Title : For One Day
Cast :
Kim Jong Woon ( Yesung)
Kim Ryeo Wook (Ryeowook)
Genre : Angst, Romance.
Author POV
Hujan turun lebat malam ini. Yesung menatap handphonenya, cemas. Ryeowook belum juga membalas pesan nya, bahkan, telpon pun di acuhkannya. Yesung bangkit, berkeliling ruang keluarga. Rumahnya hari ini kosong, kedua orangtuanya pergi ke Mokpo. "Kemana Ryeowook?" gumamnya pelan.
Akhirnya, ia mengambil payung di gudang dan keluar rumah. Ia sudah bertekad untuk ke rumah Ryeowook, memastikan kekasihnya itu baik-baik saja. Dengan cepat, ia mengunci pintu dan berlari di bawah hujan. Petir menyambar, namun kecemasan Yesung mengalahkan rasa takutnya. Bajunya hampir basah semua, tak ada kendaraan satu pun.
Sekarang rumah Ryeowook mulai terlihat. Tangan Yesung mulai terlihat putih pucat, bibirnya gemetaran, langkahnya gontai. Namun ia tetap berjalan menuju rumah Ryeowook.
Sesampainya di depan rumah itu, Yesung berusaha berdiri tegak. Matanya terlihat lemas, mukanya pucat. Ia pingsan di depan pintu, bahkan sebelum memencet bel.
Yesung POV
"Chagi, kau baik-baik saja?" terdengar bisikan lembut di telingaku. Aku mengerjapkan mataku sebentar, lalu membuka mata pelan. Terlihatlah kekasihku di hadapanku, kelihatan cemas. "Akhirnya kau sadar chagi" ucapnya lembut dan mengelus kepalaku pelan. Aku tersenyum pelan. Tubuhku masih terasa lemas.
"Kau pingsan di depan pintu, chagi. Aku mendengar bunyi itu, namun aku juga kebingungan itu bunyi apa, saat aku mengecek pintu depan, aku melihatmu, hyung. Kau terkapar begitu di lantai, dengan baju basah kuyup, dan payung yang terletak di sebelahmu. Kau membuatku khawatir hyung" ceritanya pelan. Aku mengangguk sedikit.
"Justru aku yang khawatir padamu. Kau tidak mengangkat telpon ku. Aku takut kau kenapa-napa" ucapku pelan. Dia agak kaget. "Jinjja? Mianhaeyo, hyung. Aku tadi tertidur, badanku tidak enak, mianhe" ucap nya merasa menyesal. "gwenchana" balasku
"Bajumu sudah kuganti dengan pakaianku yang kebesaran, tubuhmu sekarang lebih hangat kan hyung?" tanyanya ramah. Aku mengangguk dan menggerakan kepalaku sedikit. Bajuku memang sudah berganti. Hangat sekali rasanya. Ryeowook tersenyum puas. Senyuman manis, paling manis yang dimilikinya. Senyuman yang hanya ada untukku...
"Hyung, sebentar. Aku ingin mengambil makan malam. Pasti hyung belum makan." Ucapnya lalu bangkit dan meninggalkan ruangan. Aku mengamati ruangan itu, pasti ruangan Ryeowook... Dindingnya berwarna hijau muda. Barang-barang tertata rapih di atas meja. Aku perlahan duduk dan menyandar. Tubuhku lemas.
Tak lama, Ryeowook masuk dan membawa sepiring makanan. "Makanlah hyung, kau harus pulih kembali." Ucap Ryeowook dan tersenyum.
"Maukah kau menyuapiku? Tanganku lemas." Ucapku beralasan dan sedikit tersenyum.
Dia terkikik, "baiklah"
Dia menyuapiku perlahan. Makanannya enak sekali. Aku menatap wajah kekasihku itu.
"Kau tidur disini saja chagi, sudah malam" ucap Ryeowook mengambil selimut. Aku hanya terkaget-kaget melihatnya begitu. "Kau tidur bersama ku saja, ne?" tanyaku perlahan. Mukanya langsung memerah.
" Ani, aku bisa tidur di sebelah" ucapnya terbata.
"Sudah, ayo tidur disini." Ucapku agak memaksa. Aku menarik tangannya sampai dia tertarik dan jatuh di tempat tidur ini.
"Baiklah kalau kau mau hyung" ucap Ryeowook lembut. Ia tersenyum padaku dan menarik selimut, menutupi kami berdua.
"Sebenarnya aku punya banyak cerita" ucap Ryeowook pelan.
Kami bercerita panjang, kadang tertawa saat ada lelucon. Malam yang menyenangkan.
"Sudah larut, sudah waktunya tidur" ujarku. Ryeowook mengangguk cepat.
Aku berusaha duduk, menatap wajah Ryeowook dari atas. Jantungku berdebar keras. Tuhan, dia manis sekali... Perlahan, aku mendekati wajahnya, dan mencium keningnya lembut. Dia memejamkan mata, tersenyum.
"Night, chagi" ucapku setelah melepas bibirku dari keningnya. "u too, hyung" ucapnya pelan. Dan kami langsung tertidur.
Ryeowook POV
Keesokan paginya, aku sudah kehilangan Yesung hyung. Dia sudah tak berada di sampingku lagi. Aku bangkit, nafasku berburu cepat. Kemana Yesung hyung? Masa dia sudah pergi?
Aku mulai keluar kamar. Dia tak berada dimana pun. Aku menelan ludah, menahan air mataku supaya tak keluar. Aku menyusuri taman, dapur, ruang keluarga, tapi nihil. Aku berusaha menenangkan diri, tapi tak bisa. Nafasku semakin cepat, dan aku menitikan air mata. "ye... yesung, hyung... di... dima...dimana ka...kau?" ucapku terisak. Aku segera menutupi wajahku dengan tangan, badanku bergetar hebat.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat memeluk ku dari belakang. Aku masih terisak, air mata ini tak mau berhenti. "jangan menangis chagi" ucapnya di telingaku, "aku tak akan pergi kemanapun, aku tadi hanya ke toilet, kenapa kau begitu cemas?" tanyanya di telingaku. Aku merinding sedikit, dan merasakan air matanya jatuh ke bahuku. Ia menangis.
"Kalau kau menangis, aku ikut sedih. Bahkan aku menangis, jangan biarkan aku menangis" ucapnya bergetar, dan ia memeluk ku lebih erat. Aku berusaha menghentikan tangisku, aku tak ingin membuatnya menangis juga. Aku melepaskan tangan dari wajahku, dan menaruh tanganku di atas tangannya.
"Aku akan berhenti menangis, kau juga kan?" tanyaku lirih. Yesung tak menjawab, masih kurasakan air matanya di bahuku. Aku membalik kan badan, menatap wajah hyung ku itu. Wajahnya terlihat sedih, agak pucat juga. Air matanya masih mengalir tanpa suara. Aku memegang kedua pipinya, menahan air matanya.
"A, aku akan berhenti menangis wookie, tenang saja" ucapnya bergetar. Aku terus mengamatinya, sampai ia merasa lebih lega. "Mianhe hyung" ucap Ryeowook mantap, matanya masih merah. Aku mengangguk cepat.
Author POV
Yesung memeluk Ryeowook lagi. Pelukan hangat, lembut. Ryeowook membalasnya perlahan. "Saranghae, hyung." Ucap Ryeowook ditelinga Yesung. "Nado, nado" ucap Yesung, memeluk Ryeowook lebih erat.
Ryeowook tak mau membuat hyung nya itu menangis lagi, atau terluka lagi. Yesung memiliki penyakit Kanker. Yesung bahkan tidak memikirkan itu, menurutnya, ia harus membahagiakan Ryeowook sebelum Yesung pergi.
"Ryeowook, maukah kau menemaniku pergi?"
"Ne, tentu saja. Kemana?"
"Ke Galeri Lukisan, kau mau?"
Ryeowook mengangguk cepat. Ryeowook mencintai Yesung, sangat mencintainya. Ryeowook akan selalu membahagiakan Yesung.
"Kita naik bus, bagaimana?" ajak Yesung lembut. Ryeowook dengan cepat mengangguk. Dalam waktu 20 menit, mereka sudah mandi dan siap untuk pergi. Mereka berjalan riang, tersenyum puas. Kelihatan sekali mereka sedang bahagia.
Yesung POV
"Lukisan ini bagus ya?" tanyaku pada kekasih di sampingku. Lukisan bergambar kota New York, indah sekali. Ryeowook mengangguk cepat, "aku ingin ke sana hyung, bersamamu" ucapnya lembut dan memeluk lenganku. Aku terkikik, "kelak, aku akan mengajakmu kesana" ucapku mantap. Dia tersenyum puas
Kami mengelilingi galeri itu, banyak sekali lukisan indah disana. Aku memang penggemar lukisan. Penyakit ini mengangguku. Kehidupanku jadi agak terhambat sekarang. Bagaimana kalau aku pergi dengan cepat? Meninggalkan Ryeowook di dunia ini? Ck, aku akan melakukan hal yang indah sebelum aku pergi.
"Kau mau pergi ke mana chagi?" ucapku
"eng, terserah kau saja" ucap ryeowook sambil menggelembungkan pipinya
Dengan cepat aku mencubit kedua pipinya. "AW!" teriaknya, aku terkikik. Kekasihku ini memang lucu. Tak ada yang bisa lebih lucu darinya
"Aku lapar hyung" ucap Ryeowook pelan
"Baik, baik. Kita pergi makan saja. Mau dimana chagi?" tanyaku sambil melihat jam. Ini memang sudah waktunya makan siang
"Di, Werzt saja. Aku suka makanan disana" usulnya
Aku mengangguk. Ia menunjukan jalan menuju ke sana. Tempatnya tidak begitu jauh, jadi kami berjalan bersama lagi. Badanku agak lemah sekarang, capek. Tapi ku usahan berjalan bersamanya.
"Mau pesan apa hyung?" tanyanya, memberiku buku menu. Aku menghela nafas. Badanku semakin lemah, tak bisa bergerak lagi. "Apa saja, terserah kau chagi" ucapku pelan. "Kau baik-baik saja hyung?" tanyanya. Sepertinya ia mengetahui keadaanku sedang tidak baik. Karena tak mau ia khawatir, aku menggeleng pelan dan tersenyum.
"Bohong" ucapnya keras dan ia bangkit. Ia memegang dahiku. Panas. "Kau demam hyung? Hyung!" ucapnya khawatir. Matanya membulat, ia meraba-raba wajahku, tanganku, dahiku, semuanya. "Kau harus kerumah sakit, ayo" ajaknya sambil memegang tanganku erat.
"Aku baik-baik saja, sungguh" ucapku meyakinkannya. Tuhan, aku semakin lemah...
"Tidak, tidak. Ayo kerumah sakit" ucapnya agak keras. Namun, kurasakan tubuhku sudah sampai batasnya, dan aku pingsan di hadapannya.
"Hyung? HYUNG? TOLONG PANGGIL AMBULANCE! TOLONG! BAWA IA KERUMAH SAKIT" terdengar suara Ryeowook di telingaku sebelum aku pingsan.
Ryeowook POV
Aku duduk di Ambulance yang sedang berjalan cepat. Aku menatap tubuh hyungku, terkapar lemah. Mungkin ia kecapean. Aku sudah menghubungi kedua orangtuanya, dan mereka akan secepatnya ke sini. Aku berdoa dalam hati. Tuhan, selamatkan Yesung, paling tidak untuk saat ini...
Aku terus berdoa. Air mataku mengalir cepat. "bodoh, kalau saja kau menyadarinya lebih awal, hyung mu tak akan begini" gumamku dalam hati. Jantungku berdebar kencang, aku sungguh khawatir padanya. Sesampainya di rumah sakit, Yesung hyung segera di bawa ke ruang ICU. Sedangkan aku menunggu di depan.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, berlalu. Aku tak bergerak sama sekali. Aku masih syok. Air mataku mengalir semakin deras, tuhan, selamatkan dia... Kurasakan ada tubuh hangat yang menepuk ku dari belakang. Aku dengan cepat menoleh, umma dan appa Yesung hyung tersenyum padaku.
Umma Yesung hyung kelihatan pucat, ada genangan air mata di pelupuknya. Aku segera bangkit, memeluk umma Yesung hyung terlebih dahulu. Hangat sekali, umma nya balas memeluk ku. Air mata Nyonya Kim jatuh ke bahuku, mengalir ke badanku.
Tuan Kim menepuk pundak ku. Ia kelihatan tegar, tapi pasti menyimpan rasa sakit di hatinya. "Kau sudah menghubungi orang tuamu?" tanya nya. Aku tersentak kaget, saking sedihnya, aku belum menghubungi kedua orang tuaku. Aku menggeleng pelan, dan menjauh dari mereka.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku. Tanganku masih gemetar hebat. Air mataku masih saja mengalir. "an.. annyeong..." ucapku gagap. "Wookie ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" terdengar suara ummaku di ujung sana. Aku tak sanggup menopang berat tubuhku, jatuh ke lantai. Tuan Kim membantuku berdiri dan duduk di sofa. "Aku, di... dirumah sa.. sakit Yeito. Umma, da... datang saj...saja ke.. sini" ucapku terbata.
"Biarkan appa yang bicara" ucap tuan kim tersenyum lembut. Aku memberikan ponselku padanya, melanjutkan menangis.
Tuhan, dia baik-baik saja kan?
Kau akan menjaganya kan? Untukku, untukku...
Tuhan, aku mencintainya... Tuhan pasti tau itu...
Selamatkan dia, Tuhan...
