maupun lantai keramik tempatnya merebah tak mengurangi kenikmatan permainan panas itu. Blackjack menaik turunkan kepala untuk mengulum kesejatian Sasuke. Tangan sebelah yang sudah puas meremas dua bola kembar lalu turun kebawah. Ditusuknya lubang rektum Sasuke dengan jari tengah.
"Akhhh…." Pekik Sasuke tertahan. Tubuhnya melengkung keatas merasa tidak nyaman dengan kehadiran benda asing yang baru pertama ini memasuki tubuhnya. Blackjack menambahkan dua jari dan sukses membuat Sasuke mengerang kesakitan, "Hentikan…" pinta Sasuke memohon.
Blackjack melepaskan kulumannya sejenak, "Tenang saja Princess Of Dracula, nanti juga enakan kok…." kata Blackjack enteng sambil terus menggerakkan ketiga jarinya dalam lubang sempit yang belum terjamah siapapun.
"Sakit...hentikan..." Sasuke mengeluh, tapi tak ditanggapi Blackjack.
Lelaki misterius itu melanjutkan aktivitasnya. Ia mempercepat kuluman saat kesejatian Sasuke semakin menegang. Penjelajahan jarinya akhirnya membuahkan hasil. Ditemukannya sebuah titik jauh didalam tubuh Sasuke.
Sasuke menggeliat, hasratnya seakan meledak-ledak saat titik prostatnya di sentuh berkali-kali. "Ahhh…" lenguhan panjang mendengung dari mulutnya. Akhirnya terbebas juga!
Blackjack menjilati cairan putih kental yang menyembul dari kepala kesejatian Sasuke. ia kemudian menelannya tanpa rasa jijik.
"Nah, sekarang saatnya kita pergi ke Surga sama-sama…" Blackjack beranjak mengangat kedua kaki Sasuke dan ditumpukan di bahunya. Dicarinya sesuatu yang menegang dibalik jubah hitamnya. Ia menyeringai memandang Sasuke yang sudah terperangkap jala kenikmatan. Diarahkan sesuatu yang ternyata zakar adamnya itu kedalam rektum Sasuke.
"Akh hentikan…." Sasuke mengerang kesakitan menerima benda asing yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Bulir-bulir bening senantiasa mengalir dari sudut matanya yang masih bertopeng.
"Akh sempit sekali..." Blackjack kesulitan menembus lubang Sasuke. Baru kepala kemaluannya yang masuk, ia menghentakan sekali lagi.
"Tidaaakk..." Suara-suara Sasuke semakin menggairahkan Blackjack. Separuh kesejatiannya berhasil menyinggahi tubuh pemuda tampan itu. Blackjack mendorong pinggulnya lagi sekuat tenaga.
Sasuke memekik. Kesejatian Blackjack kini tertanam sepenuhnya. Blackjack mendiamkannya di dalam, meresapi sejenak sensasi nikmat saat miliknya terjepit erat dinding tubuh Sasuke.
"Ughhh nikmat sekali…" Ucap Blackjack setengah mendesah. "Kau sudah siap mendaki surga lagi?" tambahnya sambil menarik keluar kesejatiannya, menyisakan kepalanya saja didalam.
Sasuke hanya menangis tertahan. Jantungnya berdetak kencang, panas menyelimuti dirinya. Dan sakit di tubuh bagian bawah seakan melumpuhkan pergerakaan.
Blackjack meremas-remas kedua pantat Sasuke. Diliriknya sekilas pemuda itu lalu menghentakkan kesejatiannya kedalam sekuat tenaga. "Akhhh…tidaaakk..." Sasuke menjerit kesakitan, di antara lagu bahagia yang bergemuruh di Ruang pesta.
Blackjack memaju mundurkan pinggulnya dalam tempo perlahan.
"Sahhh…kithh…" keluh Sasuke tapi lagi-lagi tak dipedulikan Blackjack. Ia melesakkan kesejatiannya semakin cepat. "Berakit-rakit kehulu Princess…" desah Blackjack menghibur. Tangannya meraih kesejatian Sasuke. "Baru berenang-renang ketepian…" tambahnya sambil mengocok kesejatian mungil dalam genggamannya.
"Aghhh…ahhhh…" Sasuke mendesah tak karuan. Antara sakit dan nikmat, bersama-sama menyerang dirinya.
Tusukan Blackjack semakin dalam dan cepat. Penjelajahan dirinya di 'lorong goa' Sasuke kembali membuahkan hasil.
"Aaahhh..." desah Sasuke lembut. Perlahan kenikmatan menyapa, saat kesejatiaan Blackjack menghantam titik kenikmatannya berkali-kali. Belum lagi tangan lelaki The Raper itu yang mengocok miliknya.
"Aghhh…" Blackjack mendesah tertahan, merasa nikmat tiada tara saat dinding tubuh Sasuke semakn menjepit erat. Sasuke tak kuasa lagi menahan hasratnya yang meletup-letup. Dunia putih bertabur gelembung-gelembung kecil nan indah, menyambut di depan mata. Namun, ada sesuatu menahannya meraih semua itu
"Singkirkan..." Sasuke meracau tak jelas. Blackjack tersenyum sambil terus memaju mundurkan pinggulnya. Kesejatian yang di genggamnya semakin menegang. Ia menutupi lubang kecil di kepala kesejatian itu dengan jari telunjuk, "Katakan dulu siapa namamu…" kata Blackjack santai, tak peduli kesakitan Sasuke.
"Ahhh...Sas...uke..." jawab Sasuke diantara sisa-sisa kekuatannya.
"Siapa?" tanya Blackjack tertawa iblis melihat penderitaan pemuda di bawahnya.
"Sasuke…."
Blackjack tersenyum puas, "Ah Sasuke ya? Cocok sekali dengan peranmu. Baiklah bersabarlah menungguku Sasuke…Oughhhh…My Princess…" desah Blackjack masih terus melesakkan miliknya kedalam.
Sasuke menggelengkan kepala, tak tahan lagi menerima desakan di dalam tubuhnya. "Aghhh…Sasuke...Sasuke..."Blackjack terus menyebut nama Sasuke dalam desahannya. Kesejatiannya semakin menegang dan terjepit erat.
"Aaahhh..." Lenguhan panjang bersenandung dari keduanya saat terbebas dari hasrat yang membelenggu. Blackjack menghangatkan tubuh Sasuke dengan cairan hasratnya. Sedangkan Sasuke menyemburkan diperut. Yeah mereka pergi ke surga sama-sama.
"Terima kasih Sasuke…" Blackjack menarik keluar miliknya. Merendahkan tubuh untuk mengecup bibir Sasuke sekilas. Sasuke membuka mata sejenak. Kedua wajah itu saling berpandangan, menyelami apa yang tersirat di balik topeng masing-masing. Kedua tubuh itu saling bersentuhan, mengadu degupan jantung yang terbungkus tulang dada.
Sasuke mencium aroma maskulin dari tubuh Si Blackjack. Onyxnya menatap lekat sepasang mata Si Blackjack . Ia tidak tahu seperti apa keindahan mata itu. Ia bahkan tidak peduli Si Blackjack itu punya mata atau tidak. Yang jelas, kini Blackjack telah menceburkannya dalam lautan pesona.
Blackjack tersenyum, "My Princess…." Katanya mengecup lagi bibir mungil Sasuke.
Sasuke menganga, menatap Blackjack yang beranjak dari tubuhnya. Siluet hitam itu memandang Sasuke sejenak lalu membalikkan badan. Melangkahkan kaki dan menghilang bersama kibaran jubah hitamnya.
Sasuke menghela nafas berat, melepas kepergian seseorang yang baru saja memasuki dirinya dan…
Hatinya?
Sungguh Sasuke merasa sakit sekali. Karena kebencian terhadap perlakuan Si Blackjack The Raper yang menjajah tubuhnya seenak perut atau kehilangan Si Blackjack The Prince yang baru saja menjadikannya Princess sekaligus memanjanya?
Entahlah…
Sasuke tercekat, siapapun Blackjack ia akan tetap menghilang. Dan yang harus dilakukan Sasuke adalah melupakan Si Blackjack, The Raper maupun The Prince itu. Tapi sanggupkah Sasuke melakukannya?
Perlahan Sasuke mengutuk Pesta yang menjebloskannya dalam siksaan batin. Antara kebencian dan…ah…masih terlalu pagi mengatakan Cinta…
Tapi….
Ia merasa kosong saat Blackjack mengeluarkan dirinya. Ia tidak ingin ditinggalkan begitu saja setelah apa yang dilakukan Blackjack padanya. Perasaan apa ini?
"Akhhh…" Sasuke mengerang saat mendudukkan diri. Sakit di tubuh bagian bawahnya menyulitkan pergerakan. Sasuke menggigit bibir, tangannya mencengkeram pinggang. Ia beranjak berdiri, "Akhhh…." Tapi terjatuh lagi….
Sasuke memeluk kedua kakinya yang ditekuk. Ia menyembunyikan wajahnya. Menyesali kelemahannya yang tidak bisa mencegah hal buruk ini terjadi. Perlahan Sasuke mendongak, matanya berkilat memandang ke depan.
"Aku benci… AKU BENCI PESTAAA…" Sasuke berteriak sendiri, menjambak rambutnya frustasi.
Ia memungut pakaiannya dan mengenakan seadanya. Kebenciannya pada pesta menguatkan dirinya untuk berdiri. Meninggalkan pesta Neraka…dan Surga…
Alunan musik berganti Slow. Meliuk-liukan tubuh semua orang yang berbaur di ruang tengah Markas Akatsuki. Mata hitam kelam itu terus menatap lurus sepasang mata biru seindah langit. Senyum manis terlukis di bibir keduanya. Semburat merah dapat dipastikan meronai wajah keduanya, jika saja tidak tertutup topeng. Perlahan keduanya memiringkan wajah, mendekatkan bibir masing-masing.
Kelopak mata itu menutup perlahan, menyembunyikan kilau bebatuan onyx di dalamnya. Tapi seseorang yang berjalan terseok-seok keluar pintu mengurungkan niatnya. "Sasuke…" serunya melepas kuncian pergerakan seseorang dihadapannya. Ia segera berlari mengejar orang itu, menimbulkan tanda tanya besar di benak orang yang ditinggalkan, "Itachi…."
Aksi saling mengejar pun terjadi. Drakula dikejar Vampire dan Vampire dikejar Cleopatra.
"Sasuke kau kenapa?" tanya si Vampir alias itachi. Ia menatap bingung pada Drakula alias Sasuke yang menatapnya tajam. Itachi lalu meneliti keadaan Sasuke yang berantakan, "Kau darimana? Apa yang terjadi? Kenap…aghhh…" Itachi terdorong kebelakang.
"Semua ini gara-gara aniiki! Aku benci PESTA, aku benci aniiki!" lantang Sasuke tak hanya membuat Itachi menganga lebar tapi juga mencengangkan Cleopatra alias Deidara yang berdiri tak jauh dibelakang Itachi.
Itachi menganga tak percaya. Hatinya seperti tercabik-cabik mendengar ucapan Sasuke. Lebih menyakitkan daripada tusukan pedang Julius CaeSasori jika ketahuan mengajak Cleodaranya berdansa. Lebih menyakitkan juga daripada gigitan Drakula yang mengamuk. Sangat menyakitkan bagi Seorang kakak yang dibenci adik tersayangnya.
"Sasuke, maafkan aku kalau—" Itachi berusaha menahan tapi Sasuke mendorongnya hingga terjatuh. "Sasukeee…"
Sasuke kembali berlari. Menuruni tangga dengan tertatih-tatih. Itachi yang melihatnya segera bangkit dibantu Deidara. Ia pun berlari mengejar Sasuke diikuti Deidara di belakangnya, "Sasuke kau mau kemana?" teriak Itachi melihat Sasuke yang sudah keluar Markas dan menyebrangi jalan. Ia segera menyusul tanpa melihat situasi dan kondisi.
Seorang pengendara roda dua melajukan motorsportnya dengan kecepatan tinggi. Itachi menoleh sejenak sebelum silau lampu motor itu benar-benar menghitamkan pandangannya…
BRAKKKK
"Itachiiiii…."
Seruan lantang itu menghentikan Sasuke. ia memutar badan. Dan demi Kami-sama ia ingin buta saat itu juga. Ia tidak ingin melihat pemandangan miris yang menghancurkan hati. Sang kakak tergilas roda motor dengan indahnya.
"Aniikiiiii….."
FLASHBACK OFF
"Arghh….." Sasuke berteriak meluapkan emosi. Butiran bening mengalir dari sudut mata. Mendengar PESTA rasanya seperti mendengar alunan melody kematian. Mengurai kembali kenangan yang sudah tersimpul mati. Yeah PESTA yang membuat dirinya seperti ini. Terjerumus kegelapan, hidup memalukan, menanggung kebencian dari semua orang.
Menjadi pelacur bukan jalan hidupnya. Banyak pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan. Tapi kehidupan tak memberi banyak pilihan untuk Sasuke.
Akatsuki memang membantu saat Sang kakak mengalami kepahitan terbesar dalam hidup. Tapi selanjutnya, tentu Sasuke maupun Itachi tak ingin bergantung pada Akatsuki. Karena pada dasarnya Akatsuki adalah kumpulan orang-orang terbuang atau membuang diri dari keluarga.
TIDAK BERGUNA! Itulah yang dirasakan Sasuke melihat Sang kakak lumpuh dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga saat Danzo mengusirnya karena tidak bisa membayar sewa rumah. Sasuke hanya bisa menangis tertahan melihat Sang kakak mengemis di kaki Si tua Bangka itu.
Suatu hari Sasuke bertemu perempuan yang membuatnya berguna. Ia ditawari bekerja di hotel ternama. Tanpa ba bi bu Sasuke segera menandatangani Surat Kontrak yang diajukan perempuan itu. Dan Surat itulah yang menentukan jalan hidupnya sekarang….
Sasuke memejamkan mata. ia sudah lelah…
Lelah memikirkan dunia yang begitu kejam padanya…
.
Sasuke mengerjap perlahan. Ia terperanjat bangun saat melihat jarum jam bertengger manis menunjuk angka 7. ia segera bergegas ke luar kamar. Diambilnya beberapa bawang merah di dapur lalu melesak ke kamar mandi.
Sasuke melepas pakaiannya, memandangi pantulan dirinya di cermin. Tubuh putih mulusnya dipenuhi kissmark hasil karya Orocimaru tadi siang. Sasuke menghela nafas, dikupasnya bawang merah dengan tangannya lalu digosokkan ke tubuhnya.
"Akhh..." Sasuke menggigit bibir, menahan panas dari bawang merah yang digosokkan ketubuhnya. Seorang pelacur harus menghilangkan kissmark hasil karya pelanggan sebelumnya agar tubuhnya 'siap dipakai' pelanggan selanjutnya.
"Akhh..." Sasuke merosot jatuh, menahan perih dari gosokan bawang itu. Tapi ia tetap menggosoknya, menyamarkan bekas bibir brutal itu. Menurut Sang Manager, ada konglomerat yang menyewanya malam ini. Ia tidak boleh mengecewakan pelanggan. Karena kalau itu terjadi, Sang Manager akan menghajarnya habis-habisan. Dan yang paling Sasuke takutkan adalah dilaporkan Sang kakak.
Sasuke menutupi pekerjaan maksiat ini. Ia tidak ingin membuat Sang kakak bersedih, cukup ia yang menanggung kesakitan dan kebencian ini sendiri…
Sasuke membuka mata, diliriknya bulatan merah di dadanya yang semakin melebar karena kissmark. Digosoknya bekas-bekas itu hingga ke tonjolan kecil, "Akhh...shhh…." Sasuke menggigit bibir. Panas membakar kulit, perih menggeranyangi sekujur tubuh.
Sasuke mengulangi gosokannya di bagian lain. Ia menatap kesejatiannya sekilas. Bagian itu pun tak luput dari kebrutalan nafsu. Helaan nafas panjang kembali menderu. Di kupasnya lagi beberapa bawang.
"Ukhhh…." isak lirih meluncur dari bibirnya saat menggosokkan bawang itu pada kulit kesejatiannya. Tapi ia tahu, kesakitan ini belum seberapa jika dibandingkan kesakitan yang akan diterimanya saat melayani pelanggan. Sasuke tidak lupa bagaimana mereka menjajah tubuhnya. Memperbudak seperti binatang. Menyakiti jika tak menurut. Tertawa di atas penderitaannya.
"Akhhh..." Panas semakin menjalar di tubuh Sasuke. Batang kemaluannya memerah dan sedikit melepuh. Segera, Sasuke meraih shower dan mengguyurkan ketubuhnya.
Air segar mengembalikan pikirannya yang berkecamuk setelah mengingat PESTA. Ah, ngomong-ngomong pesta, Sasuke teringat Naruto yang mengajaknya ke pesta siang tadi. Tak dipungkiri, kegigihan pemuda itu mengejarnya telah melambungkan perasaannya. Tapi bukan berarti hatinya dapat terambil begitu saja. Karena hati itu telah menjadi milik seseorang. Seseorang yang pertama kali memasuki tubuhnya. Lalu pergi begitu saja dengan membawa hati. Meninggalkan kerinduan yang tak kan pernah terobati. BLACKJACK!
.
"Sedang terburu-buru?" suara lembut mengalihkan Sasuke yang berkutat di depan rak sepatu. Dilihatnya Sang kakak mendorong kursi roda, mendekatinya.
"Iya, banyak pengunjung café hari ini…" Sasuke tersenyum lalu meneruskan aktivitasnya, memilih sepatu.
"Kalau terburu-buru kenapa tidak langsung pakai seragam kerja?" pertanyaan itu menohok Sasuke. ia memutar lehar, mengikuti pandangan Sang kakak yang mengarah pada penampilannya. Celana super ketat, kemeja dengan tiga kancing teratasnya dibuka, wangi parfum yang menggoda birahi. Sungguh penampilan aneh untuk seorang pelayan café. Setidaknya itulah yang ada di otak Itachi melihat penampilan Sang adik yang katanya bekerja di Café.
"Oh, Managerku sangat baik. Dia selalu memaklumi keterlambatan pegawainya," kata Sasuke berkilah, ia segera berpamitan untuk menghindari panah onyx Sang kakak yang terasa menghujam hati. "Aniiki, jaga diri baik-baik ya! Aku berangkat dulu…"
Itachi memandang Sasuke yang berlalu. Tangannya terangkat untuk memijat kening, perlahan ia menyembunyikan sepasang onyxnya, "Aku tidak berguna, maafkan aku Sasuke…"
.
.
PLAKKK
Sebuah tamparan keras menyambut Sasuke saat tiba di hotel. Perempuan berambut soft pink menatapnya geram.
"Dasar pelacur! Tubuhmu sudah ditunggu pelangganku!" perempuan itu menjambak rambut Sasuke yang mencuat kebelakang. Perlakuan yang sebenarnya tidak pantas untuk seorang perempuan kepada lelaki. Tapi Sasuke membiarkan saja perempuan itu melakukan semaunya.
"Kemana tadi hah? Kenapa nomermu tidak bisa dihubungi?" mata emerald perempuan itu berkilat menatap Sasuke, "Apa kau mau aku menjemputmu di rumah—"
"Katakan saja dimana aku harus menemui klienmu!" potong Sasuke datar. Kepalanya terantuk kebawah saat perempuan seksi itu melepas cengkeremannya dengan kasar, "Kamar 237!"
Sasuke menghela nafas dan berlalu meninggalkan lobi hotel. Sedikit menggernyit oleh tendangan kaki Managernya itu di pantatnya.
CKLEK
"Maaf tuan saya terlambat…" Kata Sasuke setelah membuka pintu dan masuk kedalam.
"Hn." jawab seseorang yang duduk di sofa kamar 237 itu.
Sasuke mengangkat bahu. Ia segera duduk di ranjang, kedua tangannya kebelakang untuk menyangga tubuh. Satu Kakinya ditumpukan di kaki yang satu. Diketukkan kaki yang berpijak di lantai, mengisyaratkan Sang klien agar tidak mengulur-ulur waktu.
Tampaknya isyarat itu direspon baik. Terbukti dari beranjaknya Sang klien dari sofa. Sasuke terperanjat kaget saat keremangan cahaya di kamar sedikit menerangi kliennya yang berjalan mendekat
Sasuke beranjak bangun, ia menatap tak percaya pada sepasang Blue Safir di hadapannya.
"Dobe?"
"Hey Teme…"
To Be Continue…..
.
.
Nah, udah bersambung kan sinetronnya? Sekarang saatnya Kuis XDDD
Pertanyaan: Siapa Si Blackjack itu?
Ketik REG spasi JAWABAN Kirim ke REVIEW! :P
Berhadiah loh, Juara 3 dapet pedang Kusanagi Sasuke, juara 2 dapet Tulang Susano'onya , juara pertama dapet Jatah Ngerape dia sepuasnya, hahaha…*ditusuk kusanagi dan digebukin tulang Susano'o ama Sasuke*
Sasuke: Heh, Kiss Chan My Baka Imouto! bilang aja elo bingung nentuin Si Blackjack itu! iya kan? Dasar author geblek! Tapi ngomong-ngomong siapa sih Si Blackjack itu? *GUBRAK*
Kiss Chan: Aduh, aniiki tuh cerewet amat sih….*ditubruk(?) Naruto*
Naruto: Kiss Chaaannn, siapa sih yang Ngerape My Sasuke? Biar gue cincang dia, gue iris-iris, gue goreng, ihhh gemes gue booo…*maho mode: on*
Kiss Chan: Maka dari itu gue ngadain Sayembara buat nangkep Si Blackjack! Nah, kata papi Masashi Kishimoto, bang Naru kan bisa mengubah hati seseorang. Sekarang suruh Readers gih, supaya hatinya berubah. Dari yang niatnya baca doang jadi Ngereview!
Naruto: Oke deh, tapi ada syaratnya. Chap depan gue dapat jatah Ngerape My SasuTeme ya!
Sasuke: Narutoooo….CHIDORIIIII…..
Naruto: Sasukeee….RASENGAAANN….
Kiss Chan: Aduh NaruSasu kok jadi berantem sih, ya udah deh! Readers Review aja ya! kalau mau iseng-iseng ikutan Kuis ya silahkan XDDD…..
