X-over NarutoxOnePunchMan Fanfiction!

Belongs to ©Masashi Kishimoto-ONE&Yusuke

The SkinHead Is My Boyfriend ©Dafrilioun

SaitamaxHyuugaHinata

OOT; ABAL;GAJE;OOC; dan banyak lagi. Pokoknya apalah!

Dibuat hanya untuk kesenangan, dan kalo gasuka silahkan tekan Back.

Happy Reading!

.

"Cieeeeee,"

"Suiitt-suiww!"

"ADEUUHH!"

Sahutan-sahutan bermakna menggoda itu terus dilemparkan pada Hinata yang kini tengah melangkah menuju kelasnya. Hinata tidak bisa menahan malunya dan berusaha mengabaikan semua sahutan itu. Dipelototin pun ngga akan mempan. Tahu, 'kan gimana anak SMA? Songong-songong minta di Kaprot!

Hinata masuk kekelas dengan tatapan yang hampir semua mengarah padanya. Gadis bersurai indigo itu buru-buru melangkah menuju bangkunya. Lalu membuka novel bacaannya dan menunduk sedalam mungkin. Berusaha tidak mendengarkan dan mengacuhkan semua atensi yang mengarah padanya. Aura kelam yang melingkupinya tampaknya tidak membuat Hinata hilang dari sorotan dan ejekan anak dikelasnya.

Ini sudah seminggu. Sahabatnya—Sakura bilang gossip yang Hinata alami akan mereda tidak lebih dari 3 hari. Sisanya paling beberapa orang yang masih mengingatnya. Tapi ini! Semua sekolah masih mengoloknya padahal sudah seminggu lewat! Dan Hinata tidak mengerti dimana letak keganjilan tentang kasus dirinya.

.

Jam makan siang adalah jam yang paling ditunggu. Tapi tidak bagi Hinata. Gossip yang beredar disekolah tentangnya, membuat Hinata enggan untuk sekadar kekamar mandi. Apalagi kekantin saat sedang ramai. BIG NO!

"Hinata, kau baik-baik saja?" Sakura yang tengah memakan bentonya menghentikan suapan tamagoyakinya yang nanggung.

Disampingnya, duduk seorang gadis dengan surai pirang—Ino, yang ikut mengalihkan perhatiannya pada si gadis indigo.

Ketiganya seperti biasa menghabiskan waktu dengan makan dikelas. Menyatukan meja dan makan bersama. Ino berdiam dikelas lain. Tapi karena kedua sahabatnya sejak SMP itu ada dikelas yang sama, jadi ia selalu datang untuk bergabung.

"Aku.. aku tidak baik-baik saja," jawab Hinata dengan kerut halus didahinya. Matanya menatap dengan tidak minat ke kotak bento disisinya yang belum dibukanya.

Ino dan Sakura saling berpandangan. Dan kini tugas untuk keduanya menghibur Hinata.

"Kau tahu, aku tidak mengira hal ini akan jadi berita yang lumayan panjang. Maksudku, itu bukan berita spektakuler semisal Sasuke senpai yang jatuh dengan pose nungging atau apalah itu..," Ino berujar sambil memainkan sumpitnya yang diamini Sakura.

"Kau benar, pig. Dan jelas yang mereka lakukan itu candaan. Bukan benar-benar memojokkan. Kau tahu kan maksudnya, Hin?"

"Tapi aku tidak suka!" Dengan kesal Hinata menggebrak meja mereka dengan kedua tangannya, membuat kedua gadis lainnya tampak tercengang. Ini Hinata, lho. Kapan Hinata marah-marah seperti ini? Tidak pernah! Kecuali sekarang. Sejauh yang Sakura dan Ino tahu sih begitu.

"Aku tidak suka! Mereka menyebalkan!" Wajah putih itu sudah memerah karena kesal yang ditahan dan perasaan lainnya.

"Hinata, sabar. Tenang dulu. Kau tahu 'kan, mereka cuma jahil sedikit…,"

"SEDIKIT?!"

Ino tersentak dari kursinya dan langsung meralat kalimatnya.

"O-oke mungkin tidak sedikit. Tapi bukan cuma kau yang terseret gossip ini. Saitama-senpai juga—,"

"Aku tidak mau dengar namanya!" Ketus Hinata sambil membuang pandangannya.

"Oke, senpai 'itu' juga ikut terbawa. Jadi setidaknya kau tidak harus menanggungnya sendiri," Ino menghela napas setelah berhasil menjelaskan maksudnya.

"Tapi aku tidak mau dipasang-pasangkan dengan senpai 'itu'!"

"Ta.. Tapi dia sudah menolongmu, lho," Ucap Sakura meski agak ragu dengan ucapannya. Apa benar ya?

"Pokoknya aku tidak mau," Hinata berucap pelan. "Dia norak, tidak keren, dan botak."

Seolah godam imajiner sebesar gunung mendarat diatas kepala mereka. Ino dan Sakura lantas membeku mendengar alasan sebenarnya Hinata uring-uringan. Hinata yang polos sungguh terlalu jujur.

Norak.

Hinata baru saja mengatai seseorang.

Tidak keren.

Ino dan Sakura baru tahu kalau Hinata ternyata seorang pemilih dalam hal penampilan.

Botak.

Itu menjelaskan klasifikasi sebenarnya.

Hinata menenggelamkan kepalanya dilipatan kedua tangannya diatas meja. Merutuki nasibnya yang sebagai murid baru harus menerima semua ejekan karena kejadian saat MOS yang diluar perkiraannya.

Hinata berjalan pulang dengan wajah cemberut. Sepanjang perjalanan ia hanya merutuki ketidaksetiaan dua sahabatnya yang sudah pulang duluan karena dijemput pacarnya masing-masing yang kali ini tidak bisa dicegah Hinata.

Hinata menghela napas panjang. Merasa iri pada dua sahabatnya yang sudah punya pacar. Hinata juga ingin.

Lalu ia kembali teringat dengan olokan disekolahnya.

Tidak mungkin! Hinata berteriak dalam hati. Tidak mungkin ada laki-laki yang mau mendekatinya setelah namanya 'tercemar' karena kabar nyeleneh itu.

Hinata terus berjalan dengan kepala menunduk bersama sekelumit pikiran yang sebenarnya terlalu berlebihan dipikirkannya. Tidak sadar dengan beberapa orang laki-laki yang berjalan dibelakangnya.

Sekolah Hinata termasuk sekolah fullday dengan hari sabtu yang digunakan sebagai hari ekstrakulikuler. Karena itu Hinata pulang sore selama seminggu ia sekolah di Tetria Gakuen.

Lama, barulah Hinata tersadar saat suara-suara kekehan itu sudah semakin dekat dengan jaraknya berdiri. Hinata menoleh dengan serentak dan mendapati empat.. tidak, lima! Lima orang lelaki berdiri dibelakangnya dengan senyum culas dan tongkat ditangannya.

Hinata tidak membuang waktu ketika ia berhasil lepas saat salah satu dari mereka hampir berhasil menarik tangannya.

Dengan sekuat tenaga ia berlari sementara para preman itu tertawa dibelakangnya. Jelas langkah kaki mereka tidak sepadan dengan langkah kaki Hinata yang kecil.

Kenapa jadi seperti ini?

Hinata dilema. Fokusnya terpecah karena panik. Ia mengambil jalan secara acak sebelum orang-orang itu berhasil menangkapnya. Sialnya, Hinata malah memilih gang yang menjauhinya dari rumahnya.

Tidak. Hinata tidak ingin berakhir seperti ini! Ia bisa mencium bau memuakkan dari pria-pria tadi! Hinata tidak mau!

Ditengah kekalutannya, sebuah kerikil justru lepas dari fokusnya, menjatuhkankannya sepersekian detik, membuatnya bisa mendengar kembali tawa preman-preman yang mengejarnya, bersama suara tongkat basebal yang diseret diatas tanah. Mengerikan karena hanya ada dirinya saat itu dijalanan sepi.

Mengabaikan rasa sakit dikakinya, Hinata kembali bangkit dan berusaha lari meski dengan tertatih-tatih.

"Are? Nande Onee-chan? Apa kau tidak lelah berlari begitu? Khehehe,"

"Kami tidak akan menyakitimu, kok. Tapi mungkin membuatmu semakin susah jalan saja,"

Lalu tawa menjijikkan itu kembali bergema.

"Heh! Ayo selesaikan ini! Aku sudah lelah kejar-kejaran!"

Kelima pria itu berlari cepat dan mengepung Hinata dalam sekejap.

"Ayo nee-chan. Serahkan dirimu saja. Kami janji akan pelan-pelan," Salah seorang dari mereka mencolek pinggang Hinata dari belakang, membuat Hinata memekik.

"JANGAN SENTUH AKU!"

"Lihat wajahnya! Sangat menggairahkan!" salah satu dari mereka merebut paksa tas Hinata dan melemparkannya sejauh mungkin.

"Apa yang kalian lakukan!" Hinata melayangkan tatapan tajamnya. Senyalang yang ia bisa. Berharap menghentikan rasa takutnya dan membuat para preman itu pergi.

"Ara-ara. Nona ini seperti kucing liar saja. Tenang.. kami mungkin preman. Tapi kami tahu benar kau kucing yang punya harga diri..,"

"Karena itu kami jamin tidak akan ada yang tahu," Seorang pria gendut dengan rambut gondrong lantas menahan kedua tangan Hinata yang langsung berontak sekuat yang ia bisa.

"Kau sangat liar. Membuatku tidak bisa menahan diri!" Seorang pria ceking merobek seragam atasnya dengan sekali tarikan.

"Hentikan! Kumohon..!" Tanpa terasa air mata Hinata mengalir saat keputusasaan benar-benar menguasainya.

Hinata merapatkan matanya. Menahan isakannya saat tangan kotor itu menyentuh permukaan perutnya yang tidak terhalangi apapun.

Kami-sama!

Hinata menjerit dalam hati.

Ia terus meronta hingga—BUGH!

BUGH!

BLETAK! –Suara tongkat baseball.

Hinata masih memejamkan matanya saat kedua tangannya terlepas dan ia jatuh terduduk diatas aspal.

Sraak—DUAGH.

BUGH!

Hanya sedikit suara pukulan yang didengar Hinata. Hinata menerka mungkin seseorang baru saja menolongnya. Tapi Hinata tidak bisa menebak siapa yang memenangkan pertarungan. Ia masih tidak berani membuka mata sampai sesuatu menyelimuti pundaknya.

Hinata mengangkat wajahnya yang sudah kacau. Dan ia tidak pernah merasa selega ini saat ia membuka matanya dan mendapati senpainya berdiri dihadapannya, dengan wajah yang serius. Dan tanpa sadar, menghangatkan hatinya.

"Lakukan seperti itu lagi, kubunuh kalian," Nada dingin senpainya yang Hinata kenal biasa berlaku—bodoh itu membuat Hinata terpaku.

Setelah suasana cukup tenang, senpai tak berambut itu—Saitama, berlutut menghadap Hinata yang masih tercenung.

"Kau baik-baik saja?" Lalu wajah Saitama yang seperti biasa-tidak bergairah- itu kembali. Tepukan dipuncak kepala Hinata menyadarkan Hinata dan membuatnya tak bisa menahan rasa lega yang teramat sangat.

Tanpa tedeng aling-aling, Hinata memeluk Saitama dengan erat, menumpahkan air mata ketakutannya yang sejak tadi menggempur hatinya.

"Ha'i-ha'i. Sudah tidak apa-apa," Elusan dikepala Hinata, dan ketenangan yang Saitama berikan, justru membuat Hinata semakin mengeraskan tangisannya.

.

Hinata mengeratkan pelukannya dileher pemuda yang kini tengah menggendongnya. Perasaannya masih berkecamuk dan ia masih tidak bisa menerima bahwa Saitama, senpainya yang digossipkan dengannyalah yang menyelamatkannya.

Saitama dengan santai berjalan dengan Hinata digendong belakangnya dan tas sang gadis yang dijinjingnya.

"Senpai..,"

"Ha'i?"

"Terimakasih..," lirih Hinata pelan.

Saitama tertawa kecil. "Kau sudah mengatakannya berulang kali,"

"..Tapi..," Hinata menunduk. Sejenak ia bisa merasakan aroma daun musim gugur dari jaket yang dipakainya. Jaket Saitama. Rasanya hangat dan nyaman. Mungkin sedikit bau keringat, tapi itu tidak masalah. Hinata menyukainya.

"Maaf aku terlambat," Kata Saitama tiba-tiba.

"Eh?"

"Iie.. eto.. Aku hanya… Merasa gagal, entah kenapa,"

Lalu keduanya terdiam.

"Senpai,"

"Saitama saja,"

Setelah berdebat lama dengan hatinya, Hinata menolaknya. Bagaimanapun memanggil nama langsung itu tidak sopan.

"Saitama-senpai… kenapa bisa ada disana?"

Saitama hanya tersenyum mendengar Hinata menyebut namanya.

"Eh? Kenapa memangnya?"

"Tidak.. hanya saja.. itu kan sudah sangat jauh dari sekolah..," gumam Hinata pelan.

"Aku mengikutimu,"

"Soukka.. EH?!"

"Sebenarnya aku mau minta maaf. Gara-gara aku kau jadi bahan olokan satu sekolah,"

"Eh?" Lalu Hinata teringat kejadian tadi. "So-soal itu—,"

"Ha'i! Sudah sampai," Mengabaikan keterkejutan Hinata, Saitama menurunkan gadis dibelakangnya dengan hati-hati.

"Kau bisa masuk sendiri?" Tanya Saitama yang dijawab Hinata dengan anggukan kecil.

"Eh! Jaket senpai! Se.. Sebentar! Biar aku ganti baju dulu,"

"Tidak. Tidak perlu!"

"Ta.. tapi senpai… maksudku.. tidak… itu.. ano..," Hinata terdiam, memalingkan wajahnya.

Sementara Saitama yang menatap tubuh bagian atasnya, hanya tertawa garing begitu kembali sadar dirinya tidak mengenakan sehelai kain pun.

"Ini bukan apa-apa. Aku pernah mengalami yang lebih parah dari ini," Lalu senyum Saitama terkembang. "Sudah, ya,"

"Saitama-Senpai!" Panggil Hinata sebelum Saitama melangkah lebih jauh.

"Ha'i?" Saitama menoleh, menyahut seperti biasa.

"A.. Ano.. Eto..," Ungkapkan saja, Hinata! "A.. Aku tidak keberatan digossipkan! Ma.. Maksudku sa..sama Saitama-senpai..," Suara Hinata sedikit mengecil saat mengatakan dua kalimat terakhir. Lagi-lagi rona merah menjangkit wajahnya tanpa bisa ditahan.

Sejenak, Saitama terdiam ditempatnya. Hinata tidak bisa mengartikan keterdiaman Saitama. Terutama raut wajahnya yang tidak bisa Hinata pahami.

"Kalau begitu..," Saitama sepenuhnya menghadap Hinata. ".. Kencan denganku," kalimat spontan itu meluncur dari mulut Saitama begitu saja.

Hinata akan menolaknya. Pasti. Itulah yang akan ia lakukan. Iya.. pasti itu yang dilakukannya sebelum ia kenal sedikit lebih dalam tentang senpainya.

Tapi Hinata justru mengangguk kecil sambil menunduk, menyembunyikan rona dipipinya, tanda setuju.

Dan Saitama merasa saat itu ia merasa ribuan panah cinta menembus jantungnya. Meski yang bisa ia lakukan hanya terdiam, dengan wajah-aku pasti bermimpi.

.

.

Tbc?

Belum jelas kenapa judulnya The Skinhead is My Boyfriend karena keduanya belum jadian :v Hahaha.

Dan Dafril masih bingung antara lanjut chapter atau ngga. Mungkin lanjut. Tapi bisa jadi ngga. Tapi Dafril pribadi sih bikinnya multi. Hehe.

Awal searching, bingung banget mau nyantumin nama pengarang manga Saitama. Tapi yang diketahui Cuma penname 'ONE' dan Yusuke hanya sebagai ilustrasi gambarnya. Maa ii.

Terimakasih sudah baca fanfic super gaje ini.

Salam hangat dari lubuk hati terdalam:*

Regrats,

Dafrilioun.