Gerbang kediaman Hyuuga dibuka dengan pengaturan mesin di dalam bilik kecil yang dihuni dua orang petugas keamanan. Mereka menilik siapa yang datang. Senyum tipis merekah. Bungkukan hormat diberikan secara cuma-cuma begitu tahu siapa yang datang.

"Selamat pagi, Uchiha-sama."

"Hn."

Pemuda yang disapa tersenyum tipis. Ia melajukan mobilnya ke halaman rumah yang luas itu dan berhenti. Ia keluar dari mobil dan segera disapa beberapa pelayan yang datang dengan tergopoh-gopoh.

"Selamat pagi, Uchiha-sama. Hinata-sama ada di dalam, silakan masuk."

Pemuda itu tersenyum. Senyumannya membuat para pelayan merasa senang, betapa beruntungnya nona besar mereka memiliki pemuda yang tampan dan baik hati ini. Mereka menuntun pemuda tinggi dengan mata hitam itu menuju kediaman keluarga besar Hyuuga. Tampak di dalam sana, dua orang gadis tengah duduk sambil menyeruput teh. Pakaian mereka sama, yang membedakan hanyalah garis kerah, yang satu berwarna hijau dan satu lagi berwarna merah. Iris mata mereka berwarna nyaris sama, lavender pucat, namun rambut mereka berbeda warna. Indigo dan coklat.

Gadis berambut coklat dengan seragam bergaris merah mendengus karena pendengarannya sedikit terusik dengan keributan di luar. "Hinata, dia datang," desisnya tidak suka.

Gadis yang dipanggilnya menoleh dan mengangguk, rambut indigonya disibak ke belakang. "Jangan ketus seperti itu, Hanabi."

"Dia tidak sadar mana yang benar dan mana yang buruk. Tidak tahu bersyukur," lanjut Hanabi dengan ketus.

Hinata meletakkan jari telunjuk di depan mulut, "Shh, itu tidak sopan, Hanabi."

Adiknya mendecak. Kakaknya yang memiliki sifat ibunya itu terlalu lembut pada siapa pun.

"Hime."

Hinata menoleh dengan senyum. "Pagi, Sasuke-kun."

Senyumnya timbul, "Ayo berangkat."

Diam-diam Hanabi mendecih, mengabaikan lirikan heran pemuda itu.

"Ya."

Hanabi masih memperhatikan sosok kakaknya menghilang di balik pintu bersama tunangannya. Hanabi bahkan jijik untuk mempertimbangkan pemuda itu sebagai tunangan kakaknya. Ia meletakkan cangkir yang isinya sudah dingin. Matanya menyorot tajam mobil yang telah melaju dari kediamannya. "Hinata, kau terlalu baik hati. Kau mau saja dipermainkan olehnya."

"Hanabi-sama, saatnya berangkat," seorang supir keluarga Hyuuga menghampiri Hanabi. Ia menghela napas dan mengambil tasnya.

"Ya."

Hinata berjalan beriringan dengan Sasuke. Hening. Hinata tahu Sasuke tidak suka jika ia berbicara padanya. Hinata menelan rasa sakit hati dengan senyum tipis. Pemuda itu bahkan langsung melepaskan pegangan tangannya saat mereka telah berada di halaman. Semuanya hanyalah alibi semata.

Pintu mobil dibuka. "Masuk." Suaranya dingin. Hinata masuk dan memilih memerhatikan jendela. Pemuda itu masuk beberapa saat kemudian. Sasuke benci dipandang olehnya. Ia tahu jelas. Sampai di gerbang berwarna keperakan, Hinata turun dari mobil tunangannya tanpa ucapan perpisahan apa pun, Hinata pun tak berharap banyak.

"A-aku duluan, Sasuke-kun," ucap Hinata, sebatas formalitas. Pemuda itu bahkan tak meresponnya. Mobil melaju menuju parkiran. Hinata berjalan sendirian menuju gedung sekolah. Ia tak mu memandang ke belakang, apalagi saat mendapati sesosok gadis berlari melaluinya. Ia tahu pasti ke mana gadis itu pergi.

"Ohayou, Sasuke-kun!"

"Sakura? Ohayou."

"Hei, hei, kau tahu—"

Sasuke tersenyum lembut. Senyum yang tak akan pernah didapatkan Hinata meskipun ia berusaha keras. Hinata menelan semua kepahitan ini. Tunanganmu selingkuh di depan matamu, ya, oleh karena itu Hinata tidak akan berbalik dan tetap mempertahankan keadaan ini.

Meskipun nantinya dia yang akan hancur berkeping-keping dan hilang dari hadapan sang Uchiha.

.

.

.

Catch My Breath © Eternal Dream Chowz

Naruto © Masashi Kishimoto

[Catch My Breath by Kelly Clarkson]

Pairing: Sasuke U. x Hinata H.

Rate: T+

Genre: Romance, Angst

Warning: Typo(s), Alternate universe, Out of Characters,

|Soundtrack tambahan: GUMI - Sorry to You|

A/N: Maaf kalau ada mode cerita yang sama saya sedang mood buat yang begini TT^TT, no offense buat fans Sakura ya, remember, it's just a fiction :) yang kampret di sini Sasuke kok jadi hina dia aja *tim bully Sasuke*

.

.

.

Sasuke mengusap kepala kekasihnya dengan lembut. Gadis Haruno itu tersipu.

Mereke berdua tengah berjalan bersama. Mereka berdua sekelas namun tidak dengan Hinata. Sasuke sungguh mensyukuri hal itu. Setidaknya ia tak akan pernah mendapat gangguan dari gadis menyebalkan itu selama berada di kelas.

"Ne, ne, Sasuke-kun, kenapa kau selalu berangkat dengan Hyuuga-san?" tanya Sakura sambil memainkan ujung rambutnya.

"Hm. Bisnis," jawab Sasuke dengan senyum tipis. Ia tak akan pernah memberitahu gadis kesayangannya kalau ia bertunangan dengan gadis naif itu. Tidak akan pernah.

"Oh—" gadis itu tampak ragu namun tetap melanjutkan ucapannya, "aku pikir kau ditunangkan dengannya." Senyumnya memudar.

Wajah pemuda itu mengeras.

"Siapa yang mengatakannya?"

Sakura menggeleng, "Tidak. Aku percaya padamu."

Sasuke tersenyum tipis namun dalam hati ia memaki. Apakah gadis Hyuuga itu berani mengumbar masalah itu? Dasar jalang. Sasuke pasti akan menolak pertunangan ini kalau saja keluarganya tidak membutuhkan suntikan dana untuk mempertahankan bisnis keluarga. Ya, segera setelah bisnis keluarganya bisa mandiri, secepat itu pula Sasuke akan memutuskan hubungannya dengan gadis bodoh itu.

Secepatnya.

"Sasuke-kun?"

"Ya?"

"Mau ke rumah dan makan siang bersama?" tanyanya ragu-ragu.

Pemuda itu tersenyum, "Baiklah."

Gadis itu tertawa lembut saat pemuda berambut gelap itu merengkuhnya.

Biarlah Hyuuga Hinata pulang sendirian nanti, gadis itu tak akan berani mengeluh padanya, pikir Sasuke sambil tersenyum sinis.

Di kelasnya sendiri, Hinata duduk bersama teman-temannya, Shino, Neji dan Tenten. Ketiganya cemberut saat mendapati pemuda Uchiha dengan gadis Haruno itu melewati kelas mereka sambil bersenda gurau. Ketiganya beralih memelototi Hinata. Gadis Hyuuga itu tersenyum lembut, "Ada apa?"

Tenten mendengus keras-keras, ia mulai berbisik pelan, tahu benar ini privasi, "Neji bilang padaku kau ditunangkan dengan pemuda sialan itu."

Shino dan Kiba mengangguk bersamaan. Hinata memainkan kedua jarinya, "Ya, aku tahu apa yang aku lakukan."

"Kau bodoh, Hinata," cerca Kiba secara langsung. Bukannya dia sengaja memarahi temannya namun ia cukup kesal melihat temannya dipermainkan. Itu tanda dia menyayangi temannya. Hinata terkikik. Shino tak berkomentar banyak. Ia sepenuhnya percaya pada apa yang sedang dilakukan Hinata.

"Jangan beritahu siapa pun, aku mohon," ucap Hinata perlahan sambil kembali menorehkan tulisan tangannya di atas buku tulis.

Ketiga temannya saling berpandangan dan akhirnya mengangguk. Tenten mengetuk kepalanya ringan, Hinata mendongak, "Aku akan melapor pada Neji kalau aku tidak tahan lagi."

Hinata tertawa ringan. Ia tahu temannya tidak akan melakukan hal itu. "Baiklah. PR Fisika kalian sudah selesai?"

"EH?!" Kiba dan Tenten serempak berteriak. Shino mengangguk.

"Kenapa kalian tidak bilang ada PR?!"

"Duh, istirahat tinggal lima menit lagi! Shino, biarkan aku menyontek!"

Dan Hinata tertawa. Ya … dia bahagia dengan keadaan ini. Mungkin.

.

.

.

Sudah hampir setengah jam Hinata menunggu di depan gerbang sekolah. Hinata tahu Sasuke biasanya ketus dan dingin namun ini pertama kalinya Sasuke membuatnya menunggu terlalu lama untuk diantar pulang. Dan langit yang mendung membuat Hinata sadar bahwa ia seharusnya menerima ajakan sahabatnya untuk pulang bersama sejak tadi. Hinata menggeleng. Mungkin Sasuke ada urusan sehingga terlambat—atau dia ada urusan dengan gadis dari keluarga Haruno itu? Hinata tertawa pahit. Hinata memutar badannya. Berjalan pulang mungkin akan jadi pengalaman menarik.

Namun langit tak setuju membuat Hinata sedikit senang. Guyuran air dalam volume sedang mulai menitik dari langit. Hinata tahu di sekitar sini tak ada tempat berteduh jadi ia tetap berjalan. Berjalan dan berjalan. Sampai air matanya yang mulai menetes membaur dengan air hujan.

"Sasuke-kun," lirihnya dengan suara mengecil.

Apakah dirinya terlalu tidak berharga bagi Sasuke? Ya, mengharapkan untuk dicintai itu memang sulit.

Suara klakson di belakang sana mengejutkan Hinata. Ia berbalik, berharap Sasuke yang datang, namun ia kenal benar mobil keluarganya yang ada di belakang sana. Adiknya keluar dari mobil dengan tergesa, "Hinata, apa yang kau lakukan?!"

"Hanabi …"

Dengan satu payung hitam, Hanabi memberikan kakaknya perlindungan dari guyuran air hujan yang makin lebat. Ia membawa kakaknya masuk ke mobil, mengabaikan jok mobil yang mulai basah karena tubuh kakaknya yang dibasahi air hujan entah berapa lama. Handuk-handuk tebal yang disediakan di dalam mobil diambil Hanabi dengan buru-buru. Ia mengambil dua untuk mengeringkan tubuh kakaknya dan satu lagi untuk membungkus tubuh kakaknya agar lebih hangat. Ia memerintahkan Hinata melepas blazer dan kemeja, digantikan dengan jaket yang biasa ia bawa dari rumah. Supir keluarga mereka juga memandang Hinata dengan prihatin. Mobil mereka masih melaju di tengah hujan.

"Apa yang kau lakukan, hah?" ulang Hanabi dengan wajah sebal.

Lihat kakaknya. Tubuh basah dan gemetar. Wajah memucat, mata memerah dan bibir membiru. Hinata belum menjawab dan Hanabi tahu benar apa jawabannya.

"Jangan bilang padaku kau ditinggalkan oleh bajingan itu."

Hinata menggeleng. "Jangan ucapkan kata-kata seperti itu. Aku ingin pulang sendiri hari ini."

"Omong kosong. Jangan membohongiku, Hinata."

"A-aku tidak bohong."

Hinata menggigit bibir bawahnya. Ia harus tegar. Adiknya masih menatapnya dengan tidak percaya lantas menghela napas. Kakaknya yang keras kepala ini sungguh sulit diajak bicara sekarang. Tangannya beralih menuju puncak kepala Hinata dan ia mulai mengusap rambut kakaknya yang basah.

"Kau pembohong yang buruk, Hinata."

"H-hanabi … a-aku—"

Dan di saat itu juga tangis Hinata pecah.

"Hinata, sebaiknya kau akhiri saja."

Hinata menggeleng cepat. Senyum hangat ia kembangkan di bibirnya. "Terima kasih Hanabi—" wajah Hanabi sedikit berharap, "tapi tidak."

Adiknya kembali cemberut. "Yang pasti jangan datang padaku kalau kau menangis lagi."

Hinata tersenyum sendu. Adiknya mendengus, "Jangan lihat aku dengan tampang itu. Ya, kau boleh curhat. Perlu aku pinjamkan bahuku lagi?"

Hinata tertawa, ia tahu benar adiknya akan selalu menyayanginya.

Berbeda dengan pemuda yang selalu emngabaikan eksistensi dan perasaannya.

.

.

.

Sasuke memandang hujan yang mengguyur kota tempat tinggalnya. Mereka tengah berada di kafe yang disukai Sakura. Tempat Sasuke meminta sang gadis musim semi menjadi kekasihnya dulu. Sakura tengah menikmati sepotong kue dengan kadar gula yang banyak. Sasuke mengernyit melihatnya, ia tidak suka makanan manis. Tatapannya kembali pada hujan yang makin deras.

"Hinata," desisnya ringan.

"Sasuke? Apa yang kau ucapkan?" tanya gadis yang duduk di sampingnya itu. Gelegar petir dan suara guyuran hujan membuatnya hanya bisa mendengar samar-samar.

"Bukan apa-apa."

Ia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia mengingat gadis itu di saat ia sedang bersama kekasihnya.

Gadis itu tersenyum, "Aku senang Sasuke-kun selalu bersamaku."

Sasuke balas tersenyum, ia mengacak rambut gadis itu.

Gadis dari keluarga yang mengelola bisnis bidang kesehatan itu selalu tahu cara membuatnya lepas dari rasa formal yang diterapkan keluarganya. Ia sempat mengatakan pada ayahnya agar ditunangkan dengan gadis yang ada di dengannya ini namun ayahnya dengan seenaknya membuatnya terikat dengan gadis Hyuuga yang mengesalkan itu.

"—suke-kun?"

Sasuke menoleh. Sial. Mengapa ia mesti memikirkan seluruh masalah keparat itu?

"Habiskan kuemu, Sakura."

Gadis itu tersenyum. Ia sangat suka pemuda di sampingnya perhatian padanya.

"Sasuke-kun, aku tidak bisa membayangkan kau dekat dengan gadis lain. Sungguh."

Sakura tertawa ringan. Sasuke tersenyum memperhatikannya, "Tentu saja. Aku tak akan berpaling darimu."

"Sasuke, ponselmu," ucap Sakura sambil menunjuk ponsel hitam metalik yang bergetar di atas meja.

Sasuke mendengus. Matanya menangkap sepasang kata yang memuakkan. Keluarga Hyuuga. Pasti ada masalah dengan gadis sialan itu. Ia memutuskan untuk mengangkatnya dan meninggalkan Sakura sejenak.

'Halo. Dengan Uchiha Sasuke?'

Sasuke kenal benar suara itu. Adik Hinata, Hyuuga Hanabi. Berbeda dengan kakaknya yang mudah ditekan dan lemah, adiknya lebih kuat dan berjiwa pemberontak. Ia memutar matanya, ini akan jadi percakapan yang tidak menyenangkan.

"Ya. Ini aku, ada apa Hanabi?"

Sasuke menggeser tubuhnya saat beberapa pelayan mengucapkan kata permisi untuk melewati koridor tempat Sasuke berdiri. Ia mendecak sedikit.

'Cih, jangan banyak bicara. Langsung saja, apa maksudmu membiarkan kakakku diguyur hujan sampai demam huh?'

Sasuke mendengus. Gadis itu lebih keparat dari biasanya. Ia membenarkan intonasi bicaranya.

"Maaf, aku ada rapat dan tidak sempat memberitahu Hinata. Apakah Hinata baik-baik saja? Aku akan segera ke sana."

'Tidak usah. Jangan datang. Menjauh dari kakakku.'

Sasuke menyeringai. Siapa bocah ini berani memerintahnya?

"Tidak. Hinata milikku."

Spontan. Sasuke tahu itu ucapan spontan yang terucap tanpa sengaja.

'Kakakku bukan mainan. Sebaiknya kau menjauh sebelum kau yang terluka dan menyesal nantinya.'

Sambungan diputus dan Sasuke sepenuhnya bingung. Dia yang akan terluka? Hah, jangan harap! Gadis dungu itu yang akan ia buat menyesal.

.

.

.

"Ne, Hanabi, kau menelepon siapa?"

"Teman sekelas, Hinata. Tidurlah. Suhu badanmu masih panas." Hanabi berbohong dan ia tahu Hinata akan mempercayainya. Setidaknya ekspresinya tidak bisa dibaca semudah membaca buku cerita anak TK.

Hanabi sangat terkejut saat kakaknya jatuh lemas saat berjalan menuju rumah saat mereka tiba tadi. Dahinya panas. Dan sialnya … kakaknya masih sempat menyebut nama pemuda brengsek itu dalam tidurnya.

Pemuda sialan.

"Terima kasih, Hanabi. Apakah Ayah sudah pulang?"

Hanabi menggeleng. "Sebentar lagi. Aku harap kau punya alasan bagus untuk membuat Ayah percaya. Aku tak akan mengatakan apa pun pada Ayah, tenang saja."

Hinata tersenyum, adiknya sungguh pengertian. Tapi Hanabi memandang kakaknya dengan tatapan marah. Bukan marah pada kakaknya tapi pada pemuda itu. Jangan pikir ia bodoh dengan percaya saja pada pemuda itu bahwa ia sedang rapat. Nyatanya Hanabi mendengar terlalu jelas suara pelayan yang mengatakan "Permisi, Tuan.". Dan jangan lupakan nada suaranya yang membuat Hanabi muak.

Oh, Hanabi menyeringai, kalau pemuda itu sempat membuat Hinata sakit lagi, ia tak akan segan menghancurkan pemuda itu dengan segenap kekuatannya sebagai adik Hyuuga Hinata.

Pintu kamar Hinata berderit. Ayah mereka, Hyuuga Hiashi, ada di sana. Berdiri dengan tatapan menyelidik. Hanabi menghambur padanya.

"Ayah!"

"Hanabi, kau sudah mulai berat. Ayah bisa jatuh kalau kau minta digendong," canda ayahnya. Hanabi mengerucutkan bibir. "Ayah sibuk?"

Hiashi mengangguk dan menatap Hinata. Ia mendekati kasur tempat putrinya terbaring dengan senyum tipis. "Maaf, Ayah."

Hiashi menggeleng. Tangannya menyentuh dahi anaknya, "Kenapa kau berjalan di tengah Hujan, Hinata? Mana Sasuke?"

Hinata tersenyum tipis, "Kelihatannya dia ada rapat, Ayah. Dan aku rasa berjalan tidak akan jadi masalah besar. Mulai besok aku akan pergi dengan Hanabi kok."

Hiashi mengangguk, "Kau anak Ayah yang berharga, kau dan Hanabi harus bahagia, itu janji Ayah pada ibumu."

Hinata mengangguk. Ia benar-benar bersyukur memiliki keluarga dan teman yang menyayanginya. Tapi Ibu, apakah Hinata benar-benar bahagia saat ini? Tangis Hinata membasahi kemeja Hiashi saat pria itu memeluk anak sulungnya.

Di belakang sana, Hanabi menyelinap dari sudut pintu dan menemui seseorang yang sangat ia kenal.

"Neji-nii! Kau datang bersama Ayah?"

"Ya. Aku dengar dari Paman kalau Hinata sakit."

Wajah Hanabi berubah.

"Neji-nii …"

"Ya?"

"Bisa bantu aku?"

Neji mengerutkan dahinya. "Membantu apa?"

Hanabi menarik ujung jaket kakak sepupunya, "Aku akan cerita lewat e-mail. Jangan beritahu Hinata, ini demi kebaikannya."

Wajah Neji mengeras, "Apa yang terjadi?"

Hanabi panik seketika, "Nanti kuceritakan! Sana kunjungi Hinata dulu dan jangan pasang wajah seram itu!"

Neji menenangkan diri. Ada rasa marah saat mendengar adiknya diganggu orang lain. Protektif, iya. Ia mengangguk dan memasuki kamar Hinata. Neji dan Hanabi memasuki kamar dan menemukan Hinata memandang mereka dengan senyum yang lembut. Mereka bersumpah dalam hati, siapa pun yang membuat senyum itu hancur akan merasakan akibatnya sepuluh kali lipat.

Tengah malam.

Hanabi belum tidur. Layar laptop yang bersinar terang menjadi satu-satunya cahaya dalam ruangan gelap itu. Semua orang telah tertidur dan ia sedang menepati janjinya untuk menceritakan sesuatu pada sepupunya.

Ketikan pada layarnya sudah mencapai sekitar empat lembar. Jangan tanya apa saja yang dituliskannya, yang pasti Hanabi memakai sangat banyak kalimat dengan capslock dan kalimat bercetak tebal yang disengajakan. Hanabi melemaskan jari-jarinya, lumayan pegal setelah mengetik curahan hati. Ia mengirimnya dengan segera.

Balasan dari Neji datang lima belas menit kemudian.

From: HyuugaNejixxxx mail_jpn

Subject: Reply [About Hinata]

Content:

Aku mengerti apa permasalahannya. Jangan cemas, Hinata akan baik-baik saja. Aku akan selidiki sisanya. Kalau bisa aku akan usahakan membatalkan pertunangan itu.

Cepat tidur, lima belas menit lagi kutemukan kau masih aktif di akun sosial media, aku akan menelepon Paman. Dan jangan mengetik pada keadaan gelap gulita, Nona Insomnia.

Hanabi tersenyum masam melihat kalimat terakhir yang diketikkan oleh sepupunya, over protektif seperti biasa. Yah, ia tak berharap Neji akan mengamuk, Neji sudah dewasa. Tapi Hanabi tersenyum, setidaknya ia akan membuat Uchiha Sasuke minta ampun karena telah menyakiti kakaknya.

.

.

.

Hinata absen hari ini. Kata Lee yang menerima surat dari Hanabi, Hinata demam. Dan Sasuke tahu benar apa dasarnya sampai gadis itu sakit. Dia pasti dengan bodohnya pulang sendiri di tengah hujan. Sasuke benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya sampai-sampai ia tak menggubris ucapan kekasihnya sepanjang hari.

Sepulang sekolah, Sasuke menjenguk Hinata dengan perasaan kesal karena keluarganya mendapat kabar bahwa Hinata tengah sakit. Gadis itu membuatnya kehilangan waktu untuk dihabiskan bersama Sakura. Ck, ia harus segera menyingkirkan gadis itu dari kehidupannya. Memuakkan.

Ia disambut seperti biasa di kediaman Hyuuga, membuatnya kesal. Ia membawa sebuket bunga yang ia beli dengan setengah hati. Memasuki rumah Hyuuga, ia merasakan bahwa Hanabi ada di sekitar sana, memperhatikannya dengan pandangan menusuk. Ia tak acuh, melewati para pelayan dan menemukan pintu kamar Hinata. Akhirnya ia menemukan sosok Hyuuga Hanabi di depan pintu, mengamatinya dengan tatapan marah.

"Biarkan aku masuk, Hanabi."

Hanabi menggeser tubuhnya dengan sedikit tidak rela, "Jangan macam-macam dengan kakakku."

Sasuke mengangguk malas mencari perkara. Ia ingin cepat mengakhiri ini semua. Pintu kamar dibuka dengan tidak sabar. Gadis itu ada di sana, duduk bersandar di ujung ranjang sambil membaca novel. Sasuke menggertakkan giginya. Ia didesak untuk datang ke sini hanya untuk menemukan gadis itu baik-baik saja dan sedang menikmati bacaan picisan? Dengan penuh amarah, Sasuke melemparkan buket bunga itu ke pangkuan Hinata.

"S-sasuke-kun?" Hinata terkejut. Ia memang menyadari ada yang masuk ke kamarnya namun ia pikir itu adalah Hanabi atau pelayan rumahnya. Pandangannya beralih pada buket bunga yang telah menggugurkan kelopaknya karena dilempar begitu saja ke ranjangnya.

"Sakit? Kelihatannya kau baik-baik saja."

"A-aku tidak …"

"Ck, diamlah."

"T-tapi—"

"Aku tak butuh penjelasanmu."

"…"

"Langsung saja kukatakan, Hyuuga. Kau tahu aku masih bersama Sakura. Apa yang kau harapkan dengan terus bersamaku? Katakan saja pada ayahmu tentang ini semua dan kita selesai."

Hinata meremas selimutnya. Ia berusaha menahan sakitnya kata-kata yang dilontarkan Sasuke padanya. "Aku tahu tapi aku tak bisa membiarkan Paman Fugaku dan Bibi Mikoto kesulitan."

Sasuke mendecih. Ia menarik dagu gadis itu, menatap tajam orbs lavender itu seakan-akan tatapannya mampu membuat gadis itu terluka. "Aku bisa bertunangan dengan Sakura. Dan jangan sebut-sebut tentang orangtuaku. Munafik."

Hinata menggeleng, dagunya terasa sakit karena Sasuke mencengkramnya dengan kuat. "Ayah mungkin akan mempertimbangkan untuk meneruskan kontrak dengan keluargamu meskipun kau memutuskan pertunangan ini. Tapi kau hanya akan mempermalukan keluargamu di depan keluarga dan kerabat kami, untuk berikutnya mereka akan tetap terlibat kesulitan menjalin kontrak dengan siapa pun. Dan orangtuamu tidak bersalah Sasuke-kun, kaulah penyebabnya."

Sasuke baru saja akan membalas ucapan gadis di depannya kalau saja pintu kamar tidak dibuka. Hanabi yang melakukannya. Ia benar-benar tak tahan mendengar kalimat keparat pemuda itu.

"Waktu habis, Uchiha. Jangan sentuh dia. Keluar dari kamar kakakku. Sekarang."

"Aku juga tak ingin berlama-lama di sini, Bocah."

"Hoo, kau sudah melepas topengmu ya? Keluar!"

"Cih."

Sasuke mengatur napasnya. Ia lelah dengan dua Hyuuga membuatnya frustasi dalam beberapa menit.

"Hentikan, Hanabi."

"Hinata?"

"Hentikan. Sudah cukup."

Sebelum ia sempat keluar, Hinata berbicara dengan mata yang basah karena air mata.

"Sasuke-kun, kalau kau tetap keberatan, beritahu aku. Aku akan membatalkan pertunangan dua minggu lagi setelah Ayah kembali ke sini. Dengan begitu, setidaknya Paman dan Bibi tidak akan malu padamu."

Sasuke tercekat. Ia tak berbalik. Suaranya berubah dingin, topengnya telah dibuka seutuhnya, seringai iblis itu ia tunjukkan, "Lakukan, Hyuuga," dan ia pergi begitu saja. Hinata masih menahan dirinya utuk tidak menjerit. Ia membiarkan Hanabi memeluknya. "Jangan menangis, Hinata."

Hinata menangis keras saat mobil Sasuke tepat melaju keluar dari gerbang kediaman Hyuuga. Cinta yang dipaksakan tak akan pernah berbuah, Hinata tahu. Ia akan merelakannya. Menangis dan kembali tegar untuk esok hari. Hanabi sendiri membulatkan tekad. Ia akan membuat Uchiha itu berlutut dan memohon ampun pada kakaknya.

To Be Continued

A/N: Halo! Ini draft lama saya. Saya putuskan membuatnya jadi two shot saja. Lagi-lagi saya mandeg. :'))) Selamat menikmati kisahnya ya. Ini kemaren lagi baper ceritanya. Hahaha.

Chapter depan kita siksa Sasuke yuk! Ada yang mau request siksaan seperti apa? Yuk mari, saya tamping ide kalian :))))

Mind to RnR?