Disclaimer: Saya tidak punya hak atas Saint Seiya: The Lost Canvas, saya hanya punya OC-OC saya dan plot cerita

Author Note: Plot adalah hasil imajinasi sang author sendiri dan lebih banyak menampilkan para Gold Saint dan juga beberapa figure mitologi Mesir dan Yunani

BAB I

-Nefertiti Aions-

Aku menggigil saat merasakan hawa dingin menyelinap masuk dari ambang pintu kuil. Aku menerka-nerka bahwa musim dingin sudah tiba. Suhu di sekitarku terasa jauh lebih dingin dari sebelum-sebelumnya dan baju terusan putih yang kukenakan sama sekali tidak membantuku menghangatkan tubuhku ini. Kedua ujung jari kakiku sudah mulai membiru. Aku tidak berani merendamnya ke dalam mata air di depan Gerbang Horus karena aku yakin udara dingin yang masuk juga akan menurunkan suhu air yang ada di hadapanku ini. Aku hanya bisa menatapi gerbang putih bercorak Mesir dengan lambang Mata Horus itu, melewati hari ini dengan kesunyian sekali lagi.

Kuil yang kutempati kini adalah kuil yang didirikan oleh para Dewan Kehidupan untuk menyegel Apophis, Dewa Kekacauan Mesir. Apophis adalah Dewa dengan wujud ular kobra besar dan jelek. Apophis sebenarnya bukan hanya Dewa Kekacauan, dia adalah Kekacauan itu sendiri. Mahluk yang terus-menerus berseteru dengan Ra sejak mereka diciptakan, sejak mereka menaruh mata terhadap satu sama lain. Beberapa bulan yang lalu ayahku—walaupun jujur aku tidak akan memanggil pria bodoh tak berperasaan itu ayah sekarang—melakukan kesalahan. Ia melepaskan Apophis dari segelnya. Karena kami adalah anak-anaknya kami di paksa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setelah itu, di sinilah aku. Duduk meringkuk di depan gerbang. Tak bisa menghangatkan diri karena kedua tanganku sudah tidak ada, di korbankan untuk menyegel ular besar jelek yang terkurung di balik gerbang di hadapanku ini.

Kuil ini terletak di dekat Region 10, tepatnya di Yunani. Region 10 berada di ujung sebuah desa bernama Rodorio, desa yang dekat dengan sebuah tempat bernama Sanctuary. Aku tidak tahu tempat apa itu, karena aku tidak pernah menginjakkan kaki sekalipun dari tempat ini. Tempat ini telah dirancang supaya aku tidak bisa meninggalkannya. Akan ada kekkai pelindung yang dialiri listrik yang siap menyengatku sampai mampus jika aku cukup berani—atau bodoh—untuk menginjakkan kaki dari sini. Angin berhembus semakin kencang. Aku sedikit berharap ruangan penyegelan ini mempunyai pintu. Kuil ini adalah kuil yang cukup besar dan menjulang tinggi seperti menara. Ruang yang kini kutempati berada pada lantai paling bawah. Sebuah ruang kecil yang bisa kau temukan tepat setelah memasuki pintu masuk. Kau hanya perlu berjalan beberapa langkah saja kecuali jika para Dewan Kehidupan memasang banyak kabut yang bisa menipu matamu maka karu hanya akan berjalan terputar-putar tanpa tahu kemana kau harus pergi. Ada tangga di sebelah ruangan ini yang bisa mengantarmu ke kamar tempat aku tidur. Haya kamar kecil yang luas dan menyeramkan yang hanya diisi oleh tempat tidur kecil dengan seprai dan selimut putih, biasanya aku lebih memilih untuk tidur di depan gerbang karena kamar di lantai atas terlihat sangat menakutkan dan aku takut kalau-kalau ada hantu yang muncul entah dari mana.

Aku mendesah dan memikirkan cara untuk menjaga agar tubuhku tetap hangat. Biasanya orang menggosok-gosokkan tangan mereka lalu meniupnya untuk menghangatkan diri, namun aku sudah tidak punya tangan. Aku melihat napasku yang berwarna putih karena udara dingin lalu aku berdiri, memutuskan bahwa duduk di sini memandangi gerbang adalah hal yang sangat membosankan dan aku butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatianku dari udara dingin. Aku berhenti sejenak untuk memastikan apakah aman meninggalkan gerbang itu sebelum sadar bahwa aku tidak bisa keluar kuil dan hanya akan duduk menyedihkan di ambang pintu kuil menatap orang-orang yang berlalu-lalang. Aku melangkah keluar ruangan kecil itu, berjalan mendekati ambang pintu keluar kuil dan duduk tepat di garis yang membatasiku dengan dunia luar. Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Hanya beberapa saja yang benar-benar melewati kuil ini. Seperti yang kubilang, kuil ini terletak di ujung desa Rodorio, yang berarti kuil ini bersebelahan dengan hutan. Hutan dan desa hanya di batasi oleh pagar pendek yang sama sekali tidak dialiri listrik, menandakan hutan itu cukup aman untuk dimasuki, walaupun aku yakin jauh di dalam sana banyak binatang buas yang menunggu mangsanya. Orang-orang yang lewat biasanya mereka yang bekerja sebagai penebang kayu atau pemburu yang akan pulang sambil menyeret binatang malang yang baru mereka bunuh.

Aku memandangi mereka dan mereka tampak tak menggubris kehadiranku. Itu wajar, tabir penghalang ini memang sengaja di buat untuk menyembunyikan keberadaanku dari orang-orang awam. Memastikan aku tidak akan pernah mengadakan kontak dengan mahluk hidup lain selain Dewan Kehidupan dan itu membuat kehidupanku tambah menyedihkan. Orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikanku dan aku hanya duduk memperhatikan mereka, melupakan betapa dinginnya udara hanya dengan kegiatan sederhana ini. Kota-kota telah di tutupi oleh serbuk putih yang berjatuhan dari tanah. Salju. Menutupi atap-atap rumah dan jalanan dengan warna putih dan bekas jejak kaki orang-orang terpijak secara acak di atas tumpukan salju itu. Dengan bosan aku mencondongkan wajahku ke depan. Seketika itu juga kejutan listrik menyambar hidungku, aku memekik kaget dan segera menjauh. Hidungku terasa nyeri karena serangan mendadak barusan. Sepertinya mereka memang tidak main-main saat memasang pelindung berarus listrik ini.

Aku kembali termenung menatap keluar. Kalau dipikir-pikir, apa yang kualami kini bukanlah hal yang sepantasnya didapatkan oleh anak berumur 7 tahun sepertiku, yang seharusnya bebas bermain-main bersama kawan-kawannya. Mungkin tanpa sengaja memecahkan jendela tetangga atau semacamnya bukannya menetap di kuil aneh, terpisah dari dunia luar dan menjaga sumber Kekacauan di muka bumi ini. Aku menyandarkan kepalaku pada tembok di sebelah kananku, tidak menghiraukan perutku yang sudah protes ingin makan. Sekarang belum waktunya makan dan petugas dari Region 10 tidak akan membawakan makanan sebelum jam 12, jadi yang bisa kulakukan adalah membiarkan perutku keroncongan untuk beberapa jam lagi. Para penyihir dari Region 10 jauh lebih baik dan murah hati dibandingkan penyihir Region 1. Setidaknya mereka membawakan makanan yang bisa mengenyangkan perutku.

Rasa kantuk mulai menguasaiku. Mungkin karena tubuhku tidak menemukan satu halpun yang bisa dilakukan atau mungkin tanpa sadar tubuhku merasa lelah karena kedinginan atau semacamnya. Kelopak mataku mulai terasa berat dan aku sempat berpikir untuk berdiri dan berjalan ke lantai dua, karena walaupun kamar itu jelek dan menyeramkan, itu satu-satunya tempat di mana aku bisa meringkuk di balik selimut, namun tubuhku tak mau menuruti kata-kataku. Perlahan kurasakan kelopak mataku mulai menutup sepenuhnya, memisahkan warna-warna putih itu dari pandanganku dan menggantikannya dengan kegelapan pekat.

"Hei, kau bisa sakit kalau tidur di sini."

Aku tersadar sepenuhnya saat suara seseorang memasuki telingaku. Apa orang itu berbicara padaku? Aku membuka matanya dan menemukan diriku berhadapan dengan iris berwarna biru. Seorang anak laki-laki berdiri di hadapanku. Ia tinggi, mungkin jauh lebih tinggi dariku yang bertubuh kecil dan kurus ini. Rambutnya berwarna cokelat muda dan agak jabrik. Ia mengenakan pakaian berwarna putih dengan pelindung dada dan bahu. Ia menatap lurus ke arahku. Ya, ke arahku. Mendadak aku jadi was-was. Tidak ada orang yang bisa melihat menembus pelindung kuil kecuali para penyihir atau anggota Dewan Kehidupan dalam hati aku berharap bahwa anak ini hanya penasaran dengan kuil tinggi aneh ini dan hanya mengecek apa kuil ini berpenghuni atau tidak. Aku menatapnya lurus-lurus dan melakukan hal terbodoh yang pernah kulakukan.

"Apa... apa kau berbicara padaku?"

"Tentu saja aku bicara padamu."

Dan hanya dengan jawaban itu anak itu terpental beberapa meter dari hadapanku. Aku tahu kini iris mataku telah berubah warna menjadi emas dan memang itu mauku. Ini gawat, ini seharusnya tidak terjadi. Seharusnya tidak ada orang yang bisa melihatku lebih-lebih lagi berbicara padaku. Kalau para Dewan Kehidupan sampai tahu—apa yang akan mereka lakkan? Apakah mereka akan membunuhku? Atau lebih buruk lagi apakah mereka akan memintaku mengorbankan sesuatu yang lain? Kakiku mungkin? Atau mungkin mereka akan membunuhku dan Nefertari? Kemungkinan-kemungkinan itu berputar di kepalaku, membuatku benar-benar kalang kabut sekarang. Harusnya aku tidak berbicara. Harusnya kubiarkan saja anak laki-laki itu berbicara sendiri seperti orang sinting bukannya membiarkan rasa penasaranku terlihat seenaknya. Aku mendengar bunyi barang-barang berjatuhan. Aku melihat anak itu dan ternyata aku melemparnya cukup jauh sehingga ia terlempar dan menabrak tong-tong besi di dekat situ. Aku cepat-cepat berdiri dari tempatku duduk dan menjauh beberapa langkah kalau-kalau selain bisa melihatku anak itu juga bisa berjalan masuk ke dalam kuil ini yang berarti sesuatu yang lebih buruk dari kematian akan menghampiriku.

"Sisyphus! Kau baik-baik saja!?"

Aku menoleh ke asal suara baru itu. Dua orang anak—mungkin sebaya dengan anak malang tadi—berlari menghampiri anak yang kulempar barusan. Salah satunya memiliki rambut berwarna biru seperti warna langit malam dan agak jabrik, lebih panjang dari anak berambut cokelat itu. Sedangkan yang satunya bertubuh besar dan beroto, rambutnya agak panjang dan berwarna putih. Oh hebat. Tiga orang? Aku benar-benar akan mati.

"Aku baik-baik saja—aduh..." Kulihat anak berambut cokelat itu meringis dan memegangi kepalanya. Aku berharap dia tidak menderita gegar otak atau amnesia karena kulempar tadi. Aku tak bermaksud menyakitinya, sungguh, aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri dan juga aku melakukan itu karena reflex dan terkejut. Ketiga anak itu kini menatap ke arahku. Aku tidak bisa mengartikan tatapan mereka, tapi aku tahu tatapan itu tidak berarti bahwa mereka akan membalas perbuatanku. Mungkin mereka sadar bahwa aku melakukannya tanpa sengaja—sedikit ada faktor sengaja tentu saja tapi setidaknya mereka bisa melihat gadis kecil bertubuh kerempeng sepertiku tidak punya niat untuk melukai mereka. Napasku terengah-engah karena takut jadi tanpa menunggu lagi, aku mundur dan pintu kuil yang selalu terbuka itu kututup rapat-rapat dengan kekuatanku. Baiklah, sebenarnya ini tidak boleh tapi mau bagaimana lagi? Sekali lagi, aku panik dan baru saja melakukan hal yang tidak boleh kulakukan.

Melakukan kontak dengan orang lain.


"Nefertiti, apa kau baik-baik saja?"

Aku mengaduk-aduk sup yang dibawakan Teo. Teo adalah seorang pria paruh baya dengan rambut cokelat perunggu panjang menutupi punggungnya. Ia tinggi, tegap tapi tidak begitu berotot. Kedua matanya berwarna biru kelabu seperti langit yang tertutup awan, kalau mau jujur matanya lebih terlihat seperti warna abu ketimbang biru, tapi kau masih bisa melihat secercah warna biru di sana. Teo adalah kenalan lama ibuku—ibu angkatku dan kini ia menjadi wali asuhku sejak aku kehilangan kedua orang tuaku. Aku tidak nyaman memanggilnya ayah karena wajahnya kelihatan sangat muda seperti remaja berumur belasan tahun karena itulah aku memanggilnya hanya dengan nama, Teo sendiri bilang dia lebih suka begitu. Aku tidak tahu jelas apa pekerjaan Teo namun ia pernah bercerita dia hanyalah seorang pengembara yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain, juga seorang ahli pedang dan ia biasa mempertontonkan seni pertunjukan – apapun itu – dengan teknik pedang yang dimilikinya. Aku tidak berselera makan. Nafsu makanku hilang karena kejadian barusan dan kepalaku tak henti-hentinya memutar kejadian barusan.

"Aku baik-baik saja."Kataku. Aku tahu nada suaraku tak begitu meyakinkan bahkan orang yang pendengarannya normal saja bisa mengetahui hal itu, apalagi orang yang mempunyai pendengaran tajam macam Teo namun Teo tidak mengatakan apa-apa dan membiarkanku terus mengaduk-aduk sup itu tanpa ada sedikit pun gerakan yang menunjukan bahwa aku akan memakan sup itu sebentar lagi. Aura emas yang terlihat seperti kabut itu menari-nari di tangkai sendok, mengaduk sup itu untukku. Salah satu dari sedikit kekuatan yang kupunya, Telekinesis: Kekuatan untuk menggerakkan benda dengan pikiran.

"Kau tahu, sup itu mahal." Katanya sambil memakan rotinya.

"Kau mendapatkannya dengan gratis." Protesku.

"Ya, tapi hargai Region 10 yang membeli bahannya dan memasak sup ini untukmu."

Dan aku kalah telak. Teo selalu bisa memenangkan argumen apapun denganku atau Nefertari. Namun pekertaannya memang benar. Para penyihir Region 10 bersikap begitu baik padaku dan memberikanku makanan yang lezat dan selalu mengenyangkan perutku padahal kalau mau jujur mereka tidak diharuskan bersikap baik padaku karena aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah orang asing entah dari keluarga mana yang dibuang di depan pintu rumah keluarga Aions di Region 1 bersama saudara kembarku Nefertari.

"Bagaimana keadaan Region 10?"

Region 10 adalah Region tempat tinggal para penyihir Mesir yang bermukim di Yunani, atau mereka yang lahir di Yunani. Biasanya para penyihir Region 10 tidak terlalu disukai oleh penyihir Region lain karena mereka takut pada dewa padahal dewa-dewa seharusnya di lawan dan di tangkap. Sejarah para keturunan Firaun dulu tidak begitu baik dan mereka menyalahkan para Dewa untuk itu, memburu para Dewa dan melemparkan mereka ke dalam Duat: Alam kematian bagi para kaum Mesir Kuno, tempat Osiris bermukim. Para penyihir Region 10 kebanyakan mempunyai darah Yunani yang mengalir dalam pembuluh darah mereka karena itulah mereka takut pada Dewa, baik Dewa Mesir maupun Dewa Yunani. Mereka menghormati Dewa dan percaya bahwa para Dewa hanya mencoba menjaga keseimbangan dunia. Fakta inilah yang membuat Region 10 menjadi Region yang jarang diikutsertakan dalam pertemuan apapun, biasanya mereka mengirimkan kucing kurir atau elang kurir jika mereka cukup bermurah hati, karena kucing kurir mengantarkan surat dapat memakan waktu berbulan-bulan.

"Seperti biasa. Eirene menitipkan ini untukmu." Teo memberikanku sebuah kain tebal yang terlihat hangat. Aku langsung bisa menebak kain ini buatan Eirene. Eirene adalah tukang jahit paling handal di Region 10. Apapun yang dibuatnya pasti selalu menjadi kain terindah yang pernah kulihat. Kadang aku tak bisa membayangkan sihir apa yang dimiliki tangan tua keriput itu.

"Untukku saja?"

Teo tersenyum. "Aku sudah memberikan milik Nefertari."

Oh. Aku senang aku tak perlu bertanya panjang lebar. Teo selalu tahu apapun yang mau kutanyakan sebelum aku benar-benar menanyakannya padanya. Ia tahu aku tidak akan mengambil selimut hangat ini jika adikku yang berada di Mesir sana tidak mendapatkan hal yang sama. Aku mengucapkan terima kasih dan aura keemasan menggerakkan selimut itu dan membuat benda tebal itu menyelimuti tubuhku.

"Kurasa aku harus meminta seseorang membuatkan lengan porstetik buatmu." Kata Teo.

"Lengan porstetik?" Tanyaku, karena kata-kata itu terdengar asing di lidah dan telingaku.

"Lengan buatan. Kau tidak bisa terus menerus menggunakan kekuatanmu, kau akan cepat lelah."

Aku meng-oh kan kata-katanya. Itu memang benar. Aku tidak bisa terus-terusan menggunakan kekuatanku. Walaupun praktis, kekuatan ini memakan banyak tenaga apalagi aku masih kecil dan lebih cepat lelah. Bisa gawat jika aku ketiduran sebelum waktunya tidur. Aku tidak mau dicambuki atau dipukul tiap kali para Anggota dan Lektor Dewan Kehidupan datang dan memeriksa apakah aku benar-benar menjalankan tugasku atau tidak.

"Itu ide yang bagus. Tapi siapa yang mau membuatkannya?"

Aku tahu Region 10 tidak pernah keberatan melakukan sesuatu untukku dan adik kembarku, tetapi Region 10 bukkan Region yang penuh dengan sumber daya yang melimpah. Walaupun hidup mereka berkecukupan mereka bukanlah Region yang kaya. Aku ragu mereka memiliki bahan-bahan untuk membuat tangan porstetik.

"Oh, aku kenal seseorang yang bersedia membuatkannya."

Aku hanya mengangguk pelan. Teo selalu punya kenalan misterius yang bersedia melakukan apapun untuknya. Jika apa yang ia minta terlalu mustahil untuk dikerjakan Region 10, ia akan mendatangi "seseorang" ini dan permintaannya pasti selalu dipenuhi. Aku menatap mangkukku yang sudah kosong dan bersih. Sup itu sama sekali tak berasa apa-apa dilidahku atau mungkin aku saja yang tidak terlalu perduli dengan rasanya namun sup itu berhasil menghangatkan tubuhku walau hanya sedikit saja.

"Terima kasih untuk makan malamnya." Kataku. Teo tersenyum dan mengambil mangkuk itu. Mengucapkan selamat malam dan mengusap rambutku dan mencium keningku sebelum meninggalkan kuil dan aku kembali meringkuk sendirian. Suasana kuil ini menjadi jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya dan angin dingin masih saja menyapa lewat celah bawah pintu gerbang. Walaupun hanya sedikit angin itu cukup untuk membuatku menggigil dan kembali merapatkan selimut hangat buatan Eirene ke tubuhku. Aku ingin tidur di kamar atas. Sungguh, namun aku tidak mau mengambil resiko. Kemungkinan-kemungkinan buruk selalu terjadi. Bagaimana kalau saat aku tidak terjaga atau jika aku tidur meringkuk dalam selimut di atas sana segelnya tiba-tiba terlepas? Bagaimana kalau Apophis keluar dari gerbang itu dan menghancurkan dunia? Semua kemungkinan buruk itu cukup untuk membuatku tak sanggup beranjak dari tempatku sekarang lagipula selimut ini cukup hangat dan aku yakin aku tidak akan sakit jika aku tertidur di sini. Aku sudah terbiasa tidur di atas tanah yang dingin dan berbatu ini jadi tidak apa-apa. Ruangan ini adalah satu-satunya ruangan tanpa ubin. Aku tidak mengerti kenapa di rancang seperti ini tapi aku hanya bertugas jaga, tidak kurang dan tidak lebih.

Pikiranku kembali melayang ke kejadian pagi ini. Aku memang panik tadi pagi, tapi aku tak bermaksud melukainya. Apa kepalanya memar? Atau berdarah? Mendadak aku dipenuhi rasa bersalah. Bagaimanapun kalau dia bisa melihat menembus pelindung kuil itu bukan salahnya. Dia tidak salah apa-apa, mungkin dia hanya penasaran dan khawatir saja padaku. Aku menggigit bibirku. Sudah terlambat untuk minta maaf padanya. Aku tahu salah untuk berpikir begini. Tapi kalau besok ia datang lagi – yang sepertinya tidak mungkin – aku harus minta maaf padanya.

To be continued...


Pojok Author:
All: Rewrite lagi? =_=
Gianti: Gara2 timeline doang TTvTT Kalau bukan karena timeline plot yang kemarin dah perfect! Banget malah! TTATT *nangis di pojokan*
All: Menyedihkan =_=;
Gianti: Etto, maafkan saya atas ketidaknyamanan ini, tapi plot yang kali ini dan sebelumnya kurang lebih sama... mungkin #plak timeline nya saja yang diubah dan mungkin chapternya akan lebih panjang daripada sbelumnya (karena sebelumnya harusnya hanya 10 chapter) dan saya mengganti nama Odette dan Sonette menjadi Nefertiti dan Nefertari. Status mereka masih sama kok. Penyihir Mesir ^_^ Itu saja alasan saya yang benar-benar tidak elit ini. Semoga pembaca sekalian masih bersedia memberikan saya review TTvTT

Thank you for Reading

Tolong maafkan jika ada kesalahan pengetikan