Title Sederhana
Author blackpapillon
Disclaimer Spiral © Eita Mizuno and Shirodaira Kyou
Rating K+
Genre Friendship/Romance
Overall Sum Tak butuh hal-hal yang spektakuler dan istimewa untuk menikmati hidup, karena sebetulnya hal sederhana saja sudah bisa membuat kita bahagia. Semi-AU, (connected) oneshot collections. For Infantrum Black and White challenge—white.
AN Kumpulan ficlet tentang pairing favorit saya dari serial ini, Narumi Ayumu dan Yuizaki Hiyono. Today's theme: the endless and faraway sky. "Langit begitu luas, Narumi-san. Sama seperti masa depan yang akan kita hadapi."
Menatap Langit Pagi
The endless and faraway sky
-----
This is the best day the world has ever seen. Tomorrow will be better.
— R. A. Campbell
-----
"AH, pesawat!"
Mendengar kalimat itu, otomatis aku mengangkat kepalaku, menengadah ke arah langit. Ah, benar. Pesawat. Benda putih besar itu melayang jauh di atas kepala kami, melintasi langit, menembus gumpalan awan, meninggalkan jejak asap putih tipis yang lama-kelamaan menghilang di udara.
"Yah, hilang..."
Kali ini pemilik suara itu berlari-lari kecil mengikuti jalannya pesawat itu, mengejar, tangannya menggapai-gapai bagai anak kecil yang mengejar capung. Sebenarnya tak akan ada yang peduli dengan tingkah gadis itu—kalau saja usianya bukan sepuluh tahun lebih muda.
Dan memikirkan hal itu, tanpa sadar aku menarik napas.
"Oi," panggilku, membuat gadis itu menoleh, "sampai kapan kau akan mengejar-ngejar pesawat itu seperti anak kecil?"
Gadis itu berhenti. Lalu, seperti tingkahnya yang biasa, dia tersenyum jahil. Ekspresi yang selalu muncul kalau dia mengetahui sesuatu yang tak aku tahu. Tapi—harus kuakui, kalau sedang begitu, dia tampak manis.
"Ah, tapi, Narumi-san," katanya sambil berjalan ke dekatku, dan akhirnya duduk di sebelahku, "mengejar pesawat itu menyenangkan, bukan? Memangnya kau tak pernah melakukannya saat kau kecil dulu?" tanyanya sambil kembali tersenyum.
"Dasar tidak ingat umur," komentarku dingin, "umurmu lebih tua dariku, tahu."
"Justru dengan tanggapan seperti itu, Narumi-san, kau terdengar sangaaaaat tua," katanya sambil menggerak-gerakkan telunjuknya, "dan perlu kuperingatkan: kata-katamu sebagai adik kelas sungguh tidak sopan terhadap seniormu ini, tahu!"
Aku tersenyum kecut. Dan melihat ekspresiku itu, wajah manis gadis itu kembali tertawa renyah. Seperti biasa, tawa yang bagai gadis kecil yang jahil, namun menggoda—tatapan penuh canda sekaligus menyimpan banyak rahasia di dalamnya. Bahkan aku, sebagai orang yang paling sering berada di dekatnya—setidaknya menurutku—pun merasa begitu.
Wanita memang banyak berahasia. Sekalipun itu gadis yang hanya setahun lewat di atasku.
-----
AKU kembali menatap langit. Langit hari ini biru, dengan hiasan awan putih dan sinar matahari, membuat pemandangan pagi ini tampak begitu cerah. Taman kecil di sudut kota memang merupakan tempat yang tepat untuk melakukan kegiatan rekreasi kecil pagi hari. Dan begitulah adanya. Di depan bangku tempat kami duduk sekarang, segerombolan anak kecil bermain-main dengan gaduhnya. Berkejaran di bawah sinar matahari pagi. Beberapa Ibu berkumpul di sudut lain, menemani anak-anak mereka mungkin juga sambil saling bertukar berita.
Mungkin satu-satunya hal yang aneh adalah mengapa kami sekarang berada di sini.
"Lagi-lagi kita bolos sekolah, yaaa," kata gadis itu tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. "Kalau dihitung, sudah berapa kali kita bolos? Ah, Narumi-san, kalau Madoka-san tahu tentang perihal bolosmu ini, pasti dia akan marah besar. Lalu akan membantingmu dengan gaya gulat pro."
Aku hanya angkat bahu. "Aku tidak peduli. Nenek tua itu akan mengemis lagi padaku saat tiba waktu makan malam." Mendengar itu, dari sudut mataku aku bisa melihat gadis itu tertawa lagi. "Daripada itu... ada hal lain yang harus aku pikirkan lebih lanjut—daripada pelajaran di sekolah."
"Hmmm?" gadis itu hanya menyahut seadanya. Pandangannya masih serius menatap langit. Lalu kepalanya menoleh padaku. Mata besarnya mengerjap sekali lagi. "Tentang?"
Aku tak menjawab. Sejurus kemudian, ia tampak mengerti dan menganggukkan kepalanya. "Soal... blade children...?"
Aaaah, ya. Tentu saja. tak usah ditanya. Blade children. Sesuatu yang akhir-akhir ini sangat mengusik pikiranku. Anak-anak yang terkutuk. Anak-anak yang kontradiktif. Sudah beberapa waktu berlalu sejak bertemu dengan mereka—beberapa dari mereka—dan makin aku tenggelam dalam lingkaran itu, makin jalan pikiranku bertambah ruwet. Kasus-kasus yang berdatangan silih berganti, seakan-akan memanggilku untuk ikut ke dalamnya. Sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku campuri, namun memaksaku untuk turut campur dalam kegiatan mereka.
"Bagaimana perasaanmu, Narumi-san?"
Pertanyaan itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. "Apa—aku?" aku mengerutkan kening memikirkan jawaban itu. "Aku masih belum menemukan titik temu dari segala kasus yang terjadi dengan keberadaan Aniki. Maksudku, ya, aku tahu bahwa semua kasus ini pasti berhubungan dengan Aniki—dan kenyataan bahwa para blade children itu juga berhubungan dengan Aniki.... namun aku sama sekali tak dapat menemukan sedikit pun petunjuk mengenai keberadaan Aniki."
-----
BLADE children. Sampai kapan pun akan tetap sulit mencari frase lain yang pas untuk menggambarkan mereka. Karakter mereka tak bisa kumengerti. Yang bisa kumengerti adalah mereka semua pintar, jenius, dan memiliki keahlian khusus di masing-masing bidang. Ada satu bidang yang paling dikuasai mereka—dan mereka menjadi menonjol karena itu. Menuai pujian, namun di balik itu menyimpan banyak rahasia. Termasuk tulang rusuk mereka yang kurang satu daripada manusia biasa.
Dan mereka adalah orang-orang yang selama ini berhubungan langsung dengan Aniki, diperintahkan untuk menemuiku—dan sampai sekarang aku tak tahu apa maksud mereka dengan pasti. Mereka datang, mengancam, menantang secara langsung, membunuh orang-orang di sekitar, dan membuat semua orang kerepotan sementara mereka tersenyum dan berlagak bagai orang tanpa dosa.
"Adik yang baik, ya," komentar gadis itu sambil bangkit dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Kau khawatir dengan keberadaan Kiyotaka-san?"
"Ah." Agak jengah aku menjawab pertanyaan itu. "Tentu saja. wajar, bukan? Karena kami bersaudara... tak ada yang aneh dengan itu. lagipula Aniki bisa dibilang adalah waliku karena kami lama tinggal serumah."
Lagi-lagi senyum. Aku tahu senyum itu. Senyum saat dia menyadari ada yang aneh pada kata-kataku. Apa lagi yang ia sadari kali ini? Ia berjalan beberapa langkah ke tengah taman. Burung-burung kecil—penghuni taman itu, sedikit-demi sedikit hinggap di atas tanah—dekat tempatnya berdiri. Sekejap saja aku tahu pasti dia membawa remah roti. Kebiasaannya kalau pergi ke taman. Burung-burung pasti senang kalau kami bolos ke sini, karena mereka mendapat makanan ekstra.
Burung-burung datang dan pergi, memakan remah roti, membentuk kumpulan kecil. Sejenak ia tampak asyik mengurusi burung-burung kecil itu.
"Ah, lagi-lagi Narumi-san berbohong," dia tersenyum manis seakan-akan baru saja membacakan berita. "Bukan mengkhawatirkan Kiyotaka-san yang kau maksud. Tapi kau mengkhawatirkan Madoka-san, iya kan?"
Aku tersentak.
Narumi Kiyotaka. Si bebal itu, aku mendengus dalam hati. Di luar selalu bertindak menjadi seorang pahlawan, menjadi idola dan panutan semua orang, namun membahagiakan istri sendiri saja tidak mampu. Meninggalkan kami semua tanpa jejak—bahkan untuk sekadar memberi kabar bahwa dia masih hidup pun tidak. Hanya meninggalkan aku berdua dengan Kak Madoka. Menghilang begitu saja, seakan-akan kami semua tak akan khawatir tentang keadaan dirinya!
Aku menghela napas. Kata-kata gadis itu, meskipun pendek, tapi benar.
Ah, tepatnya... apa pun yang dia katakan tentang aku—selalu dia yang paling tahu. Lebih tahu dari siapapun.
-----
"MEMANG ada perasaan seperti itu," kataku setelah lama terdiam. "Tapi, sebenarnya aku... lebih memikirkan mengapa Aniki melakukan ini semua." Aku menghela napas lagi. "Aniki yang ada di belakang ini semua, kan? Memosisikan para blade children ke Tsukiyomi Gakuen, melakukan berbagai hal untuk menarik perhatianku... dan juga perhatian Kak Madoka. Mengapa dia tak menemui kami saja secara langsung?"
"Karena kalian tak bisa berkomunikasi bila tidak dengan cara seperti ini, bukan?" kata gadis itu sambil tertawa kecil. "Madoka-san berkata bahwa Kiyotaka-san adalah orang yang sangat kompleks. Dan memang seperti itulah caranya. Dia percaya padamu, maka dia membuat semua ini. Dia tahu kau akan bisa menyelesaikannya. Karena itu, yang perlu kau lakukan sekarang adalah terus berusaha mengurai benang kusut ini."
Lagi-lagi sesi ceramah singkat. Beginilah caranya bersikap. Sok tua—tapi mau bagaimana lagi? Yang dikatakannya benar-benar mengena. Mendengarnya, aku tercenung. "...Aku tak tahu." Nada suaraku mendadak tercekat di tenggorokan. "Bahkan aku sendiri tak yakin apa aku bisa menyelesaikan semua ini sampai akhir."
"Huh, itu jeleknya kamu, Narumi-san!" gadis itu tiba-tiba menoleh dan menatapku dengan tatapan galak. "Kau selalu saja begitu! Dasar, masih muda tapi pesimis. Sebelum ini kau bisa melakukannya, kan? Mengurai kasus Sayoko-chan, menang dari Kousuke, bahkan menyelamatkanku..." dia berhenti. Menarik napas. "Kau seharusnya lebih percaya diri."
"Dasar bodoh. Aku tak akan melakukannya kalau saja itu menyangkut keselamatan orang lain..." aku menelan sisanya ke dalam tenggorokan. Dan aku tak mau kau yang sama sekali tak berhubungan dengan kasus ini celaka. "Tanpaku masa depan akan baik-baik saja."
Masa depan, ya? Heh. Karena itulah aku tak mau masuk ke dalam masalah ini. Karena baik langsung ataupun tidak langsung,s emua ini berkaitan dengan apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitarku. Aku sudah tak ingin lagi melihat orang lain yang terbunuh. Orang-orang di sekitarku yang satu per satu menghilang. Kejadian-kejadian datang silih berganti.
-----
DIA tertawa.
Tatapan gadis itu kembali ke atas, menatap langit luas yang berhiaskan awan. Sinar matahari menghangatkan kulit, cahayanya yang putih merembes ke sela-sela daun-daun dan ranting pepohonan. Bila diperhatikan lebih teliti, awan-awan putih itu bergerak bagai kapas terbang. Melayang, kadang menutupi sinar matahari, namun hanya sekejap awan itu kembali menyingkir pergi.
"Karena itulah," mata gadis itu menyipit ke arah langit. "Narumi-san memang orang yang sangat baik."
Wajahku rasanya panas mendengar itu. Mungkin karena topik kali ini serius—dan bukan rayuan gombal yang ia katakan padaku saat dia memintaku untuk membuatkan makan siang? Entahlah, aku tidak mengerti. Namun kugelengkan kepalaku kuat-kuat dan kembali mendengarkan kata-kata gadis itu.
"Langit sangat luas, ya?" tiba-tiba gadis itu berkata, membuat keningku berkerut. Benar-benar berkerut. "Aku memimpikan bisa melihat langit seluruhnya. Semuanya. Apa yang ada di sudut-sudutnya. Menjelajah langit tak akan ada habisnya. Pasti akan jauuuuuh sekali!"
"...lalu?"
"Kalau begini, kadang aku suka tidak yakin kalau Narumi-san adalah seorang laki-laki," katanya, membuat wajahku merengut. "Kata-katamu selalu pesimis. Kau bilang kau bodoh, tapi kau mampu membantuku mengerjakan tugas. Kau bilang kau payah, padahal kau bisa memainkan piano dengan baik. Kau diam saja tanpa aku tahu kalau kau pintar memasak. Sebagai orang yang tidak bisa apa-apa selain mencari informasi, dan mendengar orang jenius berkata 'aku bodoh' di depan mata, rasanya jadi sebal, lho!" katanya dengan nada serius—namun tetap saja matanya yang besar itu membuat ekspresi seriusnya jadi kurang meyakinkan.
Mendengar arah pembicaraan yang makin tidak menentu itu, membuat pikiranku tambah ruwet—dan sepertinya ia mengerti. Kini ia menatapku dan tersenyum.
"Masa depan dan kehidupan juga seluas ini, Narumi-san," katanya perlahan. "Tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Siapapun juga tak tahu. Apapun akan terjadi. Semua bisa berubah. Meskipun kau sekarang mengatakan hal seperti itu, tapi kau melakukan banyak hal. Menyelamatkan nyawaku, menyelamatkan Madoka-san dari masa-masa depresinya. Banyak yang sudah kau lakukan. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah..."
"...Menghadapi apa yang harus dihadapi dengan sepenuh hati?"
Gadis itu mengerjapkan matanya. "Eh? Mengapa kau tahu apa yang akan aku bicarakan?"
"Kadang kata-katamu mudah ditebak. Terutama karena gaya bicaramu kalau sedang berceramah begitu memliki pola yang sama."
Aku tak dapat menyembunyikan senyum saat melihatnya merengut sebal mendengar kata 'berceramah'. Ditatapnya wajahku dengan wajah serius, "Sama seperti awan."
Dan aku kembali mengerutkan kening. "Heh? Apalagi itu?"
Terlihat sekilas gadis itu terkikik geli. "Awan mendung juga hanya bagian kecil dari awan yang hanya sekedar lewat di langit. Karena awan putih selalu jauh lebih banyak. Ya, kan?" dia menarik napas, dan sekali lagi tersenyum. "Karena itu... jangan mudah putus asa, Narumi-san." dia berkata lembut, mengakhiri kalimat-kalimat filosofisnya dengan meletakkan kedua tangannya di bahuku.
Aku terdiam.
Kutatap arlojiku, sudah hampir tiga puluh menit kami di sini. Aku bangkit, mengambil tas dan membersihkan seragamku. "Daripada diam di sini terus, aku pergi saja. Paling tidak, mendapat beberapa pencerahan."
Gadis itu tersenyum lebar, tampak sedikit merasa bangga. "Iya, kan!" Katanya ceria.
"Bukan soal itu." Aku berbalik, mendekatinya, dan mencondongkan wajahku ke arahnya, memastikan gadis itu menatap wajahku. "Bahwa otakmu yang hanya berisi cara-cara mendapatkan informasi ilegal itu ternyata bisa juga memberikan filosofi yang bagus."
-
-
"Narumi-san!"
Beberapa langkah, dan aku tahu, seperti biasa, dia akan setengah berlari, mengikutiku, lalu menjajariku, dan memukul pelan bahuku.
....
Kau tak tahu betapa kata-katamu dapat membuatku melihat dari perspektif yang berbeda.
-----
Awan mendung juga hanya bagian kecil dari awan yang hanya sekedar lewat di langit. Karena awan putih selalu jauh lebih banyak. Ya, kan?
-----
fin
Approx. Words: 1,781 (story only)
AUTHOR'S NOTES
Dan inilah fanfic Spiral pertama saya. Bukan yang pertama kali di fandom Spiral Indonesia, sih. Ahahaaa. Meskipun manga ini tidak terbit di Indonesia, dan kurang populer pula, tapi izinkan saya untuk berkoar bahwa manga ini SANGAT WORTHED!!! Intinya, cerita canonnya adalah tentang Ayumu, cowok aneh dan Hiyono, cewek berisik yang terlibat dengan kasus pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di sekitar mereka, dan semua itu berkaitan dengan kakak Ayumu yang menghilang dan para blade children—anak-anak berciri khusus, yaitu tulang rusuk yang hilang satu. Memang manga detektif, tapi benar-benar berkaitan, dan selalu berhasil bikin saya penasaran.
Yah, saya harap yang tidak pernah membaca manga SPIRAL bisa mengerti jalannya momen yang terjadi. Jujur, idenya sangaaaat sederhana (sama kayak judul besarnya. Hehe.). Saya mengambil potongan yang ada di manga dengan modifikasi. Misalnya, bolos dan pergi ke taman yang banyak burungnya, ada di manga bagian awal. Tapi, timeline cerita ini mengambil waktu saat mereka sudah jauh banyak terlibat dengan para blade children. Karena itu Hiyono dapat mengatakan kata-kata seperti itu. dan maka dari itu saya mengklaim bahwa ini semi-AU, haha. Bisa dibilang AT (Alternate Timeline) juga. Dan ya, ini kumpulan oneshot. Tidak berhubungan tapi bisa juga dibaca secara berkesinambungan.
Ngomongin soal pairing... mengapa harus Ayumu dan Hiyono? Padahal yang menonjol di awal adalah rasa suka Ayumu terhadap kakak iparnya, Madoka? Mudah. Karena mereka CANON! Tataplah sekilas cover komiknya dan anda akan melihat mereka berdua dimana-mana, haha. Saya suka hubungan mereka yang seimbang, bukan tipe 'cewek bego yang ngikutin cowok kul'. Tapi, hubungan mereka adalah simbiosis mutualisme—saling menguntungkan, dan membangun rasa percaya dalam diri masing-masing. Lagian, Madoka 'kan support cast!–digetok- dan satu lagi, yang membuat saya cinta, pengarang komik ini memberikan porsi yang passsss, ngga berlebihan, dan KONSISTEN. Emangnya Naruto? Huh! (Orang yang udah bete ama manga dan anim Naruto—kecuali SasuSaku, haha)
Oh iya, tidak semua POV dalam chapter mendatang menggunakan Ayumu's POV. Ini cuma sebagai variasi saja. Dan anda bisa menduga bahwa ke depannya akan banyak OOCness. Maap, selera author. –dibacok-
Sekarang, berminatkah anda memberikan sepatah kata pada saya untuk memperbaiki kualitasnya?
Terima kasih sudah membaca.
blackpapillon
