Hanya Sepenggal Kisah
Part : 1 (Awal)
Rating : R - T
Chara : Hinata Hyuuga, Gaara
Genre : Family, Sad, Friendship
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Warning: abstrak, school-life, maybe typo, de el el
Summary:
Sepenggal kisah dan sebuah cerita dari perjalanan seorang Hinata Hyuuga yang penuh liku.
Fic dari haymeg, tekan back aja kalo ga pengen baca.
Don't like don't read gitu...
((((( Hayaitsuki Megami )))))
Kisah ini dimulai saat aku duduk dibangku sekolah dasar. Aku tinggal dengan Ibu, Ayah dan Hanabi di sebuah desa yang cukup terpencil dari Konoha, di rumah yang tidak begitu besar namun sangat membuatku bahagia.
Sejak kecil tubuhku begitu lemah bahkan berdiri lebih dari satu jam saja saat upacara, sudah membuat kepalaku begitu pusing. Walaupun aku sudah sarapan tapi malah menjadi keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhku. Belum lagi jika amanat dari kepala sekolah yang cukup lama. Hampir-hampir membuat tangan ku putih pucat dan membuatku terlihat sakit. Kadang beberapa kali aku mencoba duduk lalu berdiri kembali. Sampai-sampai teman-temanku menyarankan aku untuk pergi istirahat ke UKS saja. Untungnya selama ini tidak pernah ada kejadian aku pingsan ditengah lapangan saat upacara sedang berlangsung. Paling-paling hanya duduk di UKS saja karena kepala dan perutku yang sakit.
Selain itu sifatku yang begitu tertutup, jarang berbicara banyak dengan orang lain kadang membuatku dibilang sombong. Walau sebenarnya aku tidak sombong hanya saja lumayan pendiam dan cukup pemalu pada orang yang tidak begitu dikenal. Namun, orang-orang sering sekali mengira aku seperti itu. Tetapi sebenarnya aku adalah seorang yang Introvert.
Berbeda dengan adikku -Hanabi-, dia tidak memiliki masalah kesehatan sepertiku. Dia juga anak yang periang dan bersemangat. Dia adalah seorang yang Ekstrovert. Di rumah dia sering sekali berantem denganku walau untuk hal-hal yang sepele.
Meskipun sifat kami begitu berbeda, namun Ibu dan Ayah sangat menyayangi kami dan tidak pernah membeda-bedakan kami sekalipun.
Lalu, beberapa bulan sebelum aku mengikuti ujian akhir di sekolahku. Kejadian yang tidak mengenakkan terjadi, Ibuku tiba-tiba jatuh di kamar mandi dan langsung dilarikan ke puskesmas. Dokter mengatakan bahwa Ibu terkena serangan stroke dan harus dirujuk ke rumah sakit.
Kemudian, Ayah segera membawa Ibu ke salah satu rumah sakit yang cukup besar di kota Konoha. Bersama adikku dan aku yang langsung meminta izin untuk tidak masuk beberapa hari dari sekolah.
Keluargaku silih berganti datang untuk menjenguk ibuku di rumah sakit. Wajah ibuku terlihat sangat pucat, kami semua khawatir dengan keadaan Ibu. Dan pada malam kedua, tiba-tiba tekanan darah ibuku naik sangat tinggi hingga berada di atas batas normal. Dokter telah mencoba berbagai macam cara untuk mengatasinya. Tapi,...
Sayangnya nyawa ibuku tidak dapat diselamatkan lagi..
Perlahan bulir-bulir air mata turun membasahi pipiku. Aku tidak menyangka akan kehilangan kasih sayang seorang Ibu di usia yang masih muda. Beberapa saudara mencoba menenangkanku untuk sabar dan tabah untuk menghadapi kenyataan ini. Tapi, tetap saja aku masih terisak-isak menangisi kepergian ibu yang sangat kami sayangi. Ayah pun sangat terpukul dengan kepergian ibu. Walau berat tapi kami harus merelakan kepergiannya... Mungkin ini sudah jalannya...
Lalu, beberapa bulan kemudian Ayah tiba-tiba memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu...
Apakah yang membuat Ayah ingin menikah lagi?
Apa Ayah tidak sayang lagi dengan mendiang Ibu?
Kenapa Ayah tega melakukannya?
Namun, tetap saja pernikahan yang tidak kuinginkan itu dilakukan. Seorang janda beranak satu itupun telah resmi menjadi ibu tiriku. Tentu saja hubunganku dengannya tidak begitu baik karena sifatku yang begitu. Lain halnya dengan adikku yang sering dimanjakan olehnya. Belum lagi saudara tiriku itu dikuliahkan di salah satu universitas terbaik di kota. Hari-hariku berada di sekolah menengah pertama begitu berat. Seakan tidak ada semangat untuk hidup. Lalu pada akhirnya aku lulus dan Ayahku menginginkan aku melanjutkan sekolah di kota.
Aku dan Ayahku pun pergi mendaftar ke salah satu SMA di Konoha. Namun, tidak dapat diterima karena nilaiku kurang dari standar yang ditentukan.
Kemudian, Ayah mencoba mendaftarkanku ke SMA lain. Tapi, ternyata berkasku kurang lengkap. Jadi, aku dan ayahku balik lagi ke desa dan melengkapi persyaratannya. Walaupun berdesak-desakan penuh sesak saat mengambil formulir pendaftarannya, aku pun dapat diterima di sekolah itu...
Kami pun sempat makan siang bersama di sebuah warung soto dekat sekolah itu. Lalu, aku dan ayahku menginap di tempat adik ayahku. Dan, ayahku izin pamit pagi harinya ke desa karena masih masuk kantor. Akupun menyalami tangan ayahku yang hangat itu...
Sebelum diterima menjadi siswa di SMA itu, aku harus menjalani masa orientasi terlebih dahulu. Aku pun mendapat banyak pengalaman dan teman-teman baru disana...
Hari-hari pertama di SMA begitu menyenangkan. Hingga satu bulan kemudian terjadi sesuatu...
Ayahku sakit.
Dia sakit parah.
Hingga harus dibawa ke rumah sakit...
Tekanan darah ayahku begitu rendah, nafasnya tersendat-sendat, akupun tak henti-hentinya memanjatkan do'a kepada Tuhan agar menyembuhkan penyakit ayahku..
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur memikirkan ayahku, berkali-kali aku keluar masuk ruangan begitu juga dengan saudara-saudara yang lain yang juga turut mendo'akan kesembuhannya...
Saat paginya, dokter berkata bahwa ayahku semakin kritis. Tekanan darahnya semakin lama semakin kecil.
Pihak keluarga telah pasrah pada apa yang akan terjadi...
Ayahku masih sempat melihatku dan meneteskan air mata...
Hingga akhirnya,
ayahku menutup matanya untuk selama-lamanya.
Pergi menghadap Yang Maha Kuasa, menyusul ibu,
meninggalkan kedua anaknya...
Sontak air mata itu tidak bisa dibendung,,.
Aku dan adikku menangis tersedu-sedu, betapa berat cobaan yang datang kepada kami..
Aku pun teringat perjuangan ayahku mendaftarkan aku sekolah di kota.
Walau dia terlihat kurang sehat tetapi ayah tetap berusaha mengurus semua keperluanku saat itu. Saat diperjalanan, saat kami makan bersama di warung. Walau hanya sebentar saja, aku tidak dapat melupakannya. Itu pengalaman yang sangat berharga buatku. Saat-saat terakhirku bersama dengan ayahku...
Siangnya, ayahku dimakamkan di perkuburan yang dekat dengan rumah kami...
Walau berat, aku dan adikku menyiramkan air serta menaburkan bunga diatas pusara ayahku itu yang hanya ditandai dengan nisan kayu...
Sepulang dari makam, saudara-saudara ayahku berkumpul di rumah untuk memusyawarahkan masalah harta warisan untuk para ahli waris
bersama dengan Ibu tiriku...
Hei, apa tidak terlalu cepat kalian mengurusnya?
Pusara ayahku belum kering dan kalian sudah mengurus hartanya?
Lalu, salah seorang pamanku berkata untuk mengurus dulu uang kematian dari almarhum ayahku. Baru, kita dapat mengurus yang lain...
Karena pada saat itu umurku masih 15 tahun sehingga belum dapat dikatakan dewasa. Maka, ibu tiriku lah yang menandatangani surat-surat tersebut. Dan tanda tangan aku dan adikku sebagai saksi...
Aku dan adikku pun tinggal di tempat adik perempuan ayahku, bersama dengan kedua anaknya...
Adikku pun disekolahkan di tempat yang sama dengan anak perempuannya yang bungsu...
Karena umur mereka yang hanya selisih satu tahun. Mereka sering kali ribut untuk hal-hal kecil dan aku harus selalu mendamaikan mereka..
Setidaknya pertengkaran mereka membuatku tertawa dan jadi lebih ceria serta melupakan kesedihanku...
Di sekolah teman-teman pun sangat baik kepadaku, aku selalu bersama mereka saat di kantin atau mengerjakan tugas-tugas sekolah...
Dan ada seorang cowok berambut merah dikelasku yang sangat misterius tapi begitu baik padaku.
Cowok itu bernama...
Sabaku Gaara...
Ya, Gaara...
Anak dari salah satu pemegang saham terbesar di sekolah dan direktur perusahaan manufaktur no. 1 di Konoha -Sabaku Building-.
Dengan wajahnya yang cukup tampan, tidak heran jika dia menjadi idola kebanyakan siswi di kelasku.
Pertemuanku dengannya juga tidak disangka-sangka...
Pada hari itu, aku bangun kesiangan karena begadang membantu mengerjakan pr Hanabi dan sepupunya. Tentu saja aku datang terlambat bahkan tak sempat sarapan.
Tak tahunya di depan pagar sekolah, banyak murid yang dijemur karena terlambat masuk.
Karena, batas masuknya jam 7.15 dan ku tiba disekolah jam 7.30.
Mau tidak mau aku harus dijemur di depan pagar bersama mereka yang telat itu...
10 menit pertama, aku masih kuat...
20 menit kemudian, kepala ku mulai pusing...
30 menit kemudian, badan ku keringatan dan mukaku pucat...
Tiba-tiba saja aku pingsan dan ketika terbangun aku sudah berada di ruang UKS...
Lalu, aku bertanya pada penjaga UKS yang sedang duduk disampingku...
"Shizune-san, mengapa aku bisa disni?" tanyaku padanya.
"Kau tadi pingsan hinata." jawabnya.
"Lalu, siapa yang mengantarku kesini, Shizune-san? tanyaku kebingungan.
"Itu aku." jawab Gaara yang tiba-tiba datang.
"Gaara lah yang membawamu ke UKS, Hinata." balas Shizune.
"Bagaimana bisa?" tanyaku tak percaya.
"Kau 'kan berdiri disampingku, Hinata." jawab Gaara. Rupanya dia juga telat dan ikut dijemur tadi.
"A-Arigatou, Gaara." kataku seraya membungkuk.
"Tidak apa-apa hinata." jawab Gaara sambil sedikit menarik sudut bibirnya.
"Oh, iya hinata. Maaf, saya ingin bertanya apa kamu punya penyakit?. Soalnya, kamu sering sekali pingsan saat upacara." tanya Shizune panjang lebar.
"Be-begini sebenarnya shizune-san..."
Akupun menceritakan sebagian kecil kisah hidupku kepada mereka. Kemudian, setelah itu...
"Kamu yang sabar ya, Hinata." kata Shizune sambil menepuk pundakku.
"Kau masih punya teman sepertiku, Hinata." kata Gaara menyemangatiku
"Terimakasih kalian sudah menghkawatirkanku." jawabku
Tak berapa lama bel sekolah berbunyi, Gaara pun mengajakku untuk masuk kelas. Tak lupa, aku mengucapkan terimakasih pada Shizune -penjaga UKS itu-,
Setibanya di kelas, aku duduk d pojok depan di samping Sakura.
Ketika Kakashi-sensei sedang menerangkan pelajaran tiba-tiba...
"Permisi, Sensei.", kata Gaara sambil mengangkat tangan.
"Ya, ada apa, Gaara?" tanya Kakashi.
"Bolehkah saya bertukar tempat duduk dengan Sakura, Sensei?" pinta Gaara.
"Kenapa Gaara?" tanya Kakashi heran.
"Saya tidak bisa melihat tulisan di depan dengan jelas, Sensei." jawab Gaara.
"Oh, begitu. Sakura, pindahlah ke tempat duduk Gaara" kata Kakashi
"Baik, Sensei." jawab Sakura patuh.
"Nah, anak-anak. Buka buku paket kalian di halaman 16." kata Kakashi melanjutkan pelajaran.
"Kenapa kau pindah kesini?" tanyaku pada Gaara yang sudah duduk disampingku.
"Memangnya tidak boleh?" balas Gaara.
"Ti-tidak, hanya saja..." kataku menggantung.
"Hanya saja aneh melihatku duduk disini?" terka Gaara.
"Ya, begitulah." balasku.
Kedekatanku dengan Gaara membuat teman-teman sekelas iri melihatnya. Hampir saja aku dibully oleh fansgirlnya, kalau saja Gaara tIdak menolongku.
Karena kami sebangku maka wajar saja jika aku harus mengerjakan tugas kelompok bersamanya. Pernah satu waktu aku mengerjakan tugas dirumahnya. Rumah Gaara sangat besar sekali bagiku, beberapa kali aku terpana melihat interior rumahnya yang indah, furniturnya yang cantik dan ruangannya yang bergaya khas Eropa. Selain Gaara hanya ada pembantu dan tukang kebun yang ada dirumah itu. Ayahnya merupakan pebisnis yang sangat sibuk sehingga hanya beberapa kali ia mengunjungi Gaara. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Kakak perempuannya bekerja di perusahaan ayahnya sebagai sekretaris, sedangkan kakak laki-lakinya saat ini kuliah di Fakultas Kesenian jurusan Seni Rupa. Gaara berkata dia sangat kesepian tinggal di rumah ini. Aku pun merasa kasihan padanya. Tapi Gaara berkata justru akulah yang lebih pantas dikasihani.
Selesai belajar, Gaara mengajakku untuk lari pagi bersamanya besok. Aku awalnya keberatan tapi Gaara tetap memaksa mengajakku olahraga. Akhirnya kuterima ajakannya.
Esoknya, saat Gaara datang kerumahku, dia meminta izin pada paman dan bibiku.
Mereka pun membolehkannya tapi kami harus membawa serta adik dan sepupuku.
Adik dan sepupuku itu tentu saja sangat senang karena Gaara selalu memberikan mereka oleh-oleh sepulang olahraga.
Sejak saat itu setiap minggunya kami selalu berlari mengelilingi lapangan. Gaara bahkan menyuruhku untuk makan 4 sehat 5 sempurna, terutama sayur dan susu. Padahal aku sama sekali tidak menyukainya, tapi karena Gaara sudah sangat baik padaku apa boleh buat aku pun menurutinya.
Hari demi hari berganti, semakin lama badanku menjadi semakin tidak lemah lagi.
Aku pun kuat upacara saat matahari sedang terik-teriknya. Teman-teman pun heran pada perubahanku. Wajahku yang dulunya pucat kini menjadi segar berseri. Aku yang biasanya absen saat pelajaran olahraga, kini selalu hadir bahkan nilaku membaik.
Hingga pada suaru hari...
Gaara harus pindah sekolah
ke luar negeri...
karena bisnis ayahnya sedang berkembang pesat.
Gaara mati-matian menolak, dia bahkan mencari rumah untuk ditinggali.
Pada akhirnya, mau tidak mau dia harus menuruti keinginan ayahnya untuk menyekolahkannya ke luar negeri.
Sehari sebelum Gaara pindah, dia sempat mengobrol denganku.
"Hinata, aku ingin bicara denganmu." kata Gaara serius
"Ya, ada apa, Gaara?" Jawabku
"Maaf, sebenarnya aku akan pindah sekolah besok." kata Gaara
"Ke-kenapa?" jawabku tidak percaya
"Aku dan keluargaku akan pindah ke luar negeri." Jawab Gaara.
"Jadi, ini hari terakhirku bertemu denganmu?" balas ku
"Maaf, aku tidak bilang padamu, aku takut kau khawatir." jawabnya yang tiba-tiba memelukku.
Entah kenapa aku tiba-tiba meneteskan air mata saat Gaara memelukku. Lagi-lagi aku harus kehilangan orang yang sangat dekat denganku. Aku pun menangis tersedu-sedu di pelukannya.
Menangis karena akan kehilangan seorang teman sekaligus sahabat yang sangat baik sepertinya.
Gaara pun memberikanku sebuah hadiah perpisahan...
Sebuah kalung perak dengan liontin berinisal huruf "H" diberikannya padaku..
Esoknya semua guru dan murid berkumpul di halaman sekolah untuk mengantarkan kepergian Gaara. Banyak yang merasa kehilangan dan mereka memberikan kenang-kenangan pada Gaara...
Mereka semua pun melambaikan salam perpisahan padanya..
Aku pun tidak kuasa menahan air mata yang membasahi pipiku...
Selamat jalan, Gaara..
Selamat tinggal...
Semoga kita bisa bertemu lagi...
(TBC)
((((( Hayaitsuki Megami )))))
fic dengan unsur sad pertama dari haymeg. Mav kalo kurang sedih, ya?
nanti haymeg lanjutin ke chapter berikutnya...
Jangan lupa review ya, pai pai...
R
E
V
I
E
W
