Minaaaaa~ Konichiwa!

Fic ketigaku kutaruh di sini, fic Vocaloid! (maksudnya?)

Disclaimer : Vocaloid just belong to Yamaha! Not me! Kalau ada yg bilang kalau Vocaloid itu punyaku, bakar rumahnya! (kejam amat lo…-_-) Pokoknya, itu fitnah deh!

Tetangga Author : Jiaaahh…dy buat fic baru lagi…

Author : Lo apaan sih! Muncul melulu di fic gue! Fic pertama gue lo muncul! Sekarang muncul lagi di fic ketiga gue! Lo narsis bgt sih! Muncul tuh di fic sendiri, bukan di fic orang!

Tetangga Author : Tapi di fic kedua lo gue nggak muncul kaaan? Itu gue udah berusaha nahan diri tuh biar nggak muncul! Gue masih baik hati, tau nggak?

Author : Serah deh! Capek gue ngeladenin lo! Okelah, nggak perlu basa-basi lagi!

Happy Nice Reading! ;)

Chapter 1

Promise Under The Rainbow

"Kaitooo! Sedang apa…?"

"Aah, Miku. Aku sedang memandang pelangi itu. Tadi kan habis hujan."

"Waaah…indahnya…ini pertama kalinya aku melihat pelangi seindah ini…"

"Pertama kali?"

"Iya! Seandainya sampai besar nanti aku masih bisa melihat pelangi seindah ini…"

"Hemm…baiklah! Ayo kita buat janji!"

"Heh..? Janji apa?"

"Janji saat besar nanti aku akan menjemputmu dan kita akan melihat pelangi ini bersama lagi! Lusa aku akan pindah ke rumah baruku yang jauh, jadi ayo kita berjanji!"

"Ka-Kaito…akan pindah…?"

"Iya! Jadi, ayo buat perjanjian ini!"

"Iya!"

Miku pun langsung terbangun dari tempat tidurnya dengan perasaan terkejut. Napasnya sedikit terengah-engah.

"Hah…mimpi itu lagi. Itu kan kejadian masa kecil. Kenapa hal ini terus mengganggu tidurku?" gumamnya sambil melipat kedua kakinya sehingga lututnya bersentuhan dengan bibir mungilnya.

Miku melirik ke arah meja riasnya, tepatnya ke salah satu foto berbingkai warna aqua favoritnya. Di foto tersebut terdapat dirinya yang berumur empat tahun sedang tertawa dengan anak laki-laki berambut biru yang memakai syal biru dan memegangi es krim. Di belakang mereka berdua terdapat garis lengkung berwarna-warni di langit yang tak lain adalah pelangi. Pelangi yang sangat indah. Dari dulu, Miku sangat suka pelangi itu.

'Kaito…mana janji yang kau buat itu? Kenapa kau masih belum datang juga untukku…? Aku rindu padamu…kenapa kau masih belum kembali untukku? Aku ingin melihat pelangi itu bersamamu lagi…' Batin Miku disertai helaan napas yang cukup panjang.

Miku pun langsung bangun dari ranjang malasku ini dengan sigap. "Sudah! Urusan itu nanti saja! Sekarang saatnya sekolah! Yosh, Miku! Ayo berjuang!" ujar Miku menyemangati dirinya dan menonjok udara ke atas.

Ia pun segera bersiap-siap ke sekolah. Tak lupa mengikat rambut aquanya dengan model rambut twin pony tail. Ia pun turun dari kamarnya dan segera menuju ruang makan. Miku mencium aroma omelette yang lezat. Dengan kilat, ia menduduki meja makan karena air liurnya tak tertahankan lagi.

"Ah, Miku. Ohayou, cepat sekali. Sarapan hari ini omelette." Sambut mamanya lembut sambil menyodorkan sepiring omelette, tak lupa dengan neginya.

"Yeeeiii…Itadakimasu~!" sorak Miku sambil mulai menyantap omelette tersebut dengan lahapnya. Mamanya hanya tersenyum lembut melihat putri tercintanya makan dengan lahapnya.

Setelah Miku menyapu habis sarapannya, ia pun beranjak dari kursinya dan mengambil bento buatan mamanya lalu langsung berlari ke arah rak sepatu dan memakai sepatu sekolahnya.

"Aku berangkat!" seru Miku setelah kedua sepatunya terpasang benar di kakinya dan mengambil langkah lebar untuk keluar dari rumahnya.

"Hati-hati di jalan ya, sayang." Pesan mamanya sambil membereskan peralatan makan yang digunakan Miku tadi.

Miku pun berjalan dengan santainya ke arah Vocaloid School sambil bersenandung ria.

"Miku! Ohayou!" sapa gadis berambut merah muda yang dibiarkan tergerai begitu saja sehingga rambut panjangnya terkadang melambai-lambai di udara.

"Ah! Luka! Ohayou!" balas Miku dengan senyum manisnya sambil menghampiri sahabat setianya itu, Megurine Luka.

"Sudah latihan? Hari ini katanya ada praktek menyanyi loh!" ujar Miku kepada Luka yang melangkah di sampingnya.

"Ah, sudah dong! Kalau kau nggak usah latihan! Soalnya kau kan murid teladan di Vocaloid School!" ujar Luka sambil menyikut Miku.

"Itu kan karena usaha. Kalau usaha, pasti bisa menggapai keinginan kita. Oh iya, nanti kau mau menyanyi lagu apa? Aku sih maunya Last Night, Good Night."

"Hemm…aku sih kayaknya Just Be Friends aja! Soalnya itu lagu yang paling sering kusenandungkan di rumah. Hihihi…"

Kedua murid Vocaloid School itu pun terus mengobrol ria hingga akhirnya mereka sampai di kelas mereka.

"Miku! Luka!" panggil gadis berambut pendek kuning disertai dengan bando putih berpita yang bertengger di atas kepalanya.

"Rin! Kenapa kau berjingkrak-jinkrak seperti itu? Kau baru dapat uang jajan bulanan dari mamamu ya?" Tanya Luka sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.

"Enak aja! Aku bukan dapat uang jajan, tapi dapat jeruk dari Len! Tadi pagi ia dapat dari temannya, karena ia nggak terlalu suka jeruk, ia memberikan jeruk itu padaku!" seru Rin dengan girangnya.

Miku dan Luka hanya berdiri di dalam kebisuan karena memperhatikan sahabat mereka, Kagamine Rin yang sangat suka jeruk itu berjingkrak-jingkrak.

"Lho? Memangnya Len sekarang ke mana?" Tanya Miku antusias.

"Iya. Len ke mana? Soalnya hari ini aku bawa choco banana buatan ibuku untuknya. Kebetulan di rumahku buah-buahan sedang berlimpah." Ungkap Luka sambil mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna biru muda.

"Oh, sepertinya ia ke toilet." Jawab Rin sambil menengok ke sana-kemari mencoba mencari saudara kembarnya itu, Kagamine Len. Matanya pun langsung tertuju tepat kepada seorang laki-laki berambut kuning yang sama dengannya dan wajahnya yang begitu mirip dengannya.

"Aah! Itu dia! Len!" seru Rin sambil melambai-lambaikan tangannya kepada saudara kembarnya itu. Len pun menghampiri ketiga temannya itu dengan santai.

"Ada apa?" tanyanya.

"Len, hari ini aku membawa choco banana untukmu. Ibuku membuatnya tadi pagi." Ujar Luka sambil menyerahkan kotak bekal berwarna biru muda itu kepada Len. Perlahan-lahan, senyum Len langsung mengembang. Lalu ia menerima kotak biru tersebut.

"Arigatou, Luka! Sampaikan juga pada ibumu terima kasih dariku!" ucap Len dengan girangnya. Luka hanya terkekeh pelan melihat sahabatnya yang sangat suka pisang itu.

"Sama-sama! Tenang saja! Nanti akan kusampaikan pada mamaku deh!" balas Luka sambil mengeluarkan salah satu jempolnya.

"Oh iya. Katanya hari ini ada murid baru di kelas kita loh!" sahut Rin tiba-tiba.

"Haah? Siapa itu?" Tanya Miku.

"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Luka setelah Miku bertanya.

"Hemm…entahlah. Aku juga nggak tau namanya. Tapi sih katanya laki-laki. Aku cuma dengar-dengar dari teman-teman yang lain." Jawab Rin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau itu memang paling sigap kalau mendapat informasi baru di antara kita berempat, tapi kalau kau mau memberitahu informasi harus jelas dan pasti dong." Saran Luka dengan pose berkacak pinggang.

"Mana aku tahu! Aku kan cuma dengar-dengar dari mereka aja! Jangan salahkan aku dong!" balas Rin sambil mengembangkan kedua pipinya.

"Sudah. Sudah. Nanti juga kita tahu. Kalian itu, sudah besar tapi kelakuannya masih kayak anak kecil." Sela Miku sambil melerai mereka bedua.

"Bukannya kau juga?" seru Luka dan Rin bersamaan kepada Miku.

"E-eeh…benar juga sih. Tapi nanti kita juga akan tahu kan?"

KRIIIIIIIING…!

Bel pun berbunyi. Semua murid yang tadinya asyik dengan aktivitas masing-masing langsung berhamburan masuk ke kelas dan duduk pada tempat duduknya masing-masing termasuk Miku, Luka, Rin, dan Len. Guru-guru juga mulai beranjak dari kursi malasnya di ruang guru dan mulai memasuki kelas-kelas yang mereka tuju.

Kemudian, Lily-sensei memasuki kelas Miku dan kawan-kawan.

"Anak-anak. Ohayou. Hari ini kita kedatangan teman baru. Silahkan masuk." Kemudian, sebuah sosok laki-laki muncul dari depan pintu kelas. Warna rambutnya yang biru sangat cocok demgan bola matanya yang biru. Laki-laki itu juga memakai syal berwarna biru yang sama dengan rambutnya. Dia juga tinggi dan tampan.

Miku terperangah melihat laki-laki itu. Ia menutup bibirnya dengan kedua tangannya dan matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa berbunga-bunga. Laki-laki itu…

"Perkenalkan, namaku Kaito Shion. Aku pindah dari Osaka ke sini karena ayahku berpindah kerja. Senang berkenalan dengan kalian semua. Mulai sekarang dan nanti, mohon bantuannya."

-To Be Continued-

Author : Gimana? Bagus nggak? Bagus nggak?

Tetangga Author : Hemm…jelek! Ceritanya norak, abal, dan gaje!

Miku : Tau nih! Gimana sih!

Author : Yaah…nggak apa-apalah! (Lho? Kok ada Miku tiba-tiba?) Aku cuma pengen menyalurkan inspirasi aja ke fic ini! ^^" #berkeringat# Kalau menurut para readers, bagus nggak?

Readers : Hemmm….kami setuju dengan tetangga author-san dan Miku!

Author : #Pundung#

Miku : Para readers, abaikan saja anak ini. Anak ini memang belom dikasih obat.

Tetangga Author : Betul sekali!

Author : Gue nggak gilaaaaaaa!

Para readers, abaikan saja kutipan di atas tadi. Emang gaje.

Okelah kalau begitu, kalau mau tahu kelanjutannya, bersabarlah untuk menunggu chappie selanjutnya, okay?

Review please~! * puppy eyes mode on