"Aku berani pasang satu juta pounds untuk objek lukisan seperti itu."

Orbs merah mengerling haus. Buas akan inspirasi yang sekiranya dapat dijual mahal. Mengikuti arah telunjuk orang-orang tua mabuk di pemintas jalan—langsung menyedot seluruh imajinya berkumpul di satu warna,

Biru muda.

.

.

.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
You're Sold © moronsfr
.

.

.
[Western, Drama, Mystery, Hurt/Comfort]

[AU, AkaKuro, Artist!Akashi, Monk!Kuroko, unsignificant settings, era 1960-an]

P.S : storyline mengalir murni imajinatif, tidak bermaksud menyinggung SARA atau menjurus kepada recount tertentu

Secuil inspirasi datang dari Monalisa, selebihnya fiksi belaka
.

.

.

Jalan setapak bertabur kepak sayap burung gereja yang sengaja mampir menginjak tanah sekedar icip-icip aspal. Sudah begitu ditebas sembarangan oleh gerombolan anak-anak bermantel tebal yang terburu-buru pergi ke pekarangan, menghabiskan akhir pekan. Padahal suhu termometer jantung kota bahkan belum menyentuh normal, tapi para pejalan kaki sudah berlalu-lalang minta disentuh kata pagi.

Jikala minggu pagi itu orang hanya mengenakan kaus oblong berlapis-lapis mantel gemuk dan mondar-mandir menunggu pakan parkit, Seijuurou menantang hawa beku berbalut kemeja tipis. Langkahnya terburu-buru—berlari malah. Matanya awas antara sibuk membenarkan ikatan dasi yang sudah bertengger melambai-lambai di kerah dan sudut pandang jauh ke depan, takutnya menabrak sembarang orang.

"Sial, sial, sial." Rutukan tidak berhenti diramal, sesekali dengusannya keluar menyesuaikan suhu tubuh. Telfon genggamnya ada dua, bunyi masing-masing di saku kanan-kiri. Kalau bukan karena nama yang tercantum disalah satu layar itu Midorima Shintarou, mungkin keduanya sudah ia reject bersamaan.

"Ya, aku hampir sampai."

Jeda beberapa detik dari sebrang. "Berisik sekali di sana—ada apa?"

Seijuurou jengah, kerah dasinya tak betul-betul. Ia asal lempar lupa harga. "Hei, bicaralah yang perlu. Kumatikan, nih."

Dengus angkuh tersambung lewat pesawat telfon. "Baik, baik, Tuan Ilustrator. Sekarang kau sedang dimana?"

"Sekarang? Bus." Benar, dia tak bohong. Kakinya baru saja dipaksa melompati anak kecil yang merengek minta duduk depan dekat kusir. Bagian belakang sudah bervolume padat, menghiraukan pelototan dramatis induk si anak yang menangis kencang tempat duduknya diembat Seijuurou.

"Apa itu, Sei?" Yang ditanya begitu, mendecak. Shintarou sangat cerewet dalam hal-hal mendetail.

"Aku sudah dekat, tunggu di sana."

"Ya, sebaiknya kau cepat. Direktur itu sudah jengah menunggu."

"Aku tahu, Shintarou. Tahan dia." Seijuurou merogoh tiket, bangkit hendak merelakannya pada kotak karcis. Bus tepat berhenti di pertigaan. Disamping museum besar. "Aku akan membayar—" Sambungannya pada Shintarou sama sekali belum diputus, tapi suaranya tercekat. Bola mata mendelik lurus ke spion atas. Merefleksikan keramaian penumpang belakang.

Seijuurou sepenuhnya memaku pandang pada satu-satunya warna kalem dalam jejeran berhimpit tiap tumpuk gen manusia di sana. Biru muda.

"Sei, kau di sana?"

"Tuan, silahkan turun disini—hei!"

Merah delima memutar direksi sepatu seperti kesetanan. Seijuurou menggebrak kerumunan, bergumul dengan sesak penumpang belakang. Melompat-lompat mencoba mendiferensiasikan tinggi.

Nihil.

Lenyap, biru muda itu hilang.

"Tuan, turunlah disini." Pundak Seijuurou ditepuk, digeret menuju pintu keluar. "Masih banyak penumpang lain yang haus tujuan."

Tidak ada. Kemana dia.

Pintu bus menutup dramatis. Seijuurou masih berkedip-kedip di depannya memperparah keadaan—jadi terlihat seperti sinetron murahan.

Kakinya terseret sampai galeri dengan rute berputar-putar. Penampilan acak langsung disambut jitakan telak dari Shintarou. Dia digeret lagi, ditemani membenahi diri di salah satu toilet museum.

"Kenapa dengan telfon yang putus sambungan tadi itu? Tidak punya tata karma, ya?"

Seijuurou membenamkan wajahnya di wastafel bersih. Sengaja merendam serta telinganya, siapa tahu bisa tuli sementara untuk mengindahkan omelan rekannya.

"Sei, aku bicara padamu."

"Akkmmpiuhurr hkkkshhrrddkkmmpppkhbbbhh."

"Sei." Shintarou gemas, iseng mendekam kepala Seijuurou lebih dalam ke ceruk wastafel supaya kapok.

"Hmmpppbbff—Shin! Kau gila!"

"Kita temui direktur sekarang. Kau ingin dapat tempat keramat untuk lukisan berikutnya, tidak?" Barangkali Seijuurou lupa, ia sengaja berbisnis dan repot-repot memakai kemeja rapi untuk keseimbangan karir.

"Entahlah, Shin. Aku pesimis." Dua kancing teratas dibuka kasar. Gerah. Kemeja bukan lambang kepribadiannya. Dia seniman, lebih pantas disejajarkan pada hal-hal berbau liberal seperti kaos rajut. "Syukur-syukur aku dapat comeback pakai iring-iringan. Aku belum memutuskan ide seperti apa yang cocok dituang ke atas kanvas."

Kerling hijau dua-duanya membulat. "Astaga, kenapa baru bilang sekarang?"

Helaan nafas. "Tak apa, kita pesan galeri dulu. Kau atur masalah lokasi dan alokasi yang perlu disikat pada direktur itu, aku percaya padamu."

Ujung-ujungnya Shintarou juga yang harus repot. Kalau bukan karena harga cetak Seijuurou yang tinggi, ia takkan mau banting tulang membantu.

"Mau kemana?"

"Hm?" Seijuurou menyisakan ruang untuk kepalanya kembali melongok dari balik pintu keluar toilet yang akan ia tutup. "Keliling galeri museum sebentar. Nanti kita keluar sama-sama—kutelfon."

Raut Shintarou yang jelas sekali menahan serba-serbi protesan terselubung ia bawa-bawa sampai tikungan pahat tiang besar. Kalau diingat-ingat lagi wajahnya sangat jelek saat begitu. Seijuurou terkekeh.

Banyak karya goresan tangan garapan seniman terkenal di sana. Yang kadang, dilepas ia lupa dengan jabatannya sendiri, dirinya dibuat kagum. Berdecak, sampai kesal karena iri. Mahoni tegap yang akar-akarnya disulap menjadi tanduk rusa jantan. Spesi-spesi bertaburan seolah tengah terbang. Sampai lukisan abstrak yang sibuk dijepret pengunjung tanpa repot-repot tahu artinya. Melengkapi dinding polos ruang galeri, membuat yang datang terbengong-bengong mengangungi dekorasi.

Oh, satu lagi. Cetak tiga dimensi gambaran langit biru dengan sebuah kursi kayu ditengah-tengah, seakan kursi itu berdiri tegak diantara langit. Seijuurou menghentikan langkah, jarak enam meter. Lagi-lagi biru muda mengingatkannya akan pembicaraan asal yang sempat ia curi dengar semalam dari dua orang mabuk yang sempoyongan bergosip soal lelang lukisan.

"Kenapa aku ini?" Haruskah ia tuang seluruh cat biru muda dengan minyak-minyaknya sekaligus ke atas kanvas. Setelah puas, bosan, mungkin dirinya takkan lagi bodoh mengejar hal-hal yang berbau biru muda.

Cetakan langit dan kursinya itu bergerak, Seijuurou berkutik.

Sungguh, ia tak salah lihat. Cetakannya bergerak—

"Maaf, apa aku menghalangimu?" nyatanya rajutan mantel kayu cokelat—sempurna serupa kursi, bermahkota rambut biru muda—sempurna serupa langit, pemuda itu menggeser tempat berdirinya seperti kepiting. Keluar dari ruang kamuflase. "Silahkan melihat-lihat, aku sudah selesai."

Seijuurou mengejar seakan ingin menerkam. "Hey."

Yang lengannya dicabik enggan meneruskan langkah. "Ya?"

Tidak ada jawaban, atau tanggapan lain, atau berusaha melepasnya barang sedetik. Seijuurou malah memasang senyum puas. Pupilnya mengecil seiring lekuk garis bibirnya naik mendekati pelipis. Ekspresi begitu membuat lawan bicaranya merasa terancam.

"Umm.. permisi. Bisa kau—"

"Demi kuas neptunus," Seijuurou menenggak ludah, "kau sempurna." Ia tarik pemuda biru muda lebih dekat. Tadinya hanya berniat tersenyum saja, tapi tawa dengan penekanan keras ditiap konsonan tidak bisa tidak dilepas.

"Lihat dirimu. Astaga." Pemuda itu ia ajak dalam langkah dansa kecil. Diputar, lalu Seijuurou menumpu dari belakang. Kedua lengannya memarut dari bahu ke bawah, mengikuti tiap lekuk tubuh.

"Stunning, impressive, georgeous." Tidak berhenti di situ, tidak. Akashi Seijuurou bahkan belum ada niatan untuk berhenti. Helaian rambut ia ambil sebatang, diendus hayat. Kesempatan itu dibuat lawan mainnya hendak ambil langkah, namun lehernya keburu dikail Seijuurou dengan lengan.

"Oh, tidak, tidak. Kau tidak bisa pergi setelah merentangkan begitu banyak ide yang berputar-putar di kepalaku." Bisikannya lancang. "Kau harus membuatku menyelesaikannya. Dengan kau sebagai ilustratif—aku yang akan mengilustrasikan."

Tamparan pipi, telak. Seijuurou berkedip, seluruh ekspresinya langsung tandas.

"Maaf, tapi kau sangat tidak sopan." Suaranya takut-takut. "Kau kehabisan obat—barangkali? Aku bisa bantu hubungi rumah sakit terdekat."

"Tidak, maaf. Aku hanya suka kambuh kalau sudah menemukan inspirasi baru." Seijuurou berdehem, mengulurkan tangan. "Akashi Seijuurou."

Jeda sekian detik. Mungkin perubahan temperamen yang terlalu drastis memberikan keragu-raguan pada pemuda yang diuluri tangan.

"Kuroko Tetsuya."

"Jadi," Seijuurou pegang erat-erat balasan genggam tangannya. "Kau terima tawaranku?"

"Soal apa?" Ia mengernyit, tidak betah.

"Aku butuh model untuk aliran seni yang baru-baru ini aku coba anut; dan aku menemukanmu."

"Kenapa harus aku? Aku bahkan tidak mengenalmu."

"Aku Akashi Seijuurou—belum habis semenit aku katakan padamu."

Tetsuya menggeleng, kikuk. "Bukan itu. Kita hanya tahu nama satu sama lain."

Seijuuruo mengambil nafas kuat-kuat, dan, "Aku seorang seniman, tanggal lahirku dua puluh desember, makanan favoritku tofu, akhir-akhir ini aku sangat suka bermain dengan kucing, emailku sedang tidak aktif, apa lagi. Ukuran sepatu—"

"Cukup."

"Cukup? Oke, giliranmu."

Apa? "Tidak, Seijuurou. Tidak seperti itu." Tetsuya mulai mendaki jarak. "Kita bahkan tidak memiliki relasi. Maaf, aku tidak bisa percaya padamu."

"Relasi? Kita akan membuatnya. Kau ingin apa? Teman? Saudara? Kekasih?"

Jarak yang susah payah ia bangun, kembali dikikis oleh Seijuurou. "Aku butuh lebih dari satu bulan untuk beradaptasi dengan orang asing."

Seijuurou berdecak. "Aku bayar mahal. Bisa kau akselerasikan? Lukisanku harus jadi bulan depan. Dan melukis itu tidak bisa semalam tuntas."

"Kenapa kau begitu memaksa?" Tetsuya paling tidak betah dengan orang seperti ini. "Kalau keberatan, pergi saja cari model lain."

"Tetsuya." Bentang bahu miliknya masing-masing dicengkram. "Kau yang akan jadi ilustrasiku. Sesukamu saja, kujamin satu minggu cukup untuk berlutut tunduk padaku."

Kalau bukan karena tekanan aura yang begitu besar, entah datang dari mana, mungkin Tetsuya sudah memberi Seijuurou satu tamparan lagi.

"Buktikan."

.

.

.

.

"Aku rasa orang itu…" Jeda yang sengaja dipilih Chihiro memaksa Tetsuya menengadah, ikut melengoskan pandang keluar jendela. "Ingin bertemu denganmu."

"Abaikan saja." Tetsuya belum rampung, segelontor gulungan suci masih harus menjadi pakannya pagi ini.

"Tapi dia sangat mengganggu, Tetsuya. Terlalu mencolok, lihat itu." Spanduk besar yang dibentangkan lewat ranting dua pohon menghadap langsung kearah gereja. Ukiran tulisannya bagus, tapi kalau dibaca jadi menjijikkan.

'Tetsuya, mau sampai kapan?'

"Temui dia."

"Aku tidak mau."

"Kalau begitu aku yang ke sana." Kursi berderit, Chihiro bangkit dari duduk. "Akan kuusir dia pakai ayat-ayat kitab."

"Tidak, Chihiro. Jangan." Sarungan tangannya memaksa Chihiro berbalik, menatap bingung.

"Aku ke sana. Mau ikut atau tidak?"

Tetsuya memijit pelipis, sekarang ia harus beriringan dengan Chihiro sampai halaman depan. Menghadang langsung Akashi Seijuurou yang melipat terpal begitu tahu dirinya dihampiri siapa.

"Halo." Setelah Seijuurou berlontar demikian, Chihiro langsung mencari halaman kitab yang sesuai untuk ia rapalkan.

"Chihiro, hentikan." Tetsuya mengambil alih sang kitab tebal. "Dia bukan setan."—tapi iblis.

Mendengar pembelaan begitu, Seijuurou mengulum senyum. "Chihiro? Salam kenal, aku kenalan Tetsuya. Akashi Seijuurou."

"Kau punya kenalan?" Chihiro seperti baru saja ditantang dengan fakta tabu. "Kau pikir kau ini apa, Tetsuya?"

Tidak akan begini jadinya bila Chihiro tidak ikut menemani. Pria kelabu itu terlalu suram, menganggap kehidupan segalanya terbatas. Bahkan kalau relasinya dengan Chihiro jauh dari kenalan biarawan, dirinya pasti sudah sangat anti sosial.

"Kami hanya tahu nama; tidak lebih."

"Oh? Darimana dia tahu kau biarawan di sini?" Tiap pertanyaannya penekanan. Tiap kalimatnya pemaksaan.

"Aku… tidak tahu."

Chihiro berganti fokus dari sejumput biru muda kearah tegap merah delima. "Jangan jadi penguntit hidup orang, Tuan. Apa maumu?"

"Aku ingin meminjamnya sebentar." Telunjuknya lurus pada Tetsuya. "Nanti pasti kukembalikan."

Bahasanya tanpa kias tanpa rambu, frontal tabu.

"Aku tidak suka padamu." Chihiro memulai perang.

"Ya, dibandingkan Tetsuya, aku jauh lebih tidak suka kau." Seijuurou membalas deklarasi, membumbui tantangan.

Tetsuya sebagai kaum non blok. Menepuk pundak senior. "Aku selesaikan sendiri. Anak-anak panti sepertinya sudah datang."

Oh, itu tugas Chihiro. Waktu yang tepat untuk mengusirnya pakai kesibukan. Seijuurou memandang sinis punggung pria itu sampai menjauh.

"Aku tidak tahu kehidupanmu strict begini." Seijuurou menepuk pantat dengan rerumputan, tanpa terpal. "Kau harus sering-sering ikut denganku melihat dekorasi belahan bumi."

Hanya kali ini, karena kalimat itu membuatnya tertarik, Tetsuya enggan mengusir Seijuurou dulu. "Bolehkah?"

Seijuurou menarik garis bibir, menepuk rerumputan yang melambai ingin dihampiri. "Sudah kubilang, kan? Aku akan mengilustrasikan—mintalah sesukamu."

Tetsuya jatuh terduduk, seakan dihisap rerumputan hijau untuk berlutut. "Bisa kau ilustrasikan… dinamit untuk membombardir benteng yang terbentang dihadapanku ini?"

Lekukan garis yang tadi naik tipis-tipis makin lebar menuju pelipis. "Untuk mewujudkannya, aku butuh kuas," menarik lengan itu mendekat. "Cat minyak," dekat. "Kanvas." Sampai hanyut di dekapannya. Seijuurou berbisik. "Dan dirimu."

Dirinya belum sepenuhnya stroke. Dia tidak, Tetsuya hanya lumpuh. Terjungkal tapi belum terjerembab. Terombang-ambing belum terdampar. Deskripsinya cukup rumit, memang. Tapi kalau diilustrasikan dengan gambar, Seijuurou pasti bisa.

"Maaf, Seijuurou. Aku masih.." masih." Belum percaya." Belum.

"Tidak apa." Dia hanya butuh seminggu, dan Kuroko Tetsuya sudah lumpuh di hari pertama.

Hari kedua, dirinya kena patah tulang. Saat Seijuurou malam-malam menunggangi lantai dua dan menemukan kamarnya. Membawanya ke atap gereja. Menaburkan gilap-gilap glitter buatannya menemani bintang yang sendirian di langit.

Hari ketiga, ia divois diabetes. Seijuurou terlalu banyak memberi pemanis dengan karya desain pakaian anak-anak yang manis-manis. Dibagi-bagikan pada anak panti yang datang berkunjung sore hari. Tetsuya jadi ingat, kalau dirinya sebagai seorang biarawan takkan pernah diizinkan Tuhan dapat kesempatan icip-icip anak digendongan tangan.

Hari keempat, Tetsuya dapat serangan jantung. Pagi-pagi sebelum fajar, Seijuurou menghadiahinya anjing kecil temuan di jalan. Matanya dilukis persis dirinya, serasa sedang berkaca bila bersitatap. Anjing itu pintar mengeja, terutama nama Seijuurou. Tiap pagi penyakit jantungannya akan kumat kalau si anjing membangunkannya—menjilati pipi—dengan menyebut-nyebut nama Seijuurou.

Hari kelima, dia gegar otak. Seluruh memori akan hafalan ayat-ayat suci kitab yang harusnya ia jadikan pedoman hidup serasa luntur hanya dengan kecupan lembut Seijuurou di pipinya, setelah dirinya bilang kalau Nigou—anjing nakal itu—habis melumat pipinya tadi pagi.

Hari keenam, Kuroko Tetsuya kena insomnia. Mimpinya yang biasa indah-indah penuh pekarangan surga, diganti jelmaan mahluk yang tanpa ijin mampir setiap ia berniat menutup mata. Ia tidak bisa sekedip mengusir Akashi Seijuurou, tidak bisa.

Hari ketujuh, dirinya meringkas seluruh perlengkapan seperlunya. Membenahi kamar asrama. Menyudahi dengan sebuah ransel yang ia sanggul di pundak kanan. Penyakitnya sudah mencapai batas dimana ia butuh topangan nyawa. Tetsuya butuh tabung oksigen setiap bernafas, butuh gelontor darah yang sudi mencuci setiap likuid dalam tubuhnya, butuh rangsang cukup untuk memperbaiki sistem sarafnya.

Mungkin Akashi Seijuurou bisa menyembuhkannya. Memolesnya, mendekorasi dan memodifikasi.

Dia seorang seniman, kan.

"Seijuurou." Mereka hanya punya waktu tujuh detik sebelum Chihiro berhasil memergoki keduanya. Tetsuya mengakselerasi, mempersempit jarak keduanya di depan pagar halaman gereja. "Jadikan aku ilustrasimu."

.

.

.

.

"Selamat datang di galeri kerjaku." Daun pintu dibuka lebar-lebar. Tetsuya muncul belakangan, mengekor. Mulutnya komat-kamit memberi salam pada tiap penghuni ruangan yang hampir serupa realiti—padahal fiksi.

"Ini ruang galerimu?" Tetsuya memetik jejeran kuas berdiameter tak wajar yang ditempel sepanjang dinding. Tak berpaling dari bongkahan es tinggi-tinggi yang diinkubasi. Peralatan perang—bor listrik, palu lekuk biola, tali tambang—saling bertumbuk di sudut meja. Barisan batang lilin tanpa percik api membentuk spasi jalan, seperti iring-iring kapal terbang di bandara. Akuarium raksasa rumah arwana. Bak besar mirip kubangan cat di bawah lampu gantung utama. "Menurutku, tempat ini lebih mirip ruang eksekusi."

Seijuurou beralih ke tembok bata di sisi barat. Memutus tiap-tiap pita yang mengikat spanduk raksasa. Dibentangkan acak di atas lantai. Tetsuya mematung, lantai yang sudah dikover begitu memaksanya menginjak salah satu spanduk.

"Semuanya lukisanmu sendiri?"

Bohong kalau nadanya tidak bisa datar, ada intonasi takjub di sana. Sebab dirinya merasa pindah-pindah dimensi setiap kali menginjak lukisan diatas spanduk yang berbeda. Satunya laut, satunya hutan, satunya pedesaan kuno, satunya menara tinggi—semuanya ilusi apik.

"Pilihlah satu yang kau suka untuk backgroundnya."

"Satu?" Tetsuya mendadak main lompat katak. "Semuanya bagus-bagus, Seijuurou."

"Baiklah, dua."

"Aku suka hutan, banyak hewannya." Hewan. Mungkin itu bisa ia sempilkan sedikit pada lukisannya nanti.

"Satu lagi?" Seijuurou merunduk, memungut spanduk gambaran hutan.

"Pedesaan kuno, rumah mereka imut-imut." Hutan dan pedesaan kuno, rasanya mirip dongeng anak-anak.

Dua spanduk yang saling berbagi tempat, Seijuurou menempelnya di tembok bata. Yang lain dibiarkan sebagai alas kaki.

"Boleh aku ganti pakaian? Kau tidak mungkin melukisku menggunakan dress, kan?" Oh, itu hal yang boleh dipertimbangkan.

Seijuurou berbalik, menatap tamu istimewa. Sedikit membungkuk, memberi tadahan tangan. "Kemari, Tetsuya."

Ada yang menadah, ada yang menggantung. Seijuurou membimbing, Tetsuya digiring. Keduanya berhenti di batas spasi lilin pertama. Seijuurou melepas tautan, mendahului berjalan diapit deretan lilin. Ada kubangan besar di ujungnya, diakhiri lagi oleh spasi lilin hingga menabrak dinding. Kubangan itu digelontor Seijuurou dengan cat minyak sampai penuh. Satu warna, biru muda. Pria delima itu berjalan lagi diantara lilin, berhenti di ujung lain. Tetsuya disana, diujung yang berbeda masih terdiam.

Seijuurou mengacungkan telunjuk, digoyang-goyang kearah dirinya. Perintah implisit menyuruh yang jauh untuk mendekat.

Dan Tetsuya terpikat, terpanggil mendekat. Kakinya dibuat melangkah ibarat menghampiri fatamorgana. Pandangannya lurus; Seijuurou seorang. Kubangan cat besar dihadapannya menuntut mengambil pikiran pendek, Tetsuya gugurkan pakaian biarawannya. Jatuh klimaks memaparkan pori. Badan sepenuhnya tenggelam sampai pucuk kepala. Membekap dirinya dalam satu warna. Tetsuya muncul lagi, menengadah basah seperti paus. Bahkan matanya terpejam, nafasnya tertahan. Cat kental itu membungkus dirinya jadi biru muda. Kembali meneruskan perjalanan dengan insting, tapi bercak telapak kakinya tertinggal mengotori lantai.

"Lihat betapa sempurnanya dirimu." Seijuurou mengalungi oleh-olehnya. Menghisap kental cat yang merabuni kelopak mata, membiarkannya melihat. Menjilat kental cat yang melapisi hidung, membiarkannya bernafas. Melumeri saliva pada kental cat yang menyembunyikan bibir, membiarkannya memanggil.

"Seijuurou?"

"Kau sudah siap untuk dilukis, Tetsuya."

Bercak tapak biru muda kali ini berakhir di dalam kotak inkubasi. Sisi-sisi kacanya transparan, sempitnya mirip kulkas. Seijuurou berdiri semeter dari sana, mengutak-atik perspektif yang pas. Background yang ia pasang di tembok bata terlihat dari sini, dan objeknya sudah berada di dalam inkubasi. Kanvas sudah dipampang, kuas-kuas dibabat.

"Seijuurou." Suaranya memantul-mantul vibra dan gemeretuk gigi dalam ruang inkubasi. "Disini dingin, aku tidak mau disini."

"Gunakan saja lidahmu untuk membuat percikan api."

"Bisa?"

Kanvasnya ia tunggak, menghampiri objek dalam inkubasi. "Gesekkan lidahmu di atas kaca, seperti ini."

Tetsuya menelan ludah, otaknya makin mengkerut dalam kotak suhu rendah begini. Jangankan bernalar sejenak apa Seijuurou hanya membualinya atau sungguh berniat menolongnya. Lidah Seijuurou yang begitu cakap mengecap kaca saja langsung menuntunnya mengecap daerah yang sama.

Lidah Seijuurou rasa kaca.

Karena kalian memang dibatasi kaca, Tetsuya.

"Khh." Tetsuya menyudahi, membuka kelopak mata Seijuurou yang tadinya terpejam hayat.

"Ada apa?"

"Tidak. Bibirku berdarah." Bagus, dicium kaca saja bibirnya sudah berdarah. Bagaimana kalau tak ada kaca diantara mereka.

"Hei, bersihkan itu. Aku mau kau dalam biru muda—bukan merah pekat darah."

"Maaf, akan kubersihkan."

Seijuurou kembali menyisakan satu meter. Berdiri di depan kanvas. "Berpose."

Tetsuya kalap, malah mengambil posisi formal seperti tengah paduan suara resital. Tidak protes, Seijuurou menarik salah satu sudut bibir.

"Tetap seperti itu kalau pose begitu yang kau pilih."

"Berapa lama?"

"Kau ingin berapa lama?" kuasnya tidak jadi mengukir kanvas. Tersenyum usil pada si objek.

"Melukislah, Seijuurou. Cepat."

Seijuurou terkekeh. Kuas yang tadi macet, kini mulai mengemudi di atas kanvas. Sesekali melirik Tetsuya, melirik kanvasnya lagi. Setiap bola matanya bergerak berpindah begitu, garis bibirnya makin naik.

Tetsuya menangkap, badannya langsung miring kanan beberapa derajat. Menghindari Seijuurou.

"Kau bergerak." Ya, memang. "Kau merusak lukisanku, Tetsuya." Memangnya begitu?

"Aku tidak bermaksud," menghadap lurus depan lagi. "Tadi aku, maaf."

Seijuurou menghampiri lagi. Mengeluarkannya dari inkubasi, membanting di atas permukaan es balok. Sekujur tubuhnya terasa dibius, beku maksimal. "Diam disana. Ingat, jangan bergerak."

Ikan arwana mengintip dari balik akuarium. Menjulurkan lidah untuk Kuroko Tetsuya. Yang diejek meringis. Biru muda mati rasa di atas balok es—terutama tubuh bagian depannya yang terkontaminasi langsung.

"Akh!"

Punggungnya serasa ditumpuk berkilo-kilo gajah sirkus. Padahal Seijuurou hanya sedang naik kuda-kudaan. Kanvas dibawa ke pangkuan. Ia mulai menggores lagi, melukis lagi.

"Seijuurou, berat…"

"Tahan."

"Dingin…"

"Tahan."

"Sei—"

"Ah, kau tidak bisa diam rupanya." Seijuurou meraih leher tunggangannya. Menekan jakun. Mengelupas kental cat biru muda yang bertengger dari wajah ke jenjang leher.

"Kau tidak bisa melakukan ini padaku," kalimatnya keburu digantung. Seijuurou menekan punggung, menghantarkan panas yang sama sekali berlawanan dengan balok es yang Tetsuya tindih. Badannya diapit dua suhu berbeda, meriang.

"Melakukan apa?" Biru muda dikelupas, diganti bercak merah keungungan tiap Seijuurou melepas kontak.

"Melukislah dengan benar, Seijuurou." Balok es sebagai alas ia garuk-garuk gatal. "Berhenti bermain-main."

Kini kental cat biru muda sepenuhnya tanggal habis digerogoti Seijuurou. Tetsuya kembali polos; warnanya kembali putih susu. Bulu kuas berdiameter besar mampir menyapa liang. Tetsuya mengggelinjang, menggesek-gesek balok es mirip ikan terdampar.

"Kuharap kau tidak keberatan memberi pelumas sebagai minyak dalam cat yang akan kupakai." Seijuurou membekap, menyelipkan satu jari diantara gigitan rahang Tetsuya. "Keluarkan yang banyak."

Yang diperintah melenguh, kelopak mata dipejam erat-erat. Giginya menancap merancang luka pada jari Seijuurou. Bulu kuas mulai mengoyak, menggelitik daging-daging sensitif. Tiap adukannya memberi anak tangga imajiner pada rasa candu akan titik puncak.

"Sepertinya kau menyukainya."

"Mmnng.."

"Jariku bisa patah kalau kau gigit begitu, Tetsuya." Seijuurou mengambil alih jemarinya begitu Tetsuya membuka mulut, saliva merah pekat menetes. Berjaring-jaring.

"Seijuurou, aku," balok es kembali digaruk sampai kukunya memutih. "Aku tidak tahan lagi—"

Kuas ditarik balik, kelewat kasar. Langsung menadahi minyak kental dari liang yang mengalir di permukaan es balok. Tetsuya mual, menumpahkan likuid lainnya lewat kerongkongan.

Kanvas kembali digores setelah cat ditaburi bumbu pelumas. Seijuurou melukis lagi, berseling Tetsuya terengah-engah di bawah kuasa tunggangannya.

"Kau sudah selesai?"

Balok es telah berair. Bukti nyata lamanya waktu yang dihabiskan Seijuurou untuk membuat Tetsuya encok, tapi belum berhenti juga suara gesek-gesek kuas di atas kanvasnya.

"Ya," Seijuurou mengangkat bokong. Membentangkan kanvas tinggi-tinggi. "Kau sudah jadi, Kuroko Tetsuya. Mahakaryaku."

Gambar potret sederhana. Ekspresi sederhana. Latar sederhana. Pose sederhana. Semuanya dimata Tetsuya, dirinya dalam lukisan sama sekali tidak ada kesinambungan dengan hal-hal berat yang harus diperjuangkannya untuk menyelesaikan mahakarya Seijuurou. Namun tiap kali dilihat, ia dalam kanvas terkesan adiksi.

"Aku akan membawa orang berbondong-bondong dari seluruh penjuru dunia datang hanya untuk melihatnya." Seijuurou mendekati daun pintu, mencari akses keluar.

Tubuh Tetsuya gemetar, bibirnya tidak bisa tidak mematri senyum. Ia sudah berpakaian rapi lagi, mengikuti jejak Seijuurou ke arah pintu. "Benarkah? Mereka akan melihatku? Apa mereka sudi membangun relasi denganku? Aku bisa keliling dunia?"

Melihatmu? Berelasi denganmu? Kau keliling dunia; meninggalkanku?

Ekspresi berapi-api Seijuurou kandas, menoleh tajam pada Tetsuya. "Tetap di sini."

"Huh?" Tetsuya angkat alis, tidak paham. "Aku tidak boleh ikut?"

"Tidak."

"Baiklah, mungkin lain kali."

"Tidak, tidak ada lain kali." Kalimat monoton cenderung tegas, perintah mutlak. "Kau di sini, selamanya."

Dua bola mata membulat tak percaya. "Seijuurou?"

"Kau tidak boleh ditemukan, dilihat, dipoles, atau dijadikan inspirasi orang lain. Kau objekku, temuanku, ilustrasiku. Kau sudah kuklaim. Sebagai Tuan Ilustrator, aku mau ilustrasiku tunduk pada tiap goresan yang kuberikan."

"Seijuurou!" pintu keburu ditutup, dikunci rapat. Tetsuya memukul-mukul, mendepak keras kayu pintu, menjerit kesetanan. "Seijuurou, keluarkan aku! Kau tidak bisa lakukan ini!" Air matanya jatuh, lama-lama deras. "Bawa aku bersamamu, Seijuurou! Kau bilang ingin mengajakku melihat dekorasi dunia! Kau pembohong!"

"Aku tidak bohong, Tetsuya." Suaranya makin menjauh, tapi Tetsuya menangkap sayup-sayup. "Aku membawamu—dalam lukisan ini."

.

.

.

.

tbc


sebenernya buanyaak banget settings AU yang berputar-putar di kepala, dan entah kenapa hanya cocok diaplikasikan buat pairing AkaKuro saja (kenapa bisa begitu ya?) dan malah AU semacam ini yang kepakai. saya sempat ragu publish ini karena takut menuang banyak kontroversi soal temanya, tapi berhubung bentuknya fiksi jadi mungkin fine-fine saja. apalagi dituangnya ke AkaKuroXD

mungkin ini bakal twoshots, boleh minta dipetikin saran dan kritik?:))

gores-gores,
mor.