WHO AM I?

(ChanBaek Fanfiction)

.


.

Author : parkodot

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and another EXO's official pair

Genre : Romance, School-Life, Friendship

Desclimer : Para cast di sini resmi tercantum sebagai anak buah Bapak Lee Sooman yang terhormat. Dan Odot sengaja menyeret Chanyeol dari sana untuk dibungkus dan dibawa pulang. Alur cerita Odot dapat dari hasil ngelamun saat setelah mengerjakan soal ujian sekolah. Terimakasih xD

Summary : Bintang sekolah SM High School, Park Chanyeol, rela terbangun tengah malam karena seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya keras. Begitu pintunya terbuka, dan mempersilahkan si pengetuk pintu masuk, hal – hal aneh dan konyol datang dengan leluasa || "Hai, Teman! Byun Baekhyun imnida.. Aku pindahan dari Busan"

.

.

.

.

.

Prolog (1.119 words)

.

.

HAPPY READING! ^^

.

.

.

.

.

IF YOU NOT LIKE YAOI, DONT READ THIS!

.

.

.

.

.

WARNING! TYPO JELEK ABAL GAK JELAS!

.

.

.

.

.

parkodot Presents..

.

.

.

.

Pukul setengah sebelas malam, di kota Seoul, Korea Selatan. Koridor di asrama SM High School sudah mulai lenggang. Tidak ada yang berani keluar malam meskipun semua siswa di sini laki – laki. Aturan sekolah, dan apabila melanggar, nyawa menjadi taruhan.

Begitupun dengan kamar nomor 092. Kamar ini tampak biasa saja seperti kamar – kamar yang lainnya. Tetapi karena sang pemilik adalah bintang sekolah, kamar ini terlihat special. Banyak yang ingin satu kamar dengannya. Tapi sayang, si bintang kelas selalu tidak mau tidur dengan siapapun.

Kecuali dengan kasur empuk, bantal, serta guling tercinta.

"Jangan lupa cuci kaki dan sikat gigi, Chanyeol! Kaki atau mulutmu bisa busuk esok hari!" si bintang kelas bernama Park Chanyeol itumenjauhkan ponsel mahal dari telinganya. Terlalu memekik. Telinganya sudah penuh dengan omelan – omelan sepele dari saudara kandung satu – satunya yang ia miliki.

"Ne, Noona. Aku sudah melakukannya." sahut Chanyeol datar.

"Eh? Suaramu serak? Aigoo, jangan bilang kau habis minum es huh?"

"Yoora Noona…. Apa kau lupa? Adik tampanmu ini punya suara serak – serak sexy tau?"

"Noona tidak pernah mau punya adik dengan jiwa narsis yang tinggi."

Chanyeol tersenyum miring. Kakaknya benci orang narsis.

"Noona tidak tidur?"

"Di sini masih siang, ya ampun. Aku tidak mungkin tidur di saat jam kerja!"

"Oh iya lupa. Noona kan jadi gadis Washington sekarang. Hehehe…"

"Hmm… yak benar. Pasti di sana sudah malam, kan? Cepat tidur! Bye~"

"Ya."

Sambungan telepon dengan kakaknya terputus. Chanyeol lekas meletakkan smartphone-nya di atas meja kecil samping ranjang. Memang sudah kebiasaan. Park Yoora, kakak perempuannya, selalu menelpon setiap Minggu malam.

Setidaknya dapat memastikan bahwa adiknya masih dapat bertahan hidup di sekolah paling keras nomor sembilan di dunia, SM High School. Digulingkannya tubuh dengan tinggi nyaris dua meter itu menghadap tembok. Sebelum akhirnya terjun ke dunia mimpi.

.

.

.

"Kenapa jam segini baru datang?" ucap salah seorang satpam sekolah kesal. Pasalnya, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Eh, malah ada seorang yang mengaku siswa baru datang. Pagar terbuka, si satpam memandangnya ngantuk, "Kau pindahan dari Busan?"

Si siswa baru mengangguk gugup, "N—ne… Byun Baekhyun imnida.."

"Kedatanganmu ditunggu ketua asrama di sini. Kau tinggal lurus, masuk ke gedung itu, dan belok ke kanan. Di situ akan ada ruangan ketua asrama." jelas si satpam panjang. Namun, matanya masih setengah terpejam.

"Umm… Tidak bisakah anda mengantarku, Ahjusshi?"

Mata yang setengah terpejam itu tiba – tiba melotot. Baekhyun mundur selangkah karena si satpam sepertinya sedang tidak bersahabat.

"Dasar kau bocah jal—"

Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Baekhyun sudah berlari terbirit – birit menjauh. Si satpam merasa senang. Setidaknya ia bisa masuk ke ruangannya kembali untuk tidur.

"Annyeong?" ucap Bekhyun saat ia sudah sampai di ruang kepala asrama. Bangunan ini sudah sepi. Tidak ada lampu yang menyala selain lampu yang ada di luar. Siswa baru ini sedikit takut.

CKLEK!

Pintu ruangan terbuka. Baekhyun sempat terlonjak kaget karena yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang pria tinggi, beramput pirang, dengan kesadaran yang belum terkumpul.

"Annyeong, Sunbaenim…." sapa Baekhyun lagi.

"Nugu?"

"Byun Baekhyun imnida. Maaf, aku baru datang pagi buta seperti ini. Aku pindahan dari Busan dan—yeah, aku sempat tersesat." jelas Baekhyun panjang. Namun, pria dengan rambut pirang dan mata terpejam di depannya masih saja tak bergeming.

"Sunbaenim?"

"…."

"Sunbae?"

"…."

Baekhyun mulai kesal. Ia merengut karena si seniornya ini malah tertidur dengan berdiri di hadapannya. Bukan malah memberitahu letak kamar yang akan ia tempati.

Terpaksa, Baekhyun menepuk bahu si senior sedikit keras, "SUNBAENIM!"

"Eh, oh, iya, apa? Kenapa? Oh, Byun Bekhyun! Ehem…" si senior itu mulai tersadar. Tangannya memperbaiki tatanan rambut pirangnya yang sedikit berantakan. Serta mengatur suaranya agar tidak terdengar mengantuk. Ia merubah imej menjadi sunbae yang cool. Atau mungkin sok cool?

"Wu Yi Fan imnida. Panggil aku Kris. Aku senior sekaligus ketua asrama di—"

"Aku sudah tahu, Kris Sunbae!"

"Ah ya. Uhmm. Apa lagi ya?" Kris mendadak blank. Ia menggaruk belakang kepalanya kikuk. Sementara Baekhyun hanya bisa mendengus. Bagaimana bisa ia menjadi ketua asrama kalau pelupa? Batinnya bingung.

"Bagaimana kalau—kamarku?"

"NAH IYA KAMAR! KAMARMU ADA DI NOMOR 092! BIAR AKU ANTAR!" sang senior memekik girang. Akhirnya ingatannya kembali normal. Tetapi, ia tidak mau imej cool yang ia bangun sejak dulu luntur. Kris berdeham dan memasang wajah cool kembali.

Baekhyun benar – benar ingin membenturkan kepalanya ke dinding.

.

.

.

"Ini kamarmu…" ucap Kris memecah keheningan saat sampai di depan kamar bernomorkan 092. Baekhyun menatapnya dengan wajah berbinar. Tidur di asrama merupakan impian tersendiri baginya.

"Gamsahamnida, Kris Sunbae!"

"Bangunlah jam lima pagi karena besok ada kegiatan olahraga rutin. Dan—oh ya, di dalam sudah ada orang. Dia yang akan jadi roommate mu."

"Jinjja?"

Kris mengangguk. Ia sempat menepuk bahu Baekhyun dan bergumam 'selamat tidur' sebelum benar – benar kembali ke kamarnya.

DOK DOK DOK DOK!

Chanyeol mengernyit. Sesuatu yang keras mengusik mimpi indahnya.

DOK DOK DOK DOK!

Mimpi Chanyeol bertemu Sandara Park benar – benar terpotong. Ia mengeram sebal sebelum mendudukkan diri di pinggiran kasur. "Siapa sih? Masih jam segini ada yang ngajak ribut?"

DOK DOK DOK!

"Annyeong?"

DOK DOK DOK!

"Adakah orang di dalam?"

DOK DOK DOK!

"Annyeong?"

DOK DOK DOK!

Chanyeol berdiri. Ia melangkah gontai menuju pintu kamarnya yang sedari tadi meronta. Pikirannya melayang sembari menebak – nebak siapa yang mengetuk pintunya keras di malam hari seperti ini.

Apakah Yoora Noona?

Tidak. Ia habis menelpon dan masih di Washington.

Jongin? Kyungsoo?

Mustahil. Mereka berdua tidak pernah sekalipun terusik meskipun angin ribut, kebakaran, bahkan gempa bumi datang menerjang.

Sehun? Luhan?

Tidak mungkin juga. Kamar mereka ada di asrama lain.

Lalu siapa?

"Eh?" Chanyeol terkejut. Pintunya terbuka. Namun, tidak ada orang di depan kamarnya. Pandangannya menelusuri ke kanan dan ke kiri. Lorong masih kosong. Lampu masih padam.

Atau mungkin—hantu?

Chanyeol mengusap tengkuknya yang dirasa mulai meremang.

"Hei!"

Nah kan, bulu kuduk Chanyeol meremang lagi. Suara cempreng tiba – tiba menyapanya.

"Yak! Dasar! Jangan mentang – mentang tinggi, kau tidak melihatku huh? Tengoklah kebawah!" Baekhyun berdecak sebal. Ternyata, ada juga pria tinggi konyol kedua yang ia temui selain Kris.

Chanyeol berpikir sejenak. Benar juga. Ia hanya menengok ke samping kanan dan kiri. Belum menengok ke bawah.

"Hallo~" sapa Baekhyun saat pandangan Chanyeol sudah melirik ke arahnya. "Bolehkah aku masuk? Kris sunbae menyuruhku untuk tidur di sini."

Seketika dahi Chanyeol mengernyit. Sejak kapan kamarnya diperbolehkan untuk orang lain?

"Hai, Teman! Byun Baekhyun imnida. Aku pindahan dari Busan.." ucap Baekhyun memperkenalkan diri. Pemuda yang berjarak dua jengkal lebih pendek dari Chanyeol itu langsung masuk ke dalam. Kali ini Chanyeol ingin meledak. Baru kali ini ada orang yang berani masuk kamarnya tanpa izin.

"Hey, kau! Siapa yang menyuruhmu—"

Terlambat. Baekhyun sudah mendapatkan posisi paling nyaman di ranjang sebelah Chanyeol. "Biarkan aku tidur, oke? Busan ke Seoul itu tidak bisa dibilang dekat! Aku butuh istirahat!"

Meskipun sendirian, di kamar Chanyeol tersedia dua ranjang yang terpisah oleh meja kecil.

Chanyeol melangkah malas menuju kasurnya kembali. Ia harus berbicara pada Kris.

.

.

.

.TO BE CONTINUED….

.

.


Preview Next Chapter :

"Byun Baekhyun! Kerjakan soal nomor lima di depan!"

Baekhyun berjalan dengan entengnya menuju depan kelas. Tidak membawa buku, hanya berbekal pikiran yang jenius. Soal matematika nomor lima yang diperintahkan Cho Songsanim bukanlah soal yang mudah. Ini merupakan soal yang hanya bisa dikerjakan oleh pakar matematika sesungguhnya.

Dan seorang murid baru, Byun Baekhyun, bisa menyelesaikan soal itu dengan tepat.

"Hebat sekali ya Baekhyun tadi… Aku iri padanya…" gumam Luhan menopang dagu. Sehun yang sedang asyik menegak bubble tea langsung tersedak, "Untuk apa iri, Xiao Lu? Kau masih lebih lebih cantik daripada roommate baru Chanyeol itu!"

"ROOMATE BARU CHANYEOL?" seketika Luhan, Jongin dan Kyungsoo berteriak bersamaan.

Luhan tercengang, "Mustahil…"

"Tidak mungkin…" lanjut Jongin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Moment langka. Haruskah kita masukkan ke artikel sekolah?" ucapan Kyungsoo benar – benar membuat Chanyeol yang ada di tengah – tengah mereka semakin dongkol.

Chanyeol bergegas menghampiri Kris saat jam ekstrakulikuler basket.

"Kenapa kau perbolehkan orang lain tidur di kamarku, Kris Hyung?"

"Hanya kamarmu yang bisa ditempati. Yang lain sudah penuh."

"Kenapa tidak dimasukkan ke asrama lain?"

"Mereka juga sudah penuh, Chanyeol! Sekali – kali terima keadaan. Aku menerima Baekhyun juga karena dia kelewat jenius."

Si bintang sekolah berdecak kesal, "Terserah."

Dan pada keesokan harinya, Chanyeol mendapati Baekhyun yang sedang bersantai di dalam toilet. Ia baru tersadar. Bocah jenius seperti Baekhyun, bisa membolos pelajaran juga? Saat pelajaran matematika?

"Kenapa membolos di toilet?"

"Pelajaran matematika benar – benar membuat kepalaku ingin meledak! Asal kau tau? Cho Songsanim kejam sekali memberikan sepuluh soal yang begitu sulit untuk dicerna."

Chanyeol tercengang. Soal yang dimaksud tidaklah sesulit satu soal yang dapat Baekhyun selesaikan dengan mudah kemarin.

Lalu, ada apa dengan Baekhyun yang kemarin?

"Aku membenci angka!"

Atau—ada apa dengan Baekhyun yang sekarang?


A/N : Halloooo~!

Haduh, Odot sebenarnya mau ujian sih. tapi masih ngotot aja ngepost beginian-_-

Gimana readers? Apa perlu dilanjut? Atau prolog aja? :p

Review jangan lupa ne^^

Karna readers begitu berharga *ngiklan bareng chanyeol*