Spend the festival
Disclaimer : Don't own anything
Ini adalah cerita lanjutan dari "Thank You For This Summer" bagaimana Luc dan Viki bisa berpacaran pada "Valentine Rush", di posting dalam bahasa Indonesia.
Atas request dari : Fuyuri Shimizu
Daun kemerahan berjatuhan, angin dingin mulai berhembus, orang-orang sudah mulai memakai pakaian musim dingin mereka. Selain itu, banyak acara dan festival yang akan diadakan. Ya, inilah musim gugur.
Ditengah-tengah suasana musim gugur ini, setelah bel pulang berbunyi, murid-murid SMA Dunan tidak kembali ke asrama, tetapi sedang merundingkan apa yang akan mereka bawakan atau buka dalam festival sekolah yang akan diadakan 3 minggu lagi. Dikelas 1-1, dengan wali kelas mereka Shu yang membantu murid-muridnya dalam memutuskan apa yang akan mereka lakukan di festival sekolah.
"Baiklah, festival sekolah akan di adakan sebentar lagi dan kita sudah diharuskan untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan secepatnya agar tidak kerepotan." Shu menjelaskan di depan kelas.
"Baiklah, ada saran untuk festival nanti?" Tanya Shu, semua murid di kelas kasak-kusuk bertanya-tanya satu sama lain, kecuali Luc yang hanya duduk memandang luar jendela.
"Sensei, aku ada usul!" Kasumi mengangkat tangannya.
"Ya, silahkan Kasumi." Shu mempersilahkan Kasumi untuk mengeluarkan idenya.
"Bagaimana kalau kita membuat kedai teh, semuanya akan menggunakan kimono dan kita menyajikan teh hijau dan makanan ringan lainnya seperti kue daifuku dan semacamnya." Usul Kasumi, Shu terlihat tertarik dengan ide itu, sebagian murid terlihat setuju dengan ide tersebut.
"Ide yang bagus, apa ada usul lagi?" Shu bertanya kepada murid-muridnya, mereka semua akhirnya terlihat setuju pada ide Kasumi itu.
"Sepertinya tidak ada ide lagi, baiklah untuk festival sekolah nanti kita akan membuka kedai teh, sepakat?" tanya Shu.
"Sepakaat!" Jawab semuanya dengan semangat dan gembira
"Baiklah, sekarang kalian semua berdiskusi dan berbagi tugas untuk mempersiapkannya." Setelah mengucapkan itu, Shu meninggalkan kelas. Semuanya langsung berdiskusi dan membagi tugas, para siswi sepertinya terlihat gembira karena mereka akan menggunakan kimono.
"Hei Jo, kau akan mempersiapkan kameramu untuk festival nanti ya?" Tanya Riou kepada Jowy yang sedang membersihkan lensa kameranya.
"Sudah tentu, aku akan mengabadikan momen berharga ini agar aku selalu bisa mengenangnya." Jelas Jowy
"Tapi tujuan sebenarnya adalah..." Riou sedikit memancing Jowy.
"Untuk mengambil gambar anak-anak perempuan dan menjualnya." Jelas Jowy. Jillia mendengar pengakuan Jowy itu, ia pun langsung menarik telinga Jowy.
"Jangan nakal ya, di festival nanti kita semua akan sibuk, kau tidak akan punya waktu untuk mengeluarkan kameramu itu." Ucap Jillia. Jowy agak meringis kesakitan dan memegangi telinganya yang di tarik Jilia.
"Iya,iya ampun lepaskan tanganmu dong." Jowy memohon ampun kepada Jillia.
Setelah 20 menit lamanya untuk membagi pekerjaan dalam rangka mempersiapkan festival, ternyata ada 1 hal yang masih kurang.
"Hei, siapa yang akan mengerjakan dekorasi akhir? Kami semua sudah mendapat bagian pekerjaan." Tanya Sasuke kepada Riou. Riou adalah ketua kelas di kelas 1-1.
"Err, apa tidak ada yang masih menganggur? Padahal sudah di bagi sesuai dengan jumlah siswa yang ada di kelas." Riou berpikir, sepertinya ia agak melupakan satu orang. Ketika Riou sedang berpikir, Jowy menghampiri Luc yang dari tadi hanya menatap jendela.
"Hei Luc." Panggil Jowy. Luc hanya menoleh sedikit.
"Sepertinya kau dari tadi hanya menatap jendela dan tidak berdiskusi." Ucap Jowy. Luc hanya diam melihat Jowy dan akhirnya Riou baru sadar kalau Luc belum mendapat bagian pekerjaan. Riou pun menghampiri dirinya.
"Luc, kau sendiri yang belum mendapat bagian kerja kan? Tolong kerjakan dekorasi akhir untuk kedai kita." Riou meminta Luc untuk mengerjakan dekorasi akhir, Luc mengangkat alis matanya.
"Memangnya aku harus mengerjakannya?" Tanya Luc dengan nada yang agak mengesalkan. Mendengar itu, Jowy mulai kesal. Tetapi Riou menenangkannya.
"Aku mohon, ini demi kelas kita Luc." Riou memohon kepada Luc. Walau Luc di kenal dingin,ketus dan terkadang tidak punya perasaan, ia tidak bisa menolak kalau ada orang sudah memohon seperti itu kepadanya.
"Ya sudah, aku kerjakan." Ucap Luc, lalu ia pergi meninggalkan kelas. Jowy sudah kesal melihat perlakuan Luc kepada sahabatnya itu. Riou menghela nafas lega karena Luc mau berpartisipasi.
U-U-U-U-U
Luc berjalan menuju kafetaria sebelum kembali ke asrama laki-laki. Sesampainya ia di kafetaria, di sana ada Viki dan Meg yang sedang minum teh sambil berbincang-bincang. Viki melihat Luc yang baru saja masuk dan mengambil tempat duduk di meja tepat di sebelah mereka berdua. Viki menjadi salah tingkah dan wajahnya menjadi merah, ia teringat apa yang Luc katakan kepadanya musim panas yang lalu.
Meg terheran-heran melihat tingkah Viki yang mulai aneh, iapun langsung bertanya kepada Viki.
"Hei, apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Meg, tetapi nampaknya Viki tidak mendengar apa yang di ucapkan Meg, ia terus memainkan jarinya di meja. Meg agak kesal karena tidak di dengarkan, ia pun berteriak ke Viki.
"HEII! APA KAU MENDENGARKU?!" Meg berteriak agak keras, Viki pun tersadar dan kaget. Karena kaget, Viki menumpahkan teh yang ada di mejanya, Viki menjadi agak panik. Meg yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng.
"Leona-San, kau punya kain lap? Viki menumpahkan tehnya." Meg memanggil Leona yang menjaga kafetaria, Leona pun menuju ke meja Meg dan Viki dan ia membersihkan teh yang tumpah tersebut.
"Maaf merepotkanmu Leona-San." Viki merasa bersalah karena kecerobohannya, Leona hanya tertawa kecil karena melihat tingkah Viki tadi. Viki melirik Luc yang sedang menikmati makanan ringannya , walau hanya lirikan kecil, Luc bisa merasakan kalau seseorang sedang melihatnya. Luc pun menoleh dan menatap Viki. Viki menjadi salah tingkah lagi, Meg semakin bingung atas apa yang terjadi dengan Viki, Leona tertawa kecil.
Luc telah menghabiskan makanan ringannya, ia pun segera membayar makanan yang ia makan dan meninggalkan kafetaria. Ketika Luc sudah pergi, Viki menjadi tenang dan sepertinya mengetahui apa yang terjadi pada Viki sekarang.
"Hey, kenapa kau menjadi seperti itu kalau bertemu dengan Luc?" Meg bertanya lagi. Mendengar pertanyaan Meg itu, Viki kembali menjadi salah tingkah.
"Eh.. A-aduh, K-kau ini bertanya apa sih?" Viki menutup wajahnya, ia tak ingin Meg melihat wajahnya yang sudah memerah.
"Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu antara kau dan Luc, kalau boleh aku tebak itu terjadi ketika musim panas kemarin." Tebakan Meg tepat, Viki semakin salah tingkah. Meg semakin tertarik dengan hubungan Viki dan Luc itu.
"Apa yang sudah terjadi? Ceritakan padaku dong." Meg terlihat antusias ketika menanyakan hal ini kepada Viki, semakin salah tingkah.
"A-aku tidak bisa menceritakannya sekarang, aku malu." Viki tetap wajahnya, Meg mengangguk-angguk menunjukkan kalau dia mengerti.
"Ya sudah, tapi kau ceritakan nanti ya." Ucap Meg, Viki mengangguk. Merekapun membayar tehnya dan meninggalkan kafetaria.
U-U-U-U-U
Malampun tiba, dikamar asramanya Luc sedang mengerjakan dekorasi akhir sesuai dengan ilustrasi yang Kasumi berikan tadi ketika ia keluar dari kafetaria. Ketika ia sedang membuat dekorasi itu, teman sekamarnya Kinnison masuk sambil mengeringkan kepalanya dengan handuk.
"Hey, kau sudah mulai mengerjakan dekorasi untuk festival nanti ya?" Tanya Kinnison kepada Luc.
"Begitulah, apa kelasmu sudah memutuskan apa yang akan dilakukan di festival sekolah nanti?" Tanya Luc lagi sambil tetap mengerjakan dekorasinya.
"Masih belum, kami akan melakukan voting ulang besok." Jawab Luc sambil mengambil novel yang ia akan lanjutkan. Luc hanya mengangguk-angguk kecil sebagai tanda mengerti.
"Hey..." Luc memulai pembicaraan.
"Ada apa?" Tanya Kinnison.
"Ah tidak, tidak apa-apa." Kinnison kembali membaca novelnya. Luc padahal ingin bertanya tentang keadaan Viki di kelas.
Sementara itu Viki pergi ke onsen, ia pergi bersama Karen. Di sana mereka kebetulan bertemu Meg, merekapun masuk onsen bersama-sama. Di pemandian wanita, Meg langsung menuju ke Viki.
"Hey Viki, ceritakan apa yang terjadi denganmu dan Luc di musim panas kemarin dong." Meg meminta Viki. Karen yang mendengar itu langsung ikut berantusias.
"Iya, waktu pesta kembang api kau malah menghilang meninggalkan aku, Nanami dan Kasumi. Apa kau mencari Luc?" Tanyanya dengan senyum yang menggoda-goda Viki. Wajah Viki mulai merah dan panas, di tambah panas lagi karena berendam di onsen.
"Ya-ya sudah aku ceritakan." Viki pun menceritakan kejadian musim panas kemarin, dan ia menceritakan apa yang dikatakan Luc kepadanya setelah pesta kembang api berakhir.
"Luc berkata begitu kepadamu?!" Tanya mereka secara bersamaan, Viki hanya mengangguk. Karen tersipu-sipu mendengar apa yang di ceritakan Viki barusan, Meg tidak percaya, jelas saja karena Luc yang di kenal berhati seperti es berkata begitu kepada Viki.
"Tapi, aku tidak begitu yakin." Ucap Meg, Viki mengangkat wajahnya.
"Maksudmu?"
"Iya, tadi saja ketika dia berada di kafetaria. Ia terlihat tidak begitu peduli terhadapmu." Jelas Meg. Mendengar itu Viki menunduk sedih. Karen menyikut lengan Meg, ia sepertinya tersadar kalau ia agak menyakiti perasaan Viki.
"Tapi, kau buktikan saja. Di festival sekolah nanti, kalau ia senang denganmu berarti ucapannya benar." Saran Karen. Viki mengangkat kepalanya dan berpikir kalau itu ide yang bagus juga.
"Baiklah akan ku coba. Semoga saja ucapannya di musim panas kemarin benar." Viki tersenyum kembali, Meg menghela nafas lega.
Author : Chapter I done
