A/N: karena terlalu senang baca Vampire Knight terus kecantol sama Kaname, akhirnya saya buat ini cerita. cCerita ini mengandung OC. Ini cerita tentang seorang tokoh putri pureblood, Alana Shoutou. Dia itu adalah teman sejak kecil Kuran Kaname dan punya perasaan suka dengan Kaname sejak dulu.
Important! cerita ini anti Yuuki. Jadi bagi yang suka sekali sama Yuuki mohon sabar, karena saya men-setting tokoh utamanya punya perasaan benci ama Yuuki.
Pairing: Kaname x OC (mungkin. soalnya cerita ini hawanya agak tragis.)
Disclaimer: saya bukan yang punya Vampire Knight dan karater-karaternya. Vampire Knight yang punya cuma Matsuri Hino, tetapi OC-nya punya saya.
Warning: Anti Yuuki.
The Scattered Heart
Prologue
Ada begitu banyak perasaan berkecamuk di dalam hatiku ketika aku melihatnya, di dekatnya, atau ketika dia berada di sampingku. Rasa sakit yang membuatku merasa jantungku terasa ditikam, rasa bahagia hingga rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum, tetapi yang paling terasa ketika bersamanya adalah... cinta.
Dan kesedihan yang mendalam.
Setiap kali aku bersamanya, rasanya aku mau menangis. Menangis dan menangis. Tetapi walaupun ingin, aku tidak bisa menangis. Aku adalah 'ras darah murni'. Vampire tingkat tertinggi dari semua vampire. Tabu bagi kami untuk menangis di khayalak umum. Kami harus selalu terlihat kuat. Kami adalah pemimpin mereka. Apajadinya bila sang pemimpin bersikap lemah seperti menangis. Aku tersenyum muram memandang tembok polos di hadapanku.. Lagipula apakah dia peduli? Apakah dia peduli padaku? Itu adalah apa yang selalu aku pertanyakan di dalam benakku. Kalau aku menderita, apakah dia peduli? Apakah dia bisa melihat apa yang aku selalu sembunyikan dalam topeng yang selalu kupakai? Apakah aku ini berarti baginya?
Aku dapat merasakan rasa darah di mulutku. Luka yang kualami ternyata lebih parah dari dugaanku. Senjata khusus vampire itu memang merepotkan. Darah-darah merah menetes dan mengalir tanpa ada tanda untuk berhenti dari dadaku yang terluka. Sepertinya luka ini lebih dalam dari perkiraanku, dan efek senjata itu menghambat kemampuan regenerasi tubuhku. Lututku terasa lemas dan akhirnya menyerah untuk menopang badanku. Aku jatuh berlutut ke lantai dan menyadarkan punggungku di tembok. Aku mendekap mataku dengan kedua tangan untuk menahan air mata yang sudah menggenang, yang terancam untuk jatuh setiap saat. Tidak berdaya. Pertama kalinya aku merasa tidak berdaya.
Putus asa.
Segala perasaan yang kupendam selama lebih dari 10 tahun terasa meluap. Meluap melebihi batas. Berbagai kemungkinan dan perasaan berkecamuk di dalam kepalaku. Bagaimana kalau dia menjawab tidak? Bagaimana kalau aku hanya dianggap sebagai alat seperti yang lain. Alat yang akan dibuang begitu ia tidak berguna. Bagaiman kalau ya? Kalau aku penting dan berarti baginya. Tapi seberapa pentingkah aku? Apakah aku lebih penting daripada adiknya? Bagaimana kalau dia sudah tahu dan mengacuhkannya? Pura-pura tidak tahu walau sebenarnya dia tahu dengan sangat jelas tentang perasaanku.
Huh. Tentu saja. Sepertinya dia tahu dan memilih untuk mengacuhkannya, sama seperti gadis dari keluarga Souen itu. Baginya keberadaanku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan adiknya. Adiknyalah yang selalu ada di hatinya. Selalu dan selalu adiknya. Jika dia sudah mendapatkan kembali adiknya, aku pasti akan langsung hilang dari hatinya. Hilang tanpa bekas. Perhatiannya akan selalu, selalu, dan selalu tercurahkan untuk adiknya. Adik yang tak bisa apa-apa. Adik yang bodoh dan tidak mengenal dunia. Lemah. Ceroboh. Dan selalu terbawa emosi yang tidak perlu. Yang pasti anak itu TIDAK BERGUNA! Kalau saja dia bukan anak dari nona Juuri dan tuan Haruka, apakah dia akan tetap memperhatikannya? Aku terdiam sesaat untuk memikirkan jawabannya. Rumit. Ini sungguh rumit. Lama kelamaan kepalaku sakit memikirkannya, tetapi aku yakin akan satu hal. Kalau tidak ada Kaname, dia pasti sudah hancur berkeping-keping. Hmph. Bahkan dia tidak tahu bagaimana dia harus bersikap di depan publik. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia hadapi. Apa sebenarnya pureblood itu. Dia tidak tahu bahwa di luar sana, bagi para bangsawan dan vampire biasa, 'ras darah murni' adalah mangsa. Mangsa yang sangat berharga, yang sangat ingin mereka dapatkan dengan cara apapun. Bahkan membunuhpun akan mereka lakukan demi mendapatkan darah 'ras darah murni'. Dia tidak tahu bahwa dibalik wajah senyum mereka, monster-monster haus darah sedang mengincar dan memburu darahmu.
Sungguh tragis. Aku tersenyum kecut begitu memikirkannya. Bahwa ras kami sendiri mengincar kami, para pureblood. Tapi kurasa itu tidak berbeda dengan manusia. Baik vampire ataupun manusia, mereka haus akan kekuatan dan kekuasaan. Huh. Aku mendengus sambil mengeleng-gelengkan kepala. Sungguh na'as. Walau ras darah murni sangat dihormati dan dipuja, memiliki kekuatan yang lebih kuat daripada yang lain, kecantikan dan ketampanan yang memikat semua orang, kami... TIDAK akan pernah hidup bahagia.
Masa depan kami begitu gelap. Begitu gelap hingga tidak ada cahaya yang mampu menembusnya. Mungkin karena itulah, banyak ras darah murni yang mati bunuh diri atau dibunuh untuk beberapa kasus. Mereka yang sudah tidak memiliki semangat hidup, memilih mati daripada hidup selama beratus-ratus tahun tanpa arti. Kosong tanpa semangat dan tujuan hidup sama saja dengan mati. Mataku terus memandang tembok polos dihadapanku dengan tatapan kosong. Mata yang tadinya bercahaya seperti batu mulia yang baru digosok, sekarang berubah menjadi kusam. Hal yang sepertinya akan aku alami. Semangat dan tujuan hidupku semakin lama semakin hilang. Hanya tinggal sebentar lagi hingga hilang tanpa sisa. Satu-satunya cahaya yang menerangi hidupku sudah tidak akan ada lagi. Ia akan pergi meninggalkanku. Aku tahu itu. Aku... tahu... Setetes air mata membasahi pipiku. Air mata yang berusaha kubendung keluar sedikit demi sedikit tanpa henti. Kudekap mulutku dengan kedua tanganku yang penuh darah untuk meredam suara tangisku. Kepalaku tertunduk dibelakang lenganku untuk menyembunyikan wajahku yang penuh air mata. Aku akan sendirian... Kaname... Air mata semakin bercucuran bagaikan hujan rintik-rintik. Apakah aku salah jika aku mengharapkan cintanya? Apakah aku tidak pantas akan cintanya? Aku mendesah dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya rembulan yang menyinari dari jendela kamarku. Apakah ada yang dapat membangkitkan semangat hidupku lagi? Selain dirinya?
Itu yang aku tidak tahu. Aku tidak mempunyai kemampuan untuk memprediksi masa depan. Tidak ada yang pasti dalam masa depan. Masa depan akan selalu berubah. Walau terkadang kita tahu, masa depan apa yang akan kita alami.
A/N: Ya ini prologue-nya. Memang pendek, tetapi nanti chapter 1 saya perpanjang jadi 2000+ kata. Tolong review-nya ya. comment pendapatnya tentang cerita saya, bagus apa tidak. kalau ada yang kurang silakan review. nanti saya perbaiki.
kalau ada yang mau kasih pendapat tentang ide cerita juga silakan.
