WARNING: EXO GS FANFICTION. TIDAK SUKA SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN INI

.

.

.

{Byun Baekhyun (24) dan Chanyeol (33) takdir apa yang menunggu mereka?}
.

.

.

FLYBAEK PRESENT, 09 FEBRUARI 2016

.

.

.

Ada dua pertarutan—yang secara tidak langsung melindungi privasi Baekhyun. Pertama, cuci kakimu selanjutnya balikkan tubuhmu dan menjauhlah dari kamar perempuan yang separuh alisnya nyaris gundul itu.

"Ini soal selera, kau tahu." Ketika ada yang bertanya, ia dengan lancarnya menjawab seperti itu. "Lagian, Chanyeol juga menggunakan alis model ini dipemotretan terakhirnya."

Byun Baekhyun—perempuan berparas manis. Kulitnya sedikit pucat dengan bibir tipis dan berperawakan kecil. Ia senang menyemir rambutnya dengan warna keperakan, lalu menggantinya dengan hitam dalam hitungan hari kedepan.

"Aku cepat bosan." Ketika gadis-gadis penata rambut—yang bekerja disalon ujung perumahan itu bertanya, ia langsung memotong—seakan tahu saja. "Lagian, Chanyeol sudah mengganti warna rambutnya dengan hitam untuk fanmeeting nanti."

"Lalu, kau juga harus memotong rambut mu?", Minseok—nama kerennya Xiumin, penata rambut senior disana bertanya lagi. "Byunee," ia mulai dengan panggilan kesukaan Baekhyun. "Rambutmu itu—apa yang berkilau kuat dan wangi. Terasa lembut, lebat mengembang. Rambut Baekhyun, rambut Baekhyun. Ini lah lima tandanya rambut sehat kinclong.", diakhiri tepuk tangan riuh, Baekhyun ikut tertawa.

"Ya nuna,"ia mengalihkan pandang dari kaca, "Kau benar-benar jadi korban iklan shampoo itu."

"Panggil aku eonni bodoh." Minseok mengumpat dari balik meja resepsionis.

"Tidak tidak," Baekhyun membuat sebuah pembelaan. "Chanyeol memanggil penata rambutnya nuna." Ia tersenyum lucu.

"Lalu, kau juga menyukai perempuan Byunee?", tanya Minseok saktaris.

"Aish, tidak untuk hal itu." Baekhyun menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Dalam hal ini aku masih waras, karena yang aku suka itu Chanyeol." Tepukan kecil diantara pipinya yang sedikit chubby membuatnya tambah tersenyum malu-malu.

Dan begitulah, rambut indah Baekhyun—menurut Minseok, dipangkas habis hingga tengkuk.

Chanyeol

Lagi—

Kalau sedang tidak ada pekerjaan, gadis-gadis penata rambut itu senang mendengar celotehan Baekhyun—yang hampir tiap hari mampir kesalon itu. Ada saja yang ingin ia ubah. Entah itu rambut, alis, atau sekedar mencuci rutin rambutnya.

"Nuna, nuna!" suatu hari yang panas, Baekhyun datang dengan wajah memerah dan napas yang tersenggal. "Ada apa byunee?" salon yang tampak ramai itu mengarahkan segala perhatian pada dagu kecil Baekhyun yang basah oleh keringat—oke itu tidak penting, dalam sekali pandang.

Helaian rambut keriting—yang Baekhyun jadikan jambul, sudah rombak dari tadi. "Daebak!", ungkapnya seru. "Chanyeol akan merilis albumnya yang ketiga." Ucapnya kepalang gembira.

Mereka mendesah lega—diam-diam.

"Kupikir apa." Seorang remaja perempuan yang tengah dipijat kakinya menyeru geram.

Suasana mendadak diam.

Gadis-gadis penata rambut itu berpandangan, seolah berkomunikasi lewat matanya.

"Apa?" Baekhyun mendesis. Kepalanya yang bulat memutar cepat—mencari sumber dari omongan tidak bermutu itu.

"Kau bilang, kupikir apa?", mendadak ia mengacungkan jari telunjuknya—menuding kearah pipi berbintik remaja tadi.

"Kau—", Baekhyun berjalan mendekat. Tidak memperdulikan keadaan salon yang mendadak diam kembali.

"Kau pikir ini biasa saja?" lelaki itu menjeda ucapannya,

"Kau kira menunggu tiga tahun untuk comebacknya itu hal yang sepele?"

"Heh bocah." Yang ditatap tidak memalingkan arah pandanganya. "Urus saja jadwal remedialmu itu! Masih kecil, sok-sokan menimpali omongan orang dewasa!" dengan sok, Baekhyun menepuk dadanya dan menekan kata dewasa.

"Mau berapakalipun kau pergi kesalon ini, kalau memang hatinya busuk ya tetap saja penampilanmu busuk!"

"Eww, perempuan mengerikan." Baekhyun meniup ujung poninya yang melengkung asal. "Nuna, jangan biarkan bocah ini datang kesalon ini lagi."

"Yy-yya Baekhyun, akan kami usahakan.", cicit seorang staff disana.

"Cih." Wajahnya tambah memerah—kali ini sampai telinga. "Aku tidak minat lagi." Ia berlalu sampai luar.

Semua yang ada diruang itu mengehela napas panjang. Tegang sekali.

"Ah, aku akan kembali nanti sore.", tiba-tiba Baekhyun kembali menyembul lewat pintu-dorong itu. "Setelah aku tidur siang, aku mau meluruskan rambutku." Kalimat itu bernada gembira.

"Dan, ah! Nuna, cepat selesaikan pekerjaanmu. Agar bocah sok itu cepat enyah dari sini." Kali ini nada suara Baekhyun berubah serius.

.

.

Hujan menderu dari luar, suarnaya yang beradu sedikit mengusik. Bau tanah yang basah dan petir menggelegar terdengar agak jauh. Hawa pengap—yang biasa muncul sebelum hujan, terganti suhu dingin menusuk sampai tulang.

"Ngghh." Baekhyun melenguh, lalu meregangkan tubuhnya yang pegal.

Jam menunjukkan pukul tiga tepat. Dan salon tutup sebentar lagi.

"Sial.", Baekhyun kesal. Ia menatap pantulan dirinya yang sedikit buruk rupa dari monitor TV yang gelap. "Aku tertidur terlalu lama."

"Kalau seperti ini, sudah tidak sempat ke salon." Sedikit malas, ia melangkah kearah dapur. "hhhhh," satu desahan panjang terdengar lagi darinya. "Aku harus masak untuk makan malam."

Setelah membasuh wajahnya, Baekhyun mulai mencuci beras dan mengukur airnya sampai telapak tangan—Chanyeol pernah mengajarkan trik ini di TV. Ia mulai memotong brokoli untuk dimasak bersama saus kepiting, lalu mengeluarkan iga sapi dari lemari pendingin. Baekhyun akan membuat galbi untuk ibunya—karena galbi itu kesukaan Chanyeol.

Chanyeol

Lagi—

Syndrom Chanyeol-ialah-panutanini dimulai sekitar sembilan tahun yang lalu. Chanyeol—lengkapnya Park Chanyeol, memulai debut keartisannya lewat projek boygrup. Beranggotakan empat lelaki maskulin, tampan, dan menjerat, Chanyeol memiliki kriteria lelaki yang siap dilirik siapapun.

Tak terkecuali Baekhyun.

Masa pubernya penuh dengan hal berbau Chanyeol, ia begitu mencintai idolanya. Dengan suara berat yang rendah—terkesan begitu sexy, menemani malam-malam Bakehyun sebelum tidur. Remaja tiga belas tahun itu tumbuh dengan obsesi sampai usia dewasanya.

Byun Baekhyun, tengah menyelesaikan studynya di fakultas arsitektur Seoul National University—karena Chanyeol juga. Usianya sudah 24 tahun, ia siap diwisuda setelah menyelesaikan projek bangunan bertingkat sepuluh yang akan dibangun di Gangnam. Semacam komplek perkantoran eksklusif dengan rancangan yang sudah ia rencanakan dengan apik.

"Aku benar-benar butuh kesalon.", pandangnya nanar. "Aku harus mengganti warna rambutku," monolognya lagi. "Rambutku perlu diluruskan dan diberi nutrisi.", mimik wajahnya begitu tersakiti.

"Aish, ini gara-gara perempuan sialan itu!" Baekhyun mengayunkan spatula yang ia pakai untuk mengaduk brokoli, saus kepiting yang masih menyisa diujung spatula itu mengotori bagian kecil dari kompor.

"Ahhh sudahlah." Ia menunduk lesu. "Aku bertanya saja pada ibu, mungkin salonnya bisa dibuka lebih awal.", Baekhyun mencoba menghibur hatinya yang tengah terpuruk.

Sebenarnya ia sedikit sangsi jika ibunya mau mengabulkan permintaannya. Ini bukan style ibunya. Tapi, apa salahnya mencobakan. Baekhyun kembali meringis nelangsa.

"Semangat Byunee." Bisiknya putus asa.

.

.

"Sedang apa?", Baekhyun mengalihkan pandangannya dari kaktus kecil yang ada didekat jendela.

"Oh ibu," ia menyambut wanita yang nyaris menyerupai dirinya."—sudah pulang."

"Tumben pulang terlambat." Sambung Baekhyun cepat

"Iya Baek," wanita itu tersenyum ketika Baekhyun menggamit lengannya. "Ibu perlu merevisi beberapa laporan, jadi pulang sedikit terlambat." Ia mengelus pucuk kepala Baekhyun dan menyingkirkan anak rambutnya.

"Ibu mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat." Baekhyun menarik—lepas jaket musim panas Nyonya Byun yang bermotif polkadot terang.

Nyonya Byun itu nyentrik. Semangatnya masih begitu anak muda. Koleksi pakaiannya bercorak dan berwarna terang—jarang untuk wanita seuisianya untuk memiliki koleksi itu. Penampilannya tidak jauh dari tren dan fashion yang begitu uptodate. Nyonya Byun senang mengecat kukunya dengan warna pastel, mengeriting rambutnya dan mencoba banyak merk eye liner. Inilah yang mendasarinya untuk membuka sebuah salon.

Dulu sebelum suaminya meninggal—dan membuatnya menjadi janda, salon itu ia kelola sendiri dengan bantuan beberapa staff. Tetapi ketika Baekhyun masuk sekolah menengah, ekonomi begitu lesu. Salonnya tidak begitu ramai, dan mereka membutuhkan uang untuk biaya sekolah Baekhyun. Karena dasarnya Nyonya Byun adalah pekerja keras, ia menitipkan salon itu pada Minseok dan menawarkan jasanya pada perusahaan iklan—ia seorang akuntan omong-omong.

"Ibu, ayo makan." Baekhyun yang menunggu ibunya—mandi, segera bangkit dan mematikan TV yang menayangkan episode spesial Chanyeol di The Return of Superman.

Nyonya Byun sudah segar, dan menguarkan bau apel. "Kenapa tvnya dimatikan Baek?", ia bertanya sebelum mendudukkan dirinya dikursi meja makan.

"Tidak ada acara bagus." Baekhyun menggumam rendah.

"Bukannya tadi ada Chanyeol, yang kau bilang menantu masa depan ibu?", Nyonya Byun menyendok saos kepiting yang terlihat menggoda diatas piring.

"Aku bisa menontonnya nanti.", perempuan berhidung bangir itu kembali menjawab tidak ada minat.

"Heum, brokoli ini enak.", disela kunyahan—Nyonya Byun sempat memuji kemampuan memasak Baekhyun yang mengagumkan. "Kalau kau tidak mendapat pekerjaan yang bagus, ibu bisa beri modal untuk membuka restoran. Pasti ramai.", imbuhnya lagi.

"Tapi, kau harus mengubah gaya rambutmu Baek. Kau terlihat be—"

"—nah.", mendengar kata mengubah gaya rambut, membuat Baekhyun menyela dan memiliki keberanian untuk mendiskusikan masalahnya.

Nyonya Byun sedikit berjengit mendengar teriakan Baekhyun. "Ada apa? Kau mengagetkan ibu." Ia mengelus halus permukaan dadanya.

"Jadi bu, begini." Baekhyun menaruh sumpitnya dan memulai ceritanya. "Harusnya aku meluruskan rambut dan mengganti warnanya menjadi magenta, tetapi urung karena aku ketiduran." Ia meringis malu.

"Tumben tidak main kesalon," Nyonya Byun berusaha menahan senyumnya. "tidak biasanya juga kau tidur siang Baek."

"Tidak bu, aku main kok ke salon." Jawabnya. "Tapi ada seorang remaja perempuan yang begitu menyebalkan. Dia berani mengejek Chanyeolku dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya lagi. Aku juga menyuruh Minseok nuna untuk melarangnya datang kesalon.", oceh Baekhyun runtut. "Ibu juga tahu, aku harus tidur sebentar agar emosiku kembali baik. Tapi, itu malah membuatku tidak sempat ke salon."

"Owww Baek," Nyonya Byun ikut menaruh sumpitnya. "Tidak seharusnya kau berlaku seperti itu pada pelanggan. Walaupun ia tidak menaruh minat pada Chanyeol mu.", wanita itu berujar singkat.

"Tapikan buuuu," rengek Baekhyun manja.

"Ya sudah, jangan pernah lakukan itu lagi. Mengerti?", Nyonya Byun terdengar tengah mendikte Baekhyun.

"Ya, oke baiklah." Baekhyun nampak berpikir sejenak. "Aku tidak akan melakukan itu lagi. Tapi sebagai gantinya, bisakah ibu menelpon Minseok nuna? Besok aku ada pertemuan dengan direktur SX Ent. Kami perlu membicarakan beberapa hal, dan ini dilakukan digedung pusat. Aku takut bertemu Chanyeol dengan penampilan seperti ini bu."Nyonya Byun berkedip tiga kali, lalu memandang kearah galbi yang ada ditengah meja—tanpa minat.

"Kau tahu Baek, itu akan susah dilaku—", Baekhyun merengut. Ibunya bahkan belum menyelesaikan kalimatnya.

"Oke, kau menang Baek. Mau jam berapa?" Nyonya Byun berjalan kearah tas kerjanya yang ada diatas sofa.

"Assa!", Baekhyun meninju udara dengan senang. "Aku butuh Minseok nuna jam delapan. Terimakasih bu, kau yang terbaik." Ia mengacungkan ibu jarinya lalu berlari memeluk—badan yang sama mungilnya itu.

.

.

Bau lavender dan kayu manis masing-masing tercium dari bilik toko roti didekat halte bus. Baekhyun memandang pantulannya yang terefleksi digenangan air—sisa hujan semalam. Rambutnya sudah berubah magenta—wajahnya terlihat lebih segar. Sebelum pergi ia membubuhkan riasan makeup burgundy pada matanya. Rambutnya ditata sedikit berombak, dan dilengkapi dengan beani. Ia menggunakan kaos putih polos, dan hotpants biru tua—menampakkan tubuhnya yang molek berisi.

"Aww, bau roti ini membuatku lapar." Baekhyun memutuskan untuk membeli dua roti isi dan sekotak susu strawberry. Ia melewatkan sarapannya karena bangun terlalu siang. Minseok menggerutu selama pengerjaan rambut Baekhyun.

"Tahu seperti ini, aku tidak akan cepat-cepat. Anakku masih butuh susu tahu Byunee!" Begitu katanya.

Baekhyun turun dua halte sebelum gedung SX Ent. Ia butuh membeli beberapa kertas A0, karena kertas kerjanya—untuk gambar teknik, sudah hampir habis. Ia melenguh saat menyadari langit kembali mendung.

Baekhyun menatap telpon pintarnya yang bergetar.

Dari teman sekelompoknya.

Ya Byunee, cepat kemari. Direktur sudah datang.

"Aku harus bergegas."

Baekhyun melewati dua blok dengan menggumam beberapa lagu Chanyeol dan grupnya. Sebelum melangkah menaiki tangga SX Ent, ia menggunakan ID yang diberikan staff SX Ent beberapa waktu yang lalu.

"Setelah menyelesaikan ini, aku harus membeli es serut.", obat stress Baekhyun selain tidur adalah makanan manis atau pedas. Dan ia yakin, sepulangnya dari pertemuan ini ia butuh tiga mangkuk es serut kacang merah.

Baekhyun menempelkan ID itu pada kotak sensor yang ada dipintu masuk. Secara otomatis, pintu itu terbuka dan membawa Baekhyun merasakan hawa dingin yang begitu kentara.

Kulitnya sedikit meremang—membiasakan perubahan yang begitu mendadak. "Aku suka pendingin ruangannya." Ia terkikik sendiri.

Drtt

Drtt

"Wakil ketua kelompok, kau ada dimana?" tanpa sapa, Baekhyun dibuat pengang karena suara panik milik Baro.

"Aku sudah dibawah. Tenanglah," ia berlagak tenang—padahal ia merasa canggung karena diawasi banyak pasang mata.

"Baro, liftnya dimana?" Bisiknya malu.

"Kau lurus saja, setelah ada meja informasi kau belok kanan nanti ada—pip", sambungan itu terputus.

"Sial, kenapa mati." Ia memandang layar dengan background Chanyeol—yang tengah menggenggam balon.

"Permisi nona," Baekhyun yang masih menggoyang-goyangkan telpon genggamnya bergeser kesebalah kanan.

Prak

"Sial! Telpon genggamku." Ia terkejut setengah mati. Benda itu sudah jatuh, tertimpa kaki pula.

"Ah, maaf." Baekhyun yang tergagap langsung berjongkok dan memungut benda silver itu.

"Aish, tidak bisa hidup." Ia memencet tombol yang ada disisi kanan. "Apa karena, ini juga sudah masuk kedalam air bekas aku cuci rambut tadi ya? Makanya ia sudah tidak sehat." Baekhyun mengelus-elus layar monitor yang gelap.

"Eum, nona. Maafkan aku, aku sedang terburu-buru dan tidak melihatmu. Apa telpon genggammu baik-baik saja?" Baekhyun hanya menggeleng—tapi dengan cepat ia mengangguk kaku. Ia masih bingung, "Aku harus bagaimana?" gumamnya lesu.

"Baiklah kalau tidak apa-apa. Sekali lagi maafkan aku.", orang itu berlalu—setelah sebelumnya memberikan tepukan ringan dibahu mungil Baekhyun.

"Chanyeol, cepatlah."

"Ya Jongdae, tunggu aku."

Suara berat dan rendah itu—Baekhyun mendongakkan kepalanya. Beaninyahampir jatuh karena ia terduduk kaget.

"Chan—yeol?" tanyanya tak percaya.

"Park—Chan—Yeol?" ia mengeja nama itu sambil mengerjap lucu.

Baekhyun meraba bahunya yang sempat ditepuk Chanyeol beberapa kali. Ia terlihat norak sekali. Bibirnya setengah terbuka dan pipinya bersemu hingga menjalar hingga kuping.

"Permisi nona," sekarang siapa lagi—pikirnya.

"Jangan duduk dilantai." Lelaki itu—security, yang bahkan mirip Woo Bin. Aktor saingan Chanyeol di acara drama award.

"Bahkan staff keamanannya juga memiliki tampang yang menjanjikan." Baekhyun tidak menggubris pernyataan lelaki tinggi itu, ia malah sibuk fangirling. "Dunia entertaiment memang sangat berbeda, daebak!"

"Nona?", lelaki tadi mengulurkan tangannya didepan wajah dungu Baekhyun.

"Yyy—a?" Baekhyun cepat berdiri dan merapikan penampilannya.

"Baiklah," Lelaki itu tersenyum canggung. "Ada yang bisa saya bantu?" ia bertanya sopan.

"Ah ya, tentu." Baekhyun antusias, ia menunjukkan ID yang baru ia dapat kemarin—sebelum pergi kesalon dan melabrak remaja itu—euww. "Aku tidak ikut kesini kemarin, dan aku adalah wakil ketua kelompok untuk projek pembangunan SX Ent di Gangnam. Bisa kau tunjukkan dima liftnya? Aku sedikit tersesat." Ringisnya malu.

"Ohh, pantas saja." Lelaki tadi mengangguk cepat, lalu tersenyum. "Kau bisa berjalan lurus, setelah menemukan pilar berwarna karamel berbeloklah kekanan. Liftnya tepat dideretan itu."

Setelah membungkuk sembilan puluh derajat ia berlari kencang.

Ting

Pintu lift itu nyaris tertutup rapat. Baekhyun dengan cepat menekan tombol yang ada disebelah bingkai lift dengan napas tersenggal.

"Tung—ghuuu." Ujarnya samabil menundukkan bahunya.

"Tentu saja, masuklah nona.", seperti adegan slowmotion, Baekhyun mengalihkan pandangnya kedalam lift itu.

"Ow shit.", dahinya mengernyit dalam.

Chanyeol

Lagi—

"Ada apa nona?", tanya lelaki dengan sejuta senyum itu.

"Ttii—dak." Baekhyun melenggang masuk dengan napas yang kembali berat—tidak teratur. Ia gugup setengah mati.

Ting

Lift itu benar-benar tertutup, menyisakan mereka berdua—ralat tiga, karena Jongdae tersembunyi di balik tubuh raksasa Chanyeol, dalam diam. Keringat dingin mulai menyembul dari pelipis Baekhyun. Beani yang sedari tadi ia genggam, mulai ia remas dengan gemas. Gusinya mendadak gatal dan giginya gemeretak.

Park hot Chanyeol sedang ada disebelahnya.

Ow

Ow

Rambut yang memanjang—nyaris menyentuh pundaknya, tiba-tiba membuatnya gerah. Ia tidak mampu berkutik sekalipun. Ini bukan kali pertamanya ia bertemu Chanyeol sedekat ini, sudah ratusan fanmeeting ia datangi. Tapi tetap saja ini membuatnya gugup setengah mati.

"Menemui direktur ya?", Chanyeol memulai percakapan dalam suasana canggung itu.

"O?" Nada bicara Baekhyun meninggi—menandakan ia terkejut bukan main. "O..." kali ini ia mengangguk seperti anak patuh.

"Kalau begitu, kita menuju lantai yang sama." Chanyeol tersenyum ramah, begitu hangat dan terlihat terang dimata Baekhyun.

"Ne...", Baekhyun berubah irit bicara dan terkesan dingin. Dalam hatinya, ia sudah siap lompat kedalam jurang dengan dasar mimpi yang tak berujung.

"Tuhan, jika ini mimpi aku tak mau berakhir." Baekhyun bermonolog seru dalam pikirannya.

Ting

"Kami duluan," kali ini bukan Chanyeol yang bicara, Jongdae—yang bibirnya dari tadi terkatup rapat menyapa Baekhyun sebelum beralalu.

Ting

Lift kembali tertutup.

"AAAAA PARK SEXY HOT HANDSOME CHANYEOL BARU SAJA BERBICARA PADAKU!" ia berteriak cepat.

"AKU BERSUMPAH, AKU HARUS MENGHABISKAN LIMA MANGKUK ES SERUT AGAR TIDUR NYENYAK!" satu teriakan susulan membuat telinganya pengang sendiri. "Tunggu, lantai tempat direktur sudah lewat." Seolah tersadar ia bergegas menekan tombol 9, dan lift kembali turun.

TBC

Hai haiiii, halo. ketemu lagi yaa, jangan bosen aja :D

Jadi gini, ini adalah fanfic pertamaku yang cukup berani. berani dalam artian bukan (belum) rated M tapi gk menutup kemungkinan bakalan ada part itu-tapi aku ga janji ._.v FF ini aku bikin buat mengisi waktu selama libur kuliah eaaaaa, dan aku usahain cepet update. soalnya belum ada kegiatan yang berarti.

ga panjang-panjang deh, REVIEW JUSEYOOOO soalnya FF ini gabakal beres tanpa ada masukan dan kritikan dari kaliaan. hhuhuhu thankyouuuu, lafyuuuu.