Summary: Sejak kecil Sasuke sudah berteman dengan Sakura yang menjadi sahabatnya dalam berbagi segalanya. Yeah segalanya berarti berbagi mainan, permen, kue dan berbagi semua pengalaman semasa kecil.

Fanfic keduaku. Buat fanfic pertamaku, makasih buat temen-temen yang udah ngasih tanggapan positif n ngasih petunjuknya :D Jadi pengen bikin lagi nih. Kali ini giliran SasuSaku, sekalian memenuhi rekues beberapa temen.

Enjoy !

Naruto © Masashi Kishimoto


Child's Play

By: Ash D Portgas

"Tadaima!" pemuda berambut emo hitam kebiruan muncul di pintu dan menendang sepatunya sampai lepas. Dengan buru-buru ia memasukkan sepatunya ke dalam rak dan memakai selop.

"Nii-san!" ia memanggil sambil melongok ke dalam lalu segera menaiki tangga menuju kamarnya. Di kamarnya ia meletakkan ranselnya di atas mejanya lalu mengganti seragam sekolahnya dengan kaus putih dan celana pendek baggy berwarna coklat susu berkantong banyak. Setelah itu ia mengeluarkan isi ranselnya dan menjejalkan beberapa buku ke dalamnya.

"Nii-san!" pemuda itu mengetuk pintu di depan kamarnya lalu menunggu jawaban. Tetapi sama sekali tidak ada balasan dari dalam. Ia menghela nafas kemudian segera turun lagi. Saat ia berbelok ke dapur untuk minum, ia membaca sebuah pesan yang ditempel di pintu kulkas.

'Sasuke, aku pergi ke Suna. Jaga rumah baik-baik ya!

P.S: Ponselmu kenapa? Kalau ada apa-apa telepon ya!'

Sasuke meneguk segelas air yang dituangkannya kemudian menyambar ranselnya di atas meja dan keluar dari dalam rumah.

'Teng..Tong..'

Suara bel berdentang di dalam sebuah rumah berwarna putih gading. Tidak perlu menunggu lama, tersangka yang memencet bel di depan pintu langsung disambut seorang gadis berambut pink yang tersenyum lebar.

"Sasuke! Ayo masuk!"

"Hn,"

Sasuke mengikuti gadis itu berjalan sampai di ruangan tengah dimana televisi menyala menampilkan siaran berita sore.

"Aku sudah mulai jadi bisa langsung dikerjakan," terang gadis itu kemudian beringsut duduk di bawah sofa. Di atas meja bertebaran beberapa buku yang dibuka dengan tulisan di beberapa tempat tampak digarisi dengan stabilo berwarna kuning limun.

"Sakura, kau mengerjakan ini sambil nonton berita?" Sasuke menghempaskan tubuhnya di atas sofa menatap layar televisi tidak percaya. Sakura hanya meringis.

"Hehe...itu tadi tou-san yang nonton. Tapi dia diminta mengantar kaa-san ke supermarket untuk belanja makan malam. Oh ya, kau makan malam di sini saja! Itachi-nii pasti tidak keberatan!" Sakura mulai nyerocos membuat Sasuke menggulung bukunya dan menepukkannya ke kepala Sakura.

"Yeah! Dia tidak keberatan. Dia ke Suna," jawab Sasuke membuka ranselnya dan mengeluarkan beberapa buah buku lagi.

"Heh? Padahal dia sudah janji akan mengajariku besok!" Sakura menatap Sasuke tidak percaya. Jelas saja Sakura kecewa, membuat janji dengan Itachi itu hampir sama dengan membuat janji dengan presiden. Susah!

"Aku juga bisa, kenapa harus dia?" Sasuke hanya melemparkan tasnya ke bawah kakinya setelah mengosongkan isinya ke atas meja di hadapan mereka.

"Kau itu, tidak meyakinkan. Boleh saja mengajari untuk yang lain-lain. Tapi kalau menyetir, aku lebih suka yang ahli saja yang mengajariku," Sakura menyeringai menatap wajah sebal Sasuke.

"Huh! Paling-paling juga kau niatnya cuma mau pergi berduaan dengan nii-san,"

"Hoh! Memangnya kenapa? Kau tidak terima kalau aku sampai jadi kakak iparmu?" Sakura menyeringai.

"Hah! Dia tidak tertarik dengan anak kecil!" Sasuke dengan enteng mengeluarkan jurus yang diketahuinya, Itachi selalu menganggap Sakura sebagai adiknya.

"Enak saja anak kecil!" elak Sakura memasang tampang cemberut membuat Sasuke terkekeh.

"Terakhir kuperiksa masih sekecil itu," lanjut Sasuke makin membuat Sakura geram.

"Kurang ajar!" geram Sakura memukul lutut Sasuke main-main dengan bukunya.

"Hmm...Memangnya dalam beberapa hari sudah bertambah seberapa coba," tiba-tiba Sasuke menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Sakura.

"Hah! Ukh.. Sasukee.. Apa-apaan kau?" protes lemah Sakura tidak dihiraukan Sasuke yang dengan ahli menyusupkan tangannya ke balik kaus Sakura dan dengan terlatih mendorong bra Sakura ke atas sehingga dia langsung bisa menangkupkan tangannya di sebelah payudara Sakura.

"Masih sama dengan yang terakhir kali," bisik Sasuke di telinga Sakura sambil memijat payudara Sakura dengan lembut. Sakura hanya bisa mendesah dan menggigit bibirnya saat Sasuke mulai menekan putingnya dengan ibu jarinya kemudian memilinnya.

"Hey...ini di ruangan umum...S-Sassukee...bagaimana kalau orang tuaku...datang," desah Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke yang sudah duduk merosot di belakangnya. Sasuke dengan santai menyelipkan satu lagi tangannya untuk menemani aksi tangan sebelahnya di dada Sakura kemudian mengecup leher Sakura.

"Tenang saja. Aku bisa melihat halaman dari sini," Sasuke terkekeh menjelaskan hal yang sudah berkali-kali dijelaskannya pada Sakura. Sakura merasakan sebelah tangan Sasuke meninggalkan payudaranya dan merayapi perutnya. Dengan kesadaran hampir penuh Sakura memegang tangan Sasuke yang mulai menyelip ke bawahan celana kaosnya untuk menyingkirkannya tetapi Sasuke tidak menghiraukannya dan baru berhenti saat menyentuh kain yang terasa sangat lembab.

"Kau yang makin sensitif atau aku yang makin hebat?" bisik Sasuke terdengar mengulum senyum di telinga Sakura yang hanya bisa mendesah saat Sasuke menggerak-gerakkan telunjukknya di sekitar klitorisnya. Tanpa menyadarinya Sakura melebarkan kakinya dan mengangkat pinggangnya membuat Sasuke menyeringai semakin lebar.

Setelah puas mempermainkan Sakura, Sasuke menggesekkan ujung telunjuknya di ujung labia Sakura membuat Sakura mengerang dan menekan tangan Sasuke agar melanjutkan aksinya. Tetapi sebelum keinginan Sakura tercapai, Sasuke tiba-tiba menarik tangannya dan melepaskan diri dari rangkulan Sakura, membuat Sakura tiba-tiba merasa sangat kosong.

Sebelum Sakura melancarkan serangan tatapan mautnya pada Sasuke, Sasuke sudah membuka bukunya dan mengembalikan posisi duduknya di ujung sofa. Mata hitam Sasuke yang menatap keluar jendela membuat Sakura cemberut dan merapikan pakaiannya dan mulai memegang pensil lalu kembali berkutat dengan buku-bukunya.

"Sialan kau! Kau harus tanggung jawab gara-gara ini!" gumam Sakura mulai menggaris membuat kolom di atas folionya.

"Siapa suruh kau menurut begitu saja?" Sasuke nyengir melihat telinga Sakura yang masih memerah.

"Wah! Ada Sasuke rupanya!"

"Jii-san," jawab Sasuke memamerkan senyuman ramah teramat langkanya pada ayah Sakura yang muncul sambil menenteng kantung-kantung plastik besar. Dia membawanya ke dapur kemudian ibu Sakura juga muncul dan menyapa Sasuke yang juga menyambutnya dengan ramah.

"Sasuke! Tinggallah untuk makan malam!" wah beruntungnya Sasuke. Bahkan sebelum ditanya, ibu Sakura sudah menawarinya. Jadi dengan wajah berseri-seri, Sasuke menerima tawaran ibu Sakura dan menghabiskan waktunya di dalam kediaman Haruno sampai tugas mereka selesai dan makan malam selesai. Setelah selesai makan, Sasuke siap mengangkut tasnya dan bersiap untuk berpamitan.

"Jii-san, Baa-san! Terima kasih makan malamnya. Sekarang boleh kupinjam Sakura sebentar? Ada beberapa barang yang harus kami beli di mini market untuk melengkapi tugas,"

"Oh, biar kuantar!" ayah Sakura cepat-cepat menawarkan diri.

"Tidak usah! Tou-san mau kabur dari tugas mencuci piring ya!" tolak Sakura hanya disambut cengiran ayahnya.

"Memangnya tugas kalian belum selesai?" kali ini ibu Sakura bertanya dengan menahan senyum.

"Hampir. Ibaratnya, kalau sayur tinggal diberi garam!" terang Sakura nyengir membuat kedua orang tuanya terkekeh dan Sasuke hanya mendengus.

"Hah? Kau tidak bisa menemukan ibarat yang lebih bagus apa?" akhirnya Sasuke memrotes perumpamaan tidak bermutunya Sakura.

"Berisik! Ayo pergi! Keburu malam!" Sakura menyeret Sasuke yang buru-buru berpamitan pergi. Dua suami istri yang ditinggalkan hanya tersenyum menatap kepergian mereka. Dari jendela, mereka bisa melihat Sasuke melompat ringan dan menendang pantat Sakura main-main dari belakang tubuhnya dan Sakura dengan sebal menyenggol Sasuke hingga Sasuke terhuyung hampir terjembab di halaman berumput rumah keluarga Haruno membuat Sakura tertawa puas.

Sejak dulu Sakura memang selalu menang kalau yang namanya bertanding tenaga dengan Sasuke, dan kedua orang tua Sakura hanya terkekeh menatap putrinya dan sahabat sejak kecilnya itu. Mereka berdua selalu bertengkar, tetapi tidak pernah bisa dipisahkan.

"Oiya Sasuke! CD yang kemarin boleh kupinjam? Aku suka sekali solo bass-nya,"

"Hey! Kalau kau cuma mau datang dan mengacak-ngacak CD-CD ku..."
"Apaan sih? Kan mumpung aku di sini,"

"Setiap hari juga kau ke sini," Sasuke dengan malas menutup pintu kamarnya dan melemparkan ranselnya di atas meja. Sakura berdiri dari depan rak CD Sasuke kemudian dengan santai melepaskan kausnya dan melemparkannya di bawah tempat tidur Sasuke. Sasuke yang sudah menyamankan diri duduk di depan meja belajarnya hanya menatap Sakura yang mulai menanggalkan celananya.

Hanya dengan pakaian dalamnya Sakura melenggang menghampiri Sasuke dan menarik kaus putih Sasuke hingga terlepas dan akhirnya Sakura memaksa Sasuke berdiri dan mengecup bibir Sasuke perlahan.

Sakura menempelkan kedua tangannya di wajah Sasuke dan mulai melumat bibir Sasuke yang langsung terpancing. Sejak dulu Sasuke tidak pernah memenangkan 'adu mulut' dari Sakura. Sejak pertama kali mereka berciuman, sejak pertama kali Sakura dan Sasuke melihat di televisi bahwa dua orang begitu menikmati mengecup bibir masing-masing, Sasuke dan Sakura kecil yang penasaran mencobanya tanpa siapapun mengetahuinya.

Semakin banyak bagian tubuh mereka bersentuhan, semakin terasa nyaman dan mereka semakin penasaran dengan setiap hal yang bisa mereka lakukan dengan tubuh mereka. Baru setelah mereka mendapatkan pelajaran tentang pendidikan seks di SMP, mereka baru mengerti kalau selama ini yang mereka lakukan adalah berhubungan seks.

Saat hal itu dijelaskan, Sakura hanya menatap Sasuke dengan mata seolah berkata "Oh, yang itu." Berbeda seratus delapan puluh derajad dengan teman-teman seangkatan mereka yang menunjukkan reaksi "Oh, begitu."

Dan sejak itu rasa penasaran mereka semakin meningkat karena masing-masing mulai mempelajari bagian mana yang membuat lawan merasa senang. Bagian mana yang hanya perlu disentuh dan memberikan reaksi mengejutkan dan bagian mana saja yang membuat tubuh terasa hampir meledak. Hingga akhirnya masing-masing Sakura dan Sasuke memiliki daerah-daerah yang mereka sukai memberikan efek yang mereka inginkan kalau mereka menyentuhnya dengan lidah mereka.

Sakura tanpa sadar menggigit pelan benda lonjong sebentuk sosis di hadapannya saat merasakan kehangatan lidah Sasuke menghisap klitorisnya. Kemudian Sakura dengan cepat kembali memasukkan kejantanan Sasuke sepenuhnya ke dalam mulutnya dan menaik-turunkan kepalanya membuat Sasuke di bawahnya mengerang dan mencengkeram paha Sakura semakin kuat.

Sakura dengan lambat menaikkan kepalanya kemudian menghisap ujung kejantanan Sasuke membuat Sasuke menaikkan pinggangnya meminta Sakura mengulum seluruhnya lagi. Sakura sambil menahan senyum mulai menurutinya dan menaik-turunkan kepalanya semakin cepat dan mendapatkan balasan tusukan yang semakin dalam di rongga labianya membuatnya mendesah semakin tidak terkendali.

Beberapa saat kemudian Sasuke merasakan tubuhnya memenuh dan dalam sekejap dia membuat Sakura berbalik menatapnya dengan sebal karena Sasuke memuncratkan cairan berwarna putih di wajah Sakura.

Sakura lalu bangun dan berjalan ke meja belajar Sasuke dan membuka salah satu lacinya. Dengan sigap dia meraih sesuatu di sudut di dasar laci yang sudah dikenalinya dan menarik sebuah benda dari dalam sana. Sebuah benda berwarna putih.

"Umm.. Kali ini apa?" goda Sakura sambil kembali ke atas tempat tidur dan duduk di depan Sasuke. Sakura merobek plastik pembungkus dan mengeluarkan benda berwarna merah dari dalamnya.

"Wow, strawberry. Favoritku," gumam Sakura tersenyum melirik Sasuke. Sakura meletakkan benda itu di mulutnya, membiarkan bagian yang menonjol berada di dalam mulutnya kemudian masih dengan mata menatap Sasuke lekat-lekat Sakura mulai menunduk di atas kejantanan Sasuke dan memasukkan benda di mulut Sakura membungkus kejantanan Sasuke.

Dengan bibirnya dan sebelah tangannya Sakura memasang kondom berwarna merah itu hingga seluruhnya membungkus kejantanan Sasuke. Sasuke hanya mengerang merasakan benda yang terpasang dengan begitu nyaman di kejantanannya. Kalau prosesnya seperti itu, Sasuke tidak akan pernah mau pusing memakai kondomnya. Biar Sakura yang melakukannya untuknya.

Setelah dengan sukses terpasang, Sakura merangkak di atas Sasuke sambil menjilati seluruh tubuhnya. Dengan iseng dia berhenti di pusar Sasuke dan menjilatinya di sana, lalu dengan penasaran menghisap punting Sasuke yang herannya selalu membuat Sakura berpikir,

"Apa rasanya begini kalau dia melakukannya padaku?"

Hingga akhirnya dia sampai di tenggorokan Sasuke dan berhenti di bibirnya. Sakura memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sasuke dan mengajak lidah Sasuke bertarung dengannya di dalam mulut mereka yang menyatu menjadi semacam gua.

Sasuke memeluk pinggul Sakura membiarkan Sakura memenangkan pertarungan lidah dan tanpa aba-aba, Sasuke langsung membalikkan tubuh Sakura hingga Sakura terlentang di bawahnya. Sambil melepaskan mulutnya dari Sakura, Sasuke menjilat sisa salivanya yang menetes di bibir Sakura.

"Giliranku," gumamnya sekilas menatap ke arah daeran v Sakura dan membiarkan kulit kejantanannya yang sensitif mencari area yang sudah dihapalnya hingga ujung kejantanan Sasuke menemukan celah yang dicarinya. Perlahan Sasuke mendorong pinggulnya dan membiarkan tangan Sakura mencengkeram bahunya.

Sasuke menatap Sakura yang menggigit bibir bawahnya menahan senyuman di bawahnya sebagai tanda bahwa Sasuke bisa terus. Sasuke mendorong pinggulnya lagi hingga setengah kejantanannya sekarang tertanam di dalam liang Sakura dan membuat Sakura menutup matanya dan membuka mulutnya menarik nafas.

Sasuke menunduk dan membuat bibir Sakura kembali sibuk dengan hisapan lidahnya. Sasuke memundurkan tubuhnya perlahan dan memajukannya lagi perlahan. Dia melakukannya beberapa kali lagi dengan tempo lebih cepat hingga akhirnya dia melakukannya sepenuhnya membuat bahu dan punggungnya sekarang menjadi sasaran cengkeraman dan cakaran kuku Sakura saat Sasuke memaksakan seluruh kejantanannya ke dalam rongga Sakura.

Setelah seluruh kejantanannya tertanam dalam tubuh Sakura, Sasuke menahannya sebentar sampai nafas Sakura kembali normal. Setelah desahan nafas Sakura terasa normal, Sasuke menarik tubuhnya membuat setengah kejantanannya keluar kemudian mendorongnya masuk lagi dengan lambat. Begitu berulang-ulang sampai Sakura terbiasa dengan iramanya.

Sasuke masih akan melakukannya dengan irama yang sama kalau saja Sakura tidak menaikkan pinggulnya memaksa Sasuke bergerak lebih cepat. Sasuke hanya menyeringai menatap wajah Sakura yang memerah dan hanya bisa membuka mulutnya sambil menutup matanya. Pinggulnya tetap berusaha membuat Sasuke mempercepat iramanya hingga akhirnya membuat Sasuke takluk. Sasuke mulai menaikkan tempo tarikan dan tusukannya membuat nafas keduanya menderu.

Akhirnya dengan nafas terengah Sasuke berhenti dan memanggil Sakura yang menatapnya dengan kecewa.

"Sakura bangun!" gumam Sasuke tanpa mempedulikan wajah penasaran Sakura mengingat kejantanan Sasuke masih tertanam di dalam tubuh Sakura. Sakura menarik tubuhnya hingga terbangun dan terduduk di atas tempat tidur. Sasuke mengangkat sebelah kaki Sakura dan meletakkannya di bahunya kemudian membuat Sakura setengah duduk bersadar di kepala tempat tidur Sasuke.

Sambil duduk Sasuke mulai memasukkan dan mengeluarkan kejantanannya lagi dari dalam liang Sakura yang sekejap membuat Sakura memekik tertahan karena area-area baru yang berhasil disentuh oleh Sasuke membuatnya seperti tersengat listrik. Kejantanan Sasuke mampu masuk lebih dalam dari yang bisa dimasukkannya saat mereka berbaring. Dan dengan gerakan yang semakin cepat Sakura akhirnya mencengkeram kepala tempat tidur dengan sebelah kakinya di bahu Sasuke dan sebelahnya lagi melilit pinggul Sasuke. Kedua tangan Sasuke dengan mantap menahan kaki Sakura membuat Sasuke semakin mantap membuat tusukan yang semakin dalam ke tubuh Sakura.

Beberapa saat kemudian Sasuke menurunkan kaki Sakura dan dengan terengah-engah Sakura mulai merosot dan kembali ke posisi setengah terbaringnya. Sasuke yang belum mau mengeluarkan kejantanannya menunduk dan mulai melumat bibir Sakura dan meremas-remas payudaranya bertanya dengan bisikan.

"Sudah? Cukup?" tanya Sasuke disambut cengiran Sakura yang sangat dikenalnya.

"Umm.. apa lagi yang bisa kau lakukan?" tanya Sakura terdengar menantang. Sasuke menunduk dan mengulum punting Sakura dan menghisapnya sebelum melepaskannya dengan bunyi 'plop' pelan.

"Balik," perintah Sasuke singkat membuat Sakura bingung.

"Huh?" Sakura menatap Sasuke tidak mengerti dan hanya menurut saat Sasuke memegang bahunya dan membalikkannya sampai tengkurap. Sasuke merasakan kejantanannya terjepit semakin kencang membuatnya harus menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai mencoba menarik pinggulnya. Sakura mengerang perlahan setiap kali Sasuke dengan perlahan menarik dan mendorong pinggulnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke agak khawatir juga.

"Uhhh...yeah. Mungkin akan lebih baik kalau tidak berbaring," usul Sakura disambut persetujuan Sasuke yang menyelipkan tangannya di bawah perut Sakura dan membantunya sedikit terangkat. Sakura menopang tubuhnya dengan tangan dan lututnya membiarkan Sasuke sekarang menungganginya. Tangan Sasuke di perut Sakura perlahan merayap menangkap payudaranya dan meremasnya. Sasuke mulai memaju mundurkan tubuhnya perlahan dan kembali menerima desahan Sakura yang sepertinya tidak bisa lagi ditahan Sakura hingga akhirnya Sakura menjerit dan dengan gemetar memeluk leher Sasuke seakan mencari penopang.

Keduanya kemudian ambruk dan berbaring miring. Sasuke perlahan menarik kejantanannya dan berguling di atas Sakura. Wajah Sakura tampak kelelahan dengan keringat membuat helaian rambutnya menempel di wajahnya. Sasuke menyingkirkan helaian rambut Sakura yang menempel di wajahnya kemudian mengecup bibirnya. Sasuke meninggalkan bibir Sakura yang membentuk senyuman.

"Apa kau tidak bisa semanis ini padaku di hari-hari biasa?" tanya Sakura melingkarkan tangannya di leher Sasuke dan menariknya untuk mengambil ciuman lagi. Sasuke menyeringai dengan kemanjaan Sakura yang selalu kambuh setiap kali mereka selesai bertarung.

"Kalau aku melakukannya di hari biasa, kau tidak mungkin bisa hidup dalam 24 jam. Sepasukan fans clubku pasti akan memburumu," jawab Sasuke mengikuti tarikan tangan Sakura dan membalas ciumannya.

"Dasar!" gumam Sakura tersenyum. Sasuke terkekeh kemudian menatap Sakura hingga ke bawah. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Sakura dengan wajah pura-pura sebal.

"Masih ada yang harus dibereskan," gumam Sasuke sebelum menunduk dan menahan paha Sakura. Sasuke menjilati daerah v Sakura yang berkilat dengan cairan bening membuat Sakura kembali mendesah tidak terkendali.

Sasuke dan Sakura akhirnya hanya berbaring mengembalikan tenaga sambil menatap langit-langit kamar Sasuke.

"Jangan ketiduran," gumam Sasuke pada Sakura yang sepertinya sudah hampir terlelap.

"Hah? Yeah! Ugh, lebih baik aku pulang sebelum... HYAAH!!! Sudah jam berapa ini? Masa sudah tiga jam?!" Sakura dengan panik turun dari tempat tidur dan mulai mengumpulkan pakaiannya yang bertebaran.

"Ayo Sasuke bangun! Antar aku pulang! Bagaimana mungkin aku sampai berjam-jam di sini? Harusnya dari rumahmu ke mini market juga cuma lima menit. Kalau dihitung dari rumahku sampai balik lagi harusnya paling lama cuma butuh kurang dari sejam!" Sakura dengan panik memakai kembali pakaiannya sambil berhitung.

"Oh kau pintar," Sasuke yang setengah duduk dan bersandar di kepala tempat tidur hanya menatap Sakura yang sibuk. Ia memberikan aplause dan komentar dengan nada bosan. Sakura hanya meliriknya dengan tajam dan melemparkan kaos Sasuke yang tadi dilemparkan Sakura di bawah meja. Dan Sasuke dengan malas bangun lalu mulai memakai pakaiannya juga.

"Hey! Kau tidak ada niat melepaskan itu?" Sakura menunjuk benda yang masih membungkus kejantanan Sasuke dan Sasuke hanya menyeringai.

"Aku suka memakainya sampai mengering. Kalau dibuka jadi 'krek' gitu," komentar Sasuke cuek.

"Ih, jorok! Lepaskan!" omel Sakura akhirnya membuat Sasuke melepaskan benda itu juga dan membuangnya ke tempat sampah di samping mejanya.

"Oke! Samakan cerita dulu!" Sakura mulai nyerocos lagi dalam perjalanan mereka kembali ke rumah Sakura dimana kedua orang tua Sakura sudah menunggu dengan amat sangat sedikit sekali cemas. Mereka merencanakan akan menelpon ke ponsel Sakura kalau dalam dua jam Sakura belum pulang juga.

"Bagaimana kalau antriannya saaaangat panjang?! Atau benda yang kita cari sudah habis terus harus mencari ke tempat lain? Atau kita bertemu orang mencurigakan?" Sakura mulai menyebutkan alasan-alasan yang kedengaran bisa dipercaya orang tuanya. Sasuke hanya mendengus.

"Aku tidak mau berbohong,"

"Aku tidak mau disuruh menikah sekarang!" omel Sakura mencekik Sasuke dengan geram karena merasa dia tidak mau ikut membantu. Sesampainya di rumah Sakura, sebelum Sakura mengeluarkan alasan terlalu lama keluar, Sasuke langsung mengumbar senyumannya yang langka.

"Maaf, kami keasikan main sampai lupa waktu!" dengan begitu Sasuke menepati kata-katanya dengan tidak berbohong pada orang tua Sakura. Saat itu untung ayah dan ibu Sakura terus mengira kalau Sasuke seperti biasa tidak pernah mau kalah kalau sudah hubungannya dengan Sakura. Paling juga mereka keasikan main PS.

Pagi itu Sasuke mandi dengan meringis. Dia mencoba menengok melihat punggungnya kemudian mendengus kesal.

"Sial! Lain kali akan kupotongi dulu kukunya sebelum mulai," gumamnya menahan perih di punggungnya. Setelah selesai Sasuke keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek, ia mengalungkan handuk di lehernya sambil mengusap rambutnya yang basah dan berjalan ke dapur berniat membuat sarapan untuknya sendiri mengingat kakaknya belum pulang.

Sasuke meneguk susu langsung dari kotaknya dan mulai mengeluarkan dua butir telur dan dua butir tomat dari dalam kulkas. Ia mulai memasukkan potongan tomat kemudian memecahkan telur dan mengocoknya di atas penggorengan, terlalu asik hingga tidak merasakan seseorang yang tengah menatapnya dengan terbengong di belakangnya.

Itachi yang berniat mengagetkan Sasuke terkejut melihat goresan-goresan merah memajang di punggung Sasuke. Memangnya ada yang berani melukai adiknya sampai separah itu ya? Sasuke kan terkenal lumayan kejam juga.

"Siapa yang melukaimu sampai seperti ini Sasuke?"

"HAH! Nii-san!" Sasuke terlonjak mendengar suara kakaknya yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Saat Sasuke berbalik, Itachi langsung terperangah menatap bagian depan tubuh pucat Sasuke yang dihiasi bercak-bercak merah.

"Wow! Aku tidak menyangka adik kecilku sudah besar ya. Jadi, siapa calon adik iparku ini? Bekasnya kelihatan masih baru. Kusuruh kau jaga rumah, apa kau bawa teman buat jaga? Apa dia masih di sini?" goda Itachi nyengir mengabaikan dengusan sebal Sasuke yang segera menumpahkan telur kocoknya ke atas piring.

"Berisik!"

The End