Hatsune Miku no Shoushitsu – a Vocaloid fanfiction
YandeReChi ©2012
Disclaimer : Semuanya bukan milik saya.
Chara : Hatsune Miku
Genre : Angst, Hurt/Comfort
Rated : K+
Pair : -
Warning : Feel kurang, terinspirasi dari lagu Hatsune Miku no Shousitsu atau The Disappearence Of Miku. 845 words tanpa disclaimer dan A/N.
Summary : Siapa yang peduli padanya? Siapa yang peduli pada seonggok sampah tidak berguna sepertinya sekarang?—aku tidak. Kalau kau?/Angst fic/short summary/dibuat di tengah kekosongan otak sang author./Mind to RnR?/2012
.
.
Matanya yang biru indah itu tidak lagi memancarkan cahaya. Rambut teal-nya yang panjang terlihat layu di kanan kiri kepalanya—karena rambut itu diikat dengan gaya twin tail. Bibirnya membuka dan menutup—menyanyikan sebuah lagu dengan patah-patah. Tersenyum sesekali. Angin kecil menyibakkan poninya. Ia duduk di tengah-tengah padang bunga, duduk dengan melipat kedua kakinya. Sepasang tangan mungil yang halus memeluk kaki-kaki itu.
"Ak.. kk.. ku—" gadis dengan rambut teal panjang itu berusaha mengatakan sesuatu.
Gadis itu tersenyum, menutup matanya, "Sud... d.. ddah... kku... dugg.. a..."
Setitik air bening mengalir dari pelupuk mata yang tertutup itu, "Akk... u... r... russ... ak..."
Terbayang lagi olehnya, saat-saat dimana para penggemarnya menyerukan namanya dengan semangat. Ikut bernyanyi dengannya sampai suara mereka habis. Memuji-muji dirinya. Rela mengeluarkan uang banyak untuk mengoleksi semua barang yang berhubungan dengannya.
Tapi kini tidak ada lagi penggemar yang menyerukan namanya. Tidak ada lagi yang mau bernyanyi dengannya. Tidak ada lagi yang memuji dirinya. Tidak ada lagi yang rela mengeluarkan uang banyak demi dirinya yang sudah rusak.
Rusak?
Ya. Gadis berambut teal tersebut bukanlah manusia. Dia adalah Vocaloid. Sebuah 'alat' yang diprogram untuk bernyanyi. Bernyanyi. Bernyanyi.
Kini dia sudah rusak. Sejak kecelakaan seminggu yang lalu, gadis teal tersebut terbuang. Mungkin lebih tepatnya dibuang oleh sang Master. Kini gadis itu sendirian. Berjalan tak tentu arah dari tempat tinggalnya dulu hingga sampai ke taman bunga ini.
Terlalu sering diperhatikan membuat gadis itu benar-benar merasa tidak terbiasa. Dia yang biasanya dikelilingi oleh fans dan teman-teman baik hati yang kadang iri padanya, kini sendirian hanya ditemani oleh bunga-bunga mungil yang diam membisu, hanya bergerak mengikuti irama angin.
"Kk... Kkammi-samm... sama... ak... kku... ing.. ng... in... kkehid... dupp... ankk... ku yyan... yang.. ng.. ddu... dulu..." gumam gadis tersebut. Cairan bening membasahi matanya. Mengalir lewat pipinya, dan jatuh membasahi rok yang dipakai sang gadis.
Gadis tersebut, dengan tangan gemetar, memetik sebuah bunga berwarna kuning dan menggenggamnya erat-erat. Seakan tak mau bunga itu tertiup angin—pergi meninggalkannya. Ia tersedu.
"Ak... kku.. rrin... du... Rin... –ch... an... L... Len... Len-kk... un... ddan—kh..." ia tersedu. Genggamannya melemah. Bunga kuning yang ia petik jatuh dengan kasar ke tanah.
Merasa tidak mampu berbicara lagi, gadis teal tersebut menyingkirkan semua bunga di hadapannya dan mengambil sebuah ranting yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Ia mulai menulis dengan tangan gemetar.
Dari Hatsune Miku untuk semuanya, termasuk Master.
Aku bahagia telah terlahir di dunia ini, walau hanya sebagai alat untuk bernyanyi. Aku senang para penggemarku bahagia mendengar nyanyianku. Aku senang teman-temanku bahagia berada di dekatku. Aku rindu itu semua. Teman-teman, kini aku menangis. Aku tidak punya siapapun lagi di sampingku. Kaito-kun, dimana kau? Luka-san, dimana kau?
Rin-chan, Len-kun, Meiko-san, Haku -san, Teto, Neru, dan yang lainnya, aku juga mengharapkan kehadiran kalian semua sekarang. Apa aku terlalu berharap, Kami-sama? Apa harapanku ini terlalu mustahil kau kabulkan, Kami-sama?
Mungkin sebentar lagi aku akan terbaring tidak berdaya disini. Menyedihkan sekali. Padahal dulu aku berharap aku akan mati dengan layak. Ah... apakah Vocaloid bisa mati? Aku tidak tahu. Sepanjang hidupku aku tidak pernah melihat seorang Vocaloid-pun mati di hadapanku.
Air mataku kini mengalir deras, teman-teman. Padahal biasanya tawaku yang menderai. Ah... sekali lagi, aku rindu kalian.
Lihat rupaku sekarang. Kini wajahku sudah rusak. Hitam, kotor, tidak terawat. Tanganku tergores segala macam benda. Kakiku tidak lagi melangkah dengan mantap. Suaraku tidak lagi merdu seperti biasanya. Jadi, kalian tidak perlu lagi iri kepadaku, teman-teman. Aku sudah rusak.
Rusak total. Bahkan sekarang aku tidak lagi dapat bernyanyi. Betapa menyedihkannya, kan? Karirku sebagai Vocaloid mungkin habis sudah disini.
Gadis berambut teal bernama Hatsune Miku itu menyeka air matanya. Kini tangannya pun tidak sanggup lagi menuliskan kata-kata lagi. Miku membuka mulutnya sedikit.
Ia bernyanyi.
Bernyanyi.
Sampai matahari tenggelam di ufuk barat pun, ia masih terus bernyanyi.
Kan itu memang pekerjaannya sebagai Vocaloid? Menyanyi dan terus menyanyi.
Beberapa cahaya kecil berterbangan mendekati Miku. Kunang-kunang. Miku tersenyum. Ia kembali menitikkan air matanya.
Ajaib. Masih ada makhluk hidup bergerak yang mau mendengarkan nyanyiannya saat suaranya tidak lagi seperti biasanya. Saat nyanyiannya bahkan sudah hampir tanpa nada itu.
Miku benar-benar terus bernyanyi. Ia berusaha bernyanyi dengan baik, berniat menghibur para kunang-kunang yang menemaninya bernyanyi. Tiap lagunya mencapai nada tinggi, Miku berusaha menyanyikan bagian tersebut dengan baik seperti biasanya.
"Sekai-de, ichiban ohime-sama—" baru saja Miku menyanyikan awal dari lagu World Is Mine, ia terbatuk. Air matanya kembali mengalir dengan deras. Apanya yang dunia miliknya? Apanya yang putri nomor satu di dunia?
Miku menutup matanya karena lelah. Ia membaringkan tubuhnya di taman bunga. Tersenyum, meningat mungkin esok hari ia tidak akan terbangun lagi. Air matanya kembali mengalir.
.
"Akhirnya! Terciptalah sudah! Kunamai dia Hatsune Miku. Dia adalah Vocaloid paling sempurna!"
Apanya... yang sempurna?
.
"Miku, istirahatlah. Jangan sampai kau sakit. Aku menyayangimu!"
Apanya... yang menyayangi?
.
"Selamat ulang tahun, Miku! Kami mencintaimu!"
Apanya... yang mencintai?
.
"Miku... aku tahu ini memalukan, tapi aku mencintaimu. Aku akan selalu menemanimu tiap waktu!"
Apanya... yang menemani? Pangeran bermahkota biru, mana janjimu?
.
"Kami iri pada Miku-nee!"
Apanya... yang membuat iri?
.
Kini Hatsune Miku hanyalah seonggok sampah yang dilupakan. Siapa yang peduli padanya? Siapa yang peduli pada seonggok sampah tidak berguna sepertinya sekarang?
.
.
Aku tidak.
-Finish-
