Hidup itu, bagi sebagian orang adalah kebebasan. Bebas memilih atau melakukan apapun, bebas memilih jalan yang mana yang mau ia lewati. Bagi sebagian orang yang lainnya, hidup itu adalah keinginan. Ya, keinginan untuk memilih yang baik atau yang buruk. Bagi sebahagian orang lagi, hidup itu adalah perjuangan untuk membentuk jati diri mereka, perjuangan untuk mendapatkan kedamaian dan kesejahteraan dalam warna-warni kehidupan.
Bersyukurlah, jika Tuhan melahirkanmu dalam kehidupan yang berkecukupan dan serba ada. Dan jangan salahkan Tuhan, jika kau lahir dalam kehidupan yang sulit. Karena kehidupan yang sulit itu pasti akan berbuah manis pada waktunya, jika kau bersungguh-sungguh untuk membentuk kehidupan lebih baik ke depannya. Yakinlah, bahwa Tuhan memiliki segala macam cara untuk memberikan kebaikan dan rezeki dalam kehidupan yang sulit itu.
Kehidupan
By: Cherry Philein
Naruto milik Kishimoto Masashi, saya hanya minjam character-nya
Haruno Sakura, Sarutobi Konohamaru & Uchiha Sasuke
Pair: SasuSaku
Genre: Family, Angst and Romance
Two Shot
Special fic for Motoharunana aka Nana B'day
.
.
.
Selamat membaca
Don't Like? Don't Read!
Chapter 1
Sakura sedang berdiri di sebuah petakan tanah yang berlumpur, ia membersihkan peluh-peluh yang mengaliri wajah lelahnya dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya. Mata hijau itu memandang petakan tanah yang baru setengah ditanaminya dengan bibit-bibit. Menghela napas sesaat, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari petakan tanah penuh lumpur itu.
Tanah berlumpur miliknya hanya sepetak saja dan tidak besar, dari sanalah Sakura, Ibu dan Adiknya hidup. Menjual hasil panen padi yang tidak banyak itu kepada orang-orang yang ingin membelinya.
.
.
.
Sakura tinggal bersama Ibu dan Adiknya di sebuah desa yang letaknya di pinggiran Konoha, desa yang dikenal makmur karena penduduknya semuanya berprofesi sebagai petani yang berpenghasilan lumayan karena memiliki belasan hektar sawah dan selalu memasok beras ke Konoha. Ya, itulah angapan dari pemerintah.
"Kakak!" panggil Konohamaru yang berlari menghampiri Sakura.
"Ya! Wah, kau membuatkanku bekal. Kelihatannya enak!" Sakura tersenyum riang saat melihat Adiknya duduk di sampingnya dan membukakan bekal yang ia buat dengan sepenuh hati untuk Kakaknya tercinta.
"Ini! Aku memasak nasi dan rebus sayuran yang aku ambil dari tanaman sayur yang kita taman di belakang rumah, Kak," ucapnya dengan wajah yang berseri-seri, "makanlah, Kak! Sekarang aku sudah jago memasak." Akunya dengan cengiran riang.
"Adikku memang pintar." Sakura berucap sambil mengelus kepala Konohamaru dan itu membuat wajahnya menjadi memerah karena dipuji oleh Kakak tercintanya.
Sakura kemudian memakan makanannya, dari pagi hari bekerja membuatnya menjadi kelaparan karena tenaganya sedari tadi dikuras oleh pekerjaan yang tidak sepatutnya dikerjakan oleh seorang gadis.
Konohamaru yang melihat Kakaknya makan dengan lahap, seketika menatap Sakura dengan pandangan sedih. Ia terus memerhatikan Sakura yang bajunya basah oleh keringat dan wajahnya menjadi merah dan terkelupas karena terkena sengatan matahari siang.
"Kak! Kalau aku sudah besar, aku janji akan menggantikan Kakak bekerja." Ucap Konohamaru tulus.
Sakura tersenyum manis mendengar ucapan adiknya ini, Konohamaru masih kelas 5 Sekolah Dasar, tetapi ia menjadi anak yang baik juga sangat penurut. Sakura beruntung memiliki Adik seperti Konohamaru.
"Baiklah! Kalau begitu, sekolah lah yang rajin dan jangan lupa selalu belajar."
"Ya!" Jawab Konohamaru sambil mengacungkan jempolnya dan menyengir lebar.
.
.
.
Aku adalah tulang punggung keluarga ini karena Ayahku sudah meninggal dunia.
Ayah meninggal sejak Konohamaru lahir, dan Ibu keadaannya selalu sakit-sakitan. Ingin sekali membawa Ibu ke dokter, tapi bagaimana bisa karena penghasilanku dalam bertani sangat pas-pasan untuk makan dan biaya sekolah Konohamaru. Berulang kali aku mencoba untuk mengumpulkan uang, tapi selalu saja uang itu akhirnya habis terpakai untuk kebutuhan hidup juga pertanian. Apalagi jika sedang ada hama yang menyerang padi-padi kami, entah ke mana lagi aku harus meminjam uang untuk membasmi hama itu. Aku hanya bisa berdoa, semoga kami tidak gagal panen.
Di usiaku yang ke sembilan belas tahun ini, rasanya hidupku cukup sulit. Aku tidak tamat Sekolah Menengah Akhir karena kondisi keluarga yang mengharuskanku bekerja di sawah. Semenjak Ibu sakit-sakitan dua tahun lalu, maka akulah yang menggantikannya mengurus sepetak sawah peninggalan ayah kami. Dari pagi sampai sore aku selalu berada di sawah, dan jika selesai dengan menanam padi atau membajak sawah, biasanya aku menawarkan diri kepada para petani lain untuk membantu mereka dan menerima upahan dari mereka. Ya, untuk membantu pendapatan keluarga kami.
Kami hanya tinggal di sebuah rumah kecil berdinding tepas dan beratap jerami, tapi aku bersyukur setidaknya kami masih memiliki tempat tinggal layak yang bisa melindungi kami dari panas dan hujan.
Hari ini sudah sore, dan saatnya pulang setelah seharian berada di sawah. Aku berjalan kaki menuju rumah kami, jaraknya sekitar empat kilo meter dari sawah. Terkadang aku merasa iri kepada orang-orang yang pergi ke sawah mereka menggunakan motor atau sepeda. Pasti tidak lelah sepertiku.
Aku hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalaku karena berpikiran yang aneh-aneh. Setidaknya dengan berjalan kaki, aku bisa menikmati pemandangan desa kami yang terkenal sangat indah dan asri.
Aku sudah memasuki daerah pemukiman. Di daerah desa kami ini, ada satu rumah yang paling besar. Rumahnya sangat cantik sekali karena menjulang tinggi, tamannya juga indah. Tapi, aku selalu heran karena rumah itu kelihatan kosong dan tidak ada penghuninya. Sayang sekali tidak ada yang tinggal di rumah cantik itu.
Aku menggelengkan kepalaku ketika berandai tinggal di rumah itu bersama keluargaku, pasti menyenangkan. Lalu, tatapan mataku menatap ke arah rumah kecil kami, di sana Konohamaru sudah menungguku. Ia selalu menunggu di depan rumah ketika waktunya aku pulang.
"Okaerinasai, Kak Sakura!" ucapnya girang ketika aku sudah sampai di pintu rumah.
Aku tersenyum kemudian membelai kepalanya pelan.
"Tadaima, Konohamaru-kun."
Aku masuk ke rumah dan langsung melihat kondisi Ibu yang sedang tertidur di kasur tua kami. Sesaat aku memandangi wajahnya yang tua dan kelihatan pucat itu. Kemudian, aku mendudukkan diriku di kasur kami dan langsung disambut oleh suara decitan yang menandakan betapa reyoknya kasur itu.
Aku masih memerhatikan wajah Ibu, lalu dengan sangat pelan aku membelai wajahnya.
"Kaa-san, bersabarlah! Saku janji pasti akan membawamu ke dokter. Aku ... akan bekerja lebih giat lagi."
Tanpa sadar aku meneteskan air mataku dan kemudian aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar tidur Ibu.
.
.
.
~o0o~
Sudah dua hari ini Konohamaru terlihat murung, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Karena biasanya anak itu selalu tertawa atau semangat dalam melakukan apapun, tapi sekarang saat Konohamaru membantuku menyiapkan sarapan, ia kembali kelihatan murung setelah memaksakan diri untuk tersenyum. Apa yang tengah dipikirkannya?
"Maaf, Konohamaru-kun! Sarapannya hanya dengan nasi saja. Soalnya sayurnya tinggal sedikit dan itu untuk Ibu. Kau tidak apa-apakan?" Aku pun bisa tersenyum saat Konohamaru menganggukkan kepalanya, "Nanti, kalau Kakak sudah ada uang, kapan-kapan kita beli lauk yang enak dan memasaknya, ya!"
"Ini saja sudah enak, Kak."
Normal POV
"Terima kasih ... karena kau mau mengerti." Ucap Sakura lirih menahan air matanya yang sudah mengumpul di emerald yang berkaca-kaca itu.
Sebelum berangkat ke sawah, Sakura menyempatkan diri untuk membereskan rumah terlebih dahulu. Gadis berusia sembilan belas tahun itu lalu tersenyum melihat Konohamaru yang sudah berpakaian rapi karena akan berangkat ke sekolah.
Wajah anak berusia sepuluh tahun itu masih suram dan murung.
Sakura berjalan mendekati adiknya kemudian ia tersenyum kepada anak lelaki yang sedang membawa tasnya itu.
"Ada yang ingin diceritakan, Konohamaru-kun?"
"Anu, Kakak! I-ibu Guru bilang, harus cepat lu-lunasi uang sekolahnya, Kak." Ucap Konohamaru dengan tersendat-sendat.
Sakura terdiam seketika, jadi permasalahan inilah yang sedang dipikirkan adiknya.
"Ya sudah! Sepulang sekolah, nanti bantu Kakak menjual beras, ya!" ucap Sakura sambil tersenyum seolah senyumannya itu berkata semua akan baik-baik saja.
Konohamaru pun menganggukkan kepalanya dengan senang karena akhirnya uang sekolahnya dapat di bayar. Dan kemudian bocah hyper active itu berlari dengan semangat ke sekolahnya.
Sakura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku adiknya yang gampang berubah-ubah itu.
"Ah, Nenek Chiyo sudah datang, kalau begitu tolong janga Ibuku!" ucap Sakura sambil membungkuk sopan.
Ia sangat berterima kasih kepada tetangganya yang baik hati ini karena setiap hari selalu mau menjagakan ibunya di saat ia bekerja dan Konohamaru bersekolah.
.
.
.
Sakura meminta agar Nenek Chiyo mau menjaga ibunya sampai sore. Dikarenakan ia dan adiknya akan pergi berkeliling desa untuk berjualan beras.
Menggunakan dua buah ember berukuran sedang karena tidak adanya alat pengangkut, Sakura menaruh goni beras itu ke dalam kedua ember itu.
"Baiklah, ayo kita berkeliling desa, Konohamaru!" ucap Sakura semangat.
"Iya, ayo kita berjualan!" Konohamaru berucap sambil melompat menandakan ia sangat semangat dalam membantu Sakura.
Tap.
Tap.
Tap.
Mereka sudah berjalan dan berteriak selama satu jam lebih, tapi belum juga ada yang mau membeli beras mereka. Sakura sebenarnya sangat ragu apakah akan ada yang membeli beras mereka, mengingat di desa ini rata-rata masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Tapi, apa salahnya jika ia berusaha. Bukankah rezeki itu tidak ada yang tahu kapan ia akan datang menghampirimu? Jadi, manusia lah yang harus berusaha mengambil rezeki yang disediakan oleh Tuhan, tentu dengan cara dan jalan yang baik.
Sakura sudah lemas, napasnya sudah tersegal-segal, jalannya juga sudah menjadi lambat sehingga Konohamaru selalu jalan di depannya dan berteriak menjajakan beras yang akan mereka jual. Suara Sakura juga sudah tidak sanggup ia keluarkan lagi untuk berteriak.
Bajunya basah oleh keringat dan tangannya terasa perih karena mengangkat kedua ember berukuran sedang yang berisikan besar didalamnya.
Hosss ...
Hosss ...
"Kak Sakura, jalannya cepat sedikit! nant—" seketika suara Konohamaru tercekat melihat kondisi Sakura yang sangat memprihatinkan, "Kak?" ucapnya menjadi lirih.
Hossss ...
"Kak, kita istirah dulu." Ucapnya sambil memegang tangan Sakura.
Sakura berhenti kemudian menganggukkan kepalanya. Membawa kedua ember itu ke sudut jalan dan di bawah pohon rindang, mereka pun mengistirahatkan diri di sana.
"Sebaiknya kita kembali, Konohamaru-kun! Kita sudah terlalu jauh berjalan." Sakura berucap sambil mengelap bulir-bulir keringat yang ada di wajahnya.
"Tapi, Kak! Be-berasnya belum ada yang laku." Murung Konohamaru berucap sambil menatap beras-beras yang ada di ember itu.
Sakura kemudian menyunggingkan senyumnya untuk adik lelakinya itu.
"Selama kita terus berusaha, pasti nantinya akan ada yang mau membeli beras kita, ok!" Sakura mengacungkan jempolnya ke arah Konohamaru dan menyengir lebar.
"Iya!" Jawab sang adik dengan semangat.
Mereka berdua kemudian memutar arah untuk pulang, kembali Sakura mengangkat kedua ember itu dan pelan-pelan melangkahkan kakinya mengikuti Konohamaru yang berjalan di depannya sambil bersemangat.
"Kakak kenapa sih menolak bantuanku? Aku kan laki-laki yang kuat." Ucapnya sambil memonyongkan bibirnya kesal.
"Nanti, kalau kamu sudah besar, kamu yang bantu Kakak membawa ember ini. Sekarang, tugasmu hanya berteriak menjajakan jualan beras kita, mengerti!"
Konohamaru mengangguk paham dan kemudian berteriak dengan suara yang lantang.
Sesaat Sakura heran kenapa Konohamaru berhenti, dan suaranya menjadi menghilang. Anak lelaki berusia sepuluh tahun itu diam berdiri seperti sedang memerhatikan sesuatu.
Sakura menaikkan alisanya heran ketika melihat Konohamaru yang tadinya terdiam, kemudian ia berlari ke depan sebuah rumah besar yang ada di desanya dan berdiri memandangi mobil pickup yang berada di depan pagar rumah itu, mobil itu mengangkut sebuah ranjang mewah dan beberapa barang lainya.
Menurunkan embernya pelan, lalu Sakura berjalan ke arah Konohamaru.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Sakura agak berbisik.
"Yang ini juga tolong diangkat, ini juga seharusnya dibuang!"
Sakura dan Konohamaru mendengar suara pemilik rumah ini. Dan Sakura dapat melihat Konohamaru terkejut ketika mendengar suara pemilik rumah.
"Mau di-dibuang?" cicit Konohamaru.
Tiba-tiba dari dalam gerbang keluarlah seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan sangat cantik dan menatap terkejut ke arah Sakura dan Konohamaru.
"Eh, ada yang datang ya? Mencari siapa, Nak? Apa jangan-jangan kalian temannya Sasuke-kun, ya?" Tebak wanita paruh baya itu asal sambil tersenyum ramah.
Sakura pun gelagapan saat setelahnya wanita itu langsung berteriak ke arah rumahnya dan memanggil seseorang di dalam.
"Sasuke-kun! Ada temanmu yang datang." Teriaknya sambil tersenyum.
Mikoto, nama sang empunya rumah itu, lalu penglihatannya menangkap sesuatu yang ada di kedua tangan seorang gadis yang berdiri kaku di depannya.
Sebelum Mikoto menyuarakan apa yang ada di benaknya, Sasuke anak bungsunya pun menyeru panggilannya dan menuju ke tempatnya berdiri sekarang.
"Hn. Ada apa, Kaa-san?" tanya lelaki berusia dua puluh empat tahun itu.
"Eh, ini ada temanmu yang datang!" ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke arah tempat berdiri Sakura dan Konohamaru.
"Bu-bukan, kami bukan t-temannya!" ucap Sakura kaku dan tersendat.
Sasuke memandang kedua orang yang berdiri di depannya itu dengan tatapan datarnya.
"Eh?" heran Mikoto.
"Maafkan kami, kami hanya penjual beras. Tadi, saya ke sini karena tiba-tiba Adik saya ini berlari ke depan pagar anda, Nyonya. Saya hanya ingin menyusulnya, maafkan kami karena—"
"Sudahlah! Tidak perlu minta maaf. Adik kecil memangnya ada apa ke sini?" tanya Mikoto pelan sambil membelai kepala Konohamaru.
Konohamaru menatap sejenak ke arah si empunya rumah, lalu ia bersuara sambil memandang ke arah tempat tidur yang ada di dalam mobil itu.
"Kenapa ... dibuang? Kan masih cantik sekali tempat tidurnya." Cicitnya pelan sambil memandangi sebuah ranjang merah yang ada di dalam mobil pickup itu.
"Eh?" Mikoto dan Sakura terkejut.
"Konohamaru-kun, apa yang kamu bicarakan?" bisik Sakura kepada adiknnya itu.
Konohamaru tidak mengacuhkan teguran Sakura dan tetap memerhatikan ranjang mewah itu, tatapan matanya menjadi sendu saat menatap si pemilik rumah. Jari mungilnya bergerak mencoba menyentuh ranjang itu, sebelum tangannya dihentikan oleh Sakura.
"Jangan, nanti tempat tidurnya kotor!" ucapnya kepada Adiknya.
"Ah, iya. Soalnya kami salah memesannya. Lihatlah! Itu warna untuk perempuan, dan kami tidak mempunyai anak perempuan. Memangnya kenapa bertanya begitu?" ucapnya sambil tersenyum ramah.
Konohamaru menatap Kakaknya, dan Sakura menggelengkan kepalanya bertanda agar ia tidak berbicara yang aneh-aneh.
Mengerti apa yang diisyaratkan Kakaknya, konohamaru hanya menatap Mikoto dengan pandangan berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya.
Sasuke memandang kedua orang yang ada di depannya. Ia memperhatikan si gadis yang pakaiannya basah oleh keringat dan wajahnya yang memerah seperti terbakar matahari. Lalu, pandangan mata datar itu mengarah ke anak lelaki yang wajahnya jadi murung dan pandangan matanya kelihatan menahan tangis dan berkaca-kaca.
Mikoto yang menyadari anak lelaki itu menahan keinginannya untuk disuarakan pun maju dan berjongkok sambil memegang bahu Konohamaru. Ia kemudian tersenyum.
"Loh, kok kamu jadi sedih?"
Mikoto memerhatikan bocah lelaki itu yang pandangannya terus mengarah ke ranjang di sampingnya. Ia pun kemudian mengerti keinginan Konohamaru.
"Kamu mau ranjang ini, ya?"
Konohamaru tersentak kaget ketika keinginannya ternyata diketahui oleh si empunya rumah.
Dengan perlahan ia menundukkan kepalanya karena merasa takut.
"Tidak apa-apa, kalau kamu mau, nanti kami berikan untuk kamu dan keluargamu, ya!" ucapnya membelai kepala Konohamaru.
"Ti-tidak usah, Nyonya. Kam—" Sakura tidak sempat menyempurnakan ucapannya.
"Tidak apa-apa, sebenarnya ranjang ini baru dibeli, hanya saja kami salah memesan dan tidak bisa dikembalikan lagi. Daripada dibuang, lebih baik untuk kaliankan? Itupun kalau kalian tidak keberatan."
"Iya, kami mau." Ucap Konohamaru dengan riang sambil melompat kegirangan.
Sakura yang awalnya sangat sungkan kepada si empunya rumah karena tingkah adiknya, kemudian mata sehijau keristal yang tidak sengaja menangkap senyum si adik pun membuatnya menjadi tersenyum lembut dan berkaca-kaca.
Kemudian, ia mendekati Mikoto dan membungkuk sopan sambil mengucapkan terima kasih kepadanya.
Punggungnya bergetar, ia menggigit bibirnya menahan tangis.
Sasuke hanya diam dan memperhatikan Sakura yang kelihatan begitu senang hanya karena diberikan ranjang oleh Ibunya.
Mikoto yang awalnya ingin memegang tangan Sakura untuk menguatkan dan menegarkan gadis itu dengan genggaman tangannya, menjadi terkejut karena Sakura berteriak kecil akibat tangannya yang digenggam Mikoto. Membuat Mikoto dan yang lainnya mengarahkan tatapannya ke arah tangan gadis itu.
Ketika di lihat, telapak tangan Sakura memerah dan penuh dengan luka lecet. Bahkan, ada bercak darah di telapak tangannya itu.
Mikoto lalu menyuruh Sakura dan Konohamaru masuk untuk mengobati tangannya. Dan kedua ember beras yang awalnya ingin di bawa Sakura masuk tadi, menjadi Sasuke yang membawakannya. Lelaki itu hanya menuruti perintah dari Ibunya.
.
.
.
Setelah masuk ke rumah itu, Sakura dan Konohamaru hanya terdiam karena melihat kemegahan rumah keluarga Mikoto. Bahkan, Sakura dan adiknya membuka alas kaki mereka saat memasuki rumah itu. Sakura sangat takut mengotori rumah cantik milik keluarga Mikoto.
Mikoto hanya tersenyum melihat apa yang diperbuat oleh Sakura dan adiknya. Dia berkata agar tidak usah repot memikirkan hal seperti itu, ketika Sakura menjelaskan takut kalau rumah mereka nanti menjadi kotor karena ulahnya.
Mereka kemudian memperkenalkan diri.
Saat ingin mengobati luka Sakura, Mikoto mendapatkan telepon penting dari salah satu anak sulungnya yang ada di luar negeri. Maka, sekarang Sasuke lah yang menggantikan tugas Mikoto untuk mengobati kedua telapak tangan Sakura.
.
.
.
Sakura yang tidak perah berinteraksi dengan lawan jenis kecuali adiknya, merasakan kegugupan yang amat sangat karena berada dengan jarak yang sangat dekat dengan Sasuke. Mereka sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah sofa panjang. Sedangkan Konohamaru berada di sofa tunggal sambil sibuk makan Princess cake dan orange juice yang sudah disediakan.
Saat Sasuke menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Sakura, Sakura terkejut dan tangannya bergetar seketika. Dia terlalu gugup dan yang bisa dilakukannya hanya menundukkan kepalanya karena malu. Detak jantungnya pun berdebar kencang.
Sasuke sangat menyadari kegugupan Sakura, apalagi tangan gadis di depannya ini bergetar dalam genggaman tangannya. Ia hanya mendengus geli melihat kepolosan gadis di depannya ini.
Sakura tidak seperti gadis lainnya. Jika biasanya gadis-gadis yang berada di dekatnya itu pasti akan selalu bertingkah genit dan cari perhatian, sedangkan Sakura, gadis itu malah menundukkan diri dan memerhatikan hal lain.
Ia menyeringai singkat.
"Bagaimana caraku mengobatinya, jika kau mengepalkan tanganmu?" suara Sasuke yang berat terdengar santai dengan tatapan mata tajam menatap gempalan tangan Sakura yang masih bergetar.
Sakura mengangkat wajahnya seketika dan mendapati wajah Sasuke yang masih menyeringai dengan wajah tertunduk menatap tangannya yang masih tergenggam tangan besar lelaki itu, kemudian wajah lelaki itu perlahan terangkat dan matanya menatap sorot mata polos emerald yang terlihat kebingungan itu.
Sakura terkejut dan langsung mengalihkan tatapan matanya dan hal itu membuat Sasuke terkekeh kecil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N:
Hai hai ... sebenarnya fic ini udah lama diketik ... tapi daku masih belum menyelesaikannya. Dan akhirnya memutuskan untuk membuat fic ini menjadi dua chapter. :D
Fic ini adalah hadiah spesial untuk Motoharunana aka Nana yang sedang berulang tahun. Gomen daku telat ngasih hadiahnya.
Semoga yang terbaik selalu ada untukmu. Dan tetaplah berusaha untuk menuju kesuksesanmu baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin ... :* ^^9
Makasih buat yang RnR, ya.
Salam sayang dari istri Itachikoi,
zhaErza
Medan, 25 Januari 2015 (01.50 WIB)
