puja911 present:

The Music of Love

in

Kuroko no Basuke FanFiction

Disclaimer: Semua char yang ada disini bukan milik saya, tapi milik Tadatoshi Fujimaki sensei, dan saya tidak memiliki apapun selain ide cerita ini.

Warning: Abal, gaje, OOC, Typo betebaran dimana-mana, alur lambat, EYD gak jelas, bahasa yang aneh, BL (Boys Love), Shounen Ai, dan temen-temannya yang lain.

Rated: T

Pairing: AkaKuro, pair yang lain menyusul.

NB: Konnichiwa, mina-san. Saya adalah penghuni baru di fandom ini, jadi maaf sekali jika ceritanya agak aneh bin ajaib(?). Ok, biar gak kepanjangan langsung aja 'check it out'.


Disalah satu daerah di kota Tokyo, berdirilah sebuah bangunan megah bergaya Eropa klasik dengan banyak orang atau lebih tepatnya murid yang berlalu-lalang. Bangunan tersebut merupakan bangunan salah satu sekolah musik terbaik di Jepang dan bahkan menduduki peringkat ke empat terbaik di dunia. Teiko School of Music, itu lah nama bangunan tersebut.

Dan sekarang berdirilah seorang pemuda -dengan surai baby blue dan warna kulitnya yang seputih susu- di depan gerbang -yang sangat megah dengan ukiran yang indah dengan gradasi warna hitam dan emas- yang tengah menatap –tanpa ekspresi- kehidupan di dalam gerbang tersebut. Kuroko Tetsuya, merupakan nama pemuda tersebut.

Kuroko POV

Namaku adalah Kuroko Tetsuya, sisiwa –naik- kelas dua yang –tadinya- bersekolah di salah satu sekolah swasta di kota Tokyo. Aku adalah anak yang jarang 'dilihat' oleh orang lain dikarenakan hawa keberadaanku yang minim. Meski begitu, aku tidak begitu mempermasalahkan 'bakat'ku yang satu itu. Menurut pendapatku, aku hanyalah seorang siswa biasa yang tidak begitu menonjol di salah satu bidang, bahakan daya ketahanan tubuhku dibawah rata-rata orang biasa. Tetapi rasanya aku harus memikirkan lagi pendapatku itu. Karena buktinya aku mendapat surat penerimaan di salah satu sekolah musik yang sangat terkenal akan lulusannya yang tidak sedikit menjadai orang sukses di bidang permusikan. Teiko School of Music, adalah nama sekolah yang secara tiba-tiba dan sepihak –karena aku tidak pernah merasa mendaftarkan diriku kesekolah itu- menerimaku menjadi salah satu siswa mereka.

Dan disi lah aku, didepan bangunan sekolah yang bahkan dalam mimpi pun aku tidak dapat membayangkan akan menginjakan kaki atau bahkan menjadi bagian didalamnya. Tapi entah apa yang terjadi –aku sendiri pun belum tau pasti- mengapa mereka memilih murid sepertiku –yang bias dibilang awam soal bidang permusikan- untuk menjadi salah satu bagin dari 'keluarga besar' mereka.

Flashback

Saat itu aku sedang menikmati kegiatanku sehari-hari saat liburan kenaikan kelas tiba yaitu bermain basket bersama dengan teman-temanku disekitar taman dekar rumahku. Dan pada saat itu lah…

"Oi, Kuroko. Ada yang mencarimu." Teriak salah seorang temanku di pintu masuk taman. Aku pun menoleh dan melihat seorang pria bersetelan rapih -lengkap dengan kacamata hitam- bediri disamping teman yang tadi memanggilku.

"Baiklah, aku akan segera kesana." Balasku sambil berjalan mendekati mereka berdua –temanku dan pria tadi-.

"Tadi aku bertemu dengan orang ini dan menanyakan orang yang bernama Kuroko Tetsuya. Dan aku bilang aku adalah salah satu temannya." Kata temanku sambil menunjuk orang yang berdiri di sampinya. "Dan dia minta agar aku mempertemukannya denganmu. Karena aku sedang menuju ke taman dan pasti kau juga sedang bermain di taman, jadi aku ajak dia kesini." Tambahnya. Dan mataku pun langsung berpindah melihat pria yang berada disamping temanku.

"Perkenalkan, saya adalah salah satu utusan dari Teiko School of Music, Hikaru Tadayoshi." Sambil menunjukan kartu identitasnya. "Saya datang kesini dengan tujuan untuk memberitau bahwa anda, Kuroko Tersuya telah diterima sebagai salah satu siswa di sekolah kami." Kali ini pria itu mengeluarkan sebuah surat –berwarna putih gading dengan ukiran emas disekitar pinggiranya- dari balik jasnya yang sepertinya akan diberikan padaku.

"Eh…" Hanya itu yang bias keluar dari mulutku saking terkejutnya –dengan wajah datar- dengan apa yang dikatakan oleh pria tadi.

End of Flashback

Setelah menghela nafaspanjang, aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju pintu masuk Teiko School of Music tersebut. Dan pemandangan pertama yang aku lihat adalah mobil-mobil mewah –yang tak aku ketahui mereknya itu- tengah "berbaris" dengan rapi di depan gerbang, yang sedang menunggu giliran untuk menurunkan 'penumpang' yang berada di mobil tersebut.

Cklek (suara pintu mobil dibuka)

"Selamat jalan, Tuan Muda." Itu lah yang dikatakan setiap sopir –sepertinya- kepada 'Tuan Muda'-nya.

Dan saat orang yang berada di dalam mobil tersebut menampakan wajahnya, aku langsung tertegun akan karismanya –dan juga ketampanannya-. Orang itu memiliki surai Crimson dengan dihiasi iris Heterochromia dengan warna Deep Crimson dan Gold, yang begitu indah tetapi juga sangat tajam dan mengintimidasi menunjukan bahwa sang pemiliknya itu merupakan seorang yang Absolute.

Tak ingin berlama-lama berada di lingkungan yang membuatku tak terlalu nyaman, aku pun segera melesatkan kakiku kedalam gedung tersebut, dan segera mencari orang yang bertanggung jawab akan penerimaanku di sekolah ini.

End of Kuroko POV

~Skip Time~

Sekarang berdirilah seorang Kuroko Tersuya di sebuah ruangan yang amat besar dengan disaign interior yang sangat mewah tapi juga klasik. Di dalam ruangan tersebut berjajar buku-buku yang tersusun rapi di dalam sebuah rak, selain itu ada satu set meja dan kursi berwarna hitam yang berada di depan meja kerja yang diatasnya tersusun rapi berbagai peralatan penunjang –seperti komputer, berkas dan file yang berada di sisi kiri kanan meja, dan juga berbagai alat tulis menulis, dan oh jangan lupakan satu bingkai foto- untuk mempermudah pekerjaan siapapun yang mempunyai kuasa atas ruangan itu. Dan tepat didepan meja kerja tersebut terdapat sebuah kursi kerja berwarna hitam yang menghadap membelakangi Kuroko.

Kuroko sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi kini, saat ia hendak menanyakan dimana orang yang bertanggung jawab akan penerimaannya di sekolah ini, ia malah diantarkan ke ruangan ini tanpa diberitahu lebih jauh lagi apa yang harus ia lakukan.

Beberapa menit telah berlalu semenjak Kuroko menginjakan kaki di ruangan ini, dan tidak ada pergerakan apa pun, sampai akhirnya sebuah suara terdengar dari balik kursi kerja itu.

"Jadi apakah kau yang bernama Kuroko Tetsuya?" Pertanyaan yeng sepertinya ditunjukan pada Kuroko, mengingat tidak ada siapapun lagi selain dirinya yang berdiri disana.

"Hai, saya adalah Kuroko Tetsuya."

"Hmm… Begitu kah?!" Lanjut suara tersebut. Dan setelah itu kursi kerja itu pun berputar 180%, menampilkan sosok yang sedaritadi 'bersembunyi' dibalik kursi tersebut.

Seorang laki-laki bersurai Raven dengan iris hitam yang dibingkai dengan kacamata berframe tipis, sedang menyeringai dengan kedua tangan yang disatukan di depan dagunya membentuk huruf A.

"Selamat datang dan selamat bergabung di Teiko School of Music, Kuroko Tetsuya. Dan saya adalah kepala sekolah di sekolah ini, Hyuuga Junpei." Ucap laki-laki tersebut.

"Ano, apakah boleh saya tau mengapa anda memanggil saya kemari?" Tanya Kuroko sopan.

"Pertama-tama duduklah, kau pasti lelah hanya berdiri saja disana." Menuruti perintah sang kepala sekolah, lalu Kuroko mendudukan dirinya di atas kursi –sofa- yang sepertinya diperuntukan untuk tamu tersebut.

"Kamu pasti penasaran kenapa kamu bisa menerima surat hasil penerimaan dari sekolah kami padahal kamu tidak pernah merasa mendaftarkan diri ke sekolah ini, bukan?" Tanya Hyuuga, yang hanya dijawab oleh anggukan singkat dari yang bersangkutan.

Setelah menghela nafas panjang, Hyuuga pun melanjutkan "Jawabannya adalah, karena kami tahu kamu memiliki sesuatu yang lebih pada dirimu. Sayangnya hanya itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini. Sisanya kamu juga akan mengetahui alasan lainnya seiring dengan berjalnnya waktu."

"Tapi, saya tidak pernah memegang alat musik, apalagi untuk memainkannya."

Tahu maksud dari perkataan sang murid, Hyuuga pun angkat bicara. "Kalau soal itu, percayalah pada insting hantimu. Karena, hatimu lah yang akan menuntunmu menemukan semua jawaban yang kamu butuhkan." Hyuuga meyakinkan.

Selama beberapa menit keheningan pun tercipta, tak ada yang berinisiatif membuka suara. Meskipun, dalam benak Kuroko sekarang tengah bermunculan berbagai macam pertanyaan dan spekulasi, karena saking banyaknya ia tidak tau harus menanyakan apa, dan akhirnya Kuroko memilih untuk diam.

Tok…tok…tok…

Suara ketukan pintu memecah keheningan yang –lagi lagi- tercipta diruangan tersebut.

"Masuk." Sahut sang kepala sekolah.

"Shitsurei-shimasu." Kali ini berdirilah seorang laki-laki bersurai raven yang mempunyai mata yang tajam berwarna hitam.

"Oh, kau datang pada waktu yang tepat. Kuroko-kun, dia adalah orang yang akan mengantarkanmu ke kelas barumu, dan juga sebagai wali kelasmu."

"Izuki Shun desu." Ucapnya memperkenalkan diri.

"Ah, Kuroko Tetsuya desu, yoroshiku-onegai-shimasu, Sensei." Memperkenalkan diri sambil membungkukan badan.

"Kalau begitu kami permisi dulu, pelajaran sudah dimulai." Ucap Izuki kepada Hyuuga. "Ayo Kuroko-san, saya antarkan ke kelas pertamamu." Ajak sang sensei, sambil melirik ke arah Kuroko.

Kuroko pun bangkit dari kursi dan mengucapkan 'terimakasih' pada sang kepala sekolah dan langsung mengikuti kemana Izuki pergi.

.

.

.

.

Sepeninggal Kuroko, Hyuuga berucap "Bagaimana menurutmu anak itu, Riko?" tanyanya entah pada siapa. Dan satu siluet wanita dengan surai coklat datang dari arah pintu -dipinggir ruangan-, karena merasa namanya dipanggil.

"Hmm, anak yang menarik."

.

.

.

.

Kuroko berjalan beriringan dengan Izuki menuju kelas pertamanya. Tidak ada percakapan apa pun antara guru dan murid itu, sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu berwarna coklat yang berhiaskan ukiran-ukiran indah nan rumit.

"Ini adalah kelas pertamamu." Ucap sang sensei sambil menatap Kuroko. "Ayo kita masuk." Kuroko hanya mengangguk dan langsung mengekor di belakang Izuki.

Sreek (suara pintu dibuka)

Keadaan kelas yang tadinya ribut, langsung hening seketika ketika sang sensei masuk ke ruangan kelas.

"Ekhem, mohon perhatian semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru." Ucap –pengumuman- sang sensei didepan kelas.

"Dimana anak baru itu, Sensei?" Tanya seorang murid sambil mengacungkan tangan.

Izuki menaikan sebelah alisnya tak mengerti. Iya membuka mulutnya tetepi sebelum mengucapkan sesuatu, suara Koroko telah mendahuluinya.

"Saya Kuroko Tersuya, pindahan dari SMA Seirin, kore kara wa yoroshiku-onegai-shimasu." Ucap Kuroko sopan sambil membungkukan badan.

Hening

Hening

Hening

Dan...

"Eeehhh,,, sejak kapan ada orang disitu?" Serentak kelas bertanya kaget.

Koroko hanya menghela nafas, kejadian seperti ini sudah terlalu biasa dalam hidupnya. Ia tidak menyedari ada sepasang iris Heterokromia yang sendari tadi mengawasinya.

"Baiklah, Kuroko-san, anda bisa duduk disebelah sana." Kata Izuki sambil menunjuk bangku kosong di baris ketiga dekat jendela. Kuroko pun langsung menuju kursi yang tadi ditunjuk oleh senseinya dan langsung mendudukan dirinya disana.

"Baiklah pelajaran kali ini adalah pelajaran pengaplikasian not dengan alat musik. Jadi ambil alat musik yang menurut kalian, kalian kuasai." Setelah sang sensei member ultimatum(?) seperti itu semua murid langsung mengambil alat-alat musik yang sekiranya mereka kuasai. Kecuali satu orang.

"Ano, Sensei. Tapi saya tidak tahu alat musik apa yang saya kuasai." Dan meluncurlah kalimat itu dari bibir seorang Kuroko Tetsuya. Berterimakasih karena hawa keberadaannya yang minim itu, tidak ada yang menyadari cucapan Kuroko selain yang diajak bicara.

"Hmm,,, kalau begitu cobalah bermain menggunakan piano itu." Tunjuk sang sensei pada piano berwarna putih yang berada di pojok ruangan.

Kelas yang Kuroko masuki itu memang kelas khusus deparuntukan untuk praktek menggunakan alat-alat musik. Jadi didalam kelas tersebut terdapat berbagai macam alat musik merbagai macam ukuran, bentuk, juga warna. Kelas yang besar untuk ukuran seorang Kuroko, karena dalam kelas yang –sangat- luas itu hanya berisikan sekitar 20 orang. Kelas dengan jendela-jendela besar yang berjajar dengan anggun menghadap keluar ruangan yang langsung berhadapan dengan taman sekolah yang hijau, interior ruangan yang bergaya klasik, sampai cat dinding yang bernuansa putih gading digradasi dengan ukiran-ukiran khas jaman Eropa Klasik, kelas ini sangat berbeda dengan kelasnya yang berada di sekolahnya yang lama, batin Kuroko miris.

Pada saat Kuroko memperhatikan bagai mana indahnya kelas itu, para siswa lain juga telah selesai memilih alat musik apa yang akan mereka mainkan nanti. Akhirnya sang sensei memanggil satu persatu nama muridnya untuk menunjukan keahliannya. Dan pada akhirnya…

"Kuroko Tetsuya, dan anda akan memainkan lagu Fur Elise, dan ini partiturnya." Kuroko melangkah kadepan dengan lahkah yang berat. Setelah ia menerima partitur itu dari sang sensei, Kuroko langsung menuju piano putih yang berada di pijok ruangan yang tadi ditunjuk oleh sang sensei. Setelai ia duduk di kursi piano, Kuroko menempatkan partitur yang tadi diberikan sang sensei di tempatnya, dan mengangkat jari-jarinya diatas tuts piano.

Beberapa detik berselang, hingga akhirnya mencapai satu menit. Izuki dan murid yang lain keheranan, kenapa tidak ada suara dentingan piano yang terdengar. Dan akhirnya ada suara yang terdengar, tapi tunggu dulu, itu bukan suara alunan melodi dari piano, melainkan…

"Maaf Sensei, saya sama sekali tidak bisa membaca not." Pernyataan yang mulus meluncur dari mulut Kuroko itu langsung membuat hening kembali terjadi selama beberapa detik di tempat itu. Hingga akhirnya…

"EEEEHHHHHH…..?!"

.

.

.

.

TBC


Author: Tuh kan, saya bilang apa...?! Ceritanya aneh bin ajaib(?) ditambah banyak Typo lagi.

Akashi: Hmm... Memang ceritamu ini sangat-sangat absurd. *sambil bersidekap tangan di dada.

Author: Hidoi yo, Aka-chan...!

Akasi: Aka-chan?! Siapa yang bilang kau bisa memanggilku dengan nama aneh seperti itu, hah?! *sambil mengeluarkan gunting merah keramatnya. Author mematung ditempat.

Author: Bi-biarin dong, suka-suka saya. Cuma nama panggilan aja diributin. *gagap sambil merinding disko.

Akashi: Heh... Berani melawanku, ternyata?! *satu gunting melesat melawati author yang mematung dan menancap di tembok.

Author: Hai,,, gomen,,, gomen...! *sembah sujud di depan Akashi-sama.

Akashi: Ok, untukmu aku biarkan panggilan itu.

Author: Hontou...?! *puppy eyes.

Akashi: Tapi, ada syaratnya. *seringaian sudah terpampang panis pada bibirnya.

Author: Apa syaratnya? *sambil miringin kepala (sok manis -dibakar reader-)

Akashi: Chapter depan aku pingin dibanyakin adegan aku sama Tetsuya-nya.

Author: Hmm... Bener juga *liat cerita ke atas* ternyata disini sama sekali gak ada AkaKuro-nya. Tee-hee,,, gomen ne reader-tachi. Next chepter mungkin bakalan aku banyakin.

Akashi: Puja, udah terlalu panjang spamnya.

Author: Ehh, iya nih. Ok kalo gitu, sampai jumpa di chapter depan. Dan terimakasih bagi yang sempetin Baca cerita absurd ini. Dan jika reader-tachi punya keluhan, kritik, saran silahkan coret-coret di kotak Review. Terimakasih sebelumnya *bow*. Oh, iya, Next chapternya saya akan usahakan update pas hari *ekhem*valintine*ekhem*, doakan saya semoga gak telat, dan tergantung pada reviewer-tachi juga. Jaa nee...?!